misteri

ki

Tragedi Kereta Api 1993 & Misteri Ratu Jaya

 

Kecelakaan kereta api Ratu Jaya 1993 adalah peristiwa tabrakan hebat dua kereta api di Ratu Jaya Kota Depok pada tanggal 2 November 1993 yang merupakan kecelakaan terburuk ketiga dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia setelah terjadinya Tragedi Bintaro atau peristiwa kecelakaan kereta api di Bintaro pada 19 Oktober 1987 dan kecelakaan kereta api 146 Empu Jaya yang menabrak kereta api 153 Gaya Baru Malam Selatan pada 25 Desember 2001.

 

Masyarakat di sana percaya kecelakaan kereta api tersebut terjadi karena “penunggu” di tikungan maut itu lagi marah. “Penunggu” itu sering dipanggil oleh warga sebagai arwah Si Gundul yang adalah keturunan Cina pertama tinggal di wilayah Ratu Jaya. Mereka juga percaya, terjadinya kecelakaan kereta tersebut karena penghuni di pemakaman Ratu Jaya tidak senang wilayahnya dicemari oleh perbuatan kotor yang dilakukan oleh penduduk setempat. Warga Kelurahan Ratu Jaya banyak yang tidak tahu mengapa daerah mereka yang luas wilayahnya 237,89 hektare ini diberi nama Ratu Jaya. S. Mulyadi yang menjabat sebagai Lurah di sana juga kurang mengetahui asal muasal nama Ratu Jaya. Tapi Idris (77), pemuka masyarakat, menyimpan sedikit catatan sejarah tentang Ratu Jaya, termasuk kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah tersebut. Disebutkan ratusan tahun yang lampau, wilayah ini masih berupa hutan belantara. Penduduk yang tinggal di wilayah ini pun masih sangat sedikit sehingga bisa dihitung dengan jari. Suatu siang, seorang penduduk pergi mencari kayu bakar di hutan. Di tengah perjalanan, dia menemukan seorang wanita cantik yang sudah terbujur kaku. Dia langsung memberitahu hal tersebut kepada warga yang lain. Singkat cerita, jenazah wanita cantik tersebut dimakamkan oleh warga setempat. Malam harinya, ada kejadian aneh yang dialami warga di daerah itu. Mereka bermimpi menemukan selendang yang warnanya berkilauan. Namun saat mereka akan mengambilnya, selendang itu berubah wujud menjadi sosok wanita cantik yang wajahnya sama dengan wanita yang baru mereka makamkan. Wanita cantik itu mengaku salah satu putri dari kerajaan Mataram yang bernama Ningrumsari. Keesokan harinya, penduduk saling menceritakan mimpi itu. Dengan kejadian tersebut, penduduk setempat sepakat jenazah wanita cantik yang mereka makamkan itu adalah jasad putri Ningrumsari dari Kerajaan Mataram. Mereka pun menamakan daerah itu dengan Ratu Jaya. Mereka juga menemukan selendang yang dikenakan oleh sang putri yang dikubur di sana. Areal tersebut kini jadi tempat pemakaman Ratu Jaya. Letaknya
tidak jauh dari kantor Kelurahan Ratu Jaya. Luas pemakaman Ratu Jaya sekitar 3.000 meter persegi. Tempat pemakanan itu hanya untuk warga setempat (KTP dan Kartu Keluarga wilayah Ratu Jaya). Menurut Idris, wilayah Depok pada ratusan tahun yang lampau merupakan daerah perlintasan para raja baik dari kerajaan Mataram maupun Prabu Siliwangi yang akan berkunjung ke Banten maupun sebaliknya. ”Jadi Depok ini dulunya boleh dibilang sebagai tempat istirahatnya raja-raja yang akan berkunjung ke Banten dan Cirebon maupun sebaliknya. Di wilayah ini ada hutan kecil yang sekarang disebut dengan cagar alam dan ada pancuran yang kini menjadi Pancoran Mas,” ujarnya. Dikatakan, banyak warga yang datang ke pemakaman Ratu Jaya untuk minta nomor togel atau nomor porkas (waktu porkas masih ada). Hasilnya, mereka yang meminta nomor togel maupun porkas bukan mendapatkan nomor keberuntungan, tetapi justru menderita sakit perut. Sebelum terjadi tabrakan kereta api di tikungan maut pada tahun 1994, penduduk setempat selama 3 hari berturut-turut melihat wanita cantik yang mereka percaya sebagai arwah dari putri Ningrumsari, duduk di tepi rel kereta api. Seorang masinis kereta api mengaku pernah melihat sosok wanita cantik itu duduk di tepi rel beberapa hari sebelum terjadinya kecelakaan. Sementara itu Aseli, Ketua RT 08/RW 05, Kelurahan Ratu Jaya Depok mengaku hanya sedikit mengetahui sejarah Ratu Jaya. ”Saya ini kelahiran tahun 1945, jadi tidak paham benar sejarahnya. Namun dari cerita orang tua, dulu itu ada Nyai yang mau ke kerajaan Banten dan selendangnya jatuh di daerah ini. Sehingga, masyarakat memanggil daerah ini dengan sebutan Ratu Jaya,”

Comments are closed.