misteri

ki

Tolak Korban Nyawa Dengan Ruwat Sengkolo Rojomolo (Oleh: Djoko Judiantoro)

Penampakan roh penasaran kedalam wujud asli sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah di sucikan, dan kembali menjadi roh suci yang tak di selimuti setan, sehingga arwah yang gentanyangan tidak lagi mengganggu para pengguna jalan.

Jalan Ir. Juanda merupakan jalur alternatif dari dalam kota Solo yang mengarah ke arah Surabaya. Jalan ini menjadi salah satu jalur terpadat di saat jam-jam sibuk kantor. Keramaian dan kepadatan jalan Juanda seringkali menyebabkan banyak terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan ini. Kecelakaan yang di alami para pengguna jalan tak hanya terjadi di siang hari saat jam sibuk kantor, tetapi saat malam hari, jalan Ir. Juanda juga sering meminta tumbal korban nyawa para pengguna jalan, oleh karena itu warga di sepanjang jalan Juanda menjuluki jalan ini dengan nama jalan maut.

 

Selama ini tak terhitung lagi berapa banyak korban nyawa yang hilang akibat kecelakaan di jalan Juanda, dari mulai anak sekolah, pejalan kaki hingga pengendara motor dan mobil, pernah menjadi korban di jalan Juanda. Tak terkecuali, beberapa diantaranya satu peristiwa kecelakaan tragis yang amat memilukan pernah terjadi, saat anak sekolah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar terlindas truck di depan mata orang tuanya. Peristwa naas ini sempat menggoncang banyak pihak yang kala itu melihat langsung terjadinya peristiwa naas.

 

Hampir seluruh kecelakaan yang terjadi di jalan Juanda dipastikan merengut nyawa korbanya, untuk itu demi menghindari lebih banyak korban lagi, maka sebuah ritual khusus dilakukan di Padepokan Semar Mesem, Kedung belang , Kalurahan Pucangsawit Solo, dengan cara menggelar satu upacara ritual yang di beri nama upacara sesaji Ruwat Sengkolo Rojomolo. Ritual ini selain membuang sengkolo atau nasib sial yang berlebihan, sekaligus membenahi asal usul kesalahan hingga menyebabkan jalan Juanda sering terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas.

 

Ritual Ruwatan Sengkolo Rojomolo yang di lakukan Padepokan Semar Mesem tidak hanya menselaraskan alam sekitarnya, namun lebih dari itu, ruwatan ini juga dipakai sebagai ruwatan nagari dan wilujengan kota Surakarta beserta dengan segala isinya. Ruwatan yang di lakukan oleh tokoh Padepokan Semar Mesem, KRT. Sumardi Notodiningrat, juga menggelar kirab dan larung sesaji di sungai Bengawan Solo.

“ Terdapat tiga upacara ritual yang di lakukan secara bersamaan, saat Ruwatan Sengkolo Rojomolo di gelar “ Ujar Kanjeng Raden Tumenggung Sumardi Notodipuro.

 

Pemimpin Padepokan Semar Mesem, sekaligus abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat ini mengatakan, ruwatan nagari yang menjadi satu dalam Ruwatan Sengkolo Rojomolo memiliki harapan, agar bangsa ini tenteram rahayu karta raharja, dijauhkan dari segala bencana alam seperti banjir, kebakaran, gunung meletus, kapal tenggelam, pesawat jatuh, tabrakan, hingga peristiwa bencana alam lainya yang sangat tragis.

 

Ruwatan ini memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar segala bentuk bencana di jauhkan bukan di hilangkan, karena manusia tak mampu menghindari satu bencana yang di timbulkan dari alam, untuk itu ruwatan nagari adalah memohon perlindungan kepada Tuhan, agar menjauhkan segala bencana yang akan menimpa bangsa ini.

Selain ruwatan nagari, ruwatan Surakarta Hadiningrat sak wetahipun ( beserta isinya ) juga di gelar dalam rangka memohon kepada Tuhan, agar seisi Kota Surakarta senantiasa dijauhkan dari bencana. Ruwatan ini juga sebagai salah satu cara meminta restu pangestu kepada para leluhur, agar karaton sebagai pewaris tahta budaya yang saat ini tengah dilanda kekisruhan bisa terselesaikan. Permohonan ini tak lepas dari peran para leluhur, yang telah membangun dengan susah payah, segala daya upaya hingga karaton Surakarta masih terwujud sampai saat ini. Papar Sumardi Notodipuro.

 

Sumardi juga menambahkan, Ruwatan Sengkolo Rojomolo juga di barengi dengan ruwatan guru sejati, sukmo sejati, yaitu membuang sengkolo bagi seluruh pelaku ritual yang saat itu berkenan hadir dalam rangka ritual ageng Ruwatan Sengkolo Rojomolo. Ruwatan guru sejati sukmo sejati adalah menyeimbangkan jati diri manusia, menggugah sedulur papat limo pancer, agar menjadi guru yang sejati dalam menjalani kehidupan ini. Karena guru sejati adalah dzat suci yang telah di titiskan kepada manusia ketika manusia di cipta oleh Sang Maha Pencipta.

 

Ruwatan ini berguna agar manusia memperoleh ketentraman lahir dan bathin, senantiasa dilimpahkan rejekinya, di jauhkan dari godaan dan cobaan, serta memperoleh jalan kebaikan dari Tuhan. Dengan menggugah sedulur papat, menusia senantiasa akan mengerti kesejatian hidup yang sebenarnya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, kebersamaan, keselarasan dalam rangka hidup bersama sama sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di alam semesta ini. Tambah Sumardi.

 

Selain prosesi Ruwat Sengkolo Rojomolo, Sumardi Notodipuro juga menerangkan, beberapa sesaji yang di persembahkan pada saat ritual dilakukan, diantaranya adalah jajan pasar komplit, sego golong, pecel, ingkung, bunga tujuh rupa, bunga mawar, dan beberapa sesaji sedekah bumi yang kesemuanya bersumber dari bumi. Keseluruh rangkaian sesaji ini akan di iring dengan kirab pusaka dari Padepokan Semar Mesem, menuju ke pinggir sungai Bengawan Solo di Kedung belang.

Dalam iring iringan kirab selain sesaji , beberapa pusaka tombak juga di kirab sebagai wujud pangruwatan keselamatan padusunan yang menjadi tempat di selenggarakanya ritual Ruwat Sengkolo Rojomolo. Tombak yang di kirab memiliki makna landeping pikir, ketajaman pikiran dalam menyikapi berbagai permasalahan dan mencoba mengenal tanda tanda dari alam apa yang akan terjadi, Eling lan Waspada.

Selain tombak, di kirab juga songsong payung Tunggul rogo, sebagai simbol pengayoman, kinayungan yang tidak memandang siapapun, bahwa siapapun yang berada di bawah songsong payung pasti akan memperoleh pengayoman. Seperti permohonan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, siapapun umat di dunia ini pasti akan memperoleh keselamatan dan ketentraman, apabila dengan sepenuh hati memohon kepada Tuhan dengan ketulus ikhlasan.

 

Simbol dan makna filasafat dalam kirab Ruwat Sengkolo Rojomolo masih terdapat satu lagi, yaitu Payung Agung. Simbol ini menjadi filsafat agunging pemikiran, kamulyaan, rejeki dan ketenteraman ketika menusia menjalani hidup di dunia. Berbagai macam godaan dan cobaan akan menjadi pupus di saat manusia mampu berfikir dengan kebesaran hati, kebesaran iman serta kebesaran dalam ketulusan dan keikhlasan yang penuh kesabaran. Ujar Kanjeng Notodipuro, panggilan akrab pangarso (pemimpin ) Padepokan Semar Mesem.

Sebelum prosesi Ritual ruwat Sengkolo Rojomolo dilakukan, terlebih dulu Sumardi Notodipuro menggelar ritual doa keselamatan di hadapan punden mbah Ndoro, danyang cikal bakal kampong Kedung belang. Ritual doa ini sekaligus mengawali di mulainya acara Ruwat Sengkolo Rojomolo, tak lupa saat prosesi doa di lakukan, beberapa dadag reog yang menjadi simbol penolak bala di sanggarkan di makam Mbah Ndoro.

‘ Namun dari seluruh rangkain Ruwat Sengkolo Rojomolo yang tidak boleh ketinggalan adalah menyertakan Ki Lurah Semar dalam iring iringan kirab dan larung sesaji di sungai Bengawan Solo. Wujud Ki Lurah Semar atau Sang Hyang Ismaya di wujudkan dalam bentuk rupa patung perunggu setinggi 30cm,” Jelas Sumardi

Simbol patung semar yang di sertakan dalam iring iringan kirab menjadi satu makna khusus, bahwa pegejawantahan sang pamomong adalah wujud manunggaling ‘kawula kalawan Gusti’. Tak hanya ajaran keluhuran budi yang di bawa Sang Hyang Ismaya untuk nusantara ini, namun sosok Semar di kalangan para spiritual dianggap sebagai dahyang tanah nusantara, yang menjaga dan mengawasi keseimbangan bumi nusantara.

 

Untuk itu, segala harapan akan keselamatan dan ketenteraman, menjadi wujud manifestasi keTuhanan di kalangan masyarakat yang masih menganut ajaran budi, yaitu ajaran keluhuran hidup manusia akan budi pekerti, keluhuran manusia dengan manusia, keluhuran keseimbangan antara manusia dengan Sang PenciptaNya, keluhuran antara manusia dengan alam semesta, serta keluhuran antara anak cucu dengan para leluhurnya. Ajaran ini menjadi dasar keselarasan alam dan manusia agar keseimbangan dan harmonisasi bisa terus terjaga dengan baik.

 

Dalam upacara tersebut, seluruh rangkaian sesaji ruwatan akan di larung di sungai Bengawan Solo, setelah sebelumnya di bacakan dulu mantram doa keselamatan dan ruwatan oleh Kanjeng Notodipuro. Tak sedikit para pelaku ritual yang mengikuti jalanya prosesi kirab, mengambil beberapa sesaji untuk ngalap berkah, kebanyakan mereka adalah para perempuan yang ingin cepat mendapatkan pasangan hidup.

 

Ritual ruwat Sengkolo Rojomolo menjadi salah satu upacara sakral yang sarat dengan nuansa mistis, ritual ini tidak hanya menjadi cara memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi menjadi cara menyucikan roh-roh yang gentayang di Jalan Juanda, yang selama ini dikenal sering meminta tumbal nyawa para pengguna jalan. Roh para pengguna jalan yang mati penasaran akan di sucikan dan di tempatkan sebagaimana mestinya, agar tidak mengganggu para pengguna jalan lain.

 

Banyaknya korban akibat kecelakaan lalu lintas di jalan Juanda, membuat jalan tersebut semakin lama akan semakin banyak di penuhi arwah yang mati penasaran, sehingga jalan ini akan semakin gawat. Para pengguna jalan yang pikiranya kosong, melamun, akan di ganggu dijalan hingga terjadi kecelakaan tragis yang akan menimpanya.

Untuk itu, demi membuat roh roh penasaran ini sebagaiman mestinya di tempatkan, maka ruwat Sengkolo Rojomolo menjadi salah satu cara menyucikan roh tersebut.

“Hakikat roh manusia adalah suci, karena di titiskan dari Sang Maha Pencipta kepada manusia, agar raga menjadi hidup. Tetapi karena kematian yang tidak wajar, serta dosa yang terus menyelimuti manusia, roh itu akhirnya di selimuti oleh setan dan menyesatkan” Kata Sumardi

 

Sumardi juga menambahkan, roh yang telah disucikan akan menjadi wujud semula, dzat suci sebagaimana mestinya seperti pada awal pertama kali di titiskan, sehingga wujudnya akan seperti wujud manusia apabila tampak dalam mata bathin. Perwujudan ini sebagai gambaran wujud roh dalam rupa raga manusia, tetapi hanya sesaat pada saat menampakan wujudnya.

Penampakan itu terlihat karena wujud rasa terima kasih ketika telah di sucikan, dan kembali menjadi roh suci yang tak di selimuti setan, sehingga arwah yang gentanyangan tidak lagi mengganggu para pengguna jalan di Jalan Juanda.

 

 

 

 

 

 

Comments are closed.