misteri

ki

Ritual Jual Beli Janin Bayi Pesugihan (Oleh : Ono S. Haisan

Kang Odi

Kang Odi

Mungkin ini adalah peristiwa yang sangat langka. Pasalnya, pelaku pesugihan model ini bisa memamfaatkan ‘ Janin bayi ‘ dari seorang gadis yang masih perawan. Konon, janin bayi tersebut adalah tumbal awal dari perjanjian dalam penarikan harta gaib. Meski sudah sering diigatkan tentang akibatnya jika menjalani pesugihan, namun para pelaku sepertinya sudah buta mata dan buta mata hati.

Memang benar yang sering dikatakan banyak orang, bahwa apapun bentuk dan tujuannya, bersekutu dengan makhluk halus akan banyak ruginya daripada untungnya. Banyak faktor menjadi penyebab kenekatan seseorang melakukan persekutuan dengan makhluk halus dalam upaya memperkaya diri secara instan.

Padahal nyata-nyata telah di mengerti jika hal itu dikutuk oleh agama apapun. Alasan yang mereka kemukakan terkesan klise, yaitu terhimpit faktor ekonomi. Disamping itu, mereka juga merasa iri dengan keberadaan masyarakat di sekitarnya yang hidup bergelimang harta.

Dalam kaca mata islam, yang diyakini mampu menjadi rambu pencegah kenekatan melakukan persekutuan gaib demi terpuaskan urusan duniawi, sudah sering didengungkan dalam segala bentuk dan syiar. Akan tetapi kenyatannya, justru hal tersebut banyak dipalingkan oleh sebagian orang. Kadang juga dijadikan topeng semata agar bisa menutupi perbuatan kotor tersebut.

Tragisnya demi hal itu pengorbanan yang dipersembahkan yang biasa diminta adalah nyawa manusia anehnya juga mampu terpenuhi. Tidak perduli diri sendiri, istri, anak atau orang lain yang masih ada hubungan sedarah. Sungguh tidak manusiawi, karena kenyataan ini tak beda dengan tindakan kejahatan pembunuhan yang terselubung. Sayangnya untuk mengungkap pembuktiannya susah didapat. Pasalnya modus kejahatan yang terjadi dalam bungkus alam tidak kasat mata, pembuktian secara hukum sangatlah lemah.

Persaingan tak kunjung selesai.
Keras dan penuh persaingan ketat. Itulah yang dialami Kusmayadi, warga kabupaten Karawang, Jawa barat, tentang kondisi kehidupannya akhir-akhir ini. Pria berusia 41 tahun itu kini hanya bisa menyesali hasil perbuatannya setelah harta yang paling berharga melayang sia-sia.

Bahkan kerasnya kehidupan nyaris membuat pria kelahiran 10 Oktober 1975 itu frustasi. Kusmayadi baru benar-benar menyadari keras dan ketatnya kehidupan, setelah lebih dari dua tahun kesulitan mendapatkan pekerjaan. Sebenarnya sudah berusaha mencari jalan tersebut. Akan tetapi keberuntungan belum mau menyapa dirinya yang sudah putus asa.

Termasuk rela meninggalkan kampung halaman untuk mengembara ke kota-kota besar. Berbagai macam perusahaan, baik yang berskala besar ataupun kecil, telah didatangi. Namun semuanya tidak membuahkan hasil. Padahal kala itu, perusahaan yang didatanginya banyak yang sedang membutuhkan karyawan.

Tetapi dengan berbagai alasan, lamarannya selalu ditolak.
Menghadapi kenyataan seperti itu, akhirnya Kusmayadi memutuskan kembali ke kampung halaman. Bahkan disana, sebagian besar hari-harinya, dia isi dengan mencangkul (menggarap) sawah orang lain atau menjadi kuli bangunan. Yang penting, hari itu bisa membawa hasil, meskipun tidak seperti yang diharapkan istrinya yang menunggu di rumah.

Kira-kira setengah tahun tinggal di desa, Kusmayadi merasakan sangat prihatin dengan keadaan perekonomian keluarga. Karena itu, pria berkulit gelap itu kemudian memutuskan untuk bekerja pada salah seorang tetangganya, “ Meski hanya bekerja di home industry (rumahan) , namun saya merasa senang karena bisa membuat dapur saya ngebul (bisa masak), “ ujar putra ke dua dari tiga bersaudara itu.

Selama bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang frinting atau sablon kaos dan percetakan itu, etos dan cara kerja yang dia tunjukan mampu membuat kagum pemiliknya. Hingga akhirnya, diapun dipercaya sebagai kepala bagian di Cv tersebut.

Namun, kenaikan jabatan tersebut tak secara otomatis membuatnya merasa senang dalam menjalani pekerjaannya. Tetapi justru sebaliknya. Berbagai cobaan menghantam dirinya sehingga mengusik konsentrasi kerja. Cobaan paling berat, datang dari rekan-rekan sekerja yang iri atas pengangkatan dirinya sebagai kepala bagian.

Dengan berbagai cara, kelompok pekerja tersebut berusaha merusak hubungan baik Kusmayadi dengan sang majikan. Namun, meski isyu dan fitnah telah dihembuskan, kepercayaan sang majikan kepadanya, tak kunjung luntur. Hal itu tentu saja semakin meningkatkan kegeraman mereka.

Hingga akhirnya diantara mereka ada yang menggunakan cara-cara mistik. Hal itu baru disadarinya, setelah Kusmayadi menemukan beragam macam benda aneh seperti paku, silet, beling, boneka kecil hingga kendi air yang di isi garam dan cengek (Lombok) tergeletak di depan pintu rumahnya. Untungnya serangan-serangan gaib tersebut tak sampai mencelakakan Kusmayadi dan Sopiah, istrinya.

Menyadari persaingan semakin tak sehat, pria berwatak kalem itu mencoba mengajak berdamai para pekerja yang tak senang padanya. Akan tetapi dari langkah-langkah tersebut, dia tak menemukan jawaban.

Sehingga akhirnya, dia sendiri yang mengalah dengan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut. Tentunya, hal itu dia lakukan secara baik-baik kepada sang majikan. “ Sebenarnya bos saya itu keberatan jika saya ke luar. Tapi, mau bagaimana lagi ? Jika teman sekerja sudah tidak menghendaki kehadiran saya, “ terang Kusmayadi dengan rendah diri.

Semenjak keluar dari Cv itu, Kusmayadi kembali pada aktifitas semula, yakni menggarap sawah milik orang lain. Atau tidak jarang pula, jika kepepet dia rela menarik becak yang sedang nganggur milik tetangganya. Lelaki asal Loji Pangkalan itu, tidak mau memperlihatkan kekurangan dihadapan sang istri yang sangat dia cintai. Dia benar-benar mempertanggung jawabkan tekatnya yang sudah memilih Sopiah, sebagai istri.

Sampai kemudian pada suatu hari, tanpa di duga, pada saat dirinya sedang ngetem (nunggu penumpang) di prapatan Tanjung pura, Kusmayadi dihampiri sebuah mobil keren. Awalnya, dia mengira penumpang sedan berwarna metal itu sedang kesasar atau akan menanyakan sebuah alamat. Namun, setelah melihat siapa yang turun dan menghampirinya, Kusmayadi menjadi terkesiap, kaget.

Pasalnya, pria ganteng dengan pakaian yang perlente itu tidak lain adalah temannya semasa kecil, yang lama meninggalkan Karawang. Hendro, demikian nama pria pemilik sedan itu. Masih diingat saat pergi pamit, Hendro masih dalam kondisi serba kekurangan.

Bahkan untuk ongkos pergi merantau saja harus meminjam uang dan perhiasan emas pada Kusmayadi. Maka tidak aneh, jika pertemuannnya saat di prapatan terminal Tanjung pura itu, begitu terlihat sangat.. ..sangatlah akrab, bak dua saudara yang lama tidak bertemu. Dikatakan Hendro, bahwa dirinya pulang ke Karawang hanya untuk mengunjungi keluarganya yang telah lama dia tinggalkan.

Setelah bosan berbincang ngalor-ngidul tentang kenang-kenangan waktu itu, Hendro menjadi prihatin atas keberadaan teman akrabnya ini. Meski awalnya, agak berat untuk mengungkapkan, tetapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajak Kusmayadi keluar dari kemiskinan. Dirinya begitu prihatin menyaksikan kondisi temannya yang terpuruk. Awalnya Kusmayadi sedikit risih ketika Hendro cerita jika keberhasilannya itu adalah hasil kerjanya yang dibantu oleh seorang paranormal. Dikatakan Hendro, bahwa keberhasilannya itu hanya bermodalkan mencari seorang gadis perawan tetapi sudah hamil diluar nikah.

Ditambahkan, janin bayi dari perut gadis perawan itulah yang akan menghasilkan banyak uang. Dan, Kusmayadi hanya cukup memberi sumbangan tali kasih pada gadis itu dengan nilai nominal sepadan (lima juta rupiah). Mendengar nilai yang disebutkan, Kusmayadi sampai tersentak, batinnya berkutat, jangankan uang jutaan, buat makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.

“ Ya, kamu jangan melihat dari berapa besar uang yang akan kamu keluarkan, tetapi kamu harus lihat hasilnya nanti, uang milyaran bakal kamu terima, “ tegas Hendro, memberi penjelasan, ketika Kusmayadi kebingungan.

Mendapat tawaran demikian, Kusmayadi tak langsung memberikan jawaban. Dirinya memilih mempertimbangkannya lebih dulu. Hal itu ia lakukan karena memang sebelumnya, dia termasuk orang yang anti dengan hal-hal berbau mistik. Soal uang, pikirnya bisa saja dia pinjam pada seseorang atau pada Hendro, toh sebelum dia sukses, dia juga yang pernah membantunya.

Setelah berpikir keras, akhirnya Kusmayadi memutuskan untuk membicarakannya terlebih dahulu dengan Sopiah, istrinya. Jika memang hal itu jalan satu-satunya, mungkin saja dia bisa menghubungi Hendro kembali.
Sang istri ngotot minta ijin.

Kusmayadi sebenarnya cukup tegar, menghadapi hidupnya yang serba pas-pasan. Sebagai manusia biasa, dia memang mengharapkan hidup yang lebih baik dalam segi ekonomi. Namun dia masih bisa berpikiran sehat, dengan tidak melakukan cara-cara konyol dan sesat. Kusmayadi lebih memilih berusaha tak kenal lelah dengan memafaatkan keampuan dirinya. Jika akhirnya dia menjadi pelaku pesugihan, itu lebih dikarenakan Sopiah yang tak siap mental menghadapi keadaan tersebut.

Tapi sesungguhnya, Sopiah adalah wanita berhati baik. Hanya saja, ia yang berasal dari keluarga bergelimang harta tak biasa untuk hidup dalam kemiskinan. Apa lagi, dia sendiri yang dulu ngotot memilih Sopiah menjadi istrinya, meski ditentang mati-matian oleh orang tua dan saudara-saudaranya. Makin hari, kondisi mental Sopiah kian parah. Meski tak perah berani marah pada Kusmayadi,namun hampir setiap hari ia mengeluhkan kondisi hidup mereka. Kusmayadi sendiri sebenarnya cukup bisa memaklumi sikapnya. Dalam hati kecil, dia juga ingin membahagiakannya dari sisi materi. Tapi apa lacur, kondisi mental istrinya benar-benar parah.

Hingga pada suatu malam, ketika Kusmayadi menceritakan tentang pertemuannya dengan Hendro bahkan teman semasa kecilnya itu akan membantu mengangkat derajat hidupnya agar keluar dari kemiskinan, Sopiah langsung menanggapi dengan serius. Bahkan tanpa terduga, istrinya mencetuskan usulan gila yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dengan sangat hati-hati, sang istri meminta suaminya untuk menerima tawaran temannya itu, untuk mencari kekayaan lewat jalur pesugihan. Yang membuat Kusmayadi terheran-heran, manakala istrinya memutuskan sendiri untuk pergi ke jawa tengah, jika Kusmayadi tidak menyetujuinya. Dan yang membuat Kusmayadi semakin salah sikap, Sopiah terus merengek agar suaminya bersedia memenuhi keinginannya itu. Resiko yang dijelaskan jika menjalani pesugihan itu, juga tak cukup ampuh untuk meredam keinginanya. Bahkan ia mengatakan bersedia jika harus menjadi tumbal dari pesugihan tersebut.

Hingga dua minggu berselang, Kusmayadi masih mampu bertahan untuk tidak menyetujui gagasan istrinya. Tentunya dengan alasan, bahwa Hendro, belum menghubungi dirinya. Akan tetapi, ketika istrinya akan ke jawa tengah bersama Hendro, Kusmayadipun tak berdaya menghindar lagi. Bagaimana pun dia masih menyayanginya. Dia tidak tega jika istrinya berbuat yang tidak-tidak.

Hingga pada suatu hari, setelah Kusmayadi memanggil Hendro dan menyetujui tawaran temannya itu, selepas maghrib, mereka berkumpul di rumah Kusmayadi. Namun kali ini Hendro datang tidak sendiri, tetapi membawa pula seorang laki-laki yang usianya lebih tua darinya. Pria berwajah dingin itu, memperkenalkan diri dengan nama pak Guguh. Kusmayadi tidak begitu jelas, apa maksud Hendro membawa lelaki yang tak dikenalnya itu dalam perjalanan mereka. Kusmayadi dan istrinyapun tak mau tahu urusan orang tersebut. Yang jelas, begitu semua persyaratan ritual dan perlengkapan segala kebutuhan selama perjalanan telah dipersiapkan, keempatnya berangkat menuju jawa tengah.

Usai menempuh perjalanan selama hampir satu malam, sedan mewah yang disetiri Hendro dan aplusan dengan Kusmayadi, akhirnya sampai di jawa tengah. Namun mereka tidak langsung menuju ke lokasi yang dituju, melainkan istirahat di sebuah rumah makan di pinggiran kota Boyolali. Setelah merasa cukup istirahat dan perut telah terisi, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini arah yang dituju adalah kota Grobogan.

Sekitar satu jam perjalanan, kendaraan mereka mulai memasuki kawasan hutan diatas perbukitan yang ditumbuhi pepohonan jati. Tak lama setelah itu, dengan disambut suara kicauan burung hutan, mobil mereka kemudian mengarah pada sebidang tanah luas, dimana pada salah satu sudutnya berdiri rumah berbahan kayu jati. Begitu kendaraan berhenti dipekarangan rumah itu, seorang lelaki keluar, memberi salam, dan mempersilahkan mereka masuk ke rumah tersebut.

Tak banyak yang dibicarakan pada pertemuan itu. Yang jelas, Kusmayadi baru mengetahui jika pemilik rumah itu kerap dipanggil oleh Hendro dan Guguh dengan panggilan mbah brengos. Entah siapa nama asli lelaki berwajah brewok dan berjenggot itu, Kusmayadi tak memperdulikannya. Dia hanya ingin semuanya segera dilakukan, karena sudah merasa kelelahan sekali.

Masuk ke ruangan khusus, ternyata telah hadir seorang pemuda tanggung dan seorang gadis berusia belasan tahun. Setelah diterangkan dengan sejelas-jelasnya, Kusmayadi dan Sopiah baru paham, jika gadis yang masih berstatus pelajar pada salah satu SMA swasta di Sragen itu bernama Sariatin adalah korban yang akan memberikan janin bayinya. Sedangkan si pria adalah bapak biologis bayi enam bulan yang dikandung siswi tersebut.

Mereka berniat melakukan hal itu, tidak lain karena selain merasa malu oleh teman-teman sekolahnya, juga tergiur oleh uang santunan dari pelaku pesugihan yang sangat besar nominalnya. Selain itu, hubungan merekapun tidak pernah disetujui oleh orang tua si pria. Karena mereka masih duduk di kelas dua.
Setelah semua dirasa cukup siap, sekitar tengah malam, merekapun memulai menggelar ritual, diawali dengan membakar dupa kemudian menyiapkan segala persyaratan ritual dengan menyediakan bunga kantil, bunga melati, minyak srimpi, minyak misik, binatang yuyu (sejenis kepiting), kendil (tempat air)yang telah dicampur kembang telon, kain kapan satu meter, bantal dan guling kecil, kapas, tusuk jarum, tiga buah dadu dan benang ante berwarna merah serta beberapa lembar uang ratusan ribu.

Konon, katanya uang tersebut adalah pemancing bagi si pelaku pesugihan, untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, jika nantinya si pelaku berhasil melakukan ritual pemindahan janin bayi kealam gaib.

Mbah brengos dengan sabar mengarahkan Sariatin agar duduk bersemedi dengan alas kain kapan, tak jauh dari sebuah ranjang kecil berkelambu kumal. Sementara Guguh, Hendro dan Kusmayadi, hanya diperbolehkan mengawasi dari tempat yang agak jauh. Selanjutnya, mbah brengos yang duduk di hadapan Sariatin, mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra untuk mengontak penghuni gaib hutan bukit tersebut.

Sementara itu, anehnya, Kusmayadi yang tidak mengerti dengan apa yang dibaca mbah brengos, lebih memilih membaca surat Al fatehah dan ayat-ayat lain, demi mengusir rasa takutnya yang menjalar malam itu. Akan tetapi, apa yang dilakukan Kusmayadi, ternyata diketahui oleh mbah brengos. Itulah sebabnya, kemudian dia diusir dari ruangan khusus tersebut, meninggalkan Sopiah, yang duduk semedi tak jauh dari Sariatin.

Hampir setengah jam berselang, mulai terjadi perubahan disekitar tempat mereka melakukan ritual pengambilan janin bayi. Mula-mula, angin berhembus lembut, sehingga membuat Sopiah yang duduk bersemedi menjadi ngantuk. Namun tak lama kemudian ia menjadi tersentak manakala angin berganti menjadi kencang. Dan hampir bersamaan, tampak sesosok bayangan hitam pekat mirip bocah bertelanjang, muncul dari atas ranjang kecil.

Sosok bayangan hitam itu langsung turun dengan mulut mengeluarkan suara merengek, layaknya bocah manja yang minta digendong. Sosok itu lantas mendekati tubuh Sopiah. Sopiah yang sejak tadi memelototi bayangan hitam bocah itu, bahkan hampir berteriak keras, manakala sosok tersebut tiba-tiba saja, duduk dipangkuan Sopiah. Akan tetapi, saat itu Sopiah sama sekali tidak merasakan kaki dan kedua tangannya menyentuh sosok tersebut. Mbah brengos yang menyaksikan hal itu, lantas dengan gerakan isarat menyuruh Sopiah untuk diam. Sopiah pun menurut.

Setelah lama berada dalam pangkuan Sopiah, sosok bayangan bocah itu kemudian perlahan lenyap. Tak lama berselang dari lenyapnya sosok bayangan mirip tuyul itu, ujian kedua pun menyusul. Kala itu, sebuah kereta kencana datang entah dari mana, lalu berhenti tepat diatas ranjang, tempat munculnya sosok bayangan bocah.

Kemudian, sesosok wanita berwajah cantik yang mengenakan pakaian kebesaran keraton, tampak turun dengan gerakan lembut menuju ke tempat ritual, kemudian berdiri dekat mereka. Tak lama setelahnya, sosok itu lantas mengarahkan tangan menunjuk ke arah Sopiah. Selanjutnya, peristiwa gaib kembali datang menguji Sopiah. Secara tiba-tiba, angin yang semula kencang kemudian sedikit demi sedikit mereda. Akan tetapi kali ini muncul gulungan asap putih dari atas langit-langit kamar. Dari asap putih itulah, kemudian keluar sosok tinggi besar.

Penampilannya menyiratkan wibawa yang amat kuat.Sosok tersebut, terlihat membawa beberapa tumpukan uang dalam jumlah yang banyak. Anehnya, kemunculan sosok tersebut hanya terlihat oleh Sopiah. Sedangkan mbah brengos, Sariatin dan pak Guguh tak melihat apa-apa, selain temaramnya ruangan tersebut. Menyadari bahwa kejadian itu sebagai peristiwa gaib yang tak diketahui orang lain, maka mbah brengos menyarankan Sopiah untuk berkomunikasi dengan sosok tersebut. Meski masih dilanda kebingungan, Sopiah akhirnya mengikuti saran tersebut. Ia berjalan perlahan menghampiri sosok gaib tersebut.

Hasil dari perbincangan lintas dimensi, Sopiah mengetahui, bahwa sosok dihadapannya adalah sosok pengawal alam gaib yang bertugas sebagai pembawa harta pesugihan, seorang kepercayaan Nyai Ratu Lanjar, sang penguasa pantai utara jawa. Merasa prosesi ritualnya diterima oleh para penghuni alam gaib tersebut, sosok-sosok tersebut akhirnya menghilang secara tiba-tiba. Hingga beberapa saat Sopiah hanya terpaku dan diam ditempatnya. Ia seakan tidak percaya terhadap apa yang telah dialami. Ternyata, melakukan ritual prosesi pesugihan itu tidak sesulit yang dibayangkan. Hanya dibutuhkan mantal saja, demikian batin Sopiah setelah melihat situasi ruangan tersebut kembali hening seperti sedia kala.

Akan tetapi tidak demikian dengan Sariatin, petaka itu segera menyiksanya. Tiba-tiba Sariatin merasakan tidak enak pada perutnya. Bukan rasa nyeri hendak buang hajat, tetapi nyerinya seperti hendak melahirkan. Karena itu, ia pun segera memanggil mbah brengos yang masih duduk semedi dihadapannya. Namun, aneh bin ajaib. Belum sempat mbah brengos berdiri hendak membantunya, Sariatin merasakan jika perutnya saat itu juga terasa kempis seperti layaknya gadis yang tidak sedang hamil.

Mengetahui perutnya yang sudah mengempis, iapun memastikan hilang tidaknya bayi yang dikandung, kemudian mbah brengos langsung memanggil seseorang dari balik kamar. Wanita paruh baya yang dipanggil mbok Jumih itu, ternyata seorang dukun beranak kampung setempat, yang biasa bertugas mengecek kehamilan si pasien, jika prosesi ritual dinyatakan selesai. Begitu keterangan yang didengar Sopiah.

Begitu muncul, paranormal kampung itu kangsung memeriksa kandungan Sariatin. Mbok Jumih memastikan kalau janin dalam perutnya itu memang benar-benar sudah hilang. Begitu diberitahukan oleh wanita itu, Sariatin nampak tertunduk lemas, ia seakan menyesali atas perbuatannya yang tentu saja menanggung resiko besar baik di dunia maupun di akhiran. Akan tetapi ketika bayangan uang yang akan didapatnya begitu menggiurkan, bayangan kengerian mendadak hilang. Terlebih paranormal itu menyatakan jika hilangnya bayi yang dikandung Sariatin, karena telah di ambil oleh sosok pengawal gaib nyai ratu Lanjar.

Singkat cerita. Sebagai mana yang ditekankan mbah brengos dalam prosesi ritual tersebut, apa yang diinginkan Sopiah, akhirnya terkabulkan. Tapi sebagai gantinya, para lelembut alam gaib itu memberikan beberapa persyaratan, yakni , Sopiah harus merawat dengan baik jika nantinya ada seorang bocah yang datang ke rumahnya.

Selanjutnya, setiap tahun ia diharuskan menggelar selamatan dengan menyembelih kambing kendit di lokasi bekas ritual. Dan yang terakhir, Sopiah diharuskan bersedia menyusui sosok bocah tersebut setiap kali muncul di rumahnya. Sebuah syarat yang sangat mengerikan di mata Kusmayadi, jika itu benar-benar terjadi.

Namun karena sejak semula istrinya telah menyatakan kesediannya melakukan persekutuan, maka akhirnya diapun hanya pasrah saja. Maka sejak itulah, keduanya mulai terikat perjanjian gaib. Setelah merampungkan ritual perjanjian, mereka pun bergegas pulang.

Seminggu kemudian, hasil dari perjanjian gaib itu mulai dapat terlihat oleh mereka. Di malam jum’at pertama, sejak kehadiran sosok bayangan bocah hitam dalam keluarganya, Kusmayadi dan Sopaih dikejutkan dengan penemuan segepok uang ratusan ribu dalam laci meja warung klontongnya. Sebagai mana isi perjanjian, warung klontong dadakan itu, adalah warung kiasan yang wajib disediakan pelaku sepulang dari ritual. Selain itu juga bisa di artikan sebagai pengalih perhatian para tetangga jika mereka adalah penganut pesugihan.

Dan, diminggu-minggu berikutnya, pendapatannya kian melimpah. Hingga dalam satu bulan pertama, total uang gaibnya sudah mencapai ratusan juta rupiah. Melihat tumpukan uang sebegitu banyaknya, Sopiah sangat bahagia. Dari hasil tersebut, pertama-tama yang dibelinya adalah perabot rumah tangga yang sangat mewah serta bermacam perhiasan. Dan waktu-waktu berikutnya, gentian kebutuhan lain yang dibeli, seperti sebidang tanah di luar kota, beberapa hektar sawah juga diluar kota.

Hanya saja, meski sudah berjalan satu tahun, Kusmayadi tidak berani untuk membangun rumah baru atau membeli kendaraan anyar model baru. Untuk wara-wiri, mereka cukup mengendarai mobil yang dibelinya setengah pakai saja. Itu semata-mata untuk menjaga agar para tetangga tidak curiga. Sebab, Kusmayadi sendiri meski telah pensiun dari menarik becak dan kini tetap menjaga warung meski isinya tidak sekomplit toko klontong di sebrang jalan. Jadi kalau sampai bisa membangun rumah, apa lagi mewah, para tetangga pasti langsung kasak-kusuk.

Wajar, jika Sopiah begitu menikmati hasil tersebut. Sebab selama itu, ia-lah yang harus rela untuk menyusui sosok bocah siluman tersebut, setiap kali hadir diantara mereka. Itu sudah menjadi perjanjian gaib mereka dengan makhluk halus mirip tuyul tersebut. Dan perjanjian lainnya pun kerap mereka lakukan hampir setiap tahun untuk pergi ke kawasan hutan di atas bukit di kabupaten Grobogan, untuk menggelar selamatan.

Hingga akhirnya, menjelang pagi di tahun ketiga mereka mengikat perjanjian gaib, Kusmayadi menemukan istrinya terkulai lemas di atas kursi goyang dalam kondisi tubuh sangat mengenaskan. Tubuhnya, tampak mengering dan keriput. Sementara napasnya, tersengal-sengal sangat lemah.

Khawatir terjadi apa-apa, Kusmayadi membawanya ke rumah sakit. Namun baru saja sampai disana, sebelum sempat mendapat perawatan dokter, nyawa sang istri tak tertolong lagi. Ia menghembuskan napas terakhir saat dibawa ke ruang ICU. Seketika Kusmayadi pun menjerit histeris. Menyesali segala perbuatannya dengan membantu istrinya melakukan persekongkolan dengan makhluk halus.

Bahkan, disaat pemandian jenazah, sebenarnya banyak pihak keluarga yang menanyakan kematian mendadak Sopiah, terlebih setelah melihat tubuhnya yang keriput. Namun sejauh itu, Kusmayadi hanya mengatakan bila dirinya tidak mengetahui penyebabnya. Terlebih jika istrinya mengidap penyakit gawat.

Beberapa hari berselang, barulah Kusmayadi mendapatkan jawaban atas misteri kematian tersebut. Menurut paranormal yang dulu mengantarkan mereka ke Grobogan, kematian Sopiah adalah akibat istrinya yang terlalu lama menyusui sosok bocah siluman yang mereka pelihara. Sebab katanya, sejatinya yang diisap bocah siluman itu bukanlah air susu, melainkan darah Sopiah. Akibatnya, lambat lain tubuh Sopiah menjadi kering karena kehabisan banyak darah.

Kini, Kusmayadi hidup sendiri diusianya yang lebih dari lima puluh tahun. Hidupnya pun kembali seperti semula, serba pas-pasan. Tanpa anak ataupun istri. Karena selama berumah tangga dengan Sopiah, mereka belum diberi momongan. Ditemui saat menarik ojeg, pria yang akrab dipanggil kang Odi itu mengisahkan pengalamannya pada penulis,“ Itulah mas, kenapa saya selalu menekankan bila ada orang yang berniat mencari kekayaan dengan cara tidak sehat. Apa lagi dengan cara bersekutu dengan makhluk halus. Saya selalu menekankan mereka untuk tidak melakukannya.

Biarlah pengalaman ini cukup saya saja yang jadi korban. Dan semoga pengalaman hidup nan pahit ini, bisa menjadi peringatan bagi banyak orang, betapa bahayanya dunia pesugihan itu, “ demikian Kusmayadi mengakhiri kisah pengalaman sejatinya beberapa waktu lalu, begitu mengetahui banyak korban penjualan janin bayi untuk pesugihan, khususnya di pulau jawa dan Sumatra.

Comments are closed.