misteri

ki

Misteri Kematian Gadis Pingitan Roro Siti Pandulu (Oleh : Restoe Prawironegoro Ibrahim)

 

Cuaca diawal pergantian tahun dicekam udara dingin. Sejak sore hujan mengguyur sebuah kawasan wisata yang ramai dikunjungi turis asing itu. Tanah masih tampak basah dan lembab, menyebarkan aroma anyir seperti bau bangkai.
Di sebuah cottage, kami sedang duduk mengitari meja. Jajanan dalam kaleng dan minuman penghangat yang terlihat menguap, terhidang di atasnya. Tak lama, sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib, mengalun merdu dari sebuah masjid. Evelin yang baru saja masauk Islam, membisikku meminta ijin hendak menunaikan sholat. Setengah berlari, ia meninggalkan kami.
Sesaat kemudian ia sudah kembali bergabung dengan sebuah novel yang berada ditangannya. Ketika ia menyodorkannya ke atas meja, sebuah judul asing The Bigamits terpampang dalam cover depan. Dari ilustrasinya, terkesan jelas kalau itu bacaan horror.
Yunan merebut novel misteri tersebut dari tanganku. Lantas membolak-balik lembar demi lembar halaman isi. Sesuai membaca sinopsisnya, baru ia angkat bicara. Katanya, ia teringat akan sebuah pengalaman ketika ia masih berstatus mahasiswa beberapa tahun silam.
Rambutnya disibakkan. Setelah itu, tangannya meraih gelas berisi minuman. Dan tindakan terakhir sebelum ia memulai cerita, disulutnya sebatang rokok. Menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan-lahan. “Sungguh kejadian aneh itu susah kulupakan,” ujarnya dengan suara serak.
Menurutnya, peristiwa tersebut terjadi di sebuah rumah joglo yang terkenal sangat angker. Dengan terpaksa, tempat serta pemilik rumah tidak diungkapkan secara jelas di sini, mengingat rumah itu akan membuat setiap orang yang memandangnya merasa giris (ketakutan).
Konon, rumah angker tersebut merupakan warisan sebuah keluarga yang berlangsung secara turun-temurun. Penghuni pertamanya adalah saudagar kaya, yang selanjutnya dianggap sebagai pembabat alas — sesepuh pertama atau perintis —- yang mendirikan desa Karangbendo. Tuanya usia bangunan rumah, terlihat dari tulisan tahun pembangunan di dinding, yang masih memakai huruf Kawi. Kini rumah tersebut dibiarkan kosong, tak dihuni. Terakhir kali yang menempatinya adalah seorang pejabat penting di wilayah kawedanan Kalinggan.
Letak rumah tua yang dari luar sudah terkesan menyeramkan itu, berada di pusat desa Karangbendo, tak jauh dari arah perempatan jalan besar. Pagi hingga petang, jalan di depan rumah itu tak pernah sepi dilewati orang-orang dari Bromo atau dari kota kabupaten. Pekarangan rumah yang sangat luas, dipenuhi berbagai macam pohon besar seperti mahoni, tanjung, serta pisang, sehingga rumah kuno itu seakan bersembunyi dalam lebatnya tanaman. Sementara, rumput gajah tumbuh liar di setiap jengkal tanah, disela-sela pepohonan pekarangan. Kesan sembunyi semakin kuat seiring berdirinya pagar tembok yang sangat tinggi seperti benteng. Pintu regol (gapura) depan sudah berkarat dimakan usia.
Sebenarnya jika melihat tatanannya, rumah itu dapat menjadi tempat tinggal yang menyejukkan. Namun kenyataan yang timbul justru sebaliknya. Entah sudah berapa pasangan keluarga yang tak betah menempatinya. Seperti yang terjadi pada keluarga mandor Karjo, guru Wardoyo, mantri pasar Martawi, bibi Toyah, dan masih banyak lagi. Mereka termasuk dalam daftar penghuni yang tak bertahan lama saat menempati rumah tersebut. Jika ditanya sebabnya, mereka hanya menggidikkan badan, seperti ada yang ditakutkan.
Malam semakin larut. Angin mendesau yang mengibaskan dedaunan, merupakan cirri khas pengisi ruang malam. Bunyi kentongan di pos jaga, jam weker, tokek, dan detak jantungku, lebur menjadi satu. Menggema, memecah kesunyian malam. Kuletakkan pena yang sejak tadi kugunakan mengukir kata-kata dalam buku. Aku beranjak tidur tatkala jam dinding telah menunjukkan angka 00.30 Wib. Aku merebahkan tubuh di ranjang, berharap segera dapat tidur.
Namun harapan untuk segera tidur, tak bisa terwujud. Saat hendak memejamkan mata, terdengar suara berisik yang sangat jelas berada di dalam rumah. Seperti ada orang meletakkan sesuatu di meja. Serta suara kain atau baju yang dikibas-kibaskan. Terdengar juga seperti suara kesibukan kerja.
Dalam rumah tua itu terdapat tiga kamar, antara lain kamar belakang yang dijadikan gudang, kamar rias sekaligus sebagai tempat menyimpan buku-buku serta sebagian pakaian, dan satu kamar lagi yang kini menjadi tempat tidurku. Dari kamar rias yang bersebelahan dengan kamarku itulah, suara berbisik itu bersumber. Sejauh itu, aku masih berpikir bahwa itu merupakan suara binatang mengerat yang banyak berkeliaran di malam hari. Mengingat besok pagi ada urusan di kampus, akhirnya hal itu kuacuhkan saja dan melanjutkan tidurku.
Anehnya, seiring dengan kuatnya keinginanku untuk segera memejamkan mata, suara itu justru terasa terdengar semakin keras. Bahkan terdengar seperti suara barang-barang dibanting. Karena penasaran, maka dengan kewaspadaan tinggi aku keluar menuju kamar rias. Sebuah tongkat kuraih sebagai senjata, untuk berjaga-jaga kalau saja ada orang yang bermaksud jahat.
Perlahan-lahan pintu kamar rias kubuka, lalu aku mengintip ke dalamnya. Dalam kegelapan kamar karena memang lampunya aku matikan, tak terlihat tanda-tanda adanya aktivitas meski hanya sebatas kelebatan tubuh. Merasakan ada yang ganjil, aku langsung menghening, sambil melafalkan ayat-ayat surat Kursi. Hasilnya, untuk beberapa saat suara berisik tersebut sirna.
Esok paginya, aku melihat keadaan kamar sebelah sudah acak-acakan. Sepatu yang kemarin aku letakkan di belakang pintu, kini sudah berpindah ke atas meja. Baju serta celana berserakan di lantai, dan sebagian buku tampak berhamburan keluar dari raknya. Bahkan bunga edelways hadiah dari Wulan, terpisah dari vas-nya. Seakan ada orang yang sengaja merusak kenangan pemberian kekasih itu. Setelah kurapikan kembali ruangan itu, aku bergegas pergi ke kampus.
Awan tebal yang sejak sore memenuhi angkasa membuat suasana menjadi gelap. Aku berdiri di tepi sebuah jalan, menanti angkutan umum yang akan membawaku kembali ke rumah joglo itu. Sebuah sedan mengagetkanku karena dengan tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Tak lama, lewat jendela kaca pintu sedan seseorang melongokkan kepalanya dan menyapaku. Ternyata Mas Irawan, kakak Wulan. Ia tergesa-gesa menyuruhku masuk ke mobil, dan tanpa sekatapun keluar dari mulutnya, ia melanjutkan mobil dengan kencang ke arah barat. Aku tahu, arah itu menuju kediamannya.
Setibanya di rumah Mas Irawan, aku melihat Wulan terbaring lemah di ranjang. Tampak ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Hatiku diselimuti kekhawatiran. Dari penuturan Mas Irawan, kuketahui bahwa Wulan habis terjatuh dari tangga panggung pertunjukan, seusai memperagakan sebuah tari dalam pesta Dies Natalis. Cukup lama Wulan terbelenggu dalam ketidaksadaran. Sesekali terdengar iaq mengigau, menggambarkan suasana hati yang dilanda ketakutan.
“Jangan……….! Jangan……………….! Aku takut.” Meski secara tindakan aku masih dapat menguasai diri, namun perasaanku diselimuti kekhawatiran yang dalam. Dengan sabar aku menungguinya. Tangannya kupegang, kuremas-remas sambil sesekali memanggil namanya, mencoba memancing kesadarannya untuk puluh.
Dalam ketercekaman, memori batinku melayang ke masa silam. Tiba-tiba teringat kembali kejadian aneh yang pernah aku alami bersama Wulan, ketika aku masih tinggal di rumah tua itu awal tahun 1983. Waktu itu Mas Irawan memberiku ijin untuk menempati rumah joglonya, karena ia sekeluarga pindah ke rumah dinas.
Suatu hari dalam kunjungannya, Wulan cukup lama singgah bahkan menuturkan niatnya untuk bermalam. Hanya berdua kami di sana, sehingga sangat memungkinkan bagi kami untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi. Tentang perjalanan cinta kami berdua.
“Wulan! Kau memang cantik,” pujiku malam itu.
“Kau jagonya merayu Mas Yunan. Aku yakin dirimu pasti dikerubuti banyak cewek cantik,” komentarnya menanggapi kata-kataku sambil tetap menyibukkan diri di belakang. Dari kata-katanya, aku dapat menangkap rasa cemburu. Tapi aku memakluminya. Semuanya bersumber dari jabatanku di organisasi kampus, yang memaksaku untuk selalu menjalin hubungan baik dengan semua anggota. Termasuk yang berstatus cewek.
Tak lama kemudian, Wulan datang membawa talam dengan minuman di atasnya. Diletakkannya minuman itu di meja, lalu ia duduk di sampingku. Keheningan malam menambah suasana romantis pada malam itu. Cocok sekali untuk melakukan pembicaraan dari hati ke hati. Kupegang tangannya erat, mencoba mengalirkan getar-getar kasih sayang.
“Wulan! Seharusnya kau sedikit mau mengerti serta memaklumi aktivitasku. Aku kan ketua organisasi, Wulan….! Jadi, aku harus fleksibel dan pandai menyesuaikan diri. Kita harus punya anggapan bahwa, yang terpenting antara kita adalah merasa saling memiliki. Kita harus berupaya menjaga keharmonisan, agar tetap lestari dan bertahan atas rongrongan dari luar,” jelasku memberikan pengertian.
Aku yakin, kata-kataku itu telah merasuk dan menyentuh hatinya. Itu terbukti dengan matanya yang tampak berkaca-kaca. Spontan Wulan mempercepat genggaman tangannya. Tubuhnya direbahkan di pelukanku. Aku pun mendekapnya mesra, penuh kasih sayang.
“Prak……….!”
Hampir saja jantung kami berhenti berdetak karena terkejut. Tak ada angin, tak tahu sebabnya, sebuah lukisan pemandangan pantai Sanur yang terpajang di dinding, tiba-tiba jatuh. Terlepas dari gantungannya, dan menimpa punggung Wulan.
Dengan perasaan takut, ia memandangku. Kemudian matanya mengitari keadaan ruang tamu, seakan menyelidik. Masih dalam keterpakuan, tiba-tiba lampu padam. Kegelapan menyelimuti ruangan di mana kami berada. Namun, ketika aku hendak meraih senter yang kebetulan letaknya tak jauh dari tempat duduk kami, tiba-tiba lampu menyala kembali dengan sendirinya.
Mengalami peristiwa ganjil, Wulan sangat ketakutan. Hingga akhirnya, ia minta diantar ke kediaman kakaknya, Mas Irawan, yang jaraknya empat kilometer ke arah barat dari desa Karangbendo. Dalam kepekatan malam, terpaksa aku turuti permintaannya.
Di tengah perjalanan, mobil yang kami kendarai, tiba-tiba mogok. Ketakutan Wulan semakin menjadi-jadi. Tangannya terus menggandengku. Dengan berbisik, ia mengatakan bahwa terasa ada orang yang mengikuti kami malam itu. Namun, ketika aku tengok ke belakang, hanya kegelapan malam yang menyelimuti jalanan. Tak seorang pun terlihat seperti yang dikatakan Wulan.
Suatu hari di waktu siang, secara tak sengaja aku terlibat perbincangan dengan Mbah Mangun Kerto di sebuah warung dawet di tepian sungai yang berada di sebelah utara pasar desa. Lelaki kelahiran 1905 itu, dikenal sebagai sesepuh desa Karangbendo.
Arah pembicaraan kami awalnya tak menentu. Entah bagaimana mulanya, selanjutnya perbincangan itu menyinggung masalah rumah yang kutempati. Kakek 31 cucu dari 15 anaknya itu menjelaskan bahwa, dulunya pemilik rumah joglo tersebut bernama Nyai Sidowareh.
“Nyai mempunyai anak yang sangat cantik bernama Roro Siti Pandulu. Perawan desa itu, selama hidupnya dipingit. Tidak diperkenankan bepergian kemana-mana,” ujar lelaki tua itu. Ceritanya lagi, Roro Siti Pandulu yang merupakan anak tunggal Nyai Sidowareh, pernah menjalin cinta dengan anak seorang sinden. Namun percintaan muda-mudi itu digagalkan oleh Nyai Sidowareh.
“Hingga akhir hayatnya, Roro Siti Pandulu tetap berstatus gadis pingitan,” terang Mbah Mangun Kerto. Namun satu keterangan Mbah Mangun Kerto yang mampu membuatku terhenyak. Menurutnya, pemuda kekasih Roro Siti Pandulu sangat mirip denganku. Sejenak aku mengernyitkan kening. Pikiranku melayang, mencoba menghubungkan keterangan itu dengan peristiwa jatuhnya lukisan saat aku bermesraan dengan Wulan. Dalam benak aku bertanya-tanya, “Apakah gadis pingitan itu tak menghendaki aku yang mirip dengan mantan kekasihnya, berpacaran dengan Wulan? Cemburukah ia?”

 

Jakarta, 20 Juni 2015

Comments are closed.