misteri

ki

Dibacakan Ayat Kursi Pesta Sunatan Raib

sunatan raib2Walau hampir lima tahun berselang, namun kejadian di Tempuran sungai Kemuning, Ngargoyoso, belum juga bisa dilupakan bukan hanya oleh warga sekitar desa Kemuning tetapi juga menjadi pepeling bagi ustadz Badarudin Suwandi. Bahkan
kejadian tahun 2011 silam itu, nyaris membuatnya tewas.

Sekedar diketahui, hampir sepanjang tahun di lokasi tempuran Kemuning, selalu didatangi orang baik mereka yang sekedar bermain, mereka yang gemar memancing maupun para elit pelaku
sesirih supranatural. Seperti tahun-tahun sebelumnya, secara estafet mereka yang hobi berpetualang dengan alam gaib, meski
kadang tanpa dipandu sesepuh (orang linuwih) sengaja menggelar kegiatan bersih desa atau sedekah bumi.

Meskipun hanya sebatas larung sesaji atau pun menggelar
ritual di sekitar tempuran. Tak banyak yang tahu jika lokasi
pertemuan dua sungai yakni sungai Progo dengan sungai Kayangan itu, walau dimata terlihat indah dan menenangkan batin, tetapi jauh di dalamnya sangat mengerikan.

Beberapa orang linuwih bahkan mengintimidasi, jika lokasi tersebut
merupakan sarangnya bangsa jin yang dikepalai sosok lelembut wanita cantik.Berkaitan dengan lokasi tersebut, tak urung sempat membuat ustadz Badarudin Suwandi kembali terkenang akan sebuah peristiwa yang pernah dialaminya di lokasi tersebut.

Meski disibuki dengan berbagai kegiatan rutin, ustadz murah senyum ini selalu saja menyempatkan diri untuk datang jika
ada orang yang butuh bantuan. Sebab baginya menjadi tenaga ahli tukang sunat tradisional yang melayani kebutuhan warga merupakan tuntutan yang harus selalu siap untuk dilaksanakan, meskipun itu datangnya secara mendadak.

“Yang jelas dalam melakukan praktek sunat haruslah dikerjakan secara hati-hati. Tidak sembarangan pasien bisa diterima. Harus waspada, jangan-jangan orang yang mengaku pasien, ternyata hanya untuk memamfaatkan saya,” Cerita Badarudin, salah seorang ahli sunat tradisional yang mengalami nasib buruk pada saat praktek sunat berlangsung.

Bahkan gara-gara itu pula, nyawanyapun nyaris melayang sia-sia. Mengapa bisa begitu? Peristiwa itu berawal ketika satu malam, dia kedatangan dua orang lelaki yang mengaku utusan dari pakde Joyolukito, yang meminta bantuan untuk menyunatkan cucunya. Awalnya, permintaan itu dia tolak, akan tetapi begitu mendengar nama pakde Joyolukito, Badarudin terdiam seperti mengingat nama tersebut.

Namun setelah salah satu dari mereka menerangkan, nama
dan alamat majikannya dengan gamblang,barulah dia yakin jika pakde Joyolukito adalah rekan sejawatnya yang sudah lama
tidak bertemu. Akan tetapi meski begitu, seperti biasanya, dia yang sudah lama tidak buka praktek sunat mengatakan pada mereka agar membawa anak itu ke rumah sakit saja. Selain peralatannya canggih
dan menggunakan sinar laser, juga, jika ditangani dokter ahli akan lebih baik dari pada ditangani secara tradisional seperti
yang dilakukannya.

“Katakan saja pada majikanmu, besok pagi untuk membawa cucunya itu ke rumah sakit,” pesan Badarudin.
Namun keduanya tetap ngotot meminta dirinya untuk datang, katanya, soal bersedia atau tidaknya, itu urusan nanti. Bahkan, mereka menekankan, jika Badarudintidak sampai datang ke hajatan, keduanya tidak diperbolehkan untuk kembali pulang, itu
ancaman serius majikan mereka.

“Ustadz datang dulu saja, soal mau atau tidaknya itu urusan ustadz. Karena hal ini merupakan amanat atasan. Kami tak ingin
ada apa-apa terjadi pada kami. Tolong ustadz!” kata laki-laki yag tubuhnya lebih subur, setengah memaksa.

sunatan raib

Merasa iba dengan keterangan kedua utusan pakde Joyolukito, akhirnya pada malam yang ditentukan, Badarudin berangkat meski hanya berbekal alamat yang disebutkan tamunya. Alamat itu
sepertinya masih baru.

Dan dia tidak heran, pasalnya, pakde Joyolukito yang dikenal
sebagai pengusaha jasa penyewaan truk pengangkut pasir, rumahnya memang banyak. Salah satunya adalah rumah yang di
kawasan Ngargoyoso.

Sebuah kawasan yang masuk ke wilayah kabupaten Karanganyar. Sebagai orang pekerja keras, namanya pun sohor di wilayah Karanganyar. Pakde Joyolukito, demikian nama yang tak
asing ditelinga mereka. Namun pemilik beberapa kios di pasar tradisional Solo dan Sukoharjo, belakangan ini hampir tak
terdengar lagi kiprahnya.

Orang-orang mulai membicarakan dan menghubunghubungkannya
dengan usaha rental truknya yang pailit karena kalah bersaing dengan para pengusaha muda yang lebih kreatif dan berwawasan luas.menenangkan hati.

Sebagai pengasuh sebuah yayasan amal di Sragen, Badarudin kerap diundang sehubungan dengan profesinya sebagai seorang ustadz yang sekaligus sebagai bengkong (tukang sunat), dia dikenal sangat
penyabar juga disegani para tetangga.

Bahkan yang lebih terlihat dari ciri khasnya, dia cepat akrab dan supel dalam pergaulan. Baik dengan teman, rekan maupun orang
asing. Begitu pula dalam hal bersilaturahim yang sifatnya keagamaan. Dia tak pernah melewatinya. Seperti halnya menghadiri
undangan pesta sunatan cucu sahabatnya, terlebih lagi undangan yang sifatnya positif.

Hampir dapat dipastikan, ayah dua anak ini pasti tidakpernah menolaknya.
“Karena undangan itu begitu istimewa. Maka saya wajib datang dan melaksanakan tugas untuk menyunati cucunya. Apa lagi undangan itu datang dari sahabat saya sendiri,” Jelas lelaki berkumis itu kepada penulis.

“Meski pun kami sama-sama lama sekali tidak bertemu,“ sambungnya lagi serius. Tapi bukan Badarudin jika tidak
menghargai itikad baik orang lain. Maka pada Kamis malam, di awal November 2011,

Pukul 21.00 WIT, ia berangkat. Berbekal keterangan kedua utusan itu, bahwa sunatan akan dilaksanakan tepat pukul
dua belas malam, akhirnya dia berangkat seorang diri tanpa melibatkan istri dan anaknya. Badarudin sengaja berangkat
lebih awal lantaran tuan rumah meminta cucunya di sunat tepat tengah malam.

Bukan di pagi hari atau selesai sholat subuh, sebagaimana yag biasanya dia dilakukan ketika menyunat. Dengan mengendarai motor metik Badarudin berangkat ke Karanganyar dengan mantap. Sepanjang perjalanan, benaknya terus berkecamuk tentang
rekannya yang meminta datang.

Namun mengingat kondisi rekannya yang super sibuk diapun akhirnya mahfud. Ya, itulah ciri-ciri orang yang diperbudak harta. Begitu gerutunya dalam hati.

Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam hingga sangat melelehkan karena harus bertanya kesan kemari, sampailah Badarudin di desa Kemuning, sebuah pemukiman asing, berhawa dingin, sepi layaknya tidak berpenghuni.

Motornya mulai diperlambat. Saat itu baru disadari,
apa yag sedang dialaminya. Ternyata alamat yang diberikan kedua tamunya itu, jaraknya cukup jauh. Hingga tak terasa saat tiba
ditujuan keadaannya sudah larut malam.

Bahkan, dia merasakan keanehan saat menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Dari sebuah rumah besar sudah
tampak hiruk pikuk kegaduhan. Meski belum jelas apakah keramaian itu adalah pesta sunatan cucunya pakde Joyolukito.Tapi kenapa digelar begitu meriah layaknya‘mantu seorang pembesar.

Meski masih ragu-ragu untuk menghampiri tempat itu, Badarudin
akhirnya memarkir kendaraannya di antara motor-motor yang lain. Akan tetapi entah muncul dari mana, sekumpulan bocah
dalam berbagai usia tiba-tiba muncul dan menyongsong Badarudin. Dia terkejut kaget atas tingkah bocah-bocah yang menggoda
layaknya fans fanatik yang bertemu idola.

Bahkan satu di antara bocah itu, menarik tangan Badarudin lalu mengajaknya tempat hajatan. Merasa sudah biasa berkumpul
dengan anak-anakdidik di masjid, dia pun menghadapi sekawanan bocah itu dengan lemah lembut. Seperti juga saat muncul,
ketika Badarudin sudah sampai di tempat hajatan, sekumpulan bocah itu pun tiba-tiba membubarkan diri dan raib entah
kemana.

Namun kali ini dia tidak ambil perduli, begitu bocah-bocah tak terlihat lagi, Badarudin pun berbaur dengan para tamu
lain. Selesai menyalami among tamu yang berjejer dengan seragam jas hitam, Badarudin langsung dipersilahkan duduk di deretan kursi paling depan, tak jauh dari kursi pengantin sunat yang dihias mewah.

Setelah seorang bayan tamu mengabari kedatanganya kepada ‘sang saefulbet’ (tuan rumah), tak lama berselang, muncul sesosok
lelaki yang takasing lagi di matanya. Bahkan saat berhadapan, Badarudin sudah tak asing dengan wajah tuan rumah yang ternyata
adalah pakde Joyolukito yang kemudian menghampiri dan menyalaminya dengan akrab.

Tak ayal, pertemuan tersebut membuat kedua sahabat yang lama tidak bersua itu
tampak haru. Mereka saling berangkulan cukup lama. Dan sesaat kemudian, orang terpandang itu langsung berbasa basi mempersilahkan dan memaksa teman semasa kecilnya itu untuk masuk ke dalam rumah, menemui cucunya.

Di dalam ruang tengah yang isi perabotannya serba lux, obrolan kedua sahabat itu semakin tampak akrab. Bahkan pakde Joyolukito memperkenalkan istri dan cucunya yang akan disunat. Saat ditanya
kenapa proses sunatan harus dilakukan tengah malam.

“Ditanya begitu, sahabat saya itu awalnya hanya terdiam, tetapi kemudian istrinya menyela, katanya bagi keluarga mereka, prosesi sunatan itu harus dilakukan tepat tengah malam. Kalau tidak
dilaksanakan sesuai tradisi bakal ditimpa musibah. Begitu jawaban mereka,“ tandas Badarudin waktu itu.

Meski awalnya kurang begitu yakin akan jawaban tersebut, namun dia tetap bersikap pamiliar. Namun hati kecilnya tetap saja menggerundel, sejak kapan ada istilah apes dalam prosesi ritual sunatan yang sudah dia jalani hampir 15 tahun itu?

Dia melihatperbedaan yang menyolok pada diri lelaki yang sepuluh tahun lalu pernah mengunjungi rumahnya itu. Selain lebih banyak diam, perawakan lelaki yang bergelimang harta itu kini lebih kurus dan wajahnya lebih pucat. Akan tetapi sebagai kawan lama, Badarudin tidak ingin mengecewakan sahabatnya yang jauh-jauh mengundang dan menyerahkan cucunya untuk di sunat.

Kian larut semakin transparan keanehan di tempat itu. Jika umumnya acara hajatan ditempat lain, menjelang
tengah malam para tamu undangan sudah mulai meninggalkan lokasi. Namun sebaliknya yang terjadi dengan keluarga pakde Joyolukito. Semakin malam pesta digelar, semakin banyak para undangan yang datang.

Mulai dari orang tua, bapakbapak, ibu-ibu, para pini sepuh, kakek dan nenek bahkan puluhan anak kecil mulai berdatangan malam itu. Mereka berlarian dan bercanda seperti di siang hari. Hingga
tak heran jika si tuan rumah selalu tidak lama berada di satu tempat. Keduanya (pakde Joyolukito dan istri) sibuk menyalami
tamu undangan yang datang silih berganti.

Bahkan, menjelang tengah malam, panggung hiburan mulai berganti adegan. Yang awalnya menyajikan alunan gamelan
cukup rancak yang mengiringi kesenian jaranan, dengan musik yang terdengar menghentak-hentak dan bergairah, kini berganti dengan alunan suara aneh berupa alunan sinden dengan lagu-lagunya yang mendayu-dayu.

Akan tetapi di mata Badarudin ada satu keganjilan sedang terjadi. Yakni, bersamaan dengan bergantinya alunan suara sinden, seketika di areal hajatan itu tercium bau wangi asap dupa atau kemenyan yang kemudian disusul dengan bau harum kembang melati yang menyengat.

Untuk beberapa saat Badarudin tenggelam dalam lamunan. Disaat
membayangkan kondisi menyeramkan, mendadak muncul pakde Joyolukito yang menyuruh Badarudin untuk segera melaksanakan sunatan. Dalam kondisi pikiran gamang dan kosong itulah, akhirnya ia menuruti kemauan sahabat untuk ‘menyunati’ cucunya.

Lagi-lagi di sini Badarudin menemui keganjilan, pada saat
prosesi sunatan dilaksanakan, semua alat yang biasa digunakan untuk menyunat (memotong kulup) tak satupun alat (pisau lipat) yang mempan dan sanggup memotong manuk bocah tersebut.

Berbagai carapun telah dilakukan, namun hasilnya tetap saja, manuk bocah cucu sahabatnya itu tidak putus. Menyadari susahnya menyunat bocah itu, membuat Badarudin hampir saja putus
asa. Namun akhirnya dia ingat sesuatu yang pernah dikatakan seorang linuwih dalam mengatasi masalah tersebut. Bahwa
jika menemukan bocah yang sulit untuk di sunat, pergunakan alat potong yang terbuat dari ‘sembilu batang bambu hitam’.

Selain itu saat ‘pemotongan kulup’ harus di iringi dengan pembacaan surat-surat Al qur’an di antaranya adalah surat Al fatihah, Al Iklas, Al Falaq dan Surat Anas serta ditutup
dengan ayat Kursi. Atas inisiatif itulah, Badarudin akhirnya
mencari sendiri rumpun bambu di sekitar tempat itu. Kemudian mengambil sembilunya (hinisnya-sunda), untuk digunakan sebagai media alat potong.

Begitu prosesi sunatan dilaksanakan kembali yang kali ini dengan menggunakan alat pengganti pisau lipat dari sembilu
kulit bambu, bukan berarti segala masalah selesai. Tak urung kejanggalan pun kembali terlihat. Di tengah lantunan doa-doa yang
dilafalkan, sesuatu mengusiknya. Mendadak suasana disekitar itu
berubah. Langit menjadi mendung dan bulanpun tertutup awan.

Tak lama, tiba-tiba terdengar suara guntur yang kemudian disusul dengan gerimis hujan. Badarudin menjadi terkejut. Akan tetapi, kemudian ditenangkannya kembali jantungnya yang berdebar. Dengan segenap kekuatan dia berkonsentrasi untuk melihat keadaan di sekitar melalui matanya yang tak berkedip. Seketika terperanjat dan dibuat terkaget-kaget.

Ketika ayat penutup yaitu ayat kursi dibaca, terdengar suara gemuruh tanpa wujud seolah datang dari langit. Bukan hanya itu, kejadian itupun disusul dengan kondisi orang-orang ditempat hajatan yang mendadak lenyap. Begitu pula pakde Joyolukito beserta cucu dan orang-orang yang menyaksikan prosesi sunatan.

Badarudin baru tersadar jika saat itu bukan sedang melakukan sunatan, tetapi tangannya sedang memegangi seekor katak
atau kodok (bangkong) yang wujudnya sebesar bantal. Dia benar-benar sangat terkejut. Bahkan dia baru menyadari jika
saat itu dirinya sedang berada di tempat lain. Di tepian perairan ‘tempuran’ sebuah sungai.

Bukan itu saja, bahkan dalam hitungan detik, sebuah perubahan kembali menyusul. Keramaian pesta yang tengah menggelar
musik gamelan dengan sorak hiruk pikuk para penonton yang duduk di deretan kursi-kursi tamu undangan mendadak lenyap dan
berganti menjadi suara bergemuruh datang dari arah hulu sungai.
Benda-benda yang mengapung di atas aliran air deras itu semakin cepat meluncur.

Dan secepat kilat menghantam tubuh Badarudin. Hantaman itu begitu keras ditambah gelombang yang kuat membuat
tubuhnya terseret arus. Ternyata tiba-tiba saja air tempuran sungai itu meluap. Dia terlambat menyadarai hal itu dan terlambat untuk menyelamatkan diri.

Tubuhnya terhantam batang pohon mahoni yang tumbang dan hanyut. Beberapa lama dirinya terbawa ke dasar arus yang kuat.
Entah berapa lama banjir itu akan reda. Yang jelas tubuh Badarudin semakin jauh terseret dan terhantam-hantam dengan
mengerikan.

Pagi harinya, tak jauh dari lokasi tempuran, warga desa yang melihat air sungai meluap menemukan tubuh Badarudin tersangkut ditumpukan kayu dan ranting yang hanyut disungai Kemuning.
Ketika beberapa orang warga mengangkat dan membawa tubuhnya ke gubug di tepian sungai itu, dirinya masih berada dalam
ambang kesadaran.

“Dia masih hidup. Cepat baringkan dulu
di bale-bale,“ perintah mbah Wahono Hudi, salah seorang yang terlihat lebih perhatian dalam menangani Badarudin.

Setelah diobati dan benar-benar tersadar, barulah Badarudin bisa cerita kepada mereka yang berkerumun dalam gubug itu. Bahkan tanpa malu-malu dia mengaku telah dikerjai sosok hantu
gentayangan yang tak lain temannya sendiri. Hanya saja, tak semua cerita itu ditanggapi serius oleh mereka.

Sepertinya, apa yang diterangkan, terkesan dibuat-buat.
Tapi melihat kondisinya saat itu dengan berpakaian jas sapari dan sepatu yang masih melekat, merekapun akhirnya
percaya jika dirinya telah tersesat dan masuk ke dunia tak kasat mata.

Dengan kata lain, apa yang dialam idan kemudian diceritakan, itu memang benar-benar terjadi. Apa lagi keterangan Badarudin juga dipertegas oleh cerita mbah Wahono Hudi, 63 tahun, warga setempat yang mengatakan bahwa beberapa tahun
silam telah terjadi bencana di tempuran sungai itu dan merenggut dua nyawa sekaligus, yaitu seorang kakek dan cucunya.

Ditambahkan bahwa kedua orang beda usia itu tewas saat tengah memancing. Dari cerita kakek uzur itulah akhirnya Badarudin
semakin yakin, jika arwah rekannya itu tewas tenggelam dan arwahnya gentayangan.

“Ternyata, yang dipilih untuk menyunat cucunya adalah saya. Sebab itulah, sampai kapanpun saya tak akan pernah lupa pada peristiwa gaib itu,“ urai pria yang kesehariannya tak lepas sarungan.

Namun sayang, beberapa gelintir masih saja ada yang kurang percaya atas keterangan Badarudin. Mereka mengira dirinya mengada-ngada. Dirinya memang tak bisa membuktikan kejadian tersebut, terlebih ketika diceritakan kejadian tak mengenakan itu, air bah yang sebelumnya meluap bahkan menyeret tubuhnya hingga
tersangkut di tumpukan kayu dan ranting, saat ditunjukan kepada mereka yang telah menolong sudah tak nampak ditempatnya
lagi.

Begitu pula ketika dia mengajak warga untuk mendatangi lokasi hajatan, juga tempat itu telah raib.
Kecuali mbah Wahono hudi, orang yang pertama kali menemukan tubuh ustadz murah senyum itu tersangkut di tumpukan
kayu dan ranting kembali menjelaskan, bahwa tempat yang sudah dikenal angker itu, ternyata erat hubungannya dengan keberadaan sosok lelembut wanita cantik yang disinyalir adalah danyang tempuran Kemuning.

Bahkan dijelaskan jika lokasi itu merupakan lokasi sebuah keraton bangsa lelembut yang menguasai sebagian wilayah di kabupaten Karanganyar. Masih menurutnya, selain dihuni arwah gentayangan berupa penari tledek (penari Tayub), tempuran tersebut juga di tunggu sosok binatang gaib, yaitu sosok katak atau
kodok siluman.

Tak heran jika tempuran sungai itu seringkali meminta korban.
Meskipun hewan jejadian itu sering muncul kepermukaan, namun tak semua orang bisa melihatnya. Hanya orang-orangtertentu yang mempunyai penglihatan mata batin tinggi saja yang mampu mendeteksi keberadaannya.

Biasanya, sebelum terjadi musibah yang merenggut nyawa manusia, binatang gaib itu muncul disekitar lokasi. Selain itu, binatang itupun mengeluarkan suara nyaring yang dapat didengar oleh warga
meskipun jaraknya jauh.

“Tapi aneh, hanya orang luar daerah saja yang sering jadi korban, warga disini seingat saya belum pernah ada,“ katanya menjelaskan kepada Badarudin, waktu itu.

Selain masalah kodok siluman dan banyaknya nyawa yang sudah terenggut, lelaki yang mampu menyembuhkan
sakit gigi dalam waktu lima menit itu, juga mengungkapkan bahwa banyak hal ganjil lain yang sering terjadi di lokasi
tempuran, di antaranya, yakni terdengarnya bunyi musik gamelan lengkap dengan suara sinden yang sedang melantumkan
tembang-tembang jawa. Mbah Wahono hudi juga menambahkan, kalau areal tempuran merupakan lokasi istana bangsa
jin.

Sebab sebelumnya, saat pertama kali dirinya melakukan ritual semedi tirakat di tempuran sungai itu, secara kebetulan melihat sosok-sosok aneh yang selalu berkeliaran di sekitar tempuran.
“Entah sudah berapa kali saya menyaksikan orang ramai berada di sana. Tetapi saya tidak mengenal mereka, padahal saya asli penduduk desa ini. Dan itu berlanjut pada hari berikutnya, yaitu
dengan terlihatnya beberapa anak kecil sedang bermain dipinggiran tempuran,“ungkap kakek yang sudah berkali-kali ritual
lelaku ditempuran tersebut.

Dari banyaknya hal mistik maka wajar kiranya jika dulu tidak ada seorangpun yang berani mendekat ke tempuran.
“Waktu itu tak ada seorangpun yang berani bermain, memancing ataupun sekedar lewat di sekitar tempuran,“ cetus
kakek yang akrab dipanggil mbah Hudi itu.Namun seiring berjalannya waktu, katanya lagi, keangkeran lokasi tempuran
kini tidak dipandang sebagai sesuatu yang
menakutkan lagi.

Bahkan sebaliknya, warga seakan memamfaatkan hal itu untuk lelaku. Baik yang bertujuan mengasah kemampuan supranatural maupun mencari nomor togel. Hanya saja, meski telah menjadi tempat berbagai ritual, lokasi itu sering membuat orang kesasar dan masuk kealam gaib.

“Ya, seperti sampeyan, diundang untuk mengkhitan cucunya konco jenengan. Ga taunya, yang mengundang sampeyan arwah
gentayangan. Saya ingat betul, kejadian kakek dan cucu yang tewas saat mancing di tempuran itu beberapa tahun silam,“ terang
lelaki berperawakan kurus itu.

Karena kali tempuran itu merupakan ‘kali mangetan Iline’. (Kali adalah sungai, Netan adalah timur dan mili diartikan
sebagai sesuatu yang mengalir). Jadi artinya, kali tempuran atau tempuran sungai yang mengalir kearah timur. Sebab di
Jawa Tengah ini, hanya tempuran Kemuning
inilah yang airnya mengalir kearah timur,
tetapi yang lainnya mengalir kearah barat.
“Mungkin karena perbedaan dan keanehan itulah, di lokasi ini disetiap bulan suro kerap digunakan para linuwih untuk
kungkum tengah wengi atau Adus suran. Dan siangnya, mereka menggelar ritual sesaji untuk sesembahan kepada para
arwah yang tewas disekitar tempuran,“
jelasnya lagi.

Katanya jika ritual sesaji tidak dilakukan, para penghuni tempuran akan marah. Biasanya, para lelembut utusan dari kerajaan lelembut akan berbuat jahil, dengan cara membuat bencana di sekitar
tempuran sungai.

“Bahkan dulu, ada truk pengangkut pasir yang tergerus air sungai pada saat mengambil pasir. Padahal sebelumnya, sungai tersebut airnya dangkal. Tiba-tiba air bah datang menggerus truk. Menurut
kabar, sebelum melakukan aktifitas mereka tidak menggelar ritual sesaji, ya akhirnya si penghuni tempuran itu marah,“ jelasnya
dengan rinci.

eda dengan keterangan mbah Wahono Hudi, salah seorang warga Kemuning yang lain mengklarifikasi cerita tersebut. Selain
kejahilan tersebut, kadang para lelembut menyebar penyakit di seluruh pelosok desa. Kejadian tersebut tidak satu atau dua kali terjadi, tapi sudah sering. Seperti kejadian tahun 2003 sekitar jam dua pagi, sebelumnya tidak ada hujan dan tidak ada angin, secara tiba-tiba ada suara gemuruh sedang mengitari desa Kemuning. Tak
begitu lama datang angin ribut.

Tak ayal, beberapa rumah penduduk rusak berat. Dengan musibah itu, rupanya oleh sebagian warga tidak begitu ditanggapi
dengan serius. Hal aneh, yang sering terjadi di desanya itu sudah biasa. Bahkan sebagian warga mengartikan, bahwa suara angin gemuruh yang memporak porandakan rumah Sarwana adalah
pertanda sifat dan kelakuan pemilik rumahnya sendiri.

“Lho iya, bener koq, memang kenyataannya begitu. Ini perlu diketahui, Sarwana adalah pemabuk dan penjudi berat, serta suka main perempuan,“ kata mbah Diran, warga setempat yang ditemui
Misteri.

Setelah kejadian itu hingga merusak rumah Sarwana, tiga tahun kemudian musibah itu terulang lagi di desa Kemuning. Kali ini yang rusak bukan rumah. Tapi datangnya angin kencang disertai dengan
suara gemuruh, mengakibatkan sebagian ternak piaraan milik warga terserang penyakit hingga akhirnya mati.

Selain menebarkan pernyakit, angin kencang itu juga menumbangkan sejumlah pohon besar serta ratusan hektar tanaman teh. Dan pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang pinggir kali Kemuning dan tempuran, tak luput dari sambaran angin
puting beliung.

Selang satu minggu, tepatnya malam jum’at kliwon, warga setempat kembali digemparkan oleh adanya ancaman gaib, yakni para lelembut penghuni tempuran sungai Kemuning akan mengambil
kambing-kambing piaran warga sebanyak 100 ekor.

Rupanya ancaman lewat mimpi yang dialami pakde Suyatno, tak langsung dipercaya oleh wara setempat, meskipun sebelum menceritakan mimpinya kepada warga maupun sesepuh desa. Sebab mereka menganggap mimpi itu mengada-ada dan tak masuk akal.

Ternyata, ancaman para lelembut yang Ust Badarudin Suwandi (foto ist) disampaikan lewat mimpi itu bukan gertak sambal belaka. Lantaran permintaannya ditolak, para lelembut tempuran akhirnya
marah.

Keesokan harinya Dibyo, putra dari mbah Jumandi (70) meninggal dunia. Beberapa minggu kemudian Toro, putra dari Mardiyo (53) juga ikut meninggal dunia. Tidak itu saja, satu bulan kemudian
giliran keluarga para petani dan buruh teh, mengalami nasib yang sama. Anak-anak mereka meninggal tanpa sebab yang jelas.

“Dari kematian beruntun yang menimpa anak-anak mereka, akhirnya warga baru percaya kalau ancaman para lelembut
tempuran itu tidak main-main,“ ujar mbah Diran dengan serius.
Untuk menghindari terjadinya malapetaka selanjutnya, para sesepuh desa dibantu warga setempat segera melakukan ritual mandi kungkum tempuran sungai, tepat malam jum’at kliwon.

Sesuai permintaan para penguasa gaib wilayah tersebut, mbah Diran menyediakan beberapa sesaji di sekitar tempuran sungai. Dan setiap satu tahun sekali, kini warga setempat selalu melakukan upacara sedekah bumi di aliran kali tempuran.

“Selain buang sesaji di kali tempuran, setiap tanggal satu syuro, warga desa disini juga melakukan sedekah bumi,“ tandasnya.
Saat ditanya Misteri, bagaimana asal usul wanita cantik yang menguasai keraton lelembut di tempuran Kemuning.

Mbah Diran hanya tersenyum saja, tanpa bisa menjabarkan babat alas terbentuknya lokasi tempuran yang angker. Hanya saja, lelaki uzur itu sedikit menggambarkan, jika lokasi tempuran dulunya adalah lokasi yang sering digunakan untuk melintas perahu rombongan kerajaan yang akan menuju ke keraton Surakarta.

Entah rombongan dari kerajaan mana, yang jelas ditempat itu pula sering dijadikan pusat barter jual beli kebutuhan ke dua
kerajaan. Hingga tanpa mereka sadari, kegiatan kedua rombongan kerajaan itu dimampaatkan sekelompok makhluk halus dari hutan antah berantah. Bahkan sekumpulan makhluk halus itu pun membuat kelicikan dengan memperdaya rombongan kerajaan dari
timur.

Beberapa prajuritnya ditemukan tewas mengenaskan. Mayatnya dibiarkan hanyut hingga membendung sungai Kayangan. Bahkan, mayat-mayat itu nyaris habis dimakan puluhan biawak.

“Sejak kejadian itulah, para penduduk tidak ada yang berani melewati kali tempuran. Karena selain angker, menurut keyakinan warga, bila ada orang yang berani lewat dipastikan tak akan bisa
kembali pulang. Kecuali, jika mereka sebelumnya menggelar ritual sesaji di sekitar tempuran,“ imbuhnya.

Comments are closed.