<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Ritual Pesugihan</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/ritual-pesugihan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jun 2013 03:18:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Nyaris Jadi Tumbal Pesugihan Setan Kalong (oleh: Eddraman Hormansyah)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/tumbal-pesugihan-setan-kalong/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/tumbal-pesugihan-setan-kalong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2013 12:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[&#160; BOEN FOET CHONG, dikenal oleh warga kota Banda Aceh NAD sebagai WNI keturunan Tionghoa yang sukses berbisnis. Rumahnya di Jalan Panglima Polim Ibukota Bumi Serambi Mekah tersebut boleh dikatakan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/tumbal-pesugihan-setan-kalong/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.majalah-misteri.net/tumbal-pesugihan-setan-kalong/setan-kalong/" rel="attachment wp-att-1023"><img class="alignleft size-medium wp-image-1023" title="setan kalong" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2013/01/setan-kalong-300x242.jpg" alt="setan kalong" width="300" height="242" /></a>BOEN FOET CHONG, dikenal oleh warga kota Banda Aceh NAD sebagai WNI keturunan Tionghoa yang sukses berbisnis. Rumahnya di Jalan Panglima Polim Ibukota Bumi Serambi Mekah tersebut boleh dikatakan cukup bergengsi. Tidak kalah mewah dengan bangunan-bangunan lainnya yang bersebelahan.<br />
Begitu terjadi bencana gempa dan tsunami yang maha dahsyat, istri dan anak-¬anaknya serta <span id="more-1022"></span>seluruh harta kekayaannya tidak mampu diselamatkannya. Semuanya ludes <span style="line-height: 1.63;">digulung gelombang laut yang menyerbu masuk kota. Kala itu ia sedang berada di Kota Medan menemui mitra bisnisnya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namur belum setahun kemudian, Boen Foet Chong sudah mampu menata kehidupan barunya yang layak kembali. Musibah kehilangan istri dan anak-anak tidak membuatnya larut dalam duka dan putus asa. Apalagi umumnya banyak orang yang percaya, bahwa orang-orang yang berasal dari daratan Tiongkok tersebut merupakan komunitas yang ulet dan rajin berusaha serta punya keahlian berwiraswasta.<br />
Seorang reporter yang mengenal baik pria dari etnis Tionghoa itu menuturkan pengalaman misterinya ketika berkunjung ke rumah Boen Foet Chong yang waktu itu bermukim di sebuah desa di bilangan daerah Kabupaten Deli Serdang.</p>
<p>Siang itu aku disambut ramah oleh seorang wanita muda yang mengaku istri A Bun. Namanya Saodah, asli dari Bandung. Tidak lama kemudian muncul suaminya menuruni tangga dari lantai atas. A Bun ternyata tidak lupa padaku.<br />
“Hei, kamu Tengku&#8230;.., kok sampai nyasar kemari ?” Tanyanya bercanda sambil menggenggam erat jari jemariku pada saat bersalaman.<br />
“Sudah kenal istriku, bukan?” Tanya tuan rumah begitu kami duduk di sofa tamu. “Tidak secantik istriku yang telah meninggal, namun ia seorang perempuan yang setia.”<br />
“Yang lama setia juga, bukan?” Aku balik bertanya.</p>
<p>“Sebaiknya kita tak perlu ngomongi orang yang sudah tiada, nggak baik.”<br />
Aku terdiam. Dalam hati berkata-kata, mungkin A Bun tidak ingin mengingat-ingat masa lalunya lagi.<br />
Saodah datang sambil menghidangkan minuman dan makanan ringan di meja tamu. Kemudian bergabung ngobrol dengan kami. Aku punya kesempatan mencuri pandang ke arahnya yang mengambil tempat duduk berseberangan. Saodah berwajah ayu dan hitam manis. Kutaksir usianya belum dua puluh tahun, sementara A Bun sebagai suaminya mungkin sudah 40 tahun. Nampaknya Saodah lebih tepat dianggap anak gadisnya.<br />
“Kami menikah belum lama, sekitar 6  <span style="line-height: 1.63;">bulan yang lalu!” Kata A Bun menjelaskan tanpa ditanya.</span></p>
<p>Diantara kami nyaris tidak ada rahasia lagi, hanya A Bun belum mau cerita bagaimana awalnya ia mampu dalam relatif singkat menata kehidupannya kembali.<br />
“Tentang masalah itu, tak usahlah kau tahu, Tengku” jawabnya ketika aku bertanya. “Itu rahasia perusahaan!”<br />
“Artinya kau takut aku kelak akan menyaingimu, bukan?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>A Bun dan istrinya cuma senyum dikulum.<br />
“Oh, ya&#8230;.” ungkap A Bun kemudian. “Kau nggak buru-buru pulang ke Banda Aceh, &#8230;..?”<br />
“Ada apa rupanya?” Aku balik bertanya.<br />
“Kebetulan besok aku akan berangkat ke Penang, Malaysia untuk periksa kesehatan. Mungkin beberapa hari berada di sana. Pembantu kami permisi pulang menjenguk orang tuanya yang sakit di Perbaungan.”<br />
“Terus ?”<br />
“Aku minta tolong menemani Saodah di rumah selama aku pergi, maukan?” Sejenak aku tertegun. Lalu bertanya-tanya dalam hati, percaya sekali si A Bun ini meninggalkan istrinya berduaan di rumah mereka.</p>
<p>Seperti mampu membaca apa yang terlintas dalam benakku, A Bun spontan bicara. “Tadi telah kukatakan, bahwa Saodah tipe wanita yang setia. Dan aku yakin dia tak mau kau ajak macam-macam.”<br />
Aku senyum saja.<br />
“Lagi pula Bik Atun besok mungkin sudah kembali, bagaimana kau bersedia?” A Bun seperti setengah memaksa. Dan aku menjawabnya dengan anggukan kepala saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malam itu aku disilahkannya tidur di kamar tamu paling belakang yang dekat dengan dapur dan kamar mandi. Ruangannya rapi dan bersih berukuran 4 x 5 meter, yang dilengkapi dengan cermin toilet dan lemari pakaian antik serta kursi dan meja. Bagi ‘kuli tinta’ seperti diriku kamar itu cukup mewah dan nyaman. Suasananya membuat aku betah berada di kamar itu. Sehingga tidurku nyenyak sekali, bangun pagi kesiangan. Saodah yang menyiapkan sarapan mengatakan bahwa pagi-pagi sekali suaminya sudah berangkat ke Bandara.<br />
Malam kedua menjelang subuh, aku mendengar suara dan bunyi aneh-aneh yang datang dari arah samping kamar dimana aku tidur. Segera aku bangkit dari pembaringan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ingin memastikan apa yang kudengar barusan. Melangkah menuju jendela, dan melalui bingkainya aku mengintip keluar. Suasana di luar remang-remang, namun aku masih mampu melihat deretan batang pohon pisang yang tumbuh rimbun di halaman samping bangunan gedung setengah batu berlantai dua ini.<br />
Aku sudah akan beranjak dari jendela ketika melihat seseorang yang tengah mengendap-endap diantara deretan batang pisang dan semak-semak liar yang tumbuh dibawahnya. Dan aku sempat kaget manakala memastikan dia adalah Saodah, istri A Bun. Lalu apa kerja perempuan itu berada di sana pagi-pagi buta begini? Entah kenapa, aku sangat berminat untuk mengetahuinya. Sehingga kedua bola mataku nyaris tak berkedip ke arahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku masih menunggu dengan hati berdebar-debar ketika kulihat perempuan itu membungkukkan tubuhnya. Sepertinya dia mulai sibuk memungut sesuatu dari sela-sela daun dan batang pisang. Setelah kuperhatikan, ditangannya tergenggam lembaran-lembaran kertas.<br />
Sekilas mirip uang kertas nominal lima puluh ribu dan seratusan. Saodah terus membungkuk memungut lembaran uang kertas tersebut dari pohon pisang yang satu ke batang lainnya. Dan ditangannya sudah penuh, mungkin sudah mencapai jutaan. Kalau itu uang sungguhan, dari mana datangnya? Kenapa ada uang nyangkut di pohon pisang?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malam ketiga menginap di rumah mereka, aku penasaran. Mulai tengah malam aku bejaga-jaga ingin menyelidiki kasus yang bermuatan mistis ini seorang diri. Seharian mulutku terbungkam pada saat ingin memperoleh informasi dari Saodah.<br />
Jam dinding baru saja berbunyi 12 kali ketika seekor kelelawar meluncur terbang rendah lalu hinggap dan bertengger dengan kedua kaki diatas dan kepala serta tubuhnya dibawah pada selembar daun pisang. Melalui bingkai jendela kamar, aku melihat sepasang kuku-kuku kakinya mencengkram gulungan kertas ukuran kecil-kecil.</p>
<p>Untuk menyelidikinya, diam-diam aku menyelinap keluar melalui jendela. Begitu berada di halaman samping, kalong-kalong tersebut sudah ramai hinggap di batang pohon pisang lainnya. Mungkin telah mengetahui keberadaanku disana, mereka segera menghilang di kegelapan malam bagai ditelan kabut.<br />
Ingin memastikan apa yang ditinggalkan kalong-kalong tersebut di pohon pisang, segera kudatangi pohon yang terdekat. Tak kuragukan lagi, gulungan itu ketika kubuka merupakan uang lima puluhan dan ratusan ribu rupiah. Tanganku gemetaran, dan tidak berminat mengambilnya, karena yakin uang itu datang dari setan kalong.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, aku memastikan A Bun dan istrinya selama ini bermitra dengan setan kalong. Apakah aku akan dijadikan `tumbal’ oleh mereka?<br />
Senja itu aku sudah ingin pulang ke Banda Aceh ketika hujan turun sangat lebatnya. Hujan yang turun bersama kilat dan petir tersebut telah menghalangi niatku untuk meninggalkan rumah ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hujan semakin deras ketika aku mengambil tempat duduk di ruang tamu. Ditengah-tengah gemuruh dan deru air yang turun dari langit tersebut, sayup-sayup telingaku menangkap bunyi mencicit yang diikuti bunyi kepak sayap yang lembut dan mengalun. Aku berdiri lalu menghampiri jendela depan. Membuka dan menyingkapkan tirainya yang terbuat dari kain tebal berbunga-bunga. Kutolehkan pandanganku berkeliling dalam suasana remang-remang senja saat itu. Ternyata bunyi dan suara tadi berasal dari kawanan kalong-kalong yang banyak sekali. Meluncur terbang dan melayang-layang beriring-iringan serta menyebar tanpa arah yang jelas. Menjelang waktu Magrib, jumlahnya semakin ramai, mungkin ratusan ekor.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada waktu bersamaan wajahku mendongak ke arah ventilasi kamar di lantai dua, dan dari sana beberapa ekor kalong masuk dan keluar silih berganti. Apakah di situ sarang mereka ?<br />
Aku masih coba menebak-nebak ketika Saodah tahu-tahu sudah berada di dekatku. Malam itu dia minta ditemani tidur, karena dihantui ketakutan oleh ramainya kalong seperti ingin mengurung rumah. Kalau sekadar menemani tidur, mungkin itu biasa. Yang tidak biasa, jika pria dan wanita berbaring satu ranjang tidak melakukan persetubuhan. Aku melupakan Saodah adalah istri orang. Seperti diluar kesadaran, aku telah ‘terjebak’ dengan permainan ranjang yang cukup spesial dan mengasyikkan. Perbuatan terlaknat tersebut kami lakukan sampai tiga kali, menjelang tidur ditengah derasnya hujan diwarnai guntur dan petir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lewat tengah malam menjelang dini hari aku tersentak bangun. Sepertinya aku mendengar suara aneh-aneh lagi. Datangnya dari lantai dua.<br />
Segera kukenakan pakaian, ingin tahu apa yang terjadi di atas sana. Begitu berada di lantai dua, bulu kudukku merinding. Aura mistis datang menyergap bersamaan terpandangku lukisan kalong dalam ukuran besar di salah satu pintu kamar. Aku masih bingung ketika dari bawah celah pintu muncul sinar redup. Mirip sinar lilin yang baru dinyalakan dan bersamaan bau menyan mewarnai ruangan lantai dua tersebut.<br />
Aku masih terpana ketika dihadapanku muncul seekor kalong terbang rendah, lalu meluncur melayang-layang mengelilingi ruangan. Semakin lama kalong itu semakin besar, bersiap-siap ingin menyerangku. Serangan itu mampu kuelakkan, sehingga serangan kalong raksasa tersebut tidak menemui sasarannya. Ketika kalong itu terdorong ke depan, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan membekuk leher dan memegang erat kedua sayapnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalong yang lumayan besar tersebut kemudian menggelupur-gelupur ingin melepaskan dirinya. Aku masih berpikir bagaimana cara membunuhnya ketika warna tubuhnya yang hitam berubah menjadi kemerah-merahan. Dalam hitungan detik kemudian berubah menjadi sebongkah darah kental yang menjijikkan karena baunya sangat busuk. Gumpalan darah kental itu kucampakkan ke bawah. Di lantai, bergerak semakin membesar sambil berdenyut-denyut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku bergerak mundur beberapa langkah ke belakang merapat ke dinding pada saat darah hidup tersebut berubah menjadi sesosok manusia dalam keadaan telanjang bulat. Wajahnya sangat kukenal, meskipun wajah itu masih dinodai darah cair.<br />
“Kau ?” Tanyaku spontan.<br />
“Ya, ini aku &#8230;. A Bun&#8230;..kenapa? kaget ya?” Pria WNI keturunan Tionghoa ini menyeringai, seringai setan. Menyeramkan!<br />
“Katanya kau di Malaysia, apa sebenarnya yang telah terjadi?” Nekad aku bertanya.<br />
“Panjang ceritanya, kawan!” Kata A Bun sinis. “Sebaiknya kau tak perlu tahu!”<br />
“Tapi…….?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tak usah pakai tapi-tapi sebaiknya segera kau tinggalkan tempat ini sebelum setan yang berada dalam diriku menghabisimu&#8230;..” potongnya cepat sambil mengancam.<br />
Nyaliku ciut. Mungkin A Bun marah, mengetahui aku telah selingkuh dengan istrinya. Sehingga yang diperintahkannya barusan, segera kupatuhi. Tanpa menghiraukan hujan yang terus mengguyur dini hari itu aku langsung pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Baru beberapa hari kemudian berada di Banda Aceh, aku memperoleh kabar buruk. Warga kampung setempat beramai-ramai mendatangi rumah A Bun, karena penghuninya dicurigai berteman dengan setan kalong untuk cepat menjadi kaya. Konon rumahnya dibakar sehingga rata dengan tanah. Tidak diberitakan apakah A Bun dan istrinya turut menjadi korban amuk massa. Pihak yang berwajib sedang mengusut perbuatan main hakim sendiri itu.<br />
Hingga tulisan ini kuselesaikan, aku masih belum tahu dimana keberadaan pasangan suami istri tersebut sekarang. Namun aku yakin kalau mereka masih hidup, pasti mereka akan terus membangun rumah lagi di tempat lain dan menanam pohon pisang di pekarangannya. Sebagai syarat untuk melakukan ritual pemujaan setan kalong.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"> <em>pernah dimuat pada misteri edisi 551</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/tumbal-pesugihan-setan-kalong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesugihan Jatah Umur Eyang Durgala Pati (oleh Herry Boediyanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-jatah-umur-eyang-durgala-pati-oleh-herry-boediyanto/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-jatah-umur-eyang-durgala-pati-oleh-herry-boediyanto/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2012 23:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar setahun kebelakang sudah pernah kami tampilkan ritual pesugihan kontrak umur versi keramat Kraton Gunung Mayit  Eyang Ki Jaga Sakti yang cukup menegangkan dan mendebarkan, selain tempat ritualnya itu mengerikan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-jatah-umur-eyang-durgala-pati-oleh-herry-boediyanto/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_926" class="wp-caption alignleft" style="width: 218px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-jatah-umur-eyang-durgala-pati-oleh-herry-boediyanto/abah/" rel="attachment wp-att-926"><img class="size-medium wp-image-926" title="abah" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/11/abah-208x300.jpg" alt="" width="208" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">sesepuh abah yaya</p></div>
<p><strong></strong>Sekitar setahun kebelakang sudah pernah kami tampilkan <strong>ritual pesugihan</strong> kontrak umur versi keramat <strong>Kraton Gunung Mayit</strong>  Eyang Ki Jaga Sakti yang cukup menegangkan dan mendebarkan, selain tempat ritualnya itu mengerikan medannya pun sangat sulit untuk ditempuh harus melalui titian anak tangga yang berjumlah 360 buah dan untuk mencapai lokasi tempat keramat tersebut baiknya pelaku mesti harus memegang akar- akar pohon yang merambat kebawah dan jika terlepas ataupun terpeleset berarti nyawalah sebagai tebusannya.</p>
<p>Tak kalah menarik dengan ritual di keramat <strong>Gunung Paseban</strong>  baik dari tata cara maupun perjanjian sangatlah jauh berbeda.</p>
<p>Sebaiknya kita selaku makhluk tuhan yang paling sempurna mesti menjauhi acara- acara ritual seperti itu dianggapnya musyrik namun jika dalam keadaan yang sudah sangat terjapit biasanya manusia suka nekad tapi hendaknya mesti diperhitungkan terlebih dahulu untuk kedepannya sebab ritualnya selain di puncak bukit jauh pula dengan rumah- rumah penduduk serta melewati beberapa kilometer hutan belantara sangatlah berbahaya jika lari sudah pasti akan masuk jurang  nyawa sebagai taruhannya.<span id="more-925"></span></p>
<p>Untuk menjaga agar tidak terjadi seperti itu mesti dibarengi oleh orang yang lebih berpengalaman khususnya orang pintar agar prosesi itu cepat selesai.</p>
<p>Dari sekian banyak tempat- tempat keramat yang sering dipakai untuk mengais rezeki dengan jalur instant kebanyakan para pelaku ritual sangat menggandrungi jalur <strong>pertikahan dengan peri cantik</strong> dan <strong>jalur pesugihan jual musuh</strong>, namun mereka ini kurang memahami tentang tata cara ritual tersebut yang akhirnya banyak mendapat kegagalan</p>
<p><strong>Di Gunung Paseban</strong> yang masih sangat jarang dilakoni oleh pelaku ritual adalah ritual jatah umur dengan taruhan nyawa si pelaku itu sendiri sebagai jaminannya ada yang gagal ada pula yang sukses seperti apa tata cara ritual tersebut silahkan simak terus kisahnya dibawah ini</p>
<p>Sebelum ritual itu dilakasanakan pertama kali yang mesti ditemui adalah sang juru kunci yang menjembatani antara keinginan manusia dengan alam kasat mata lalu minta Bantu pada Salah satu Sesepuh yang benar- benar siap membantu ritual itu berlangsung hingga selesai  sebab tugas juru kunci hanya sebagai perantara saja lantas untuk ritual selanjutnya dijalani oleh si pelaku itu sendiri sementara juru kunci meninggalkan si pelaku itu sendirian berada dikeramat.</p>
<p>Untuk ritual selanjutnya barulah tugas sesepuh itu sendiri yang mendampingi si pelaku agar keberaniannya makin bertambah serta keyakinananya penuh.</p>
<p>Selain menemani pelaku, tugas sesepuh ini cukup berat jika dibanding dengan juru kunci sebab segala sesuatunya bisa di deteksi oleh sesepuh mulai pemanggilan makhluk ghaib hingga transaksi itu selesai namun itu pun dalam batas- batas jarak tertentu</p>
<p>Yang perlu diperhatikan oleh si pelaku itu sendiri jika memakai jasa sesepuh mesti diperhatikan pula kebutuhannya dengan kata lain membayar jasa atas pekerjaaannya itu selama diperlukan oleh pelaku sebab mereka pun sama perlu biaya untuk menafkahi sanak dan istrinya dirumah selama berada di keramat untuk membantu acara ritual tesebut berlangsung.</p>
<p>Ritual pesugihan Jatah Umur tidak memakan wadal orang lain melainkan dirinya sendiri yang jadi tumbal taruhannya dan ini sudah dilakukan oleh puluhan orang pelaku hasilnya ada yang sukses adapula yang mendapat kegagalan.</p>
<p>Sukses dan gagal  itu tergantung kesepakatan Eyang Durgala Pati sebagai tampuk kekuasaan Raja Dedemit dikeramat tersebut dan selalu memberi kepastian pada si pelaku itu sendiri jika sudah betul- betul nekad.</p>
<p>Seperti apa kepastian itu ….? Ya … jika perjanjian itu sudah disepakati bersama berarti tinggal menikmati hasilnya</p>
<p>Biasanya ritual dikeramat ini tidak ada godaan yang membuat takut bagi para pelaku ritual itu sendiri sebab keputusan itu baik melalui komunikasi langsung ataupun lewat suara tanpa wujud datangnya entah siang entah pula malam hari seperti yang dialami oleh para pelaku – pelaku lainya</p>
<p>Faktor kegagalan itu  adanya pada diri kita sendiri yakni tidak sanggup bernegosiasi dengan si pemberi kekayaan itu sendiri lantaran takut.</p>
<p>Eyang Durgala Pati bisa diajak kolaborasi dengan catatan  mesti ada wadalnya sebagai imbalan kekayaan tersebut. Caranya bagaimana ….? Si pelaku itu sendiri bisa mengatakan langsung padanya tentang umurnya yang dia jaminkan itu sebagai pengikutnya kelak dikemudian hari, nah disinilah kepintaran dan keberanian si pelaku itu sendiri untuk bernegosiasi jika kita merasa keberatan dengan perjanjian yang sudah diberikan oleh Eyang Durgala Pati hendaknya di utarakan langsung untuk memberikan solusinya contohnya dengan memberikan sapi, atau kambing pokoknya  hewan berkaki empat sebagai penganti si pelaku itu sendiri yang dijadikan tumbalnya sebelum nyawa si pelaku itu sendiri akan diambil oleh kerajaan ghaib Eyang Durgala Pati.</p>
<p>Ritual ditempat keramat seperti ini mesti dengan orang yang lebih tahu dan faham tentang tata caranya jangan asal-asalan contohnya seperti Abah Yaya sudah banyak membantu pasien untuk melakukan ritual di keramat.</p>
<p>Siapa sebenarnya sosok abah yaya ini, dia seorang sesepuh yang sering menemani pelaku ketika ritual itu berlangsung hingga selesai mungkin 1- 3 hari dia selalu setia menemani pasien, sesepuh ini tidak pernah meninggalkan pelaku sendirian yang jadi persoalannya adalah tempat lokasi keramat Gunung Paseban ini sangat jauh sekali dari rumah juru kunci dan berada di puncak bukit.</p>
<p>Sementara tugas juru kunci hanya mengantarkan pelaku untuk melaksanakan ritual dan setelah menitipkan pada penghuni keramat dengan melalui Ijab Qhobul  setelah selesai pasti juru kunci itu pulang, yang dikhawatirkan jika ada sesuatu yang meninpa pada pasien itu sendiri bagaimana….? Disinilah tugas abah yaya yang selalu menemani dan membantu pasien itu ngelakoni ritual berlangsung.</p>
<p>Jadi harus dijaga keselamatannya pada pasien itu sendiri makanya kami selaku penulis selalu minta jasanya sesepuh tersebut jika ada seseorang yang hendak melakukan ritual ghaib seperti ini.</p>
<p>Tugas abah yaya bukan sebagai juru kunci melainkan sebagai sesepuh yang mendampingi si pelaku juga membantu serta mendorong agar si makhluk ghaib itu cepat muncul dan sekaligus menemani si pelaku agar tidak lari, sangatlah berbahaya sekali jika tidak ditemani yang ditakutkan tak lain adalah aura mistis yang sangat kental sehingga bisa membuat si pelaku itu sendiri bisa tersedot atau tertarik ke alam ghaib.</p>
<p>Dilokasi keramat itu terdapat jurang yang sangat dalam yang ditakutkan jika si pelaku kaget atau takut terus lari dan terjerembab ke dalam jurang itu sudah pasti mati</p>
<p>Jurang yang sangat dalam itu ternyata dipakai untuk ritual pembuangan hewan yang sudah disembelih untuk ditumbalkan pada makhuk halus  penghuni keramat Gunung Paseban  lalu dibuang ke jurang tersebut.</p>
<p>Konon menurut cerita juru kunci bangkai hewan itu yang sudah dibuang esoknya suka menghilang entah siapa yang mengambilnya yang tersisa Cuma tinggal tulang belulang saja.</p>
<p>Sudah beberapa pelaku yang membuktikan ritual dikeramat ini salah satunya sebut saja namanya haryati dari kabupaten garut jawabarat, ketika berada dikeramat haryati memang sangat khusuk sekali lantaran niatnya betul- betul ingin kaya raya  hidupnya sudah sekian lama selalu menderita dengan kesusahan dan kesengsaraan yang tiada akhir makanya dia nekad berada di keramat ini</p>
<p>Semenjak ditinggal pergi oleh suaminya haryati jadi tulang punggung keluarganya untuk menafkahi kedua orang tuanya serta kakak dan adik- adiknya akhirnya dia nekad melakoni ritual pesugihan, yang penting kehidupan kedepannya tidak susah seperti sekarang ini. Dengan berbekal keberanian akhirnya haryati pun ngelakoni ritual nekad itu dengan harapan bisa sukses seperti orang lainnya</p>
<p>Dimalam pertama ritual haryati memang sudah mendengar bisikan ghaib dan sudah diperlihatkan kejadian- kejadian yang musyikil dimana ketika dirinya sedang ritual tiba- tiba suasana jadi berubah dia melihat sebuah tumpukan kardus serta beberapa guci perhiasan yang terbungkus dalam kantong plastik namun penglihatannya itu cuma sebentar saja lalu menghilang lagi</p>
<p>Esoknya haryati masih bertahan berada dikeramat hatinya merasa belum puas lantaran niatnya ingin berkomunikasi langsung dengan Eyang Ki Durgala Pati tidak terlaksana. Dihari kedua pun dia cuma melihat kejadian yang sama yakni penampakan sebuah kardus yang sudah berubah menjadi dus besar, haryati bertambah kuat keinginannya untuk bertemu dengan penguasa tempat keramat tersebut yakni Eyang Ki Durgala Pati. Hingga pagi hari pun tiba dia tidak pernah bertemu langsung dengan Makhluk Dedemit tersebut</p>
<p>Ke esokan siangnya secara tidak sengaja haryati rebahan di sebuah cungkup yang berada di sekitar tempat itu hingga dirinya tertidur pulas namun ketika dirinya terjaga tiba- tiba sekeliling cungkup itu jadi gelap gulita serta dipenuhi dengan kabut. Tiba- tiba dari sudut ruangan tampak  samar- samar bayangan hitam  namun wajahnya tidak jelas yang terlihat hanyalah janggutnya saja yang sudah memutih.</p>
<p>Bibir haryati kaku tidak bisa berkata apa- apa gugup dan takut bercampur jadi satu</p>
<p>“ Haryati…. Kardus itu bakal jadi milikmu tapi ingat umurmu cuma sebentar apa kau sanggup ….? Pinta Eyang Ki Durgala Pati .”</p>
<p>“ Sa… sa….sa.. sangup  Eyang  ….! Jawabnya singkat.”</p>
<p>“ Sekarang kau Pulang haryati, kau tunggu saja dirumah nanti pengawalku akan mengantar permintaanmu mengerti ! ucapnya dengan tegas.”</p>
<p>“ Ba…. Ba …. Ba… baik Eyang.”</p>
<p>Ternyata haryati tidak banyak bicara lantaran rasa takut dan kagetnya itu yang membuat bibirnya jadi kelu ! masih dalam keadaan kaget yang luar biasa dia menyaksikan secara perlahan kabut itu menipis lalu hilang seketika.</p>
<p>Siang itu juga haryati pulang meninggalkan tempat keramat lantaran ritualnya sudah selesai serta merasa puas atas ucapan Eyang Ki Durgala Pati.</p>
<p>Setelah sampai rumahnya,malam harinya haryati pun ritual kembali dikamar pribadinya ternyata benar ucapan Eyang Durgala Pati itu terbukti, dimana tiba- tiba di depan rumahnya muncul sebuah mobil berwarna merah penumpngnya langsung keluar dan menurunkan isi muatanya. Haryati langsung keluar dari kamarnya dia merasa kaget dan mustahil di depan rumahnya tiba- tiba mendengar suara deru mobil lantaran untuk melaju ke pondoknya sangat tidak mungkin sekali sebab tidak ada jalan masuk !.</p>
<p>Begitu pintu dibuka tamu tak diundang itu langsung menyerahkan sebuah dus berukuran besar katanya kalau kiriman itu adalah titipan dari Eyang  Prabu Ki durgala Pati dia pun merasa kaget sebab dus besar itu pernah dia lihat ketika berada dikeramat.</p>
<p>Wajah si pengantar kiriman itu semuanya agak aneh tubuhnya dipenuhi dengan bulu tak pikir panjang dia pun langsung menerima kiriman tersebut lalu dipindahkan ke kamar pribadinya, anehnya tak seorangpun keluarganya yang tahu atas kedatangan makhluk ghaib tersebut mungkin karena pengaruh ilmu sirep yang akibatnya semua penghuni rumah haryati pada tertidur pulas, ritual itu pun dilanjutkan kembali.</p>
<p>Hari menjelang pagi sekitar pukul 02.00 tiba- tiba Eyang durgala Pati Muncul dihadapannya seraya berkata <strong>“ silahkan kau pakai kiriman dari Eyang haryati ….” </strong></p>
<p>Hanya itu saja yang di ucakannya sebab makhluk ghaib tersebut segera menghilang dari penglihatanya</p>
<p>Dengan penuh rasa berdebar tiba- tiba kardus itu dibuka, disamping ujungnya saja lalu dilipat lagi, apa yang dilihatnya …? Ternyata benar gepokan uang yang banyak sekali hatinya berbunga- bunga setelah mendapat uang hasil ritual di keramat Gunung Paseban itu. Siang itu uang kirimannya diambil  satu gepok lalu  dipergunakan untuk keperluan rumah tangganya sisanya dipakai untuk membayar utang –piutangnya lantaran selama ini haryati hidup menumpang pada kedua orang tuanya, niatnya sih baik ingin membahagiakan sanak keluarganya.</p>
<p>Sepulang dari belanja tiba-tiba kepalanya pusing, langsung meminum obat sambil bersandar dikursi tak terasa dia pun tertidur mungkin karena kecapean setelah belanja hampir seharian dikota.</p>
<p>Haryati tergaja setelah satu jam lamanya beristirahat dikursi seraya langsung pergi kebelakang maksudnya hendak cuci muka namun tiba- tiba dia terjatuh di wc.</p>
<p>Sudah beberapa hari dia terbaring lemas di rumah sakit sebelum menginjak satu bulan lamanya akhirnya haryati pun meninggal dunia.</p>
<p>Dari pihak rumah sakit pun mengatakan kalau haryati terlalu kecapean tidak ada penyebab lain yang ia derita penyakit selama ini</p>
<p>Yang jadi pertanyaan bagaimana sisa uang yang masih tersisa cukup banyak itu setelah pemiliknya mati apakah masih ada atau ditarik kembali oleh  Raja Dedemit Ki Durgala Pati ? lantaran perjanjian sudah disepakati kalau uang itu milik haryati jadi tidak mungkin uang akan raib begitu saja. Yang jelas uang milik haryati di pergunakan oleh sanak saudaranya dan itu terlihat dari seluruh keluarganya yang hidup dalam kemewahan</p>
<p>Jadi dalam kisah nyata ini menjelaskan bahwa haryati berani ngelakoni ritual seperti itu lantaran sangat terhimpitnya ekonomi. Setelah dia sukses  ternyata uang kirimanya itu dipergunakan oleh sanak familinya sendiri sementara dia sendiri mati lantaran perjajian.</p>
<p>Dari kejadian tersebut diatas itu akibat kelalaian haryati sendiri ketika berhadapan langsung  dengan Eyang Durgala Pati sewaktu ngelakoni ritual dikeramat Gunung Paseban dimana dirinya tidak sanggup berkata- kata lantaran saking takut dan kaget yang secara tiba- tiba saja antara sadar dan tidak muncul penampakan Eyang Ki Durgala Pati lantaran dirinya memaksa ingin bertemu langsung dengannya pada siang hari di dalam cungkup, jika haryati tidak gugup dan berani mengatakan keberatannya pada Eyang Durgala Pati agar tumbal nyawa dirinya itu bisa diganti dengan hewan berkaki empat mungkin sampai sekarang dia masih hidup.</p>
<p>Jika pelaku hendak ngelakoni ritual seperti ini hendaknya segala sesuatu mesti di fikirkan terlebih dahulu, siapkan mentalnya dan jika sudah mantab baru bisa dilaksanakan ritualnya mesti yakin atas lelakunya sendiri.</p>
<p>Itulah sekelumit kisah nyata tentang ritual Jatah Umur versi  Eyang Durgala Pati Gunung Paseban seluruh nama yang tercantum pada kisah ini sudah kami samarkan sekian dan terima kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-jatah-umur-eyang-durgala-pati-oleh-herry-boediyanto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesugihan Batu Peot (oleh : U. Supratman)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-batu-peot/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-batu-peot/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2012 10:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=844</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Yohana, warga keturunan Tionghoa. Ia adalah teman sekelasku waktu duduk di bangku SMP dulu. Orangnya ramah dan banyak disukai teman-teman yang lain. Pergaulannya tidak membeda-bedakan sesama, walaupun dia warga... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-batu-peot/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><em></em><a href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-batu-peot/pesugihan-batu-peot-2/" rel="attachment wp-att-845"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-845" title="pesugihan batu peot" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/08/pesugihan-batu-peot-150x150.jpg" alt="ilustrasi pesugihan batu peot" width="150" height="150" /></a><span id="more-844"></span></p>
<p>Namanya Yohana, warga keturunan Tionghoa. Ia adalah teman sekelasku waktu duduk di bangku SMP dulu. Orangnya ramah dan banyak disukai teman-teman yang lain. Pergaulannya tidak membeda-bedakan sesama, walaupun dia warga keturunan yang katanya eksklusif. Tidak seperti kebanyakan warga keturunan yang hidupnya mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. Tidak mau bercampur dengan warga pribumi yang hidup di sekitarnya.<!--more--></p>
<p>Seolah-oleh Yohana memberi contoh kepada warga keturunan yang lain, bahwa tak ada perbedaan yang harus dipertahankan selama pergaulan itu saling menguntungkan kedua belah pihak. Kendati dia berbeda keyakinan dengan warga lainnya, namun dia rutin tiap Idul Fitri berkeliling besilaturahmi dengan warga Muslim yang dia kenal. Banyak masyarakat memuji pergaulannya dengan sesama manusia. Dan terbukti ketika terjadi tragedi Mei 98, seluruh keluarganya selamat, bahkan dilindungi dari tindak kekerasan.</p>
<p>Pertemuan dengan teman sekelasku itu memang tidak sengaja aku lakukan. Ketika itu, selepas maghrib aku berniat melaminating dan memfoto copy dokumen pembelian tanah dan rumah agar tidak cepat rusak dimakan rayap. Kupacu sepeda motorku di sepanjang jalan H. Kertadibrata yang ramai oleh becak dan motor lain yang hilir mudik.</p>
<p>Tepat di bawah Flay Over aku berpapasan dengan sedan mewah berwarna merah yang datang dari arah Barat, dari Jakarta. Lalu sedan tesebut berbelok ke kanan, searah dengan laju motorku. Kubiarkan sedan mewah itu melaju di depanku, kemudian belok kanan ke jalan Veteran. Aku pun belok kanan, karena toko yang dituju berada di jalan tersebut. Lalu beberapa puluh meter kemudian sedan merah itu berhenti, persis di depan toko yang aku tuju. Kupikir motorku di samping sedan merah itu saja, lalu dari sedan merah itu keluar dua orang laki-laki dan perempuan setengah baya, seumur denganku.</p>
<p>Rasanya aku mengenali perempuan itu. “Bukankah itu Yohana…? Pikirku. Kemudian aku menghampirinya, dan menyapanya sekedar untuk memastikan.</p>
<p>“Ini Yohana…?” Tanyaku.</p>
<p>Sejenak ia menatap wajaku, menerka-nerka.</p>
<p>“Siapa ya…?” Tanyanya balik bertanya.</p>
<p>“Temanmu waktu SMP dulu…” sahutku.</p>
<p>“Ohh… Ujang ya…?” Ujarnya.</p>
<p>Itulah pertemuan yang tidak sengaja dengan teman sekolahku. Ternyata toko yang dijadikan langganan photo copy olehku itu adalah salah satu miliknya. Malam itu dengan ditemani suaminya kami meluangkan waktu berbincang-bincang panjang lebar di ruang belakang tokonya.</p>
<p>Yohana sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Tokonya bertebaran se Jawa Barat dan Jakarta. Menyediakan alat-alat perkantoran selain photo copy. Sifatnya yang ramah sejak masa sekolah tidak berubah hingga sekarang. Begitu pun kepada karyawan-karyawati sikap mentang-mentang orang kaya ia buang jauh-jauh. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah sifat itu yang diterapkan sehari-hari. Begitu pula suaminya, namanya Gunawan orang Singkawang ramahnya tidak kepalang tanggung menyambutku pada malam itu.</p>
<p>Aku tahu kehidupan Yohana sebelum sukses seperti ini. Orang tuanya hanyalah pedagang telor asin buatan sendiri yang dijajakan keliling kampung oleh ibunya. Rumahnya pun berdiri di pinggiran kampung Pacinan, tepatnya di pinggiran kali. Aku tahu keadaan keluarganya, karena hampir tiap hari berangkat dan pulang sekolah aku lewat di samping rumahnya.</p>
<p>Waktu ia menikah dengan Gunawan, aku memenuhi undangannya menghadiri. Selain dirayakan sangat sederhana juga sangat memprihatinkan. Ya, ketika itu musim hujan, sungai meluap merendam rumahnya setinggi lutut. Lalu terpaksa resepsinya dipindahkan ke rumah tetangganya, yang tidak kebanjiran. Dan setelah pernikahan tersebut aku lama sekali tidak melihat dia, mungkin dua puluh tahun lebih. Dan baru sekarang bertemu lagi sudah sama-sama tuanya.</p>
<p>Permulaannya aku hanya sekedar bertanya kiat manajemen kesuksesan usahanya itu, akan tetapi Yohana membeberkan sangat jauh mengungkap rahasia kesuksesannya itu.</p>
<p>“Selain harus tahu peluang, sabar dan transparan harus didukung pula oleh hal-hal yang tidak kamu dapatkan di bangku sekolah, yaitu gaib,” ujar Yohana.</p>
<p>“Maksudmu Ana…?” Tanyaku tidak paham apa yang terakhir diucapkannya.</p>
<p>“Ya… ditunjang oleh sesuatu yang tak kasat mata, kami berdua menyadari sebesar apapun saham kita tanamkan akan habis yang tinggal hanyalah utang-utang tanpa dilindungi oleh hal-hal gaib,” ujar Yohana.</p>
<p>“Maksudmu pesugihan?” Sahutku.</p>
<p>“Ya semacam itulah…. Kamu ingat tidak berapa tahun yang lalu mamahku punya langganan air didorong namanya mang Kosim, yang kaki sebelah kirinya bengkok..?” Tanya Yohana.</p>
<p>Aku merenung mengingat-ingat masa lalu waktu sama-sama duduk di bangku SMP.</p>
<p>“Ingat.. ingat, yang tidurnya di belakang sekolah,” sahutku.</p>
<p>“Betul… Beliau merupakan sosok pahlawan bagi keluarga besar kami, dia mengembara hampir seputar Indonesia dan akhirnya menetap sampai di sini. Beliau dari Jawa TImur asalnya,” papar Yohana.</p>
<p>Selanjutnya Yohana menerangkan, bahwa antara dirinya dengan Mang Kosim mengadakan perjanjian tak tertulis tidak ada saksi, hanya mereka yang tahu. Isi perjanjian itu adalah. “Seluruh kebutuhan hari tua Mang Kosim akan dipenuhi oleh keluarga Yohana termasuk tempat tinggal, bila benda berupa batu hitam sebesar kepalan tangan mirip buah jeruk mengkerut itu memang ada khasiatnya untuk mendongkrak bisnis Yohana ketika itu.”</p>
<p>Dan untuk membuktikan bahwa batu itu bukan batu sembarangan, beliau mengadakan ritual dengan disaksikan Yohana dengan suaminya.</p>
<p>Tidak memerlukan persyaratan yang rumit, ya hanya sebatang hio yang dibakar prosesi ritualpun dilakukan. Awalnya Yohana tidak percaya bahwa hanya sebuah benda dihuni hal-hal yang mustahil ada, seperti makhluk-makhluk yang tak kasat mata bisa masuk ke dalam benda padat. Kedua suami istri dalam diliputi ketegangan saat Mang Kosim merapalkan mantra-mantra dalam bahasa Jawa yang tidak mereka pahami apa artinya. Selang beberapa menit kemudian dari batu mengkerut yang diletakkan di atas mangkok itu keluar asap putih membumbung setinggi dua meter. Lalu perlahan namun pasti membentuk siluet postur tubuh manusia, dan akhirnya tampak sosok perempuan cantik berambut panjang telah berdiri di hadapan mereka.</p>
<p>“Ada apa kisanak tiba-tiba memanggil aku?” Tanya wanita itu dengan suara yang lembut.</p>
<p>“Maaf sebelumnya Nyai, hamba telah lancang memanggil Nyai, maksudnya tiada ingin mengenalkan majikan hamba dan sekaligus pengurus Nyai dengan imbalan kemakmuran hidup dan usahanya,” papar mang Kosim sambil menunjuk dengan ibu jari ke arah Yohana dan suaminya. Yohana tertunduk dengan jantung yang tak beraturan detaknya, begitu pula suaminya.</p>
<p>“Aku tidak keberatan asal sanggup memenuhi kebutuhanku setiap tahunnya,” ujar sosok wanita jelmaan dari batu mengkerut itu dan selanjutnya Yohana lebih banyak menyebutnya ‘Batu peot’.</p>
<p>“Kebutuhan apa yang Nyai minta, bukankah Nyai tidak meminta apapun kepadaku?” Tanya Mang Kosim heran.</p>
<p>“Itu karena kamu pun tidak meminta apapun kepadaku,” sahutnya.</p>
<p>Memang selama batu peot itu berada di tangannya, Mang Kosim tidak minta harta duniawi atau yang berhubungan dengan kemakmuran dunia. Dia tulus memelihara dan memulasara keberadaan batu peot itu semenjak mang Kosim dapatkan hasil bertapa di kaki gunung Karang beberapa tahun yang silam.</p>
<p>“Sekarang katakan apa yang Nyai minta sebagai syaratnya?” Tanya Mang Kosim penasaran.</p>
<p>“Aku minta tiap tahunnya dua kodi kain batik, lalu bagikan kepada yang berhak, fakir miskin,” pinta makhluk gaib penghuni batu peot itu.</p>
<p>Semenjak malam itulah batu peot berpindah tangan ke tangan keluarga Yohana. Dan hidup Mang Kosim dijamin oleh Yohana, lalu dibelikan sebuah rumah yang tidak jauh dengan rumah kedua orang tuanya di kampung Pacinan.</p>
<p>Memang sangat terasa khasiat dari batu peot itu, bisa mendongkrak pesat bisnisnya yang sedang dilakukan bersama suaminya. Semula hanya satu toko di jalan Veteran itu yang ia miliki, lalu seiring waktu berjalan melakukan ekspansi ke luar kota. Dan menurut pengakuannya sekarang sudah seratus lebih toko alat-alat kantor dan photo copy menyebar di Jawa Barat dan Jakarta. Ia berencana tahun ini akan membuka lagi beberapa tokonya di Jawa Tengah dan TImur.</p>
<p>Dan yang membuat aku terperangah dengan kebaikannya itu, yakni sekarang sudah ratusan kodi kain batik tiap tahunnya yang Yohana bagi-bagikan kepada fakir miskin. Dan tidak melupakan mendiang Mang Kosim yang sudah membuka jalan kemakmuran hidup keluarganya. Tiap tahun ia ziarah ke makamnya dengan didampingi seorang ustadz untuk berdoa secara Islam.</p>
<p>Sekembalinya ke rumah aku merenungkan dan mendoakan temanku itu agar jangan sampai keluar dari jalur agama yang dianutnya. Menyembah benda yang dijadikan pegangan jalan hidupnya, semoga…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 534</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-batu-peot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Pesugihan Buaya Muara Cipunagara Oleh : (oleh: U. Supratman)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-buaya-muara-cipunagara/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-buaya-muara-cipunagara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 06:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Apabila kamu ingin kaya harta, maka kawinlah dengan anakku, nawang Sari, kamu pasti kaya raya, keluargamu terjamin. tapi pada suatu saat kamu harus ikut kami menghuni alam gaib Muara Cipunagara&#8230;..... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-buaya-muara-cipunagara/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_632" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-632" href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-buaya-muara-cipunagara/buaya-2/"><img class="size-medium wp-image-632" title="buaya" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/02/buaya-300x135.png" alt="buaya" width="300" height="135" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Apabila kamu ingin kaya harta, maka kawinlah dengan anakku, nawang Sari, kamu pasti kaya raya, keluargamu terjamin. tapi pada suatu saat kamu harus ikut kami menghuni alam gaib Muara Cipunagara&#8230;..<br />
perlahan-lahan.<br />
“Sudah, istirahat saja dulu. Hidupmu tak akan kaya jika terus seperti ini!” Serunya kepada Sumantri.<span id="more-631"></span><br />
Sesaat setelah menarik jalanya yang ternyata kosong lagi, Sumantri menghempaskan jala itu lalu duduk di samping lelaki kurus yang misterius itu. Tak ada rasa curiga sedikit pun dalam hati Sumantri. Mestinya ia berpikir bagaimana lelaki tua itu bisa datang ke delta tanpa diketahuinya.<br />
“Maaf bila kedatangan kakek membuat kamu kaget, kisanak,” ujarnya.<br />
“Di mana rumah kakek?” Tanya Sumantri. “Jauh tak jauh, dekat pun tidak dekat, hanya dibatasi keyakinanmu kisanak,” jawabnya membingungkan.<br />
“Apa maksudnya saya tidak paham apa yang kakek katakan?” Tanya Sumantri lagi.<br />
Lalu lelaki tua itu berdiri, ia menarik tangan Sumantri supaya ikut berdiri di sampingnya.<br />
“Apa yang kamu lihat kisanak di sana!” Ujar kakek itu sambil menunjuk gundukan tanah setinggi tiga meter yang berjarak dua puluh meter di hadapannya.<br />
“Gundukan tanah Aki,” jawabnya sesuai penglihatannya sejak dari dahulu. Si kakek terkekeh lalu berkata lagi.<br />
“Pejamkan matamu, dan buka lagi setelah kusuruh.”<br />
Dengan detak jantung yang kencang, Sumantri mengikuti anjurannya. Kedua matanya dipejamkan beberapa detik, kemudian lelaki tua itu menyuruhnya membuka kembali. Saking kelewat kaget, tubuh Sumantri hampir terjerembab ke belakang. Ya, menurut penglihatannya gundukan tanah itu sudah berubah menjadi sebuah istana nan megah.<br />
“Sekarang apa yang kamu lihat kisanak?”<br />
36<br />
| MISTERI | Edisi 529 2012<br />
Oleh : U. Supratman<br />
NAMANYA SUMANTri, orang-orang Cipunagara<br />
terutama kekosongan imannya. tahu lelaki ini berprofesi sebagai pejala ikan<br />
Ketika terbangun, Sumantri menyadari professional di pesisir pantai Utara Jawa.<br />
ternyata matahari sudah tergelincir ke Sumantri kadang mendapatkan ikan, kepiting<br />
Ufuk Barat. Dalam hati ia mengeluh karena dan udang. Kebanyakan Sumantri menebar<br />
tangkapan ikannya hari itu sangat sedikit. jalanya di muara sungai Cipunagara. Memang<br />
Biasanya saat adzan Ashar ia sudah berada tidak banyak resiko melakukan di muara, tidak<br />
di tempat penjualan ikan, lalu uangnya ia seperti di pesisir laut yang harus berbasah-<br />
belikan kebutuhan sehari-hari. Tapi hari itu basah kena deburan ombak dan hembusan<br />
dengan terpaksa Sumantri terus menebarkan angin laut.<br />
jalanya meski hari sudah mulai gelap. Sumantri Dengan menumpang di atas jukung (perahu<br />
semakin panik manakala ia mendengar suara kecil yang didayung) Sumantri menebarkan<br />
adzan maghrib yang samar-samar di telinganya. jalanya. Tak ada rasa jenuh, karena kejenuhan<br />
Namun tetap saja setiap ia menarik jala itu tertutup oleh resiko hidup yang menghimpit<br />
hasilnya nihil. keluarganya. Jika tidak mendapat ikan, berarti<br />
Sumantri memutuskan tidak akan pulang ia sekeluarga harus menerima resiko kelaparan,<br />
sebelum tangkapannya mencukupi kebutuhan tidak bisa membeli beras. itulah sebabnya<br />
keluarganya. Selepas Maghrib ia memulai lagi setiap hari ia menjerit dalam hati, meminta<br />
menebarkan jalanya, tetapi hanya di pinggiran agar dapat ikan yang banyak. Tapi celakanya<br />
delta. Biasanya pada saat-saat seperti itu Sumantri mengenal Tuhan hanya sebatas mulut<br />
ikan bandeng akan naik ke permukaan untuk saja. ia hanya bisa meminta dan memohon,<br />
memangsa hewan terbang seperti nyamuk sedangkan segala perintah-Nya tidak pernah<br />
yang hinggap di atas permukaan air. satu pun yang ia jalankan.<br />
Sedang berjibaku dengan jalanya, Sumantri Suatu hari, Sumantri menjala ikan di<br />
tak menyadari bahwa lima puluh meter sebelah sungai Cipunagara tak jauh dari sebuah delta<br />
kirinya ada sesuatu yang merayap keluar dari yang luasnya sekitar satu hektar. Delta itu<br />
air. Wujudnya sama besar dan panjang dengan terbentuk akibat endapan tanah yang terus<br />
jukung yang ia gunakan untuk sarana menjala menerus terbawa arus sungai Cipunagara<br />
ikan. Wujud makhluk hitam legam itu terus hingga membentuk sebuah daratan.<br />
merayap ke darat mendekati Sumantri. Tapi Masyarakat setempat menyebut delta itu<br />
Sumantri tak menyadari dan terus menebarkan dengan nama Tanah Timbul. Di delta itulah<br />
jalanya di pinggir delta itu. Sumantri beristirahat untuk melepas lelah.<br />
Tiba-tiba pundak Sumantri ada yang Sumantri menambatkan jukungnya, lalu tidur<br />
menepuk. Tentu saja lelaki kekar itu kaget di bawah rindangnya pohon mangrove untuk<br />
bukan kepalang. Mendadak lututnya lemas menghindari sengatan matahari. ia tidak<br />
seperti tak sanggup menopang berat badannya. menyadari kalau tingkah lakunya itu ada yang<br />
“Kenapa belum pulang kisanak?” Tanya memperhatikan. Ya sesosok makhluk dari alam<br />
orang yang menepuk punggung Sumantri itu. gaib yang tak kasat mata. Makhluk itu tahu<br />
“Belum, belum dapat ikan,” jawab Sumantri kekosongan dan kerapuhan jiwa Sumantri,<br />
sambil tetap menarik tali di ujung jaring<br />
36<br />
| MISTERI | Edisi 529 2012<br />
________________<br />
________________</p>
<p>UAYA<br />
Ujar lelaki tua itu.<br />
“is&#8230;. istana aki!” Jawab Sumantri terperangah.<br />
“Mari masuk nak. ini rumah aki,” ajak sang kakek jejadian kepada Sumantri.<br />
Sukar dilukiskan dengan kata-kata gejolak hati Sumantri, melihat kenyataan di hadapannya. Ternyata dirinya tidak sedang bermimpi. Sayang sekali otaknya sudah diliputi pengaruh dedemit muara sungai Cipunagara. Seharusnya kalau dia waras menggunakan logikanya, tidak mungkin ada istana semegah itu berdiri di tengah-tengah muara yang dikelilingi air sungai dan air laut.<br />
Sambil memasuki ruangan demi ruangan Sumantri tak henti-hentinya berdecak kagum melihat dekorasi yang terpajang. Setelah menyusuri lorong demi lorong dan ruangan demi ruangan, lelaki tua itu mengajak duduk di atas tikar daun pandan di ruangan yang cukup luas.<br />
Makanan dan minuman sudah tersaji di atas tikar sebelum Sumantri duduk. rupanya undangan terhadap Sumantri sudah direncanakan sebelumnya, makanya segala sesuatunya sudah tersaji.<br />
“Silahkan dicicipi makanannya kisanak, abah tahu kamu dari pagi belum makan,” titahnya.<br />
Lalu tanpa malu-malu Sumantri melahap hampir semua hidangan yang disajikan di hadapannya. Kakek tua itu hanya tersenyum menyaksikannya. Selesai makan, kakek tua itu memanggil tiga nama. Kedengaran Sumantri, nama-nama tersebut nama-nama perempuan. Lalu dengan hanya hitungan detik, keluar dari sebuah kamar tiga orang wanita. Parasnya nan elok, kulit nan langsat dan badan yang aduhai. Sejenak Sumantri terpana, dengan mulut menganga menyaksikan kesempurnaan di hadapannya. Gelagat Sumantri seperti itu sudah diketahui oleh lelaki tua itu.<br />
“Perkenalkan ini anakku yang paling besar namanya Sulastri, tempat kedudukannya di muara kali Ciasem. Yang kedua namanya Sri rahayu tinggalnya di muara kali Cimanuk dan yang bungsu masih tinggal bersama aki di sini di muara kali Cipunagara. Namanya Nawang Sari. Kedua kakaknya sudah menikah, tinggal yang bungu ini belum,” ujar lelaki tua itu memperkenalkan ketiga anaknya kepada Sumantri.<br />
Sumantri hanya manggut-manggut tak tahu apa yang harus dikatakan. Kedua matanya melotot menatap tajam ke arah Nawang Sari. Terpesona atau memang jiwanya sudah terpengaruh ilmu pelet yang disebarkan para dedemit muara Cipunagara? Entahlah. Sejatinya kekuatan yang tak kasat mata itu sudah mulai bersarang di dalam hati Sumantri.<br />
“Apa yang kamu harapkan soal kekayaan duniawi pasti terpenuhi, apabila kamu mau bersekutu dengan bangsa kami, kisanak,” ujar si kakek kemudian.<br />
“Aku tidak mengerti maksud yang aki<br />
katakan?” Sahut Sumantri polos.<br />
“Ha..ha..ha apabila kamu ingin kaya harta, maka kawinlah dengan anak bungsu aki Nawang Sari, kamu pasti kaya raya, keluargamu terjamin hidupnya!” Papar lelaki tua itu.<br />
“Tapi saya sudah punya istri, aki,” jawabnya terus terang.<br />
“Tidak apa-apa, anakku bangsa lelembut kapanpun atau di manapun kamu ingin menggaulinya pasti datang untuk melayanimu, kisanak,” papar kakek siluman menjelaskan. Singkatnya, malam itu juga Sumantri dinikahkan dengan putri bungsu penguasa muara Cipunagara di alam lelembut. Dan malam pertamapun dilakukan pada malam itu juga di sebuah kamar yang serba mewah, dengan wewangian ruangan tujuh rupa di satukan harumnya. Sejenak Sumantri lupa pada anak istrinya yang ditinggalkan di rumah yang sedang menahan lapar. ingatan Sumantri terfokus pada kecantikan dan kemolekan tubuh Nawang Sari yang berdiri di hadapannya.<br />
Lalu dengan jari-jemari nan lemah gemulai, wanita jejadian itu membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Sumantri. Dengan lutut gemetar, mata melotot Sumantri menanti dengan tidak sabar. Namun tiba-tiba Sumantri sedikit terperangah ketika tatapan matanya tertuju ke arah kedua telapak kaki Nawang Sari. Ya, kedua kaki Nawang Sari tidak memiliki jari jemari alias buntung semua kiri dan kanannya. rupanya perubahan mimik Sumantri diketahui Nawang Sari. Lalu dengan lemah lembut dia menerangkan asal muasalnya.<br />
“Kejadiannya sudah lama sekali, ketika aku dengan kedua kakak berenang, tiba-tiba entah dari mana asalnya seekor ikan besar mengejar kami bertiga. Berhubung aku yang paling kecil, kecepatan berenangnya tertinggal di belakang. Dan ikan besar dari laut itu berusaha memangsaku. Untung disaat kritis itu datang bapak yang berusaha menolongku, dengan menyerang ikan itu. Setelah ikan itu kembali ke laut, kedua kaki berlumuran darah, dan setelah diperiksa ternyata jari jemari kedua kakiku hilang dimakan ikan itu.” Nawang Sari mengakhiri kisahnya.<br />
Setelah selesai menjalankan kewajiban sebagai suami istri, Sumantri berpamitan pulang. Tetapi sebelumnya ia dipanggil oleh lelaki tua itu dan duduk di tikar daun pandan itu lagi.<br />
“Coba katakan sekali lagi, apa yang kamu inginkan selama kamu hidup di alam dunia, kisanak?” Tanyanya memohon kepastian jawaban Sumantri.<br />
“Saya ingin menjadi orang kaya, supaya dihargai orang-orang di sekeliling saya, aki,” jawab Sumantri tegas.<br />
“Baiklah kalau begitu, tapi ingat setiap malam Jumat tengoklah di bawah tempat tidur, karena kelanggengan persekutuan kita tergantung penyambutanmu tiap malam Jumat<br />
nanti. Dan harus kau camkan bahwa yang menghabiskan hartamu nantinya itu anakmu sendiri, paham kisanak?” Ujarnya.<br />
“Paham aki,” jawab Sumantri. Lalu lelaki tua jejadian itu memberikan sesuatu kepada Sumantri, yang dibungkus kain berwarna hitam dan berkata seraya tersenyum.<br />
“inilah tanda persekutuan kita kisanak!” Ujarnya.<br />
Sumantri berpamitan sambil memasukan pemberian kakek jejadian ke dalam saku celananya yang sudah kumal. Nawang Sari yang sudah menjadi istri di alam gaib, mengantarkan sampai ke pintu gerbang. Setelah beberapa langkah keluar dari gerbang, cakrawala kembali gelap. Lalu dia menengok ke belakang, alangkah kagetnya ada seekor buaya yang sedang memandangnya.<br />
“Jangan takut, aku istrimu,” serunya. Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Sumantri mengingat-ingat kembali apa yang telah dilakukannya di atas Tanah Timbul itu. Bukan penyesalan yang ada di dalam dirinya, tetapi justru keyakinan akan menjadi orang kaya raya karena bersekutu dengan penghuni gaib muara Cipunagara.<br />
Sesampainya di rumah gubuknya keanehan pun terjadi, istrinya yang biasa cerewet menanyakan kenapa tidak pulang sore, yang biasanya dia lakukan sambil marah-marah. Pada pagi itu diam seribu bahasa, malahan penyambutan pun baik dan ramah. Melihat istrinya seperti itu justru bakal memudahkan Sumantri mengadukan kejadian semalam, cuma proses pernikahan dia rahasiakan untuk sementara waktu.<br />
Dengan didampingi istrinya, Sumantri membuka bungkusan kain hitam pemberian sang kakek. Mata suami istri itu terbelalak setelah tahu apa isi dari bungkusan itu. Ternyata isinya bongkahan emas murni sebesar kunyit sebanyak lima buah. Awalnya mereka tidak percaya bahwa itu adalah emas murni, tetapi setelah istrinya menjualnya ke toko emas, dan membawa uang yang cukup banyak dari hasil penjualan emas itu. Sumantri sadar dan yakin akan menjadi orang kaya di kampungnya.<br />
Waktu terus berjalan, bagaikan roda terus berputar. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan dan tahun pun berganti. Sepuluh tahun berlalu dikehidupan keluarga Sumantri banyak perubahan. Anaknya bertambah jadi tiga orang, semuanya laki-laki. Selain anaknya bertambah hartanya juga berilipat-lipat bertambah tiap tahunnya. Bahkan Sumantri dijuluki rajanya empang di pesisir Utara. Hampir lima puluh hektar di tiga desa yang dia miliki. Desa Pangarengan 15 hektar, Legon Kulon 17 hektar dan Tegalurung 18 hektar.<br />
ritual tiap malam Jumat dia lakukan dan usai itu hartanya semakin bertambah saja. Karena setelah selesai melakukan kewajiban suami istri, Nawang Sari mempersembahkan<br />
MISTERI | Edisi 529 2012 |<br />
37<br />
________________<br />
________________</p>
<p>38<br />
| MISTERI | Edisi 529 2012<br />
ritUalpeSUgihan<br />
sesuatu yang berharga, emas murni berserakan di bawah ranjang khusus ritualnya.<br />
Makhluk itu berdiri mengangkang, kakinya tidak menyentuh bumi tapi melayang di atas permukaan Seiring dengan waktu, Kokom sebagai<br />
tanah. Barisan giginya yang besar nampak istrinya mengetahui juga bahwa harta yang didapat selama ini oleh suaminya merupakan hasil dari persekutuan suaminya dengan siluman muara Cipunagara. Toh itu tidak mengganggu keutuhan rumah tangganya,<br />
menyeramkan dengan lidah merahnya yang menjulur panjang. tangan dan kukunya yang panjang nampak makin seram karena kerap kali dihadapkan ke muka Dayat. karena perkawinan suaminya dengan Nawang Sari hanya terjadi di alam lelembut. Bukankah<br />
Oleh : eka Supriatna<br />
masyarakat luas tidak akan mengetahui apa yang dilakukan Sumantri? Demikian pikir<br />
SEBUT SAJA namanya Dayat. Lelaki paruh Kokom.<br />
baya yang memiliki empat orang anak ini Pada suatu malam Jumat, selesai Sumantri<br />
ditemukan tewas di kamar kosong rumahnya menggauli Nawang Sari, wanita siluman buaya<br />
dengan mata melotot dan lidah terjulur. Di itu berkata dengan lemah lembut.<br />
lehernya ada bekas luka lebam yang tidak “Kakang, sekarang kang Mantri sudah<br />
jelas apakah bekas cekikan ataukah tali. kaya raya sudah tiba saatnya nyai pamitan<br />
Di kamar itu sama sekali tidak ditemukan tidak akan menemui kakang lagi. Sudah<br />
benda-benda mencurigakan seperti tali cukup lama nyai mengabdi kepada Kakang,<br />
pengikat atau apapun yang mengindikasikan lima belas tahun bukan waktu yang sebentar.<br />
pembunuhan. Di kamar kosong itu juga Tetapi persekutuan kita terjalin lagi nanti<br />
tidak ada ranjang atau benda-benda yang apabila kakang sudah meninggalkan alam<br />
umumnya ada di sebuah kamar. Kamar itu kasar. Berkumpul lagi dengan anak-anak kita<br />
memang sudah kosong sejak anak sulung di alamku kelak. ingat nyai selalu menanti&#8230;.”<br />
Dayat pindah mengontrak. Tutur Nawang Sari.<br />
Kamar tempat Dayat tewas itu Sepeninggal wanita siluman tadi, memang<br />
bersebelahan dengan kamar tidur istri dan hari demi hari sangat terasa akibatnya<br />
anak-anaknya. Malam itu Dayat memang oleh Sumantri. Tak ada kekuatan gaib yang<br />
meminta istri dan anak-anaknya untuk tidak membentengi kehidupannya, begitu keropos<br />
mengganggu kegiatannya di kamar kosong membebani. Masalah demi masalah datang<br />
itu, apapun yang terjadi. Kepada istrinya silih berganti. Mulai dari tabrakan mobil<br />
Dayat mengaku hendak meditasi untuk truknya ketika mengangkut ikan bandeng<br />
menenangkan diri sambil mencari ilham. menuju Semarang. Anaknya yang jadi sopirnya<br />
Kegiatan ini bukan kali pertama dilakukan meninggal di tempat kejadian. Selama lima<br />
Dayat. Malam-malam sebelumnya ia pun tahun harta satu-satunya jatuh ke tangan<br />
pernah melakukan hal yang sama. Maka orang lain. Empang di Tegalurung disita Bank,<br />
istri dan anak-anaknya pun pasrah saja karena diagunkan. Sedangkan empang di<br />
ketika Dayat malam itu meminta untuk tidak Legonkulon dan di Pangarengan dipasrahkan<br />
diganggu. pengelolaannya kepada kedua anak lelaki yang<br />
Menurut laporan doker, Dayat tewas lain. Masing-masing sudah berumah tangga.<br />
antara pukul 1.00 sampai pukul 2.00 dini hari. Empang-empang yang dipercayakan<br />
Pada jam itu sebenarnya istrinya belum tidur, pengelolaannya kepada anaknya bukan<br />
tapi tak mendengar kegaduhan atau sesuatu memberikan keuntungan, sebaliknya disita<br />
yang mencurigakan dari kamar itu. istri Dayat oleh para tengkulak dan rentenir. Sebab kedua<br />
baru tahu suaminya meninggal sekitar pukul anaknya sering meminjam uang berbunga<br />
6.00 pagi, itu pun karena ia merasa sudah sebelum masa panen tiba. Ditambah lagi akibat<br />
siang dan boleh membuka pintu kamar itu. pemanasan global permukaan air laut naik,<br />
Alangkah terkejutnya ia manakala melihat separuh yang di Tegalurung habis jadi laut.<br />
suaminya sudah meninggal dalam kondisi Sekarang yang tersisa hanya rumah yang<br />
yang mengenaskan. kumuh, lapuk dan kotor. Terngiang lagi kata-<br />
Dalam kamar itu memang ditemukan kata yang pernah diucapkan kakek jejadian itu.<br />
sesajian berupa kembang berbagai warna, “Hartamu akan habis oleh anak-anakmu!”<br />
kopi, susu, teh manis, hio, kemenyan, rumah pun sudah sering anaknya datang<br />
pedupaan dan benda-benda beraroma menyarankan agar dijual saja untuk modal.<br />
mistik lainnya. Tapi pihak keamanan Nanti Sumantri dengan istrinya ikut salah<br />
menyimpulkan benda-benda itu tak mungkin satu anaknya, atau mengontrak rumah.<br />
bisa mengakibatkan kematian Dayat. Lalu Tetapi Sumantri belum mengijinkan. Sumantri<br />
mengapa Dayat meninggal? ketakutan, hatinya resah di hari tua. Bukan<br />
Semasa hidupnya Dayat pernah sukses karena takut harta tidak tersisa lagi, melainkan<br />
sebagai penjual dan pembeli mobil bekas. takut mati karena kemudian harus bercampur<br />
Dayat memiliki show room mobil meski dengan komunitas gaib siluman buaya di<br />
kecil-kecilan. Di show room itu Dayat juga muara Cipunagara. Juga takut menghadapi hari<br />
menyewakan kendaraannya. Sebagai perhitungan di hadapan Tuhan kelak.<br />
pengusaha kecil, penghasilan Dayat yang<br />
mencapai 6 sampai 8 juta setiap bulan sudah lebih dari cukup. Tapi sayang ia memiliki prilaku buruk yang suka berjudi, mabuk dan main perempuan. Akibatnya sukses yang ia raih dari nol itu hancur berantakan dalam waktu satu tahun saja. Dayat jatuh miskin setelah sepuluh tahun ia berada di atas angin.<br />
Hari itu Dayat datang ke rumahku dengan segala keluh kesahnya. Sebagai sahabat sejak kami masih kanak-kanak, aku tahu betul bagaimana sifatnya. Dayat tak pernah malu mengeluhkan masalah apapun kepadaku, termasuk keadaan keluarganya. Bahkan rahasia pribadinya sekalipun ia keluhkan padaku. Kepadaku ia juga kerap meminta bantuan walau aku sendiri bukan orang kaya yang berlebihan. Aku pun selalu ingat kebaikan Dayat ketika dia masih menjadi orang kaya. ia kerap menolongku jika aku mendapatkan masalah ekonomi.<br />
“Gandi, aku punya rencana ingin melakukan pesugihan di Jampang, Sukabumi,” tuturnya ditengah perbincangan itu.<br />
Aku terkejut mendengar keterus terangannya itu. ini adalah hal paling nekat yang ia ucapkan padaku. Sebelumnya ia memang suka mencari nomor togel ke makam- makam keramat atau ke tempat-tempat wingit. itu aku biarkan saja, tapi mendengar ia ingin bersekutu dengan makhluk halus tentu saja aku melarangnya.<br />
“Ah, gila kau Yat. Semiskin apapun kita jangan sampai melakukan itu,” timpalku cepat.<br />
“Tapi aku benar-benar sudah tak bisa berbuat apa-apa. Aku sudah berusaha bekerja ke mana-mana bahkan kembali menjadi maklar seperti dulu. Tapi susah, tak satu pun yang bisa aku kerjakan yang menghasilkan uang. Aku hanya bergantung pada anak sulungku dan belas kasihan saudara dan teman-temanku. Aku kasihan melihat nasib dan masa depan tiga anakku,” jelasnya setengah memaksa.<br />
“Pokoknya apapun alasanmu aku tidak akan menyetujuinya. Kita masih bisa berusaha yang lebih baik dan halal. Kamu sudah perhitungkan resikonya? Kamu akan jadi korban dan begitu juga keluargamu,” aku kembali menasehatinya setengah membentak.<br />
“Aku memang ragu, makanya aku bertanya padamu. Tapi aku sudah datang ke keramat itu dua kali dan aku sudah melakukan ritualnya dua kali pula. Seperti saran juru kunci, aku juga sudah melakukan ritual dua kali di kamar<br />
________________<br />
________________</p>
<p>MATI AKIBAT PESUGIHAN GOA SETAN<br />
kosong di rumahku. Tinggal satu kali ritual lagi maka aku akan menjadi orang kaya. Aku akan menumbalkan diriku sendiri,” jelasnya lagi.<br />
“Yat, sebagai sahat aku tidak ingin melihatku kembali masuk dalam perangkap setan. Tuhan sudah memberimu kekayaan tapi kau salah gunakan untuk judi, main perempuan dan mabuk-mabukan. itu sudah aku ingatkan berkali-kali padamu tapi kamu juga tidak menggubrisnya. Kali ini aku tidak ingin lagi melihat kamu jadi korban bujuk rayu setan. Coba kamu ceritakan apa kata juru kunci itu soal pesugihannya?” tegasku.<br />
Lalu Dayat menceritakan panjang lebar pengalamannya ke Goa Setan di sebuah lembah di Jampang, Sukabumi, Jawa Barat. ia menemui seorang tua di sana yang membimbingnya melakukan ritual persekutuan gaib dengan makhluk halus penghuni goa itu. Untuk bisa bersekutu dengan makhluk gaib di sana, Dayat harus melakukan ritual sebanyak tiga kali. Dan pada malam ketiga Dayat akan menandatangani perjanjian kontrak dengan setan penghuni goa itu.<br />
Seperti yang diceritakan Dayat padaku hari itu. Malam pertama ia melakukan ritual memang tak terjadi hal yang mengerikan. Di kamar kosongnya itu ia menyediakan segala jenis sesajian sesuai saran si juru kunci. Ada kembang setaman lengkap dengan wewangian. Dupa yang menyala mengepulkan asap kemenyan yang menusuk hidung. Air hitam, putih dan coklat lengkap dengan berbagai jenis buah-buahan.<br />
Pada ritual malam kedua barulah Dayat menemukan hal-hal aneh dan mengerikan. itulah sebabnya ia datang ke rumahku untuk berkeluh kesah itu. Ketika ritual kedua itu, tiba- tiba suasana di kamar Dayat berubah total. ia melihat dirinya tidak lagi berada dalam sebuah kamar. ia sudah berada di Goa Setan yang ia kunjungi itu. Pemandangan dalam kamar itu seketika berubah setelah Dayat merasakan ada angin besar berputar-putar di sekelilingnya. Karena tiupan angin itulah Dayat memejamkan matanya. Dan ketika ia kembali membuka mata, tahu-tahu ia sudah berada dalam Goa Setan itu.<br />
Seperti mimpi, Dayat yang tadinya duduk bersila di atas keramik kamar, kini sudah duduk<br />
di atas batu yang mirip sebuah altar. Sesaat kemudian ia mendengar suara gelak tawa yang bergema di dinding goa. ia tidak tahu dari mana asal suara itu, yang jelas suara itu sangat menakutkan dan membuat Dayat berpikir untuk berlari. Tapi percuma saja ia sudah berada dalam goa itu dan tak tahu harus lari ke mana dalam gelapnya goa.<br />
Belum habis rasa takutnya, Dayat dikejutkan oleh penampakan makhluk tinggi besar yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya. Makhluk itu berdiri mengangkang, kakinya nampak tidak menyentuh bumi tapi melayang di atas permukaan tanah. Barisan giginya yang besar nampak menyeramkan dengan lidah merahnya yang menjulur panjang. Tangan dan kukunya yang panjang nampak makin seram karena kerap kali dihadapkan ke muka Dayat.<br />
“Hey manusia, apakah kau sudah siap dengan persekutuan ini. Aku menjamin hidupmu akan tenang dan kaya raya sampai batas waktu yang kita sepakati. Jika kamu setuju aku akan datang pada ritual malam ketiga nanti dan kau siapkan darah segar dari ujung jari kananmu,” katanya setengah membentak.<br />
Dayat yang sudah ketakutan sejak pertama kali makhluk itu muncul hanya bisa menjawab dengan anggukan dan kata-kata yang terbata.<br />
“i&#8230; iya akan saya penuhi,” jawabnya. “Hahaha&#8230;.. kalau begitu aku akan pergi dan kembali esok malam menemuimu di tempat ini. Siapkan segala yang aku inginkan dan kau akan menjadi orang kaya. Setelah aku pergi kau pejamkan saja matamu dan kau akan kembali berada di kamarmu.”<br />
Usai mengatakan itu, makhluk tinggi besar itu pun menghilang dalam sekedipan mata. Dayat tinggal sendiri dalam goa itu dikelilingi kegelapan yang menyeramkan. Hanya bunyi binatang malam yang menemani kesendirian Dayat.<br />
Tapi keanehan kembali terjadi sesaat setelah Dayat memejamkan matanya seperti perintah makhluk halus itu. Keadaan kembali berubah, Dayat sudah berada dalam kamar kosong itu lagi. Di hadapannya nampak sesajian yang masih terhampar seperti semula. Tak ada yang berubah dari sesajian itu. Bahkan dupanya pun masih menyala dan mengepulkan asap<br />
putih berbau kemenyan. Artinya perjalanan Dayat ke alam gaib itu hanya sesaat.<br />
Kini tinggallah Dayat sendirian di kamar kosong itu merenungi perbincangannya dengan makhluk gaib tadi. Dalam hatinya, ada rasa takut untuk menjalankan ritual yang terakhir. Tapi di sisi lain, Dayat juga tergiur oleh segunung harta yang ditawarkan oleh makhluk halus itu. Apalagi Dayat juga dikejar hutang dan berbagai keperluan hidup lainnya. Melihat istri dan anak-anaknya yang hidup sengsara Dayat tak rela mereka dihina dan dikucilkan dari lingkungannya.<br />
“Dayat, mendengar ceritamu saja aku sudah merinding ketakutan. Aku membayangkan bagaimana kelak kau harus hidup di tengah makhluk-makhluk halus itu. Kau akan hidup menjadi budak makhluk halus sepanjang umur dunia. Dayat jangan kau lanjutkan ritual itu,” tuturku setelah mendengar Dayat menceritakan pengalaman ritualnya.<br />
“Tak tahulah Gan, aku sendiri bingung,” jawabnya singkat sambil kembali membakar rokok kretek yang aku belikan.<br />
“Jangan bingung, batalkan niatmu itu. Kita masih bisa mencari jalan lain yang lebih baik. Aku sebagai sahabatmu pasti akan membantu,” kembali aku menegaskan agar ia membatalkan perjanjian itu.<br />
Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar dengan berbagai perdebatan, Dayat pamit untuk pulang ke rumahnya. Dalam hati aku merasa ada sesuatu yang aneh melihat tatapan mata Dayat saat terakhir kali ia hendak pulang. Dari pintu rumah aku mengantarkanya hingga ke gang kecil di depan rumahku. Langkahnya yang gontai menggambarkan isi hatinya yang galau. Beberapa saat aku melihat sahabatku itu berlalu dengan punggungnya yang sedikit merunduk. Ada rasa khawatir ketika aku terakhir kali melihat punggung sahabatku itu menghilang di tikungan.<br />
itulah hari terakhir aku bertemu dengan Dayat, sahabatku sejak masih kanak-kanak. Esoknya seisi kampung dikejutkan oleh berita kematian Dayat yang mengenaskan. Ada yang mengatakan Dayat bunuh diri dalam kamar kosong di rumahnya. Ada yang mengatakan sahabatku itu mati dicekik jin togel karena kegemarannya mencari info nomor togel. Memang di hadapan mayatnya terhampar berbagai sesajian yang masih utuh. Tapi aku menduga Dayat meninggal karena dihabisi oleh makhluk halus yang ia ceritakan padaku di malam kemarin.<br />
Entahlah, apapun yang menimpa diri sahabatku itu, aku tetap mendoakan agar arwahnya di terima di sisi Tuhan. Semoga segala amal perbuatannya diterima oleh Tuhan. Dan semoga pula segala dosa-dosanya diampuni. Karena hanya Tuhan yang tahu pasti apa yang terjadi dengan Dayat di kamar kosongnya itu.<br />
(Seperti dituturkan Sugandi, Bogor)<br />
MISTERI | Edisi 529 2012 |<br />
39</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-buaya-muara-cipunagara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ritual Pesugihan Omyang Jimbe (oleh: eka supriatna)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 12:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_368" class="wp-caption alignleft" style="width: 294px"><a rel="attachment wp-att-368" href="http://majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/omyang-jimbe/"><img class="size-medium wp-image-368" title="omyang-jimbe" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/omyang-jimbe-284x300.png" alt="" width="284" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui masalah yang berarti. Kami hidup rukun dengan segala kebutuhan rumah tangga yang selalu bisa aku penuhi. Dua orang putraku pun bisa bersekolah dengan layak, salah satunya sudah duduk dibangku perguruan tinggi dan adiknya masih di bangku SLTP.<span id="more-367"></span></p>
<p>Tapi suatu ketika musibah datang beruntun dan langsung membuatku ambruk hingga tenggelam ke dasar lumpur kenistaan. Padahal baru saja dua bulan aku mengambil kredit di sebuah bank swasta nasional yang nilainya 700 juta rupiah. Untuk mendapatkan kredit sebesar itu, aku mengagunkan rumah yang aku tempati bersama isteri dan anak-anakku. Uang sejumlah itu aku gunakan untuk modal usaha karena aku sudah lama mendapatkan klien dari Singapura mengirim hiasan rumah tradisional.</p>
<p>Seperti disambar petir di siang bolong, hari itu aku mendapat kabar bahwa barang yang kupesan dari para pengrajin di Tasikmalaya tidak bisa dikirimkan. Alasan mereka belum mendapatkan bayaran sejak 3 bulan lalu. Para pengrajin itu menuntut pembayaran semua barang yang mereka kirim senilai hampir setengah milyar. Padahal aku sudah membayarkan semua hak mereka tanpa ada yang aku tunda-tunda. Pembayaran itu aku lakukan melalui kasir dan orang kepercayaanku.</p>
<p>Tak hanya itu, masalah lain timbul dari klienku yang di Singapura, dia menuntut aku untuk segera mengirimkan barang pesanannya. Panik bukan kepalang, di satu sisi aku harus membayar uang kepada para pengrajin di Tasikmalaya. Di sisi lain aku dituntut untuk mengirim barang ke Singapura atau kontrak yang telah kubangun akan segera diputuskan. Artinya aku akan kehilangan klien sekaligus harus membayar utang yang segunung jumlahnya.</p>
<p>Yah, tentu saja bukan aku tidak berusaha mencari jalan keluar. Aku sudah melaporkan penggelapan uang, penipuan dan korupsi pada Kepolisian. Tapi apa pun itu, tidak membuat usahaku lancar. Aku kehilangan klien karena ulah karyawanku yang membawa kabur uangku. Aku tak tahu ke mana harus mencarinya lagi. Alamat yang ditinggalkannya ketika melamar pekerjaan 4 tahun lalu ternyata palsu. Aku sudah menelusuri semua jejak yang pernah dia tinggalkan, tapi semua nihil.</p>
<p>Singkat cerita, aku benar-benar terpuruk, usahaku hancur dan rumahku disita bank karena aku tak mampu membayar hutang. Aku ngontrak di sebuah rumah petakan di Cinere. Tapi itu belum bisa membuat hidupku tenang. Karena para pengrajin di Tasikmalaya masih terus memburuku karena aku masih mempunyai hutang pada mereka sejumlah hampir 400 juta rupiah. Nyaris setiap hari aku didatangi orang yang menagih hutang ke rumah kontrakanku. Dan hampir setiap jam telepon genggamku berdering oleh orang-orang yang menagih hutang.</p>
<p>Keterpurukanku itu berlangsung hingga tahun 2009. Sepanjang dua tahun, hidupku benar-benar hancur, untuk mencari makan saja aku harus meminta bantuan ke mana-mana. Anak sulungku terpaksa harus berhenti kuliah karena aku tak sanggup lagi membiayainya. Isteriku setiap hari harus ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan dan makanan kecil di depan kontrakan. Sementara hutangku masih menggunung dan aku hanya mampu menjanjikan pada para pengrajin di Tasik, bahwa suatu hari aku pasti akan melunasi semua hutang-hutangku.</p>
<p>Hari itu temanku Haris memperkenalkan aku pada seorang temannya yang bernama Edi. Menurut Haris, temannya yang bernama Edi itu bisa membantu menyelesaikan masalahku dengan kekuatan gaib. Tertarik dengan hal itu, aku mengajak Haris bertemu dengan Edi di suatu tempat di bilangan Bekasi. Dan hari itu pula aku diajak Edi bertemu dengan seorang spiritualis yang bernama Wisnu. Dari mas Wisnu inilah aku diberitahu bahwa aku bisa menggelar sebuah ritual untuk mendapatkan sejumlah uang dari gaib.</p>
<p>Menurut Wisnu, spiritualis yang berusia sekitar 45 tahun itu, ritual menarik uang gaib ini menggunakan kekuatan keris Omyang Jimbe. Sebuah keris keramat yang umurnya sudah ratusan tahun. Di rumah Mas Wisnu, aku diperlihatkan sebuah keris yang di kepalanya berhias dua orang yang nampak sedang semedi. Itulah yang disebut Mpu Omyang Jimbe pembuat keris pusaka yang kekuatan gaibnya bisa digunakan untuk menarik uang dari alam gaib.</p>
<p>Aku semakin antusias karena menurut Mas Wisnu tak perlu tumbal untuk mendapatkan uang dari alam gaib itu. Meski dengan ritual yang teramat sakral tapi gaib penghuni keris itu tidak meminta tumbal pada pelaku ritual. Gaib itu hanya menuntut agar pelaku ritual itu berlaku jujur. Sebab uang yang bisa ditarik dari alam gaib itu hanya boleh dipergunakan untuk membayar hutang atau pelakunya benar-benar dalam keadaan terdesak. Selain itu jumlah uang yang bisa didapatkan pun terbatas sesuai dengan kebutuhan pelaku itu sendiri.</p>
<p>Yah, dengan bermodalkan keyakinan aku menghadap Mas Wisnu untuk mengadakan perjanjian ritual. Aku diminta untuk menyediakan sejumlah sesajian lengkap untuk menggelar ritual itu. Aku harus menyediakan kembang setaman lengkap dengan kemenyan dan uborampe lainnya. Kemudian aku juga diminta untuk menentukan di mana lokasi ritual itu akan digelar. Menurut Mas Wisnu, lokasi ritual itu boleh ditentukan oleh pelaku sendiri. Bisa digelar di tempat keramat atau di mana saja bahkan juga bisa digelar di rumah pelaku sendiri. Tapi karena rumah kontrakkanku terlalu sempit, maka aku memilih menggelar ritual di sebuah tempat keramat di Bogor, Jawa Barat.</p>
<p>Sesuai dengan kesepakatan dan perhitungan primbon Mas Wisnu, siang itu aku berangkat ke rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Hari itu Kamis malam Jumat, berdasarkan perhitungan Mas Wisnu, hari itu adalah hari baik untukku dan keluargaku. Aku berangkat dari rumah Mas Wisnu sekitar pukul 4 sore menuju sebuah tempat keramat di perbatasan antara Jasinga, Bogor dengan Tangerang Banten. Ritual itu sendiri baru akan digelar menjelang tengah malam.</p>
<p>Sesuai perhitungan, kami baru tiba di keramat itu sekitar pukul 8 malam. Setelah meminta ijin pada juru kunci, kami langsung menuju lokasi keramat untuk mengenali situasinya. Ternyata keramat ini memang nampak menyeramkan. Pohon-pohon besar berdiri tegak bagaikan raksasa yang tengah berkacak pinggang. Di bawah pohon-pohon besar itu berdiri sebuah gubuk kecil yang gelap gulita. Hanya ada sebuah lampu minyak yang kadang redup tertiup angin malam.</p>
<p>Beberapa saat aku ngobrol dalam gubuk itu bersama 5 orang yang ikut dalam ritual itu. Aku sendiri ditemani seorang saudaraku yang ingin ikut menyaksikan ritual itu. Selama kami ngobrol, aku merasakan banyak getaran gaib yang menyelimuti tempat keramat itu. Aku yakin tempat itu pasti dihuni oleh banyak makhluk halus yang tak kasat mata. Dan setelah ngalor ngidul kami ngobrol akhirnya waktu yang telah ditentukan untuk menggelar ritual itu pun tiba.</p>
<p>Pukul 11 malam, Mas Wisnu mulai memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan segala sesajian yang kami bawa. Berbagai uborampe digelar dalam cungkup yang luasnya sekitar 10 meter persegi itu. Kembang setaman digelar di atas sehelai kain putih. Perapian mulai dibakar dan sesaat kemudian api mulai menyala membakar arang dalam bokor tembaga. Beberapa batang hio mulai mengepulkan asap yang baunya khas menusuk hidung. Terakhir Mas Wisnu mencabut sebuah keris yang bernama Omyang Jimbe. Keris itu berdiri tegak di atas sehelai kain putih di depan sesajian.</p>
<p>Ritual itu mulai digelar, aku duduk bersila di belakang Mas Wisnu. Berjejer di samping kiriku adalah saudaraku dan seorang anak buah Mas Wisnu. Lalu di samping kananaku dua orang lain yang diajak Mas Wisnu. Segala syarat perlengkapan untuk memanggil kekuatan gaib keris Omyang Jimbe telah siap digelar. Asap hio dan kemenyan pun telah mengepul sejak beberapa menit lalu. Memanggil segala jenis makhluk halus untuk memberi kekuatan pada ritual itu.</p>
<p>Tepat tengah malam, Mas Wisnu mulai membacakan mantera dan jampi-jampi yang aku tak mengerti. Beberapa bait mantera dan jampe-jampe dari bahasa Jawa kuno meluncur dari mulutnya. Sebelum itu Mas Wisnu juga membacakan beberapa Ayat Suci Al Qur’an, maksudnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada para peserta ritual. Sebab menurutnya di tempat seperti itu resiko gangguan makhluk halus pasti sangat besar.</p>
<p>Setelah pembacaan mantera itu selesai, lalu Mas Wisnu memerintahkan seorang asistennya yang masih sangat muda untuk duduk di depan sesajian itu. Sesaat kemudian asisstennya yang masih anak muda itu menutupi sebuah kardus dengan kain putih. Kemudian dia pun membacakan beberapa ayat Suci Al Qur’an sambil duduk bersila di depan sesajian dan kardus itu.</p>
<p>Suasana mulai terasa mencekam manakala anak muda itu usai membacakan manteranya. Bulu kuduku terasa lebih merinding dibandingkan beberapa saat lalu. Aku merasa seperti ada makhluk halus yang tengah memperhatikan gerak-gerikku. Mataku mulai melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan seluruh ruangan cungkup itu. Tapi tak ada apapun di sana, hanya kegelapan malam yang kulihat. Sesekali aku mendengar suara burung hantu dan binatang malam yang membuat suasana makin mengerikan. Aku yakin di situ pasti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanku. Aku merasakan itu karena hampir seluruh bulu dalam tubuhku berdiri. Dadaku pun berdebar makin keras. Naluriku memastikan ada makhluk lain yang ikut dalam ritual itu.</p>
<p>Sedang diliputi rasa takut itu, tiba-tiba blaaarrrr. Kardus yang ditutup kain putih itu seperti meledak menimbulkan suara gaduh. Jantungku seperti mau copot, aku kaget bukan kepalang hingga posisi duduku berubah sedikit mundur bahkan nyaris lari lantaran kaget dan rasa takut.</p>
<p>“Tenang-tenang. Tidak ada apa-apa. Itu hanya sebuah pertanda bahwa ritual kita direstui gaib dan kita nyaris berhasil,” ujar Mas Wisnu manakala melihat keadaanku yang sangat ketakutan.</p>
<p>“Tetap konsentrasi dan jangan bertindak yang bukan-bukan,” lanjutnya.</p>
<p>Sesaat kemudian Mas Wisnu mengambil alih ritual dari anak muda itu. Kembali Mas Wisnu membacakan beberapa bait mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas bokor yang arangnya masih terlihat membara merah. Tak seorang pun yang berani membuka mulut, suasana makin hening mencekam.</p>
<p>“Nah, ritual ini telah selesai. Mari kita lihat apa yang ada dalam kardus itu,” tiba-tiba Mas Wisnu bersuara sambil menunjuk kardus yang tertutup kain putih.</p>
<p>“Silahkan buka kardus itu, Mas Yogi,” tuturnya sambil menatap ke arahku. “Atau kalau sampeyan takut, biar aku saja yang membukanya,” lanjutnya melihat aku yang nampak ragu dan ketakutan.</p>
<p>“Silahkan, mas saja yang membukanya,” jawabku singkat.</p>
<p>Perlahan Mas Wisnu mulai menyingkap kain putih yang menutupi kardus itu. Dadaku masih berdebar, benakku terus bertanya-tanya apa yang ada dalam kardus kosong itu. Sesekali aku bisa melihat raut wajah Mas Wisnu yang nampak was-was. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu. Tapi sedetik kemudian, raut wajah Mas Wisnu nampak berubah. Ada rasa sumringah tatkala dia mulai membuka tutup kardus itu.</p>
<p>“Alhamdulillah, ternyata ritual kita dikabulkan. Silahkan lihat apa isi kardus ini,” tutur Mas Wisnu dengan senyum penuh kebahagiaan.</p>
<p>Dan betapa terkejutnya aku manakala melihat apa yang ada dalam kardus itu. Setumpuk uang pecahan seratus ribuan memenuhi kardus itu. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa tak percaya, aku mengambil segepok uang itu. Setelah kuperhatikan, ternyata benar itu adalah uang yang selama ini aku dambakan untuk melunasi hutang-hutangku.</p>
<p>“Ingat Mas Yogi, pertama kali yang sampeyan lakukan dengan uang ini adalah membayar hutang. Jika hutangmu sudah lunas semua, maka sisanya boleh digunakan untuk apapun,” jelas Mas Wisnu mengingatkanku.</p>
<p>Yah, singkat cerita, kami pulang dengan membawa hasil yang kami harapkan. Dengan uang itu aku membayar seluruh hutangku pada para pengrajin di Tasikmalaya. Aku juga melunasi hutang-hutang kecilku pada teman-teman dan tetangga yang telah membantuku. Anehnya uang itu memang hanya cukup untuk membayar hutang. Hanya tersisa tak lebih dari 2 juta saja dari sisa pembayaran hutang-hutangku itu. Tapi syukur, aku bisa melunasi hutang-hutangku meski kini aku harus mulai kembali usahaku dari nol.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilik Pesugihan Buyut Jimbung akan Cacat Seumur Hidup(oleh: Suryadi Bejo)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/pemilik-pesugihan-buyut-jimbung-oleh-suryadi-bejo/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/pemilik-pesugihan-buyut-jimbung-oleh-suryadi-bejo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 07:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Jimbung adalah sebutan dari kawasan yang berada di bawah pemerintahan Daerah Klaten. Kawasan satu ini banyak menarik perhatian dari para pencari pesugihan. Mayoritas berasal dari luar warga setempat. Bahkan ada... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/pemilik-pesugihan-buyut-jimbung-oleh-suryadi-bejo/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_304" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-304" href="http://majalah-misteri.net/pemilik-pesugihan-buyut-jimbung-oleh-suryadi-bejo/sendang-jimbung-2/"><img class="size-medium wp-image-304" title="sendang-jimbung" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/sendang-jimbung1-300x219.png" alt="" width="300" height="219" /></a><p class="wp-caption-text">sendang jimbung</p></div>
<p>Jimbung adalah sebutan dari kawasan yang berada di bawah pemerintahan Daerah Klaten. Kawasan satu ini banyak menarik perhatian dari para pencari pesugihan. Mayoritas berasal dari luar warga setempat. Bahkan ada yang berasal dari kota-kota besar yang jauh, seperti Bandung, Jakarta, Medan, Bangka, dan Surabaya.<br />
Di tembok sendang Jimbung sendiri saat ini tertulis kalimat berupa pemberitahuan, yang berbunyi: “SENDANG INI BUKAN TEMPAT PEMUSRIKAN”. <span id="more-301"></span>Namun tetap saja masih terlihat adanya bekas tanda-tanda yang digunakan memuja penunggu ‘Sendang Jimbung’.<br />
Tanda-tanda bekas pemujaan tersebut terlihat ada segelas air putih yang didalamnya berisi kembang setamn, kemenyan Jawa yang telah dibakar serta sebungkus kain kafan putih. Entah apa yang ada di dalam bungkusan kain kafan putih tersebut. Setidaknya pemandangan tersebut membuktikan bahwa sendang satu ini memang benar-benar tempat memuja roh kegelapan.<br />
Penasaran dengan sosok yang disebut Eyang Poleng, Misteri mencoba mendatangi salah satu sesepuh warga di sana, yakni Bapak Projo Sugito. Lelaki ini mantan Kepala Desa dua periode. Misteri disambut dengan hangat olehnya.<br />
Menurut Pak Projo, demikian panggilan akrab mantan Kades itu, Eyang Poleng adalah sosok sakti pada masa kerajaan Mataram. Dia juga sosok yang disegani oleh pihak kerajaan Mataram. Setiap kerajaan Mataram mengalami pergolakan, maka Eyang Poleng tersebut pasti dilibatkan. Panggilan ketika mudanya adalah Joko Poleng.<br />
Salah satu kesaktiannya adalah mampu mengubah dirinya dalam bentuk apapun, tak terkecuali menjadi seekor bulus. Mitos menyebutkan ia merupakan salah satu sosok yang disayangi oleh Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan. Dengan demikian tidak aneh bila ia memiliki kesaktian yang tiada tara, bahkan bisa juga Eyang Poleng masuk dalam kategori manusia setengah siluman.<br />
Awalnya, sebelum ia masuk dalam jajaran orang sakti di bumi Mataram, Joko Poleng adalah seorang pengembara. Dalam pengembaraannya ia hanya seorang diri. Dikisahkan, suatu ketika dalam perjalanan ia diundang sekelompok perampok di tengah hutan belantara di tenga-tengah rawa yang saat itu masih sunyi senyap yaitu Rawa Jombor.<br />
Para perampok tersebut hendak merampas barang-barang yang dibawa Joko Poleng. Namun mereka dapat dikalahkan oleh sang pengembara tadi. Sejak saat itulah Joko Poleng menetap di daerah Rawa Jombor, tepatnya di dukuh Jimbung.<br />
“Ketika hendak menetap di Jimbung merasa ada yang kurang yaitu tempat mandi, maka ia membuat sendang. Kemudian sendang tersebut digunakan untuk mandi Joko Poleng dan sendang itulah yang oleh warga sekitar disebut dengan Sendang Jimbung,” cerita Pak Projo lebih jauh.<br />
Sejak saat itu ia menetap di daerah yang kala itu masih sunyi belum banyak penghuninya. Yang menarik, Joko Poleng tiap malam Jum’at Kliwon melakukan tirakat dengan cara berendam atau kungkum di sendang.<br />
Setiap kali tirakat ia lebih suka merubah bentuk menjadi seekor bulus. Dengan maksud agar tidak terganggu oleh orang yang melihat. Sampai suatu ketika ada salah seorang yang melihat dirinya sedfng tirakat berendam. Tetapi menurut pandangan orang ketika itu ia melihat seluruh tubuh Joko Poleng berwarna belang-belang dengan bentuk menyerupai kulit bulus.<br />
Sejaksaat itu keberadaan Joko Poleng tidak diketahui oleh warga. Atau detailnya Joko Poleng masa itu seperti hilang ditelan bumi tanpa seorangpun yang tahu keberadaannya. Entah meninggal atau belum, warga pada saat itu tidak tahu.<br />
“Semenjak saat itu baik sendang maupun mitos sosok Joko Poleng melegenda dan begitu keramat,” demikian keterangan Pak Projo.<br />
Seiring dengan berkembangnya mitos keangkeran, kekeramatan serta keampuhan yang diyakini para pemburu pesugihan sehubungn dengan Sendang Jimbung, mereka pun berbondong-bondong melakukan tirakat atau ritual di sendang ini.<br />
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi para pencari pesugihan. Di antaranya adalah, mereka harus menyiapkan sesajen yang diinginkan. Misalnya, segelas air putih yang berisi kembang setaman, sebatang rokok klobot, kemenyan, tanah rumah pencari pesugihan yang harus dibungkus dengan kain kafan. Syarat-syarat tersebut diletakkan di bawah pohon di dekat sendang. Setelah itu mereka berendam/kungkum di sendang. Mulainya harus malam Jum’at Kliwon.<br />
Syarat lainnya adalah, bagi mereka yang telah dikabulkan harus melakukan tasyakuran setiap bulan syuro di ‘Sendang Jimbung’. Bila ini dilanggar fatal akibatnya bagi pencari pesugihan tersebut. Ada pantangan yang harus dihindari oleh para pamuja Eyang Poleng, pantangan tersebut tidak boleh membunuh hewan bulus secara sengaja atau tidak.<br />
Karena bila membunuh hewan bulus maka hidup sang pemuja itu tidak begitu lama, akan mati sebelum jadwal maut yang dijadwalkan datang. Setiap malam Jum’at Kliwon si pelaku juga tidak boleh absent datang ke sendang, meski dia sudah sekses sekalipun tidak boleh lupa.<br />
“Bila sampai lupa, maka akan ada seekor bulus yang datang berkunjung ke rumah sang pemuja tadi. Kedatangan pertama bulus ini sekedar mengingatkan. Namun bila sampai dua malam Jum’at Kliwon dirinya tidak sowan atau tidak menghadap, maka dalam bulan tersebut, sang pemuja akan dipanggil untuk menghadap oleh siluman penunggu sendang tersebut. Otomatis wujud si pemuja pun akan berubah menjadi seekor bulus seperti para pemuja Eyang Poleng lainnya yang melanggar pantangan,” beber Pak Projo.<br />
Masih menurut Pak Projo, tidak hanya resiko-resiko itu yang harus diterima pemuja Joko Poleng. Masih ada resiko lainnya yaitu mereka yang memuja atau mencari pesugihan di Jimbung dapat dipastikan sekujur tubuhnya mengalami cacat sedikit demi sedikit. Kulit tubuhnya akan terlihat belang-belang. Cacat kulit ini bisa dilihat dengan kasat mata.<br />
Pada dasarnya pesugihan bulus jimbung tidak meminta tumbal nyawa baik anggota keluarga pemuja maupun orang lain, kecuali pemuja pesugihan itu sendiri yang harus menanggung resikonya.  Dalam arti resiko yang telah disebutkan di atas.<br />
“Yang pasti, kelak bila pemuja pesugihan bulus jimbung meninggal, arwah serta rohnya tidak langsung dibawa malaikat menghadap Tuhan, melainkan akan disabotase oleh komunitas siluman yang berwujud binatang yang suka menyembunyikan bagian kepalanya tersebut. Dengan demikian secara resmi ia sah menjadi anggota siluman sesat yang diketuai oleh Eyang Poleng,” tambah Pak Projo.<br />
Sebelum menutup pembicaraan dengan Misteri, Pak Projo memberi contoh salah satu realita yang terjadi pada pemuja Bulus Jimbung. Pemuja pesugihan ini merupakan teman dekat pak Projo, tetapi satu kampung dengan lelaki yang suka mengenakan peci hitam ini. Temannya tersebut semula sudah diingatkan oleh Pak Projo sebelum melakukan ritual. Namun karena rapuhnya keimanan sang teman, akhirnya dia membulatkan tekad untuk melakukan tirakat di sendang Jimbung.<br />
Setelah beberapa malam Jum’at Kliwon melakukan ritual di sendang Jimbung, kehidupan teman Pak Projo tersebut memang berkembang pesat. Dia berhasil mempunyai satu unit mesin penggiling padi. Beberapa tahun kemudian temannya tadi mempunyai 3 buah truk pengangkut padi, sehingga warga sekitar menyebutnya dengan julukan juragan beras.<br />
Namun bila dicernati, seiring kesuksesan duniawi yang berhasil diraihnya, ternyata dibarengi juga dengan tanda-tanda ganjui di sekujur tubuhnya. “Ya, sekujur kulitnya berubah menjadi belang-belang, sehingga membuat warga enggan untuk berdekatan dengan dirinya, dan selanjutnya dia diasingkan oleh sebagian warga,” kisah Park Projo lebih jauh.<br />
Demikianlah sedikit liputan tentang pesugihan Buyut Jimpang. Ingatlah, setiap segala sesuatu ada resiko yang harus ditanggung oleh para pemburu pesugihan. Hidup hanyalah laksana perjalanan yang kita tidak tahu kapan perjalanan tersebut terhenti. Sehingga kita perlu merenung sejenak tentang hakiki dari sebuah hiruk-pikuk alam fana ini. Hanya satu yang membuat orang beruntung yaitu “ketika orang itu selalu mendekatkan diri pada Tuhan….”</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 510 05 Apr – 19 Apr 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/pemilik-pesugihan-buyut-jimbung-oleh-suryadi-bejo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesugihan Kain Mori Mayat (Oleh: Subur Suseno)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-kain-mori-mayat/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-kain-mori-mayat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 14:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Inilah nasib manusia, hampir tak ada tempat yang tenang untuk berdiam di muka bumi ini. Bahkan sesudah meninggal pun masih saja ada manusia yang usil untuk mengganggunya. Mungkin pembaca masih... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-kain-mori-mayat/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_174" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-174" href="http://majalah-misteri.net/pesugihan-kain-mori-mayat/mayat/"><img class="size-medium wp-image-174" title="mayat" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/02/mayat-300x249.png" alt="" width="300" height="249" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Inilah nasib manusia, hampir tak ada tempat yang tenang untuk berdiam di muka bumi ini. Bahkan sesudah meninggal pun masih saja ada manusia yang usil untuk mengganggunya. Mungkin pembaca masih ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu di desa Pelumutan, Purbalingga. Sumanto dengan berani dan nekat mengusik ketenangan mayat nenek Rinah dengan mencuri tubuhnya untuk dimakan.<span id="more-173"></span> Lain lagi Parman, 40 tahun, (bukan nama sebenarnya), seorang nelayan warga desa Kawunganten, Cilacap. Dia mengusik mayat seseroang dengan maksud hanya untuk mengambil kain morinya sebagai media pesugihan. Parman dengan tega mengabil satu-satunya barang si mayat yang dia bawa ke alam kuburnya, yaitu selembar kain mori.</p>
<p>Sifat nekatnya ini dikarenakan beban hidup yang menghimpit keluarganya. Dia megikuti jalan seperti yang pernah ditempuh oleh temannya yang sekarang menjadi kaya raya. Berkat kenekatan dan keberaniannya, mencuri kain kafan atau mori orang yang mati pada malam Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon, Parman berharap bisa memperoleh apa yang dia inginkan sehingga bisa menjadi kaya raya dan tidak lagi mengontrak rumah mungil di perkampungan nelayan. Ritual ini dianggapnya paling mudah dan sederhana. Karena jika dia berhasil mengambilnya, dia bisa meminta apa saja pada sosok mayat yang diambil morinya itu, sebagai tebusan. Seperti petunjuk Badrun (bukan nama sebenarnya).</p>
<p>“Kenapa harus orang yang mati pada hari Jum’at atau Selasa Kliwon yang digunakan sebagai ritual pesugihan?” Tanya penulis saat itu. Menurutnya, ini sudah menjadi syarat ilmu kejawen dam ritual pesugihan kain mori yang dipercaya sejak dulu.</p>
<p>Berbulan-bulan Parman menunggu dan mengintai orang yang meninggal pada hari tersebut. Tak jarang dia menyelidiki, mencari informasi secara diam-diam hingga ke kampung sebelah. Kalau-kalau ada yang meninggal di hari yang dia harapkan agar bisa digunakan sebagai media ritualnya.</p>
<p>Hingga akhirnya dia menemukan orang meninggal seperti yang diharapkan itu.</p>
<p>“Beruntung sekali aku waktu itu, yang meninggal adalah seorang anak kecil. Sehingga aku bisa dan berani mengambil kain kafannya. Jika saja yang meninggal orang sudah dewasa, mungkin aku tak sanggup untuk mengambilnya. Karena si mayat tidak akan mungkin rela selimutnya (kain penghangat tidurnya) saya ambil. Dia akan mempertahankan kain mori itu sehingga akupun harus berkelahi dengannya di liang kubur,” cerita Parman mengawali kisahnya.</p>
<p>Memang benar, taruhannya nyawa untuk memperoleh dan merebut kain mori yang sedang dipakai oleh si mayat. Diamping harus waspada terhadap orang lain agar tidak diketahui, juga harus mati-matian dalam proses pengambilannya. Ketika menggali kuburan, tidak boleh menggunakan bantuan peralatan apapun. Jadi harus menggunakan kedua tangan. Hal inilah yang harus diperhatikan, agar ritual tidak sia-sia.</p>
<p>Kemudian setelah membuka tali pengikat mori, kita harus secepatnya untuk menarik kain mori tersebut menggunakan gigi. Seberapa pun yang kita dapatkan itulah yang harus kita bawa pulang sebagai media pesugihan. Jadi kita tidak boleh mengambilnya berulang-ulang kali, cukup sekenanya saja. Beruntung jika kita bisa mendapatkan yang cukup lebar sehingga kita bisa semakin kaya.</p>
<p>Menurut Parman jika sang mayat sudah nampak (kelihatan), disinilah kita harus berhati-hati. Karena si mayat akan cepat menyerang kita dan memperthankan kain mori yang digunakan untuk selimut baginya. Percaya atau tidak, setiap orang yang haus akan harta, dan melakukan ritual ini, pasti dia akan berkelahi dengan jasad orang tersebut. Dimana jasad mayat itu mungkin saja telah disusupi oleh roh jahat, sehingga tenaga diapun begitu kuat</p>
<p>“Aku benar-benar tak menyangka kalau mayat itu memiliki tenaga yang berlipat ganda.  Jauh lebih besar dari tenaga manusia pada umumnya. Walaupun yang aku ambil kain mori milik anak kecil, tapi tenaga dia seperti orang dewasa. Apalagi jika yang meninggal adalah orang dewasa, sudah pasti aku tak mampu untuk mengambilnya. Pantas saja banyak orang yang tak sanggup dan gagal melakukan ritual ini,” tuturnya kepada penulis.</p>
<p>Jika dia kalah dalam bertarung melawan si mayat, dia kan babak belur bahkan tak jarang dia mengalami cacat tubuh akibat dipukuli oleh mayat dalam liang kubur. Parman saja mengalami luka memar dan biru-biru di sekujur tubuhnya. Oleh karena itu, tak jarang orang yang punya niat mengambil kaim mori milik mayat hanya mendapatkan luka babak belur, tanpa membawa hasil apapun</p>
<p>“Yang jadi masalah, kita harus konsentrasi bagaimana secepatnya bisa mengambil kain mori itu dan melepaskan diri dari dalam liang lahat. Jadi kita sama sekali tak bisa untuk melawannya,” uangkapannya kemudian.</p>
<p>Cerita Parman bisa dimaklumi, disamping menahan takut, dia juga harus menahan pukulan dari si mayat tersebut. Hal ini berlangsung cukup lama, mengingat dalam penggalian serta cara mengambil mori itu hanya menggunakan tangan dan mulut. Karena menurut kepercayaan tak diperbolehkan menggunakan peralatan. Jika telah mendapat kain mori itu, keberhasilan hidup dimasa depan boleh dikatakan sudah di depan mata. Karena menurut Parman, kita bisa meminta apa saja nantinya pada si mayat yang telah kita ambil kain morinya itu. Bagaimana cara mengguankan kain mori yang telah diambilnya dari kuburan, sebagai sarana ritual pesugihan itu? Berikut cerita Parman membeberkan kepada penulis.</p>
<p>“Jika kita sudah mendapatkan mori mayat, sesampainya di rumah langsung kita simpan saja sementara di dalam almari menunggu waktu yang tepat untuk memulainya. Tapi jangan sampai di cuci. Cara menggunakannnya cukup mudah, kain mori tersebut kita jadikan sumbu lampu (templok). Tepat pada jam duabelas, malam Jum’at atau Selasa Kliwon. Dengan sedikit ritual dan mantra tertentu, lalu kita dulut (bakar). Setelah sumbu lampu itu menyala, asap dari sumbu mori itu akan membumbung. Dengan ketajaman si mayat, dia akan mencium di mana selimutnya berada. Sehingga bisa kita pastikan mayat pemilik kain mori tersebut akan muncul mendatangai rumah kita. Dia akan terus memutari rumah kita untuk meminta yang dia sebut selimutnya itu,” papar Parman.</p>
<p>Menurutnya pula, mayat itu akan merengek dan menangis meminta kepada kita. Nah, disaat inilah Parman akan mempermainkan dan memperdayainya untuk kepentingannya, yaitu dengan meminta segala sesuatu yang diinginkannya. Walaupun menurutnya pula, dia selalu merasa berdosa dan tak tega mendengar suara ratapannya itu.</p>
<p>“Waktu pertama saya mencobanya, saya merinding, bahkan ikut menangis. Tapi demi urusan perut dan masa depan keluargaku, ritual tersebut terpaksa aku teruskan. “Menurut Parman, saat dia menyobek kain mori untuk dijadikannya sumbu, ada perasaan lain yang dia rasakan. Perasaa itu semakin santer saat sumbu kain mori mulai disulut di dalam kamarnya. Lalu menyala dan mengeluarkan asap mengepul, memenuhi ruangan. Tiba-tiba dari arah jendela kamar, ada suara ketukan yang dibarengi dengan sebuah tangisan yang menyayat, serta permintaan tolong dari anak kecil.</p>
<p>“Tolong Pak&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.., kembalikan selimutku! Aku kedinginan. Kembalikan selimut satu-satunya miliku yang kamu ambil itu pak. Aku membutuhkannya…&#8230; jangan kau ambil miliku itu Pak! Berikan. Aku membutuhkannya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;” suara anak kecil yang berada di luar jendela itu. Parman tahu persis, kalau itu adalah suara sosok mayat yang diambil kain morinya itu. Dia terus memohon sambil menangis.</p>
<p>“Selimutmu akan aku kembalikan padamu, tapi nanti jika aku sudah memiliki rumah sendiri yang bagus. Makanya kamu bantu aku agar aku memiliki rumah bagus sehingga selimutmu segera aku kembalikan.” Janji Parman kepada sosok di luar.</p>
<p>Tak lama suara itu hilang, entah kemana dan Parman langsung mematikan lampu templok tersebut. Aneh tapi benar adanya. Tak begitu lama, Parman mendapatkan ikan saat melaut yang tak masuk akal dalam sepanjang sejarah dia menjadi nelayan. Dia mendapatkan tangkapan yang luar biasa banyaknya. Hal ini berlangsung hampir tiga bulan lamanya. Sehingga pada akhir bulan ketiga, dia benar-benar bisa memiliki rumah sendiri yang bagus. Parman tak mau berhenti hanya di situ. Malam Jum’at Kliwon berikutnya, kembali dia menyulut sumbu kain mori itu lagi. Sehingga kejadian seperti dulupun terulang lagi</p>
<p>“Tolong Pak&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;., selimutku kembalikan, aku benar-benar. Aku tak tahan lagi aku tak kuat pak, bantu aku kembalikan selimut itu padaku,” rengeknya lagi. Parmanpun kembali menjanjikannya lagi.</p>
<p>“Kalau kamu ingin aku bantu, kamu juga harus membantuku. Aku menginginkan motor baru, jika kamu bisa membantu, nanti selimutmu akan aku kembalikan,” jawabnya lagi. Kembali suara itu hilang seperti terbawa angin malam Jum’at Kliwon saat itu. Benar-benar luar biasa, entah uang dari mana tapi yang jelas rezeki Parman terus mengalir, sehingga dia benar-benar bisa membeli sebuah sepeda motor baru.</p>
<p>Kini Parman semakin percaya akan keampuhan sumbu kain kafan seperti yang diceritakan Badrun. Pantas Badrun semakin kaya saja. Rupanya jika menginginkan sesuatu dia tinggal menyulut sumbu mori. Lalu empunya akan datang untuk memberinya apa yang dia inginkan, pikir Parman dalam hati. Kehidupan Parman benar-benar berubah drastis. Dia menjadi seorang yang kaya dan terpandang di kampungnya. Parman tak berpikir lagi tentang penderitaan mayat yang dicuri kain kafannya. Termasuk keluarga si mayat yang masih hidup yang tak rela kuburan anaknya di bongkar dan di rusak.</p>
<p>Parman malah semakin serakah dengan tipu muslihatnya memperdaya sukma orang yang mati. Roh yang seharusnya telah tenang di alam sana, masih dia usik kedamaiannya. Bahkan dimintai seabreg urusan duniawi yang ujung-ujungnya hanyalah tipu muslihat Parmana. Selama sumbu kain mori mayat itu masih ada, Parman masih terus bisa memperdaya makhluk halus itu. Dia sendiri tak tahu kapan sumbu itu akan habis sebagai sarana pesugihannya. Bahkan mungkin untuk kesekian puluh kalinya dia menginginkan sesuatu yang benar-benar dramatis. Dia berjanji kepada arwah anak kecil itu, untuk yang terakhir kalinya, kalau dia akan mengembalikan selimutnya jika dirinya telah memiliki sebuah kapal penangkap ikan sendiri, tidak menyewa kepada Bandar ikan lagi.</p>
<p>“Ingat pak, ini adalah janjimu yang terakhir kalinya. Aku juga sudah lelah dijanjikan terus menerus. Aku hanya ingin kamu menepati janji itu.” Ucap sosok bocah dari alam gaib itu sembari pergi.</p>
<p>Aneh bin ajaib, selang beberapa bulan, Parman pun bisa memiliki kapal penangkap ikan sendiri. Hasil lelang dari Bandar kaya di daerahnya. Kini tempat pelelangan ikan, benar-benar seperti telah dikuasainya. Tapi sayang, sifat serakah orang tak pernah hilang dari hatinya. Parman masih menginginkan beberapa bidang tambak di pinggiran teluk.</p>
<p>Malam Jum’at Kliwon kurang tiga hari lagi. Niat hati ingin membakar sumbu pesugihan itu, tapi sayang kapal ikannya justru tenggelam akibat badai dan ombak yang ganas dan tak bisa terselamatkan lagi. Tak hanya itu, rumah Parman beserta perabotannya terbakar habis saat kompor gas yang sedang dipakai memaksa istrinya meledak. Parman benar-benar kecewa, bahkan stress. Kini dia kembali lagi menjadi orang miskin yang hidup menumpang pada orang lain. Dia juga kembali menjadi nelayan buruh pada seseorang</p>
<p>“Percayalah Mas, tak pernah ada untungnya kita mendzalimi orang lain, apalagi orang yang sudah mati. Biarkan mereka tenang dan damai di sisi-Nya. Jangan sekali-kali pengalamanku ini dicontoh orang lagi. Ini hanya untuk mengambil hikmahnya saja bahwa segala sesuatu akan kembali kepada asalnya. Dan semua sudah ditakdirkan serta digariskan oleh-Nya,” tutur Parman yang kini benar-benar telah insaf. Dia merasa selalu dihantui oleh mayat yang dicuri kain kafannya itu.</p>
<p>Dimuat di Majalah Misteri Edisi #497 20 Sep- 04 Okt 2010</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/pesugihan-kain-mori-mayat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tragedi Pemuja Ilmu Ronggo Pecuk (oleh:Dawam)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/tragedi-pemuja-ilmu-ronggo-pecuk/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/tragedi-pemuja-ilmu-ronggo-pecuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 09:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Rumah besar di pinggir jalan raya itu, semua orang sudah tahu siapa pemiliknya. Orang-orang menyebut pemilik rumah lumayan bagus untuk ukuran desa itu mbah Dirgo. Entah itu sebutan atau nama... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/tragedi-pemuja-ilmu-ronggo-pecuk/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><a rel="attachment wp-att-40" href="http://majalah-misteri.net/tragedi-pemuja-ilmu-ronggo-pecuk/tragedi/"><img class="alignleft size-medium wp-image-40" title="tragedi" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/01/tragedi-272x300.png" alt="" width="272" height="300" /></a>Rumah besar di pinggir jalan raya itu, semua orang sudah tahu siapa pemiliknya. Orang-orang menyebut pemilik rumah lumayan bagus untuk ukuran desa itu mbah Dirgo. Entah itu sebutan atau nama asli sejak kecil. Yang jelas, mereka tahu bahwa mbah Dirgo adalah dukun kondang, yang pasiennya datang silih berganti, kebanyakan dari luar kota. Ada yang dari Blitar, Malang, Surabaya, Probolinggo, Trenggalek bahkan yang dari Jakarta dan luar Jawa ada juga yang datang minta bantuan mbah Dirgo.<span id="more-39"></span></p>
<p>Kemarin ada orang bertamu ke rumah mbah Dirgo. Dua orang, satu pria dan satunya lagi wanita. Mengendarai mobil merk terkenal dan keluaran tahun paling anyar. Pada salah seorang tetangga mbah Dirgo, keduanya mengaku berasal dari Semarang, Jawa Tengah.</p>
<p>“Benar ini kediaman mbah Dirgo?” Tanya tamu tadi kepada Lukman, tetangga dekat mbah Dirgo.</p>
<p>“Mbah Dirgo dukun serba bisa itu kan?” Lukman balik bertanya, ingin kepastian.</p>
<p>“Betul.”</p>
<p>“Kalau itu yang sampeyan cari, rumah mbah Dirgo memang ini,” Lukman menandaskan. Lelaki dua orang anak yang sehari-harinya pedagang buah di pasar Kalitalun itu lantas mempersilahkan tamunya masuk, karena Lukman telah membantu mengetukkan pintu rumah mbah Dirgo.</p>
<p>“Terima kasih, pak,” ujar si tamu sambil memarkirkan mobilnya di halaman Barat rumah bercat serba kemerahan itu.</p>
<p>Seperti biasanya, mbah Dirgo tak terlalu lama melayani tamu dari Semarang tersebut. Ada banyak orang yang antri untuk ditangani oleh mbah Dirgo. Otomatis masing-masing tamu tak terpuji bila terlalu lama berada dalam kamar praktik mbah Dirgo yang konon sangat menyeramkan.</p>
<p>Menurut desas-desus yang merebak beberapa hari sesudahnya, tamu dari ibukota Jawa Tengah tempo hari itu minta jasa baik mbah Dirgo untuk melenyapkan saingan bisnisnya. Tangan mbah Dirgo yang terlalu gampang untuk membunuh dengan bantuan gaib ilmunya tersebut memang tempat sangat idel untuk keperluan itu. Buktinya, lawan bisnis Karsono, orang Semarang tadi, meninggal dunia dengan cara mengenaskan. Dulaman, musuh usaha Karsono, tertimpa batu sebesar kerbau manakala Dulaman sedang mengawasi kerja anak buahnya di sebuah pabrik pemecahan batu tak jauh dari rumahnya.</p>
<p>Sudah puluhan tahun mbah Dirgo memang terkenal sebagai dukun tenung. Profesi yang digelutinya secara turun temurun, paling tidak, almarhum mbah Dakip, orang tuanya dulu juga kondang sebagai dukun tenung.</p>
<p>Nasib baik masih selalu berada di belakang keluarganya, sebab setiap ada pihak yang mau menghabisi mbah Dirgo, dengan berbagai cara, tak ada yang pernah berhasil. Termasuk saat ramai-ramainya penculikan dukun tenung beberapa tahun silam, mbah Dirgo bisa selamat. Ilmu yang dimilikinya memang cukup ampuh dalam membentengi dirinya dari serangan orang yang tidak menyukai sepak terjangnya. Tak aneh bila lelaki berambut gondrong mirip mbah Surip itu semakin merasa tak tertandingi. Enath sudah berapa orang yang mati secara gaib lewat tangannya, hanya dirinya dan Allah saja yang mengetahui jumlah pastinya.</p>
<p>Sebagai seorang dukun senior, materi yang dikumpulkan dari uang kasih para pasiennya lumayan banyak. Rumahnya bagus, sawah, ladang ada di berbagai tempat. Di dalam daerah tempat tinggalnya mau pun di luar daerah. Jumlahnya bisa puluhan hektar plus tabungan di bank yang cukup menggiurkan jika ditunjukkan kepada orang lain.</p>
<p>Pekerjaan mbah Dirgo yang lain adalah tukang servis dan pendongkrak daya tarik bagi wanita-wanita nakal. Bila seorang wanita yang terjun di dunia kelam telah kurang diminati tamu langganan dan dia datang ke tempat praktek mbah Dirgo, dijamin beberapa hari kemudian wanita tadi pasti kebanjiran order. Tubuh wanita itu yang sebelumnya kusam dan tak mendatangkan selera, bisa kelihatan bahenol, sintal, cantik dan sangat mengundang birahi. Langganannya kembali datang, uang mengalir lagi. Aliran duit tersebut sebagian tentu mengarah ke rumah mbah Dirgo sebagai balas budi. Balas budi yang klimaksnya membikin kekayaan lelaki dengan dua orang isteri dan tiga orang anak tadi makin menggunung.</p>
<p>Untuk membuat makin tajam dan cespleng ilmunya, mbah Dirgo harus mengadakan ritual dan persembahan kepada gaib pembantunya. Diantara ritual tadi adalah meminum darah binatang, utamanya ayam berbulu hitam, berkulit legam. Orang sering menyebutnya dengan ayam cemani. Darah ayam model inilah yang pada saat-saat tertentu harus diminum olehnya. Semakin tak lalai melakukan ritual semakin ampuh dan berjaya ilmunya. Ini diyakini betul oleh mbah Dirgo selama ini.</p>
<p>Manusia, bagaimana juga, ada kalanya di atas, ada saatnya di bawah. Keinginan dan harapan bisa melaju terus tanpa batas, namun umur tidak akan bisa dibendung. Dari muda menjadi tua, tidak bisa dihindari. Demikian juga yang dialami mbah Dirgo. Tanpa disadari, dia sudah makin tak lincah gerak tangan, hentakan kaki dan desah nafasnya pun sudah tak berirama sempurna lagi.</p>
<p>“Bila aku berjalan agak jauh, rasanya seperti mau berhenti nafas ini,” keluh mbah Dirgo suatu ketika pada seorang isterinya.</p>
<p>“Wajar. Usia bapak kan sudah lebih tujuh puluh tahun,” sahut si isteri yang bernama Wakini itu.</p>
<p>“Aku berencana untuk tidak memforsir diri lagi dalam bekerja,” ujarnya dengan wajah kusut masai.</p>
<p>“Lalu, ilmu bapak mau dikemanakan?” Tanya Wakini sambil duduk berjajar dengan suaminya, di bawah rindangnya pohon trembesi tak jauh dari rumahnya.</p>
<p>“Aku telah berusaha untuk sedikit demi sedikit membuang pengaruh ilmu itu dengan mantera-mantera yang telah kuhafal.”</p>
<p>“Hasilnya bagaimana, pak?”</p>
<p>“Karena aku mempunyai banyak ilmu, perlu waktu lama untuk membuangnya satu persatu.”</p>
<p>“Tidak ada yang diwariskan pak?”</p>
<p>“Anak-anak kita tak ada yang berminat,” kata mbah Dirgo setengah mengeluh.</p>
<p>“Kepada orang lain, bagaimana pak?”</p>
<p>“Hingga saat ini belum pernah kulihat orang datang kemari untuk keperluan itu.”</p>
<p>“Lalu?”</p>
<p>“Ya. Sudah resiko kita, Wakini.” Mbah Dirgo memandang ke alam lepas. Alam yang di atas sana bergulung-gulung awan kelabu, bahkan berubah menghitam, pertanda hujan akan segera mengguyur mayapada.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, mbah Dirgo jatuh sakit. Awalnya hanya pusing-pusing biasa. Realitanya rasa pusing ini semakin parah dan berganti dengan munculnya bintik-bintik merah hampir di sekujur tubuhnya. Berbagai macam cara ditempuh untuk menghalau penyakit aneh ini. Obat modern, jamu-jamu herbal dan banyak usaha lain yang ditempuh, belum juga mampu mendatangkan hasil memuaskan. Bahkan keadaan dirinya makin parah dengan tekanan darahnya yang terus melonjak tinggi.</p>
<p>Orang-orang yang sebelumnya berusaha membantu dengan caranya masing-masing, mulai menjauh. Mereka sudah angkat tangan. Tanpa ingin mendahului kehendak Yang Maha Kuasa, dalam hati kecil mereka sudah tertanam keyakinan bahwa mbah Dirgo tinggal menghitung hari saja sebagai penghuni bumi ini.</p>
<p>“Kasihan dia,” bisik seseorang yang sempat berkunjung ke rumah mbah Dirgo.</p>
<p>“Sejak beberapa bulan sebelumnya, kabarnya mbah Dirgo lupa mengadakan ritual minum darah ayam. Benar demikian, kang?”</p>
<p>“Aku kurang tahu masalah itu, Dik. Itu urusan mbah Dirgo dan keluarganya. Kita sebaiknya hanya ikut berdoa, kalau pun tidak sembuh, mudah-mudahan ada jalan lapang saja bagi perjalanan hidup mbah Dirgo selanjutnya.”</p>
<p>“Ya, kang. Tak baik terlalu jauh menggunjingkan kekurangan orang lain.”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>Saat dua orang ini hendak beranjak pulang, karena sudah lama keduanya di dalam ruangan tempat mbah Dirgo berbaring, terdengar ada rintihan keluar dari mulut dukun itu.</p>
<p>“Uhhhh!” Hanya itu. Kemudian, “Potongkan aku ayam dan ambil darahnya,” ujar mbah Dirgo memelas.</p>
<p>Seorang anaknya yang sedang menunggu di situ segera menuruti kehendak bapaknya. Seekor ayam cemani yang mungkin sudah lama dipersiapkan langsung disembelih dan darah segarnya diberikan kepada bapaknya. Mbah Dirgo segera meneguk darah yang diwadahi cangkir kecil berwarna merah muda.</p>
<p>Baru saja beberapa tetes darah masuk rongga mulut, mbah Dirgo menyemprotkan kembali darah itu keluar. Darah memuncrat, berhamburan ke segala arah, hingga membasahi baju dan wajah beberapa orang yang sedang membesuknya.</p>
<p>Sebelum orang-orang tahu apa yang musti dilakukannya, mbah Dirgo berteriak lantang dan heweeerrrrrr. Crot. Darah kental keluar dari rongga tenggorokannya. Tubuh dukun itu berputar-putar seperti ayam baru dipotong. Sebentar membujur ke arah Utara, sebentar berbalik ke Selatan. Saking menderitanya, tubuh itu seakan terlonjak-lonjak ke atas, setengah berputar dan breg, terjerembab ke dipan kayu berukir di bawahnya.</p>
<p>Darah kental terus termuntahkan seakan tanpa henti. Semprotan darah ada di mana-mana. Di ranjang, selimut, sekujur tubuh mbah Dirgo dan lantai di bawahnya. Ada berliter-liter darah, mungkin, sudah terkuras dari tubuh mbah Dirgo. Tak perlu hitungan tiga detik selanjutnya, tubuh itu telah memutih kehabisan darah. Mereka yang duduk di kanan kiri ranjang hanya melonggo keheranan. Mbah Dirgo telah tiada. Dia meninggal dalam kondisi yang tersiksa dan sangat mengenaskan.</p>
<p>Itulah sebuah kisah nyata yang terjadi di Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Kisah seorang pemilik ilmu sesat untuk menumpuk harta. Kisah ini bersumber dari seorang sahabat penulis yang menyaksikan langsung peristiwa mengenaskan ini. Semoga apa yang terjadi pada mbah Dirgo bisa menjadi peringatan bagi kita. Amin.</p>
<p>(Dimuat di Majalah Misteri #495 Edisi 20 Sept- 4 Okt 2010)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/tragedi-pemuja-ilmu-ronggo-pecuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
