<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Primbon</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/primbon/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jun 2013 03:18:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Mantra Pelet Melayu (Oleh: Yans Jaladara)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/mantra-pelet-melayu/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/mantra-pelet-melayu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 03:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Primbon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=1104</guid>
		<description><![CDATA[Irwan adalah pemuda lugu dan polos yang baru saja datang dari Pulau Bintan untuk menimba ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang ada di bilangan Depok. Walau tergolong baru... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/mantra-pelet-melayu/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_1105" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/mantra-pelet-melayu/primbon/" rel="attachment wp-att-1105"><img class="size-medium wp-image-1105" title="primbon" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2013/06/primbon-300x213.jpg" alt="primbon" width="300" height="213" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasu</p></div>
<p>Irwan adalah pemuda lugu dan polos yang baru saja datang dari Pulau Bintan untuk menimba ilmu di salah satu Perguruan<br />
Tinggi Swasta yang ada di bilangan Depok. Walau tergolong baru menjejakkan kaki di belantara pinggiran Jakarta, tetapi, ia<br />
telah memiliki banyak kenalan, teman bahkan beberapa sahabat yang selalu saja mengerumuninya.<br />
Betapa tidak, karena Irwan adalah sosok yang sangat humoris, pandai bergaul dan menempatkan diri, ringan tangan serta<br />
tergolong pandai pula. Itulah sebabnya, kenapa dalam waktu dekat, semua mahasiswa yang belajar di fakultas itu sangat mengenalnya dengan baik.<span id="more-1104"></span><br />
Bobby, salah seorang seniornya yang pecinta alam itu, terkadang meminta Irwan untuk membantunya dalam<br />
beberapa kegiatan. Akibatnya, keduanya semakin dekat. Boleh dikata, di mana ada Bobby, pasti di situ ada Irwan, begitu<br />
juga sebaliknya &#8212; kebetulan lagi, Laila, adik sepupu Bobby juga satu angkatan dengannya.<br />
Seiring dengan kedekatan keduanya, diam-diam, ternyata Irwan menaruh hati pada Laila. Gadis cantik berkerudung yang<br />
murah senyum serta memiliki cita-cita yang demikian luhur, ingin menjadi sarjana kesehatan masyarakat dan kelak bisa<br />
mengabdikan dirinya di daerah pedesaan.<br />
Cita-cita Laila itulah yang membuat Irwan jatuh hati. Maklum, ia juga bercita-cita ingin mengabdikan diri di kampung halamannya<br />
yang jauh dari keingaran. Kesamaan itu pulalah yang membuat Irwan dan Laila (tanpa Bobby tentunya)<br />
juga sering terlihat jalan atau berbincang bersama tentang berbagai hal, mulai dari<br />
mata kuliah, kehidupan sampai dengan harapan yang diinginkan oleh masing-masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hingga pada suatu hari, usai menjadi di tengah-tengah hamparan sawah yang menghijau dan semilir angin, mendadak<br />
Irwan menghentikan langkahnya. Laila yang berjalan di depannya langsung menoleh<br />
dengan pandangan penuh tanya. Irwan yang melihat Laila seperti itu hanya tersenyum dan langsung berkata dengan<br />
halus; “Lail, sebenarnya, selama ini aku menyimpan perasaan sayang kepadamu.”<br />
Laila tampak terlihat kaget dan terdiam sesaat. Tak lama kemudian, terdengar<br />
suaranya dengan terbata-bata; “Bang Ir, selama ini Lail menganggap abang sebagai<br />
kakak kandung sendiri. Maafkan Lail Bang…”“Ufh …” hanya itu yang keluar dari mulut<br />
Irwan yang seolah hendak melepaskan segala beban yang tiba-tiba serasa<br />
menghimpit dadanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seolah tak ada kejadian yang berartti, keduanya pun kembali meneruskan perjalanannya dalam diam. Sekali ini tak ada<br />
lagi dendang atau gurauan yang terlontar dari mulut keduanya, mereka jadi terkesan<br />
kaku. Irwan dan Laila hanya berjalan menuruti kaki yang melangkah menuju ke tempat truck dan teman-teman lainnya yang memang sudah menunggu. Sepanjang perjalanan bahkan sampai di kampus, tidak ada kejadian yang berarti.<br />
Menginjak hari ketiga, Bobby tiba-tiba datang dan bertanya; “Ir … kenapa tiga hari<br />
ini kau gak pernah main ke rumah lagi?”<br />
“Maaf … Bang, aku gak enak badan,” jawab Irwan dengan gagap.<br />
“Oh … aku kira ada masalah apa…”sahut Bobby cepat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Irwan menggeleng sambil mohon diri untuk segera masuk ke kelas karena dosen<br />
sudah datang. Sepanjang hari itu hati dan pikiran Irwan benar-benar sangat galau.<br />
Bahkan, tak ada satu mata kuliah pun yang bisa atau berhasil dicernanya dengan baik.<br />
Yang ada dalam benaknya hanyalah wajah ayu Laila, gadis yang acap mengenakan<br />
kerudung merah jambu dengan senyumnya yang demikian menawan itu ….<br />
“Ah … bisa-bisa aku mati dalam kubangan cinta yang tak bertepi…” bisik<br />
hatinya mencoba untuk melawan.<br />
Tak lama kemudian, hatinya kembali berbisik; “Tetapi, bagaimana bila aku bisa<br />
mendapatkan ilmu sekaligus cinta …!”<br />
“Ah … yang terakhir harus benar-benar kuperjuangkan. Ilmu sekaligus cinta …”<br />
bisik hatinya dengan mantap. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, hatinya<br />
pun kian bertambah mantap. Perlahan, tapi penuh kepastian, wajah Irwan pun kembali<br />
sumringah seperti sedia kala.<br />
Singkat cerita, usai Ujian Akhir Semester, sementara menunggu hasil ujian dan pengisian Kartu Rencana Studi, kebanyakan, para mahasiswa yang berasal dari daerah kembali ke kampung halamannya masing-masing<br />
&#8212; begitu juga dengan Irwan.<br />
Di kampung halamannya, seperti biasa, Irwan pun yang pulang kampung segera menyambangi semua keluarga dan<br />
sahabatnya. Dan ketika berjumpa dengan pamannya, Irwan pun langsung memeluk dengan penuh sukacita.<br />
Semua hanya tersenyum dan maklum,<br />
Irwan memang paling disayang oleh paman Herman. Dan setelah keduanya sejenak<br />
melepaskan kerinduan dengan saling bertukar kabar, dengan penuh selidik,<br />
paman Herman pun bertanya; “Nampaknya ada sesuatu yang khusus yang akan engkau<br />
bicarakan pada paman?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Irwan tergagap. Ia tak menyangka bakal mendapatkan pertanyaan yang seperti itu. Dengan gagap, ia pun menjawab; “Be .. be …<br />
benar paman.”<br />
“Masalah cinta?” Desak sang paman.<br />
“inilah yang kusuka dari paman…” sahut Irwan yang sudah bisa menguasai diri, “tanpa perlu kita bercerita panjang lebar,<br />
jawaban pasti akan langsung diberikan,” imbuhnya.<br />
“Sekali ini tidak. Engkau harus menceritakan dengan jujur dan apa tujuanmu,” jawab sang paman dengan hatihati.<br />
“Ah …” sahut Irwan sambil menepuk dahinya, “baru kali ini aku melihat paman demikian serius.”<br />
“Engkau sudah dewasa, dan rasanya, enggan paman membantumu jika hanya<br />
untuk mempermainkan atau mengajuk hati perempuan,” sahut sang paman tegas. Dengan singkat dan hati-hati, Irwan pun menceritakan apa yang dialaminya.<br />
Sang paman hanya diam dan sesekali menghembuskan asap rokok yang<br />
dihisapnya ke udara. Keheningan langsung menyungkupi ruang tamu rumah sang<br />
paman … dan tak lama kemudian, terdengar suara sang paman; “Apakah engkau masih mendirikan shalat dengan tertib?”<br />
“Insya Allah masih paman,” jawab Irwan.<br />
“Baik … jangan sekali-kali engkau meninggalkan shalat,” lanjut sang paman.<br />
Irwan hanya mengangguk. Dan kembali sang paman bertanya; “Apakah engkau<br />
benar-benar akan menjadikan Laila sebagai istrimu?”<br />
“Benar paman,” jawab Irwan mantap.<br />
“Berjanjilah kepada Allah, jangan kepadaku. Semoga Allah berkenan<br />
mempersatukan cinta kalian,” imbuh sang paman.<br />
“Dimulai hari Senin, usai mendirikan shalat hajat dua rakaat, bacalah mantra<br />
ini sebanyak 303 kali dan lakukan selama tujuh malam berturut-turut. Selanjutnya,<br />
tiap usai mendirikan shalat fardhu, bacalah mantranya sebanyak tujuh belas kali<br />
sambil tahan napas dan membayangkan wajahnya. Lakukan semuanya dengan penuh<br />
kesungguhan,” papar sang paman panjang lebar.</p>
<p>Irwan hanya diam dan mencatat apa-apa yang diucapkan oleh pamannya. Sementara,<br />
mantra yang harus dibaca adalah sebagai berikut;<br />
selusuh selasih, tebu salak tumbuh di luwah<br />
bersalah engkau kasih,<br />
berdosa aku engkau sembah, berkat aku memakai;<br />
pengasih Allah, pengasih Muhammad,<br />
pengasih Bagindo Rasulullah,<br />
berkat lailla hailallah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena liburan yang cukup panjang, maka, malam itu, kebetulan malam Senin,<br />
Irwan pun langsung menjalankan apa yang diajarkan oleh paman Herman. Hari<br />
terus berganti, pada hari Jumat, minggu berikutnya, pagi-pagi sekali, hp miliknya<br />
tiba-tiba berdering. Irwan agak terkejut, di layar terpampang nama Laila. Laila<br />
yang meneleponnya. Dan dengan harap-harap cemas, Irwan segara mengangkat<br />
sambil langsung mengucap salam;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Assalamu’alaikum.”</p>
<p>“Wa’alaikumsalam,” terdengar jawaban Laila dari seberang sana,lembut, “Bang,<br />
maafkan Lail ya … dan kapan Abang balik ke Jakarta?”<br />
“Mungkin beberapa hari lagi menjelang kuliah Lail,” jawab Irwan dengan hati penuh<br />
rasa gembira.<br />
“Oh … salam buat semua keluarga di kampung ya Bang. I miss You,” jawab Laila<br />
terdengar dengan nada penuh rasa cinta.<br />
“Insya Allah akan abang sampaikan.<br />
I miss You to,” jawab Irwan juga dengan penuh rasa cinta sambil terus melakukan<br />
sujud syukur. Sekembalinya di Jakarta, boleh dikata, di mana ada Irwan pasti ada Laila. Keduanya<br />
terus saja merajut tali kasih sambil menimba ilmu guna mencapai cita-cita masing-masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Dimuat pada edisi majalah misteri 560</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/mantra-pelet-melayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jampi Menjadikan Wajah Berseri-Seri (oleh: Dirgo Suriansyah)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/jampi-menjadikan-wajah-berseri-seri/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/jampi-menjadikan-wajah-berseri-seri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jul 2012 11:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Primbon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuanku dengan Hasan di Bandara Hang Nadim, Batam, beberapa waktu yang lalu, akhirnya terus berlanjut. Maklum, Hasan yang mukim di Tanjung Pinang, kini sedang merintis usaha di bidang rumah makan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/jampi-menjadikan-wajah-berseri-seri/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p>Pertemuanku dengan Hasan di Bandara Hang Nadim, Batam, beberapa waktu yang lalu, akhirnya terus berlanjut. Maklum, Hasan yang mukim di Tanjung Pinang, kini sedang merintis usaha di bidang rumah makan di Batam. Yang paling berkesan dari Hasan adalah wajahnya yang sama sekali tidak pernah berubah. Walau usia sudah menginjak kepala lima, tetapi, ia benar-benar kelihatan awet muda. Dengan kata lain, wajah Hasan sekarang sama dengan wajahnya ketika masih duduk di bangku SMA dulu.<span id="more-782"></span></p>
<p>Ketika hal itu kutanyakan, dengan nada kelakar ia pun mengatakan:</p>
<p>“Sebagai orang Melayu, aku tergolong taat menjalankan jampi-jampi yang</p>
<p>kuanggap bermanfaat.”</p>
<p>“Maksudnya?” Potongku cepat.</p>
<p>“Ya … yang bermanfaat dengan bidang yang kugeluti tentunya,” jawabnya sambil tersenyum.</p>
<p>Aku hanya mengangguk-angguk walau tak mengerti dengan apa yang dikatakannya.</p>
<p>Maklum, walau darah Jawa mengalir kental pada setiap pembuluh darahku, tetapi, keluarga tak pernah menceritakan apalagi mengajarkan berbagai hal yang berbau mistik.</p>
<p>Ketidakmengertianku akhirnya terjawab ketika pada suatu hari libur Hasan</p>
<p>mengajakku untuk singgah di rumahnya di bilangan Tanjung Pinang setelah</p>
<p>menyeberang dengan “ferry” dan dilanjutkan dengan naik angkot, akhirnya, kami pun tiba di depan sebuah bangunan rumah dengan model Melayu.</p>
<p>“Assalamu’alaikum ..” demikian Hasan melakukan uluk salam ketika tiba di depan rumah.</p>
<p>“Wa’alaikumsalam … ayah …,” demikian terdengar suara manja dari seorang anak perempuan yang tengah beranjak dewasa.</p>
<p>Tak lama kemudian, tampak wajah mungil, cantik berkulit putih yang menghambur ke pelukan Hasan. Sang ayah pun langsung membungkuk dan mencium gemas pipi kiri dan kanan anaknya.</p>
<p>“Hasanah … kenalkan, ini Om Dirgo, teman ayah ketika masih SMA dulu.</p>
<p>Sekarang ia pindah tugas di Batam,” ujar Hasan.</p>
<p>Hasanah pun mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya.</p>
<p>“Silakan duduk Om,” lanjutnya.</p>
<p>“Dirgo hanya tersenyum. Belum lama duduk, dan ketika matanya menyapu</p>
<p>beberapa foto yang terpampang di dinding, hatinya langsung tercekat. Betapa tidak, ternyata, Hasan berhasil mempersunting Tuti, sang primadona di sekolahnya.</p>
<p>Belum lagi terjawab beberapa pertanyaan yang melingkar-lingkar dalam benaknya. Dirgo kembali tercekat tatkala daun telinganya mendengar sapaan halus dan merdu; “Dirgo … apa kabar?”</p>
<p>“Baik … baik,” demikian sahut Dirgo sambil menjabat tangan halus yang</p>
<p>diangsurkan oleh tuan rumah.</p>
<p>“Akhirnya …,” hanya itu yang terucap dari mulut Dirgo.</p>
<p>“Ya … akhirnya Hasan yang berhasil menyuntingku. Kegigihannya telah membuat aku jatuh hati kepadanya,” sahut Tuti dengan renyah.</p>
<p>Tuti benar-benar tidak berubah. Selalu ceria sebagaimana waktu sekolah dulu. Itulah yang membuat kenapa ia memiliki banyak teman dan dikenal oleh seluruh guru dan siswa mulai dari kelas satu sampai kelas tiga tak terkecuali para pedagang yang biasa mangkal di sekolah itu.</p>
<p>“Ada apa?” Tanya Hasan sambil duduk dan meminta tolong Tuti untuk menyiapkan minum dan sekadar kudapan.</p>
<p>Tak sampai sepuluh menit, Tuti kembali dengan dua gelas kopi dan sepiring goreng pisang yang masih panas. “Silakan dicoba …kalau tak salah ingat, goreng pisang adalah makanan kegemaranmu.”</p>
<p>“Wah … wah &#8230;, rasanya seperti waktu sekolah … ya,” demikian sahut Dirgo dengan wajah sumringah.</p>
<p>Tanpa banyak basa-basi, akhirnya, ketiga sahabat itu mulai berceloteh tentang indahnya masa SMA dulu. Hasanah yang mulai terlibat pun sesekali menimpali celoteh tersebut dengan istilah-istilah anak zaman sekarang.</p>
<p>Ketika Tuti menanyakan apakah Dirgo jadi mempersunting Sinta, dengan wajah dan senyum kecut terdengar jawaban, “Wah… gagal. Kalah cepat sama Ghafur … aku menikah dengan Alya … adik kelas kita. Anak IPS.”</p>
<p>“Wah … cinta Om Dirgo pernah ditolak ya …,” potong Hasanah, “kenapa tidak</p>
<p>belajar Jampi Wajah Berseri dari ayah,”sambungnya.</p>
<p>“Maksudnya?” Tanya Dirgo penasaran.</p>
<p>“Wah … Om Dirgo tidak tahu kalau kakek dari ayah dan bunda adalah orang pintar, “sahut Hasanah dengan bangga.</p>
<p>Dirgo meminta penjelasan dengan cara menatap wajah Hasan dan Tuti. Keduanya hanya tersenyum sambil menganggukanggukkan kepala tanda mengiakan. Hampir bersamaan, pasangan suami istri itu pun berkata, “Sebagaimana lazimnya keturunan Melayu, aku dan Tuti tergolong taat mengamalkan jampi-jampi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari</p>
<p>kami.”</p>
<p>“Oh …,” hanya kata itu yang terlontar dari mulut Dirgo. Keheningan mulai menyungkupi ruang tamu yang semula dipenuhi dengan gelak tawa. Yang terdengar hanyalah helaan napas berat Dirgo yang tampaknya tengah</p>
<p>berpikir keras. Melihat hal itu, Hasan dan Tuti seolah tak ingin mengganggu lamunan Dirgo yang kala itu tengah terbang entah kemana. Dan tak lama kemudian, setelah menghembuskan napas berat beberapa kali, Dirgo pun berkata dengan nada penuh harap, “Mungkinkah aku dapat pula mengamalkan agar target penjualanku dapat tercapai?”</p>
<p>“Kenapa tidak, almarhum ayah telah memberikan izin kepadaku untuk</p>
<p>mengijazahkan ilmu-ilmu yang ada kepada yang berhak dan ingin mengamalkannya,” sahut Hasan mantap.</p>
<p>Dengan wajah sumringah, Dirgo pun mendengarkan apa yang bakal dikatakan</p>
<p>oleh Hasan lebih lanjut. “Yang perlu menjadi perhatian adalah, semua itu dari Allah SWT … sedang mantra atau jampi hanya merupakan permohonan kepada-Nya,” tutur Hasan lebih lanjut.</p>
<p>“Oleh karena itu, dekatkanlah selalu diri kita kepada Allah SWT, Insya Allah, apa yang diminta bakal dikabulkan. Selanjutnya, syukurilah nikmatnya, maka, engkau bakal mendapatkan yang lebih dari-Nya,” imbuh Hasan.</p>
<p>“Selanjutnya, janganlah menjadi manusia yang kikir. Ingat, di dalam rezeki</p>
<p>yang kita terima, terdapat sebagian rezeki dari kaum dhuafa. Jika hal tersebut bisa engkau jalankan dengan ikhlas, maka, aku bisa mengijazahkan Jampi Wajah Berseri kepadamu,” lanjut Hasan.</p>
<p>Sejenak Dirgo merenung dan akhirnya berkata, “Karena tidak menyimpang dengan ajaran agama, maka, aku berjanji akan menjalankan apa yang tadi engkau katakan dengan ikhlas.”</p>
<p>“Baik, nanti setelah mendirikan shalat Isya berjamaah, Jampi Wajah Berseri akan kuijazahkan kepadamu. Sekarang istirahat dulu, nanti kita mendirikan Maghrib dan Isya berjamaah di surau itu,” ujar Hasan sambil menunjuk ke arah selatan rumah.</p>
<p>Singkat cerita, seusai mendirikan shalat Isya berjamaah, Hasan pun menerangkan tata cara penggunaan Jampi Wajah Berseri sebagai berikut; usai mendirikan shalat Subuh, seiring dengan mentari terbit, ambil embun pada dedaunan dengan menggunakan kedua telapak tangan (jika tidak ada, gunakan segelas air yang diembunkan), kemudian membaca;</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim,</p>
<p>Hai embun mustika embun,</p>
<p>Embun bernama Jalalullah,</p>
<p>Aku memakai mustika embun,</p>
<p>Aku anak aminullah.</p>
<p>“Selain untuk meningkatkan cahaya pada wajah, jampi ini juga bermanfaat sebagai ilmu pekasih. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin divisi marketing, maka, ilmu ini sungguh tepat jika engkau amalkan dengan istiqomah,” papar Hasan menutup pembicaraan. Dirgo pun mengangguk. Dan</p>
<p>benar, karena Allah SWT lewat Jampi Wajah Berseri, akhirnya, Dirgo berhasil menjadi salah seorang yang berhasil di bidangnya.</p>
<p>Bahkan, ia mulai dipromosikan untuk menjadi salah seorang pimpinan cabang di Singapura.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/jampi-menjadikan-wajah-berseri-seri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wifik Penyembuh Beragam Penyakit ( Oleh: Surya Puja Nagara)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/wifik-penyembuh-beragam-penyakit/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/wifik-penyembuh-beragam-penyakit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 08:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Primbon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=748</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, Hasan pun menemukan kitab lusuh yang sudah berbilang waktu dicarinya. Di dalam kitab itu tertulis kata dalam huruf Arab-Melayu; … sebelumnya, ambil wudhu dan kenakan pakaian yang bersih. Kemudian,... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/wifik-penyembuh-beragam-penyakit/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><a rel="attachment wp-att-749" href="http://www.majalah-misteri.net/wifik-penyembuh-beragam-penyakit/primbon1/"><img class="alignleft size-full wp-image-749" title="primbon1" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/06/primbon1.jpg" alt="primbon1" width="312" height="233" /></a>Akhirnya, Hasan pun menemukan kitab lusuh yang sudah berbilang waktu dicarinya. Di dalam kitab itu tertulis kata dalam huruf Arab-Melayu; … sebelumnya, ambil wudhu dan kenakan pakaian yang bersih. Kemudian, dirikanlah shalat Hajat 2 rakaat, lalu, tuliskan ayat-ayat tersebut di bawah ini dengan menggunakan jafaron emas di atas cawan putih, dan tuangkan air putih secukupnya.</p>
<p>Setelah tulisan larut, minum dan basuhkan ke seluruh tubuh. Lakukan selama tiga hari berturut-turut, Insya Allah mustajab.<span id="more-748"></span></p>
<p><em>Hari pertama; Bismillahi r-rahamnir-rahim dzalika takhfifun min Rabbikum wa rahmatun.</em></p>
<p><em>Hari kedua : ar-Rahmanu, dzalika takhfifun min Rabbikum wa rahmatun wa khaliqa l-insanu dla’ifan.</em></p>
<p><em>Hari ketiga: ar-Rahim, al-ana khaffafallahu.</em></p>
<p>Dan benar, setelah hal tersebut dilakukan dengan kesungguhan dan rasa ikhlas, maka, penyakit aneh yang sudah hampir setahun ini diidap Hasan langsung sembuh karena Allah. Sekali ini Misteri akan menurunkan kisah menarik yang dialami oleh salah seorang sahabat yang mukim di salah satu kota di Sumatera Barat Hasan, 32 tahun, sebut saja begitu. Pada masa kuliah di salah satu PTS di Jakarta, Hasan yang berkulit hitam dan bertubuh atletis itu adalah seorang Tim Basket yang banyak digila-gilai para gadis. Betapa tidak, selain ramah dan suka menolong, Hasan juga tergolong mahasiswa terpandai di kampus kami. Praktis, tiap tahun ia selalu berhasil menggondol beragam hadiah. Seusai wisuda tujuh tahun lalu, Hasan sengaja kembali ke kampung halamannya, salah satu kota di bilangan Sumatera Barat</p>
<p>untuk menjadi guru matematika.</p>
<p>“Aku akan mengabdikan tenaga dan pikiran untuk kampung halamanku. Dengan cara itulah</p>
<p>aku bisa membahagiakan ayah dan bunda yang selama ini membiayaiku dengan susah</p>
<p>payah”, katanya ketika kami, lima sahabat, selesai wisuda.</p>
<p>Kami berempat hanya bisa bersalaman sambil saling mendoakan.</p>
<p>Waktu terus bergulir. Baru-baru ini, mendadak Misteri dan beberapa kawan lainnya mendapatkan kabar yang kurang menggembirakan dari Yanti, istri Hasan.</p>
<p>Berita lewat sms itu teramat singkat dan mengejutkan; “Mohon doa kakak</p>
<p>semua buat Uda Hasan, semoga ia kuat menghadapi cobaan ini”.</p>
<p>Tanpa berlama-lama, Misteri langsung menelepon. Ternyata, sudah hampir setahun</p>
<p>Hasan mengidap penyakit aneh. Betapa tidak, tiga rumah sakit besar serta sederet paranormal tak ada yang bisa mendiagnosa penyakitnya dengan tepat. Yang dirasakan Hasan adalah badannya selalu lemas, mual dan kadang muntah serta tiap menjelang malam badannya pasti terserang demam tinggi.</p>
<p>Bahkan, tubuhnya yang semula atletis kini hanya tinggal tulang berbalut kulit tak hanya itu, kulitnya yang hitam legam dan berminyak, kini mulai keriput dan kering. Penderitaan Hasan pun makin lengkap, ia juga terserang oleh batuk kering yang berkepanjangan.</p>
<p>Menurut diagnosa dari beberapa dokter, ia terserang oleh kanker getah bening.</p>
<p>Sementara, sederet paranormal yang didatangi menyatakan ia terkena santet yang demikian ganas bahkan ada pula yang menyatakan betapa ada jin perempuan yang mendambakan balasan cinta darinya.</p>
<p>Sudah barang tentu, diagnosa dari dokter ditambah dengan keterangan dari beberapa paranormal yang didatangi membuat Hasan menjadi bingung pasalnya, ia sama sekali tidak merasa memiliki musuh apalagi menyakiti perasaan orang lain.</p>
<p>Ya … kita berempat benar-benar tahu, semasa kuliah, Hasan tergolong anak yang santun dan langsung meminta maaf bila ia merasa melakukan kesalahan. Inilah beda Hasan dengan kami!</p>
<p>Setelah mendapatkan keterangan yang lumayan lengkap, Misteri langsung menghubungi ketiga sahabat yang lain.</p>
<p>Ardi di Bekasi, Yana di Cirebon dan Hari di Lampung.</p>
<p>Kami sepakat, di minggu pertama bulan depan, seiring dengan adanya libur di hari Kamis dan Jumat, semua akan langsung berangkat untuk menyambangi Hasan.</p>
<p>“Kita bertemu di rumah Hasan”, demikian keputusan Yana.</p>
<p>Waktu terasa berjalan begitu lambat. Pada hari yang telah ditentukan, Misteri pun</p>
<p>berangkat dengan pesawat pertama. Menjelang Dzuhur, Misteri telah sampai di</p>
<p>rumah Hasan.</p>
<p>Ternyata, semua telah berkumpul. Anehnya, Hasan yang dinyatakan sakit, malah menyambut Misteri dengan tertawa.</p>
<p>Sekilas Misteri melihat tubuhnya yang kurus kering tetapi, keceriaannya tetap tak pernah berubah. Sama seperti dulu saat kita masih bersama-sama menimba ilmu dan baru mendapatkan kiriman dari keluarga masing-masing.</p>
<p>Ketika Misteri bersitatap dengan Yana, Ardi dan Hari, ketiganya hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. Ternyata, mereka juga baru saja tiba dan Hasan pun belum sempat bercerita. Hasan bahkan mulai sibuk menyambut tetua kampung dan para tetangga yang datang. Ya … hari itu, keluarga Hasan sengaja menggelar acara syukuran atas kesembuhannya.</p>
<p>***</p>
<p>Malamnya, Hasan pun mulai bercerita. Waktu itu, sehabis melatih Basket di sekolah, mendadak ia merasakan pusing yang teramat sangat. Tubuhnya pun langsung demam tinggi, bahkan sempat</p>
<p>menceracau! Melihat keadaannya, Yanti, sang istri yang baru dinikahinya tiga bulan lalu, langsung membawanya ke dokter terdekat. Dokter pun langsung memberikan rujukan agar Hasan segera dirawat di rumah sakit. Di rumah sakit, dokter pun mulai melakukan diagnosa tetapi apa daya, walau telah melakukan pemeriksaan yang demikian intensif, tetapi, tak seorang pun dokter berhasil menemukan penyakit yang diidap oleh Hasan. Begitu juga halnya dua rumah</p>
<p>sakit lain yang didatangi oleh Hasan.</p>
<p>Karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas penyakitnya, atas saran beberapa tetua kampung, Hasan pun mulai mencoba pengobatan alternatif. Hasilnya pun sama. Malahan Hasan jadi bertambah bingung dengan keterangan mereka yang satu sama lain berbeda.</p>
<p>Beruntung, ayah, bunda dan Yanti selalu memberikan semangat. Akhirnya, pada bulan yang keempat, Hasan pun semakin tekun mendekatkan diri dan berserah kepada-Nya. Sepulang mengajar, jika ia tidak sedang merasa sakit, selalu diisi dengan shalat sunah, mengaji dan shalat wajib tentunya. Bahkan, menginjak bulan kelima Hasan mulai menjalankan puasa sunah Nabi</p>
<p>Daud AS.</p>
<p>Keanehan pun mulai terjadi. Seminggu sejak ia menjalankan puasa sunah, tiap</p>
<p>menjelang senja, terdengar geraman harimau di kebun yang terletak di belakang rumahnya. Mulanya Hasan mengacuhkan saja.Tetapi, karena seisi rumah mendengar geraman tersebut, Hasan pun jadi penasaran.</p>
<p>Pada suatu ketika, bertepatan dengan malam Jumat, Hasan nekat ke luar rumah seusai mendirikan shalat Maghrib. Dengan batere di tangan, ia mencoba mencari sumber dari suara itu. Dan benar, di rimbunan semak di bawah batang pohon durian yang sedang berbuah lebat, Hasan</p>
<p>melihat ada sepasang mata berkilau kehijauan.</p>
<p>Hasan tergugu. Kakinya bak menghujam tanah. Ia tak mampu lagi menggerakkan tubuhnya ketika inyiak (<em>panggilan halus</em> <em>untuk harimau-red</em>) mendekatinya. Ia hanya bisa bertasbih di dalam hati ….</p>
<p>Harimau itu mendekat seolah berkatakata; “Carilah kitab peninggalan datukmu. Insya Allah, penyakitmu akan segera sembuh!”</p>
<p>Dan karena Allah SWT, setelah apa yang tertulis di dalam kitab lusuh itu dijalankan</p>
<p>dengan kesungguhan dan ikhlas, Hasan pun kembali sehat seperti semula. Dan dua hari</p>
<p>kemudian, dengan wajah sumringah, Hasan dan keluarganya melepaskan kepergian kami yang akan kembali ke kota masing-masing sampai di Bandara Tabing.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 536</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/wifik-penyembuh-beragam-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raja Ilmu Pengasih (Oleh: Prayoga Gemilang)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/raja-ilmu-pengasih/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/raja-ilmu-pengasih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 10:45:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Primbon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Membaca judul di atas tentu saja para sahabat membayangkan kehebatan ilmu pengasih yang satu ini. Ya, nama yang saya dapatkan dari sang guru memang demikianlah adanya: Raja Ilmu Pengasih! Bisa... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/raja-ilmu-pengasih/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><a rel="attachment wp-att-26" href="http://majalah-misteri.net/raja-ilmu-pengasih/pengasihan/"><img class="alignleft size-medium wp-image-26" title="pengasihan" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/01/pengasihan-260x300.jpg" alt="" width="260" height="300" /></a>Membaca judul di atas tentu saja para sahabat membayangkan kehebatan ilmu pengasih yang satu ini. Ya, nama yang saya dapatkan dari sang guru memang demikianlah adanya: Raja Ilmu Pengasih! Bisa jadi, sebutan “raja” ini disematkan karena memang sesuai dengan kehebatan yang dimiliki oleh amalan ilmu ini, meski saya sendiri belum pernah sekalipun menguji kehebatannya dengan tujuan untuk memelet seorang gadis yang saya cintai. <span id="more-24"></span>Maklum saja, ilmu-ilmu semacam ini memang tak patut untuk diujicobakan kehebatannya kepada target khusus atau perorangan dalam konteks asmara, sebab efek gaibnya bisa sangat fatal akibatnya. Misalnya saja, jika saya memelet seorang gadis dengan ilmu ini dan saya tidak serius dengannya, atau dalam arti hanya ingin mempermainkannya, maka bisa jadi gadis itu akan mengalami gangguan jiwa yang sulit untuk disembuhkan, sehingga akan merusak masa depan yang bersangkutan. Karena itulah, mengawali tulisan ini, penting saya tegaskan agar para sahabat sekalian jangan menggunakan ilmu ini untuk tujuan main-main, atau hanya sekedar ingin menguji kehebatannya semata.</p>
<p>Penting pula diketahui, amalan ilmu Raja Ilmu Pengasih ini juga bisa digunakan untuk tujuan pengasih yang sifatnya umum. Tentu saja ada rahasia serta kunci-kunci khususnya, yang beberapa di antaranya akan saya beberkan lewat halaman ini.</p>
<p>Sebelum kita bahas lebih jauh, penting saya ingatkan bahwa amalan Raja Ilmu Pengasih ini sesungguhnya ada dua versi. Versi pertama dalam Bahasa Jawa dan versi kedua dalam Bahasa Arab. Yang akan saya beberkan dalam Rubrik Primbon kali ini hanya versi yang berbahasa Jawa saja. Maaf beribu maaf, untuk versi yang berbahasa Arab tidak dapat saya beberkan karena sifat kerahasiaannya yang memang sangat khusus, disamping juga efek gaibnya yang sangat keras. Nah, penting menjadi catatan, ritual Raja Ilmu Pengasih berbahasa Arab inilah yang salah satunya saya gunakan untuk proses pengisian Gelang Kayu Kaukah Berkaromah, sehingga power gaibnya insya Allah sangat baik, seperti yang telah dibuktikan oleh sejumlah orang yang telah memaharinya.</p>
<p>Secara pribadi saya sendiri sangat mempercayai keampuhan power gaib ilmu pengasih bergelar Raja Ilmu Pengasih ini. Mengapa? Karena saya mendapatkan pengijazahan ilmu ini langsung dari seorang yang telah mempraktikkannya sendiri. Beliau dikenal dengan nama Ki Marwan Bongkok. Nama aslinya Ahmad Marwani. Karena tubuhnya bongkok sejak lahir maka ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ki Marwan Bongkok.</p>
<p>Saya mengenal Ki Marwan Bongkok beberapa tahun silam saat berkunjung ke rumahnya yang terletak di lereng Gunung Pulosari, Pandeglang, Banten. Waktu itu usianya sudah 70-an tahun, dan ia sudah mulai sakit-sakitan. Dengan alasan itu maka ia mengundang saya dan mengijazahkan amalan ilmu Raja Ilmu Pengasih ini, baik yang versi Bahasa Arab maupun yang versi Bahasa Jawa.</p>
<p>Waktu itu saya sempat bertanya, “Mengapa Aki tidak mengijazahkan ilmu ini kepada orang lain atau anak-anak Aki sendiri?”</p>
<p>“Kesembilan anak Aki semuanya perempuan, dan Aki pantang mengijazahkan ilmu kepada perempuan. Aki juga tidak memiliki saudara lelaki. Karena itu Aki anggap kaulah orang yang tepat meneruskan ilmu ini,” jawabnya.</p>
<p>Tiga tahun silam Ki Marwan Bongkok menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia yang diperkikarakan sudah mencapai 76 tahun.  Tanpa bermaksud merendahkannya, saya akan menceritakan sedikit mengenai profil guru saya yang satu ini.</p>
<p>Seperti yang saya singgung di muka bahwa sejak lahir Ki Marwan ini sudah cacat, yakni bongkok, dengan kaki kiri yang juga lumpuh sejak lahir, sedang kaki kanannya relative normal. Oleh karena keadaannya yang sedemikian, bila berjalan ia harus menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya.</p>
<p>Karena tubuhnya yang bongkok itu, maka bila berdiri berendengan dengan saya yang bertinggi badan 172 senti, Ki Marwan hanya setinggi perut saya. Bisa dibayangkan bagaimana sosok pria ini, bukan?</p>
<p>Tetapi tunggu dulu! Walau secara fisik ia memiliki keterbatasan dan banyak kekurangan, tapi dalam soal asmara Ki Marwan ini bisa dibilang jagonya. Bayangkan saja, seumur hidupnya ia sudah menikahi 23 orang wanita yang menurutnya semuanya cantik. Maksud saya bukan dinikahi dalam waktu bersamaan, namun statusnya kawin cerai dan bila dihitung sudah berjumlah sedemikian itu.</p>
<p>Bahkan, dalam ceritanya kepada saya, Ki Marwan mengaku pernah menyatukan ke-4 orang isterinya dalam satu rumah sekaligus. Dan, dari keempat isterinya inilah Ki Marwan mendapatkan 9 orang anak yang kesemuanya perempuan. Ketika meninggal ia sudah memiliki beberapa puluh orang cucu dan cicit.</p>
<p>Yang juga terasa unik, katika saya bertemu dengannya ternyata Ki Marwan masih beristerikan seorang wanita yang usianya terpaut jauh dengannya. Saya taksir isteri Ki Marwan ini baru berusia sekitar 40-an tahun. Dan menurut Ki Marwan perempuan inilah yang terhitung sebagai isterinya yang ke-23.</p>
<p>“Insya Allah ini yang terakhir, sebab saya sudah tua dan sakit-sakitan!” celotehnya sambil terkekeh-kekeh. Dan memang perempuan yang saya sapa sebagai Umi Leha itu akhirnya menyandang status sebagai isteri terakhirnya, sebab tak lama kemudian Ki Marwan Bongkok tutup usia.</p>
<p>Masih tentang Ki Marwan Bongkok. Dalam bincang-bincangnya dengan saya ia juga sempat menceritakan pengalaman masa mudanya yang sangat menyedihkan. Ketika itu ia masih tinggal di kampung halamannya di daerah Malimping, Banten Selatan. Ia mengalami masa-masa yang sangat sulit. Akibat penampilan fisiknya yang penuh dengan kekurangan itu ia banyak dihina oleh gadis-gadis di desanya. Jangankan bisa memikat hati mereka, untuk sekedar bertegur sapa saja tak ada seorang gadis pun yang sudi melayaninya.</p>
<p>Sampai suatu ketika ia mendapatkan pengalaman yang sangat pahit. Seorang gadis meludahi wajahnya hanya karena ia nekad menyapanya. Gadis itu bernama Salmah, putri kepala desa setempat. Berawal dari kepahitan inilah Marwan muda kemudian pergi mengembara meninggalkan desanya. Sampai kemudian pengembaraanya berakhir di sebuah desa terpencil di Kediri, Jawa Timur. Di tempat ini ia mesantren selama bertahun-tahun, dan dari Kyai-nya pula ia diberi ijazah amalan ilmu Raja Ilmu Pengasih.</p>
<p>“Korban pertama Ilmu Raja Pengasih, ya si Salmah itu. Padahal waktu itu dia sudah bersuami, tapi Aki tetap nekad memeletnya. Dia bercerai dengan suaminya dan langsung aki nikahi. Warga sekampung jadi geger!” Begitulah cerita Ki Marwan Bongkok sambil kembali terkekeh-kekeh.</p>
<p>Nah, agar para sahabat tidak semakin penasaran, berikut ini saya beberkan amalan ilmu Raja Ilmu Pengasih versi Bahasa Jawa:</p>
<p><strong>BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM. NIAT INGSUN AMATEK AJIKU KI SEMAR PUTIH. TEGUH MAHAL SELAMAT ALLAH ORA KATUN. SERI PUTIH SEJATI PATINING URIP METU SAKING PENGUCAP PENINGGIL MIJIL. SUKMA ANONTON INTENING SANG MAYA PUTIH. BOCAH KEMBAR BINAYUNGAN. YA INGSUN ANAKE ARJUNA PUTRI. KAIRING KI SEMAR PUTIH. NYAI KILUYU TEKA WELAS TEKA ASIH TEKA KEDAK TEKA LEREK. TEKA TALUH TEKA SUJUD ROHE SI JABANG BAYI “SEKALIAN MANUSIA” MARANG ROH SI JABANG BAYIKU….(sebut nama sendiri). LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSUULULLAAH.</strong></p>
<p>Cara mengamalkannya:</p>
<p>-                           Puasa mutih 3 hari 3 malam dan patigeni sehari semalam. Maksud puasa mutih di sini sahurnya hanya makan nasi putih dan minum air putih. Namun ketika berbuka yang boleh dimakan hanya 3 biji pisang emas dan segelas air putih. Ingat, Anda diperbolehkan makan setelah waktu Isya, namun yang boleh dimakan khusus hanya makanan yang tidak berasal dari bahan-bahan yang bernyawa (Inilah yang dinamakan puasa mutih menurut Ilmu Hikmah, jadi sedikit berbeda dengan puasa mutih versi Kejawen).</p>
<p>-                           Lakukan ini selama 3 hari berturut-turut, dan pada hari terakhir (hari ketiga) hendaklah melakukan patigeni. Maksudnya, setelah waktu Isya Anda meniatkan diri untuk tidak tidur, tidak makan dan minum pada malam itu hingga siang hari (hari keempat), sampai kemudian berbuka pada waktu Magrib dengan sepiring nasi putih dan segelas air putih juga. Setelah masuk waktu Isya Anda sudah diperbolehkan makan seperti biasanya.</p>
<p>-                           Yang penting diingat, ritual puasa ini sangat baik dan jauh lebih berbobot bila dimulai pada hari weton/kelahiran Anda.</p>
<p>-                           Selama menjalankan puasa tersebut Anda harus membaca amalan di atas sebanyak kemampuan Anda tanpa perlu dihitung bilangannya. Semakin banyak tentu semakin baik. Bacalah setiap habis sholat fardhu dan malamnya sehabis sholat Hajat atau Tahajud.</p>
<p>-                           Setelah tamat menjalankan ritual puasa sebagaimana dijelaskan di atas, amalan di atas cukup dibaca sekali saja setiap hari, terutama ketika Anda akan melakukan aktivitas di luar rumah. Setelah membacanya usapkan kedua belah telapak tangan ke wajah. Insya Allah wajah Anda akan menawan, berkharisma dan muda menarik hati siapa saja yang melihatnya.</p>
<p>Lalu, bagaimana jika hendak ditujukan untuk menawan hati sang pujaan hati? Mudah saja. Lafadz “SEKALIAN MANUSIA” (sengaja saya beri tanda kutip agar mudah mengingatnya) diganti dengan nama orang yang Anda tuju. Tetapi ingat, setelah berhasil menawan hatinya maka Anda harus menikahinya. Jangan sekali-kali menggunakan ilmu ini untuk tujuan balas dendam atau mencari kepuasan semata. Gunakanlah hanya untuk tujuan  mencari pasangan hidup sesuai dengan kehendak dan ridho Allah, atau untuk tujuan positif agar Anda disukai oleh banyak orang.</p>
<p>Demikianlah uraian mengenai amalan ilmu Raja Ilmu Pengasih versi Bahasa Jawa. Sekedar catatan, perbedaan signifikan ilmu Raja Ilmu Pengasih versi Bahasa Jawa dengan versi Bahasa Arab hanya terletak pada manteranya, sedangkan cara ritualnya hampir sama persis. Akan tetapi yang istimewa, Raja Ilmu Pengasih dalam Bahasa Arab khasiatnya lebih dahsyat dan bisa juga digunakan secara khusus untuk tujuan perorangan namun di luar konteks asmara. Misalnya saja untuk menundukkan majikan, atasan, pejabat, suami atau isteri, dan siapa saja sesuai dengan kepentingan kita. Dengan alasan inilah maka saya sengaja memilih ritual Raja Ilmu Pengasih versi Bahasa Arab ini untuk proses pengisian Gelang Kayu Kaukah Berkaromah, disamping pula amalan Ilmu Hikmah lainnya.</p>
<p>Penting diingat, segala ilmu hanya akan berdayaguna bila kita istikomah dalam mengamalkannya. Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada kesalahan besar ataupun kecil. Insya Allah, Tuhan meridhoi kita semuanya…!</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/raja-ilmu-pengasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
