<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Persekutuan Gaib</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/persekutuan-gaib/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jun 2013 03:18:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Istriku Pemuja Pesugihan Pocong  (oleh: R.Mujiati)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/istriku-pemuja-pesugihan-pocong-oleh-r-mujiati/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/istriku-pemuja-pesugihan-pocong-oleh-r-mujiati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Apr 2013 11:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=1085</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu, warung soto Akmadi yang ada di Kota Mojokerto ramai sekali. Pada jam makan siang, warung makan yang letaknya cukup dekat dari Alun-Alun Kota Mojokerto memang selalu penuh sesak... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/istriku-pemuja-pesugihan-pocong-oleh-r-mujiati/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_1086" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/istriku-pemuja-pesugihan-pocong-oleh-r-mujiati/pesugihan-pocong/" rel="attachment wp-att-1086"><img class="size-medium wp-image-1086" title="pesugihan pocong" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2013/04/pesugihan-pocong-300x294.jpg" alt="pesugihan pocong" width="300" height="294" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p style="text-align: left;">Siang itu, warung soto Akmadi yang ada di Kota Mojokerto ramai sekali. Pada jam makan siang, warung makan yang letaknya cukup dekat dari Alun-Alun Kota Mojokerto memang selalu penuh sesak pembeli. Mereka yang makan tidak saja dari orangorang tua, namun, ada juga keluarga muda, bahkan anak-anak yang masih remaja juga ikut menikmati lezatnya warung soto Akmadi.</p>
<p style="text-align: left;">Jika sudah begitu suasana menjadi riuh seperti di pasar. Sambil makan, tidak sedikit dari pembeli yang asyik bercanda dan bertelepon ria. Bahkan ada yang fotofoto sambil menunggu pesanan yang belum datang.</p>
<p style="text-align: left;">Saat potret memotret, tidak ada yang menghebohkan dan hasilnya biasa saja. Konon, justru setelah tidak berada di warung milik Akmadi peristiwa aneh itu baru terjadi. Saat hasil fotonya dilihat di</p>
<p style="text-align: left;">layar tampak keanehan, yaitu salah satu yang dipotret itu ternyata seperti sedang di pangku sesuatu yang aneh berwarna putih menyerupai wujud pocongan. Dari beberapa pemotretan hanya sebuah foto</p>
<p style="text-align: left;">yang menampakkan gambar seperti itu.<span id="more-1085"></span></p>
<p style="text-align: left;">Berita foto penampakan orang yang dipangku pocongan tersebut ternyata cepat menyebar, termasuk gambarnya juga menyebar dari handphone ke handphone lain. Setelah kehebohan itu, justru malah</p>
<p style="text-align: left;">ada beberapa orang yang mengaku melihat penampakan pocongan yang sedang memangku seorang pembeli saat mereka berada di warung tersebut. Herannya, setelah ada peristiwa itu, justru yang lain malah ikut-ikutan menambah-nambahi.</p>
<p style="text-align: left;">Ada lagi yang menyebutkan jika orang yang sering makan di warung tersebut bisa-bisa akan dijadikan tumbal pesugihan pocong. Tak menunggu waktu lama, akibatnya isu itu warung makan milik Akmadi sepi pembeli.</p>
<p style="text-align: left;">Akmadi yang merasa tidak melakukan apa-apa dan tidak mengetahui isu pesugihan itu, menjadi heran sendiri. Hari itu, tidak ada seorang pembeli pun yang makan di warungnya. Kemarin masih ada satu-dua orang pembeli, namun sekarang tidak ada sama sekali yang mampir di warungnya. Istrinya yang biasa membantu melayani pembeli sudah pulang terlebih dulu, mungkin karena warungnya sepi.</p>
<p style="text-align: left;">Akmadi merasa lelah sekali hari itu. Jika dulu badannya lelah karena melayani pembeli, sekarang badannya lelah menunggu pembeli yang tidak ada satupun yang datang. Capek melayani pembeli</p>
<p style="text-align: left;">membuat hatinya senang. Tapi capek karena tidak ada pembeli tidak hanya membuat badannya yang lelah, tapi hatinya juga merasa nelangsa.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam hati, lelaki ini terus bertanyatanya, ada apa ini, kenapa hanya dalam waktu tidak sampai seminggu warungnya menjadi tidak ada pembeli sama sekali?</p>
<p style="text-align: left;">Malam itu, sebelum menutup warungnya, Akmadi sudah bertekad akan mencari jawabannya. Ia akan menanyakan hal itu kepada salah seorang temannya, yang sama-sama membuka warung di sekitar</p>
<p style="text-align: left;">situ.</p>
<p style="text-align: left;">Dulu, warung soto milik Akmadi yang ada di Kota Mojokerto itu tak pernah sepi pembeli. Setiap kali dibuka mulai pukul 09.00-21.00 WIB, warung itu selalu ludes diserbu pembeli yang ingin menikmati</p>
<p style="text-align: left;">sotonya yang sebenarnya banyak terdapat di tempat lain. Warung soto milik Akmadi seolah menjadi ciri khas Kota Mojokerto.</p>
<p style="text-align: left;">Orang-orang dari luar Kota Mojokerto juga banyak yang mengenal dan suka makan di warung sotonya jika kebetulan melintasi Kota Onde-Onde ini. Di samping rasanya yang memang enak, harganya</p>
<p style="text-align: left;">juga terjangkau. Begitu rata-rata alasan pelanggannya.</p>
<p style="text-align: left;">Sekitar pukul 21.00 WIB, Akmadi menutup warungnya. Ia menyempatkan keluar sebentar untuk menengok ke kanan dan kiri, barangkali ada calon pembeli. Tapi, malam itu memang kelihatannya</p>
<p style="text-align: left;">tidak ada seorang pun yang akan mampir di warungnya. Ia melihat beberapa warung yang menyediakan menu lain, selain soto, telah tutup dan hanya warung milik Tono, penjual sate ayam yang masih buka.</p>
<p style="text-align: left;">Sebelum menutup warungnya, Akmadi sempat menarik nafas dalam-dalam sembari berucap dalam batin, mungkin sepinya warung soto ini adalah cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebab, dulu</p>
<p style="text-align: left;">sewaktu warungnya ramai ia lupa bersyukur atau kurang bersyukur. Karena itu ia harus tabah dan sabar dalam menghadapinya.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan sabar, ia yakin tidak akan membuat hatinya semakin gelisah Malam itu, usai menutup warungnya,</p>
<p style="text-align: left;">Akmadi mendatangi Pak Tono, penjual warung sate ayam yang masih satu deretan dengannya. Ia berkeluh kesah kepada temannya yang asal Madura itu tentang warungnya yang tiba-tiba menjadi sepi</p>
<p style="text-align: left;">pembeli.</p>
<p style="text-align: left;">“Jadi kamu sendiri belum mendengar tentang isu mengenai warungmu, Di?” Tanya temannya tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">“Belum, memangnya ada apa, No?”</p>
<p style="text-align: left;">Akmadi balik bertanya. Tono akhirnya menceritakan apa yang didengarnya secara terperinci. Mulai dari</p>
<p style="text-align: left;">foto salah seorang yang katanya dipangku pocongan sampai warungnya yang sewaktu-waktu bisa minta tumbal. Tak hanya bercerita, Tono juga menunjukkan gambar seorang gadis yang katanya dipangku pocongan lewat telepon genggamnya.</p>
<p style="text-align: left;">Mendengar cerita itu, Akmadi hanya geleng-geleng kepala sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam. Tapi, saat ditunjukkan gambar gadis yang katanya dipangku pocongan, Akmadi kurang yakin jika gambar itu diambil di warungnya.</p>
<p style="text-align: left;">Sebab, latar belakangnya tidak jelas dan bisa saja foto itu hasil rekayasa seperti fotofoto artis yang sering didengarnya di berita infotaiment di televisi. Ia yakin bahwa isu itu dihembuskan orang yang tidak senang pada warungnya. Tapi, siapa yang tega melakukannya?</p>
<p style="text-align: left;">Malam itu, dengan perasaan galau Akmadi pulang ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dengan berjalan kaki. Barang dagangannya ditinggalkan begitu saja di warungnya, tanpa ada yang dibawa pulang.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti biasanya Ia masuk ke dalam rumahnya yang sudah sepi dan pintunya tidak dikunci.</p>
<p style="text-align: left;">Mungkin istri dan anaknya yang sudah berumur 7 tahun sudah ketiduran sehingga sampai lupa mengunci pintu rumah, batin lelaki ini. Tapi, sampai di ruang tengah dan di dekat kamar yang biasa digunakan untuk menaruh barang-barang,Akmadi mendengar sesuatu yang aneh. Suara itu lirih sekali, tapi ia seperti mengenali siapa yang menguncapkan kata-kata yang berulang-ulang menyerupai pembacaan mantera itu.</p>
<p style="text-align: left;">“Kadang jin mayit, kadang jin duit! Kadang jin mayit, kadang jin duit!” begitu kalimat itu terdengar sampai berkali-kali. Tiba-tiba datang hembusan angin yang entah dari mana asalnya.</p>
<p style="text-align: left;">Akmadi yang sedang mendekati ruangan itu sampai dibuat merinding bersamaan dengan datangnya tiupan angin tersebut. Sementara dari dalam kamar, Akmadi masih mendengar suara yang mengucapkan mantera berulang-ulang itu. Tiba-tiba lagi terdengar suara seperti benda jatuh. Setelah itu suasana kembali sunyi.</p>
<p style="text-align: left;">Saat Akmadi memberanikan diri untuk mengintipnya, ternyata di dalam kamar istrinya sedang menghadapi sebuah benda yang terbungkus kain putih meyerupai wujud pocongan.</p>
<p style="text-align: left;">Tak kalah kagetnya, saat benda menyerupai pocongan itu dibuka ternyata di dalamnya berisi uang tunai yang jumlahnya menggiurkan saking banyaknya. Akmadi seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi, rasa penasaran membuat keberaniannya muncul untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan istrinya.</p>
<p style="text-align: left;">“Apa yang kamu lakukan, Sri?!” tanya</p>
<p style="text-align: left;">Akmadi menyebut nama panggilan istrinya yang bernama lengkap Sriatun itu.</p>
<p style="text-align: left;">Sri terkejut, namun cepat-cepat wajahnya berganti dengan senyuman begitu mengetahui yang datang adalah suaminya.</p>
<p style="text-align: left;">“Kita kaya raya, Mas! Kita kaya raya, Mas! Lihat ini, semuanya adalah uang!</p>
<p style="text-align: left;">Tidak apa-apa warung soto kita sekarang sepi, tapi sekarang kita bisa menjadi kaya raya dengan uang ini!” Ucap istrinya menyakinkan Akmadi.</p>
<p style="text-align: left;">“Jadi selama ini diam-diam kau memuja pesugihan pocong, Sri? Berarti benar apa yang diisukan orang-orang tentang warung soto kita, Sri?!” Tanya Akmadi seolah masih belum percaya dengan apa yang dilakukan istrinya.</p>
<p style="text-align: left;">Sriatun tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ia diam seperti mengiyakan atas semua yang telah terjadi. Akmadi sempat tidak setuju dengan apa yang dilakukan istrinya yang menghalalkan segala cara</p>
<p style="text-align: left;">untuk mendapatkan kekayaan. Ia takut bahwa semua itu akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik, membutuhkan tumbal misalnya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab semua sudah</p>
<p style="text-align: left;">dilakukan istrinya tanpa sepengetahuannya. Dan, penyesalan itu semakin mendalam saat anak semata wayangnya meninggal di jalan raya akibat ditabrak kendaraan bermotor sepulang dari sekolah. Akmadi</p>
<p style="text-align: left;">sempat menduga, jangan-jangan itu akibat tumbal bagi mereka yang memuja pesugihan pocong? Tapi, pikiran itu sirna saat ia hanyut dalam kenikmatan yang dihasilkan dari memuja pesugihan pocong yang dilakukan istrinya.</p>
<p style="text-align: left;">Konon, selain bisa menarik harta benda secara langsung yang menyerupai pocongan, mereka yang menganut pesugihan pocong juga ikut terbantu jika mempunyai usaha warung makanan, dagang dan sejenisnya. Caranya, pocong pesugihan itu bisa menarik pelanggan.</p>
<p style="text-align: left;">Pelanggan bisa merasa nyaman, betah, dan ingin kembali ke tempat yang diikuti pocong pesugihan.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi apa yang dilakukan Sriatun, istri Akmadi, tentu saja tak sebanding dengan resiko yang harus mereka tanggung. Kenikmatan duniawi yang mereka reguk akan sirna dalam sekejapan mata. Tapi siksa dikemudian hari harus mereka tanggung sepanjang masa. Sebuah perbuatan tercela yang tak pantas untuk diikuti.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Dimuat pada edisi majalah misteri 557</p>
<p style="text-align: left;">
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/istriku-pemuja-pesugihan-pocong-oleh-r-mujiati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ritual Pesugihan Omyang Jimbe (oleh: eka supriatna)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 12:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual Pesugihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_368" class="wp-caption alignleft" style="width: 294px"><a rel="attachment wp-att-368" href="http://majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/omyang-jimbe/"><img class="size-medium wp-image-368" title="omyang-jimbe" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/omyang-jimbe-284x300.png" alt="" width="284" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui masalah yang berarti. Kami hidup rukun dengan segala kebutuhan rumah tangga yang selalu bisa aku penuhi. Dua orang putraku pun bisa bersekolah dengan layak, salah satunya sudah duduk dibangku perguruan tinggi dan adiknya masih di bangku SLTP.<span id="more-367"></span></p>
<p>Tapi suatu ketika musibah datang beruntun dan langsung membuatku ambruk hingga tenggelam ke dasar lumpur kenistaan. Padahal baru saja dua bulan aku mengambil kredit di sebuah bank swasta nasional yang nilainya 700 juta rupiah. Untuk mendapatkan kredit sebesar itu, aku mengagunkan rumah yang aku tempati bersama isteri dan anak-anakku. Uang sejumlah itu aku gunakan untuk modal usaha karena aku sudah lama mendapatkan klien dari Singapura mengirim hiasan rumah tradisional.</p>
<p>Seperti disambar petir di siang bolong, hari itu aku mendapat kabar bahwa barang yang kupesan dari para pengrajin di Tasikmalaya tidak bisa dikirimkan. Alasan mereka belum mendapatkan bayaran sejak 3 bulan lalu. Para pengrajin itu menuntut pembayaran semua barang yang mereka kirim senilai hampir setengah milyar. Padahal aku sudah membayarkan semua hak mereka tanpa ada yang aku tunda-tunda. Pembayaran itu aku lakukan melalui kasir dan orang kepercayaanku.</p>
<p>Tak hanya itu, masalah lain timbul dari klienku yang di Singapura, dia menuntut aku untuk segera mengirimkan barang pesanannya. Panik bukan kepalang, di satu sisi aku harus membayar uang kepada para pengrajin di Tasikmalaya. Di sisi lain aku dituntut untuk mengirim barang ke Singapura atau kontrak yang telah kubangun akan segera diputuskan. Artinya aku akan kehilangan klien sekaligus harus membayar utang yang segunung jumlahnya.</p>
<p>Yah, tentu saja bukan aku tidak berusaha mencari jalan keluar. Aku sudah melaporkan penggelapan uang, penipuan dan korupsi pada Kepolisian. Tapi apa pun itu, tidak membuat usahaku lancar. Aku kehilangan klien karena ulah karyawanku yang membawa kabur uangku. Aku tak tahu ke mana harus mencarinya lagi. Alamat yang ditinggalkannya ketika melamar pekerjaan 4 tahun lalu ternyata palsu. Aku sudah menelusuri semua jejak yang pernah dia tinggalkan, tapi semua nihil.</p>
<p>Singkat cerita, aku benar-benar terpuruk, usahaku hancur dan rumahku disita bank karena aku tak mampu membayar hutang. Aku ngontrak di sebuah rumah petakan di Cinere. Tapi itu belum bisa membuat hidupku tenang. Karena para pengrajin di Tasikmalaya masih terus memburuku karena aku masih mempunyai hutang pada mereka sejumlah hampir 400 juta rupiah. Nyaris setiap hari aku didatangi orang yang menagih hutang ke rumah kontrakanku. Dan hampir setiap jam telepon genggamku berdering oleh orang-orang yang menagih hutang.</p>
<p>Keterpurukanku itu berlangsung hingga tahun 2009. Sepanjang dua tahun, hidupku benar-benar hancur, untuk mencari makan saja aku harus meminta bantuan ke mana-mana. Anak sulungku terpaksa harus berhenti kuliah karena aku tak sanggup lagi membiayainya. Isteriku setiap hari harus ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan dan makanan kecil di depan kontrakan. Sementara hutangku masih menggunung dan aku hanya mampu menjanjikan pada para pengrajin di Tasik, bahwa suatu hari aku pasti akan melunasi semua hutang-hutangku.</p>
<p>Hari itu temanku Haris memperkenalkan aku pada seorang temannya yang bernama Edi. Menurut Haris, temannya yang bernama Edi itu bisa membantu menyelesaikan masalahku dengan kekuatan gaib. Tertarik dengan hal itu, aku mengajak Haris bertemu dengan Edi di suatu tempat di bilangan Bekasi. Dan hari itu pula aku diajak Edi bertemu dengan seorang spiritualis yang bernama Wisnu. Dari mas Wisnu inilah aku diberitahu bahwa aku bisa menggelar sebuah ritual untuk mendapatkan sejumlah uang dari gaib.</p>
<p>Menurut Wisnu, spiritualis yang berusia sekitar 45 tahun itu, ritual menarik uang gaib ini menggunakan kekuatan keris Omyang Jimbe. Sebuah keris keramat yang umurnya sudah ratusan tahun. Di rumah Mas Wisnu, aku diperlihatkan sebuah keris yang di kepalanya berhias dua orang yang nampak sedang semedi. Itulah yang disebut Mpu Omyang Jimbe pembuat keris pusaka yang kekuatan gaibnya bisa digunakan untuk menarik uang dari alam gaib.</p>
<p>Aku semakin antusias karena menurut Mas Wisnu tak perlu tumbal untuk mendapatkan uang dari alam gaib itu. Meski dengan ritual yang teramat sakral tapi gaib penghuni keris itu tidak meminta tumbal pada pelaku ritual. Gaib itu hanya menuntut agar pelaku ritual itu berlaku jujur. Sebab uang yang bisa ditarik dari alam gaib itu hanya boleh dipergunakan untuk membayar hutang atau pelakunya benar-benar dalam keadaan terdesak. Selain itu jumlah uang yang bisa didapatkan pun terbatas sesuai dengan kebutuhan pelaku itu sendiri.</p>
<p>Yah, dengan bermodalkan keyakinan aku menghadap Mas Wisnu untuk mengadakan perjanjian ritual. Aku diminta untuk menyediakan sejumlah sesajian lengkap untuk menggelar ritual itu. Aku harus menyediakan kembang setaman lengkap dengan kemenyan dan uborampe lainnya. Kemudian aku juga diminta untuk menentukan di mana lokasi ritual itu akan digelar. Menurut Mas Wisnu, lokasi ritual itu boleh ditentukan oleh pelaku sendiri. Bisa digelar di tempat keramat atau di mana saja bahkan juga bisa digelar di rumah pelaku sendiri. Tapi karena rumah kontrakkanku terlalu sempit, maka aku memilih menggelar ritual di sebuah tempat keramat di Bogor, Jawa Barat.</p>
<p>Sesuai dengan kesepakatan dan perhitungan primbon Mas Wisnu, siang itu aku berangkat ke rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Hari itu Kamis malam Jumat, berdasarkan perhitungan Mas Wisnu, hari itu adalah hari baik untukku dan keluargaku. Aku berangkat dari rumah Mas Wisnu sekitar pukul 4 sore menuju sebuah tempat keramat di perbatasan antara Jasinga, Bogor dengan Tangerang Banten. Ritual itu sendiri baru akan digelar menjelang tengah malam.</p>
<p>Sesuai perhitungan, kami baru tiba di keramat itu sekitar pukul 8 malam. Setelah meminta ijin pada juru kunci, kami langsung menuju lokasi keramat untuk mengenali situasinya. Ternyata keramat ini memang nampak menyeramkan. Pohon-pohon besar berdiri tegak bagaikan raksasa yang tengah berkacak pinggang. Di bawah pohon-pohon besar itu berdiri sebuah gubuk kecil yang gelap gulita. Hanya ada sebuah lampu minyak yang kadang redup tertiup angin malam.</p>
<p>Beberapa saat aku ngobrol dalam gubuk itu bersama 5 orang yang ikut dalam ritual itu. Aku sendiri ditemani seorang saudaraku yang ingin ikut menyaksikan ritual itu. Selama kami ngobrol, aku merasakan banyak getaran gaib yang menyelimuti tempat keramat itu. Aku yakin tempat itu pasti dihuni oleh banyak makhluk halus yang tak kasat mata. Dan setelah ngalor ngidul kami ngobrol akhirnya waktu yang telah ditentukan untuk menggelar ritual itu pun tiba.</p>
<p>Pukul 11 malam, Mas Wisnu mulai memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan segala sesajian yang kami bawa. Berbagai uborampe digelar dalam cungkup yang luasnya sekitar 10 meter persegi itu. Kembang setaman digelar di atas sehelai kain putih. Perapian mulai dibakar dan sesaat kemudian api mulai menyala membakar arang dalam bokor tembaga. Beberapa batang hio mulai mengepulkan asap yang baunya khas menusuk hidung. Terakhir Mas Wisnu mencabut sebuah keris yang bernama Omyang Jimbe. Keris itu berdiri tegak di atas sehelai kain putih di depan sesajian.</p>
<p>Ritual itu mulai digelar, aku duduk bersila di belakang Mas Wisnu. Berjejer di samping kiriku adalah saudaraku dan seorang anak buah Mas Wisnu. Lalu di samping kananaku dua orang lain yang diajak Mas Wisnu. Segala syarat perlengkapan untuk memanggil kekuatan gaib keris Omyang Jimbe telah siap digelar. Asap hio dan kemenyan pun telah mengepul sejak beberapa menit lalu. Memanggil segala jenis makhluk halus untuk memberi kekuatan pada ritual itu.</p>
<p>Tepat tengah malam, Mas Wisnu mulai membacakan mantera dan jampi-jampi yang aku tak mengerti. Beberapa bait mantera dan jampe-jampe dari bahasa Jawa kuno meluncur dari mulutnya. Sebelum itu Mas Wisnu juga membacakan beberapa Ayat Suci Al Qur’an, maksudnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada para peserta ritual. Sebab menurutnya di tempat seperti itu resiko gangguan makhluk halus pasti sangat besar.</p>
<p>Setelah pembacaan mantera itu selesai, lalu Mas Wisnu memerintahkan seorang asistennya yang masih sangat muda untuk duduk di depan sesajian itu. Sesaat kemudian asisstennya yang masih anak muda itu menutupi sebuah kardus dengan kain putih. Kemudian dia pun membacakan beberapa ayat Suci Al Qur’an sambil duduk bersila di depan sesajian dan kardus itu.</p>
<p>Suasana mulai terasa mencekam manakala anak muda itu usai membacakan manteranya. Bulu kuduku terasa lebih merinding dibandingkan beberapa saat lalu. Aku merasa seperti ada makhluk halus yang tengah memperhatikan gerak-gerikku. Mataku mulai melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan seluruh ruangan cungkup itu. Tapi tak ada apapun di sana, hanya kegelapan malam yang kulihat. Sesekali aku mendengar suara burung hantu dan binatang malam yang membuat suasana makin mengerikan. Aku yakin di situ pasti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanku. Aku merasakan itu karena hampir seluruh bulu dalam tubuhku berdiri. Dadaku pun berdebar makin keras. Naluriku memastikan ada makhluk lain yang ikut dalam ritual itu.</p>
<p>Sedang diliputi rasa takut itu, tiba-tiba blaaarrrr. Kardus yang ditutup kain putih itu seperti meledak menimbulkan suara gaduh. Jantungku seperti mau copot, aku kaget bukan kepalang hingga posisi duduku berubah sedikit mundur bahkan nyaris lari lantaran kaget dan rasa takut.</p>
<p>“Tenang-tenang. Tidak ada apa-apa. Itu hanya sebuah pertanda bahwa ritual kita direstui gaib dan kita nyaris berhasil,” ujar Mas Wisnu manakala melihat keadaanku yang sangat ketakutan.</p>
<p>“Tetap konsentrasi dan jangan bertindak yang bukan-bukan,” lanjutnya.</p>
<p>Sesaat kemudian Mas Wisnu mengambil alih ritual dari anak muda itu. Kembali Mas Wisnu membacakan beberapa bait mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas bokor yang arangnya masih terlihat membara merah. Tak seorang pun yang berani membuka mulut, suasana makin hening mencekam.</p>
<p>“Nah, ritual ini telah selesai. Mari kita lihat apa yang ada dalam kardus itu,” tiba-tiba Mas Wisnu bersuara sambil menunjuk kardus yang tertutup kain putih.</p>
<p>“Silahkan buka kardus itu, Mas Yogi,” tuturnya sambil menatap ke arahku. “Atau kalau sampeyan takut, biar aku saja yang membukanya,” lanjutnya melihat aku yang nampak ragu dan ketakutan.</p>
<p>“Silahkan, mas saja yang membukanya,” jawabku singkat.</p>
<p>Perlahan Mas Wisnu mulai menyingkap kain putih yang menutupi kardus itu. Dadaku masih berdebar, benakku terus bertanya-tanya apa yang ada dalam kardus kosong itu. Sesekali aku bisa melihat raut wajah Mas Wisnu yang nampak was-was. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu. Tapi sedetik kemudian, raut wajah Mas Wisnu nampak berubah. Ada rasa sumringah tatkala dia mulai membuka tutup kardus itu.</p>
<p>“Alhamdulillah, ternyata ritual kita dikabulkan. Silahkan lihat apa isi kardus ini,” tutur Mas Wisnu dengan senyum penuh kebahagiaan.</p>
<p>Dan betapa terkejutnya aku manakala melihat apa yang ada dalam kardus itu. Setumpuk uang pecahan seratus ribuan memenuhi kardus itu. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa tak percaya, aku mengambil segepok uang itu. Setelah kuperhatikan, ternyata benar itu adalah uang yang selama ini aku dambakan untuk melunasi hutang-hutangku.</p>
<p>“Ingat Mas Yogi, pertama kali yang sampeyan lakukan dengan uang ini adalah membayar hutang. Jika hutangmu sudah lunas semua, maka sisanya boleh digunakan untuk apapun,” jelas Mas Wisnu mengingatkanku.</p>
<p>Yah, singkat cerita, kami pulang dengan membawa hasil yang kami harapkan. Dengan uang itu aku membayar seluruh hutangku pada para pengrajin di Tasikmalaya. Aku juga melunasi hutang-hutang kecilku pada teman-teman dan tetangga yang telah membantuku. Anehnya uang itu memang hanya cukup untuk membayar hutang. Hanya tersisa tak lebih dari 2 juta saja dari sisa pembayaran hutang-hutangku itu. Tapi syukur, aku bisa melunasi hutang-hutangku meski kini aku harus mulai kembali usahaku dari nol.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/ritual-pesugihan-omyang-jimbe-oleh-eka-supriatna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-Gara Terjerat Hutang Anak Sendiri Ditumbalkan (oleh:Eko Hartono)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 08:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya, kemiskinan yang menimpa hidup manusia adalah bagian dari cobaan dan ujian. Karena itu kita tidak perlu merasa sedih dan putus asa. Yang terpenting adalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_326" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a rel="attachment wp-att-326" href="http://majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/tumbal-anak/"><img class="size-medium wp-image-326" title="tumbal-anak" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/tumbal-anak-240x300.png" alt="" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi: tumbal anak</p></div>
<p>Sesungguhnya, kemiskinan yang menimpa hidup manusia adalah bagian dari cobaan dan ujian. Karena itu kita tidak perlu merasa sedih dan putus asa. Yang terpenting adalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tetap berikhtiar atau berusaha melalui jalan yang diridhoi Tuhan.<br />
Ingatlah, tak ada makhluk di dunia ini yang tidak dijamin rejekinya oleh Allah. Lagi pula Allah juga tidak akan membebani manusia dengan kesuliatan hidup yang melebihi kemampuannya. Berusaha dengan sungguh-sungguh disertai dengan doa yang khusuk kepada Allah niscaya akan diberikan jalan kelapangan dan kemudahan. <span id="more-325"></span><br />
Mungkin itulah yang seharusnya dilakukan oleh Sugiyanto saat dibelit kesulitan ekonomi yang memberatkan hidupnya. Tapi sayang, akalnya yang pendek, ditambah dengan keimanannya yang lemah, membuat dia nekad menemui seorang dukun sesat. Nah, dari sinilah kisah menyedihkan, sekaligus mengerikan dijalani oleh Sugiyanto.<br />
Bagaimanakah kisah selengkapnya? Kepada Misteri Sugiyanto menceritakan pengalamannya yang terjadi beberapa tahun silam itu&#8230;<br />
Pengalaman yang sangat mencekam dan seumur-umur tidak akan pernah bisa dia lupakan ini sunggu tak ingin diulanginya lagi. Bila mengingatnya, Sugiyanto jadi merinding dan ngeri bukan main. Rasa penyelasan begitu berat menyelimuti hatinya. Ucapan istigfar tak henti-hentinya terucap dari bibirnya yang kering.<br />
Ya, masih terbayang dalam ingatannya adegan sadis dan menyeramkan yang terpampang di hadapan matanya itu. Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan perempuan tua itu memotong-motong tubuh bayi yang masih merah, lalu dengan rakus memakan dagingnya. Dimulai dari kaki, tangan, sampai jantung si bayi yang hanya sebesar buah sawo.<br />
Begitu lahapnya dukun tua itu menyantap tiap bagian tubuhnya, sehingga tak ubahnya seperti sedang menikmati daging ayam goreng. Apakah perempuan tua itu seorang kanibal?<br />
Sugiyanto pernah mendengar tentang kasus mutilasi yang terjadi di tengah masyarakat. Tapi baru kali ini dia melihatnya secara langsung. Bahkan rasanya ini lebih sadis dan tak berperikemanusiaan. Bayangkan, daging bayi dijadikan santapan lezat.<br />
Huak! Sugiyanto sampai tak kuat melihatnya dan ingin muntah. Tapi dia mencoba untuk menahan diri dan tetap diam. Dia hanya bisa menelan rasa jijik itu.<br />
Tiba-tiba, sebuah perasaan bersalah dan berdosa menghujami dadanya. Dia sadar, apa yang telah diperbuatnya ini telah melanggar hukum negara. Lebih dari itu, mengingkari norma agama yang dianutnya.<br />
Tapi apa boleh buat. Sebuah tuntutan, atau lebih tepatnya keterdesakan membuat dia tak punya pilihan lain. Hutangnya yang menumpuk dan telah jatuh tempo harus segera dia lunasi. Bahkan, salah seorang rentenir lewat debt kolektornya mengancam akan menghabisi nyawanya bila dia tak segera melunasi hutangnya.<br />
Dalam keadaan bingung, kacau, putus asa, dan tertekan, Sugiyanto kemudian lari kepada seorang dukun sakti yang konon bisa membantu kesulitannya.<br />
Ssebelumnya, dia memperoleh informasi dari salah seorang kenalannya bahwa di tengah hutan Sonoloyo yang terkenal angker dan wingit, tinggal seorang perempuan tua sakti bernama Nyi Saketi. Konon, siapa saja yang bertemu dengannya dan meminta bantuannya maka bakal dikabulkan. Dengan catatan, mau menjalankan segala apa yang diperintahkannya.<br />
Setelah menempuh perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, akhirnya Sugiyanto berhasil bertemu Nyai Saketi. Perempuan tua itu tinggal sendirian di sebuah gubuk reot di tengah hutan.<br />
Begitu sampai di hadapannya Sugiyanto langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Nyai Saketi mengangguk-angguk. Dia lalu mengemukakan sebuah syarat kepada Sugiyanto untuk membawakan bayi merah yang masih hidup atau baru saja mati. Bayi itu nantinya akan dijadikan tumbal untuk memenuhi permintaan Sugiyanto.<br />
Sebenarnya, sangat berat bagi Sugiyanto memenuhi perimintaan itu. Tapi karena tak ada pilihan lain akhirnya dia menyanggupi. Dia lalu kembali ke kota dan berusaha mencari bayi seperti yang diminta Nyai Saketi.<br />
Agar memudahkan usahanya, Sugyanto hilir mudik di sekitar rumah sakit bersalin. Sempat ada niat untuk menculik bayi yang baru dilahirkan biar lebih cepat, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia takut ketahuan dan dipenjara. Lagi pula kasihan orang tua si bayi.<br />
Secara kebetulan di sebuah klinik bersalin ada seorang ibu melahirkan bayinya dan mati. Dengan pura-pura sebagai kerabatnya, Sugiyanto mengambil bayi yang telah meninggal itu. Dia membungkus bayi itu dengan kain dan memasukkannya dalam tas. Pikirnya, orang tua sang bayi tak akan begitu kehilangan sebab bayinya sudah meninggal. Lagi pula, Nyai Saketi sendiri tak keberatan menerima bayi yang sudah meninggal.<br />
Saat itu Sugiyanto merasa tidak bersalah. Dia kembali ke gubuk Nyai Saketi dan menyerahkan mayat bayi yang baru berusia beberapa jam itu. Tadinya Sugiyanto berpikir, mayat bayi itu hanya akan dijadikan sesaji dan kemudian dikubur. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat Sugiyanto terkejut, tertegun, sekaligus ngeri. Bayangkan, tanpa banyak kata Nyai Saketi memotong-motong tubuh bayi yang masih merah itu dan memakan tiap potongnya seperti layaknya memakan ayam goreng.<br />
Perut Sugiyanto jadi mual dan eneg. Tapi dia  hanya bisa terdiam dan tak berusaha mencegah perbuatan Nyai Saketi. Tampak mulut Nyai Saketi berselemotkan darah.<br />
Mungkin karena sudah kekenyangan, Nyai Saketi tidak memakan semua tubuh sang bayi. Dia hanya memakan tangan, kaki, dan jantungnya. Selebihnya dia meminta Sugiyanto untuk mengubur jasad sang bayi.<br />
Dengan tangan gemetar dan perasaan bercampur aduk tak karuan, Sugiyanto mengubur tubuh mungil itu. Dia masih belum mengerti, apa maksud dari tindakan Nyai Saketi dengan memakan mayat bayi.<br />
Ya, Sugiyanto hanya bisa memendam perasaan tidak mengerti itu dalam hatinya. Dia mencoba tak memusingkan hal itu. Yang lebih penting adalah realisasi dari janji Nyai Saketi yang akan membantu kesulitan hidupnya.<br />
&#8220;Lalu, bagaimana dengan permintaan saya, Nyai?&#8221; tanya Sugiyanto memberanikan diri.<br />
&#8220;Pulanglah! Apa yang kamu inginkan sudah terpenuhi. Hutang-hutangmu bakal lunas dan kamu akan mendapatkan kekayaan!” jawab Nyai Saketi.<br />
Sugiyanto sempat bingung dan tak mengerti. Tapi akhirnya dia pulang juga ke rumah. Dan ketika sampai di rumah, dia sangat terkejut mendengar kabar menggembirakan dari sang isteri.<br />
&#8220;Syukur kepada Tuhan, Mas! Aku sudah dapat hadiah seratus juta rupiah dari undian sabun! Wah, hutang-hutang kita bakal bisa dilunasi semua. Kita tak jadi gembel jalanan,&#8221; seru Haryati, girang bukan main.<br />
Sugiyanto jadi tersenyum senang. Dia yakin, rejeki nomplok yang diterima keluarganya ini, merupakan buah dari kesaktian Nyai Saketi. Dukun sakti itu benar-benar ampuh. Belum lama dia memberikan tumbal mayat bayi, permintaannya langsung terkabul.<br />
Tapi Sugiyanto tak ingin menceritakan tentang Nyai Saketi kepada isterinya. Biar ini menjadi rahasia pribadinya. Yang penting isteri dan anak-anaknya hidup bahagia.<br />
Selanjutnya hidup Sugiyanto seperti ketiban pulung. Rejeki mengalir terus tak henti. Ada saja keberuntungan yang didapat olehnya. Mulai dari dapat pekerjaan dengan posisi mapan, nembus undian, dikasih objekan basah dari teman, sampai dapat komisi jutaan rupiah.<br />
Pokoknya hidup Sugiyanto berubah seratus delapan puluh derajat. Kini dia dan keluarga tidak lagi tinggal di rumah kontrakan yang sempit dan kumuh, tapi sudah punya rumah sendiri yang besar dan mewah.<br />
Dia bisa membeli perabotan luks, ponsel, mobil, dan barang-barang serba mewah lainnya. Pendeknya, kesejahteraan keluarganya terjamin.<br />
Kebahagiaan yang dirasakan Sugiyanto menjadi bertambah ketika isterinya hamil lagi. Berarti dirinya akan memiliki anak ke-3. Tak ada perasaan risau dan khawatir kelak anaknya akan hidup sengsara, karena kekayaannya bisa untuk menghidupi tujuh turunan.<br />
Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Sugiyanto menjaga isteri yang sedang hamil. Hingga akhirnya tiba masa persalinan. Sugiyanto menunggui proses kelahiran itu. Namun betapa terkejut dan terpukul batinnya saat anak yang ditunggu telah lahir, wujudnya sungguh sangat memprihatinkan dan mengerikan. Selain tidak memiliki kedua tangan dan kaki, jantung bayi juga mengalami kelainan. Tak terbayangkan betapa shock, sedih, dan terpukul Sugiyanto mendapati anaknya yang cacat itu.<br />
Tiba-tiba Sugiyanto teringat dengan Nyai Saketi. Jangan-jangan apa yang terjadi ini buah dari perbuatan Nyai Saketi dulu yang pernah memakan mayat bayi. Sesungguhnya, tumbal yang dimaksud Nyai Saketi tak lain adalah anaknya sendiri.<br />
Tidak terima dengan kenyataan ini, Sugiyanto segera ke hutan Sonoloyo untuk mencari Nyai Saketi. Selain ingin meminta bantuan memulihkan keadaan bayinya, Sugiyanto juga berharap Nyai Saketi menarik syarat tumbalnya.<br />
Tapi, sesampainya di tengah hutan Sonoloyo, Sugiyanto tak mendapati gubuk milik Nyai Saketi. Wanita tua itu seperti lenyap ditelan bumi. Ketika Sugiyanto bertanya kepada penduduk sekitar daerah itu, mereka tidak ada yang tahu dan kenal dengan Nyai Saketi.<br />
Dalam keadaan sedih, putus asa, dan kecewa, tiba-tiba Sugiyanto bertemu dengan seorang laki-laki tua berambut putih dan berpakaian sederhana. Orang tua itu sepertinya bisa membaca kesusahan hati Sugiyanto.<br />
&#8220;Ketahuilah, Nak. Sesungguhnya Nyai Saketi yang pernah kamu temui itu bukanlah manusia. Dia adalah penjelmaan setan. Dia tak pernah berusaha untuk membantu kesulitanmu, melainkan justru ingin menghancurkan dan menjerumuskan hidupmu. Mumpung belum terlambat, kembalilah kepada Allah dan bertobat nashuha. Gantungkan sepenuh hidupmu kepada Allah. Niscaya kamu dan keluargamu akan selamat dunia maupun akherat!”<br />
Setelah memberikan wejangan orang tua yang arif dan bijaksana itu kemudian pergi. Seperti mendapat kesadaran baru, Sugiyanto tiba-tiba menangis tergugu. Dia menyadari bahwa semua yang terjadi ini adalah buah dari kesalahannya sendiri.<br />
Sugiyanto segera bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesatnya lagi. Dia akan berusaha menghapus dosa-dosanya dengan banyak melakukan amal kebajikan.<br />
Meski terasa pedih dan berat, Sugiyanto berusaha menerima kenyataan pahit ini. Dia akan tetap merawat dan memelihara anaknya yang cacat. Karena bagaimanapun anak itu adalah amanah dari Allah.<br />
Sugiyanto lalu mengajak keluarganya untuk lebih menekuni sholat dan ibadah yang disyariatkan agama. Dia tidak peduli kekayaannya akan habis guna mengobati dan merawat anaknya yang cacat. Baginya, harta duniawi sudah tidak ada artinya lagi, karena semua itu tak akan dibawa bila dirinya mati.<br />
Setelah berjalan dua tahun, anaknya yang cacat itu dipanggil Yang Maha Kuasa. Meski terasa sedih dan berat, namun Sugiyanto mengikhlaskannya. Mungkin itu lebih baik daripada anaknya harus menderita bila tumbuh dewasa.<br />
Dia sendiri tidak menyesal bila hidup keluarganya kembali jatuh miskin seperti dulu. Dia menerima dengan penuh keridhoan. Dia justru merasa bahagia dan tenang dengan keadaannya yang sekarang. Karena dalam keadaan hidup yang pas-pasan, dia bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan.<br />
Sugiyanto kini berubah menjadi orang yang rajin dan tekun beribadah. Bila kemudian dia berkenan menceritakan pengalamannya ini kepada Misteri, semata untuk peringatan dan pelajaran agar kita semua tidak mengikuti jalan sesat yang pernah ditempuhnya dahulu.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mariana Tundang: AKU PEWARIS ILMU KUYANG (oleh: Ki Dadap Tulis)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/mariana-tundang-aku-pewaris-ilmu-kuyang-oleh-ki-dadap-tulis/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/mariana-tundang-aku-pewaris-ilmu-kuyang-oleh-ki-dadap-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 10:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya, orang yang mendapat warisan tentu sangat bahagia. Namun, siapa yang dapat bahagia bila mendapat warisan ilmu hitam yang sangat mengerikan. Ya, ilmu hitam yang ditakuti oleh hampir semua orang... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/mariana-tundang-aku-pewaris-ilmu-kuyang-oleh-ki-dadap-tulis/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_224" class="wp-caption alignleft" style="width: 257px"><a rel="attachment wp-att-224" href="http://majalah-misteri.net/mariana-tundang-aku-pewaris-ilmu-kuyang-oleh-ki-dadap-tulis/ilmu-kuyang-2/"><img class="size-medium wp-image-224" title="ilmu-kuyang" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/03/ilmu-kuyang1-247x300.png" alt="" width="247" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Foto Pelaku</p></div>
<p>Biasanya, orang yang mendapat warisan tentu sangat bahagia. Namun, siapa yang dapat bahagia bila mendapat warisan ilmu hitam yang sangat mengerikan. Ya, ilmu hitam yang ditakuti oleh hampir semua orang di pedalaman Kalimantan Tengah, bahkan mungkin di seluruh jagat ini. Apalagi, Mariana Tundang, sang pewaris, tak pernah berharap mengenal, apalagi menguasai ilmu yang sangat jahat itu.<br />
&#8220;Kenyataan ini sungguh bagaikan sebuah lingkaran roda nasib yang sangat buruk. Meski aku berusaha untuk menolaknya, namun ilmu itu tetap juga hadir di dalam tubuhku. Inilah kenyataan pahit yang aku alami,&#8221; tutur Mariana dengan pandangan jauh menerawang.<span id="more-222"></span><br />
Ilmu Kuyang, itulah yang diwarisi oleh Mariana Tundang. Dia seorang gadis muda cantik yang berprofesi sebagai bidan. Gadis cantik ini bekerja di Rumah Sakit Pemerintah di Banjarmasin.<br />
Bagaimanakah kisah selengkapnya? Berikut ini adalah ringkasan kesaksian Mariana Tundang, seorang Bidan di Banjarmasin, yang dituturkan langsung kepada Misteri beberapa waktu yang silam&#8230;.<br />
Waktu itu usiaku memang relatif sangat belia. Selepas SMU aku memilih untuk masuk Sekolah Kebidanan. Bidan adalah profesi yang sangat mulia, menurut pendapatku. Penolong para wanita yang akan menjadi ibu. Penolong proses kelahiran seorang bayi yang hadir di dunia ini. Penolong ibu-ibu yang jauh dari dokter, rumah sakit, atau Puskesmas.<br />
Kehadiran bidan di pedalaman memang sangat berarti bagi mereka yang tinggal jauh dari kota. Apalagi di Kalimantan banyak keluarga yang tinggal di tepi-tepi hutan, bahkan berada di dalam hutan belantara. Sebab, mengandalkan para dukun beranak tidak akan menyelesaikan masalah. Jumlah dukun beranak tidaklah memadai. Sangat tidak mencukupi bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang memerlukan pertolongan.<br />
Begitu aku lulus dari Sekolah Kebidanan ternyata aku ditempatkan di Rumah Sakit ULIN di Banjarmasin. Menurut Direktur Rumah Sakit itu, aku dipilih karena aku punya prestasi. Aku adalah lulusan terbaik.<br />
Terus terang, sebenarnya aku lebih senang kalau ditempatkan di Puskesma di pedalaman. Aku lebih suka berada di tengah-tengah orang-orang sederhana, tempat dari mana aku berasal.<br />
Aku bukan tipe gadis yang suka hura-hura. Aku bukan pengunjung diskotik, gedung bioskop atau mal-mal. Waktuku kuhabiskan di kamar kost untuk membaca. Di kamarku banyak bacaan. Ada novel-novel, majalah, tabloid, dan yang paling sering kubaca adalah kitab suci. Karena dengan membaca kitab suci akan timbul motivasi dalam diriku untuk mengabdikan diri kepada sesama, dan dia juga adalah sumber kekuatanku, sumber pengharapanku yang sebenarnya.<br />
Sampai pada suatu hari, datang malapetaka yang membuatku tiba-tiba harus terhempas ke dalam jurang kenistaan. Jangan salah paham. Kenistaan yang menimpaku bukan karena kehilangan kegadisan, bukan ternoda karena perbuatan tercela lain. Yang menimpaku jauh lebih mengerikan. Tidak akan terbayang oleh siapapun yan tidak memahami kondisi pedalaman Kalimantan Tengah, tempat kelahiranku.<br />
Hari itu sebenarnya tidaklah begitu panas. Apalagi saat itu hujan baru saja mengguyur Kota Banjarmasin. Sangat lebat, dan turun sejak sore tadi. Saat itu hujan belum reda. Tidak begitu lebat, tetapi membuat orang enggan untuk keluar rumah.<br />
Tetapi mengapa cuaca yang sejuk itu membuat aku tiba-tiba sangat kehausan. Ya, aku merasa ada rasa haus yang sangat aneh mendera diriku. Telah kuminum beberapa gelas air putih dari dispenser, tetapi rasa hausku tidak juga hilang. Sepertinya, dahagaku bukan karena ingin menggak air. Ya, Aku ingin minum sesuatu tetapi bukan air. Entah apa?<br />
Aku coba mengendalikan diri. Jarum jam telah menunjukkan pukul14.00. Kebetulan hari ini aku sedang off, tidak giliran jaga. Besok aku baru masuk pada jam delapan pagi.<br />
Entah apa yang mendorongku, aku meninggalkan kamar, dan berjalan menuju ke bangsal Rumah Sakit. Kutelusuri lorong-lorong yang panjang itu menuju ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu di mana. Aku berjalan tak ubahnya seperti robot, sebab memang kekuatan laten itu yang mendorongku terus melangkah. Sapaan beberapa orang teman yang berpapasan denganku tidak kujawab. Mereka heran sebab, aku dikenal sebagai gadis yang ramah, mudah bergaul dan tentu saja banyak teman.<br />
Aneh, tiba-tiba saja aku berhenti di depan sebuah kamar yang khusus disediakan untuk mereka yang melahirkan. Aku mencium bau yang sangat harum. Bau khas yang belum pernah kurasakan. Bersamaan dengan itu, rasa hausku semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya aku segera mereguk minuman yang menebarkan bau harum tadi.<br />
Kubuka pintu kamar itu. Kulihat ada seorang wanita yang tengah berjuang keras melaksanakan tugasnya sebagai ibu. Dia ditolong oleh seorang dokter dan dua orang bidan.<br />
Entah Iblis apa yang merasukiku. Kudorong dokter itu kesamping, dan kuraih kedua kaki wanita itu. Aku mencium bau yang begitu harum dari sela-sela kedua paha wanita itu. Rasa hausku semakin kuat. Aku hendak mereguk cairan merah bercampur lendir atau air ketuban yang mengalir.<br />
Dengan sigap kedua bidan yang ada di kanan dan kiri pasien menubrukku. Sekuat tenaga mereka menyeretku keluar. Namun kekuatan kedua orang itu tidak mampu menyamai kekuatanku. Mereka kubuat terpental. Lalu, muncul tiga orang perawat laki-laki yang membantu kedua bidan untuk menyeretku.Tetapi tetap saja mereka tidak mampu menandingi kekuatanku.<br />
Melihat keadaan itu, salah seorang bidan lalu melepaskanku. Dengan tergesa-gesa dia mencopot kalung yang tergantung di lehernya. Kalung perak dengan leontin salib itu dikalungkannya ke leherku. Begitu kalung itu tergantung di leherku, aku langsung pingsan.<br />
Ketika aku sadar, aku telah berada di tempat tidurku. Beberapa orang kerabat ada di sekelilingku. Tidak ketinggalan Uwakku yang tinggal di jalan Veteran, di belakang Rumah Sakit Ulin.<br />
&#8220;Untung kau segera mengalungkan kalung itu di lehernya,&#8221; kata Uwakku kepada bidan yang pada saat kejadian mengalungkan kalung tersebut.<br />
&#8220;Entah dari mana aku bisa ingat untuk memakaikan kalungku,&#8221; jawab Rosma, sepupuku yang juga seorang bidan di rumah sakit yang sama.<br />
&#8220;Untung pula tanda di lehernya belum muncul!&#8221; kata Gondan, pamanku.<br />
&#8220;Mengapa kalian semua ada di sini?&#8221; tanyaku heran.<br />
&#8220;Kau sedang sakit,&#8221; jawab Rosma.<br />
&#8220;Sakit? Sakit apa? Rasanya aku sehat-sehat saja!&#8221; jawabku setengah tidak percaya.<br />
Uwak kemudian menceritakan kepadaku, bahwa aku mewarisi ilmu almarhumah ibuku. Kuyang! Aku bergidik mendengarnya. Sulit dibayangkan kalau aku bisa menjadi Kuyang, makhluk pemakan darah.<br />
&#8220;Tetapi baru tahap awal,&#8221; kata uwakku.<br />
Ya, ini karena tanda di leherku belum muncul. Orang yang telah matang menjadi Kuyang di lehernya ada tanda lingkar hitam seperti kalung dari tatoo. Yang telah matang ilmunya, kepala orang itu dapat lepas dari tubuhnya berikut isi perutnya. Kepala yang lepas itu terbang mencari mangsa, yaitu perempuan yang baru saja melahirkan untuk diisap darahnya. Biasanya hal itu terjadi di malam hari ketika bulan purnama.<br />
Aku sendiri sangat heran. Ibuku tidak pernah menurunkan ilmu itu kepadaku. Itulah sebabnya aku tidak menyadari kalau ilmu mengerikan itu mengeram di dalam diriku.<br />
Tahap awal dari ilmu itu adalah perasaan haus yang luar biasa. Sebenarnya rasa haus biasa berbeda dengan rasa haus ingin minum darah. Tetapi aku belum dapat membedakan. Maka ketika rasa haus muncul aku minum air putih berkali-kali. Dan tetap saja rasa haus itu tidak hilang.<br />
&#8220;Apakah aku bisa terbebas dari ilmu terkutuk ini, Wak?&#8221; tanyaku kepada Uwakku.<br />
&#8220;Bisa! Kemauan yang kuat dan usaha yang bersungguh-sungguh akan dapat membebaskanmu dari warisan yang tidak kauinginkan itu,&#8221; jawab Uwakku.<br />
Beberapa hari kemudian Uwakku memberiku kalung yang bahannya dari besi putih. Demikian juga liontin yang berbentuk salib terbuat dari besi putih.<br />
&#8220;Jangan kaulepaskan kalung ini dalam keadaan bagaimanapun juga. Selain itu, rajin-rajinlah berdoa. Jangan lupa memohon kepada Tuhan agar kau dilepaskan dari ikatan jahat itu,&#8221; nasehat Uwak.<br />
Setelah peristiwa itu aku terpaksa berhenti bekerja dari RSU. ULIN. Untunglah, pacarku bisa mengerti keadaanku. Walaupun dia orang Jawa tetapi memahami betul apa yang sedang terjadi atas diriku. Demikian juga para dokter, perawat, bidan serta pegawai lainnya.<br />
Kini aku hidup bahagia bersama suamiku dan tinggal di Jawa. Kenangan buruk itu telah sirna. Dan ilmu warisan itu tidak menguasaiku lagi. Sekarang aku bekerja sebagai bidan lagi di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta. Untunglah tidak ada yang tahu masa laluku.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/mariana-tundang-aku-pewaris-ilmu-kuyang-oleh-ki-dadap-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalinya Sang Tumbal (Oleh: Joko Marsono)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/kembalinya-sang-tumbal/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/kembalinya-sang-tumbal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 09:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh ironis jika seorang anak yang merupakan permata hati dan tumpuan masa depan kedua orang tuanya, harus diserahkan kepada iblis durjana. Semua dilakukan hanya demi ketamakan akan harta dunia. Anak... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/kembalinya-sang-tumbal/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_182" class="wp-caption alignleft" style="width: 223px"><a rel="attachment wp-att-182" href="http://majalah-misteri.net/kembalinya-sang-tumbal/tumbal/"><img class="size-medium wp-image-182" title="tumbal" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/03/tumbal-213x300.jpg" alt="" width="213" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Sungguh ironis jika seorang anak yang merupakan permata hati dan tumpuan masa depan kedua orang tuanya, harus diserahkan kepada iblis durjana. Semua dilakukan hanya demi ketamakan akan harta dunia. Anak yang harusnya dijaga dan dibesarkan, justru dipersembahkan kepada makhluk seperti iblis laknat.<br />
Berbicara menganai fenomena pesugihan, ingatan kita tak lepas dari masalah nyawa dan tumbal. Jika ingin kaya mendadak (konon) kita harus menukar secara timbal balik dengan setan yang dipuja itu. Setan memberi kita harta, dan kitapun harus memberikan sesuatu menurut keinginan si setan tersebut. Biasanya inilah yang kemudian disebut sebagai tumbal.<span id="more-181"></span><br />
Tumbal itu biasanya bisa berupa barang ataupun nyawa. Semuanya tergantung permintaan si iblis. Bahkan tak menutup kemungkinan nyawa si pelaku berikut beberapa nyawa keluarganya sekaligus. Memang mengerikan. Kendati demikian, disinyalir banyak orang yang nekad melakukan kesesatan ini.<br />
Bicara tumbal, ada pengalaman luar biasa yang dialami oleh seorang lelaki dari daerah Bogor yang kini telah berusia 55 tahun, yang sebut saja bernama Madin. Menurut pengakuannya, selama 15 tahun dia hidup tersiksa di alam Siluman Babi karena ditumbalkan oleh kedua orang tuanya demi meraih kekayaan. Setelah 15 tahun, berkat kuasa Illahu dia bisa pulang kembali ke keluargnya, Karena itu, terkuaklah aib kedua orang tuanya yang selama ini tak dia ketahui.<br />
Tentu saja kepulangannya itu menjadi kegemparan seluruh kampungnya bahkan hingga saat ini pun masih banyak yang takut bila harus dekat-dekat dengannya, dengan alasan dia pernah mati, atau banyak yang mengatakan dirinya adalah mayat hidup. Bahkan tak terkecuali ibu kandungnya sendiri, sebab saat dia pulang ayahnya ternyata telah meninggal. Perempuan uzur itu sangat shock menerima kedatangan Madin yang baginya telah meninggal dunia.<br />
Menurut penuturan Madin, kisahnya yang tragis itu dimulai ketika dia masih berusia 15 tahun. Sepertii biasa setiap hari dia mengembalakan empat ekor kambingnya di tepi hutan karet yang berbatasan langsung dengan sungai Cisadane, tak jauh dari kampungnya. Hal ini memang sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari mengingat orang tuanya sudah tak mampu menyekolahkannya lagi setamat SD, karena kemiskinan keluarganya. Hanya empat ekor kambing inilah harta satu-satunya yang dimiliki keluarga Madin.<br />
Ayahnya hanyalah seorang buruh serabutan yang harus menghidupi ibu serta empat adiknya yang lain, termasuk dirinya.<br />
Hari itu, ketika matahari sudah mulai menuju peraduannya di ujung barat, angin sepoi yang datang dari lembah Cisadane, hampir saja memejamkan mata Madin yang sedari tadi duduk di bawah sebatang pohon karet sambil mengawasi kambingnya dari jauh.<br />
Namun rasa kantuknya dikejutkan oleh deheman seseorang yang tiba-tiba saja telah berdiri tegak di sampingnya. Orang tersebut dalam Bahasa Sunda mengenalkan dirinya dengan nama Pak Saman.  Lelaki berpakaian ala pendekar ini membawa pesan, yakni agar si Madin bersedia ikut dengannya ke rumahnya atas perintah bapaknya sendiri.<br />
&#8220;Bapakmu sudah menunggumu di sana, dia ada di rumah kami!&#8221; Ujar lelaki berkulit gelap tersebut.<br />
Seperti di hipnotis, Madin menurut saja. Bahkan dia lupa dengan kambing-kambingnya.<br />
Ketika tiba ditempat yang dituju, ternyata rumah orang tersebut sungguh sangat besar, seperti laiknya sebuah istana kecil. Namun begitu tiba di sana Madin tak melihat ayahnya.<br />
&#8220;O&#8230;ternyata bapakmu sudah pulang, Nak. Katanya kamu disuruh menunggu di sini sampai bapakmu menjemput,&#8221; kata lelaki tadi sekembalinya dari sebuah ruangan.<br />
Madin bingung. Dia mulai curiga. Karena bingung, dia mulai kasak-kasuk bertanya pada orang-orang yang bekerja di rumah itu yang jumlahnya sangat banyak. Ya, sebuah rumah dengan puluhan bahkan ratusan pembantu, adalah sungguh sangat aneh.<br />
Tapi tetap tak ada jawaban, sebab orang-orang itu semuanya seperti bisu. Tiap kali ditanya, mereka hanya menggeleng dan memandang dengan hampa. Bahkan, Madin melihat mereka hanya bekerja dan bekerja.<br />
Sehari dua hari Madin dibiarkan tak mengerjakan apapun seperti orang-orang itu. Namun, menginjak seminggu, dia dikejutkan oleh suara yang menggeledek, yang menghardiknya agar bekerja seperti yang lain.<br />
&#8220;Kamu di sini disuruh bekerja oleh Bapakmu. Bukan duduk santai dan melamun terus,&#8221; bentak orang itu sembari menendang bokong Madin dengan kerasnya.<br />
Rasa sakit luar biasa akibat tendangan itu membuatnya sangat takut. Sedangkan orang yang beberapa waltu lalu menjemputnya tak lagi menampakkan batang hidungnya. Akhirnya, lambat laun Madin mulai merasa bahwa dia telah ditipu orang yang mengaku bernama Pak Saman itu.<br />
Karena ketakutan yang teramat sangat, dengan berat hati dan cucuran air mata, Madin terpaksa bekerja keras di tempat itu seolah tanpa henti. Dikatakan tanpa henti sebab seolah tempat itu tak ada pergantian hari siang ataupun malam.<br />
Hari-hari kelam itu dia lewati dengan cucuran keringat tiada henti. Semua pekerja, termasuk Madin di dalamnya, baru berhenti tatkala tiba saatnya makan. Malangnyam, makan saja dijatah dua kali sehari pagi dan beberapa jam kemudian.<br />
&#8220;Entahlah siang atau sore kami tak bisa membedakannya,&#8221; cetus Madin, mengingat saat itu.<br />
Ketika ditanya apa saja yang dikerjakannya di tempat itu, Madin menjawab kerja apa saja. Mulai dari membangun rumah, mencuci dan masih banyak lagi termasuk membersihkan kandang babi.<br />
&#8220;Banyak babi berkeliaran di tempat itu, mereka seolah menjadi tuan bagi kami,&#8221; kenangnya lagi.<br />
Kira-kira sebulan kemudian, Madin baru melihat jika di ruangan lain atau tempat lain ada pemandangan memilukan. Banyak anak-anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan sambil menangis mereka bekerja mengepel lantai. Bahkan anak-anak itu dibiarkan saling cakar mencakar satu dengan yang lainnya sampai berdarah-darah.<br />
&#8220;Mereka, anak-anak yang masih suci itu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa. Semoga Allah melaknat iblis terkutuk itu!&#8221; Ingat Madin dengan mimik menegang,  menahan amarah akan kenangan yang sangat pahit dan menegangkan itu.<br />
Madin saat itu terus bekerja dan bekerja bersama puluhan orang lainnya dari segala umur. Tempat itu benar-benar seperti neraka bagi orang-orang yang belum tentu mengerti mengapa mereka bisa berada di sana. Mereka bekerja untuk siapa? Dan apa salah mereka sebenarnya?<br />
Berminggu, berbulan dan hampir enam bulan Madin bersama orang-orang malang itu terus bekerja yang sekalipun tak pernah mendapatkan makan enak apa lagi digaji&#8230;.<br />
***</p>
<p>Kita kembali saat Madin hilang ketika menggembala kambingnya beberapa waktu sebelumnya, di hutan dekat dengan aliran sungai Cisadane. Ketika itu berita tak pulangnya Madin ke rumah bersama kambing-kambing gambalaannya menjadi kegemparan seluruh warga desa.<br />
Kedua orang tua Madin pun ikut panik dan menangis demi mengetahui Madin tak pulang hingga larut malam. Setelah disepakati oleh beberapa pemuka desa akhirnya rombongan sesepuh desa dibantu beberapa pemuda menyusul atau mencari Madin di tempat biasa mengembalakan ternaknya.<br />
Memang tak begitu sulit menemukan tempat itu, tapi para penduduk tak menemukan Madin. Hanya empat ekor kambingnya saja yang ada di tempat itu. Setelah dijelajahi areal hutan di sekitar tempat itu, nyatanya para penduduk tak menemukan juga jejak Madin.<br />
Akhirnya, mereka pulang dengan hanya membawa empat ekor kambing saja. Sesampai di rumah kedua orang tua Madin hanya mampu menangis dan tak bisa berbuat apa-apa. Namun, belakangan diketahui kalau Madin sesunguhya anak angkat kedua orang tua itu. Dulu mereka tak punya anak, sehingga Madin diangkat sebagai anak. Setelah mengangkat Madin sebagai anak, barulah Ibu Madin mengandung ketiga anaknya yang lain.<br />
Baru keesokan harinya, seorang penderes getah karet mengabarkan penemuan seorang mayat di semak-semak di tengah hutan dengan penuh luka. Mayat itu tak lain adalah Madin. Para penduduk mengira, dan diperkuat oleh analisa dokter, jika Madin tewas karena diserang binatang buas. Hal itu ditandai beberapa luka serudukan binatang dan beberapa helai bulu babi hutan yang masih menempel di kaosnya.<br />
Berita kematian Madin makin membuat gempar desa. Bahkan ibunya beberapa kali jatuh pingsan. Entah pura-pura pingsan, atau memang dia menyesal karena telah melakukan semua itu demi kekayaan. Yang pasti saat itu juga jenazah Madin langsung dikuburkan.<br />
***</p>
<p>Selama waktu berjalan, kematian Madin sedikit-demi sedikit mulai hilang dari ingatan seluruh warga desa. Setelah lima belas tahun sejak kematian Madin, warga desa pun benar-benar lupa dengan kisah tragis seorang anak rajin itu. Bahkan saat ayahnya meninggal, khabar tentang Madin sudah di lupakan orang.<br />
Beberapa hari setelah ayahnya meninggal, kegemparan luar biasa kembali terjadi. Di desa itu tiba-tiba muncul seorang lelaki setengah baya yang mengaku bernama Madin, anak yang dikabarkan meninggal dunia lima belas tahun lalu akibat diseruduk babi hutan.<br />
Tak ada yang percaya jika dia benar-benar Madin yang sudah mati. Namun, sejumlah warga desa yang menjadi saksi peristiwa lima belas tahun silam itu mulai peracaya. Hal itu ditandai dengan beberapa tanda di antaranya kaos yang dipakai Madin ketika hilang dulu walau kini sudah hampir hancur dan terasa kesempitan begitu juga celananya walau sudah compang-camping, namun masih dikenakan oleh Madin.<br />
Akhirnya, sebagian penduduk percaya jika itu benar-benar Madin. Acara selamatan pun digelar dan dari sinilah awal kisah ini meluncur dari mulut Madin sendiri.<br />
Walau begitu, tak sedikit pula orang yang takut berdekatan dengan Madin yang dibilang mayat hidup. Menggapa hal itu bisa terjadi dan siapakah yang mati itu&#8230;?<br />
Saat Madin masih berada di alam siluman babi yang menurutnya hanya enam bulan itu, padahal yang sesungguhnya sudah selama 15 tahun, tiba-tiba ada kegaduhan di istana babi. Rumah besar bak istana itu, tiba-tiba bergetar hebat seperti gempa.<br />
Orang-orang berlarian menyelamatkan diri termasuk Madin. Dalam pelariannya di antara guncangan tanah, telinganya mendengar sebuah &#8220;lagu&#8221; yang pernah di dengarnya walau dia sudah sangat lupa.<br />
Ketika dia dengarkan dengan seksama, Madin baru ingat jika lagu itu ternyata suara Adzan pertanda ajakan sholat. Dalam kepanikannya dia mengikuti suara dan menirukan adzan itu dengan linangan air mata.<br />
Bumi makin bergoncang hebat, tanah di sekitarnya seperti beterbangan ditiup topan. Tiba-tiba terdengar gemuruh seperti topan menerjang yang meluluh-lantakkan tempat itu hingga Madin jatuh dalam kegelalapan.<br />
Di saat kesadarannya kembali, dia sudah berada di tengah hutan dan tak jauh darinya dia menemui orang tua bersorban yang ternyata orang inilah yang mengumandangkan adzan.<br />
Begitu selesai, Madin segera merangkak dan memanggil orang tua bersorban itu. Orang tua tersebut seperti kaget dan bingung, seperti halnya Madin.<br />
Menurut penuturan orang tua itu, dia mencari seorang bocah perempuan yang konon diculik lelembut hutan karet ini. Tapi yang muncul justru Madin. Namun, orang tua bijak tersebut sudah mulai menangkap arti semua ini.<br />
Dengan menyebut kebesaran Allah, Madin di antarnya ke tepi hutan dan menyuruhnya pulang. Siapakah gerangan orang tua ini?<br />
Ternyata, orang tua tersebut adalah Haji Sapri, warga desa jauh yang dimintai tolong oleh keluarga si bocah perempuan yang hilang itu untuk menemukan puterinya yang hilang secara misterius. Dengan kelebihan yang dimiliki serta karomah yang ada pada Haji Sapri, dia memastikan jika bocah perempuan itu hilang di sekitar tempat ini.<br />
Maka di tempat munculnya Madin yakin di tengah hutan karet inilah Haji Sapri berdoa serta mengumandangkan adzan. Namun tanpa diduga dia justru menemukan Madin, padahal tujuan semula Pak Haji mencari bocah perempuan itu.<br />
&#8220;Ini adalah sebuah mukjizat Allah bagi umatnya yang beriman, dan Haji Sapri adalah salah satu umatNya yang diberi karomah,&#8221; cetus Madin mengenang Haji Sapri telah meninggal beberapa waktu silam.<br />
Bukan itu saja, belakangan ternyata atas kuasa Allah pula bocah itupun diketemukan lewat Haji Sapri. Bocah itu ternyata dibawa makhluk halus di tepi hutan dekat dengan jalan raya, tepanya dedemit penunggu pohon Tembesi.<br />
Dan, Madipun baru mengetahui jika &#8220;kematiannya&#8221; adalah karena ditumbalkan oleh orang yang silau akan dunia. Ternyata orang tua angkatnya memuja siluman babi demi kekayaan. Semoga peristiwa ini mengajarkan suatu hikmah bagi kita akan keberasan Allah. Dan janganlah sekali-kali berbuat syirik padaNya.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri Edisi #395 20 April 2006 &#8211; 04 Mei 2006</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/kembalinya-sang-tumbal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
