<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Misteri Sejati</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/misteri-sejati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 May 2013 09:58:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Majalah Misteri Terbaru Edisi 552 (20 Jan – 04 Feb 2013) Beredar</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/majalah-misteri-edisi-553-20-jan-04-feb-2013-beredar/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/majalah-misteri-edisi-553-20-jan-04-feb-2013-beredar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2013 14:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Majalah Misteri edisi terbaru #552 sudah beredar ke seluruh Indonesia dan sebagian di negeri jiran. Edisi ini mengulas problem yang melanda pada Shio Ular di tahun 2013. Untuk rubrik Primbon... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/majalah-misteri-edisi-553-20-jan-04-feb-2013-beredar/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_1030" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/majalah-misteri-edisi-553-20-jan-04-feb-2013-beredar/misteri-552/" rel="attachment wp-att-1030"><img class="size-medium wp-image-1030" title="misteri 552" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2013/02/misteri-552-240x300.jpg" alt="misteri 552" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">misteri 552</p></div>
<p>Majalah Misteri edisi terbaru #552 sudah beredar ke seluruh Indonesia dan sebagian di negeri jiran. Edisi ini mengulas problem yang melanda pada Shio Ular di tahun 2013. Untuk rubrik Primbon kami membahas ajian yang bikin asmara jadi awet. Misteri sejati seru dengan Memburu Hantu Pembunuh, Istriku Beranak dalam Kubur, dan Gaib Penjaga Rumah Mewah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rubrik lainnya bisa dilihat di daftar isi di bawah ini:<span id="more-1029"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>08 Fantastis<br />
• Makan 60 Kali Sehari<br />
• Bunga Hidupkan yang Mati<br />
• Tanduk di Kepala<br />
26 Petualangan Sejarah:<br />
• Titah Keris Banyurogo (Bag.24)<br />
Guntur Bersahut Di Majapahit<br />
30 Paravisi<br />
• Metafisika Experimental<br />
36 Ritual Pesugihan<br />
• Pesugihan Sedot Keukeupeulan<br />
• Pesugihan Senggama Kandi<br />
Misteri Sejati<br />
52 Memburu Hantu Pembunuh<br />
64 Istriku Beranak Dalam Kubur<br />
114 Gaib Penjaga Rumah Mewah</p>
<p>60 Primbon<br />
• Aji Pengekal Kasih<br />
80 Sajian Khusus<br />
• Tragedi banjir Bandang Jakarta<br />
Pesan Gaib untuk Jokowi<br />
• Merubah Penampilan Dengan Ilmu<br />
Mistik<br />
92 Legenda<br />
• Rawa Onom<br />
• Naga Erau Dan Putri Karang Melanu<br />
100 Cahaya Sufi<br />
• Logika Pikiran Ajal</p>
<p>108 Cerbung<br />
• Menara Tiga Dara (bag 6)<br />
122 Catatan Hitam<br />
• Santet itu Mengenai Kakakku<br />
126 Kisah Mistik Manca<br />
Negara<br />
• Pernak-Pernik Mistik Pembawa<br />
Rejeki<br />
139 Feng Shui<br />
141 Zodiak<br />
143 Api Asmara<br />
145 Konsultasi<br />
152 Resensi<br />
• The Chrysalis: Horor Valentine<br />
• Hansel And Gretel: With Hunters<br />
158 Misteri Flash<br />
• 7 Dewa Kematian Di Dunia</p>
<p>SAJIAN LEPAS:<br />
24 Misteri Kematian Pohon Leses<br />
42 Parang Ijo Tempat Laku Idaman<br />
Para Pejabat<br />
88 Batu Kalajengking Pembawa<br />
Petaka<br />
116 Dikejar Genderuwo<br />
130 Mencari Berkah Dengan Buka<br />
Luwur<br />
134 Sedekah Laut Cilacap<br />
Ratu Kidul Enggan Datang<br />
153 33 Tasbih Karomah Untuk<br />
Pembaca Misteri</p>
<div id="attachment_1031" class="wp-caption aligncenter" style="width: 240px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/majalah-misteri-edisi-553-20-jan-04-feb-2013-beredar/daftar-isi-553/" rel="attachment wp-att-1031"><img class="size-medium wp-image-1031 " title="daftar isi 552" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2013/02/daftar-isi-553-230x300.jpg" alt="daftar isi 552" width="230" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">daftar isi 552</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/majalah-misteri-edisi-553-20-jan-04-feb-2013-beredar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ritual Gaib Untuk Kekasih Tercinta (oleh: Nofriadi)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/ritual-gaib-untuk-kekasih-tercinta-oleh-nofriadi/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/ritual-gaib-untuk-kekasih-tercinta-oleh-nofriadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:36:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Malin merupakan pemuda yang sangat baik dan bisa menghargai teman apalagi kaum hawa. Namun sifat baik tak selamanya dihargai manusia di zaman sekarang ini. Hidup materialistis telah membutakan mata hati... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/ritual-gaib-untuk-kekasih-tercinta-oleh-nofriadi/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_606" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-606" href="http://www.majalah-misteri.net/ritual-gaib-untuk-kekasih-tercinta-oleh-nofriadi/ritual-gaib/"><img class="size-medium wp-image-606" title="ritual gaib" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/02/ritual-gaib-300x225.jpg" alt="ritual gaib" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Malin merupakan pemuda yang sangat baik dan bisa menghargai teman apalagi kaum hawa. Namun sifat baik tak selamanya dihargai manusia di zaman sekarang ini. Hidup materialistis telah membutakan mata hati sebagian orang di zaman ini. Setidaknya itulah yang dirasakan Malin yang kebetulan teman penulis.</p>
<p>Hanya karena belum punya pekerjaan tetap, cinta yang telah lama dirajut, kandas diterjang ombak kehidupan. Masih segar dalam ingatan Malin, akan keindahan sebuah cinta yang terjalin dengan seorang dara, sebut saja bernama Rena.<span id="more-605"></span></p>
<p>Hari-hari mereka lalui, bak dunia milik berdua nyaris tanpa permasalahan “Uda…Rena sungguh beruntung mendapatkan laki-laki seperti Uda yang sangat baik dan penuh pengertian.” Kata Rena setengah merayu.</p>
<p>“Uda pun merasa beruntung mendapatkan wanita seperti Rena. Sudah cantik wajahnya, keibuan lagi..” Balas Malin tak kalah romantisnya.</p>
<p>Setelah berjalan beberapa tahun dan berbagai masalah pun dapat mereka atasi bersama. Sepanjang jalan, akhirnya sampailah kami pada gerbang petaka yang mampu merobek jaring cinta yang selama ini kami rajut dengan benang kasih sayang dengan renda saling percaya.</p>
<p>Orang tua Rena yang selama ini baik, tiba-tiba sangat membenci Malin. Karena mengetahui kalau Malin belu mapam kehidupannya alias pengangguran. Rena yang tidak tahu apa-apa ikut menanggung akibatnya.</p>
<p>Tanpa sepengetahuan Rena, mamanya telah menemui salah seorang dukun. Melalui perantara dukun ini, pikiran Rena dicuci sehingga ia lupa akan diri Malin, orang yang selama ini sangat dicintainya.</p>
<p>Karena sedikian lama tidak bertemu, rasa rindu dan kangen pun berkecamuk dalam dada Malin. Rasa rindu yang begitu mendalam tidak dapat lagi ditahan Malin. Dengan keberanian yang dimilikinya, Malin pun mendatangi kediaman Rena sekedar melepaskan rasa rindu yang selama ini telah menyiksa perasaannya.</p>
<p>“Heh…Malin! Anak saya tidak mencintai kamu…kenapa masih berani datang ke sini! Apa kamu sudah gila…” kata orang tua Rena dengan angkuhnya.</p>
<p>Sungguh panas rasa hati Malin mendapatkan kata-kata yang begitu menghina dirinya. Malin yang selama ini baik dan penyabar, tidak dapat menerima perkataan yang dilontarkan orang tua Rena. Ibarat kata pepatah “sudah luka…disiram air garam pula”.</p>
<p>“Dia telah mengatakan gila. Oleh karena itu, ia harus bermenantukan orang gila ini!” kata Malin membantin.</p>
<p>Tidak ada kayu jenjang di keeping, tidak ada rotan akar pun jadi. Setidaknyanya pribahasa inilah yang terpatri di hati Malin. Berangkat dari rasa sakit hati, Malin menemui seorang rekannya, sebut saja bernama Bahar. Melalui petunjuk Bahar, Malin mulai ritual yang dianggapnya mampu mengembalikan sang pujaan hatinya.</p>
<p>Ritual yang dimulai dengan memasukan garam yang telah diberi mantera kedalam mulut ayam yang sedang mengerami telurnya. Setelah itu, Malin di suruh mencabut bulu liar ayam tersebut. Ini dimaksudkan mencabut sifat Rena yang telah berani melupakannya.</p>
<p>Setelah beberapa hari ritual yang dilakukannya pun selesai. Namun setelah dua puluh satu hari dimana batas waktu yang ditentukan belum juga ada tanda-tanda kalau Rena akan menemui saya. Sadar ritual yang dijalaninya gagal, Malin pun bertandang ke rumah penulis.</p>
<p>Saya yang merasa kasihan, mencoba menghibur dan memberikan pandangan terhadap Malin.</p>
<p>“Jujur, saya sangat kehilangan dan tiap malam selalu teringat Rena. Tolonglah…bantu saya.” Harap Malin kala itu.</p>
<p>Karena Malin tampaknya telah bulat tekadnya, sayapun mengantar Malin kepada salah seorang teman yang mengerti akan ilmu gaib. Oleh teman saya yang bernama Rajo Intan, Malin disuruh menyediakan minyak misik, limau purut dan benang tujuh ragam.</p>
<p>Dengan media beda tersebut, Rajo Intan mulai melakukan ritual penarikan sukma Rena agar kembali mencintai Malin. Setelah di rituali, sebagian benda tersebut disuruh di tanam dimana Rena akan lewat. Sebagian lagi di suruh ditanam di persimpangan yang banyak dilalui orang.</p>
<p>Kali ini, Malin pun melakukan apa yang disuruh Rajo Intan demi kembalinya sang kekasih yang begitu dicintainya. Setelah beberapa hari, Malin pun kembali terbentur pada tembok kegagalan.</p>
<p>“Lin, bukan saya beralasan. Tapi Rena telah dipagari oleh orang tuanya. Rasanya sulit ditembus oleh satu orang.” Kata Rajo Intan sedikit memberi pengertian terhadap Malin.</p>
<p>“Lantas? Jalan apa yang harus dilakukan?” Kata Malin dengan penuh harapan.</p>
<p>“Uda nanti akan coba meminta bantuan pada guru Uda yang di Solok. Agar lebih mudah membobol pagar gaib yang dipasang ditubuh Rena,” jawab Rajo Intan memberi sedikit harapan pada Malin.</p>
<p>Dua hari berikutnya, Malin di suruh Rajo Intan ke Cupak yang terletak di daerah Solok untuk menemui salah seorang guru Rajo Intan, sebut saja bernama Rajo Sati. Rajo Sati pun mulai melakukan berbagai ritual untuk mengembalikan Rena kepangkuan Malin dan selain itu Malin pun diberi sebuah zimat untuk pagar diri kalau ada serangan balik dari pihak orang tua Rena.</p>
<p>Entah sudah berapa uang dan waktu yang dihabiskan Malin hanya untuk sebuah kata yakni CINTA. Tanpa terasa, waktu yang di tentukan Rajo Sati pun sampai. Namun sejauh ini tidak juga ada tanda-tanda kalau Rena akan menemui Malin. Ini sungguh sebuah pukulan yang telak mengenai hati sanubari Malin, sehingga sempat membuat Malin seperti kapal tanpa haluan.</p>
<p>Sungguh berat penderitaan batin yang dialami oleh Malin. Sampai-sampai sempat terlintas dalam pikirannya, kalau hidup ini tak berarti lagi. Penulis yang paham kondisi Malin, mencoba memberi semangat dan saran agar  jangan sampai patah arang. Sehingga berujung ke jalan yang dilarang agama.</p>
<p>Untung kata-kata penulis didengarkan oleh Malin sehingga bisa membuat penulis sedikit lega. Suasana ini berlangsung satu bulan lebih lamanya dimana wajah Rena tidak lagi menari di pelupuk mata malin.</p>
<p>Sayang, suasana yang kondusif ini kembali mengalami goncangan yang hebat. Setelah mendengarkan hasutan dari salah seorang teman Malin. “Lin, kok mau saja melupakan Rena. Dia kan telah menyakitimu. Seharusnya kamu itu bisa membuat dia bertekuk lutut dihadapanmu!” Kata teman Malin di kala itu.</p>
<p>Kata-kata dari teman Malin ini sungguh sangat luar biasa. Malin yang mulai melupakan Rena, kembali menjadi haus akan cinta seorang gadis yakni Rena. Namun sebelum melangkah, kembali Malin menemui penulis, untuk bertukar pikiran akan masalah yang dihadapinya.</p>
<p>Waktu bertandang inilah, tanpa sengaja Malin melihat tumpukan Majalah di rak buku penulis. Majalah yang tak lain yakni Majalah Misteri yang menjadi bacaan penulis dikala waktu senggang.</p>
<p>Saat membolak-balik majalah ini, Malin tertarik dengan salah seorang paranormal yang mengiklankan ilmu pengasihnya. Demi menjaga privasi paranormal dimaksud, sengaja namanya tidak penulis tulis.</p>
<p>Penulis yang sadar akan sebuah bahasa iklan mencoba menasehati Malin agar jangan termakan bahasa iklan yang banyak dibumbui fatamorgana. Sayang, tanpa sepengetahuan penulis, Malin melaksanakan niatnya dan menghubungi paranormal yang dimaksud.</p>
<p>Paranormal tersebut menyarankan agar menggunakan Aji Puter Giling untuk menarik kembali sukma Rena. Ilmu yang telah dipindahkan pada selembar kain merah berbentuk rajahan ditambah dengan sebuah keris kecil sebagai penajamnya. Melalui petunjuk paranormal tersebut, Malin pun mulai melakukan ritual yang diberikan oleh paranormal dimaksud.</p>
<p>Ritual yang dimulai dengan memasukkan foto Malin dan Rena, kemudian keris kecil tersebut dibungkus dengan kain rajahan Aji Puter Giling. Setelah dibungkus, baru ditanam ke dalam tanah dan ritual pun selesai.</p>
<p>Setelah dua minggu berjalan tidak juga ada tanda-tanda kalau ritual yang telah dijalankan akan berhasil. Karena penasaran, Malin pun menghubungi paranormal melalui telepon.</p>
<p>“Pak. Saya telah melakukan semua petunjuk yang bapak berikan, namun sampai saat ini tidak juga ada tanda-tanda kalau Rena akan menemui saya.” Kata Malin menyampaikan keluhannya.</p>
<p>“Tenang saja. Nanti kalau mencapai empat puluh hari, pasti ia akan menemui kamu.” Jawab seseorang di seberang sana.</p>
<p>Namun, sayang seribu sayang, kali ini pun Malin kembali menelan pil kegagalan yang sangat pahit dan menyesakan dada. Dengan beruntunnya kegagalan demi kegagalan, membuat Malin sadar akan sebuah takdir dan jodoh yang tidak dapat dipaksakan.</p>
<p>Sekalipun segala upaya telah dilakukan kalau belum jodoh, tetap saja terbentur pada tembok yang sangat kuat dan kokoh. Dan hanya segelintir orang saja yang berhasil memaksakan kemauannya. Itupun kalau lagi mujur dan dikabulkan oleh sang Pencipta Alam Semesta.</p>
<p>Mari kita bersikap realistis dan jangan menentang takdir. Sebab segala sesuatu yang dipaksakan juga tidak baik jadinya. Semoga tulisan ini dapat dijadkan pelajaran seperti kata pepatah di Minang, “Alam terkembang akan menjadi guru.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/ritual-gaib-untuk-kekasih-tercinta-oleh-nofriadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enam tahun keluargaku melawan santet</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/keluargaku-melawan-santet/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/keluargaku-melawan-santet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 07:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Sebutlah namaku Bagas, itu adalah nama yang diberikan oleh seseorang yang sudahku anggap kakekku sendiri, aku tinggal bersama keluargaku di sebuah komplek militer. di salah  satu kota di  jawa  barat, ... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/keluargaku-melawan-santet/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><a rel="attachment wp-att-600" href="http://www.majalah-misteri.net/keluargaku-melawan-santet/santet/"><img class="alignleft size-medium wp-image-600" title="santet" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/02/santet-300x214.jpg" alt="santet" width="300" height="214" /></a>Sebutlah namaku Bagas, itu adalah nama yang diberikan oleh seseorang yang sudahku anggap kakekku sendiri, aku tinggal bersama keluargaku di sebuah komplek</p>
<p>militer. di salah  satu kota di  jawa  barat,  aku adalah anak  pertama  dan  satu-satunya di<br />
keluarga  kami, sedari  kecil kedua  orang tuaku mengajariku  hidup mandiri, dan akupun<br />
menjalani  hidup yang tidak mudah. kaerena  ayahku  adalah  seorang  prajurit,  dan akupun sering  di tinggal  oleh  beliau  apabila  sedang  mendapat  tugas  dari  negara, sedang ibuku adalah  seorang guru honorer yang gajinya pun tidak  seberapa, saking  susahnya kehidupan kami, kunci  rumahku  dalah  ujung  garpu, memang kala itu  pangkat seorang prajurit  terbilangcepat namun dengan gaji yang pas-pasan pula sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan keluargaku, ad sebuah kisah unik yang  masih aku ingat sampai sekarang ketika  aku  masih  duduk  di  bangku  sd  ada  seorang  tetanggaku berkata &#8220;nak  kamu  kok kecil-kecil  sudah  puasa  mutih&#8221;,  lantas  akupun  tersenyum  dan  menjelaskan  bahwaaku tidak  punya  uang  untuk  membeli  lauk-  pauk. lambat laun akhirnya keberuntungan menghampiri keluarga kami,  berawal  dari  sebuah  tawaran  dari  salah  seorang tetangga kami  yang  memang  dekat  dengan  keluar kami  yang menawarkan untuk pindah dan menempati rumah  mereka,  orangtuaku  pun  menyambut dengan gembira dan tidak menyi-nyiakan kesempatan tersebut. <span id="more-599"></span></p>
<p>Walaupun uang  kami  kurang,  namun  alhamdulilah mereka  tetap  mau<br />
menerimanya  sedang  sisa  uangnya  bisa  dicicil,  syukur  alhamdulilah  selain  rumah  baru yang  kami  tempati  itu  lebih nyaman  dan  lebih  besar  tentunya  serta  fasilitasnya pun lebih baik  dari  rumah  kami  yang  yang  sebelumnya,  di  rumah  baru  kami  aura  keberuntungan begitu  kental  terasa, sehingga  sedikit  demi  sedikit  kami  sekeluarga  mulai mampu menta perekonomian kami seiring dengan membaiknya pula perekonomian  di  negeri  ini.  akhirnya  kami  memiliki  modal  yang  cukup  untuk membuka  tmpat usaha, berawal  dari  kios  kecil-kecilan,  berkembang  menjadi  sebuah  toko  yang  menyediakan  berbagai  kebutuhan  pokok. Sehingga kami dapat meraup keuntungan  yang  besar,  dan  kami pun  dapat  membeli motor dan  sebuah  mobil  yang  lumayan bagus. tiada  kata  terucap  selain  syukur  alhamdulilah  puji syukur  kehadirat  allah SWT. Yang telah  memberikan  kerunianya  yang  besar  kepada keluarga  kami ini. namun  allah  menguji  kami&#8230;&#8230;,   sampai  akhirnya  cobaan  itu  datang menghampiri  keluarga  kami,  berawal  dari  ayahku  yang  tiba-tiba  saja  menderita penyakit<br />
yang  bisa  dibilang  aneh  dan  mungkin  tdak  ada  dalam  duni  medis.  ayahku  tiba-tiba saja merintih  kesakitan  pada  bagian  kepalanya, setelah  kami  cek-up  ke  dokter pun  anehnya dokter  tidak  menemukan  suatu  gejala  penyakit,  namun  disarankan  untuk  banyak beristirahat  dan  minum  obat  sesuai  anjuran  dokter,  mungkin  hasil  diagnosa  menyebutkan ayahku  hanya  mengalami  stres  ringan  namun  ibuku  merasa  ada  suatu  hal yang tidak beres  dan  janggal  dengan  penyakit ayahku  itu,  dikarenakan  penyakit  ayahku semakin menjadi-jadi saja dari hari ke hari. bayangkan  saja keringat  mengucur deras  dari kepala ayahku  sampai-sampai  kain  untuk  mengelap  keringat  ayahku bisa diperas dan memenuhisatu ember kecil, aku dan ibuku berpikir mungkin ini ujian dari allah untuk keluarga kami supaya tidak lupa  akan nikmat-NYA, namun kita sebagai umat-NYA tentu harus berikhtiar dan minta petunjuk dari-NYA, ibuku dan kawannya mulai mencari kesana kemari obat untuk kesembuhan ayahku mulai dari dokter, paranormal, hingga tabib namun hasilnya tetap saja nihil. ada yang aneh lagi sejak ayahku terbaring sakit, rumah baru kami seperti memiliki hawa yang teramat panas sehingga pembawaanya selalu tidak betah di rumah dan yang lebih aneh lagi a\ruang tamu kami apabila subuh selalu berantakan padahal di rumah kami tidak ada tikusnya. dan semenjak kejadian yang menimpa keluarga kami banyak diantara tetangga kami yang sepertinya enggan bersosialisasi dengan kami bahkan ada rumor yang beredar bahwa kami memiliki pesugihan atau apalah namanya yang datangnya entah dari mana. kami pun tidak terlalu ambil pusing dengan beredarnya rumor tersebut, yang terpenting adalah kami hanya percaya akan segala kekuasaan-NYA. dan hanya allah jualahyang Maha tahu siapa yang benar, sampai suatu ketika ayahku teman kantor ibuku mengajak ke rumah seorang pinisepuh yang rumahnya berada di suatu kebupatendi jawa barat. satalah berbasa-basi sebentar, ibuku menceritakan semua masalahnya dan menceritakan semua masalahnya dan menceritakan tetang keadaan keluarga kami. khususnya keadaan ayahku yang waktu terbaring lemah tak berdaya, akhirnya stelah dari kediaman beliau, dan bebekal air serta menyan yang di ambil langsung dari pohonya serta telah di beri doa-doa khusus.  ibuku lantas bergegas dan pulang untuk memberikanya kepada ayahku. ayahku yangsedang terbaring lemah itu seketika sadar!. dan seolahtidak pernah terjadi apa- apa<br />
terhadap ayahku. ya! beliau sehat seperti sedia kala, sambil berurai air mataibuku mengucap syukur alhamdulilah sembari memeluk ayahku , akupun terharu dan tidak kuat menahan air mata ini. setelah itu ibuku mengajakku ke ruang tamu, setengah berbisik beliau berkata &#8220;nak ayahmu kena santet!&#8221;.  aku pun tersentak kaget dan seolah tak mempecayai kenyataan tesebut, di karenakan aku yang pada saat itu masih amt belia untuk mencernanya secara akal, lagipula kata santet sepengetahuanku hanya ada di sinetron saja, rupanya adalah sebuah kisah nyata sekaligus pahit untuk keluarga kami alami. namun setelah mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada pada ayahku,aku pun berusaha untuk mempercayainya. walau tak masuk akal&#8230;. rupanya kejadian tersebut baru awalnya saja&#8230; , berbagai kejadian yang lebih aneh lagi datang, kami sekeluarga sering mendengar suara-suara yang entah dari mana asalnya, ada juga pelangganku yang berkata bahwa warung kami terlihat tutup. ibuku tentu saja kaget mendengarnya karena<br />
toko kami selalu buka dan tidak pernah tutup selama beberapa hari ini. ibuku bergumam &#8220;pantas saja ndak ada yang beli ya nak&#8230;&#8221; tutur beliau yang sepertinya sudah lelah dengan semua hal ini,berbagai benda asing juga sering kami temukan di area rumah kami, mulai dari kembang setaman, air comberan, sampai tanah kuburan. untuk yang satu itu lebih sering di buang didepan toko kami, sahingga memberi kesan angker dan tak nyaman terlebih lagi banyak dedemit yang sering mampir ke rumah kami dan betah berlama-lama di depan warung kami yang mungkin mirip dengan rumah mereka? atau ada yang sengaja mengirim mereka? entahlah, ibuku juga tidak terlalu mengambil pusing akan hal tersebut. yang penting makhluk tersebut tidak mengganggu. namun tetap saja yang namanya tamu tak di undang dan berlainan alam pastinya memberi efek yang &#8216;berbeda&#8217; tentunya dan memberi kesan tak nyaman bagi para pelanggan<br />
kami. sehingga kami harus mengusirnya dan memagari tentunya dengan pagar gaib, dulu ada seorang paranormal dengan setengah bercanda berkata kepada ibuku &#8220;bu, kok seneng miara dedemit sih?&#8221;, ibuku sembari tersenyum kecut bilang bahwa itu adalah ulah seseorang yang yang tidak suka dengan kesuksesan keluarga kami, lalu paranormal itu menawarkan untuk membantu keluarga kami, namun dengan secara halus ibuku menolaknya. di karenakan tidak mau banyak melibatkan orang dalam urusan kami. asal tahu saja di komplek kami ini, dulunya adalah sebuah hutan belantara, selain itu banyak tempat angker yang tentunya banyak &#8220;penghuninya&#8221;, serta mau di ajak berkolaborasi tentang hal duniawi yang dengan manusia yang tersesat imannya, dan juga sudah bukan hal yang aneh apabila warung kami dulunya sebelum di pagar secara gaib, sering kehilanggan beberapa lembar uang yang di lakukan oleh tuyul yang memang sengaja ad yang memeliharanya. bahkan, ibuku sering memergoki babi jadi jadian atau biasa, disebut babi ngepet yang apabila  babi itu mengesekan tubuhnya maka secara gaib uang yang ada di dalam rumah menjadi sasarannya akan raib secara nisterius,tutur ibuku yang memang memilki indra ke enam itu,mungkin saking dongkolnya dengan berbagai kiriman berwujud gaib tersebut ibuku berkata &#8220;Nak,ibu heran tuh sama orang yang telah buat kita kaya gini&#8230;&#8230;,terus uangnya dapat dari mana ya?masa dalam sebelan udah lebihdari enam dia ngasih&#8221;kiriman&#8221;?&#8221;akupun tidak bisa berkomentar apa-apa selain hanya menyuruh ibuku untuk bersabar walau sebenarnya kesabaran kami semua sudah melebihi batas.menurut pandangan batin ibuku memang benar apa yang barusan paranormal itu katakan,ibuku memang memliki indra ke enam setelah beliau mengalami mati suri waktu jaman sma,dan penyebabnya karena ada yang menumbalkan ibuku,namun akhirnya nyawanya dapat tertolong berkat salah seorang tetangganya yang memiliki kemampuan linuwih dan lucunya masih menurut ibuku nyawa beliau dapat tertolong setelah di paksa memakan es lilin dan sebuah pisang sungguh aneh memang namun itulah kenyataanya,dan sepertinya kata SANTET sepertinya sudah tidak asing bagi keluarga ibuku.  kami pun berkali-kali mendapat teror selama bertahun-tahun, dan yang sering kena adalah ayahku, sedang aku alhamdulilah tidak pernah kena dan semoga saja tidak akan. namun ibuku pernah mengalaminya sekali, pada bagian lengan kanannya terasa ngilu, rupanya setelah di obati di temukan puluhan jarum. Pelet pun pernah mengenai beliau, yang secara sengaja dikirimkan oleh seorang juniornya, yang pernah jatuh hati pada ibuku tapi akhirnya ayahkulah yang mendapat cinta ibuku.<br />
bisa di bilang ibuku adalah kembang desa pada waktu itu, bayangkan saja sekarang beliau<br />
sudah berumur 46 tahun namun nampak seperti umur 25/30 tahun. menurut sesepuh yang kini menjadi guru kami berdua ini, hal itu di karenakan ibuku masih keturunan dari Panembahan Senopati danang sutawijaya, dan menurunkan seorang keturunanya seorang kuwu yang bernama mbah kuwu Tondonegoro yang sekarang pusaranya berada di Magetan, jawa timur. yang merupakan kakek buyut dari ibuku dan sekarang selalu mendampingi ibuku kemana pun beliau pergi. dan, ibuku juga didampingi pula oleh mbah joyo pelet, yang merupakan kakek dari pihak ibu. setelah para karuhun dari pihak ibu menjaga beliau, lambat laun keadaan jadi berubah, dan dengan asma pamalik, sebut saja begitu yang di ajarkan oleh guruku, mampu membalikan serangan pelet yang sengaja di lancarkan oleh junior ibuku itu dan berbalik menyerangnya  sehingga dia menjadi stres, menurut beliau orang itu sekarang adalah seorang anggota polisi berpangkat perwira dan berdinas di jakarta. memang menurut akal sehat kita hal yang di alami keluarga kami memang tidak masuk akal namun itulah kenyataan yang kami hadapi walau hal itu muskil dan bukan konsumsi akal sehat manusia normal, terlebih ketika beruta duka menghampiri keluarga kami, ada sepuluh orang anggota keluarga kami yang berpulang ke hadiratNYA. menurut pandangan batin ibuku dan guruku dua diantara mereka meninggal secara tidak wajar. itu disebabkan karena ulah koleganya di kantor mereka, ayahku pun entah untuk ke berapa kalinya terkena lagi, pertama, pada sekujur tubuhnya di pasang secara gaib, berupa harupat atau pasak yang sengaja di pasang oleh pelaku, supaya ayahku apabila mengendarai mobil mengalami kecelakaan. sungguh bejat!, makiku saat itu. pernah suatu ketika aku pun memiliki niat iblis untuk membalas perbuatan si pelaku, namun langsung di cegah oleh guruku dan ibuku. karena apabilaaku melakukan niat jahatku itu maka aku sama halnya dengan pelaku. menurut<br />
beliau, biarlah azab allah yang membalas apa yang di perbuat oleh si pelaku. sepengetahuan kami sekeluarga,  pelaku penyantetan tiada lain adalah tetanggaku sendiri yang memang sudah dirasuki oleh anak cucu iblis. dan lebih parahnya lagi dia sering menjadi DKM dan sering menjadi muadzin di mesjid yang berada di lingkungan kami. sungguh tak tahu malu seakan perbuataan yang selama ini dia lakukan tidak menuai dosa, demi allah besrta segala keagunganNYA, aku tidak berbohong. apabila aku mengingat kejadian yang dulu pernah kami sekeluarga alami serasa aku mau muntah, apalagi mengingat perbuatannya dan kedok yang selama ini dia kenakan, &#8220;dasar sok alim&#8221;. makiku, Selepas lulus dari sma, ayahku lagi-lagi terkena santet dan lebih ganas lagu serta lebih sadis dari kejadiansebelumnya, perut ayahku tiba-tiba saja membengkak seperti orang yang hamil tujuh bulan. setelah melakukan kontempelasi sejenak guruku berujar, &#8220;wah cep nu kieu mah kudu geura di ubaran, ieu tah namina santet bareuh beuteung!, lamun teu geura di ubaran cilaka engkena si bapak&#8221;, kalau dalam bahasa indonesia kurang lebih artinya, &#8220;Wah, nak yang begini harus segera di obati, kalau tidak segera di obati busa berbahaya nantinya&#8221;, akupun lantas sesegera mungkin membawa ayahku ke rumah guruku yang juga adalah seorang keturunan dari seorang patih dari zaman majapahit itu.setelah dilakukan pengobatan pada diri ayahku secara bertahap, di ketemukan sejenis kawat sejenis kawat berduri dan benang lalu pecahan kaca dan masih banyak lagi benda-benda asing yang seharusnya tidak berada dalam perut manusia. menurut ayahku perutnya serasa terbakar dan amat susah untuk di gerakan. dan menurut guruku, santet itu berasal dari daerah pedalaman di jawa barat, mungkin karena ksihan melihat keadaan keluarga kami yang seperti ini para leluhurku, memberikan zimat untuk menjaga diri dari serangan pihak-pihak yang berusaha membinasakan keluarga kami, dan sekarang becokol dua keris gaib yang ada di tubuhku dan lafadz Muhammad di dadaku dan satu mustika pemberian dari ibu Ratu</p>
<p>kidul yang kini ada di keningku, ibuku juga mendapatkan hal yang serupa, di tambah dengan mustika dari mbah kuwu tondonegoro, ayahkuku pun mendapat juga benda gaib itu, menurut guruku yang juga ikut andil dalam proses memasukan piandel gaib itu, menyarankan supaya memperbanyak ibadah dan memohon selalu perlindunganNYA dan tidak terlalu mendewakan piandel tersebut sebab bisa menjerumuskan keimanan kita.  dan menyarankan untuk selalu mewiridkan kalimah suci &#8220;Lailaha illa anta subhanaka inni kungtu minadzalimin&#8221;, sebanyak tujuh kali sebelum tidur dan membaca Ayatul Qursyi tiga atau tujuh kali, supaya kita selalu dalam lindunganNYA. beliau juga menyarankan untuk selalu membaca asma pamalik agar kami di jauhkan dari segala macam marabahaya. baik itu berasal dari makhluk gaib ataupun manusia, dan beliau juga berpesan untuk tidak memberi tahukan amalan tersebut kepada orang lain, takutnya nanti di salahkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. memang sungguh luar biasa amalan ini, bayangkan saja, orang yang tadinya benci sekalipun setelah dibacakan asma ini tiba-tiba saja menjadi suka dan iba. serta mampu membalikan santet dan pelet langsung kepada pemiliknya. ibuku juga menggunakan asma ini untuk membalikan serangan pelet  kepada orang yang dulu memeletnya, dan sekarang ilmu orang tersebut telah hilang&#8230;.. dan apabila di gabungkan dengan Salawat Nariyah sebanyak sebelas kali maka namanya berubah menjadi asma jamparing, yang artinya &#8220;panah&#8221;, yang menurut beliau bisa di pakai memelet orang atau pun lawan jenis yang menjadi sasaranya hanya dalam hitungan menit saja.  pantas saja guruku begitu mewanti-wanti untuk menjaga rahasia ini sampai kapan pun. terlebih lagi apabila di lambari dengan asma Syaiful jabar mungkin yang hanya sanggup menetralisir hanya zuriah dan kanjeng nabi saja.mungkin hal ini yang menyebabkan mengapa sangat berbahaya apabila jatuh ke tangan yang salah. selain itu beliau menggungkapkan bahwa santet yang selam ini di lancarkan berasal dari berbagai daerah, seperti Banten, cisewu, cidaun, cidamar, cirebon, sampai ujung pandang. namun syukur alhamdulilah sampai detik ini kami sekeluarga dalam keadaan bai-baik saja. sedang si penyantet yang tiada lain adalah tetengga kami yang berinisial &#8220;Y&#8221; itu sudah dua kali terserang penyakit malaria, mungkin saja itusalah satu azab allah untuknya di dunia, kita tidak menaruh dendam, mungkin karena sudah keseringan&#8230;.. Malah kami berdoa semoga dia mendapat hidayah dariNYA, semoga saja kisah nyata  perjalanan hidup keluarga kami ini dapat di ambil hikmahnya, dan yakinlah pada diri kita sendiri bahwa segala kemungkaran dan kejahatan baik itu datangnya manusia ataupun makhlik allah yang lain, pasti dapat kita atasi selama kita mau berikhtiar dan selalu minta petunjuk dariNYA karena kepadaNYA lah kita akan kembali, salam&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/keluargaku-melawan-santet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anakku Menjelma Jadi Seekor Buaya (oleh: U.Supratman)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/anakku-menjelma-jadi-seekor-buaya-oleh-u-supratman/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/anakku-menjelma-jadi-seekor-buaya-oleh-u-supratman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 12:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/anakku-menjelma-jadi-seekor-buaya-oleh-u-supratman/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_554" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-554" href="http://majalah-misteri.net/anakku-menjelma-jadi-seekor-buaya-oleh-u-supratman/buaya-siluman/"><img class="size-medium wp-image-554" title="buaya siluman" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/11/buaya-siluman-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">buaya siluman</p></div>
<p>Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lelaki itu semakin hari semakin menderita setelah ditinggal anak perempuannya. Anaknya yang baru berusia lima tahun itu merenggut ajal di pinggir sungai Cipunagara.</p>
<p>Sejak kehilangan sang anak, Dirta, si lelaki itu, selalu melamun di tepi sungai Cipunagara, dan terkadang dia bicara sendirian lalu tersenyum. Begitulah hari-hari yang dilewati Dirta semenjak empat bulan yang lalu ditinggal mati anak perempuan semata wayangnya. Rasa menyesal di hatinya membuat goncangan hebat di dalam jiwanya.<span id="more-553"></span></p>
<p>Bermula dari kemarau panjang, menjelang akhir tahun. Karena kondisi perekonomian yang sulit, banyak warga yang terpaksa makan nasi aking. Kejahatan pun semakin merebak di berbagai perkampungan penduduk.</p>
<p>Kebiasaan mencuri, merampok disertai penganiayaan kepada korban bukan kejadian aneh lagi ketika itu. Aku sebagai juru tulis alias sekdes cukup kewalahan menerima pengaduan dari masyarakat yang menyangkut pencurian, bakik hewan ternak maupun harta benda lainnya yang melanda warga desa. Tak terhitung pula laporan mengenai warga yang busung lapar dan terkena penyakit menular singgah di meja kerjaku yang sudah lapuk.</p>
<p>Begitu banyak laporan itu dan sejujurnya saja sulit untuk ditindak lanjuti mengingat kapasitasku yang hanya sebagai sekertaris desa. Namun dari semuanya, hanya ada satu laporan dari warga yang aku angap menarik untuk ditindak lanjuti, yakni tentang kematian bocah berumur lima tahun yang mati tenggelam di sungai Cipunagara ketika sedang mencari capung dengan teman-temannya.</p>
<p>Hari masih pagi, dan kayuh sepeda tuaku menuju rumah warga yang bernama Dirta. Ada beberapa orang hadir menyambut kedatanganku. Aku mengira jasad bocah itu langsung akan dimakamkan, tetapi setelah diperhatikan wajah-wajah yang menyambutku tampak kebingungan dan mengeluh.</p>
<p>“Jasadnya belum diketemukan, Pa Ulis!” Bisik salah seorang kepadaku.</p>
<p>“Memang kejadiannya kapan?” Tanyaku.</p>
<p>“Kemarin sore, menjelang maghrib,” jawabnya.</p>
<p>“Ada bukti atau saksi saat kejadian anak si Dirta tenggelam?” Tanyaku kepada ketua RT.</p>
<p>“Ada Pa Ulis, temannya, anak Ropiah. Dia menangis pulang sambil membawa sepasang sandal anak si Dirta. Dia memberitahukan kejadiannya kepada Bapaknya,” papar ketua RT.</p>
<p>Aku merenung sejenak, lantas aku perintahkan semua lelaki menyisir pinggiran sungai Cipunagara menuju ke hilir mumpung hari masih pagi. Aku pun turut serta mencari bersama-sama masyarakat. Tidak sejengkalpun terlewati dari tatapan mata para pencari jasad anaknya Dirta.</p>
<p>Rerimbunan alang-alang dan semak-semak yang tumbuh subur di pinggiran sungai Cipunagara tidak luput dari buruan pencari jasad anak perempuan si Dirta. Teriakan-teriakan memanggil nama korban menambah hiruk-pikuk suasana saat itu.</p>
<p>Menjelang Dzuhur, pencarian masih tetap nihil namun semangat warga masih menggebu-gebu untuk mendapatkan korban. Seingatku hampir semua lelaki yang ada di kampung Kedung Jati turun ikut mencari. Menjelang Maghrib, pencarian dihentikan.</p>
<p>Seluruh masyarakat berkumpul di rumah Dirta untuk bermusyawarah mencari solusi apa yang harus dilakukan guna mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Kalau melihat keadaan sungai Cipunangara saat itu, airnya kecil hampir tidak berarus, ini biasa tiap tahunnya bila musim kemarau, maka tidak mungkin rasanya jasad anak perempuan si Dirta sudah jauh terseret arus. Ya, mustahil sekali.</p>
<p>Saat kebuntuan datang, tiba-tiba salah seorang warga berkata, “Pak Ulis, bagaimana kalau kita memanggil malim buaya (pawang buaya)?”</p>
<p>“Boleh saja. Siapa di antara kalian yang tahu orangnya?” Tanyaku.</p>
<p>“Ada orangnya, tapi bukan orang desa sini. Jauh, Pak Ulis,” ucapnya.</p>
<p>“Dimana?” Tanyaku penasaran.</p>
<p>“Di Haurgeulis. Tapi bisa dipanggil kesini!” Jawabnya.</p>
<p>“Ya sudah, besok saja karena sekarang sudah malam,” ucapku.</p>
<p>Esok paginya, salah seorang kuperintahkan berangkat ke Haurgeulis. Sambil menunggu sang pawang buaya datang, yang ada kuperintahkan untuk turun kembali mencari jasad yang tenggelam. Siapa tahu sekarang sudah dapat timbul atau mengambang di permukaan air.</p>
<p>Sementara itu, Dirta tidak henti-hentinya menangis sambil berteriak-teriak memanggil anaknya yang tenggelam dua hari lalu. Semenjak bercerai dengan isterinya setahun yang lalu, anaknya itu memang ikut denganya, sedangkan isterinya pulang ke orangtuanya.</p>
<p>Sampai menjelang Dzuhur, yang kuperintahkan ke Haurgeulis belum juga datang. Aku dengan bersabar menunggu di pinggir sungai Cipunagara sambil memperhatikan orang-orang yang sedang mencari jasad anaknya si Dirta.</p>
<p>Memang bila musim kemarau, airnya dangkal hanya sebatas lutut hingga perut orang dewasa. Tetapi ada lokasi-lokasi tertentu yang dipercaya masyarakat di sekitar Cipunagara menyebutnya Kedung (lubang besar dibawah air) yang cukup dalam. Tempat ini adalah lokasi bersemayam makhluk halus, penunggu atau penghuni kerajaan siluman air sungai Cipunagara. Ya, sungai Cipunagara yang membentang dari selatan ke utara itu memang menyimpan mitos daerah-daerah yang dilaluinya. Mulai dari wilayah Kabupaten Sumedang, sampai ke hilir di wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang.</p>
<p>Mitos-mitos bermunculan seperti kisah sepasang pengantin di larang menyeberang sungai Cipunagara, atau orang diluar wilayah tersebut janga mandi di sungai itu. Dan memang, mitos itu berlaku hingga sekarang dan terbukti ada yang jadi korban.</p>
<p>Masyarakat sepanjang sungai ketika penumpasan G30S/PKI hampir setiap hari menguburkan mayat-mayat yang mengambang dari hulu menuju hilir, dalam keadaan tidak utuh lagi. Ada yang tangannya hilang atau kepalanya tidak ada, isi perutnya kosong dan alat vital hilang, dan banyak lagi.</p>
<p>Ba’da Ashar, pawing buaya yang ditunggu akhirnya datang. Aku selesai shalat Ashar di surau tidak jauh dari rumah Dirta. Sebelum terjun ke lokasi, Dirta dipanggil ke surau. Orang yang dipanggil Abah dengan keahlian pawang buayanya itu meminta Dirta untuk menceritakan awal kejadianya.</p>
<p>Kadang-kadang aku dan warga ikut nimbrung untuk melengkapi cerita Dirta. Sesekali pria setengah baya bertubuh kecil yang dipanggil Abah itu manggut-manggut, dengan mulut komat-kamit dan matanya dipejamkan beberapa saat.</p>
<p>“Dirta, anakmu ada di suatu tempat yang aman. Makan dan minum disediakan,” Ucap Abah sambil tersenyum.</p>
<p>Semua yang hadir saat itu senang mendengarnya.</p>
<p>“Tetapi anak itu bukan di alam manusia!”Demikian tegas Abah.</p>
<p>Suasana hening dan tegang. Apalagi, Dirta ingin segera Abah melanjutkan ucapannya.</p>
<p>“Anakmu ada didunia yang tidak tampak oleh mata sembarangan orang. Persisnya dia ada di alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” terang Abah.</p>
<p>“Apakah bisa diambil kembali, Abah?” Tanyaku.</p>
<p>“Bisa!” Jawab Abah, singkat.</p>
<p>“Tetapi nanti bila kita kesana. Abah minta kepada Dirta, apa yang ada di depan matamu harus diakui. Ingat itu!” Ujar Abah memperingatkan Dirta.</p>
<p>“Baiklah, Abah!” Ucap Dirta.</p>
<p>Abah melanjutkan lagi ucapannya, seraya sepasang matanya melihat orang-orang yang ikut riungan saat itu, “Abah minta seorang saksi dari pihak aparat desa sini. Apakah ada?” Tanyanya.</p>
<p>“Ada, Bah. Pak Ulis Supena ini!” Jawab beberapa warga serempak menunjukku.</p>
<p>“Pak Ulis siap jadi saksi?” Tanya Abah.</p>
<p>“Insya Allah siap, Bah!” Jawabku, singkat.</p>
<p>“Nanti kita bertiga…Abah, Dirta dan Pak Ulis berangkat ke raja penguasa Kedung Cipunagara, supaya anak Dirta dikembalikan. Tetapi seperti yang sudah Abah katakan, apapun yang kamu lihat di sana harus diakui. Mengerti, Dirta?” Abah menerangkan sambil mengingatkan kembali kepada Dirta.</p>
<p>Dirta mengangguk, “Ya, Bah!” Tegasnya.</p>
<p>Setelah semua siap, kami berangkat menuju sungai Cipunagara. Warga mengikuti dari belakang, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku sedikit tegang, juga bertanya-tanya di dalam hati, apa yang akan dilakukan sang pawang buaya ini?</p>
<p>Abah menyuruh yang lain agar menunggu saja di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta disuruh turun ke air. Sang pawang dengan diapit oleh aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat-erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat-erat oleh tangan kanan Abah.</p>
<p>Kami disuruh menghadap ke tengah sungai lalu memejamkan mata, dan diminta jangan sekali-kali membukanya sebelum ada perintah dari Abah.  “Jangan pula kalian menengok ke belakang!” Pesan Abah.</p>
<p>Entah berapa lama berlalu, kudengar Abah berucap agar kami segera membuka mata. Aneh, saat aku membuka mataku, yang di hadapanku bukan lagi air sungai Cipunagara, melainkan jalan lurus dengan bunga-bunga tumbuh di sampingnya. Indah sekali. Rumah-rumah berderet tertata rapi, bersih tidak ada sampah.</p>
<p>Sepanjang jalan yang kami, lalui aku tidak henti-hentinya berdecak kagum di dalam hati menyaksikan keanehan dan keindahan yang tampak di depan mata. Waktu itu kami juga berpapasan dengan sejumlah penduduk yang ramah-ramah, selalu mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dijalan dengan kami.</p>
<p>Uniknya, pakaian yang dikenakan sama warnanya, hitam. Kepala mereka juga memakai ikat warna hitam pula, baik perempuan maupun laki-laki.</p>
<p>Kami bertiga terus saja berjalan, mengikuti Abah dari belakang. Semakin jauh melangkah semakin banyak orang kami temui, seperti layaknya memasuki pusat kota tetapi tidak kutemui kendaraan. Semua berjalan kaki. Sekali-kali Abah bersalaman, berbincang-bincang seperti yang sudah kenal sebelumnya, dengan orang yang dijumpainya.</p>
<p>“Pak Ulis, sekarang ini kita berada di dasar sungai Cipunagara, dan sebentar lagi kita sampai ke tempat dimana anak Dirta berada,” bisik Abah kepadaku.</p>
<p>Banyak sekali sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di benakku yang akan kusampaikan kepada Abah, seperti kenapa tidak keluar keringat meskipun rasanya aku merasakan berjalan ini sudah lama sekali?</p>
<p>Kenapa aku merasa hari itu terang di siang hari, tetapi ketika aku tengadah tidak melihat letak posisi mataharinya? Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benakku, sampai selesai tugas ini. Semoga saja kami semua selamat berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Kami berjalan agak sedikit di pelankan ketika melihat di depan ada sepasang gapura dengan dua penjaga memegang tombak dan perisai di tangannya yang kekar berotot. Pakaiannya seperti pakaian wayang orang di televisi. Kelihatannya galak dan berwibawa. Mungkin karena pengaruh postur tubuhnya yang tinggi besar, rambutnya gimbal sepunggung.</p>
<p>“Sampurasun, Gusti Punggawa!” Ucap Abah memberi salam sambil membungkukan badan kepada kedua penjaga pintu gerbang.</p>
<p>“Rampes, Abah. Ada perlu apa Abah ke sini?” Jawab salah seorang punggawa dengan suara menggema, yang sepertinya sudah mengenal Abah</p>
<p>“Abah kangen saja, ingin bertemu dengan paduka raja. Apakah beliau ada di istananya?” Tanya Abah.</p>
<p>“Ada, Abah. Kebetulan kanjeng raja baru pulang berburu, sekarang ada di paseban rempugan dengan para patih,” jawabnya.</p>
<p>“Ada masalah apa punggawa?” Tanya Abah.</p>
<p>“Hamba kurang tahu masalahnya, Abah. Lebih baik Abah masuk saja ke paseban kalau ingin menemui raja,” ucap penjaga pula sambil mempersilahkan kami masuk dengan sebelah tangannya.</p>
<p>Kami berjalan lagi melewati sebuah lapangan luas seperti alun-alun, sebelum akhirnya kami tiba di sebuah istana yang sangat megah dengan arsitektur mirip dengan istana-istana raja tempo dulu yang masih tersisa hingga sekarang.</p>
<p>Aku seperti di alam mimpi, tetapi saat tanganku kucubit terasa sakit. Dirta juga banyak diam. Mungkin benaknya sama denganku, banyak menyimpan pertanyaan tentang perjalanan ini yang belum sempat ditanyakan kepada Abah.</p>
<p>Kami tiba di paseban. Semua yang diruangan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada Abah, yang sepertinya sudah mereka kenal sebelumnya. Kami dipersilahkan duduk bersila setelah bersalaman.</p>
<p>Di kursi yang mewah dan antik, duduk seorang yang dihormati oleh bangsanya. Sosok yang kharismatik berwibawa dengan pakaian kebesaran yang bergemerlapan emas permata.</p>
<p>“Selamat datang di negeri kami. Ada apa gerangan Abah dan rekan-rekan sudi datang ke negeri kami ini?” Tanya sang raja.</p>
<p>“Sebelum Abah menjawab, lebih dahulu terimalah sembah dan sujud Abah dan teman-teman kepada yang mulia paduka raja penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” ucap Abah sambil membungkuk badan, lalu diikuti olehku dan Dirta.</p>
<p>“Diterima sembah sujud Abah. Salam sejahtera sebaliknya untuk bangsa manusia yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada bangsaku di sisi Yang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta,” ucap sang raja merendah, sambil tidak lepas seulas senyum menghias bibirnya.</p>
<p>“Terima kasih atas sambutan dan doa dari padaku raja. Terlebih dahulu Abah akan mengenalkan orang-orang yang Abah bawa, yang pertama adalah juru tulis Supena,” ujar Abah menunjuk kepadaku. “Dan ini di sebelahnya Dirta, warga Pak Ulis Supena. Abah datang kesini hanya perantara saja. Abah hanya menolong Dirta, kanjeng raja, yang lagi kesusahan. Coba ceritakan sendiri kesusahanmu Nak Dirta kepada sang raja.” Ucap Abah sambil menolek kepada Dirta supaya bicara sendiri maksud kedatangannya.</p>
<p>Dirta kelihatan gugup dan gelagapan saat diberi kesempatan untuk bicara sendiri. Melihat Dirta seperti itu, walau tanpa disuruh, aku yang bicara mengenai maksud kedatangannya.</p>
<p>“Begini, paduka raja. Hamba di sini bicara mewakili Dirta karena selaku pengurus masyarakat, hamba berkewajiban menolong masyarakat hamba yang membutuhkan pertolongan.”</p>
<p>“Bagus…bagus, Pak Ulis. Silahkan Pak Ulis yang bicara maksud kedatangan Dirta ke tempat hamba ini!” Ucapnya mempersilahkan aku untuk bicara.</p>
<p>Aku menarik nafas beberapa kali sebelum memulai. “Saat itu, dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta sedang main dengan temannya di pinggir sungai Cipunagara. Tetapi temannya pulang mengabarkan ke warga kampung, bahwa anak Dirta terperosok ke sungai kemudian tidak timbul lagi sampai sekarang.</p>
<p>Begitulah maksud kedatangan hambar ke sini, ingin menanyakan apakah anaknya Dirta ada disini, Paduka? Dan sekalian dengan ijin paduka kami ingin membawa pulang kembali!” Ucapku dengan tutur bahasa yang lemah lembuh supaya jangan ada yang tersinggung.</p>
<p>Sebelum membahas mengenai anak perempuan Dirta, sang raja melemparkan pertanyaan ke para patih yang hadir saat itu dengan suara yang nyaring, sehingga membuat aku kaget.</p>
<p>“Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani-beraninya mengganggu anak manusia?” Teriaknya menggema mengisi ruangan paseban.</p>
<p>“Ampun gusti, hamba yang hadir di ruangan ini tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh paduka raja, bahwa rakyat kerajaan Keduan Cipunagara dilarang mengusik apalagi membawa bangsa manusia ke negeri ini,” kata salah seorang patih.</p>
<p>“Pa Ulis…Abah…Dirta, kalian dengan sendiri apa yang dikatakan patihku tadi, bukan?” Ucap raja dengan suara rendah.</p>
<p>“Ampun, gusti! Hamba mendengarnya! Hamba kesini bukan menuduh tetapi hanya bersifat menanyakan semata, hamba tidak menuduh,” Abah menjelaskan sembari mengangkat kedua tangannya.</p>
<p>“Maaf beribu maaf, paduka gusti! Seperti yang sudah Abah katakan tadi, kami kesini hanya menanyakan. Kalau memang ada, terima kasih. Tetapi kalaupun tidak ada, kami haturkan terima kasih pula atas keramahtamahan, kesedian paduka raja menerima hamba bertiga datang kesini,” kataku melengkapi kata-kata Abah.</p>
<p>“Seperti yang sudah hamba katakan, bahwa bangsa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada bangsa kawula dan sudah menjadi ketetapan bangsa kawula selama ribuan tahun bahwa nenek moyang bangsa kawula melarang keras mengganggu manusia, apalagi memangsanya. Karena manusia makhluk yang paling mulia di hadapan Sang Pencipta.” Sabda sang raja disambut anggukan kepala oleh para patih.</p>
<p>Keadaan hening sejenak di paseban. Semua membisu tidak bersuara.</p>
<p>“Coba ingat-ingat lagi, Patih. Apakah ada laporan dari masyarakat dua hari yang lalu?” Ujar sang raja kepada para patih yang hadir, memecah kehingan.</p>
<p>“Ampun gusti! Hamba hanya menerima laporan dari warga Pancerkulon yang menangkap seekor anak kambing karena mengganggu tanaman sayuran dan sekarang anak kambing itu sudah ditangkap lalu hamba simpan di istal.” Ucap salah satu patih memberitahukan kepada rajanya.</p>
<p>“Apakah itu milikmu, Dirta?” Tanya sang raja.</p>
<p>“Ampun gusti. Hamba orang miskin, hamba tidak punya kambing!” Jawab Dirta, singkat.</p>
<p>Mendengar jawaban Dirta seperti itu, mendadak Abah jengkel. Kenapa dia tidak mendengar nasehatnya saat riungan di surau, apa yang dilihat atau dikatakan harus diakui apapun bentuknya. Tapi, Abah tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan sang raja.</p>
<p>Setelah berbasa-basi, kami bertiga akhirnya pamitan pulang. Kami berjalan memotong, bukan jalan yang tadi sewaktu berangkat. Kami berdua disuruh Abah menutup mata, ketika kami disuruh membuka mata kembali, kami sudah berada dipinggir sungai Cipunagara dengan air sebatas lutut kami.</p>
<p>Tapi kenapa bajuku tidak basah? Sungguh pengalaman yang luar biasa, dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Penyesalan yang sungguh teramat sangat, ketika Abah menyalahkan Dirta, yang tidak memegang nasehatnya sebelum berangkat.</p>
<p>“Dunia kita dengan dunia siluman buaya sangat berbeda. Tidak sama seperti manusia melihat manusia. Kalau wujud asli buaya tampak di permukaan air memangsa manusia, kemudian menyeretnya ke dalam air, itu yang dilihat buaya bukan wujud manusia lagi, tetapi bisa kambing, celeng, atau hewan-hewan lainnya.</p>
<p>Begitu pula sebaliknya pada manusia, apabila hanya dilihat dengan dua mata kita wujud mereka adalah buaya. Akan tetapi apabila manusia melihatnya dengan mata batin akan timbul keakraban sesama makhluk ciptaan yang Maha Kuasa seperti yang Pak Ulis Supena alami bersama Abah tadi.” Kata Abah panjang lebar, sebelum dia kembali ke Haurgeulis.</p>
<p>“Lantas, bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah jasadnya akan mengambang dan bisa kami kuburkan sebagaimana layaknya?” Tanyaku, penasaran.</p>
<p>“Mudah-mudahan!” Ujar Abah, datar.</p>
<p>Enam bulan sudah Dirta menanti penantian yang sia-sia di pinggir sungai Cipunagara, anaknya datang hanya didalam mimpi dan memberi senyuman.</p>
<p>“Bapak aku tidak jauh darimu. Tengoklah anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Pasti ada!” Pesannya.</p>
<p>Batinnya terpukul waktu pertama kali menunaikan pesan mimpinya. Di hadapannya ada sesuatu yang besar dan panjang sedang menantinya. Dia tak lebih seekor buaya. Buaya itu menghilang masuk ke air.</p>
<p>Dirta menjerit sekuat tenaga memanggil nama putrinya. Sejak itu, tiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di pinggir sungai Cipunagara menanti anaknya. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang meratap-ratap memangil-manggil nama anaknya.</p>
<p>Sampai aku mengundurkan diri jadi juru tulis karena uzur, jasad anak Dirta tidak diketemukan lagi. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah kemana. Warga tidak mengetahui, cuma tiap menjelang malam ada bunya kecil suka menampakkan diri pada warga yang sedang mandi di sungai.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 421</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/anakku-menjelma-jadi-seekor-buaya-oleh-u-supratman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertemu Almarhumah Ibu di Alam Gaib (Oleh : Muhamad Rapi)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/bertemu-almarhumah-ibu-di-alam-gaib-oleh-muhamad-rapi/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/bertemu-almarhumah-ibu-di-alam-gaib-oleh-muhamad-rapi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 12:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Ketika aku masih bayi merah umur 3 hari, ibuku meninggal dunia karena kondisinya yang lemah sehabis melahirkanku. Aku dan kelima kakakku pun harus merelakan kepergiannya. Aku sendiri kemudian diangkat oleh... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/bertemu-almarhumah-ibu-di-alam-gaib-oleh-muhamad-rapi/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_517" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-517" href="http://majalah-misteri.net/bertemu-almarhumah-ibu-di-alam-gaib-oleh-muhamad-rapi/muta/"><img class="size-medium wp-image-517" title="ilustrasi" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/09/muta-300x186.gif" alt="ilustrasi" width="300" height="186" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Ketika aku masih bayi merah umur 3 hari, ibuku meninggal dunia karena kondisinya yang lemah sehabis melahirkanku. Aku dan kelima kakakku pun harus merelakan kepergiannya. Aku sendiri kemudian diangkat oleh orang tua yang hingga kini amat menyayangiku.<br />
Bertahun-tahun aku terpisah dari keluargaku tanpa sepengetahuanku. Misteri ini baru terungkap ketika keluargaku di kampung memberi kabar, bahwa nenekku, ibu dari ayahku sakit keras. Dengan sedikit tidak percaya akhirnya kunyatakan aku bersedia pulang.<br />
Sesampai di desa kelahiranku, aku disambut hangat oleh keluargaku. Mungkin sekian tahun terpisah kini dipertemukan kembali, hingga sakit nenekku akhirnya sembuh juga atas kehadiranku.<br />
Setelah tiga hari di desa, aku diajak berziarah ke kuburan ibu dan kakekku. Setelah membersihkan sekitar perkuburan aku membaca Surat Yaasin. Ketika itulah aku merasakan hal yang sangat aneh. Entah kenapa, mataku terasa berat dan tak bisa melihat sama sekali. Rupanya, aku jatuh pingsan.<br />
Ketika siuman dan kubuka mataku, kulihat betapa indahnya suasana kamar tempatku berada. Banyak sekali benda-benda antik yang berkilauan. Bahkan tempat tidurku sendiri beralaskan permadani bercorak keemasan.<br />
“Dimanakah aku?” batinku.<br />
“Budi&#8230;!” sapa seseorang yang entah darimana telah ada di sampingku.<br />
Kupandangi orang yang ternyata sesosok laki-laki agak tua namun rambutnya belum beruban, dengan umur berkisar 60-an tahun.<br />
“Tidak usah takut, Nak!” ucapnya kembali.<br />
“Siapa Bapak ini?”.<br />
“Aku adalah kakek dari pihak ibu kandungmu, Nak!”<br />
“Jadi, aku sudah mati?” tanyaku dengan sedikit khawatir.<br />
“Belum, dan lihatlah, itu Ibumu berdiri di dekat pintu!”<br />
Lalu kupandangi ibuku. Kulihat ada senyum di bibirnya dan sebening air mata di pipinya. Ia mendekatiku dan mengusap rambutku.<br />
“Ibu…!” ucapku sedikit bergetar karena haru.<br />
Aku mencoba menerima kenyataan hidupku walau aku sangat bingung, kenapa aku bisa bersama mereka yang sudah lama tiada. Dan aku merasakan dekapan hangat dari orang yang sangat merindukanku. Kemudian aku bertanya dalam kebisuan yang terjadi dengan rasa haru itu.<br />
“Bu, seandainya aku masih hidup kenapa aku berada di tempat ini?”<br />
“Kau tidak usah takut, Anakku! Kami membawamu ke sini untuk bersama kami.”<br />
“Tapi, aku juga akan mati sebelum ajalku?”<br />
“Sudahlah, aku harap kau bisa menyesuaikan diri, Nak!”<br />
Aku tak bisa menolak dan entah kenapa aku menuruti begitu saja keinginan mereka.<br />
Singkat cerita, sudah berhari-hari aku berada bersama almarhumah ibu dan kakekku. Entah di alam apa? Kucoba mengamati keadaan alam di sekitarku. Kulihat bukit-bukit yang membentang luas, dan aku merasakan sangat nyaman. Aku melupakan keadaanku sesungguhnya. Rasanya, aku belum pernah melihat pemandangan alam seperti ini sebelumnya. Begitu menyenangkan.<br />
Tetapi yang membuatku merasa sangat aneh, kenapa setelah berhari-hari berada di tempat ini tak menemukan sosok manusiapun kecuali hanya ibu dan kakek. Hal ini membuatku sangat bingung, hingga suatu saat kuteringat kehidupanku di dunia. Tanpa sengaja aku mendengar bisikan bahwa aku harus pulang. Tetapi bisikan itu hilang begitu saja.<br />
“Aku ingin pulang, tapi jalan mana yang harus kutempuh untuk bisa pulang?” batinku.<br />
Ketika batinku berkecamuk sedemikian, tanpa sengaja kudengar percakapan ibu dan kakek. Sepertinya terjadi sebuah keributan. Kudengar kakek menyebut nama ibuku Ratih.<br />
“Ratih, kita harus memulangkan Budi ke alamnya, karena ini bukan alam untuk dia!” tegas kakekku.<br />
“Ayah, aku tak bisa melepaskan Budi, karena aku tak ingin anak itu diasuh oleh orang yang bukan dari keluarga kita,” jawab ibuku dengan nada memelas. Sempat kulihat ibu menangis.<br />
“Aku tidak mengizinkanmu untuk menahan Budi,” kata kakekku dengan kasar.<br />
Tangis ibu semakin pilu, sampai akhirnya kakek memanggilku. Kakek kemudian menarik tanganku, mengajakku pergi. Ibu terus mengejar kami dan memohon agar aku kembali padanya. Akhirnya, tibalah kami ditepi sungai dan kakek memaksaku untuk menaiki sebuah perahu. Kakek mendorong perahu itu ke tengah.<br />
Aku dan perahu itu dibawa arus yang sangat deras, seperti sebuah jeram. Aku berteriak meminta pertolongan. Sepertinya tak ada yang mendengar teriakanku, sebab yang kulihat hanya pohon-pohon yang besar dan nampak sunyi.<br />
Aku semakin panik karena di hadapanku terdapat sebuah air terjun yang tinggi. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah. Air terjun itu itu melemparku ke bawah, dan kurasakan tubuhku lemas tak bisa berbuat apa-apa. Seketika itu pula mataku terasa berat. Semakin lama pandanganku berubah gelap.<br />
Anehnya, ketika siuman dan kubuka kembali mataku, ternyata aku sudah ada di kamarku. Kulihat poster-poster pajanganku. Tak lama berselang, kulihat juga ibu dan ayahku angkatku. Mereka begitu bahagia melihat keadaanku. Dan menurut mereka aku sudah pulih dari sakit.<br />
Kuceritakan apa yang telah kualami saat aku tak sadarkan diri. Kudengar juga penuturan mereka bahwa aku tak sadarkan diri hampir 2 minggu, bahkan sempat seminggu dirawat di rumah sakit. Karena dokter tak mampu mendeteksi keadaanku akhirnya aku dirawat dirumah dengan apa adanya.<br />
Kesehatanku pun mulai pulih, tetapi aku sering bermimpi bahwa kakek berpesan agar aku tidak usah berziarah lagi ke pusara ibuku. Entah kenapa? Aku tak tahu jawabannya.<br />
Aku hanya bisa berdoa pada Allah SWT agar ibu dan kakekku diberi ketenangan. Aku berharap agar Tuhan selalu memberi jalan terbaik buatku. Walau aku bingung apa yang terjadi padaku….<br />
<em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 520 19 Sep – 05 OKt 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/bertemu-almarhumah-ibu-di-alam-gaib-oleh-muhamad-rapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Matekodar pada Puasa Ke Tujuh Belas</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/bulan-matekodar-pada-puasa-ke-tujuh-belas/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/bulan-matekodar-pada-puasa-ke-tujuh-belas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 13:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Benci, dendam, syirik, adalah tiga hal utama yang harus dijauhkan dari kehidupanku. Demikian pesan Bunda Dedeh saat aku meminta sarannya setelah aku menderita stress berat ditinggal oleh Burhanudin, suamiku menikah... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/bulan-matekodar-pada-puasa-ke-tujuh-belas/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_504" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-504" href="http://majalah-misteri.net/bulan-matekodar-pada-puasa-ke-tujuh-belas/image/"><img class="size-medium wp-image-504" title="image" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/08/image-300x186.gif" alt="" width="300" height="186" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Benci, dendam, syirik, adalah tiga hal utama yang harus dijauhkan dari kehidupanku. Demikian pesan Bunda Dedeh saat aku meminta sarannya setelah aku menderita stress berat ditinggal oleh Burhanudin, suamiku menikah lagi dengan Suzana, janda tetangga sebelah rumah. Yang harus aku jalani, kata Bunda Dedeh, adalah berserah diri secara total kepada Allah, hidup ikhlas dan mempertebal keyakinan bahwa setiap musibah akan ada hikmah yang besar di belakang musibah itu. Harus ada keyakinan yang besar saat derita itu diturunkan untukku, akan ada bahagia yang belimpah di belakangnya. Caranya, adalah dengan makin intensif mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan melakukan secara total perintahnya dan menjauhi secara total pula larangannya. <span id="more-503"></span>Berat,benar-benar berat mengelola perasaan, pikiran dan hati yang benci, dendam dan iri yang berkembang di kedalaman batin ini. Sebab kejahatan yang dilakukan Burhanudian dan Suzana itu, benar-benar sudah sangat jahat dan semua tetanggaku mengakui bahwa kenyataan itu begitu pahit karena terjadi tidak jauh dari rumahku. Bahkan banyak orang yang mengatakan Burhanudin dan Suzana itu sudah gila. Selain teman, tetangga dan warga se-erte, dia juga selama ini seperti bersaudara dengan aku. Namun karena hawa nafsu, dia tega betul mengkhianati pertemanannya denganku, dengan secara diam-diam berselingkuh dengan suamiku lalu menikah dengan Burhanudian, bapak dari tiga anak-anak gadisku. Duh Gusti!<br />
Pada tanggal 12 November 2001 aku menikah dengan Burhanudin. Lamaran keluarganya kepada ayahku di Baturaja, langsung diterima dan kami direstui menjalani akad nikah. Resepsi dilakukan di kampungku di Sumatera Selatan dengan upacara pesta tradisional. Setelah pesta nikah, kami kembali ke Jakarta dan bekerja di tempat pekerjaan masing-masing. Burhanudin sebagai pegawai Bank Tempo, sedangkan aku bekerja sebagai staf perusahaan multimedia Indo Art.<br />
Satu tahun setelah menikah, kami dikaruniai Tuhan anak perempuan, Lisa,yang terlihat sangat jelita. Kebahagiaan perkawinan kami makin sumringah setelah hadir anak pertama yang lucu dan menggemaskan ini. Tetangga sangat menyukai anak kami, sehingga baby sitter yang mengasuhnya, Endang, tidak begitu banyak mengasuh Lisa, di mana para ibu-ibu tetangga selalu rutin menggendong Lisa dan membawa anak kecilku itu ke rumah mereka. Bahkan, Suzana, janda sebelah, empat rumah dari rumahku di kompleks Buana Jaya Estate, selalu menyediakan susu dan makanan suplemen untuk Lisa. Setiap hari Lisa dibawa ke rumahnya dan sering tertidur siang di rumahnya yang terbagus di kompleks kami.Suzana, dikenal sebagai janda muda yang kaya raya karena mendapatkan warisan besar dari orangtuanya di Pekanbaru. Suzana adalah anak tunggal dari keluarga Rusman Sumardi, raja tanah yang menguasai 50 persen lahan perkebunan kelapa sawit di daerah Riau itu. Mantan suami Suzana, warga Brunai Darussalam, Tengku Asikin, juga raja minyak, pengelola 45 persen ladang minyak negeri Brunai Darussalam yang memasok minyak mentah terbesar di Amerika Serikat. Tengku Asikin masih memberikan tunjangan kepada Suzana dalam bentuk petro dolar karena hubungan mereka tetap baik walau secara hubungan nikah mereka telah bercerai. Dasarnya, Tengku Asikin memiliki seorang anak laki-laki dari Suzana yang kini tinggal di Brunai Darussalam. Hukum pengadilan perkawinan setempat, pada saat mereka bercerai, memutuskan bahwa anak tunggal mereka itu hak perwaliannya jatuh kepada Tengku Asikin.<br />
Suzana menerima keputusan itu tanpa banding, sebab Tengku Asikin menjanjikan tunjangan uang seumur hidup untuk Suzana. Jadi, walau Suzana menganggur tidak bekerja, namun saldo deposito bank nya sangatlah besar. Dari suamiku, Burhanudin, aku mengetahui bahwa uang deposito Suzana sebesar lebih dari Rp. 2 trilyun. Undang-undang kerahasiaan bank melarang orang lain mengetahui jumlah deposito atau lalu lintas transfer yang dilakukan nasabah. Tapi karena suamiku dapat akses untuk menelusuri semua deposito lewat Bank Tempo, maka semua jumlah deposito orang dia dapat mendeteksinya, termasuk uang besar milik Suzana tetangga kami.<br />
Pada tahun 2005, anak kami sudah menjadi tiga. Tapi ketiga anak kami itu semuanya perempuan. Namun walau semuanya perempuan, hal itu tidak mengurangi rasa cinta dan kebahagiaan kami bersama anak-anak. Kami selalu rutin setiap ada hari cuti, pergi ke Bali dan Lombok, kami bersenang-senang di daerah wisata tersohor di antero jagat itu. Namun sesekali kami juga pergi ke Hawai, Macao, Pegunungan Alpen Swiss untuk menikmati hidup. Burhanudin sangat memperhatikan aku dan anak-anak, begitu juga dengan Suzana, sangat memperhatikan anak-anakku dan menjadikan ketiga anakku bagaikan anak nya sendiri.<br />
Hubunganku dengan Suzana sangatlah dekat. Tidak ada tanda-tanda ganjil dan aneh yang terjadi selama ini atas perjalanan hubungan harmonis itu. Namun, suatu hari ada kata-kata Suzana yang cukup mengganggu hatiku, di mana Burhanudin pernah bercerita dengannya bahwa suamiku ini sangat merindukan anak laki-laki. Otak jernihku mulai terganggu saat itu di mana sangatlah ganjil bila suamiku pernah mengatakan kepada Suzana bahwa dia masih kepingin anak laki-laki, kok bukan menyatakan hal itu kepadaku. Sementara kepadaku, Burhanudin tidak pernah sepatah katapun bercerita tentang hal yang menyangkut anak laki-laki itu.Namun pada suatu waktu yang santai, aku bertanya pada Burhanudin, mengapa dia bercerita kepada Suzana hal keinginannya akan anak laki-laki, kok bukan menyatakan hal penting itu kepadaku. Burhanudin tersentak lalu membantah hal itu, bahkan dia tidak mengaku sama sekali tentang curhatan hatinya itu kepada Suzana. “Apa urusannya aku menceritakan hal itu pada Suzana? Ngapain? Tidak benar itu, tidak benar aku bercurhat kepada Suzana menyangkut soal anak laki-laki yang kuinginkan!” bantah Burhanudian, serius.<br />
Namun, saat aku akan mengkonfrontir hal itu dengan Suzana, Burhanudin nampak gelagapan. Bahkan dia melarang aku untuk membahas hal itu. “Tidak perlulah dibahas lagi, biar kau tahu sajalah, bahwa hal itu tidak benar dan aku tidak pernah bercurhat kepada Suzana!” desis Burhanudin.<br />
Karena aku percaya dan kepingin mempercayai suami sepenuhnya, maka aku menuruti saja keinginannya itu. Untuk itulah aku mendiamkan hal itu dan tidak pernah membahas kasus itu sama sekali kepada Suzana. Percaya dengan suami, prinsipku, adalah kewajiban dan hal itu dianjurkan penasehat rumah tangga agar perkawinan tetap harmonis. “Percayalah sama aku, aku tidak akan membohongimu sampai kapanpun. Aku tidak mungkin dan tidak akan mungkin bercurhat pada orang lain kecuali kepadamu. Akan sangat tidak pantas bila aku bercurhat pada janda muda yang kaya raya seperti Suzana itu, tidak etislah!” kata Burhanudin.Kerena dedikasi dan ketekunannya bekerja, maka pada tahun 2006 Burhanudin diangkat menjadi kepala cabang Bank Tempo di Kota Bogor. Walau perjalanan ke kantor sepanjang 120 kilo meter perhari, hal itu dijalani Burhanudin dengan enteng. Dia tidak ingin mengajak kami pindah ke Bogor dan berusaha setiap hari pulang balik selama empat jam ke daerah ini. Jarak dari rumah ke kantornya adalah 60 kilometer, ditempuh dengan waktu dua jam dari rumah. Mobilnya masuk tol Jakarta lalu pindah ke tol Jagorawi, keluar di Ciawi lalu belok ke kanan menuju kantornya di Kota Bogor Tengah. Bila pulang ke rumah, Burhanudin sudah cukup malam, bisa sampai pukul 21.00 atau beberapa kali pula sampai di rumah pukul 24.00. Burhanudin terlihat lelah dan letih sekali, hingga waktu berbincang dengan aku makin berkurang. Bahkan, kepada anak-anakpun, Burhanudin tidak lagi dapat bicara.Anak-anak belum bangun Burhanudin sudah memacu sedannya keluar rumah, sedang dia pulang, anak-anak sedang terlelap. Waktu berkumpul dengan anak-anak hanya ada satu hari dalam satu minggu, yaitu pada setiap hari minggu. Sedangkan hari Sabtu, dia masuk kerja karena kebijakan bank itu, tidak meliburkan karyawan di hari Sabtu.<br />
Ambisi kerja Burhanudin mencapai karier terbaiknya, sangatlah besar. Keinginannya menggebu-gebu untuk menjadi direktur utama di pusat membuat dia bekerja banting tulang dan terus mendalami ilmu pengelolaan bank.Bahkan, untuk keilmuan bidang bank itu, Burhanudin mengambil pendidikan program S-3 bidang bank dan hal itu dilakukannya di malam hari di sekolah magister management. Setelah berhasil mendapatkan gelar S-3 bidang keuangan dan perbankan, Burhanudin ditarik ke pusat menjadi direktur pemasaran. Hal itu terjadi pada tahun 2007 dan kami semua diundang dalam satu pesta penobatan di gedung Manggala Wanabhakti, Senayan dalam suatu upacara yang meriah.<br />
Karena omzet dan keuntungan terus meningkat sejak ditangani Burhanudin, maka suamiku diangkat pula sebagai direktur utama, setelah direktur utama yang lama meninggal dunia akibat sakit jantung. Rapat dewan komisaris memutuskan dua nama yang diandalkan sebagai kandidat direktur utama, Burhanudin dan Edward Sirait. Tapi dewan komisaris mayoritas, memilih Burhanudin setelah terjadi deadlock dan Edwad mendapat suara minoritas.Sejak bertengger sebagai direktur utama, Burhanudin semakin sibuk. Aku dan anak-anak makin jarang bertemu dengan dia. Bahkan belakangan dia banyak ke luar negeri, terutama ke Brunai Darussalam yang menjadi tempat untuk cabang luar negeri. Sementara itu, Suzana, berpamit pulang ke kampungnya di Riau, mengurus sakit Pekanbaru. Pengusaha raja tanah perkebunan kelapa sawit itu terserang penyakit ginjal dan memerlukan perawatan khusus. Bahkan, kata Suzana, ayahnya akan melakukan cangkok ginjal di Cina dalam waktu dekat.<br />
Karena perusahaan multimedia tempatku bekerja bangkrut, maka aku pun di PHK. Maklumlah, perusahaan itu perusahaan kecil yang dimodali oleh tiga mahasiwa, di mana uang modal mereka sangatlah terbatas. Aku dipecat tanpa ada pesangon sama sekali, kecuali gaji ke tiga belas yang seharusnya diberikan menjelang lebaran. Aku menelpon Burhanudin soal pemecatan itu dan Burhanudin meminta aku bersabar dan berdiam saja di rumah mengurus anak-anak. Belakangan, aku benar-benar menjadi ibu rumah tangga, aku memasak, mencuci dan mengurus anak, walau kami punya dua pembantu.Karena aku ingin mengurus semua pakaian dalam sendiri, tanpa menyerahkannya pada pembantu, maka aku mencuci sendiri dan juga menyetrika untuk pakaian dalam aku, anak-anak dan pakaian dalam suamiku.<br />
Sejak kantor cabang di Brunai dan Malaysia terbentuk, Burhanudin banyak pergi ke dua negara tetangga itu. Terkadang berminggu-minggu suamiku itu di luar negeri dan sangat jarang bertemu aku dan anak-anakku. Kami hanya berkomunikasi lewat telpon dan kami sangat mendukung kesuksesannnya. Namun, pada suatu ketika, saat aku bertelpon dengan Sartika, staf bank Tempo, aku tersentak kaget. Dikatakan oleh sartika, bahwa suamiku itu telah mengundurkan diri dari bank Tempo dan Edward Siarait yang mengganti kedudukan dirut. Aku segera mencheck hal itu kepada Pak Edward dan Pak Edward menyatakan benar.Dengan jantung berdetak lebih cepat, aku segera menelpon Burhanudin yang katanya sedang berada di Singapura. Kutekan Burhanudin dengan pertanyaan soal pengunduran dirinya itu dari Bank Tempo itu. Dengan gelagapan, Burhanudin pun mengakui bahwa dia sudah berhenti dari Bank Tempo dan sekarang sedang membangun bank baru yang sedang menunggu perijinan dari Bank Indonesia. Aku marah besar kepadanya karena dia telah berbohong kepadaku dan mengapa selama ini tidak mengatakan hal yang benar kepadaku.<br />
Kini Burhanudin mengakui jujur bahwa dia sedang memproses akuisisi, pengambil-alihan bank yang sudah kalah kliring, Bank Untung Abadi, sebutlah begitu, untuk dijadikan bank miliknya pribadi. Namun di balik pengusahaan pengambil-alihan bank Untung Abadi itu, aku mendapatkan bocoran yang menyakitkan, bahwa Burhanudin berinvestasi berdua bersama Suzana. Kini Burhanudin dan Suzana berada di Pekanbaru untuk membangun bank daerah di kawasan provinsi Riau tersebut. Isu yang aku dapatkan sangatlah akurat karena dibocorkan oleh saudara misan Suzana, Amir Aminudin, yang datang mendadak ke rumah Suzana yang kosong di sebelah rumahku.<br />
Amir Aminudin minta aku merahasiakan kasus itu dan wanti-wanti untuk tidak membocorkan rahasia itu kepada siapapun, terutama kepada saudara sepupunya Suzana dan Burhanudin suamiku. Bahkan, jantungku nyaris berhenti dan kepalaku nyaris pecah saat aku mendengar cerita Amir bahwa Burhanudin dan Suzana sudah dua bulan menikah di Pekanbaru dan mereka se rumah di Jalan Sudirman 9634 D yang mewah di ibukota Riau tersebut. Dari pemberian alamat lengkap Amir ini aku segera melakukan kros check dan pengamatan mendalam atas isu itu.Dengan pesawat Garuda Indonesia Airways aku berangkat ke Pekanbaru bersama tiga anakku, Lisa, Dina dan Wanti, tanggal 13 Juli 2008. Sesampainya di bandara Simpang Tiga, Pekanbaru, kami betiga naik taksi menuju alamat yang diberikan Amir. Dalam perjalanan, jantungku berdetak kencang dan kepalaku terasa oleng dan kosong. Anak-anak aku peluk dengan erat di taksi dan aku mengusap rambut ketiganya sebagai bahasa kalbu ku yang menyatakan, bahwa aku sangat mencintai mereka dan tak akan meninggalkan mereka sampai kapanpun. Kecuali bila Allah telah memanggil aku untuk kembali kepada-Nya.<br />
Sesampainya di alamat yang dituju, pagar kebetulan terbuka dan kami bertiga masuk ke halaman rumah mewah gaya gothic Paseo de Garsia itu. Di tengah gejolak batinku yang kelabu dan jantung yang berdebar hebat, aku mendorong pintu depan yang tidak terkunci, gedubrak! Oh Tuhan, aku melihat pemandangan yang sangat menyakitkan dan menohok berat penuh beban di kedalaman hatiku. Di sofa depan Burhanudin sedang menimang bayi laki-laki yang di sebelahnya Suzana sedang tertawa ceria kepada suamiku itu.Alkisah, ternyata menghilang selama satu tahun belakangan yang katanya mengurus ayahnya yang sakit, Suzana hamil dan melangsungkan pernikahan dengan suamiku di Riau. Apa yang dikatakan Amir benar adanya dan omongannya itu dapat dipertanggungjawabkan. Burhanudin tersentak dan Suzana langsung berdiri kaget melihat aku dan tiga anakku hadir di situ. Aku segera mendatangi Burhanudin dan menampar mukanya. Setelah itu aku meludahi Suzana dan melemparnya dengan asbak. Asbak itu menyentuh keningnya dan jidatnya memuncratkan darah. Anak-anakku berteriak menangis lalu aku segera membawa mereka keluar dan kami naik taksi menuju bandara.Terakhir aku bersumpah kepada Burhanudin, bahwa dia harus ceraikan aku. Jika tidak, aku yang akan menggugat cerai. ”Najis aku untuk tetap menerimamu, sampai kapanpun!” bentakku. Kepada Suzana aku menyumpahinya, biar kuwalat untuk seorang pengkhianat. Kukatakan dia dengan kata nyelekit, bahwa dia janda gatal, janda jablai dan segala macam kata yang kutujukan agar perasaannya menjadi sakit. Berimbang dengan rasa sakit yang kuderita saat ini. Setelah itu kami kembali naik pesawat dan dengan linangan airmata di pesawat Garuda menuju Jakarta.Esok harinya, dalam keadaan stress berat aku mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama Jakarta Pusat di Jalan K.H.Mas Mansyur. Di peradilan aku disarankan untuk mediasi dan berdamai namun aku dengan mentah-mentah menolak. Tapi setelah keluar ruang panitra, ada seorang ibu yang berwajah bijak, menyalami aku. Dengan suara lembut ibu itu mengajak aku duduk berdua di satu pojok beranda pengadilan. Ibu itu mengerti perasaanku, mengetahui secara supramistik kegalauan hatiku. Dengan teduh wajah ibu itu menggiring agar aku bersabar, tawakkal dan berserah diri kepada Allah. Si Ibu, ternyata Bunda Dedeh, seorang ustadzah yang mengaku ulama ”jalanan” yang dengan suka rela mengabdikan hidupnya pada kepentingan sosial. Dia menyelami, mendalami dan merasakan betapa pahitnya hidupku, betapa bencinya, dendamnya dan irihatinya aku melihat kenyataan suami juga teman baik yang mengkhianati itu. Matanya yang teduh, bagaikan menembus ke dalam sanubariku dan membaca semua perasaanku dengan lantang dan tepat.<br />
”Satukanlah cintamu kepada Allah dan pertinggilah sikap berserah diri mu kepada-Nya. Tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan, tidak ada penyakit yang tidak disertai dengan obat. Hatimu sedang sakit, pikiranmu sedang tidak sehat, dan sehatkanlah dengan berserah diri kepada Allah, yakinlah, semua kegalauanmu akan tuntas dalam waktu singkat!” desis Bunda Dedeh, bunda yang bernama asli Nur Syakinah yang berasal dari Garut, Jawa Barat itu.Sejak itu hubunganku dengan Bunda Dedeh begitu dekat. Aku sering ke rumahnya dan dia pun intensif ke rumahku meneduhkan aku dan anak-anakku. Namun kabar berita Burhanudin dan Suzana kututup rapat-rapat dan aku tidak mau tahu lagi soal mereka. Namun, Bunda Dedeh berhasil meneduhkan batinku, berhasil membimbing aku lebih intensif berserah diri kepada Allah, beribadah, berdoa dan tafakur ke pangkuan-Nya. ”Suatu malam, saat usai tahajut, bila kau menemukan atau melihat sesuatu yang unik di malam Ramadhan ke 17, mintalah kepada Allah apa yang kau mau minta. Pada malam ganjil tengah Ramadhan itu. Setiap doa akan diizabah dan kau akan mendapatkan apa yang kau minta!” pesan Bunda.<br />
Benar saja, pada malam ke 17 Ramadhan tahun 2009, aku menemukan matekodar, bahasa komering lailatulkodar, bulan yang nyangsang di pohon mangga depan rumahku. Dengan dada setengah gugup aku minta kesehatan, minta kebahagiaan dan keselamatan hidup. Setelah itu, bulan itu seperti terbang ke asalnya di atas kejauhan langit.Menjelang lebaran, Burhanudin datang bersama Suzana dan anaknya ke rumah. Karena sudah ikhlas, penuh berserah diri, anehnya, aku dapat menerima mereka dengan baik-baik. Bahkan saat Suzana meminta aku untuk menerima Burhanudin, tidak bercerai, aku pun mengangguk. Kami sekarang bermadu dan hidup berbahagia dengan tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki dari Suzana. Kami hidup sangat berbahagia, kompak bahu membahu, berdampingan hidup secara nyaman, tenteram dan penuh kasih sayang. Kata Bunda Dedeh, Allah telah menyuratkan surat penting dalam kitab suci, Surat Annisa, bahwa diperboplehkan bagi laki-laki untuk menikahi beberapa perempuan. Surat ini penuh makna dan maksud yang dalam, bahwa cinta yang terbesar itu harus kepada Allah, bukan kepada suami dan anak-anak lalu si isteri harus mendominasi mereka.Perempuan muslimah harus melahirkan banyak anak Islam yang kelak akan menjadi mayoritas di bumi persada ini. Menyebarlah anak-anak Islam dari beberapa milyar wanita muslimah menjadikan bumi ini dipenuhi oleh pemeluk Islam sejati. Kata Bunda Dedeh, banyak sekali kaum istri belakangan yang berdemo anti poligami, padahal poligami itu untuk kebaikan. Jika tidak baik bagi kemanusiaan, Allah tidak akan menyuratkan titah-Nya di dalam surat Annisa, kitab suci yang agung dan superpenting bagi kemanusiaan. Permintaan bahagia, nyaman dan tentram ku kepada bulan matekodar puasa ke 17, diartikan Bunda sebagai keikhlasanku untuk menerima suamiku berpoligami dan mencintai maduku dengan sepenuh hati.**<br />
(Kisah ni terjadi pada Nyonya Burhanudin. Syarifah Novita Alhadad menulis kejadian itu untuk Misteri Sejati-Red)</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 519 20 Agust – 19 Sept 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/bulan-matekodar-pada-puasa-ke-tujuh-belas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suamiku Seorang Gay (oleh: Rusdi)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/suamiku-seorang-gay-oleh-rusdi/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/suamiku-seorang-gay-oleh-rusdi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 15:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Aku anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Dalam urutan daftar kelahiran, aku merupakan anak bungsu. Karena ibuku tidak bisa melahirkan anak perempuan yang sangat didambakan ayah, kata ibu, ayahku sempat... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/suamiku-seorang-gay-oleh-rusdi/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_455" class="wp-caption alignleft" style="width: 257px"><a rel="attachment wp-att-455" href="http://majalah-misteri.net/suamiku-seorang-gay-oleh-rusdi/gay/"><img class="size-medium wp-image-455" title="gay" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/07/gay-247x300.png" alt="" width="247" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Aku anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Dalam urutan daftar kelahiran, aku merupakan anak bungsu. Karena ibuku tidak bisa melahirkan anak perempuan yang sangat didambakan ayah, kata ibu, ayahku sempat berniat menikahi janda muda yang ditinggal mati suaminya. Anak janda itu, dua orang perempuan semua dalam usia balita. Ayahku berharap, jika menikahi janda itu, kelak akan mendapat anak perempuan.<br />
“Kalau anak kelima kita lahir laki-laki, aku berniat menikah lagi?” ancam ayah ketika itu. <span id="more-454"></span><br />
Mendengar ancaman ayah, ibu sempat shock. Setiap malam, ibu mengerjakan sholat tahajud, shalat hajat, dan pagi hari mengerjakan sholat dhuha. Ibu bermunajat pada Allah, memohon dengan berurai air mata, agar anak kelima yang dilahirkannya nanti, berjenis kelamin perempuan.<br />
Doa ibu yang tulus, akhirnya dikabulkan Allah SWT. Dokter kandungan yang memeriksa kesehatan janin, berdasarkan hasil USG, mengatakan bayi yang ibu kandung berjenis kelamin perempuan. Mendengar penjelasan dari dokter, ibuku merasa sangat bahagia sekali. Dia pun bertambah rajin ibadahnya.<br />
Kata ayah, sejak bulan-bulan pertama ibu mengandung, ibu merasa ada makhluk yang senantiasa berada di dekatnya. Makhluk itu kuntilanak yang hendak mengambil bayi yang di kandung ibu. Menurut cerita ibu, di dalam kamar, ibu sering melihat penampakkan perempuan berbaju daster warna putih. Wajahnya pucat pasi dan rambutnya panjang tergerai hingga batas lutut kakinya. Bila melihat penampakann makhluk itu, ibu membaca ayat kursyi. Makhluk itu segera menghilang.<br />
Nenekku menyarankan pada ibu, agar meletakkan gunting dan besi semberani di dekat pembaringannya. Pada mulanya ibu menolak saran dari nenek ini, karena memang dianggap hanya tahayul dan tidak rasional.<br />
“Apa hubungannya besi semberani dan gunting dengan kuntilanak?” begitu pendapat ibu.<br />
Tapi, kemudian ibu menuruti saja saran dari nenek. Ibu tidak ingin berdebat dengan nenek, dan ibu tidak ingin membuat perasaan hati nenek tidak tenang. Kata nenek, kuntilanak paling takut pada gunting dan besi berani.<br />
Sejak kandungan ibu berusia tujuh bulan, nenek diminta ayah tinggal di rumah kami menemani ibu. Setiap hari ibu memeriksa, apakah gunting dan besi semberani berada di tempatnya. Kata ibu, meskipun di dalam kamarnya sudah diletakkan gunting dan besi semberani, namun dia masih sering melihat penampakkan kuntilanak seperti dilihatnya selama ini.<br />
Kuntilanak itu berdiri di depan pintu kamar, dan kerap tersenyum memandang ibu. Pada waktu tengah malam, kata kakek tertuaku, kuntilanak itu kerap terlihat berayun-ayun di atas akar pohon beringin yang tumbuh di tengah kuburan sekitar tiga puluh meter dari rumah orangtuaku.<br />
Menurut cerita Mbah Poniem, kakek tetanggaku yang tak jauh dari tempat tinggalku, kuntilanak itu adalah arwah penasaran perempuan bunuh diri. Karena dihamili ole mandor yang telah punya isteri dan beberapa orang anak. Sang mandor tidak bertanggung jawab. Karena tidak sanggup menanggung aib, si perempuan pun memilih bunuh diri dengan cara menggantung lehernya menggunakan kemben di dalam kamar tidurnya.<br />
Rumah orang tuaku, menurut Mbah Poniem, tanah pertapakannya adalah bekas rumah perempuan malang itu. Bahkan menurutnya, di pas kamar tidur ibu adalah tempat si perempuan yang tidak diketahui namanya itu melakukan bunuh dirinya.<br />
Ayahku memang seorang manejer lapangan di sebuah perkebunan milik pemerintah. Sebelum pindah ke Afdeling IV, ayahku bertugas di Afdeling V. Rumah dinas yang ditempati ayah di Afdeling IV, memang disebut-sebut sebagai rumah yang angker. Menurut ceritam tidak ada seorangpun berani menempatinya.  Malam hari, warga pondok yang kebetulan lewat di depan rumah itu, kerap melihat penampakkan perempuan yang yang bunuh diri itu. Meskipun keberadaannya tidak menteror warga setempat, tapi perasaan takut menghantui warga.<br />
Arwah penasaran itu, kata Mbah Poniem, tidak pernah datang ke rumah mandor yang telah menghamilinya. Dia sangat mencintai sang mandor dan tidak ingin mengganggu kebahagiaan isteri dan anak-anaknya.<br />
Mendekati hari kelahiranku, ayah meminta bantuan Mbah Sempeno, seorang dukun kampung di dekat rumah. Mbah Sempeno membuat pagar gaib mengelilingi rumah orangtuaku, dengan maksud agar tidak ada kekuatan makhkluk halus yang mengganggu prosesi persalinan ibu.<br />
Menjelang kelahiranku, kata kakakku nomor duaku, dirinya melihat penampakkan bayangan putih berkelebat mengitari rumah. Bayangan itu hendak masuk ke dalam rumah, tapi tidak bisa. Kakak-kakakku yang lain juga ada yang melihatnya. Setelah berulangkali mengitari rumah mencari jalan untuk masuk, tapi tidak menemukannya, bayangan putih itu akhirnya pergi menjauh dari rumah orangtuaku. Tidak lama kemudian, suara tangis bayi terdengar dari dalam kamar. Itulah aku.<br />
Sebagai anak satu-satuya perempuan dalam keluarga, aku memang sangat disayang dan dimanjakan oleh kedua orang tuaku. Masa kecilku penuh dengan kebahagianan.<br />
Sekolah SD, hingga tamat SMA, aku tinggal bersama orangtua.  Setelah tamat SMA, aku diterima di Universitas Negeri di kota Medan. Aku kos di dekat kampus bersama teman satu jurusan yang berasal dari daerah Tapanuli. Di kampus, aku berkenalan dengan Andri, cowok bertampang flamboyan. Dia kakak kelasku di falkutas yang sama.<br />
Andri dalam penilaianku, cowok yang baik dan pengertian. Dia tinggal bersama orang tuanya di kawasan elit kota Medan. Andri telah memperkenalkan diriku pada kedua orang tuanya sebagai calon pendamping hidupnya. Kedua orang tuanya merestui hubungan kami. Kepada kedua orangtuaku, Andri juga sudah kukenalkan. Kedua orang tuaku juga merestui hubungan cinta kami.<br />
Suatu malam, Andri mengutarakan niat orangtuanya yang hendak segera melamarku. Alasan kedua orang tuanya, takut kami tidak bisa menjaga diri. Karena itulah kami disarankan bertunangan dulu, atau menikah sambil kuliah, nanti setelah tamat kuliah baru diadakan resepsi pernikahan. Begitu kata orangtua Andri.<br />
Aku tidak bisa memberikan jawaban. Aku terlebih dahulu harus konsultasi pada kedua orang tuaku. Aku bisa memahami alasan ibu Andri, meskipun sebenarnya aku menginginkan setelah selesai kuliah, baru melangsungkan pernikahan.<br />
“Jika menikah sambil kuliah, bagaimana jika melahirkan dan mengasuh anak. Kuliahku bisa terkendala,” bisik hatiku.<br />
Lama aku termenung seorang diri dalam kamarku. Kebetulan malam itu teman satu kosku pulang ke kampung halamannya. Lamunanku buyar ketika mendengar suara seorang perempuan mengucapkan salam dan berulang kali mengetuk daun pintu.<br />
“Siapa pula yang datang?” gumamku dalam hati, agak kesal.<br />
Aku segera bangkit dari atas tempat tidur, dan berjalan menuju ruangan tamu. Dari balik kaca jendela, kulihat seorang gadis berbusana muslimah berdiri di depan pintu.<br />
“Siapa dia?” Hatiku diliputi tanda tanya.<br />
Pintu kubuka. Di hadapanku berdiri seorang perempuan berusana musilmah yang bersehaja namun tampak sangat anggun berwibawa. Wajahnya berseri-seri. Aku terkesima melihat kecantkan wajahnya yang sangat sempurna.<br />
“Kamu siapa?” tanyaku.<br />
“Aku Aisyah, teman Siti Maryam,” katanya.<br />
Siti Maryam teman satu kosku yang tadi pagi pulang kampung. Tapi, dia tidak mengatakan temannya akan datang.<br />
“Boleh aku menginap di sini?” tanyanya kemudian.<br />
Aku ragu-ragu untuk mengiyakan. Siapa tahu dia perempuan jahat.<br />
“Sebetulnya aku mau ke tempat keluarga, tapi angkot sudah tidak ada yang menuju ke sana,” tambahnya sambil tersenyum penuh keanggunan.<br />
Toh, akhirnya aku mengangguk, sebab merasa kasihan padanya.<br />
“Terima kasih!” cetusnya.<br />
“Masuklah!” ajakku. Aisyah pun mengikutiku dari belakang, masuk ke dalam kamarku.<br />
“Jam berapa sekarang?” tanyanya setelah kami tiba di dalam.<br />
“Baru pukul 22.00!” sahutku.<br />
Sejenak dia memandangi seluruh ruangan dalam kamar. Pandangan matanya berhenti menatap fotoku yang berduaan bersama Andri.<br />
“Pemuda itu pacarmu, ya?” tanyanya seperti menyelidik.<br />
“Iya!” jawabku.<br />
“Hubungan kalian pasti baik-baik saja, bukan?”<br />
Aku tersenyum. “Begitulah! Bahkan orang tuanya akan segera melamarku,” kataku berterus terang.<br />
“Kau tidak akan bisa hidup bahagia jika menikah dengannya!” cetus perempuan itu, mengagetkanku.<br />
“Kenapa?” tanyaku merasa sangat tersinggung. Aku benar-benar tidak menduga kalau sosok yang baru kukenal ini sepertinya ingin begitu jauh memasuki urusan pribadiku.<br />
“Kau belum tahu jika Andri itu mencintamu di satu sisi, tapi di sisi lain dia sebenarnya lebih mencintai laki-laki. Ya, dia membutuhkan kasih sayang seorang lelaki,” jawabnya sambil terus menatapku.<br />
Aku hanya menggelengkan wajahku, tapi dalam hati aku merasa sangat kesal padanya. “Sok tahu!” umpatku dalam hati.<br />
“Maaf, kau bukan bermaksud ingin mencampuri urusan cintamu. Silahkan saja kau menuduhku sok tahu atau tuduhan-tudahabn lainnya,” lanjutnya seolah-olah Aisyah bisa membaca pikiranku.<br />
“Aku tidak menuduhmu seperti itu. Bahkan, aku sangat berterima kasih padamu telah memberikan informasi tentang kelainan yang diderita Andri,” sahutku ramah, sambil berusaha menekan perasaan.<br />
Sebagai tuan rumah, aku memang berusaha bersikap ramah. Meskipun dalam hatiku merasa sangat sebel padanya, tapi aku berusaha tetap sabar menghadapinya.<br />
“Aku sarankan, sebaiknya kau putuskan saja hubungan cintamu dengannya,” sarannya.<br />
Aku benar-benar terkejut dan sulit menerima kata-kata ini. Tapi, sekali lagi, sebagai nyonya rumah aku harus tetap menunjukkan sikap yang ramah.<br />
“Bagimu mungkin sangat mudah berkata seperti itu. Tapi, aku sangat mencintainya. Selain itu, kedua orang tua kami juga sudah memberikan doa restu pada hubungan cinta kami. Jika tiba-tiba aku memutuskan hubungan cintaku secara sepihak, bagaimana aku akan menjelaskannya pada kedua orang tuaku dan kedua calon mertuaku?” ujarku sambil menahan diri.<br />
“Jelaskan saja seperti yang kukatakan tadi?” sarannya, seperti mendesakku.<br />
Aku terdiam. Mengapa wanita ini banyak tahu tentang Andri? Atau, jangan-jangan dia bekas pacarnya Andri, yang sakit hati, dan bermaksud menghalang-halangi keseriusan hubungan kami?<br />
Sebelum aku sempat mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu padanya, dia kembali berkata, “Percayalah, Andri itu bukan jodoh yang baik untukmu. Jika kau tetap meneruskan hubungan ini sampai ke jenjang perkawinan, maka kau akan menderita. Kau pasti tidak akan tahan melihat kelakuan Andri. Dia lebih mencintai pasangan sejenisnya daripada dirimu. Bahkan, dia bisa saja berani membawa pasangannya untuk berhubungan intim di tempat tidurmu.”<br />
Aisyah seolah mampu meramal suatu kenyataan yang pada  saatnya nanti aku akan mengalaminya.<br />
“Memangnya kau peramal bisa mengetahui sesuatu yang bakal terjadi di masa akan datang?” tanyaku. Kali ini suaraku berubah agak ketus.<br />
Aisyah menyunggingkan senyumnya. “Terserah, yang penting aku sudah mengatakan apa yang semestinya kusampaikan kepadamu,” katanya dengan nada tenang.<br />
Aku tidak percaya pada apa yang diucapkannya. Bukankah selama aku berhubungan dengan Andri, dia tidak memperlihatkan sifat laki-laki gay? Penampilanya juga biasa-biasa saja seperti laiknya seorang laki-laki normal. Bagaimana aku bisa percaya pada ucapan Aisyah?<br />
“Kalau sudah mengantuk tidurlah. Besok kau harus bangun pagi, bukan?” katanya mengingatkan. Jadwal kuliahku besok memang masuk pukul delapan pagi.<br />
Aisyah tidak segera beranjak ke atas tempat tidur. Dia kulihat menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia pun melakukan sholat malam. Bahkan, ketika aku terbanguin dari tidur pukul tiga dini hari, kulihat Aisyah masih duduk di sajadah sambil mengaji. Suaranya terdengar sangat merdu, sampai-sampai aku terlena mendengarnya sehingga mebuatku tertidur kembali. Menjelang tiba waktu sholat Subuh, kembali aku terjaga. Kulihat Aisyah masih duduk mengaji.<br />
“Apa sepanjag malam dia mengaji. Apa matanya tidak mengantuk?” kataku dalam hati, bertanya-tanya.<br />
Tak lama berselang dari menara masjid, berkumandang suara adzan sholat Subuh.<br />
“Kau tidak sholat?” tanya Aisyah melihatku terlihat masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.<br />
“Aku sedang datang bulan,” jawabku.<br />
Aisyah maklum. Dia kulihat mengerjakan sholat Subuh. Selesai sholat, dia bersiap-siap hendak meninggalkan tempat kostku. Padahal, ketika itu suasana di luar rumah masih gelap dan hujan gerimis.<br />
“Aku pergi sekarang?” katanya pamitan.<br />
“Hari masih gelap, tunggu sebentar lagi. Biar aku buatkan sarapan dulu!” kataku memintanya agar jangan pergi dulu.<br />
“Aku suda janji pada saudara sepupuku untuk menemuinya pagi-pagi sekali!” jelasnya.<br />
“Jadi tidak sarapan dulu?”<br />
“Tidak. Aku biasa sarapan di rumah saudara sepupuku. Sekarang aku pergi dulu. Terima kasih kau telah memberiku tumpangan tidur!” katanya.<br />
Aku hanya mengangguk. Ah, sebenarnya dia tidak pernah tidur di kamar kostku. Sepanjang malam dia hanya mengaji.<br />
Aku mengantar kepergiannya hingga ke depan rumah. Aku terus mengamatinya hingga dia tiba di depan mulut gang. Sesaat dia berdiri di depan mulut gang, tiba-tiba aku melihatnya seolah menghilang. Aku mengucek-ucek kedua belah mataku, tapi aku tidak melihatnya berdiri di mulut gang.<br />
“Kemana perginya dia?” hatiku diliputi tanda tanya.<br />
Untuk mengobati rasa penasaran, aku bergegas berjalan menuju mulut gang yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari depan kotsku. Pandangan mataku melihat ke kanan dan ke kiri, tapi aku tidak ada melihatnya. Aisyah hilang misterius dari penglihatan mataku. Aneh, siapa dia sesungguhnya?<br />
“Bang, Apa ada lihat perempuan memakai jilbab lewat sini?” tanyaku pada abang becak yang sejak Subuh sudah mangkal di mulut gang menunggu penumpang.<br />
“Tidak ada, Dik,” jawab abang becak.<br />
Aku ternganga heran.<br />
“Sebelum Subuh, abang sudah mangkal di sini. Baru adik sendiri yang abang lihat berada disini,” tambah si abang becak sambil menatapku heran.<br />
Aku merasa heran, mengapa abang becak ini tidak melihat Aisyah? Kemana perginya dia. Bukankah hanya jalan ini yang bisa dia lalui?<br />
“Memangnya ada sih, Dik?” tanya abang becak.<br />
Aku memaksa tersenyum. “Tidak ada apa-apa. Terima kasih ya, Bang!” kataku sambil buru-buru meninggalkan abang becak yang merasa bingung melihat sikapku.<br />
Hatiku diliputi tanda tanya siapa sebenarnya gadis shaleha bernama Aisyah itu? Sampai sekarang aku tidak menemukan jawabannya. Lalu, apa maksudnya menasehatiku agar jangan meneruskan hubungan cintaku dengan Andri, sebab katanya Andri bukan jodohku? Lalu, siapa jodohku yang sebenarnya? Pada saat itu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi tanda tanya yang tidak bisa kujawab. Nasehat dari Aisyah juga aku abaikan begitu saja. Aku tidak mempercayai ramalannya. Bahkan pertemuanku dengan Aisyah, tidak pernah aku ceritakan pada siapapun juga. Aku tidak ingin ada yang tahu. Jika kuceritakan, pasti mereka tidak percaya. Lebih baik kusimpan saja dalam hati.<br />
Kini aku telah menjadi isteri Andri. Setelah resmi menjadi isteri Andri, aku tetap kuliah seperti biasa. Agar kuliah tidak terganggu dengan kelahiran anak, aku dan suami sepakat menunda kelahiran anak pertama. Aku mengikuti program KB.<br />
Tahun-tahun pertama dan kedua, perkawinanku bahagia. Tapi, memasuki tahun keempat, aku merasakan terjadi perubahan sikap Andri padaku. Dia tidak lagi romantis seperti dulu. Tiap hari, kulihat pergi berdua bersama Roni, mahasiswa yang kos di ujung jalan menuju ke rumahku. Mereka terlihat seperti pasangan kekasih.<br />
Ketika kutanyakan pada Andri tentang hubungannya dengan Roni yang kuanggap tidak wajar, dia malah marah-marah. Karena itulah, pertengkaran antara aku dan suami semangkin sering terjadi, bahkan hampir setiap hari. Puncaknya aku melihat kejadian seperti yang dulu diramalkan Aisyah: “Percayalah, Andri itu bukan jodoh yang baik untukmu. Jika kau tetap meneruskan hubungan ini sampai ke jenjang perkawinan, maka kau akan menderita. Kau pasti tidak akan tahan melihat kelakuan Andri. Dia lebih mencintai pasangan sejenisnya daripada dirimu. Bahkan, dia bisa saja berani membawa pasangannya untuk berhubungan intim di tempat tidurmu.”<br />
Ya, hari itu, saat aku pulang dari berbelanja di pasar, di dalam kamar tidurku, mata kepalaku menyaksikan sendiri Andri sedang berhubungan intim dengan Roni. Melihat adegan yang bagiku sangat menjijikan itu, maka seketika emosiku meledak. Aku mencaci maki mereka dengan kata-kata kotor dan makian yang tidak dapat kukontrol lagi.<br />
Andri bersama pasangan kencannya kabur dari rumah. Sejak kejadian itu, Andri tidak pernah pulang ke rumah. Entah kemana perginya.<br />
Punya suami seorang gay sungguh sangat menjijikan. Karena itulah akhirnya kuputuskan mengajukan gugatan bercerai. Setelah beberapa kali menghadiri sidang, akhirnya hakim mengabulkan permohonan cerai yang kuajukan.<br />
Saat kuceritakan kisah hidupku pada Misteri bulan lalu, aku baru saja menikah dengan seorang duda yang ditinggal mati isterinya. Mas Narto, suami keduaku, orangnya sangat sayang padaku. Dia sangat memanjakanku.<br />
Aku berharap kisah hidupku ini menjadi pelajaran berharga bagi pembaca. Tentang siapa sebenarnya gadis bernama Aisyah itu, hingga kini aku tak bisa menjawabnya. Mungkinkah dia bidadari dari sorga yang sengaja diutus Allah untukku? Ah, rasanya ini terlalu naif. Yang jelas, siapa pun adanya Aisyah, aku patut meminta maaf padanya sebab aku telah menyepelekan semua nasehatnya. Terima kasih sahabatku yang misterius&#8230;!</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/suamiku-seorang-gay-oleh-rusdi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terinjak Mayat di Kolam Renang (oleh:Tia Aweni D.Paramitha)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/terinjak-mayat-di-kolam-renang/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/terinjak-mayat-di-kolam-renang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 12:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Sejak pensiun, Kang Endang Sutisna membeli rumah tua di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Rumah kami yang lama di Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan, kami jual kepada Raam Sarkati untuk dijadikan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/terinjak-mayat-di-kolam-renang/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_351" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-351" href="http://majalah-misteri.net/terinjak-mayat-di-kolam-renang/rumah-tua/"><img class="size-medium wp-image-351" title="rumah-tua" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/rumah-tua-300x270.png" alt="" width="300" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Sejak pensiun, Kang Endang Sutisna membeli rumah tua di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Rumah kami yang lama di Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan, kami jual kepada Raam Sarkati untuk dijadikan studio syuting sinetron. Rumah yang sangat kami sayangi tersebut terpaksa dijual karena kami membutuhkan uang sangat besar  untuk pengobatan Kang Endang yang sakit jantung.<span id="more-350"></span> Bahkan untuk menggunakan ring di katup jantungnya kami terpaksa merogoh kocek sebesar Rp 900 juta di rumah sakit jantung Harapan Bangsa. Dari rumah Pondok indah yang dijula Rp 15 milyar, kami bisa membiayai rumah sakit dan berobat jalan di Singapura. Sebagian uang itu kami belikan rumah untuk ditinggali, sebuah rumah tua bekas pemerintah Belanda di Desa Kias di pinggir kota Rangkasbitung. Luas tanah rumah  itu sangat luas. Lebarnya 5000 meter dan panjang tanahnya 6000 meter. Sedangkan bangunannya betingkat dua, di atas tanah seluas 1500 meter. Rumah itu mirip musium dengan dinding yang kumuh dan retak di sana-sini. Untuk merenovasi rumah itu, kami mengeluarkan biaya sebesar Rp 600 juta. Sedangkan harga rumahnya kami beli dengan pengusaha setempat sebesar Rp 5 milyar. Belakangan, rumah ini menjadi heboh. Sebab di dalam rumah tua bangunan Nederland Projective ini terdapat banyak keanehan. Keanehan yang terjadi adalah suara lonceng yang berbunyi sendiri setiap pukul 23.00 malam dan gramophone serta piano yang dimainkan tanpa terlihat manusia pemainnya sama sekali.<br />
Pada tanggal 13 April tahun 1992 kami mulai menempati rumah itu. Mulanya kami tidak merasa takut sama sekali karena rumah itu sangat nyaman ditinggali. Walau tanpa pendingin AC, rumah bertinggi enam meter dengan 10 kamat tidur itu cukup sejuk. Sistem pentilasi udaranya sangat bagus dan angin masuk ke dalam rumah dengan semilir adem. Semua anak-anak betah tinggal di situ, apalagi ada dua piano bikinan Austria merek Karlzeir kesukaan Winda, anak sulungku yang memang mahir bermain piano sejak kursus beberapa tahun dengan Ralf Herperziez, seniman Jerman yang buka sekolah musik di Melawai.<br />
Sedang piano satu lagi, adalah piano sangat tua bikinan Jerman peninggalan residen Belanda Hermann Van Heilz. Piano tua yang sudah rontok tali-yalinya akbat dimakan tikus itu tak bisa dibetulkan lagi karena rusak parah. Tapi piano itu tetap kami bersihkan dan terlihat sangat cantik dan antik. Alat musik pencet merk Herkens itu dibuat pada abad 17 masehi di kota Berlin Jerman Timur. Piano tua itu hanya kami jadikan pajangan sebagai barang antik yang menghiasi ruang tamu bagian tengah rumah kami. Teman-teman senimanku seperti pelukis Titis Jabarudin sangat terkesan dengan piano itu. Bahkan dia berminat mengganti denan uang Rp 100 juta walau piano itu tidak lagi berfungsi. Namun karena kami sangat sayang, maka uang tawaran pelukis Titis Jabarudin sebesar itu kami tolak dan kami lebih suka piano itu terpajang indah di rumah kami. Pemusik Harry Johan juga sangat tertarik dan mau membelinya, tapi kami tetap tidak akan menjualnya walau harga berapapun dan kepada siapapun.<br />
Setelah empat bulan kami tinggal di rumah tua ini, kami membangun kolam renang di bagian belakang rumah. Saat membongkar tanah, tukang gali tanah untuk kolam itu menemukan satu patung wajah meneer Belanda sedang memegang pedang. Patung Meneer Van Debosh asal  Belanda itu menggunakan pakaian tentara Nederland dan berdiri dengan gagah. Patung itu kami bersihkan lalu kami tempatkan di ruang tamu bagian depan.<br />
Belakangan, patung Van Debosh itu menunjukkan tanda yang aneh-aneh. Matanya yang menatap tajam, terkadang terlihat menutup dan bibirnya yang merengut sesekali terlihat tersenyum mengeluarkan giginya yang rapih. Bahkan pedang panang yang dipegangnya, sesekali terlihat diayunkan ki atas ke bawah, yang membuat kami menjadi penasaran. Anak bungsuku, Linggar, bahkan pernah mendengar suara bercakap yang keluar dari mulut patung ajaib itu.<br />
Belakangan, banyak keanehan yang terjadi dalam rumah kami yang membuat kami miris. Piano tua bikinan Jerman yang rusak itu, tiba-tiba dimainkan oleh seseorang di tengah malam, tapi orang yang memainkannya tidak terlihat sama sekali. Suara instrumentalia musik yang diperdengarkan sangatlah indah. Piano itu menyuarakan musik klasik ciptaan Bethoven dan Bach. Sementara itu, alat musik tua gramaphone yang sudah tinggal bangkai, juga suka mengeluar bunyian yang merindingkan bulukuduk kami sekeluarga.<br />
Karena tidak mengerti mistik, kami pun akhirnya mendatangkan ahli supranatural Haji Kosim Jamil, paranormal asal Bengkulu yang bermukim di Kalianda, Lampung Selatan. Haji Kosim Jamil menginap beberapa hari di rumah kami untuk menyelidiki suara-suara itu. Baik dari patung Van Debosh, gramaphone maupun dari piano rongsok itu. Anehnya, selama Haji Kosim di rumah kami, tidak sekalipun benda-benda itu berbunyi. Benda-benda itu sama sekali tidak menunjukkan jatidirinya sebagai benda yang diisi kekuatan gaib.<br />
Tapi saat malam terakhir sebelum pulang ke Kalianda, Haji Kosim Jamil dapat berinteraksi dengan patung Van Debosh itu. Si Patung bersuara, bercapak dalam bahasa Belanda kepada Haji Kosim dan patung itu mengerakkan pedang, kaki dan mulutnya secara seksama. Kepada Haji Kosim Jamil, patung itu minta dikembalikan ke tempat asalnya, di dalam tanah areal kolam renang yang kami bongkar. Karena tanah itu sudah jadi tembok kolam, maka Haji Kosim Jamil menanam patung itu di sebelah kolam renang.  “Tidak apa-apa dikubur di sebelah kolam, yang penting aura tanahnya masih sama dan insya Allah patung itu menerima ditempatkan di sini!” desis Haji Kosim Jamil kepada kami, saat melakukan ritual penguburan patung itu.<br />
Setelah mengubur patung itu, Haji Kosim Jamil pulang meninggalkan rumah kami. Tapi suara-suara aneh yang keluar dari piano dan gramaphone tidak berhenti juga. Setiap tengah malam, piano dan gramaphone itu tetap berbunyi sedniri dan membuat kami ketakutan. Besok harinya, Kang Sutisna kembali mendatangkan Haji Kosim Jamil dai Kalianda. Haji Kosim kembali menginap namun kali ini datang dengan istrinya Hajjah Hindun. Hajjah Hindun juga seorang paranormal dan mampu berdialog dengan mahluk gain bangsa jin yang tersebar di antero negeri ini. Bahkan di Lampung, Hajjah Hindun lebih dikenal ketimbang suaminya sebagai paranormal. Hajjah Hindun banyak didatangi pasien untuk mengobati segala macam penyakit dan dia mampu membantu siapapun yang menderita penyakit seberat apapun yang diakibatkan oleh ilmu teluh.<br />
Haji Kosim dan Hajjah Hindun pun melakukan ritual pengusiran roh halus penghuni rumah kami. Dalam ritual itu terjadi pertempuarn yang sangat besar, sebab jin-jin peninggalan Belanda itu tidak mau pergi dari rumah tua kami. Mereka menolak pergi karena mereka sudah tinggal selama ratusan tahun di rumah bekas pejabat pemerintah kolonial tersebut. Bahkan mereka datang ke daerah itu sejak abad 16 akhir dan bemukim di wilayah Rangkasbitung, Lebak, Banten tersebut. Hajjah Hindun terpontang panting dalam ritual itu karena mendapat perlawanan sengit dari jin-jin penghuni rumah kami. Begitu juga dengan suaminya, Haji Kosim Jamil yang sempat pingsan beberapa saat, lalu siuman setelah dimantra-mantrai oleh Hajjah Hindun.<br />
Karena berkeras untuk tidak pergi, akhirnya para mahluk gaib penghuni rumah kami, berjanji untuk tidak bersuara lagi. Asal satu syarat dipenuhi, bahwa Hajjah indun tidak mengusir mereka ke Samudera Hindia, laut selatan Banten Kidul. Hajjah Hindun pun bersepakat dengan mereka, bahwa tidak ada pengusiran dan mereka diminta untuk tidak bersuara mengganggu penghuni rumah. Kesepakatan pun terjadi dan hingga kini piano serta gramaphone itu tidak berbunyi lagi. Haji Kosim dan Hajjah Hindun pun kembali ke rumah mereka di Kalianda, Lampung Selatan.<br />
Belakangan, saat mau menyeburkan diri di kolam renang, aku terkejut melihat bayang-bayang tentara membawa pedang di ujung kolam. Bayang-bayang itu melintasi bibir kolam dari pohon mangga menuju pohon manggis sebelah selatan kolam renang kami berukuran besar itu. Saat itu senja merangkak menjelang sore dan aku mau olahraga berenang karena hobiku itu sejak lama aku jalani sejak memliki kolam berenang itu. Karena terkejut melihat bayang-bayang itu, aku memanggil suamiku Kang Sutisna dan ayah empat anakku itu segera mendatangiku. Arkian, sayangnya bayangan itu tidak ada lagi terlihat dan Kang Sutisna tidak melihat apapun sebagaimana apa yang aku lihat.<br />
Karena trauma pada sosok bayangan tentara Belanda itu, aku meminta Kang Sutisna menemaniku berenang dengan duduk di kursi malas tepi kolam. Kang Sutisna mengawasi aku sambil membaca majalah Tempo, yang sesekali melepas bacaan itu sambil mencandaiku yang katanya berenang seperti kodok ngorek. Pada saat jauh dari pandangan Kang Sutisna di bagian ujung kolam, aku terkejut lagi melihat bayangan lagi melintas dari pohon amnggis ke pohon mangga. Pergerakan bayangan itu berubah, berbalik arah, di mana sebelumnya aku melihat dari pohon mangga berjalan ke arah pohon manggis. “Kang, apakah Akang tidak melihat bayangan yang baru saja terlihat di sini?” teriakku. Kang Sutisna menggelengkan kepala, lalu berdiri mendekati pohon mangga tempat arah perginya bayangan itu. “Hei, hantu Belanda, jangan kau menakut-nakuti istriku ya? Bila kau masih menakut-nakuti istri, aku akan panggil lagi Hajjah Hindun dan kau akan dibuang ke laut selatan. Mengerti kau?” bentak Kang Sutisna, nekad, sebagaimana yang diajarkan oleh Hajjah Hindun kepadanya bila melihat sosok bayangan sang hantu.<br />
Belum lama setelah Kang Sutisna usai bicara begitu, tiba-tiba angin puting beliung datang.  Arus angin yang sangat deras datang dari barat itu, sangat keras mengguncang dedaunan pohon mangga dan pohon manggis di selatan kolam renang itu. Tiba-tiba dedaunan dua pohon itu meranggas, rontok melayang-layang ke dalam kolam. Permukaan kolam pun akhirnya penuh dengan daun kering dan aku pun bersiap untuk naik ke atas kolam lalu masuk ke dalam rumah. Pada saat kakiku menginjak anak tangga kolam, jantungku bergetar hebat. Arkian,  ternyata kakiku terinjak dengan bangkai manusia yang tergolek di dasar kolam. Bangkai manusia itu kulihat jelas bertubuh bule, jangkung dan rambutnya pirang serta berhidung mancung. “Oh Tuhan, ada mayat di bawah kakiku ini!” teriakku.<br />
Kang Sutisna segera mendekat dan penasaran dengan  apa yang baru saja aku injak. Benar saja, ternyata Kang Sutisna juga melihat bangkai amnusia di dasar kolam itu dan suamiku itu segera menarik tanganku untuk naik ke daratan. Tangan dan kakiku yang kaku pun akhirnya membuat blunder, menarik tangan Kang Sutisna lalu menjungkalkannya ke dasar kolam. Kami berdua akhirnya tenggelam ke daear kolam, tergolek bersama mayat orang Belanda yang menyeramkan itu. Sebelum kami kehabisan nafas. Tiga dari empat anakku menyelamatkan kami dan kami bisa diangkat oleh mereka ke daratan lagi. Pada saat kami sudah berada di atas, kami kembali melihat ke dasar kolam dan mayat Belanda itu sudah tidak ada lagi di sana.<br />
Keesokan harinya kami kembali mendatangkan Hajjah Hindun dan Haji Kosim Jamil ke Rangkasbitung. Mereka kembali menginap di rumah kami dan kali ini melakukan ritual di kolam renang. Dalam ritual itu, terjadi lagi pertarungan seru antara mahluk gaib peninggalan Belanda itu dengan kediua suami istri yang berprofesi sebagai paranormal itu. Namun kali ini, Hajjah Hindun dan Haji Kosim Jamil memenangkan pertarungan. Jin menyerupai orang Belanda itu mengalah untuk tidak menampakkan diri lagi. Tapi syarat yang dimintanya adalah memindahkan patung yang ditanam sebelah kolam renang untuk dilarung ke laut selatan. Bersama Hajjah Hindun dan Haji Kosim Jamil, kami akhirnya pergi melarung patung tentara berpedang itu ke  Bukit  Bayah, Malimping, suatu puncak karang hitam di Banten Selatan. Dari ketinggian 20 meter, aptung itu dilempar Hajjah Hindun ke laut Samudera Hindia dan patung itu tengelam dalam keganasan ombak Karang Bayah.<br />
Pada saat kami akan pergi meninggal Karang Bayah, tiba tiba terdengar suara orang berbahasa Belanda, menyatakan sesuatu dari bawah bukit. Suara itu bersumber dari patung yang tenggelam di bawah bukit karang yang kami injak. Penghuni gaib patung itu, kata Hajjah Hindun, meminta agar setiap satu tahun, satu suro, diberi kembang tujuh taman yang dilarung ke daerah itu. Selain kembang tujuh taman, dia minta juga darah kerbau bule dan minyak wangi Elizabeth Arden. “Bila permintaan itu tidak dipenuhi, dia akan kembali naik ke darat dan pulang ke rumah kalian di Rangkasbitung itu. Maka itu, tolong pada setiap satu suro, kalian datang ke sini dan memenuhi permintaannya itu,” pinta Hajjah Hindun kepada kami.<br />
Alhamdulillah, hingga awal tahun 2011 ini, mahluk-mahluk aneh di rumah kami tidak menampakkan diri lagi. Jangankan maujud, bersuara pun, tidak lagi mereka lakukan. Aku tidak tahu pasti, apakah semua mahluk halus itu sudah  pergi dari rumah kami atau masih ada di sekitar kami namun takut melanggar  perjanjian dengan Hajjah Hindun hingga tidak beraksi lagi. Namun yang jelas, hingga kini kami sekeluarga hidup tenang dan damai, bisa berenang dengan nyaman dan bisa tidur setiap malam dengan nyenyak. Namun setiap tahun, pada setiap  tanggal Satu Suro, kami pergi ke laut  untuk larungan. Kami memberikan seserahan kembang tujuh taman, satu botol besar darah kerbau bule dan menabur  wewangian minyak parfum asli Prancis, parfum Elizabeth Arden kepada laut selatan. Kata Hajjah Hindun, benda-benda itulah yang jadi makanan Sang Hantu dan dia tidak akan kembali ke rumah kami selagi ritual itu dilakukan pada setiap tahun di Karang Bayah, karang tinggi di atas ombak besar laut selatan yang mengerikan di Banten Kidul itu.<br />
Hingga kini, sesuai saran Hajjah Hindun dan Haji Kosim Jamil, setiap malam Jumat di rumah kami dibuatkan pengajian. Secara bergantian pula para pengkhotbah agama Islam kami datangkan dari beberapa tempat untuk berceramah agama. Kami juga mengumpulkan tetangga dan teman-teman  untuk mengaji bersama, membaca Surat Yasin dan tahlil untuk mendoakan orang-orang muslim dan muslimah yang sudah meninggal dunia. Kami juga setiap minggu memberi makan anak yatim, orang miskin dan orang-orang jompo yang terlantar  di Rangkasbitung untuk sama-sama menikmati rizkih yang kami dapat sebagai seniman kerajinan tangan yang mengekspor patung-patung kayu  secara rutin ke Yunani, Eropah Barat. ****</p>
<p>(Kisah ini dialami oleh Nyonya Endang Sutisna. Tia Aweni D. Paramitha menulis cerita ini untuk pembaca Misteri Sejati-Red)</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 511 20 Apr – 04 Mei 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/terinjak-mayat-di-kolam-renang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-Gara Terjerat Hutang Anak Sendiri Ditumbalkan (oleh:Eko Hartono)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 08:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Persekutuan Gaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya, kemiskinan yang menimpa hidup manusia adalah bagian dari cobaan dan ujian. Karena itu kita tidak perlu merasa sedih dan putus asa. Yang terpenting adalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_326" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a rel="attachment wp-att-326" href="http://majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/tumbal-anak/"><img class="size-medium wp-image-326" title="tumbal-anak" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/tumbal-anak-240x300.png" alt="" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi: tumbal anak</p></div>
<p>Sesungguhnya, kemiskinan yang menimpa hidup manusia adalah bagian dari cobaan dan ujian. Karena itu kita tidak perlu merasa sedih dan putus asa. Yang terpenting adalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tetap berikhtiar atau berusaha melalui jalan yang diridhoi Tuhan.<br />
Ingatlah, tak ada makhluk di dunia ini yang tidak dijamin rejekinya oleh Allah. Lagi pula Allah juga tidak akan membebani manusia dengan kesuliatan hidup yang melebihi kemampuannya. Berusaha dengan sungguh-sungguh disertai dengan doa yang khusuk kepada Allah niscaya akan diberikan jalan kelapangan dan kemudahan. <span id="more-325"></span><br />
Mungkin itulah yang seharusnya dilakukan oleh Sugiyanto saat dibelit kesulitan ekonomi yang memberatkan hidupnya. Tapi sayang, akalnya yang pendek, ditambah dengan keimanannya yang lemah, membuat dia nekad menemui seorang dukun sesat. Nah, dari sinilah kisah menyedihkan, sekaligus mengerikan dijalani oleh Sugiyanto.<br />
Bagaimanakah kisah selengkapnya? Kepada Misteri Sugiyanto menceritakan pengalamannya yang terjadi beberapa tahun silam itu&#8230;<br />
Pengalaman yang sangat mencekam dan seumur-umur tidak akan pernah bisa dia lupakan ini sunggu tak ingin diulanginya lagi. Bila mengingatnya, Sugiyanto jadi merinding dan ngeri bukan main. Rasa penyelasan begitu berat menyelimuti hatinya. Ucapan istigfar tak henti-hentinya terucap dari bibirnya yang kering.<br />
Ya, masih terbayang dalam ingatannya adegan sadis dan menyeramkan yang terpampang di hadapan matanya itu. Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan perempuan tua itu memotong-motong tubuh bayi yang masih merah, lalu dengan rakus memakan dagingnya. Dimulai dari kaki, tangan, sampai jantung si bayi yang hanya sebesar buah sawo.<br />
Begitu lahapnya dukun tua itu menyantap tiap bagian tubuhnya, sehingga tak ubahnya seperti sedang menikmati daging ayam goreng. Apakah perempuan tua itu seorang kanibal?<br />
Sugiyanto pernah mendengar tentang kasus mutilasi yang terjadi di tengah masyarakat. Tapi baru kali ini dia melihatnya secara langsung. Bahkan rasanya ini lebih sadis dan tak berperikemanusiaan. Bayangkan, daging bayi dijadikan santapan lezat.<br />
Huak! Sugiyanto sampai tak kuat melihatnya dan ingin muntah. Tapi dia mencoba untuk menahan diri dan tetap diam. Dia hanya bisa menelan rasa jijik itu.<br />
Tiba-tiba, sebuah perasaan bersalah dan berdosa menghujami dadanya. Dia sadar, apa yang telah diperbuatnya ini telah melanggar hukum negara. Lebih dari itu, mengingkari norma agama yang dianutnya.<br />
Tapi apa boleh buat. Sebuah tuntutan, atau lebih tepatnya keterdesakan membuat dia tak punya pilihan lain. Hutangnya yang menumpuk dan telah jatuh tempo harus segera dia lunasi. Bahkan, salah seorang rentenir lewat debt kolektornya mengancam akan menghabisi nyawanya bila dia tak segera melunasi hutangnya.<br />
Dalam keadaan bingung, kacau, putus asa, dan tertekan, Sugiyanto kemudian lari kepada seorang dukun sakti yang konon bisa membantu kesulitannya.<br />
Ssebelumnya, dia memperoleh informasi dari salah seorang kenalannya bahwa di tengah hutan Sonoloyo yang terkenal angker dan wingit, tinggal seorang perempuan tua sakti bernama Nyi Saketi. Konon, siapa saja yang bertemu dengannya dan meminta bantuannya maka bakal dikabulkan. Dengan catatan, mau menjalankan segala apa yang diperintahkannya.<br />
Setelah menempuh perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, akhirnya Sugiyanto berhasil bertemu Nyai Saketi. Perempuan tua itu tinggal sendirian di sebuah gubuk reot di tengah hutan.<br />
Begitu sampai di hadapannya Sugiyanto langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Nyai Saketi mengangguk-angguk. Dia lalu mengemukakan sebuah syarat kepada Sugiyanto untuk membawakan bayi merah yang masih hidup atau baru saja mati. Bayi itu nantinya akan dijadikan tumbal untuk memenuhi permintaan Sugiyanto.<br />
Sebenarnya, sangat berat bagi Sugiyanto memenuhi perimintaan itu. Tapi karena tak ada pilihan lain akhirnya dia menyanggupi. Dia lalu kembali ke kota dan berusaha mencari bayi seperti yang diminta Nyai Saketi.<br />
Agar memudahkan usahanya, Sugyanto hilir mudik di sekitar rumah sakit bersalin. Sempat ada niat untuk menculik bayi yang baru dilahirkan biar lebih cepat, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia takut ketahuan dan dipenjara. Lagi pula kasihan orang tua si bayi.<br />
Secara kebetulan di sebuah klinik bersalin ada seorang ibu melahirkan bayinya dan mati. Dengan pura-pura sebagai kerabatnya, Sugiyanto mengambil bayi yang telah meninggal itu. Dia membungkus bayi itu dengan kain dan memasukkannya dalam tas. Pikirnya, orang tua sang bayi tak akan begitu kehilangan sebab bayinya sudah meninggal. Lagi pula, Nyai Saketi sendiri tak keberatan menerima bayi yang sudah meninggal.<br />
Saat itu Sugiyanto merasa tidak bersalah. Dia kembali ke gubuk Nyai Saketi dan menyerahkan mayat bayi yang baru berusia beberapa jam itu. Tadinya Sugiyanto berpikir, mayat bayi itu hanya akan dijadikan sesaji dan kemudian dikubur. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat Sugiyanto terkejut, tertegun, sekaligus ngeri. Bayangkan, tanpa banyak kata Nyai Saketi memotong-motong tubuh bayi yang masih merah itu dan memakan tiap potongnya seperti layaknya memakan ayam goreng.<br />
Perut Sugiyanto jadi mual dan eneg. Tapi dia  hanya bisa terdiam dan tak berusaha mencegah perbuatan Nyai Saketi. Tampak mulut Nyai Saketi berselemotkan darah.<br />
Mungkin karena sudah kekenyangan, Nyai Saketi tidak memakan semua tubuh sang bayi. Dia hanya memakan tangan, kaki, dan jantungnya. Selebihnya dia meminta Sugiyanto untuk mengubur jasad sang bayi.<br />
Dengan tangan gemetar dan perasaan bercampur aduk tak karuan, Sugiyanto mengubur tubuh mungil itu. Dia masih belum mengerti, apa maksud dari tindakan Nyai Saketi dengan memakan mayat bayi.<br />
Ya, Sugiyanto hanya bisa memendam perasaan tidak mengerti itu dalam hatinya. Dia mencoba tak memusingkan hal itu. Yang lebih penting adalah realisasi dari janji Nyai Saketi yang akan membantu kesulitan hidupnya.<br />
&#8220;Lalu, bagaimana dengan permintaan saya, Nyai?&#8221; tanya Sugiyanto memberanikan diri.<br />
&#8220;Pulanglah! Apa yang kamu inginkan sudah terpenuhi. Hutang-hutangmu bakal lunas dan kamu akan mendapatkan kekayaan!” jawab Nyai Saketi.<br />
Sugiyanto sempat bingung dan tak mengerti. Tapi akhirnya dia pulang juga ke rumah. Dan ketika sampai di rumah, dia sangat terkejut mendengar kabar menggembirakan dari sang isteri.<br />
&#8220;Syukur kepada Tuhan, Mas! Aku sudah dapat hadiah seratus juta rupiah dari undian sabun! Wah, hutang-hutang kita bakal bisa dilunasi semua. Kita tak jadi gembel jalanan,&#8221; seru Haryati, girang bukan main.<br />
Sugiyanto jadi tersenyum senang. Dia yakin, rejeki nomplok yang diterima keluarganya ini, merupakan buah dari kesaktian Nyai Saketi. Dukun sakti itu benar-benar ampuh. Belum lama dia memberikan tumbal mayat bayi, permintaannya langsung terkabul.<br />
Tapi Sugiyanto tak ingin menceritakan tentang Nyai Saketi kepada isterinya. Biar ini menjadi rahasia pribadinya. Yang penting isteri dan anak-anaknya hidup bahagia.<br />
Selanjutnya hidup Sugiyanto seperti ketiban pulung. Rejeki mengalir terus tak henti. Ada saja keberuntungan yang didapat olehnya. Mulai dari dapat pekerjaan dengan posisi mapan, nembus undian, dikasih objekan basah dari teman, sampai dapat komisi jutaan rupiah.<br />
Pokoknya hidup Sugiyanto berubah seratus delapan puluh derajat. Kini dia dan keluarga tidak lagi tinggal di rumah kontrakan yang sempit dan kumuh, tapi sudah punya rumah sendiri yang besar dan mewah.<br />
Dia bisa membeli perabotan luks, ponsel, mobil, dan barang-barang serba mewah lainnya. Pendeknya, kesejahteraan keluarganya terjamin.<br />
Kebahagiaan yang dirasakan Sugiyanto menjadi bertambah ketika isterinya hamil lagi. Berarti dirinya akan memiliki anak ke-3. Tak ada perasaan risau dan khawatir kelak anaknya akan hidup sengsara, karena kekayaannya bisa untuk menghidupi tujuh turunan.<br />
Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Sugiyanto menjaga isteri yang sedang hamil. Hingga akhirnya tiba masa persalinan. Sugiyanto menunggui proses kelahiran itu. Namun betapa terkejut dan terpukul batinnya saat anak yang ditunggu telah lahir, wujudnya sungguh sangat memprihatinkan dan mengerikan. Selain tidak memiliki kedua tangan dan kaki, jantung bayi juga mengalami kelainan. Tak terbayangkan betapa shock, sedih, dan terpukul Sugiyanto mendapati anaknya yang cacat itu.<br />
Tiba-tiba Sugiyanto teringat dengan Nyai Saketi. Jangan-jangan apa yang terjadi ini buah dari perbuatan Nyai Saketi dulu yang pernah memakan mayat bayi. Sesungguhnya, tumbal yang dimaksud Nyai Saketi tak lain adalah anaknya sendiri.<br />
Tidak terima dengan kenyataan ini, Sugiyanto segera ke hutan Sonoloyo untuk mencari Nyai Saketi. Selain ingin meminta bantuan memulihkan keadaan bayinya, Sugiyanto juga berharap Nyai Saketi menarik syarat tumbalnya.<br />
Tapi, sesampainya di tengah hutan Sonoloyo, Sugiyanto tak mendapati gubuk milik Nyai Saketi. Wanita tua itu seperti lenyap ditelan bumi. Ketika Sugiyanto bertanya kepada penduduk sekitar daerah itu, mereka tidak ada yang tahu dan kenal dengan Nyai Saketi.<br />
Dalam keadaan sedih, putus asa, dan kecewa, tiba-tiba Sugiyanto bertemu dengan seorang laki-laki tua berambut putih dan berpakaian sederhana. Orang tua itu sepertinya bisa membaca kesusahan hati Sugiyanto.<br />
&#8220;Ketahuilah, Nak. Sesungguhnya Nyai Saketi yang pernah kamu temui itu bukanlah manusia. Dia adalah penjelmaan setan. Dia tak pernah berusaha untuk membantu kesulitanmu, melainkan justru ingin menghancurkan dan menjerumuskan hidupmu. Mumpung belum terlambat, kembalilah kepada Allah dan bertobat nashuha. Gantungkan sepenuh hidupmu kepada Allah. Niscaya kamu dan keluargamu akan selamat dunia maupun akherat!”<br />
Setelah memberikan wejangan orang tua yang arif dan bijaksana itu kemudian pergi. Seperti mendapat kesadaran baru, Sugiyanto tiba-tiba menangis tergugu. Dia menyadari bahwa semua yang terjadi ini adalah buah dari kesalahannya sendiri.<br />
Sugiyanto segera bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesatnya lagi. Dia akan berusaha menghapus dosa-dosanya dengan banyak melakukan amal kebajikan.<br />
Meski terasa pedih dan berat, Sugiyanto berusaha menerima kenyataan pahit ini. Dia akan tetap merawat dan memelihara anaknya yang cacat. Karena bagaimanapun anak itu adalah amanah dari Allah.<br />
Sugiyanto lalu mengajak keluarganya untuk lebih menekuni sholat dan ibadah yang disyariatkan agama. Dia tidak peduli kekayaannya akan habis guna mengobati dan merawat anaknya yang cacat. Baginya, harta duniawi sudah tidak ada artinya lagi, karena semua itu tak akan dibawa bila dirinya mati.<br />
Setelah berjalan dua tahun, anaknya yang cacat itu dipanggil Yang Maha Kuasa. Meski terasa sedih dan berat, namun Sugiyanto mengikhlaskannya. Mungkin itu lebih baik daripada anaknya harus menderita bila tumbuh dewasa.<br />
Dia sendiri tidak menyesal bila hidup keluarganya kembali jatuh miskin seperti dulu. Dia menerima dengan penuh keridhoan. Dia justru merasa bahagia dan tenang dengan keadaannya yang sekarang. Karena dalam keadaan hidup yang pas-pasan, dia bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan.<br />
Sugiyanto kini berubah menjadi orang yang rajin dan tekun beribadah. Bila kemudian dia berkenan menceritakan pengalamannya ini kepada Misteri, semata untuk peringatan dan pelajaran agar kita semua tidak mengikuti jalan sesat yang pernah ditempuhnya dahulu.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/gara-gara-terjerat-hutang-anak-sendiri-ditumbalkan-oleheko-hartono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdialog Dengan Arwah Leluhur (oleh:Salim Alhadad)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/berdialog-dengan-arwah-leluhur-olehsalim-alhadad/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/berdialog-dengan-arwah-leluhur-olehsalim-alhadad/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 11:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Begitu koko Lo Bie Khiong jadi  membeli ruko  Pasarbaru Jakarta, aku ditugaskan menempati rumah toko berlantai tiga di  dekat Gang Kelinci itu. Koko Lo memodaliku buka usaha  sepatu underlicence dari... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/berdialog-dengan-arwah-leluhur-olehsalim-alhadad/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_316" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a rel="attachment wp-att-316" href="http://majalah-misteri.net/berdialog-dengan-arwah-leluhur-olehsalim-alhadad/dialog-dengan-arwah/"><img class="size-medium wp-image-316" title="dialog-dengan-arwah" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/dialog-dengan-arwah-240x300.png" alt="" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Begitu koko Lo Bie Khiong jadi  membeli ruko  Pasarbaru Jakarta, aku ditugaskan menempati rumah toko berlantai tiga di  dekat Gang Kelinci itu. Koko Lo memodaliku buka usaha  sepatu underlicence dari Italia merek Palacci  dan tas-tas produk Francis merk Luois Vitton.  Lantai dasar dipajang sepatu dagangan, lantai dua dijadikan gudang., lantai tiga tempat tinggalku.<span id="more-315"></span></p>
<p>Walau baru saja diresmikan, tapi Puji Tuhan,  toko kami menjadi sangat  ramai dikunjungi peminat. Koko Lo Bie Khiong melibatkan ahli fengshui kenamaan bernama Suhu Beng  dengan altar ritualis paripurna berikut  tiga sio lo. Ada pula pajangan di dinding macam cermin Fa Kua dan tulisan kaligrafi China ciao yo. Selain terdapat ratusan lilin pengundang chi positif, altar ritual itu diisi oleh kim cua, shio hu dan Tio Ciu sebagai simbol pengundang keberuntungan.<br />
Koko Lo Bie Khiong memang sangat dekat dengan dunia spiritual Tiongkok. Setiap kali membuka usaha, Koko Lo selalu melibatkan Suhu Beng. Suhu Beng merupakan penasehat hongshui-fengshui handal dalam keluarga kami. Mulai dari kakek, bapak hingga ke kakak-kakakku, jika buka usaha selalu melibatkan Suhu Beng. Walau Suhu Beng sudah berumur 85 tahun, tapi ahli budaya China ini kelihatan sehat dan kekar. Langkahnya sangat cepat jika berjalan, tidak kalah dengan anak muda umur 30 tahunan. Kiat sehat Suhu Beng sangat sederhana, dia giat olahraga jogging dan memakan makanan berserat, nabati dan minum air putih.<br />
Menurut Koko Lo, Suhu Beng itu pakar supranatural yang punyai ilmu saktimandraguna. Selain menguasai ilmu fengshui, dia juga menguasai ilmu membangkitkan roh. Suhu Beng bisa berdialog dengan arwah,  memanggil orang yang sudah jadi mayat untuk bangkit dan bicara. Secara diam-diam Suhu Beng sering dimintai bantuan oleh pihak kepolisian untuk mencari pembunuh yang dinyatakan dark number, suatu peristiwa pembunuhan yang sulit  dilacak. Suhu diminta memanggil arwah korban dan menanyai siapa pembubuh korban itu. Dengan ilmunya, korban yang sudah jadi mayat akan menyebut siapa pembunuh sebenarnya kepada Suhu Beng.<br />
Toko milik Koko Lo Bie bukan Cuma satu. Untuk di Pasarbaru saja dia punya tiga toko termasuk toko yang dipercayakannya padaku. Di Glodok, Jalan Melawai Blok M, Metropolis Tangerang, Cipulir Jakarta Selatan, dia punya banyak toko. Semua toko yang dimilikinya tidak kurang dari 60 toko besar. Semua usahanya itu maju pesat  dan memetik untung berlipat. Kemajuan usaha itu dipercaya betul oleh Koko Lo Bie disebabkan oleh ritual Suhu Beng. “Tapi Suhu Beng itu hanya mediator Tuhan di dunia ini. Yang menentukan kemajuan atau suatu kemunduran usaha kita tidak lain Thien Tie Kong, Tuhan kita!” kata Koko Lo Bie kepadaku.<br />
Sebagai pemeluk agama Budha dan memegang kepercayaan Konfusius, aku yakin betul kepada berkah Dewa. Dewa yang inti yang memberkati usaha setiap pemeluk Budha kuyakini adalah Thien Tie Kong. Lain dari itu ada pula Dewa Matahari, Dewa Bumi dan Dewi Kwan Im. Semua Dewa itu akan menyayangi dan melindungi kita bila kita selalu memuja dan memuji-Nya!” pesan Koko.<br />
Koko banyak memberikan masukan hal agama Budha kepadaku. Sebab selama ini aku bukanlah pemeluk agama ini. Tadinya aku tidak punya agama, hanya aliran kepercayaan saja. Tapi begitu tamat SMA Tarakanita, aku diperkenalkan Koko Lo Bie kepada Vihara dan Klenteng. Hampir semua Klenteng tua yang wingit sudah kudatangi. Termasuk Klenteng Ancol yang bermakam sejarah cinta antara Sampoo Soe Sue dan Sitiwati itu. Klenteng  Benten Lama juga  kudatangi dan bersembahyang di sana. Bahkan Klenteng Liong  Bio di Pulau Kemaro Palembang,  pernah pula kumasuki  dan bersembahyang di sana. Bahkan sekarang aku bertetangga dengan Klenteng Yayasan Dharma Jaya Sin Tek Bio di Pasarbaru yang secara rutin aku melakukan ritus Budhis denagn bimbingan beberapa biksu dan niku.<br />
Ajaran Sidharta Gautama kupelajari secara intensif hingga kini. Inti dari ajaran itu adalah bersih hati, tulus ihlas, kasih sayang, punya kepedulian besar pada yang miskin dan  tidak boleh iri hati juga tidak boleh menyimpan dendam. Ajaran itu kupraktekkan sehari-hari dengan beberapa orang karyawanku yang beragama berbeda-beda. Karena dengan pendekatan sifat suci itulah, maka semua karyawanku betah, jujur dan berbahagia di perusahaanku. Bahkan dua karyawati yang masih gadis, tinggal bersamaku di lantai tiga. Mereka menemaniku hingga aku menikah kelak. Tapi karena aku tidak kunjung menikah maka selama melajang berkepanjangan itu, mereka betah tinggal bersamaku.<br />
Setelah selama lima tahun kami tinggal di ruko itu, Selasa 2 Februari l999, kami bertiga dikagetkan oleh suatu suara eneh di atas loteng. Tengah malam pukul 12 terdengar suara batuk lelaki berumur. Padahal di ruko kami itu tidak ada laki-laki. Bahkan di rumah sebelah pun, tidak ada laki-laki tua karena semua penghuni lelaki muda dan wanita pekerja. Suara batuk seperti penderita TBC itu berlangsung secara berkala hingga azan subuh dinihari. “Masak  ada orang di loteng?” tanya Erni, pegawai toko yang tinggal bersamaku. “Tidak mungkin, tidak mungkin ada orang betulan di atas sana!” desis Lola, pegawaiku yang satunya. “Maksud kalian yang batuk itu hantu?” desakku. “Bukan hantu, tapi mungkin mahluk gaib lah!” tandas Erni.<br />
Habis azan Erni dan Lola melakukan sholat subuh. Setelah itu kami bertiga tidur di kamar masing-masing. Pagi harinya, kami segera turun ke bawa berbenah. Kami membuka pintu toko dan stnaby pukul 9 pagi. Beberapa calon pembeli masuk, perempuan, laki-laki baik tua maupun muda. Di antara beberapa calon pembeli, salah seorang kakek terbungkuk-bungkuk dengan tongkatnya melihat beberapa sepatu yang dipajang. Kakek itu terbatuk-batuk dan suara batuknya persis suara misterius yang terdengar tadi malam. Lola memandang Erna, Erna mengarahkan pandangannya padaku. Aku lalu memberi kode agar salah seorang di antara mereka mendekati kakek-kakek itu.<br />
“Bapak cari apa, cari sepatu? Sepatu yang model apa dan buat  siapa?” desak Lola. Si Kakek acuh tak acuh saja. Dia berlagak tidak mendengarkan pertanyaan Lola. Atau justru dia benar-benar tidak dapat mendengar  suara Lola. Untuk itulah Lola mengulangi lagi pertanyaannya. Tapi kakek-kakek itu tidak memperdulikan pertanyaan itu juga. Dengan lembut, Lola pun menyentuh tangan kakek-kakek itu. “Kakek cari sepatu?” tanya Lola lagi. Yang bersangkutan tetap diam, malah dia berlalu dari Lola menuju konter yang lain.<br />
Karena Lola tidak berhasil mendekati, Erna ambil inisiatif menanyai lelaki tua itu. Tapi kakek itu tetap diam membisu seribu bahasa. Bahkan dia lalu berlalu keluar toko kami ke arah jalanan yang sudah mulai ramai. Seperti kompak  betul, kami bertiga melongok keluar halaman. Tapi aneh bin ajaib, kakek-kakek itu tidak terlihat sama sekali. Baik di utara maupun di selatan dan barat, tidak ada kakek itu.”Ke mana dia berjalan?” tanyaku kepada Lola dan Erni. Kedua pegawaiku itu pun mengangkat bahu. Dalam hitungan detik, kakek itu menghilang. “Batuknya persis suara batuk tadi malam, jangan-jangan…” desis Erna. “Maksud Erna, jangan-jangan kakek itu mahluk jejadian yang tadi malam ada di loteng kita!” kataku.<br />
Kejadian yang misterius yang akami anggap kecil itu berlalu begitu saja. Kami ebrusaha melupakan persitiwa itu dan menjadikannya sebagai pengalaman unik saja. Tapi pada malam harinya, Selasa Pon, 3 Februari jam 23.00, suara batuk itu terdengar lagi. Kali ini malah disertai bau wewangian yang menyengat. Bau harum itu seperti gabungan antara melati, kantil dan bunga mawar. Semerbak itu tercium ke penjuru ruang lantai tiga. Termasuk di dalam kamarku.<br />
“Nampaknya persoalan ini persoalan serius, kita tidak boleh menganggap enteng. Kita harus telpon Koko Bie dan Suhu Beng!” sorongku. Erna dan Lola pun mengangguk. “Benar Ncik, kita mesti panggil Koko dan Suhu Beng!” sergah Erna.<br />
Sebelum semua tuts handphone kupencet, tiba-tiba terdengar suara gdebuk dari loteng bagian dapur. “Aduh, suara apa itu?” tanya Lola. Suara itu mirip nangka runtuh dan bunyinya keras sekali hingga lantai tiga bergetar. “Ayo kita rame-rame lihat ke dapur!” pintaku. Kami pun bertiga menghambur ke dapur.<br />
Begitu pintu dapur dibuka Lola, kami tergetar hebat. Jantungku berdetak kencang dan kakiku tiba-tiba menjadi lemas. Di situ kami melihat sosok kakek-kakek yang siang tadi di toko. Kakek-kakek itu nenar menatap mataku dan seakan ingin bicara. Tapi karena takut, kami segera kabur bertiga dan berteriak minta tolong. Tapi suara kami tidak ada yang mendengar.<br />
Kami lari ke lantai bawah dan membuka pintu darurat. Kami terus berlari ke Vihara Sin Tek Bio yang hanya beberapa ratus meter dari rumah kami. Klenteng yang tertutup oleh bangunan toko-toko itu sangat sepi malam itu. Tidak ada penjaga, biksu dan niku yang bergadang. Padahal biasanya niku dan biksu sembahyang malam di altar ber-sio lo itu. Anehnya, di malam yang sunyi itu tidak ada seorangpun yang terlihat. Dua naga di atas Klenteng terlihat  menyala karena bersit sinar bulan tigaperempat purnama.<br />
Oh Tuhan, di pintu Klenteng, aku melihat kakek-kakek itu berdiri lagi. Tubuhnya kaku dengan muka pucat oleh biasa sinar lampu klenteng yang terang. Kami berlari secara berbalik arah. Kami keluar ke Jalan Samanhudi menuju Pecenongan. Kami tidak dapat berkomunikasi pada siapapun karena semua handphone kami tertinggal di lantai tiga. Aku butuh bantuan polisi, paling tidak untuk mengamankan toko yang belum kami kunci.<br />
Dua orang polisi dengan mobil Karens dinas patroli membantu kami. Kami bertiga naik mobil polisi dan rumah abang ku yang lain Lo Peng Gie. Abangku segera keluar dengan mobilnya dan kami denagn mobil polisi kembali ke toko. Dua polisi ikut naik ke atas sementara Kekek-kakek itu sudah tak ada lagi di dapur. Di Vihara Sin Tek Bio pun, kakek itu tak ada lagi. “Mana? Tidak ada apa-apa kok?” tukas Ipda Rusman, salah satu dari dua polisi itu.<br />
Koko Lo Peng Gie menyisir setiap ruang demi ruang ruko dengan senter enam batere. Gudang barang-barang pun diacak mencari keberadaan kakek-kakek yang kami lihat. Atas restu Koko Gie, polisi pun berpamitan pada kami dan meninggalkan nomor hp kepada Koko Gie. “Saya pikir hanya halusinasi karena adik Anda sangat penakut!” kata Ipda Rusman kepada Koko Gie.<br />
Karena Suhu Beng sedang berada di Singapura dan HP nya tulalit, maka kasus aneh itu terhenti di situ. Maka sampailah kami pada hari Sin Chia, merayakan malam tahun baru Imlek Tiong Chiu. Saat itu jatuhnya tahun baru penanggalan Cina itu pada l2 Februari masehi. Malam l2 Februari itu, Si Kakek batuk-batuk lagi di atas loteng. Aku segera menelpon Pak Ipda Rusman dan polisi Polsek Tamansari itu datang ke toko kami. Dengan mata kepalanya sendiri dia mendengar suara batuk-batuk dan bau wewangian yang keras di hidung itu. “Ya, saya mendengar suara batuk dari loteng dan bebauan yang menyengat hidung!” komentar Ipda Rusman.<br />
Koko Gie sudah berada di lantai tiga setelah kutelpon beberapa saat menjelang malam. Persiapan pesta sin chia sudah kami buat.  Aku dan tiga pegawaiku memakai cheongsam merah penuh pernik hongshui di dada. Di lantai tiga kami bikin pernik-pernik sin chia seperti pohon jeruk hias sien tao dan Yu Sheng, sajian ikan untuk leluhur bila dia datang ke rumahku.<br />
Seperti kejadian pertama, dari loteng atas dapur terdengar kedebuk lagi. Suara seperti nangka jatuh kembali terdengar dan mengagetkan kami. Pak Ipda Rusman mencabut pestol dan membuka pintu dapur. Kami beramai-ramai membuntuti polisi itu dari belakang. Benar saja, kekek-kakek yang sama berdiri pucat dan kaku di hadapan kami.”Siapa Anda!” bentak Pak Ipda Rusman.<br />
Lelaki tua itu tetap diam membisu. Dengan langkah perlahan dia maju mendekati Ipda Rusman yang memegang pestol. Sosok itu seperti menantang untuk ditembak sambil menunjuk dadanya yang pucat. “Maju selangkah lagi, Anda saya tembak!” kata Ipda Rusman. Bukannya mucnur, ditantang begitu Si Kakek malah maju lagi satu langkah. Tapi Rusman bijak, dia tidak jadi menembak, dia memasukkan  senjatanya lalu mengulurkan tangannya pada Si Kakek berjabat tangan. Kakek itu lalu menjulurkan tangannya dan berjabatan dengan Ipda Rusman.<br />
Tapi dalam hitungan sepersekian detik, kakek itu menjadi asap lalu menghilang ke atas loteng. Semua gumpalan asap terbang ke loteng dan  Rusman ternganga dan terheran dengan apa yang baru saja dihadapinya. “Seumur hidupku, baru inilah aku menemukan keanehan yang sangat aneh sepanjang tugas saya sebagai polisi!” imbuhb Ipda Rusman, perwira asal Lahat itu kepada kami.<br />
Rusman menyarankan agar kami pindah saja  jika takut tinggal di Pasarbaru itu. Sebab menurut Rusman, kakek itu adalah mahluk gaib yang menetap. Dia penghuni ruko dan mungkin punya hubungan yang kental dengan ruko itu. Coba diselidiki secara intensif, minta bantuan jasa paranormal untuk menyelidikinya. “Maaf saya ini menguasai eksakta kepolisian, tapi buta soal supramistik seperti ini!” akunya.<br />
Karena mengaku tidak paham, Ipda Rusman mengajak temannya yang mengerti soal mahluk gaib. Temannya itu juga seorang suhu hongshui yang biasa memimpin sembahyang di krematorium dan larungan. Suhu Alpin nama paranormal Cina  itu. Dengan ilmu yang nyaris setara dengan Suhu Beng, suhu Alpin melakukan ritual di dapur saya. Dengan sejumlah peralatan sesaji, daging ayam, daging babi, buah-buahan lengkap, air putih dan ikan, Suhu Alpin berdoa di situ. Suhu Alpin juga membakar hio merah, shio hu dan bikin tio cu di atas kertas putih dengan tinta hitam.<br />
Saat asap hio mengepul, tiba-tiba suara batuk kembali terdengar dan asap tebal berbunyi gedebug jatuh di depan Alpin. Duh Gusti, kami melihat dengan kasadmata sosok kekek-kakek itu mendekat Auhu Alpin. Dia makan dengan lahap sesaji yang diberikan Alpin. Dengan cara khas berbahasa Kek, Suhu Alpil dari Singkawang itu berdialog dengan Si Kakek. Dalam dialog itu diketahuilah bahwa kakek itu adalah buyut kami dari She Lo. Kakek itu sudah lama mengikutiku sebagai cicitnya dan ingin hidup bersamaku sampai aku meninggal. Nama kakek itu adalah Lo Jin King, asal Provinsi Fukien China dan ayah kandung dari kakekku dan kakek dari ayahku Lo Teng  Gian.<br />
“Dia membuntutimu selama kau tinggal di ruko ini. Dia tinggal di sekitar sini dan minta makan pada cicitnya. Tapi kau tidak pernah memberikan sesaji terutama pada tanggal l5 bulan ke delapan tahun imlek. Saat itu dia sangat butuh persembahan dari anak cucu dan cicitnya benbentuk doa, sesaji dan hio. Ke depan nanti, rutinlah melakukan sesaji, sediakan daging, buah dan minuman di tempatmu memasak.Sebagaimana manusia yang hidup, dia juga butuh makan dan berinteraksi dengan manusia yang asli keturunan darahnya!” kata Suhu Alpin. Setelah pulang dari Singapura Suhu Beng pun, mengatakan hal yang sama.<br />
Sejak itu aku rutin memberi sesaji untuk Buyutku. Lo Jin King. Kata dua ahli supramistik Suhu Alpin dan Suhu Beng, kakekku itulah yang mendorong usaha kami selama ini untuk maju  pesat. Beliau diutus Tuhan kami Thien Tie Kong untuk mendampingiku hingga akhir hayatku. “Dia adalah pendamping gaibmu sampai ahir hayat. Kau adalah keturunannya dan dia sangat mencintaimu, Nak!” kata Suhu Beng.<br />
Kini aku belajar banyak dari dua suhu tentang berdialog dengan arwah. Di Klenteng Sin tek Bio yang berumur 309 tahun yang dulunya bernama Het Kong Sie Huis Tek itu, secara rutin setiap tanggal l5 bulan 8 tahun China, aku dapat berbincang dengan buyutku dan kami membahas apa saja yang bersifat dunia dan sorgawi. Walau tidak seiman denganku, Lola dan Erna pun, mengakui bahwa arwah itu dapat berkomunikasi pada yang hidup kalau hal itu mau dipelajari. Kata Erna yang berjilbab itu, di dalam agama Islam pun, ada ilmu supramistik yang memungkinkan manusia yang hidup  berdialog dengan arwah. Tapi yang mampu melakukan itu adalah orang-orang terpilih seperti kiyai sufi dan kaum tasawuf yang punya hububungan langsung dengan kekuatan Maha Tunggal.***<br />
(Cerita ini dialami oleh Encik Lo Chan Lee, pengusaha wanita Jakarta. Salim Alhadad  menyajikan cerita itu untuk Misteri Sejati-Red)</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 490 05 Jun– 19 Jun 2010</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/berdialog-dengan-arwah-leluhur-olehsalim-alhadad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
