<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Lepas</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/lepas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 May 2013 09:58:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Beristri Genderuwo Alas Purwo (oleh: Bayu Indrayanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/beristri-genderuwo-alas-purwo/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/beristri-genderuwo-alas-purwo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 05:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai pegawai yang bertugas di bidang kehutanan, Adi harus siap untuk ditugaskan di mana saja serta berpindah-pindah tempat. Kali ia harus menerima ditempatkan di ujung timur Pulau Jawa. Banyuwangi, kota... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/beristri-genderuwo-alas-purwo/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_1009" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/beristri-genderuwo-alas-purwo/genderuwo/" rel="attachment wp-att-1009"><img class="size-medium wp-image-1009 " title="genderuwo" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2013/01/genderuwo-300x225.jpg" alt="genderuwo" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Sebagai pegawai yang bertugas di bidang kehutanan, Adi harus siap untuk ditugaskan di mana saja serta berpindah-pindah tempat. Kali ia harus menerima ditempatkan di ujung timur Pulau Jawa. Banyuwangi, kota yang sarat dengan nuansa mistik serta terkenal dengan magic-nya, yakni santet. Ya, di kota inipun Adi juga harus ditempatkan di Alas Purwo; sebuah kawasan hutan yang ada di Banyuwangi dan berbatasan dengan Samudera Indonesia di pantai selatannya.<span id="more-1008"></span></p>
<p>Alas Purwo yang merupakan taman nasional terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo di sebelah selatan dan tenggara Banyuwangi. Arti kata Alas Purwo atau Hutan Purwo diyakini memiliki arti hutan yang pertama atau hutan yang dianggap tertua di Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan banyaknya situs-situs yang dianggap keramat oleh masyarakat seperti Gua Padepokan ataupun Gua Istana.<br />
Di Alas Purwo juga masih banyak satwa langka seperti banteng, lutung, burung merak, ayam hutan, rusa, macan tutul. Tak kalah menariknya Alas Purwo juga mempunyai banyak pantai indah seperti Teluk Grajagan dan Plengkung yang mempunyai satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang dan penyu belimbing.</p>
<p>Kini hampir setahun Adi menempati posisi pekerjaannya yang baru. Berbagai pengalaman didapatnya di Alas Purwo ini terlebih menyangkut hal-hal yang bersifat gaib. Namun selama satu tahun bertugas di alas Puwo ini, ia merasa hutan dengan luas 43.420 hektar ini belum dijelajahinya secara sempurna. Masih banyak tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak tersentuh tangan manusia karena kewingitannya dan juga kebuasan alamnya.</p>
<p>Seperti pengalaman ia harus mengantar serombongan pengunjung yang datang dari Surabaya. Rombongan yang berjumlah lima orang menyatakan akan melakukan ritual di sebuah gua yang ada di Alas Purwo. Keangkeran Alas Purwo ternyata juga merupakan daya tarik bagi para pelaku spiritual untuk menjalankan lelaku di tempat tersebut. Karena itu tidak aneh kalau sering ditemukan banyak orang yang melakukan semadi di segenap pelosok Alas Purwo.<br />
Pak Puguh yang merupakan pimpinan rombongan menyatakan kalau kedatangan mereka ke Alas Purwo untuk melakukan ruwatan atas Sigit. Adi lantas menatap ke arah pria paroh baya yang bernama Sigit itu. Pria itu tampak duduk diam, pandangan matanya kosong entah menerawang kemana. Ia juga tidak menggubris apa yang terjadi di sekitarnya. Semula Adi mengira yang bersangkutan merupakan orang yang terganggu ingatannya. Namun setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh Aris, salah seorang kerabat Sigit yang ikut  <span style="line-height: 1.63;">mengantarkan, Adi tercekat.</span></p>
<p>Sepuluh tahun yang lalu Sigit datang ke Alas Purwo untuk menjalankan ritual setelah perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar, ia juga harus mengalami PHK dari perusahaannya tersebut. Karena merasa putus asa juga merasa malu kepada anggota keluarga yang lain Sigit memutuskan untuk pergi ke Alas Purwo dan menjalankan ritual di tempat tersebut.</p>
<p>Salah satu tempat yang digunakan oleh Sigit untuk menjalankan ritual adalah gua istana. Di tempat tersebut ia bersemadi dan hidup sebagai pertapa hampir satu tahun. Sampai akhirnya ia menyelesaikan tapanya dan pulang kembali ke Surabaya. Setelah itu Sigit berdagang pakaian anak-anak. Walaupun berjualan di emperan toko, jualannya tersebut laris manis dan selalu dipenuhi oleh para pembeli.<br />
Namun anehnya, anggota keluarga Sigit kerap menemui Sigit tertawa dan berbicara sendiri jika tengah berada dalam kamarnya. Anggota keluarganya juga sering mendengar suara perempuan tertawa. Anggota keluarga yang lain semula mengira Sigit sedang berduaan bersama seorang gadis atau wanita. Namun dugaan ini tak terbukti karena mereka tidak pernah melihat ada gadis dalam kamar Sigit.</p>
<p>Kejadian ini bahkan berlangsung bertahun-tahun. Tiap kali ditanya, yang bersangkutan hanya teresnyum kecil seakan penuh arti. Jadinya keluarga Sigit bertanya-</p>
<p>tanya. Namun karena tidak dianggap mengganggu anggota keluarga Sigit yang lain, maka tingkah lakunya dibiarkan saja. Terlebih Sigit sendiri dengan usahanya yang lumayan tersebut kerap membantu kesulitan ekonomi yang dialami oleh keluarganya tersebut.<br />
Namun akhir-akhir ini yang terjadi adalah tingkah laku Sigit yang semakin aneh. Hampir tiap malam mereka mendengar suara pertengkaran di dalam kamar Sigit. Juga suara barang yang dibanting karena pertengkaran yang ramai. Mendengar suara-suara ribut tersebut, saudara Sigit segera memasuki kamar. Namun lagi-lagi mereka tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamar tersebut kecuali Sigit. Hanya saja kondisi Sigit, tampak pucat dan panik. Ia juga berkali-kali berteriak untuk jangan ditinggalkan.</p>
<p>“Siapa yang meninggalkan kamu, Git?” tanya Aris waktu melihat kondisi adiknya tersebut.<br />
Sigit tidak menjawab, hanya kembali berteriak, “Rad, jangan tinggalkan aku&#8230;! Jangan Rad!”<br />
Mendengar perkataan Sigit itu, Aris kembali bertanya “Siapa Rad itu, Git?”<br />
Sigit yang semula tak acuh dengan apa yang terjadi menoleh sekilas ke arah kakaknya sambil menjawab, “Radni, istriku&#8230;!”<br />
“Radni? Radni siapa, Git?” tanya Aris yang semakin merasa heran dengan ucapan Sigit.</p>
<p>Ia kemudian duduk disebelah Sigit berusaha menenangkan adiknya tersebut. Sementara matanya memberi isyarat anggota keluarga yang lain untuk tidak masuk ke dalam kamar dulu dan membiarkan mereka berduaan.<br />
Setelah tinggal mereka berdua di dalam kamar, Aris mencoba mencari tahu apa yang dialami adiknya. “Aku merasa bingung, Radni itu siapa? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku?”<br />
Sigit menoleh ke arah Aris dan menjawab, “Radni itu istriku. Kami berkenalan di Alas Purwo”<br />
“Alas Purwo Banyuwangi?” Aris meyakinkan pendengarannya.</p>
<p>“Betul, Mas. Bertahun-tahun yang lalu aku kenal dengan Radni. Ia tinggal di sebuah perkampungan yang ada di Alas Purwo. Karena orang tuanya tidak merestui hubungan kami, makanya ia kawin lari dan hidup sebagai istriku. Ia yang selama ini membantuku berjualan di pasar,” cerita Sigit.<br />
“Kalau dia memang istrimu, kenapa kamu tidak pernah mengenalkan sama kami? Kami juga tidak pernah melihatnya?” Kening Aris berkerut merasa heran dengan ucapan saudaranya tersebut.<br />
“Radni itu takut ketahuan keluarganya dan dipaksa pulang. Makanya aku tidak mau mengenalkan pada kalian,” jawab Sigit lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aris merasa pusing dengan jawaban-jawaban aneh dari Sigit itu. Dia lalu meninggalkan Sigit dan memutuskan untuk berunding dengan anggota keluarga yang lain. Namun semenjak kejadian itu tingkah laku Sigit semakin aneh dan menjadi-jadi. Kini ia bahkan mirip orang gila karena tingkah lakunya tersebut. Sampai akhirnya diputuskan untuk memanggil Pak Puguh, seorang tua yang dikenal mampu menyembuhkan orang yang kesurupan.<br />
Dari hasil pengamatan Pak Puguh ternyata memang benar Sigit selama ini menjalani hubungan dengan makhluk halus dari golongan genderuwo. Genderuwo perempuan itu juga jatuh cinta kepada Sigit dan mengikuti kemanapun ia pergi. Namun hal ini tak disadari oleh Sigit.</p>
<p>Bagi Sigit, Radni adalah gadis desa dari sebuah desa di pinggir Alas Purwo yang kawin lari dengan Sigit karena hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua Radni. Kini rupanya Radni berniat pulang ke Alas Purwo namun Sigit tak bersedia dan akhirnya yang terjadi seperti ini.<br />
Mendengar penuturan tentang Sigit tersebut, Adi tidak merasa heran kalau hal itu terjadi pada Sigit. Baginya Alas Purwo menyimpan seribu kegaiban dan seribu keanehan yang tidak akan pernah habis untuk ditelaah. Kini rombongan itu dengan membawa Sigit bergerak menuju ke Gua Istana yang ada di Alas Purwo.<br />
Sesampai di sana Pak Puguh dengan salah seorang muridnya memandikan Sigit dengan air kembang yang telah disiapkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sigit yang seolah tak mengerti dengan apa yang terjadi tidak menggubris apa yang dilakukan oleh orang-orang padanya. Sementara Adi sendiri turut membantu ritual yang dilakukan oleh Pak Puguh.<br />
Setelah sekian lama bersemadi tampak Pak Puguh membuka matanya. Ia memandang Aris serta kerabat Sigit. “Rupanya sulit untuk melepaskan Sigit dari ikatan cintanya dengan Radni,” tuturnya.<br />
“Sebetulnya apa yang terjadi, Pak Puguh?” tanya Aris dengan berdebar-debar melihat hasil semadi Pak Puguh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Bagi orang awam, Alas Purwo ini cuma merupakan hutan yang lebat dan penuh dengan binatang buas. Namun tidak dalam pandangan batin, Alas Purwo merupakan keraton makhluk halus yang bermacam-macam. Berjenis-jenis makhluk halus menghuni tempat ini. Ada kuntialanak, banaspati, jin, ilu-ilu bahkan genderuwo. Bukankah demikian Mas Adi?” toleh Pak Puguh pada Adi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Benar apa yang dikatakan oleh Pak Puguh. Saya selaku penjaga hutan disini sering menjumpai keanehan yang tak masuk akal. Makanya tak jarang orang bilang kalau Alas Purwo ini gudang makhluk halus,” jawab Adi membenarkan ucapan Pak Puguh.<br />
Pak Puguh lalu meneruskan ceritanya. Menurut dia, karena putus- asanya waktu bersemadi dulu, secara tak sadar Sigit telah masuk ke dalam alam makhluk halus. Di sanalah ia berkenalan dengan Radni. Genderuwo perempuan ini rupanya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Sigit. Namun karena Sigit tidak mau tinggal di alam Radni, akhirnya mereka kembali ke kota asal Sigit. Dan Radni tetap mendampingi Sigit. Dan yang tak tetap disadari Sigit, Radni adalah seorang genderuwo. Sampai akhirnya setelah bertahun-tahun Radni merasa tidak betah dan ingin kembali ke alamnya sendiri. Dan hal ini rupanya tidak bisa diterima oleh Sigit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lalu seterusnya bagaimana Pak Puguh?” tanya Aris.<br />
Pak Puguh tersenyum. “Hal ini saya kembalikan lagi pada sanak keluarga Sigit.”<br />
“Maksud Pak Puguh?” Aris merasa bingung.<br />
“Cinta Sigit sudah terlanjur mendalam dan sulit dilepaskan. Bisa saja saya menghilangkan perasaannya terhadap Radni, namun yang terjadi akal pikiran Sigit tidak akan mampu berfungsi dengan normal. Selanjutnya ia akan ndleming terus,” jelas Pak Puguh.<br />
Mendengar penjelasan ironis tersebut Adi mencoba menengahi. “Apakah tidak ada pilihan lain Pak?”<br />
“Ada. Tapi ini juga berat dan dianggap tak masuk akal,” jawab Pak Puguh sambil menatap ke arah Sigit yang kini tertawa sendiri. “Rad, aku menyusulmu di kampung,”</p>
<p>guman Sigit seorang diri.<br />
Semua orang merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Sigit. Namun akhirnya kebekuan itu terputus dengan ucapan Pak Puguh. “Kita biarkan Sigit hidup bersama Radni di alam Radni”.<br />
“Apa? Maksud Pak Puguh bagaimana?” kejar Aris tanpa bisa menutupi rasa keingintahuannya yang besar. “Ia akan kajiman dan berubah menjadi makhluk halus sebagaimana halnya dengan Radni,” jelas pak Puguh.</p>
<p>“Tidak… Aku tidak rela adikku jadi genderuwo,” tegas Aris. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tapi Aris sendiri juga tidak tega melihat apa yang terjadi pada Sigit kali ini. Akhirnya setelah berpikir panjang, Aris memutuskan untuk membiarkan apa yang menjadi keinginan Sigit terwujud, kalau memang mereka berdua sudah saling mencintai.<br />
Pak Puguh pun lantas melanjutkan ritualnya. Ia menatap mata Sigit dengan tajam dan membuatnya tertidur seakan tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian tubuh yang terlelap itu dibungkusnya dengan kain mori hitam yang telah dipersiapkan. Sejenak nyala menyan memenuhi segenap ruangan yang ada di gua tersebut. Tak berapa lama bau menyan itu bercampur dengan bau singkong bakar yang memenuhi ruangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Genderuwo perempuan itu sudah datang,” tunjuk Pak Puguh pada sudut ruangan yang kini penuh dengan asap putih yang entah darimana asalnya. Gumpalan asap putih itu menumpuk dan akhirnya berwujud seseorang tubuh. Aris melihat sosok perempuan yang cantik dengan memakai baju hitam-hitam tampak berjalan ke arah tubuh Sigit yang terbungkus mori.<br />
Sementara Adi yang sudah terbiasa melihat wujud makhluk halus yang ada di Alas Purwo bisa mengetahui wujud asli dari Radni. Tampak sosok perempuan bertubuh tinggi besar penuh bulu dengan hanya memakai cawat dan payudara yang tidak tertutup berjalan ke arah tubuh Sigit.</p>
<p>Sesosok genderuwo yang bernama Radni itu semakin mendekat ke arah Sigit terbaring. Pak Puguh tampak mengucapkan seuatu seperti pesan kepada Radni. Dan ia tampak mengangguk-angguk mengiyakan pesan tersebut. Radni kemudian masuk menembus ke dalam mori tempat Sigit berbaring. Setelah beberapa saat, Pak Puguh membuka mori tersebut. Ajaib! Tubuh Sigit sudah tidak tampak. Demikian pula Radni.<br />
“Mereka berdua sudah kajiman dan masuk ke dalam alam makhluk halus,” papar Pak Puguh.<br />
Aris cuma terdiam lesu menyaksikan apa yang telah terjadi. Sementara Adi kembali merenung, sekali lagi ia menyaksikan kegaiban Alas Purwo yang tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em><strong>Dimuat pada edisi 550</strong></em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/beristri-genderuwo-alas-purwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ular Siluman Penunggu Pasar Sukoharjo (oleh: Djoko Judiantoro)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/ular-siluman-penunggu-pasar-sukoharjo/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/ular-siluman-penunggu-pasar-sukoharjo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 14:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=984</guid>
		<description><![CDATA[Pasar Kota Sukoharjo sudah beberapa kali direncanakan akan dipugar oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo beberapa waktu yang silam. Namun baru tahun 2012 ini pasar kota Sukoharjo terealisasi akan dibangun bersamaan dengan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/ular-siluman-penunggu-pasar-sukoharjo/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_985" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/ular-siluman-penunggu-pasar-sukoharjo/bangunan-angker/" rel="attachment wp-att-985"><img class="size-medium wp-image-985" title="bangunan angker" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/12/bangunan-angker-300x90.png" alt="" width="300" height="90" /></a><p class="wp-caption-text">bangunan yang tidak bisa dirobohkan</p></div>
<p>Pasar Kota Sukoharjo sudah beberapa kali direncanakan akan dipugar oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo beberapa<br />
waktu yang silam. Namun baru tahun 2012 ini pasar kota Sukoharjo terealisasi akan dibangun bersamaan dengan beberapa pasar tradisional lainnya di seluruh Indonesia yang rencananya akan dipugar oleh pemerintah Pusat.</p>
<p>Selain sebagai Pasar tradisional, Pasar utama Kota Sukoharjo ini sekaligus sebelahnya dipergunakan sebagai terminal<br />
angkutan umum dari dalam kota ke daerah pedesaan lainnya di seluruh Kabupaten Sukoharjo. Pasar tradisional ini sudah<br />
ada sejak jaman sebelum kemerdekaan Indonesia, pasar ini menurut cerita para pini sepuh (orang tua jaman dulu) dulu pernah diresmikan oleh Presiden Soekarno.<span id="more-984"></span><br />
Bahkan masyarakat saat itu menyebut Pasar Tradisional ini dengan nama pasar Bung Karno, seiring dengan perkembangan<br />
jaman, lambat laun Pasar Tradisional Sukoharjo beralih nama menjadi pasar kota Sukoharjo. Pasar yang dahulu dipergunakan<br />
sebagai tempat jual beli maupun tukar menukar hasil kebun dan panen bagi para pedagang oprokan kini makin lama semakin<br />
lebih modern.<br />
Pada bulan Maret tahun2012 sesaat setelah Pasar kota ini di bongkar akan di revitalisasi menjadi pasar tradisional lagi, Bupati Sukoharjo secara resmi mengganti lagi nama Pasar Kota Sukoharjo menjadi pasar Ir. Soekarno. Pemberian nama<br />
baru yang dikembalikan ke nama semula dilakukan pada bulan Juni bersamaan dengan bulan Bung karno yang jatuh pada bulan itu.<br />
Namun dalam pembangunan pasar tradisional ini ada saja ganjalan yang menghambat pengerjaannya, salah satunya<br />
saat mengawali pembongkaran pasar tradisional ini terjadi hujan yang sangat lebat dan angin kencang yang terjadi hanya di<br />
sekitar Pasar ini.</p>
<p>“Angin berhembus kencang menghempaskan apa yang ada saat itu, bahkan pohon yang semula akan dirobohkan<br />
oleh kontraktor, tumbang dengan sendirinya akibat dari kencangnya hembusan angin di daerah itu,” kata ibu pemilik titipan sepeda<br />
yang tak mau di sebutkan namanya.</p>
<p>Rumahnya yang berada tepat di belakang pasar Kota Sukoharjo dan juga warga asli daerah itu, Ibu pemilik titipan sepeda ini<br />
setiap hari sering menyaksikan keganjilan maupun keanehan yang terjadi pada saat awal pembangunan Pasar. Tak hanya<br />
keanehan hujan dan angin puting beliung yang datang saat pembongkaran pasar dimulai.<br />
Bahkan semasa masih menjadi Pasar kota, keanehan itu sering kali terjadi di pasar ini. Di dalam pasar ini dulu terdapat<br />
sebuah pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun. Tak ada angin dan tak ada hujan pohon itu tiba tiba tumbang dengan<br />
sendirinya, padahal selama itu pohon beringin tak menampakkan tanda-tanda layu sebelumnya.</p>
<p>Selain itu satu peristiwa naas juga pernah dialami salah seorang lurah pasar yang bertugas di pasar Kota Sukoharjo waktu itu.<br />
Di sisi sebelah barat pohon beringin dulu dibangun beberapa kamar mandi umum yang dipergunakan bagi siapa saja yang<br />
membutuhkanya. Di samping kamar mandi sebuah mushola dan sumur juga dibangun diperuntukan oleh umum.<br />
Berhimpitan dengan mushola terdapat lahan kosong seluas 1&#215;2 meter persegi, lahan kosong persegi lantai keramik ini dipergunakan bagi para pedagang dan pembeli untuk istirahat seusai menjalankan Sholat di Mushola. Oleh lurah pasar,<br />
lahan kosong ini dijual kepada salah seorang pedagang yang waktu itu sangat membutuhkan tempat berjualan.<br />
Beberapa pedagang yang mendengar kabar ini sebetulnya telah menyarankan, agar lahan kosong itu jangan sampai dijual.<br />
Tempat itu sudah menjadi kebiasaan di gunakan sebagai tempat istirahat, namun saran dari pedagang tak dihiraukan oleh<br />
Lurah pasar, yang paling penting dirinya mendapatkan uang dari hasil penjualan lahan kosong tersebut. Sebagai kepala pemimpin pasar, siapapun tak ada yang berani melarang dirinya menjual aset daerah yang sebenarnya bukan<br />
hak miliknya, tapi rakus akan uang membuat Lurah pasar itu lupa akal sehatnya.</p>
<p>Tak selang beberapa lama kemudian setelah menjual lahan kosong itu, Lurah pasar jatuh sakit, dirinya merasa ada orang yang<br />
mengikuti kemanapun dia pergi. Bahkan dalam mimpinya, lurah itu merasa ditemui seseorang kakek tua yang<br />
mengenakan sorban dan pakaian serba putih berkata,<br />
“Tanah itu bukan hakmu, kenapa kamu jual? Kamu harus merasakan buah akibat dari keserakahanmu sendiri,” katanya.<br />
Hingga akhirnya lurah pasar tersebut meninggal dunia, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit karena tak jelas<br />
sakitnya. Kini setelah pembangunan pasar tardisional ini dimulai, keanehan dan keganjilan masih seringkali terjadi di tempat<br />
ini.</p>
<p>Kejadian aneh pada saat pembongkaran pun sempat membuat orang orang di sekitar pasar bingung. Kejadian ini berlangsung setelah pasar tradisional dirobohkan, saat pembongkaran ini pihak terkait Pemkab maupun kontraktor<br />
sama sekali tak pernah memberi sesaji seperti pada umumnya pembangunan.<br />
Mereka melupakan bahwa pasar sebagai tempat menghasilkan rejeki sudah semestinya harus ditempatkan sebagaimana juga mestinya.<br />
Selama ini beberapa bangunan berupa los bagi pedagang oprokan dan toko kelontong di serambi depan<br />
terlebih dulu telah dibongkar, menyusul kemudian terminal angkot yang berada di sisi utara pasar juga ikut dibongkar pada saat yang bersamaan. Pembongkaran yang berlangsung lebih dari sepekan ini telah meratakan bangunan pasar lama maupun<br />
terminal angkot.</p>
<p>Namun beberapa bengunan ternyata masih sulit dirobohkan, bangunan lama ini tegar berdiri di tengah-tengah pasar,<br />
meski beberapa bagian bangunan seperti atap telah terlebih dulu dibongkar para pekerja. Alat berat yang dipergunakan<br />
untuk pembongkaran ternyata tak mampu menyentuh Mushola, kamar mandi dan sebuah sumur.<br />
Bangunan inilah yang masih berdiri tegak di tengah-tengah pasar dan kenapa bangunan ini tak bisa dirobohkan? Kejadian<br />
sulitnya merobohkan bangunan ini terkait dengan peristiwa pada saat pembongkaran sisa bangunan pasar yang terdiri dari tiga bangunan itu. Selama ini pembongkaran pasar yang dilakukan pihak Pemkab selalu<br />
menggunakan alat berat, dikarenakan tenggang waktu kontrak pembangunan pasar dari Pemkab kepada kontraktor tak lebih dari empat bulan saja, hingga pasar harus segera diratakan dengan tanah agar pihak kontraktor bisa segera memulai<br />
pembangunanya. Tapi alat berat yang digunakan membongkar tiga bangunan itu tak bisa jalan saat akan merobohkan bangunan masjid, sumur dan bekas kamar mandi, meski ketiga bangunan ini hanya tersisa tembok-temboknya saja. Operator alat berat merasa aneh dengan kejadian ini, alat yang sebelumnya lancar di gunakan merobohkan<br />
bangunan lain kini macet saat akan merobohkan ketiga bangunan itu. Namun saat alat berat ini diarahkan ke<br />
beberapa bangunan lainya ternyata juga lancar-lancar saja. Keanehan ini semakin menjadi-jadi saat sang operator alat berat<br />
tiba-tiba meloncat turun sambil berteriak-teriak,<br />
“Aku takut, aku takut ada hantu” teriaknya membuat siapa saja bingung,” kenang Tumi (36), pedagang buah yang melihat peristiwa itu pada saat kejadian.<br />
Operator alat berat lari tunggang langang kemudian mencegat bis angkutan umum terus balik ke rumah. Sesampainya di rumah, orang tua si operator alat berat meninggal dunia tak diketahui sebab musababnya.<br />
Kejadian ini diketahui para pekerja yang saat kejadian itu beberapa orang pekerja mengikuti operator sampai ke rumah, karena takut terjadi apa apa dengan peristiwa siang itu.</p>
<p>Salah seorang anak indigo yang mampu melihat siapa penunggu dan apa yang ada di tempat itu mengatakan, “Tempat itu dijaga seorang kakek tua tinggi besar mengenakan sorban dan pakaian putih, selain kakek<br />
seekor ular yang sangat besar juga ada di tempat itu.” ujar Putra (11), anak indigowarga Sukoharjo.<br />
“Kalau mau merobohkan tempat itu terlebih dulu harus kulo nuwun (permisi). Selama ini mereka (pekerja) tak mempedulikan lagi dengan apa yang sudah ada sebelumnya di tempat itu. Dianggapnya mereka itu tidak ada,” keluh Putra</p>
<p style="text-align: right;"><em><strong>Dimuat pada edisi 541</strong></em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/ular-siluman-penunggu-pasar-sukoharjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghuni Gaib Sekolahan (oleh: Anggita Alfiani)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/penghuni-gaib-sekolahan/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/penghuni-gaib-sekolahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2012 13:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=902</guid>
		<description><![CDATA[Semburat sinar mentari mulai menyapa bumi dan isinya. Diiringi dengan kicauan burung yang saling bersahutan. Sungguh senandung pagi yang indah. Seindah hati Rara yang hari ini akan memulai hari pertamanya... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/penghuni-gaib-sekolahan/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><a href="http://www.majalah-misteri.net/penghuni-gaib-sekolahan/hantu-sekolah/" rel="attachment wp-att-903"><img class="alignleft size-medium wp-image-903" title="hantu sekolah" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/10/hantu-sekolah-300x225.jpg" alt="hantu sekolah" width="300" height="225" /></a>Semburat sinar mentari mulai menyapa bumi dan isinya. Diiringi dengan kicauan burung yang saling bersahutan. Sungguh<br />
senandung pagi yang indah. Seindah hati Rara yang hari ini akan memulai hari pertamanya menduduki bangku SLTP favorit<br />
yang ia idam-idamkan selama ini.<br />
“Mama, ayo buruan. Rara udah telat nih. MOS-nya kan mulai pukul 06.30. Berarti Rara harus udah sampai sekolah 15 menit sebelum MOS di mulai,” ujar Rara begitu semangat.<span id="more-902"></span></p>
<p>“Iya Ra, Mama tadi habis pakein popok adik. Ya udah, ayo kita berangkat,” sahut Mamanya. Mereka lalu menyetop angkot yang menuju sekolah itu. Setelah sampai di sekolah itu, Rara langsung bergabung dengan teman-teman barunya. Kebetulan<br />
ada beberapa teman SD-nya yang juga masuk sekolah ini sehingga Rara tidak terlalu merasa asing.<br />
Setelah bel sekolah berbunyi, seluruh murid kelas satu berkumpul di lapangan.<br />
Mereka mendapat pengarahan dari kepala sekolah dan ketua pelaksana Masa Orientasi Siswa (MOS).</p>
<p>Saat sedang diberi pengarahan, Rara sekilas melihat ke barisan pria. Dia sedikit tertegun. Di situ ada pria memakai seragam<br />
hitam-hitam. Dia heran. Harusnya hari ini berseragm putih-putih. Rara ingin melihat wajahnnya, namun pria itu selalu menunduk.<br />
Kalau kakak kelas sampai melihat, dia pasti di hukum, ucap Rara dalam hati. Lalu dia berbisik ke Vina, temannya yang berdiri di<br />
dekatnya. “Eh, kamu lihat cowok itu di sana.<br />
Dia kok pakai baju serba hitam sih? Apa nanti tidak dihukum?”<br />
Vina mencari pria yang dimaksud Rara. Namun ia tidak melihatnya. “Cowok yang mana Ra? Sejauh mata aku melihat, semuanya pakai seragam putih putih.”</p>
<p>Rara pun kembali melihat ke arah pria hitam tadi. Dia terkejut. Ternyata cowok itu sudah tidak ada! Selesai pengarahan, murid-murid<br />
dibubarkan. Mereka menuju kelas sementara yang sudah ditetapkan oleh panitia MOS.<br />
Seharian itu diisi oleh berbagai kegiatan MOS. Mulai dari baris berbaris, perkenalan setiap ruangan di sekolah, guru guru bidang<br />
studi, hingga penjaga kantin dan satpam di sekolah itu. Seluruh penjuru yang ada di sekolah itu diperlihatkan kepada semua<br />
murid baru.<br />
Sampai akhirnya mereka memasuki ruangan UKS. “Adik-adik, ini adalah ruang UKS sekolah kita. Disini adalah markas<br />
daripada kakak-kakak Palang Merah Remaja kalian. Nah, kalau dari kalian ada yang berminat untuk mengikuti ekstrakulikuler PMR, ruangan ini akan menjadi sahabat kalian,” ucap kakak pemandu itu.</p>
<p>Rara tak hentinya mengamati secara detail setiap bagian dari ruang UKS tersebut. Di situ ada foto kakak kelas pada saat<br />
mengikuti lomba PMR, foto saat membuat tandu dan lainnya. Saat Rara sedang asik mengamati, tiba-tiba ia mencium bau anyir<br />
seperti bau darah. Rara sontak menutup hidungnya. “Vin, bau apa sih ini?” bisik Rara<br />
kepada Vina.<br />
“Iya , seperti bau amis. Mungkin karena d isini banyak peralatan medis kali,” jawab Vina.</p>
<p>Rara mengangguk. Ia pun sempat berpikir seperti itu. Setelah dari ruang UKS, mereka semua kembali ke kelas. Setelah<br />
semua kegiatan MOS hari itu djalani, muridmurid dipersilahkan untuk pulang. MOS masih berjalan selama dua hari ke depan.<br />
Rara menunggu mamanya di pos satpam. Di situ sedang tidak ada satpam yang berjaga, karena sekarang jam makan siang. Mungkin<br />
mereka sedang istirahat, pikir Rara.</p>
<p>Saat sedang asyik menunggu mamanya, datang seorang satpam. Namun satpam ini bukan satpam yang diperkenalkan oleh kakak<br />
pemandu saat berkunjung ke pos ini. Lalu satpam itu duduk di bangku dalam. Ia selalu menunduk, mukanya datar sekali, sedikit<br />
pucat. Rara menyapanya, “Permisi ya Pak, aku numpang duduk, lagi nunggu dijemput mama.” Satpam itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Rara. Tertera nama Sutoyo pada tanda pengenalnya.</p>
<p>Tidak lama kemudian mamanya datang. Rupanya mama harus mengurus adik dulu sehingga terlambat. Rara tersenyum dan<br />
tidak mempersoalkan hal itu. Sebelum meninggalkan pos satpam, Rara menoleh ke arah satpam tadi untuk sekedar berterima<br />
kasih dan pamitan. Namun satpam itu tidak ada.<br />
“Loh Pak satpamnya kemana?” cetus Rara.</p>
<p>“Satpam? Dari tadi tidak ada orang di situ,” sahut mamanya dengan heran.<br />
Sampai di rumah, Rara menceritakan apa yang tadi ia alami di sekolahnya. Mamanya tertegun, ia seperti bisa merasakan apa yang<br />
Rara rasakan. Namun ia berusaha untuk mengalihkan perhatian Rara.</p>
<p>“Itu cuma kebetulan saja Sayang. Mungkin juga cuma halusinasi kamu. Sudah sekarang makan<br />
yang banyak, terus tidur ya&#8230;”<br />
Tapi semua terasa aneh buatku, gumam Rara saat ia sedang tiduran di kasur.<br />
“Vina…Vina, tolong aku dikejar orang gila!” jerit Rara di koridor sekolah.</p>
<p>Entah dari mana orang gila itu berasal. Saat Rara memasuki gerbang sekolah tadi, tiba-tiba orang gila itu sudah berada di belakangnya dengan pakaian compang-camping dan luka seperti luka bakar di wajah dan tangannya Orang gila itu terus mengejarnya. Rara lantas memasuki sebuah ruangan dan menguncinya dari dalam. Ia lalu meringkuk di sudut ruangan.</p>
<p>Ia terlihat kelelahan setelah berlarian sepanjang koridor sekolah tadi. Ia kesal karena tidak ada satupun yang<br />
menolongnya. Apakah mereka tidak melihat orang gila itu? Perlahan Rara mengamati ruangan yang terlihat seperti ruang UKS. Tapi terasa berbeda. Warna dindingnya seperti sudah kusam. Penuh lumut dimana-mana. Tempat tidurnya juga berubah menjadi tempat tidur usang. Seprainya kusam.</p>
<p>Rara kemudian berjalan melihat lihat foto yang terpajang. Disitu tertera tulisan: LOMBA PMR ANTAR SLTP se-JAKARTA SELATAN. Kalau ini bukan ruang UKS mengapa ada foto lomba PMR? gumam Rara. Padahal waktu kemarin berkunjung kesini,<br />
ruangannya masih bagus. Rara terus mengamati satu persatu isi ruangan. Semuanya benar-benar seperti benda antik.<br />
Lalu Rara menghampiri meja dekat pintu.</p>
<p>Disitu ada sebuah buku tebal bertuliskan “Absensi anggota PMR tahun ajaran<br />
1989/1990”.<br />
&#8220;Loh kok ada disini? Ini kan buku absensi tahun 89? Pikir Rara. Dia lalu membawa buku absen itu keluar. Mungkin ini arsip untuk<br />
pembina PMR, ujarnya dalam hati. Rara lalu membawa buku itu dan ingin membuka pintu<br />
yang tadi di kuncinya. Namun Rara kesulitan untuk membuka kunci itu.</p>
<p>&#8220;Tidak bisa! Aduuhh.. bagaimana ini? Tadi sepertinya gampang sekali ketika aku kunci. Kenapa sekarang jadi susah dibuka? keluh Rara panjang-pendek. Akhirnya ia pasrah. Rara sudah kehabisan tenaga untuk membukanya.<br />
Rara terus melihat keluar jendela, barangkali ada teman atau guru yang lewat untuk menolongnya.<br />
Benar saja, tak lama kemudian segerombol wanita lewat. Sepertinya mereka kakak kelas, karena Rara tidak mengenal<br />
wajahnya sama sekali.</p>
<p>Rara kemudian berteriak. Anehnya, suaranya tidak keluar sama sekali! Lalu ia mencoba berteriak lagi,<br />
namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya. Rara lalu ke dalam mencari benda keras untuk memecahkan<br />
kaca jendela itu. Rara menemukan vas bunga. Segera ia ambil dan melemparkannya ke kaca jendela. Namun Rara sangat terkejut<br />
karena kaca itu tidak pecah!</p>
<p>Rara bingung, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ada apa ini? ucapnya dalam hati. Rara lantas menangis bingung. Perlahan<br />
ia mencium bau anyir di ruangan itu. Rara hampir mual karena tidak tahan mencium baunya. Dengan sekuat tenaga ia bangkit lalu<br />
kembali melemparkan vas bunga. Seperti tadi, meski mengenai kaca jendela, namun<br />
kacanya tidak pecah.<br />
Dalam kondisi putus asa, Rara terus berteriak-teriak meski suaranya tidak terdengar sama sekali. Tidak lama<br />
kemudian melintas pria berpakaian serba hitam yang dilihatnya saat upacara hari<br />
pertama MOS. Laki-laki itu lewat di depan ruang UKS dengan cara meunduk. Rara kembali berteriak. Sepertinya laki-laki itu<br />
mendengarnya. Dia berhenti dan perlahan menengok ke arah Rara.</p>
<p>Rara sangat berharap pria itu dapat menolongnya. Namun Rara histeris saat melihat wajah pria hitam itu. Matanya merah menyala,<br />
mukanya penuh luka bakar yang melepuh. Pria hitam itu menyeringai ke arah Rara. Ia pun menjerit histeris dan tersadar dari<br />
tidurnya. Mendengar jeritan Rara, mamanya masuk ke kamar dengan tergesa.</p>
<p>“Rara, ada apa? Kenapa kamu teriak- teriak begitu? Ada apa sayang?” ucap Mama panik.<br />
Rara langsung memeluk mamanya dan menangis. Ternyata itu semua hanya mimpi. Saat ia melihat jam dinding menunjukkan<br />
pukul 17.30. Ia baru ingat kalau tadi ia tidur siang, namun ia tetap menangis di pelukan mamanya. Tubuhnya basah penuh peluh.<br />
Setelah tenang, Rara menceritakan semua yang terjadi dalam mimpinya. Ia terlihat<br />
sangat ketakutan.</p>
<p>Rara menjadi takut untuk berangkat sekolah esok hari. Mamanya berusaha menasihatinyaa bahwa itu hanya<br />
bunga tidur, itu semua tidak nyata. Tapi Rara merasa semua seperti nyata. Esok paginya Rara terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Ia bahkan tidak mau sarapan. Padahal mamanya sudah membujuknya, namun Rara tetap tidak mau.</p>
<p>Akhirnya Rara berangkat sekolah tanpa sarapan. Saat sampai di kelas ia menemui Vina dan menceritakan kembali mimpi<br />
yang dialaminya. Tanggapan Vina pun sama dengan mamanya. Tak lama kemudian bel berbunyi, seluruh<br />
murid berkumpul di lapangan. Mereka kembali mendengar pidato dari kepsek dan ketua pelaksana MOS. Murid murid<br />
mendengarkan dengan khidmat. Begitupun dengan Rara. Saat sedang mendengarkan, ia merasa sedikit pusing, mungkin karena tadi<br />
ia belum sarapan. Lama lama pandangannya kabur sebelum kemudian pingsan.</p>
<p>Saat membuka mata, ia bingung ada dimana. Ternyata ia berada di ruang UKS. Sementara Vina berdiri di sampingnya.<br />
“Kamu tadi pingsan di lapangan,” ujar Vina tanpa ditanya.</p>
<p>“Syukurlah sekarang kamu sudah baikan. Sebentar aku belikan teh hangat di kantin….”<br />
Rara ingin mencegah Vina. Namun temannya itu sudah langsung melesat ke kantin. Rasa takut karena teringat mimpinya<br />
itu, kini menyergap Rara. Ya Allah, lindungi aku.<br />
Namun baru sebentar memejamkan mata, Rara mendengar pintu terbuka. “Vin, kamu ya?” tanya Rara tanpa menoleh. Rasanya<br />
kepalanya sangat berat. Rara mengulang pertanyaannya karena tidak ada jawaban. Kali ini Rara pun panik.<br />
Apalagi ia mulai mencium bau amis seperti dalam mimpinya. Sementara secara perlahan<br />
cat tembok UKS yang tadinya berwarna putih bersih mengelupas lalu muncul titik-titik lumut. Lama-lama lumut itu bertambah<br />
banyak. Dengan sekejap ruangan UKS berubah menjadi seperti ruangan tua, persis seperti dalam mimpinya!</p>
<p>“Tolong jangan ganggu aku,” pinta Rara sambil menangis. Tiba-tiba ia melihat bayangan di balik gorden di depannya.<br />
Bayangan itu sangat tinggi. Bau amis semakin jelas tercium. Bahkan Rara hampir muntah karena mual dengan bau amis<br />
itu. Rara memberanikan diri bangkit meski tubuhnya masih lemas. Ia pikir pintu UKS akan sulit terbuka seperti dalam mimpinya.<br />
Ternyata tidak. Ia keluar UKS mencari Vina.<br />
Namun suasana sekolahnya sudah berubah. Warna catnya, pintunya, bahkan sekolah ini hanya ada 2 tingkat, padahal seharusnya ada 3 tingkat. Rara semakin panik dan berusaha mencari gerbang untuk keluar. Seharusnya sekolah ini ramai, tapi mengapa menjadi sepi begini, keluh Rara. Saat Rara sedang berjalan menuju gerbang, ia melihat Vina sedang berdiri. Ia<br />
menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang.</p>
<p>“Vin, ayo kita pulang saja. Ada yang tidak beres dengan sekolah ini. Kamu lihat kan semuanya berubah?”<br />
Namun Vina hanya menatap Rara. Wajahnya sedikit pucat. Tiba tiba, Vina menyeringai dan menatap Rara dengan<br />
tajam. Wajahnya begitu menakutkan. Rara terkejut dan spontan berlari ke arah gerbang.<br />
Begitu mencapai gerbang, ia menengok ke pos satpam di dekatnya dan melihat satpam yang kemarin dikenalkan oleh pembina MOS ada di situ. Namun dia tidak sendirian. Satpam lainnya yang bernama Sutoyo juga ada di situ. Rara terlonjak karena<br />
muka keduanya sangat seram, berlumuran darah dan matanya sangat merah. Keduanya tengah menatap ke arahnya sehingga Rara<br />
menjerit histeris dan langsung berlari keluar gerbang sekolah.</p>
<p>Braakkkkkkk…! Tubuh Rara dihantam mobil yang tengah melintas dengan kecepatan tinggi. Tubuh Rara melayang<br />
sebelum kemudian jatuh di atas aspal. Kondisinya sangat mengenaskan. Rara tewas seketika. Vina yang sejak tadi mengejar Rara,<br />
terpukau melihat pemandangan di depannya.<br />
“Raraaaaaaaaaaaa…!!!” jerit Vina. Vina tidak kuasa melihat kondisi tubuh temannya yang hancur bermandikan darah.<br />
Beberapa guru dan orang-orang yang melihat kejadian itu segera melakukan pertolongan dan melarikan tubuh Rara ke rumah sakit.<br />
Namun semua sia-sia. Nyawa Rara sudah tidak tertolong lagi. Mama dan papanya yang datang ke rumah sakit langsung pingsan melihat kondisi anaknya. Sampai kemudian jasad Rara dibawa pulang dan dimakamkan,<br />
mamanya masih sering pingsan.</p>
<p>Sebenarnya sudah banyak orang yang tahu jika sekolah itu sangat angker. Setiap tahunnya pasti ada siswanya yang tewas<br />
dengan cara mengerikan, terutama pada saat MOS. Pada tahun 90-an sekolah ini juga pernah terbakar dan puluhan muridnya<br />
tewas terbakar. Namun pemerintah merenovasi bangunan tersebut dan sekolah itu kembali berdiri. Sejak direnovasi tersebut,<br />
banyak siswa yang mengalami kejadian aneh. Bahkan pernah terjadi kesurupan massal, sekitar 2 tahun lalu. Entahlah sampai<br />
kapan semuanya terjadi. Semoga tidak ada korban lagi seperti Rara di tahun berikutnya.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 545</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/penghuni-gaib-sekolahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Serumah Bersama Hantu (Oleh : AJ Prayitno)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/hidup-serumah-bersama-hantu/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/hidup-serumah-bersama-hantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jul 2012 16:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini dimulai semenjak kepindahanku bersama ibu dan dua kakak perempuanku, karena ayahku sudah tiada 10 tahun yang lalu, dari kota Semarang ke Solo. Sebelumnya aku bersama Kak Rania terlebih... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/hidup-serumah-bersama-hantu/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><div id="attachment_809" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/hidup-serumah-bersama-hantu/rumah-hantu/" rel="attachment wp-att-809"><img src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/07/rumah-hantu-150x150.jpg" alt="rumah hantu" title="rumah hantu" width="150" height="150" class="size-thumbnail wp-image-809" /></a><p class="wp-caption-text">rumah hantu</p></div>
<p>Cerita ini dimulai semenjak kepindahanku bersama ibu dan dua kakak perempuanku, karena ayahku sudah tiada</p>
<p>10 tahun yang lalu, dari kota Semarang ke Solo. Sebelumnya aku bersama Kak Rania terlebih dahulu mencari rumah kontrakan untuk tempat tinggal sementara sambil mencari rumah baru yang bisa kami beli.</p>
<p>Setelah berkeliling Kota Solo, berikut mencari informasi dari kerabat dan teman-teman yang tinggal di Solo, kami menemukan sebuah rumah yang melebihi harapan kami.</p>
<p>Rumah itu asri dan indah sekaligus bersih. Pintu dan jendela pun lebar dan luas, bercat putih dan berlantai dua. Ada juga taman dan patung anak kecil di dalam rumah, dilengkapi dengan garasi mobil. Pokoknya melebihi</p>
<p>harapan dan cukuplah buat kami berempat tinggal disini, terlebih harga kontrakannya terbilang murah. Akhirnya kami memutuskan mengontrak rumah ini, sambil mencari rumah lain yang bisa kami beli nantinya.</p>
<p>Andai kelak pemiliknya berniat menjual, mau juga kami membelinya asalkan harganya cocok.<span id="more-807"></span></p>
<p>Satu hari, dua hari … Sampai satu bulan lebih tidak terjadi apa-apa. Kami merasa nyaman tinggal di rumah ini. Namun ketika mendekati bulan ke dua aku mengalami kejadian-kejadian yang aneh yang di luar akal pikiran. Awalnya aku hanya sering bermimpi buruk. Aku juga pernah mengalami tindihan, seolah ada bayangan besar dan hitam yang</p>
<p>menindihku. Dengan napas terengah-engah aku berusaha bangun sambil membaca doa-doa yang aku ingat. Syukurlah aku bisa terbangun. Kejadian semacam ini sering terulang.</p>
<p>Mulanya aku menganggap hanya mimpi biasa. Menurut orang Jawa tindihan terjadi akibat salah posisi saat tidur. Namun</p>
<p>semakin lama aku merasakan ada yang tidak beres dengan rumah kontrakan ini. Pernah aku lihat, walau di siang hari, sekelebat bayangan anak laki laki kecil berpakaian putih lusuh dan kotor, seperti pakaian anak anak jalanan. Wujudnya seperti anak anak biasa lainnya suka berlari-lari dan suka mengintip malu-malu.</p>
<p>Ketika hal itu aku ceritakan kepada yang lain, ternyata mereka juga sering mengalami hal-hal yang aneh. Kak Nita pernah marahmarah karena pintu yang sudah digerendhel, dibuka kembali, digerendhel lagi terbuka</p>
<p>lagi, begitu seterusnya. Kak Nita mengira salah satu adiknya yang mengerjainya.</p>
<p>Ia kemudian ke kamar kami, namun semua kamar tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda diantara adiknya yang masih</p>
<p>bangun. Spontan Kak Nita merinding. Apalagi dia merasa ada bayangan hitam yang mengikutinya. Buru-buru Kak Nita</p>
<p>membangunkan ibu dan menumpang tidur bersama ibu. Semenjak kejadian tersebut, kami memutuskan satu kamar dipakai buat dua orang, aku bersama ibu, Kak Nita dengan Kak Rania.</p>
<p>Seperti biasa pagi itu aku bersantai di dalam kamar sambil membaca baca buku. Di rumah juga ada Kak Nita dan</p>
<p>Kak Nita yang sedang sibuk menyiapkan masakan di ruang dapur belakang. Tetapi aku merasa dibelakangku berkelebat bayangan.</p>
<p>Aku kira itu bayangan kakakku yang tengah mondar- mandir dari ruang makan ke dapur. Jadi akau tidak terlalu</p>
<p>hirau. Setelah berjalan beberapa saat aku memutuskan bergabung dengan Kak Nita. Saat itu aku mengira lauk yang sedari tadi aku tunggu sudah matang.</p>
<p>“Kak, aku lapar. Sudah mateng belum masakannya? Aku bantu ya?“ selorohku sambil merangkul badan Kak Nita yang</p>
<p>sedang duduk di depan meja makan dari belakang.</p>
<p>Kak Nita diam saja dan tersenyum. Aku merasa agak aneh dengan tabiat kakakku yang satu ini. Biasanya dia suka bawel dan sering marah-marah ketimbang tersenyum.</p>
<p>Banyak kemudian pertanyaanku yang dijawab hanya dengan seulas senyum tapi tak satu patah katapun keluar dari mulutnya. Tumben Kak Nita lembut sekali, kataku dalam hati. Tetapi aku juga tidak begitu perhatian sih. Soalnya kadang, dia juga suka ngerjai aku. Jadi mungkin saja saat ini dia sengaja mengerjaiku.</p>
<p>Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang menyuruhku pergi. Aku pun ngeloyor ke lantai atas sambil membawa novel yang akan aku baca sambil menunggu masakan kakak.</p>
<p>Sesampai di lantai atas aku buka pintu kamar hendak mengambil. Namun ketika aku balik badan keluar dari kamar, kok ada seseorang sedang duduk membelakangiku didekat jendela ruangan lantai atas. Lho kok ada</p>
<p>Kak Nita di sini? “Sedang apa Kak? Emang masaknya sudah selesai?” tegurku.</p>
<p>“Rona, ngapain kamu nanya-nanya segala?!” sahut Kak Nita dengan suara kesal.</p>
<p>”Tadi kan Kakak masak di lantai bawah?“ tanyaku lagi tanpa menghiraukan rasa kesalnya.</p>
<p>“Dari tadi aku baca koran di sini, cari iklan rumah yang mau dijual. Biar ibu saja yang masak, nanti aku menyusul,”jawab Kak Nita.</p>
<p>Waduhh, jadi yang tadi aku rangkul siapa? tanyaku dalam hati. Rasa takut tiba-tiba menyergapku sampai wajahku pucat.</p>
<p>“Ada apa, Rona? Mengapa wajahmu jadi pucat begitu?“ tanya Kak Nita sambil memegang tanganku. “Lho, tanganmu juga</p>
<p>dingin begini. Ada apa?“</p>
<p>Akhirnya aku ceritakan yang aku lakukan di lantai bawah tadi. Kak Nita ikut bergidik mendengar ceritaku. Padahal Kak Nita terkenal paling berani di antara kami. Kami lantas menceritakan pengalaman ini ke ibu, tapi ibu bilang agar kami tidak usah takut.</p>
<p>“Selama iman kita kepada Allah SWT kuat kita pasti dilindungi olehNya,” kata Ibu.</p>
<p>Sejak kejadian itu kami sekeluarga jadi tambah giat bersembahyang dan tidak pernah lupa berdoa sebelum tidur.</p>
<p>Namun kejadian demi kejadian masih sering bermunculan seperti yang dialami Kak Rania, kakak keduaku. Ketika berada dalam rumah, dia merasa ada yang mengikutinya dimanapun dia pergi. Sebenarnya dia enggan menceritakan ke kami karena tidak ingin membuat seisi rumah ketakutan. Namun karena aku sudah membukanya, Kak Rania pun menceritakan kisah yang dialaminya.</p>
<p>Menurut Kak Rania, saat itu sudah lewat tengah malam, sekitar pukul 01.00 WIB. Kak Rania hendak menunaikan sholat malam seperti yang biasa dia lakukan waktu di rumah kami yang lama. Namun kali ini ia lakukan karena berbagai peristiwa ganjil yang dialaminya. Dia segera membangunkan ibu untuk menemaninya sholat malam.</p>
<p>Pernah juga waktu ibu kehilangan kunci lemari yang menyuruh kami semua anak-anaknya untuk semua menolong mencari dimana kunci itu. Tapi tetap tidak ketemu. Baru keesokan harinya kunci itu tergeletak di lantai atas yang mudah untuk di lihat. Padahal kemarin kami juga sudah mencari ke tempat ini dan sama sekali tidak ada. Menurut itu gerendel atau pintu kamar dalam, juga sering terbuka sendiri waktu malam. Namun ibu tidak pernah mau menceritakan kejadian-kejadian aneh tersebut kalau kami tidak memintanya.</p>
<p>Kejadian demi kejadian ganjil terus berlanjut sampai empat bulan kami tinggal di rumah itu. Lama-kelamaan kami merasa sudah semakin terbiasa dengan kejadian aneh dan ganjil tersebut dan berusaha menerimanya dengan tabah dan tawakal.</p>
<p>Ada juga tetangga yang menasehati kami untuk pindah saja dari rumah itu. Ada juga yang menawari untuk mengusir</p>
<p>hantu-hantu itu di rumah kami. Tetapi ibu menolaknya karena yakin selama keluarga kami tidak berbuat yang dilarang Tuhan dan selalu berdoa, maka makhluk-makhluk gaib itu juga akan segan kepada kami. Sebagai sama-sama hamba ciptaan Tuhan yang tinggal di muka bumi ini, sepantasnyalah untuk tidak saling mengganggu satu sama</p>
<p>lain.</p>
<p>Prinsip inilah yang ditekankan ibu kepada kami dalam menyikapi kejadian-kejadian aneh di rumah kami.</p>
<p>“Kita hidup di dunia yang sama tapi dengan alam yang berbeda. Satu di alam fana atau alam nyata dan yang satu di alam halus atau alam gaib, jadi seharusnya tidak saling mengganggu satu sama lain,” kata Ibu.</p>
<p>Benar juga, setelah adanya “saling pengertian” itu, kejadian aneh di rumah kami mulai berkurang. Kami sekeluarga pun</p>
<p>mengucapkan syukur kepada Tuhan karena bisa melewati cobaan ini.</p>
<p>Sekarang kami sekeluarga sudah pindah dari rumah itu. Kami membeli rumah bekas dari orang yang pindah ke kota lain. Letaknya hanya bertaut satu jalan dari rumah angker itu. Alhamdulillah, di rumah baru kami tidak ada kejadian-kejadian ganjil lagi. Sementara rumah angker bekas kontrakan kami dulu, sekarang dikontrak orang lain.</p>
<p>Namun kami prihatin karena kabarnya orang yang mengontraknya sering diganggu kejadian-kejadian gaib seperti kami dulu.</p>
<p>Bahkan kini tetangga di depan rumah angker itu juga ikut terkena dampaknya. Mereka sering mendengar suara jeritan</p>
<p>wanita, raungan harimau dan suara denting lonceng. Kadang juga muncul bayangan hitam yang sangat besar, makhluk berwajah putih rata, anak-anak kecil berpakaian lusuh seperti pengemis dan lain-lain. Semua itu sudah pernah kami lalui. Andai saja prinsip keluarga kami diterapkan, pastilah orang yang mengontrak rumah angker itu, dan juga</p>
<p>tetangganya, tidak akan diganggu.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 421</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/hidup-serumah-bersama-hantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jebakan Siluman Harimau (oleh: Hamid Nuri)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/jebakan-siluman-harimau/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/jebakan-siluman-harimau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2012 07:36:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=766</guid>
		<description><![CDATA[Mempunyai hobi sebagai pemburu boleh-boleh saja. Karena kegiatan berburu terkadang juga bisa membantu orang lain. Seperti ketika para petani banyak yang mengeluhkan karena tanaman mereka dirusak babi hutan, keberadaan pemburu... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/jebakan-siluman-harimau/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_768" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-768" href="http://www.majalah-misteri.net/jebakan-siluman-harimau/siluman-harimau-2/"><img class="size-thumbnail wp-image-768" title="siluman harimau" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/06/siluman-harimau-150x150.jpg" alt="siluman harimau" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Mempunyai hobi sebagai pemburu boleh-boleh saja. Karena kegiatan berburu terkadang juga bisa membantu orang lain. Seperti ketika para petani banyak yang mengeluhkan karena tanaman mereka dirusak babi hutan, keberadaan pemburu bisa membantu petani untuk mengurangi populasi binatang itu. Sehingga mereka tak mengganggu lagi ladang perkebunan milik petani.<br />
Hanya saja menjadi pemburu hendaknya jangan semena-mena. Rasa peri kehewanan juga perlu ada, karena binatang juga makhluk Tuhan. Selain juga pengalaman seorang pemburu yang kita panggil saja namanya Dimas (ia tak mau mengungkapkan nama sebenarnya) tidak menimpa Anda para pembaca majalah ini yang kebetulan suka berburu.<span id="more-766"></span><br />
Dimas yang saat ini tinggal di Yogyakarta memang dulunya mempunyai hobi pemburu. Ia yang merupakan anak pengusaha ternama di Kota Gudeg ini mempunyai segudang pengalaman dalam berburu. Ia pernah menjelajahi hutan-hutan di Afrika untuk berburu. Untuk Indonesia, boleh dikatakan semua hutan sudah dijelajahi. Dari hutan di Kalimantan, Sumatera hingga berbagai hutan perburuan di Jawa.<br />
Sebagai pemburu, Dimas memang termasuk ulet. Ibaratnya ia belum akan<br />
pulang kalau belum mendapatkan binatang buruan. Tapi, Dimas juga dikenal sebagai pemburu yang sadis. Dia tidak peduli dengan binatang yang diburu, baik itu binatang yang diperbolehkan diburu atau yang tidak semua jadi sasaran. Termasuk binatang betina yang lagi mengandung atau sedang membawa anak-anaknya mencari makan pun menjadi sasaran.<br />
Hanya saja gara-gara sering sadis itu, saat berburu di satu hutan di Sumatera,<br />
Dimas pernah mengalami kejadian mistis yang nyaris membuat nyawanya hilang.<br />
Kejadian itu terjadi saat ia berburu di sana. Saat itu ia sempat membidik sepasang harimau yang tampaknya sedang berkasihkasihan.<br />
Ia yakin satu dari dua harimau ada yang kena. Yang satu lari sambil mengaum marah. Sedang yang satu lagi tampak tewas seketika. Namun ketika bersama dengan temannya menghampiri di tempat yang diperkirakan harimau itu dilumpuhkan. Ia tidak melihat harimau yang telah dirobohkan.<br />
Bahkan bekas tapak harimau juga tidak ada.<br />
Padahal bersama Bowo temannya ia melihat sendiri bagaimana harimau itu roboh tak berdaya. Dan yang satu lagi melarikan diri. Suara auman marah juga masih terdengar. Namun binatang itu seperti lenyap ditelan bumi. Dimas mengajak kawannya untuk mencari di mana harimau itu berada.<br />
Insting berburu mengatakan kemungkinan harimau itu berada tak jauh dari tempat itu. Namun temannya yang mempunyai naluri kalau harimau itu bisa jadi merupakan harimau jadi-jadian berusaha mencegah.<br />
Bowo mengajak pulang dengan alasan hari telah mulai malam.<br />
“Tapi jangan-jangan tadi harimau siluman. Apalagi hari mulai gelap, kita akan tersesat dalam hutan ini nanti,” alasan Bowo.<br />
“Ah&#8230; kamu ini&#8230; hidup di zaman modern<br />
ini masih percaya takhayul. Orang-orang seperti kamu itu yang menjadi penghambat kemajuan negeri ini. Negara lain sudah bisa pergi ke bulan atau bikin pesawat modern, kamu ini masih seperti hidup di jaman Majapahit,” ledeknya.<br />
Untuk masalah bantah membantah, Dimas memang jagonya. Sedangkan Bowo sendiri tak begitu pandai bersilat lidah. Apalagi Bowo juga penakut tak berani pulang sendiri, sehingga akhirnya ia hanya bisa mengikuti saja kemauan Dimas. Mereka berdua terus masuk ke hutan, suasana mulai gelap karena hari menjelang malam.</p>
<p>Namun semakin masuk ke hutan belantara jejak harimau tak bisa<br />
diketemukan. Dimas terus mengumpat-umpat. Dan kemudian mengajak pulang. Namun jalur pulang tidak mereka dapatkan, padahal tadinya juga telah membuat tanda khusus agar bisa mengenali jalan keluar hutan. Sampai larut malam mereka masih tersesat dalam hutan. Dimas terus<br />
mengumpat-umpat.</p>
<p>Bowo semakin galau, apalagi perbekalan yang mereka bawa terbatas. Mereka berdua baru lega ketika menemukan sebuah gubuk di hutan. Apalagi terlihat ada lampu minyak terpasang di depan rumah, berarti kalau di dalam gubuk<br />
ada penghuninya.<br />
“Kita mampir ke gubuk itu, sekalian untuk istirahat dan nanti kita tanya pada pemiliknya nanti mana jalan pulang,” usul Bowo.<br />
Dimas yang tampak kelelahan hanya bisa mengangguk. Mereka bergegas menuju ke pondok di tengah hutan itu. Dan ternyata benar ada penghuninya, karena pintu ada yang membukanya. Ternyata seorang tua yang berusia 80 tahunan. Di dalam juga tampak seorang perempuan muda yang tampaknya baru menangis.<br />
“Silakan Nak masuk?” kata si pemilik dengan ramah. Dimas dan Bowo pun tampak lega, paling tidak malam ini mereka bisa beristirahat dengan tenang. Apalagi ketika mereka minta izin numpang menginap, Pak<br />
tua itu dengan ramah mempersilakan.</p>
<p>“Boleh Nak, malah kami senang,” katanya.<br />
Tak lama kemudian minuman kopi dan nyamikan pun dihidangkan, oleh perempuan muda yang tampaknya masih terlihat sedih.<br />
“Silakan diminum nak, ya adanya hanya ini. Itu anak perempuan saya, kalau anak melihat dia tampak muram itu karena sedih baru saja ditinggal mati tunangannya,” bisik orang tua itu.</p>
<p>Bowo dan Dimas tampak mengangguk-angguk. Namun mata Dimas yang terkenal mata keranjang mencoba mencuri pandang pada si wanita muda itu.<br />
Dalam pandangannya ia melihat perempuan muda itu sangat cantik. Wajahnya sangat mirip dengan Sarah Azhari, salah satu bintang film dan sinetron yang terkenal karena seksi itu.<br />
Ketika asyik ngobrol tiba-tiba Pak Tua minta pamit. Katanya ingin melihat<br />
ladangnya di pinggir hutan. Bowo dan Dimas hanya bisa mengangguk-angguk.<br />
“Titip anak saya ya pada anak berdua, kalau bisa hiburlah dia agar bisa melupakan kesedihannya.”</p>
<p>Setelah itu Pak Tua itu mengambil caping dan keluar dari gubuk untuk menuju ladang. Ternyata walau mukanya masih terlihat sedih perempuan muda itu mau diajak ngobrol. Apalagi Dimas yang terkenal playboy itu mampu mengajak menarik perempuan muda yang kemudian memperkenalkan diri dengan Menur itu mau untuk diajak ngobrol. Kepandaian bicara Dimas juga wajah tampannya membuat obrolan yang<br />
tadinya bertiga jadi berdua, karena Bowo jadi tersingkir dari gelanggang pembicaraan.</p>
<p>Dalam istilah sekarang jadi obat nyamuk. Merasa tak dianggap, Bowo pun keluar rumah dengan alasan mencari angin. Sementara yang di dalam pembicaraan makin menarik. Bahkan sepasang anak cucu Adam itu mulai cubit-cubitan. Menur terlihat makin aleman. Dimas yang pandai merayu<br />
seperti di atas angin. Apalagi ketika Menur mengajak untuk bicara di dalam kamar.<br />
Bowo yang berada di luar sebenarnya memberi isyarat pada Dimas untuk tetap menjaga kesopanan, namun tak diindahkan. Bowo makin berdebar-debar, jangan-jangan nanti kalau pulang dari ladang Pak Tua mempergoki ulah Dimas dan Menur. Dengan hati mangkel Bowo duduk di bangku panjang<br />
yang berada di teritisan. Tak lama ia pun tertidur.</p>
<p>Paginya saat bangun ternyata ia tertidur di bawah pohon, rumah gubuk yang tadi ada itu ternyata merupakan gua. Ia kaget karena mendapatkan Dimas temannya tampak merintih kesakitan. Mukanya berdarah seperti dicakar-cakar binatang buas, luka-luka mengerikan juga terlihat di sekujur<br />
tubuh yang lain seperti dada, perut dan kaki.<br />
Ia hanya bisa merintih tak berdaya, Bowo pun kesulitan untuk membawa pulang. Dari jauh terdengar auman harimau yang membuat suasana semakin ngeri.</p>
<p>Untung saja pagi itu harimau tampaknya telah menjauhi tempat itu. Dilihat dari suaranya tampaknya hanya seperti memberi isyarat kalau mereka telah puas membalas dendam. Ternyata gua itu letaknya tak jauh dari pemukiman, akhirnya dengan dibantu warga pinggiran hutan Dimas bisa dilarikan ke rumah sakit.</p>
<p>Nyawa Dimas memang bisa terselamatkan, namun ia harus menderita<br />
cacat pada muka. Wajahnya yang dulu tampan kini menjadi mengerikan.<br />
Kepada Bowo sahabat karibnya, Dimas cerita kalau malam itu Menur tampak<br />
agresif. Bahkan dia yang berinisiatif untuk mengajaknya masuk ke kamar. Di atas ranjang, Menur juga tampak yang banyak mengambil peranan.</p>
<p>Dimas yang tampaknya sudah masuk dalam jebakan harimau siluman itu semakin melayang-layang. Namun saat mencapai klimaks, tiba-tiba Menur tampak berubah wajahnya menjadi wajah harimau. Sekujur tubuhnya juga<br />
berbulu loreng-loreng.</p>
<p>“Kau yang membunuh kekasihku, kini kau harus mati!” Melihat perubahan, Dimas pun kaget. Namun untuk melepaskan diri sudah tak mungkin.Ia seperti tidak berdaya dengan cakaran harimau betina itu. Darah mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Nyawanya nyaris melayang, kalau tidak datang seekor<br />
harimau lagi. Sang harimau bersuara mirip suara Pak Tua yang membukakan pintu kemarin.</p>
<p>“Sudahlah, dia sudah mendapat akibat yang telah diperbuat. Biarlah Tuhan yang menghukumnya nanti,” cerita Dimas dengan suara tangis terisak. Dua harimau itu kemudian meninggalkannya. Ia kemudian hanya bisa merintih kemudian pingsan.</p>
<p>Baru sadar ketika sudah berada di rumah sakit. Kini Dimas sudah kapok dengan hobi berburunya. Bahkan dia juga terlihat lebih taat dalam menjalankan ajaran agamanya.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 538</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/jebakan-siluman-harimau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cincin Pemberian Genderuwo (Oleh : Bayu Indrayanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/cincin-pemberian-genderuwo/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/cincin-pemberian-genderuwo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 04:35:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini Tomi tak menyangka kalau rumah tua yang dilewatinya tiap malam sepulang kerja ternyata merupakan rumah angker yang menyimpan beribu misteri. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/cincin-pemberian-genderuwo/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p>Selama ini Tomi tak menyangka kalau rumah tua yang dilewatinya tiap malam sepulang kerja ternyata merupakan rumah angker yang menyimpan beribu misteri. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan pengalaman yang tak bisa dihilangkan dari ingatannya hingga hari ini.<span id="more-728"></span></p>
<p>Sebagai pegawai pabrik sablon, bagi Tomi dan kawan-kawannya sudah bukan merupakan hal yang aneh kalau tiap hari harus kerja lembur mengerjakan pesanan dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak jarang ia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam dan setelah itu pulang ke rumah yang jaraknya lumayan jauh.</p>
<p>Seperti hari itu. Tomi diminta lembur oleh bosnya karena sedang banyak pekerjaan. Dengan senang hati Tomi mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa tersa hari menjelng tengah malam. Tomi berhasil menyelesaikan pekerjaaanya dan bergegas pulang setelah memasukkan semua pesanan untuk besok ke dalam bungkusan. Dikayuhnya sepeda tua peninggalan orang tuanya dengan pelan.</p>
<p>Sepanjang jalan yang dilewatinya terasa gelap, rupanya listrik di daerah tersebut padam. Dengan pelan sepeda tua tersebut berjalan menembus kegelapan malam. Sebetulnya hati Tomi sudah merasa tidak enak. Jalanan yang gelap ditambah suasana jalan yang sepi membuatnya miris. Tetapi rasa lelah karena seharian bekerja membuat tekadnya untuk pulang dan segera tidur semakin kuat.</p>
<p>Tiba di tikungan, Tomi tanpa sengaja melihat rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Perasaannya menjadi tidak enak. Aneh mengapa hatiku berdebar-debar, gumam Tomi.</p>
<p>Seperti ada yang menyuruh, Tomi malah menghentikan sepedanya. Rasa takut yang mencekamnya membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan kaki yang bertopang pada sandaran sepeda. Tomi mencoba memberanikan dirinya untuk menatap rumah tua yang ada di depannya. Jantungnya semakin berdebar-debar.</p>
<p>Apa aku lebih baik kembali dan tidur di gudang saja ya? tanya hati Tomi penuh rasa bimbang. Dia juga heran mengapa dirinya tidak segera beranjak dari tempat itu. Sebaliknya, kakinya justru melangkah mendekati rumah tua itu. Tomi merasakan ada kekuatan gaib yang menariknya untuk terus mendekat ke rumah itu.</p>
<p>Perasaan hatinya yang semakin kacau menjadi semakin tidak karuan waktu dilihatnya sesosok bayangan tampak berkelebat ke luar dari arah pintu pagar rumah kosong tersebut.</p>
<p>Dengan kaki yang gemetar karena ketakutan melihat bayangan tersebut. Tomi berusaha membalikkan sepedanya untuk berputar kembali.</p>
<p>Belum selesai ia  mengangkat roda sepedanya untuk berputar terdengan suara memanggilnya. “Mas…!” suara parau terdengar menyapanya.</p>
<p>Dengan memberanikan diri Tomi yang sudah bersiap-siap untuk mengambil langkah seribu menatap ke arah suara tersebut. Ternyata suara tersebut keluar dari seorang pria paroh baya berpakaian hitam dengan sarung membelit lehernya. Bayangan tersebut bergerak mendekatinya sambil mengarahkan lampu senter menyoroti Tomi beserta sepedanya.</p>
<p>Melihat sosok laki-laki beserta lampu senter yang menyorotinya, hati Tomi merasa lega. Bayangan yang dikiranya hantu tersebut ternyata merupakan manusia.</p>
<p>“Ada apa Pak?” kata Tomi balik bertanya.</p>
<p>Laki-laki bersarung tersebut tersenyum, sementara lampu senter di tangannya tampak digoyang-goyang. “Saya Basori, penjaga rumah tua ini,” laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Tomi. Tangan kanannya yang juga besar-besar memegang stang sepeda Tomi. “Kalau boleh saya ingin numpang sampai pohon beringin di pojok desa. Mau mengambil bekal makanan untuk menjaga di rumah tua ini.”</p>
<p>Tomi menatap heran tanda tak mengerti. “Saya tadi lupa membawa bekal. Ketinggalan di rumah” Basori meneruskan ucapannya yang terpotong.</p>
<p>“Boleh..boleh” Tomi langsung mengiyakan karena merasa gembira ada teman.</p>
<p>Tak lama kemudian Basori membonceng di sepeda Tomi. “Busyet. Berat banget ini orang,” kata Tomi dalam hati sambil tetap mengayuh sepedanya.</p>
<p>Di perjalanan lampu listrik yang padam tetap belum menyala. Tapi dengan adanya lampu senter yang dibawa Basori, jalanan yang gelap menjadi agak terang.</p>
<p>“Sudah, sini saja Mas,” Basori berkata kepada Tomi, ia menepuk bahu Tomi memberi isyarat agar berhenti. Tomi kemudian menghentikan sepeda.</p>
<p>“Rumah saya ada di balik gerumbulan pohon itu,” Basori menunjuk ke  arah pepohonan di balik tikungan jalan.</p>
<p>Tomi hanya bisa menatap gerumbulan pohon yang ada.</p>
<p>Basori kemudian memasukkan senternya pada saku jaket Tomi “Senternya buat Mas saja. Buat kenang- kenangan.”</p>
<p>Tomi hanya bisa mengucap terima kasih. Ditatapnya laki-laki paroh baya  bernama Basori yang melangkah melewati gerumbulan pohon yang ada. Tampak laki-laki itu menoleh. Namun wajah pria paroh baya itu kini berubah menjadi makhluk tinggi besar penuh bulu yang menutupi seluruh tubuhnya.</p>
<p>Tomi yang melihat hal tersebut hanya bisa berteriak minta tolong sambil mengayuh sepedanya sejauh mungkin. Sesampai di rumah diambilnya senter milik genderuwo yang mengaku bernama Basori tersebut dari sakunya. Senter itu ternyata telah berubah menjadi sebuah batu akik. Tomi sebetulnya merasa takut dan teringat akan genderuwo yang menakut-nakutinya sebelum ini. Tapi selanjutnya ia berpikir tentu batu akik ini bukan sembarangan karena milik genderuwo. Pasti mempunyai khasiat.</p>
<p>Keesokan harinya dipakainya cincin tersebut bekerja. Entah pengaruh cincin yang dipakainya atau bukan. Tumpukan kain yang akan disablonnya menjadi terasa ringan. Pekerjaan yang semestinya harus diselesaikannya dalam beberapa jam mampu diselesaikannya dalam setengah jam. Bahkan yang menakjubkan tumpukan bahan sablon dalam kaleng mampu diangkatnya hanya dengan satu tangan.</p>
<p>“Rupanya cincin ini benar-benar berkhasiat,” dengan bangga Tomi mengelus-elus cincin tersebut.</p>
<p>Ternyata khasiat cincin genderuwo bukan itu saja. Di warung Mbak Ira tempatnya makan siang kalau bekerja, cincin genderuwo itu juga mempunyai khasiat yang lain. Rina anak gadis Mbak Ira yang selama ini selalu cuek kalau digoda para pria, tiba-tiba menjadi genit pada Tomi. Dengan kerling mata yang nakal mengarah ke Tomi gadis itu tampak dengan sibuk meladeni Tomi makan. Selama ini jangankan melayani, menoleh saja ia tidak mau. Berkali-kali Tomi mengelus akiknya . Ia seolah-olah mendapat durian runtuh dengan memiliki cincin genderuwo tersebut. Bayangan tubuh Rina yang bahenol seakan-akan menari di benaknya. Ia sudah membayangkan malam ini akan meniduri tubuh Rina yang montok, daripada meniduri tubuh istrinya yang sudah mulai kendor .</p>
<p>Seminggu sudah Tomi memiliki cincin genderuwo tersebut. Di malam Jumat setelah capek setelah seharian bekerja Tomi terlelap di ruang tamu. Sementara istrinya tidur di kamar sendiri. Tanpa terasa semalam suntuk ia telah  tidur dengan nyenyaknya.  Paginya setelah bangun dengan  wajah sumringah sang istri menghidangkan kopi .</p>
<p>”Mas tadi malam lain lho. Kuat sekali. Aku sampai berkali-kali,” celoteh istri Tomi dengan genitnya.</p>
<p>Mendengar ucapan sang istri, Tomi merasa terkejut. Didesaknya sekali lagi istrinya. Kepalanya serasa berputar-putar manakala istrinya bercerita kalau semalam telah berhubungan badan dengan Tomi dan merasa puas sekali. Tidak biasanya Tomi menjadi begitu perkasa di ranjang.</p>
<p>“Genderuwo keparat!!!!” teriak Tomi setelah mendengar cerita tersebut. Sang istri hanya melongo tanda tak mengerti. Tomi mencaci maki membayangkan apa yang telah dilakukan genderuwo tersebut sewaktu ia tertidur dengan nyenyaknya. Dengan bergegas ia mengayunkan sepedanya ke rumah tua tempat ia bertemu genderuwo seminggu sebelumnya.</p>
<p>Dilemparkannya cincin tersebut ke arah rumah tua tersebut. Cincin yang terlempar itu langsung lenyap masuk kedalam halaman rumah kosong. Ternyata cincin genderuwo itu membawa korban. Si genderuwo pemilik cincin berubah bentuk menjadi Tomi dan menyetubuhi istrinya. Sebagai makhluk halus, genderuwo memang bisa berubah bentuk. Bagaimanapun juga genderuwo adalah setan.***</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 527</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/cincin-pemberian-genderuwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Tahun Dirasuki Jin hitam (Oleh : aris achdiyat)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/dua-tahun-dirasuki-jin-hitam/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/dua-tahun-dirasuki-jin-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 08:27:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu pada hari Minggu pertengahan 2011, tak seperti biasanya Mulyana tengah melamun di rumahnya. Entah perasaan darimana, tiba-tiba dia teringat pada Ujang, teman lamanya. Dia dan Ujang memang sudah... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/dua-tahun-dirasuki-jin-hitam/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_693" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/dua-tahun-dirasuki-jin-hitam/jin-hitam/" rel="attachment wp-att-693"><img class="size-thumbnail wp-image-693" title="jin hitam" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/04/jin-hitam-150x150.png" alt="jin hitam" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Saat itu pada hari Minggu pertengahan 2011, tak seperti biasanya Mulyana tengah melamun di rumahnya. Entah perasaan darimana, tiba-tiba dia teringat pada Ujang, teman lamanya. Dia dan Ujang memang sudah hampir satu tahun tidak bersua. Untuk mengobati rasa penasaran, Mulyana mencoba untuk menghubungi Ujang melalui HP, namun ternyata nomornya sudah tidak bisa dihubungi.</p>
<p>Hal itu membuat Mulyana penasaran. Meski tinggal sekota dengan Ujang di kota P, karena kesibukan pekerjaan masing- masing dan jarak rumah mereka yang cukup jauh, sekitar 40 km, mereka sudah setahun lebih tidak bertemu. Bahkan untuk sekedar berkomunikasi via sms atau telepon pun tidak pernah.<span id="more-691"></span></p>
<p>Akhirnya, pada siang harinya Mulyana pergi ke rumah Ujang mengendarai motor tuanya. Beruntung Ujang ada di rumah. Mereka pun cerita panjang-lebar untuk melepas kangen. Kebetulan juga hari itu Ujang tidak ada kegiatan sehingga mereka berdua bisa leluasa mengobrol. Sampai akhirnya mereka berbincang mengenai pekerjaan masing-masing, Ujang sendiri telah bekerja sebagai PNS di kantor kecamatan setempat, sementara Mulyana menceritakan mengenai bisnisnya saat ini.</p>
<p>Mulyana memang aktif berwiraswasta, dan tanpa sadar Mulyana pun jadi curhat dan menceritakan kesulitan-kesulitan bisnis yang sedang dialaminya sekarang, usaha tokonya bisa dirasakan terasa makin menurun pendapatannya dan semakin lama semakin tidak seimbang dengan pengeluarannya.</p>
<p>“Saya juga heran Jang, padahal kalau dievaluasi tidak ada yang salah dengan toko saya, pegawai bekerja dengan baik, administrasi juga lancar, tapi entah mengapa seolah-olah toko saya tak bisa maju dan pengeluarannya jadi semakin besar, pembeli malah semakin menurun,” papar Mulyana panjang lebar.</p>
<p>“Hmm.. saya menangkap memang ada yang ganjil dalam kehidupanmu, Mul. Tadi sudah terlihat sejak kamu datang ke sini,” ujar Ujang. “Menurut penglihatan saya ada 3 mahluk halus yang menempel di tubuhmu dan saya yakin ini adalah kiriman dari orang yang tidak menyukaimu.”</p>
<p>“Wah, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Mulyana keheranan.</p>
<p>“Sebetulnya selama setahun terakhir ini, saya mendalami ilmu kebatinan, dan mungkin atas kehendak Tuhan lah kita hari ini dipertemukan, kita berdoa saja pada Tuhan, mudah-mudahan saya bisa menolongmu,” jelas Ujang.</p>
<p>Mungkin inilah yang dinamakan petunjuk yang kuasa dan jawaban dari doa Mulyana selama ini. Maka selanjutnya, Ujang memanggil seorang temannya untuk datang kerumahnya, yaitu Sidik. Sidik juga merupakan rekan Ujang dalam mendalami ilmu kebatinan. Setelah berkenalan dengan Mulyana dan mengetahui duduk persoalannya, Sidik hanya manggut-manggut. “Ya, kelihatannya memang kiriman guna- guna dari seseorang, sebaiknya mari kita buktikan langsung,” ujar Sidik.</p>
<p>Setelah shalat Ashar, mereka bertiga duduk di ruangan tengah rumah Ujang, menurut Ujang dan Sidik yang akan dilakukannya saat ini hanya untuk membuktikan apakah benar atau tidak ketiga mahluk halus di tubuh Mulyana adalah kiriman orang lain atau bukan.</p>
<p>Ujang dan Sidik duduk berhadapan, sementara Mulyana duduk disamping Sidik. Tangan Sidik bergerak seolah menarik sesuatu dari tubuh Mulyana, saat itu Mulyana merasakan dadanya tiba-tiba terasa sakit seolah ada yang merengsek keluar dari dalam dadanya. Tiba-tiba saja Ujang yang duduk tenang mukanya berubah menjadi merah menakutkan dan mengeluarkan suara yang berat dan sangat jelas itu bukan suara Ujang. Ya, salah satu mahluk ditubuhnya ditarik keluar dan dimasukan Sidik ke raga Ujang. Mulyana hanya bisa tertegun melihat</p>
<p>kenyataan itu. Kini dia mau tak mau percaya bahwa memang ada makhluk halus yang ditanam di dalam tubuhnya.</p>
<p>“Siapa kamu? Dari mana asalmu?” tanya Sidik pada makhluk tersebut</p>
<p>“Kamu tidak perlu tahu saya siapa. Saya dari Panguragan dan disuruh majikan saya untuk menghancurkan orang ini! Bahkan aku sudah menempatkan tentaraku di rumah orang ini!” jawab makhluk itu kasar sambil menunjuk ke arah Mulyana sambil tertawa menyeramkan.</p>
<p>“Kamu tidak boleh mencampuri urusan manusia apalagi hendak mencelakakan dia, sekarang bertobatlah, jangan ganggu dia dan tinggalkan tubuh pemuda ini,” ujar Sidik</p>
<p>“Hahaha&#8230; jangan coba-coba menghalangi urusanku kalau tidak mau celaka,” ujar makhluk itu geram.</p>
<p>Sekonyong-konyong tubuh Ujang bangkit dan menyerang Sidik, tapi dengan tenang Sidik mengibaskan tangannya. Tubuh Ujang terpental sekitar 3 meter dan makhluk itu menjerit-jerit kepanasan hingga akhirnya beberapa saat kemudian tubuh Ujang tidak bergerak lagi.</p>
<p>“Makhluk itu sejenis Butoijo dan dia sudah binasa,” ujar Sidik pada Mulyana. Lalu Sidik menyadarkan kembali Ujang seperti sediakala. Ujang dan Sidik lalu menceritakan pada Mulyana bahwa benar di dalam tubuhnya memang ada 3 makhluk halus dan jelas itu kiriman dari orang yang tidak menyukainya, Mulyana keheranan karena selama ini dia merasa tidak pernah memiliki musuh. “Sudahlah Mul, nanti malam saya, Sidik dan teman-teman akan melakukan kontemplasi dan meneropong sebetulnya apa yang terjadi denganmu, karena menurut makhluk tadi banyak tentaranya di rumahmu. Kalau kamu berkenan besok malam saya dan Sidik akan ke rumahmu dan akan mencoba menyelesaikannya, lagipula masih ada dua mahluk gaib lagi di tubuhmu,” jelas Ujang.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu besok datang saja ke rumah, akan saya tunggu, saya juga ingin terlepas dari guna-guna ini, sekarang saya pamit dulu,” jawab Mulyana. Lalu Mulyana pun pulang dengan perasaan campur aduk.</p>
<p><strong>sekonyong-konyong tubuh Ujang bangkit dan menyerang sidik, tapi dengan tenang sidik mengibaskan tangannya. Tubuh Ujang terpental 3 meter dan makhluk itu menjerit-jerit kepanasan hingga tubuh ujang tidak bergerak lagi</strong></p>
<p>Esok malamnya, sesuai janji Sidik dan Ujang datang ke rumah Mulyana sesuai janji. Dari hasil peneropongan pada malam sebelumnya, dijelaskan oleh Ujang bahwa guna-guna tersebut, sudah melekat tidak hanya di Mulyana, tapi juga di adiknya, ibunya dan rumahnya. Menurut Ujang guna-guna ini sudah dikirim sejak sekitar dua tahun lalu oleh salah seorang rekan kerja almarhum ayah Mulyana saat masih hidup.</p>
<p>Ayah Mulyana sendiri sudah meninggal 4 tahun lalu karena sakit, ayah Mulyana memang memegang jabatan cukup penting di kantornya, dan wajar saja bila ada yang iri. Saking irinya orang tersebut, walaupun ayahnya sudah meninggal, orang tersebut ingin menghancurkan keluarga ayahnya yang terdiri dari Mulyana, adik dan ibunya. Tetapi orang tersebut mengirim guna-guna bukan untuk membunuh, tapi untuk menghancurkan keluarga Mulyana dengan pelan-pelan terutama dari segi ekonomi, sehingga sudah mulai terasa, harta sedikit demi sedikit semakin berkurang, dan Mulyana melakukan bisnis apapun selalu ada hambatannya sehingga bukannya semakin makmur tapi malah semakin terpuruk. Guna-guna ini dikirim oleh seorang dukun di daerah Pantura atas suruhan orang tersebut. Begitulah yang diterangkan Ujang dan Sidik pada Mulyana, adiknya, serta ibunya pada malam tersebut. “Tapi sudahlah, tak usah dipikirkan siapa pelakunya, yang penting kita coba hilangkan semua pengaruh guna-gunanya,” nasehat Ujang pada Mulyana.</p>
<p>“Ya tidak apa-apa, kalau memang seperti itu bersihkan saja pengaruh guna-guna ini, supaya hidup kami kembali normal,” ujar ibunya Mulyana.</p>
<p>Pembersihan guna-guna pun dimulai, diawali dengan pembacaan doa-doa dan tawasul. Pembersihan dilakukan pertama kali pada tubuh Mulyana. Pembersihan dilakukan dengan cara mediasi seperti yang sudah dilakukan hari sebelumnya di rumah Ujang, jadi Sidik memasukkan makhluk-makhluk gaib itu ke tubuh Ujang untuk diajak berdialog dan dilakukan pemusnahan makhluk-makhluk tersebut.</p>
<p>Pertama dilakukan pembersihan di tubuh Mulyana, dari tubuh Mulyana didapat ada sesosok kuntilanak dan sesosok jin hitam. Mereka berdua bertugas untuk melemahkan pemikiran Muyana sehingga saat berbisnis Mulyana menjadi sulit berpikir dan mengambil keputusan serta membangkitkan rasa malas pada diri Mulyana. Hal ini pun diakui Mulyana, bahwa memang betul, seolah bila ada masalah di bisnisnya dia seperti sangat sulit untuk mengambil keputusan sehingga tentu saja berdampak pada kemajuan bisnisnya.</p>
<p>Selanjutnya dilakukan pembersihan di tubuh ibu Mulyana dan adiknya. Dari tubuh mereka berdua pun didapati makhluk</p>
<p>gaib sejenis jin hitam. Menurut pengakuan makhluk-makhluk tersebut mereka juga bertugas untuk mematikan pikiran ibu dan adik Mulyana serta membangkitkan rasa malam bekerja. Selanjutnya dilakukan pembersihan di rumah Mulyana, hasilnya sangat mengejutkan.</p>
<p>Ternyata ada sekitar 21 makhluk gaib yang ditanam di rumah tersebut. Semua makhluk gaib tersebut bertugas untuk membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman. Ada yang bertugas untuk membuat ngantuk penghuninya, membuat penyakit seperti gatal-gatal, pusing kepala, pegal- pegal, dan sebagainya, tujuannya adalah untuk menghambat kerja dan produktifitas keluarga Mulyana, sehingga lama kelamaan bila produktifitas kerja menurun, bisnis-bisnis Mulyana akan hancur dan tercapailah tujuan si pengirim guna-guna yaitu menghancurkan keluarga Mulyana secara pelan-pelan.</p>
<p>Diakui juga oleh Mulyana, ibu, dan adiknya, selama ini memang bila sedang di rumah bawaan selalu ingin tidur, badan sering terasa gatal-gatal, sering pusing kepala, sering pegal- pegal, seperti yang diakui makhluk-makhluk gaib tersebut saat mediasi. Selama ini hal tersebut dianggap wajar oleh Mulyana, ibu, dan adiknya, dan tidak terpikirkan kalau itu adalah diakibatkan kiriman guna-guna. Memang, hal-hal aneh yang terlihat wajar itu setelah dipikir kembali hanya terjadi bila mereka sedang ada di rumah saja.</p>
<p>Semua makhluk tersebut saat mediasi semuanya melawan, karena pada prinsipnya mereka lebih baik mati daripada harus gagal menjalankan tugas dari majikannya untuk menghancurkan keluarga Mulyana.</p>
<p>Alhamdulillah semua makhluk kiriman tersebut dapat dibinasakan oleh Sidik. Setelah semua makhluk dapat dimusnahkan, Sidik dan Ujang lalu melakukan pemagaran di rumah Mulyana untuk mencegah terjadinya kiriman guna-guna seperti itu lagi serta melakukan pembersihan-pembersihan aura negatif yang mungkin masih tersisa.</p>
<p>Sekali lagi Ujang dan Sidik menekankan pada Mulyana sekeluarga untuk tidak memikirkan siapa pelakunya, karena menurut Sidik dan Ujang, setelah guna-guna ini dibersihkan si pelaku sendiri akan menerima akibatnya.</p>
<p>Mulyana sekeluarga pun sudah ikhlas dan memaafkan perbuatan si pelaku, karena yang terpenting bagi Mulyana sekeluarga adalah dapat hidup dengan normal dan terbebas dari guna-guna. Setelah guna-guna itu dibersihkan, bisnis yang dijalankan Mulyana mulai ada perkembangan sedikit demi sedikit. Mulyana merasakan sejak kejadian tersebut, memang dia terasa lebih nyaman menjalankan bisnisnya, setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan baik, selain itu dia menjadi lebih bersemangat dalam menjalankan usahanya.</p>
<p>MISTERI | Edisi 534 2012 |</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/dua-tahun-dirasuki-jin-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu Harimau Kakek (oleh: Dawam)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/ilmu-harimau-kakek/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/ilmu-harimau-kakek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 04:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan dengan kereta api Jakarta-Blitar kali ini sungguh sangat melelahkan. Bukan hanya penumpang yang berdesak-desakkan seperti ikan tertumpuk dalam kaleng, namun juga mulai Bekasi hingga Tulungagung hujan enggan berhenti. Praktis,... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/ilmu-harimau-kakek/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_657" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://www.majalah-misteri.net/ilmu-harimau-kakek/ilmu-harimau/" rel="attachment wp-att-657"><img class="size-full wp-image-657" title="ilmu harimau" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/03/ilmu-harimau.jpg" alt="ilmu harimau" width="180" height="186" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Perjalanan dengan kereta api Jakarta-Blitar kali ini sungguh sangat melelahkan. Bukan hanya penumpang yang berdesak-desakkan seperti ikan tertumpuk dalam kaleng, namun juga mulai Bekasi hingga Tulungagung hujan enggan berhenti. Praktis, suasana dalam gerbong kereta api makin pengap, campur aduk antara bau keringat orang, bau pesing dari toilet yang tidak tertutup serta barang bawaan penumpang yang menyengat hidung.<span id="more-656"></span><br />
Karena lelahnya, begitu tiba di rumah kakek, aku langsung ngorok hingga bangun sudah bersamaan dengan mentari bertahta indah di ufuk timur.<br />
“Mimpi apa kamu tadi malam, Ko?” sapa kakek. Begitu aku membuka mata, kakek sudah berada di samping ranjang berderitku.<br />
“Tidak mimpi apapun. Saya tidur sangat nyenyak, Kek. Mungkin karena lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang,” sahutku. “Apa Kakek ingin aku mimpi ketemu Nenek di alamnya sana dan Nenek titip salam buat Kakek?” sambungku dengan nada bercanda.<br />
“Wong orang sudah meninggal kok kirim salam! Nenekmu sudah tenang di alam barzah sana, Ko. Semasa hidupnya dulu dia orang yang tekun ibadahnya, terpuji budi pekertinya serta ibu dan nenek yang baik bagi anak dan cucunya,“ ujar Kakek sambil menepuk-nepuk pundakku.<br />
Aku terdiam mendengar penuturannya. Memang begitulah Nenek yang ak kenal. Itu sebabnya kami semua merasa begitu kehilangan setelah beliau wafat beberapa tahun lalu.<br />
”Jadi anak yang baik. Biar banyak manfaat yang kamu dapat selama menerima amanahNya sebagai khalifah di muka bumi ini,” nasehat Kakek ketika melihat aku terdiam menyimak ucapannya tadi.<br />
Kakek memang selalu begitu. Siapa saja yang dijumpai, tidak terbatas anggota keluarga saja, Kakek selalu wanti-wanti agar tidak neko-neko hidup di alam mayapada ini, supaya jika kembali ke haribaan Allah bisa khusnul khatimah, akhir yang baik.<br />
Hampir tiap tahun, aku selalu menyempatkan diri menyambangi Kakek. Dia hidup sendirian, sementara anak-anaknya yang sudah memiliki rumah sendiri-sendiri. Saat disarankan untuk ikut di rumah salah seorang anaknya agar di hari tuanya lebih terawat, Kakek tidak mau. Aku masih mampu mengurus diri sendiri. Aku tidak ingin merepotkan mereka, selalu demikian Kakek beralasan tentang ketidaksiapannya nebeng di keluarga salah satu keturunannya tadi.<br />
“Kapan kuliahmu kelar, Ko?” tanya Kakek suatu pagi sehabis sarapan dengan lauk daun singkong rebus, sambal terasi kegemaran Kakek. Semua Kakek sendiri yang masak. Sejak bujang Kakek memang tukang masak yang baik. Masakan olahannya tidak pernah ada orang mengatakan tidak enak. Disukai siapa saja. Tak heran jika rahasia masak Kakek jadi tumpuan menimba ilmu kuliner dari para tetangganya.<br />
“Sebenarnya sudah selesai, Kek. Tinggal menunggu wisuda saja.“<br />
“Oh…Terus, rencanamu ke mana setelah bangku perguruan tinggi kelak kamu tinggalkan?”<br />
“Kerja, Kek.“<br />
“Kerja apa?”<br />
“Apa saja mau, asal halal dan bisa untuk menopang hidup. Keinginan saya tidak terlalu muluk-muluk, Kek.”<br />
“Bagus. Tapi ingat,jangan menyalahgunakan wewenang, menyimpangkan kekuasaan demi keuntungan pribadi. Jaman ini memang langka orang yang idealis demikian. Lebih baik muncul sebagai manusia langka ketimbang menjadi orang jelek tingkah lakunya secara berjama’ah, Ko.“<br />
“Akan saya upayakan, Kek.“<br />
“Nah, harus gitu!”<br />
Sederet senyum kebanggaan mencuat dari wajah tua Kakek. Menurut Ibu, usia Kakek hampir 90 tahun. Walau demikian, fisiknya masih bagus, daya ingatnya tajam, tak pernah mengeluh sakit, kecuali lelah biasa.<br />
Banyak falsafah hidup kudapat dari Kakek. Dia yang bukan tipe pemarah, apalagi berkeluh-kesah. Kakek senantiasa nrimo ing pandum yakni menerima apa adanya tanpa berkeluh-kesah. Soal ibadah, Kakek bisa menjadi contoh karena beliau sangat tekun ibadah. Kamus malas seperti jauh dari hidup Kakek.<br />
Meski hanya seorang petani, namun Kakek bukan petani minim wawasan dan pengetahuan. Kakek tergolong petani teladan, sehingga lima orang anak-anaknya mencicipi bangku pendidikan tinggi dan lulus menjadi sarjana. Mereka juga menjadi pekerja yang tak jauh beda uletnya dengan orangtuanya. Tepat kiranya jika Kakek disebut sebagai wong ndeso yang tidak ndesani alias orang dari desa yang cara hidup dan pergaulannya luas.<br />
Pengamatan Kakek tentang kondisi jaman yang makin rusak ini lumayan jeli, tajam dan tepat sasaran. Menurut Kakek, semakin bertambah jauh penghuni bumi ini meninggalkan ajaran agama, semakin besar malapetaka yang akan datang, susul-menyusul seperti deretan bencana yang beberapa tahun terakhir terjadi.<br />
“Orang yang mengaku sebagai pemeluk agama memang makin hari bertambah banyak, tapi mereka itu ibarat buih. Menggelembung dan kelihatan besar di permukaan, di bawah buih-buih tersebut kosong tak ada apa-apanya. Orang beragama yang hanya ingin dipuji, ingin disebut fanatik. Buktinya orang bermoral tercela malah muncul di mana-mana,“ kritik Kakek.<br />
Di masa Kakek muda dulu, tekhnologi memang tidak secanggih sekarang. Namanya orang jahat akan selalu ada, bersamaan dengan terciptanya bumi, langit beserta isinya ini. Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, di samping benteng agama kuat, orang harus menguasai tekhnologi juga, agar tidak dimakan orang lain.<br />
“Dulu orang durjana, orang yang bermaksud tidak baik kepada kita hanya bisa diimbangi dengan doa dan ilmu kanuragan. Orang tidak  mempunyai kesaktian akan jadi bulan-bulanan orang sekitarnya,“ ujar Kakek panjang lebar. Tapi aku senang mendengarnya karena apa yang diucapkannya penuh petuah.<br />
Apa yang dikatakan Kakek paling akhir ini menjadikan aku teringat akan peristiwa yang sungguh tak kuduga sebelumnya. Dua tahun lalu, suatu malam dengan sinar rembulan merajai alam, Kakek mengajakku ke bagian belakang tempat tinggalnya. Aku sendiri tak tahu apa kehendak Kakek kali ini. Dua hari sebelumnya Kakek membuat anyaman bambu menyerupai kurungan ayam, dengan lebar lebih empat meter serta tinggi lima meter.<br />
Kakek memintaku untuk membuka kurungan tersebut, sementara dia duduk bersila di dalamnya. Entah apa yang dilakukannya, sesaat setelah merapalkan doa, Kakek tidak ada lagi di dalam sangkar bambu ini. Ke mana dia? Tiba-tiba.. masya Allah! Jantungku terasa nyaris rontok manakala di dalam sangkar berdiri dengan garangnya seekor macan putih. Saking besarnya, tubuhnya hampir memenuhi setiap jengkal lokasi sangkar.<br />
“Tak usah takut, Ko. Aku kakekmu si Sumarto Joyo. Aku hanya ingin memperlihatkan kepadamu bahwa dengan wujud harimau putih inilah, dulu Kakek bisa membikin bertekuk-lutut orang-orang yang ingin mencelakai Kakek,” kata Kakek. Suaranya terdengar menggema, seakan guntur yang menyambar di tengah hujan badai.<br />
Aku mencoba menenangkan diri sambil perlahan kembali mendekat ke kandang itu.<br />
“Sedetik lagi akan kamu lihat wujud asli Kakek sesungguhnya,“ kata harimau itu setelah aku mendekat.<br />
Benar juga. Perwujudan harimau tadi telah lenyap, ganti Kakek yang sedang pringas-pringis minta dibukakan sangkar buatannya. Secara iseng kutanyakan apakah ilmu semacam ini tidak merepotkan pemilknya tatkala hendak meninggal.<br />
“Ada mantra dan amalan penawarnya. Lagi pula ilmu demikian sudah tidak dipraktekkan lagi setelah kakek menikah,” jawab kakek.<br />
Sampai saat ini saya masih mengingat hal itu. Diam-diam aku ingin belajar tapi Kakek belum mengijinkan. Saya yakin suatu waktu Kakek pasti akan mau mengajarkannya pada saya.***</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 532</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/ilmu-harimau-kakek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Punya Aji Pancasona, Makamnya Digantung (oleh:Sudibyo)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/punya-aji-pancasona/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/punya-aji-pancasona/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 06:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[Semasa hidupnya, orang yang dimakamkan ditempat ini dikenal sebagai tokoh sufi. Pasalnya, tokoh ini menguasai ilmu langka yang bernama Aji Pancasona. Yakni sebuah ilmu yang dapat hidup kembali ketika mati.... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/punya-aji-pancasona/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_619" class="wp-caption alignleft" style="width: 217px"><a rel="attachment wp-att-619" href="http://www.majalah-misteri.net/punya-aji-pancasona/aji-pancasona/"><img class="size-medium wp-image-619" title="aji pancasona" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/02/aji-pancasona-207x300.jpg" alt="aji pancasona" width="207" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">aji pancasona</p></div>
<p>Semasa hidupnya, orang yang dimakamkan ditempat ini dikenal sebagai tokoh sufi. Pasalnya, tokoh ini menguasai ilmu langka yang bernama Aji Pancasona. Yakni sebuah ilmu yang dapat hidup kembali ketika mati. Dengan catatan, asal menyentuh tanah. Karena itu, agar tidak hidup kembali, saat meninggal, kemudian makamnya digantung. <span id="more-618"></span></p>
<p>Di jalan Melati, Blitar, Jawa Timur, ada sebuah makam tua yang lebih dikenal dengan nama makam Gantung. Predikat yang melekat pada makam tua ini, sangat singkron dengan kondisi makam tersebut.</p>
<p>Pasalnya, makam ini memang dalam posisi tidak menyentuh tanah. Karena itu, masyarakat Blitar menyebutnya dengan nama, Makam Gantung. Keunikannya, tak sedikit para penjiarah yang datang ke makam Bung Karno, menyempatkan diri berjiarah ke makam gantung.</p>
<p>Selain mendoakan tokoh sakti yang makamnya tidak menyentuh tanah ini, mereka sengaja ingin menyaksikan keunikan dari makam itu. Apalagi, jarak makam Bung Karno dengan makam gantung, hanya terpaut sekitar satu kilometer.</p>
<p>Eyang Joyodigo, inilah nama tokoh sakti yang makamnya dibuat ditidak menyentuh tanah. Menurut penuturan juru kunci makam gantung, Biran, 74 tahun, semasa hidupnya, Eyang Joyodigo dikenal sebagai satu-satunya tokoh pada zamannya yang memiliki ilmu Aji Pancasona.</p>
<p>Yakni, ajian yang ketika mati dapat hidup kembali asal jasadnya menyentuh tanah. Karena itu, ketika tokoh ini meninggal diusia senja, kemudian makamnya dibuat tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan kedalam peti besi, kemdian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi.</p>
<p>Karena makamnya tidak menyentuh tanah, walau jasadnya disangga dalam peti besi, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama makam gantung. Sedangkan dibawah serta di kiri-kanannya, dimakamkan para keluarga Eyang Joyodigo.</p>
<p>Masih menurut penuturan juru kunci, dalam epos Ramayana, saat itu hanya satu yang memiliki Aji Pancasona. Yakni saudara kembar Sugriwo yang bernama Subali. Keduanya, berasal dari bangs kera.</p>
<p>Namun, karena rayuan Rahwana, kemudian ilmu Aji Pancasona jatuh ke tangah raja dari Ngalengka in. Lalu bagaimana Aji Pancasona bisa dikuasai oleh Eyang Joyodigo?</p>
<p>Menurutnya lagi, semasa hidup, tokoh ini dikenal suka laku tirakat. Berbagai macam ilmu telah dikuasai. Termasuk Aji Pancasona. Bahkan gurunya, tak hanya dari bangsa manusia saja. Tapi ada juga yang berasal dari bangsa lelembut.</p>
<p>Tak heran, jika Eyang Joyodigo bisa menguasai ilmu Aji Pancasona yang pemilik aslinya, tinggal cerita.</p>
<p>“Beliau semasa hidupnya, berguru sosok gaib pemilik pertama Aji Pancasona,” terang juru kunci yang juga mantan tentara PETA.</p>
<p>Lalu siapa sebenarnya Eyang Joyodigo? Sebagaimana yang dituturkan Boiran kepada Misteri, tokoh ini dulunya sahabat dekat Pangeran Diponegoro. Tak hanya sahabat juga, karena Joyodigo juga trah darah biru dari Mataram.</p>
<p>Dan pada tahun 1825, timbul perselisihan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Penyebabnya, pihak keraton bagi Diponegoro, terlalu merendahkan martabatnya. Keraton Yogyakarta, seakan-akan berdiri hanya karena kemurahan hati Belanda.</p>
<p>Tak hanya itu, yang membuat darah Diponegoro mendidih. Saat itu, kekuasaan raja-raja ditanah Jawa terus dipersempit. Ada lagi, kekuasaan raja disamakan dengan kedudukan pengawai tinggi pemerintahan Kolonial. Bahkan, pemerintah kolonial terlalu jauh mencampuri urusan keraton dengan cara ikut campur dalam hal pergantian raja.</p>
<p>Lebih menyakitkan lagi bagi Diponegoro, pihak Belanda memungut pajak jalan, ternak, rumah serta hasil bumi kepada rakyat jelata. Karena itu, ketika kompeni membuat tanda tapal batas untuk jalan yang melewati tanah leluhurnya, tanda tapal batas itu langsung dicabut.</p>
<p>Dengan begitu, api peperangan telah tersulut. Selama dalam masa peperangan yang berlangsung lima tahun (1825-1830), salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang setia yakni, Joyodigo. Bersama Diponegoro, Joyodigo terus melakukan perlawanan kepada Belanda.</p>
<p>Tak hanya sekali, tokoh sakti ini tertangkap dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang oleh Belanda, Joyodigo hidup lagi tanpa sepengetahuan kompeni.</p>
<p>Hingga pada akhirnya, di tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap karena siasat licik pihak kompeni. Namun walau Pangeran Diponegoro telah diasingkan ke Makasar setelah tertangkap, bukan berarti darah pejuang Joyodigo padam.</p>
<p>Walau saat pecah perang Pangeran Diponegoro, usianya masih menginjak sekitar 30-an. Ia terus melakukan perang gerilya bersama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Namun, karena saat itu wilayah Yogyakarta terlalu banyak penjagaan oleh kompeni, Joyodigo memilih perang gerilya menuju arah timur.</p>
<p>Singkat kata, dalam perjalanannya ke arah timur, setiap pos Belanda yang lengah, pasti diserang. Hingga pada akhirnya, sampailah Joyodigyo di wilayah Blitar. Di kota ini, tanpa sepengetahuan pihak penguasa Blitar saat itu, Joyodigo terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.</p>
<p>Merasa wilayahnya aman dari pemerasan kompeni, kemudian Adipati Blitar saat itu, mengirim pasukan telik sandi (intel) untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membuat takut kompeni di wilayah Blitar.</p>
<p>Hingga pada akhirnya, telik sandi yang dikirim oleh sang Adipati, menemukan Joyodigo di sebuah hutan yang masuk Blitar Selatan. Atas perintah Adipati Blitar, telik sandi mengundang Joyodigo untuk datang ke pendopo.</p>
<p>Namun permintaan utusan Adipati Blitar ini ditolak dengan halus. Alasannya, Joyodigo saat itu, masih sibuk melatih laskar untuk mengusir kompeni.</p>
<p>Karena tolakan halus dari Joyodigo ini, kemudian telik sandi langsung pulang dan melapor kepada Adipati. Dua tahun kemudian, Adipati Blitar kembali mengirim utusan. Saat itu, patih di kadipaten Blitar mangkat dan harus segera dicarikan pengganti.</p>
<p>Maksud Adipati mengirim utusan yang kedua, agar Joyodigo bersedia menjadi pati di kadipaten Blitar. Dan karena banyak pihak kompeni yang meninggalkan Blitar lantara serangan gerilya pasukan Joyodigo, tokoh ini bersedia menerima tawaran Adipati Blitar.</p>
<p>Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton, ketika diangkat menjadi patih di kadipaten Blitar, Joyodigo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Patih Joyodigo mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap.</p>
<p>Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya tanah perdikan yang sekarang berada di Jalan Melati kota Blitar. Di tanah perdikan ini, Joyodigo kemudian membangun sebuah rumah besar untuk keluarganya dan diberinya nama, Pesanggerahan Joyodigo.</p>
<p>Rumah yang didirikan oleh Joyodigo in, hingga kini masih berdiri kokoh. Sebagai manusia biasa, walau mempunyai Aji Pancasona, Joyodigo akhirnya wafat pada tahun 1905 diusia seratus tahun lebih.</p>
<p>Karena khawatir akan hidup lagi begitu menyentuh bumi, kemudian oleh para kerabat, makamnya diusahakan agar tidak menyentuh tanah. Jasad Joyodigo dimasukkan kedalam peti besi, dan peti itu kemudian disangga dengan empat tiang yang juga terbuat dari besi seperti yang tampak sekarang ini.</p>
<p>“Di usia yang sudah lebih seratus tahun, kan kasihan kalua Eyang terus menerus hidup lagi setelah meninggal. Karena itu, makamnya dibuat menggantung agar tidak menyentuh tanah. Kalau asal-usulnya ya…seperti yang saya katakan tadi.</p>
<p>Eyang Joyodigo merupakan keturunan darah biru dari Mataram dan pernah menjadi patih di kadipaten Blitar sini. Kalau saudara beliau, mantan bupati Rembang yang juga suami dari RA. Kartini,” terang juru kunci yang telah menjaga makam Eyang Joyodigo lebih dari 20 tahun.</p>
<p>Sebagai makam seorang tokoh sakti pada jamannya, kini makam Eyang Joyodigo pada hari-hari tertentu banyak didatangi oleh para peziarah. Terutama yang datang dari kalangan spiritualis. Beda dengan para peziarah biasa, kaum spiritualis ini datang ke makam Eyang Joyodigo dengan maksud tertentu.</p>
<p>Yakni ingin berguru kepada Eyang Joyodigo dengan cara gaib. Tujuannya, agar mendapat titisan ilmu Aji Pancasona. Menurut juru kunci, hingga kini, tak seorangpun spiritualis yang berhasil mendapatkan titisan ilmu Aji Pancasona dari Eyang Joyodigo.</p>
<p>Jangankan diberi titisan ilmu Aji Pancasona, diberi ilmu yang kesaktiannya dibawah Aji Pancasona saja tidak. Bahkan tak jarang, para spiritualis yang sedang menjalani laku di makam Eyang Joyodigo, justru diusir dengan suara tanpa rupa.</p>
<p>“Apa dikira mudah belajar ilmu Pancasona. Karena salah satu syaratnya yaitu harus bertapa ngalong. Menggantung di pohon dengan kepala dibawah selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan dan minum. Yang datang ke sini itu khan Cuma spiritualis masa kini. Mereka bukannya mendapat ilmu, tapi justru diusir,” papar juru kunci dengan tertawa.</p>
<p>Bagi masyarakat Blitar, selain makam sang proklamator, makam Eyang Joyodigo juga dikeramatkan. Sebagai makam yang dikeramatkan, menurut Boiran, makam Eyang Joyodigo dijaga dua sosok gaib berujud dua binatang besar.</p>
<p>Yakni seekor ular sebesar batang pohon kelapa, serta seekor harimau loreng sebesar anak sapi. Menurutnya lagi, tak hanya dirinya saja yang pernah melihat kemunculan dua sosok gaib berujud binatang ini. Karena tak sedikit para penjiarah, khususnya kaum spiritualis, yang melihat kemunculan dua sosok gaib berujud ular dan harimau itu.</p>
<p>Masih menurut Boiran, sebenarnya dua sosok gaib penjaga makam ini, dulunya merupakan pengawal pribadi Eyang Joyodigo semasa hidup yang berasal dari bangsa lelembut berujud binatang.</p>
<p>Karena kesetiaannya kepada majikan, hingga Eyang Joyodigo wafat, kedua sosok gaib itu masih setia menunggui makam majikannya.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/punya-aji-pancasona/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Diganggu Setan Korod (oleh: Tarlin Sukandar)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/mahasiswa-diganggu-setan-korod-oleh-tarlin-sukandar/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/mahasiswa-diganggu-setan-korod-oleh-tarlin-sukandar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 08:27:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[Kisah mistis ini dialami oleh Dadang KS, warga jalan Mohammad, Pamoyanan, Bandung. Ia mantan pengurus bidang organisasi Dewan Masjid Indonesia (DMI), propinsi Jawa Barat. Ia mengaku pernah dijahili makhkluk halus,... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/mahasiswa-diganggu-setan-korod-oleh-tarlin-sukandar/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_530" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-530" href="http://majalah-misteri.net/mahasiswa-diganggu-setan-korod-oleh-tarlin-sukandar/kunangkunang/"><img class="size-medium wp-image-530" title="kunangkunang" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/10/kunangkunang-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Kisah mistis ini dialami oleh Dadang KS, warga jalan Mohammad, Pamoyanan, Bandung. Ia mantan pengurus bidang organisasi Dewan Masjid Indonesia (DMI), propinsi Jawa Barat. Ia mengaku pernah dijahili makhkluk halus, sehingga membuatnya tak ingat apa yang terjadi selama beberapa jam.</p>
<p>Ternyata bukan hanya Dadang saja yang pernah dijahili makhluk halus yang membikin orang jadi linglung. Ayah kandungnya sendiri, Mahmud Sueb, dan pamannya, Mang Diding, juga mengalami nasib yang sama. Berikut ini kisah Dadang kepada Misteri….</p>
<p>Aku tercatat sebagai mahasiswa di jurusan studi dan ekonomi pembangunan Falkutas Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung. Jarak tempat kuliahku dari rumah, sebenarnya cukup jauh. Namun, terasa begitu dekat, karena pulang pergi kuliah menggunakan sepeda motor.</p>
<p>Setiap hari, aku berangkat naik motor bebek yang saat itu sangat digandrungi anak-anak muda. Sepeda motor kecil ini menjadi kebanggaanku. Selain dipakai untuk kuliah, juga untuk mejeng.</p>
<p>Si Victoria ini membuatku semakin percaya diri. Victoria adalah kekasihku yang sangat kusayangi. Karena itu, motor kecil warna merah darah ini selalu tampak bersih dan mengkilat, karena memang selalu kubersihkan, kutatap, dan kuusap serta kubelai dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>Aku juga aktif di organisasi kemahasiswaan di kampus. Sehingga hampir setiap hari aku berada di kampus, meskipun tak ada kegiatan perkuliahan. Aku sering menjadi duta ke berbagai tempat mewakiliki organisasiku.</p>
<p>Suatu hari, aku ditugaskan pimpinan organisasi mahasiswa untuk menjemput seorang tamu, gadis asal Banjarmasin, Kalimantan Timur. Seperti biasa, aku tak pernah menolak tugas. Kali ini dengan senang hati aku memacu si Victoria dari rumahku.</p>
<p>Jum’at petang itu, udara terlihat mendung. Awan hitam beriringan di langit kelabu. Ada segumpal awan tampak keluar dari kelompoknya. Kemudian ia berubah menjadi titik-titik air. Perlahan tapi pasti, titik-titik air itu jatuh ke bumi. Hujanpun menerpa wajahku. Dan gerimis mempercepat senja.</p>
<p>Namun, hujan dan senja yang mulai temaram tak menghalangiku untuk pergi melaksanakan tugas. Tiba di jalan Belitung, kucari gadis yang akan kujemput itu. Katanya, ia akan menantiku di depan kolam renang Tirta Merta yang terletak tak jauh dari gedung SMAN 5 Bandung. Si Victoria kusandarkan di dekat sebuah pohon, dan aku berdiri di sampingnya.</p>
<p>Tak terasa, sampai hampir dua jam aku menanti, wanita yang kutunggu tak kunjung datang. Aku pun mulai suntuk karenanya. Apalagi di depan sekolah yang dibangun tahun 1916 ini memang suasananya cukup menyeramkan. Pohon-pohon besar berjejer di sepanjang jalan tersebut. Tak seorangpun yang kulihat lewat di jalan yang lenggang ini.</p>
<p>Suara jangkrik terdengar mengerikan serasa mengiris hatiku, dan burung malam terdengar bersuara parau seperti suara sengau setan yang baru bangkit dari tidurnya yang lelap. Aku ingat malam itu malam Jum’at Kliwon. Konon, di malam inilah hantu dan setan gentayangan mencari mangsa manusia yang lemah imannya.</p>
<p>Karena gadis itu tak kunjung datang, maka kuputuskan untuk segera pulang. Akhirnya kunaiki motorku. Kemudian mesinnya kuhidupkan. Aneh, bersamaan dengan itu, tiba-tiba hembusan angin dingin menerpa wajahku. Sejenak wajahku terasa membeku. Mataku perih, hidung mau bersin tapi tertahan, mulutku kelu, telingaku mendenging. Terasa ada sebuah benda menclok di kudukku. Ya, bulu kudukku langsung meremang.</p>
<p>Tak lama kemudian ada lagi benda asing bertengger di punggungku. Rasanya berat dan sangat dingin. Sadel motorku bergerak seperti ada orang yang duduk membonceng di belakangku. Aku ketakutan. Malam itu aku bergegas pulang ke rumahku, karena orang yang kujemput tak ada di tempat.</p>
<p>Kupacu mostorku. Beban di punggung dan kudukku terasa makin memberat. Aneh, meski ada beban berat, motorku melaju sangat cepat, seolah-olah mendapat tambahan tenaga yang dahsyat.</p>
<p>Menurut perasaanku, motor melaju ke barat, menuju Pamoyanan. Tak lama kemudian, aku sampai di sebuah jalan menanjak. Sekelilingku gelap gulita. Dari kejauhan kulihat seekor kunang-kunang terbang kepayahan. Seperti mendekat tetapi ternyata makin menjauh. Aku sangat heran, karena rumahku bukan di tempat ini.</p>
<p>Terasa kepalaku makin berat. Rasa takut makin menjadi-jadi hingga akupun pingsan. Setelah sadar, kudengar adzan Subuh berkumandang. Aku terkejut. Karena tergolek dipinggir jalan tak jauh dari alun-alun. Jalan ini ternyata daerah Cigending, sebelah utara alun-alun Ujungberung. Kulirik motorku masih ada di sisiku, dingin dan diselimuti kabut.</p>
<p>Ternyata aku tidak pulang ke rumahku di Pamoyanan, di Bandung Barat, tetapi dibawa makhluk halus ke Ujungberung. Waktu hal ini kuceritakan kepada ayahku, ia uga kelihatan kaget.</p>
<p>“Pasti kamu dijahili setan, Dang!” kata ayahku serius.</p>
<p>Ayah bercerita, beberapa tahun yang lalu ia juga pernah dijahili makhluk halus. Saat melewati jalan Belitung di waktu malam.</p>
<p>Dikisahkan, malam Jum’at Kliwon itu ayah pulang dari rumah teman dengan naik becak. Tetapi saat melihat ke belakang, ayah terkejut, karena becak itu tak ada pengemudinya. Ayah langsung turun dari becak dan lari lintang pukang. Anehnya, ayah bukan lari menuju barat ke rumah, tetapi kabur ke arah timur, dan kemudian sampai di daerah Ujungberung. Persis di tempatku tergolek. Tentu saja, ayah pingsan akibat kelelahan.</p>
<p>Lain lagi yang dialami pamanku, Mang Diding. Malam itu, ia lewat di jalan Belitung. Dipinggir jalan yang sepi itu hanya ada tukang bandrek. Mang Diding kemudian membeli bandrek. Namun minuman khas Sunda yang biasanya hangat itu, ternyata terasa sedingin es di lidah paman.</p>
<p>Anehnya, minuman yang terbuat dari jahe itu mengepulkan asap. Tubuh pedagang bandrek juga tampak diselimuti asap putih tebal. Bau kemenyan tersebar. Wajah Mang Diding berubah pucat pasi. Tubuhnya menggigil seperti orang meriang. Ia kemudian lari terbirit-birit.</p>
<p>Namun, meskipun ia lari sekuat tenaga, tapi tubuhnya masih tetap ada di jalan Belitung. Sampai akhirnya ia pingsan. Berhari-hari rasa dingin bandrek dibibir Mang Diding tetap melekat. Sejak saat itu, Mang Diding menyatakan tabu lewat jalan itu. Kalau hari sudah menjelang malam.</p>
<p>Di siang hari pun, Mang Diding seperti enggan melalui jalan tersebut. Bahkan, ketika anak tertua Mang Diding diterima di SMAN Belitung ia tak mau mendaftarkannya. Terpaksa bibiku yang daftar ulang anaknya.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 453</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/mahasiswa-diganggu-setan-korod-oleh-tarlin-sukandar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
