<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Legenda</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/legenda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jun 2013 03:18:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Lancang Kuning</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/lancang-kuning/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/lancang-kuning/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 09:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Legenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[Hatta, bermula dari sebuah kerajaan besar yang berpusat di Bukit Batu, Bengkalis. Kebesaran dan kejayaan panji-panji kerajaan tersebut adalah berkat kerja keras serta kejujuran dan kecintaannya kepada seluruh rakyat yang... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/lancang-kuning/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p style="text-align: justify;"><a href="http://www.majalah-misteri.net/lancang-kuning/lancang-kuning-2/" rel="attachment wp-att-890"><img class="alignleft size-medium wp-image-890" title="Lancang Kuning" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/10/Lancang-Kuning-199x300.jpg" alt="Lancang Kuning" width="199" height="300" /></a>Hatta, bermula dari sebuah kerajaan besar yang berpusat di Bukit Batu, Bengkalis. Kebesaran dan kejayaan panji-panji kerajaan<br />
tersebut adalah berkat kerja keras serta kejujuran dan kecintaannya kepada seluruh rakyat yang dipegang oleh Datuk Laksamana<br />
Perkasa Alam yang dibantu dengan dua orang kepercayaannya. Panglima Umar dan Panglima Hasan.<br />
Senyampang dengan perjalanan sang waktu, pada suatu ketika, dengan santun dan penuh hormat, Panglima Umar menyampaikan isi hatinya kepada Datuk Laksamana Perkasa Alam untuk menyunting Zubaidah, si bunga negeri.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-889"></span><br />
Sambil tersenyum, Datuk Laksamana pun memberikan restu. Karena mengingat jasa-jasa Panglima Umar yang selama ini<br />
telah mengabdikan dirinya pada kerajaan dengan tanpa cacat maka, Datuk Laksamana bertekad akan menggelar perhelatan besar-besaranpada waktu pernikahan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Alih-alih ikut berbahagia atas pernikahan sahabatnya, perhelatan besar itu membuat Panglima Hasan yang selama ini diam-diam<br />
menyimpan perasaan yang sama pada Zubaidah menjadi terbakar oleh dendam.<br />
Siasat busuk pun langsung disusun. Dengan licik, Panglima Hasan mendatangi rumah salah seorang bomoh (dukun, peramal-pen) kerajaan yang bernama Domo untuk menyampaikan mimpinya kepada Datuk Laksamana agar membuat Lancang Kuning (perahu, kapal-pen) untuk mengamankan seluruh perairan dari lanun.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat kerajaannya memiliki perairan yang demikian luas, Datuk Laksamana pun langsung setuju dan memerintahkan agar<br />
Lancang Kuning segera dibuat. Waktu terus saja berlalu, menjelang Lancang Kuning usai dibuat, mendadak<br />
tersiar kabar bahwa Bathin Sanggoro, melarang keras para nelayan Bukit Batu untuk mencari ikan di wilayah kekuasaannya, Tanjung Jati.</p>
<p style="text-align: justify;">Datuk Laksmana pun langsung memerintahkan Panglima Umar yang sebenarnya ingin mendampingi sang istri<br />
saat melahirkan anak pertamanya, akhirnya memutuskan untuk berangkat. Setelah mengarungi lautan selama beberapa hari,<br />
akhirnya, Panglima Umar beserta pasukan pilihannya menapakkan kaki mereka di Tanjung Jati. Ketika kabar itu ditanyakan<br />
kepada Bathin Sanggoro, dengan cepat lelaki bertubuh kekar itu menyahut; “Tak ada niatan atau kata-kata terlontar yang<br />
menyatakan hamba melarang nelayan Bukit Batu untuk mencari ikan di Tanjung Jati”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata itu membuat Panglima Umar harus berpikir keras untuk mengurai makna yang terkandung di dalamnya. Ketika akan<br />
pulang, Bathin Sanggoro pun berbisik; “Panglima, tolong selidiki dari mana asal muasalnya berita tersebut”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan pulang, Panglima Umar langsung berkeliling untuk mencari si pembuat berita bohong tersebut. Dan<br />
tak terasa, sebulan sudah ia dan pasukan pilihannya melanglangbuana. Ketika malam purnama penuh, nun jauh di sana, semua penduduk dan pemuka kerajaan Bukit Batu berbanjar dengan tertib di tepi laut untuk menyaksikan peluncuran<br />
Lancang Kuning. Semua bergembira, kecuali, Zubaidah yang dengan setia menanti suaminya yang belum juga kembali dari<br />
menunaikan tugasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, beragam keperluan yang berhubungan dengan peluncuran Lancang Kuning telah disiapkan dengan<br />
saksama. Upacara yang dimulai dengan tepung tawar pada dinding Lancang Kuning yang dilakukan oleh Datuk Laksamana<br />
dan dilanjutkan oleh Panglima Hasan lalu pengasapan akhirnya, semua yang hadir diminta untuk berdiri di samping Lancang<br />
Kuning. Berbarengan dengan ingarnya bebunyian yang ditabuh, maka, semua yang memegang dinding Lancang Kuning diminta<br />
untuk mendorongnya ke laut lepas. Tetapi apa daya, walau dilkakukan berkali-kali, tetapi, Lancang Kuning tak juga bergeming<br />
dari tempatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan muka merah padam, Bomoh Domo datang bersembah pada Datuk Laksamana sambil berbisik; “Ampunkan<br />
hamba tuanku, Lancang Kuning ternyata meminta korban perempuan hamil sulung”.<br />
Setelah termenung beberapa saat, akhirnya, terdengar suara lantang Datuk Laksamana; “Peluncuran Lancang Kuning<br />
ditunda sampai datang waktu yang tepat!”</p>
<p style="text-align: justify;">Semua yang hadir, termasuk para pemuka kerajaan pun dengan tertib kembali ke rumahnya masing-masing. Alih-alih<br />
kembali, Panglima Hasan yang sudah dirasuk rindu dendam malahan menemui Zubaidah. Perempuan yang waktu itu sedang<br />
merenung terkejut dan langsung bertanya; “Mengapa engkau kembali lagi Panglima Hasan?”</p>
<p style="text-align: justify;">Jangankan menjawab, Panglima Hasan malahan balik bertanya dan merayu Zubaidah; “Apa yang kau tunggu dan harapkan Zubaidah. Panglima Umar tak mungkin pulang lagi, biarkanlah aku yang menjadi ayah dari anak yang tengah kau<br />
kandung itu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Zubaidah pun marah dan langsung menyergah; “Cis … tak sudi aku menjadi istri dari seorang pengkhianat!”<br />
“Jika engkau masih menolak, maka, tubuhmu akan kujadikan gilingan Lancang Kuning yang akan diluncurkan ke laut”,<br />
sahut Panglima Hasan tak kalah sengit sambil memberikan tanda kepada beberapa<br />
begundal setianya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa daya tenaga seorang wanita yang tengah hamil tua. Dengan mata tertutup, Panglima Hasan langsung mendorong tubuh<br />
Zubaidah ke bawah Lancang Kuning dan memerintahkan para begundalnya untuk mendorong perahu besar tersebut ke<br />
laut lepas. Ajaib … walau hanya didorong oleh beberapa orang saja, Lancang Kuning berhasil masuk ke laut lepas dengan<br />
meninggalkan tubuh Zubaidah yang berserakan di tepian pantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbarengan dengan lunas Lancang Kuning menyentuh air laut, cuaca yangbsemula benderang sontak berubah. Hujan<br />
mendadak turun bak ditumpahkan dari langit disertai dengan petir yang berlompatan dan angin yang menderu. Sementara itu,<br />
Panglima Umar mulai merapat ke Pelabuhan Bukit Batu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa berlama-lama, Panglima Umar pun segera melangkah pulang untuk menemui istrinya. Jangankan melontarkan<br />
kata ungkapan pelepas rindu, yang didapati hanyalah rumah kosong belaka.<br />
“Jangan-jangan Zubaidah menantiku di pelabuhan”, demikian bisik hati Panglima Umar yang langsung melangkah menuruti<br />
kata hatinya. Tak lama kemudian ia bertemu dengan Panglima Hasan yang menceritakan bahwa Zubaidah telah dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksamana.<br />
Tanpa banyak tanya, Panglima Umar langsung ke tepian pantai yang menjadi tempat peluncuran Lancang Kuning. Ya …<br />
dengan perasaan tak menentu ia melihat serakan daging dan tulang sang istri tercinta.<br />
Disapunya darah yang belum sempat mengering di tanah dan diusapkannya ke<br />
wajahnya sambil berkata dengan lantang; “Aku akan membuat perhitungan pada Datuk Laksamana!”</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lama melangkah, Panglima Umar melihat Datuk Laksamana berjalan ke arahnya. Tanpa banyak tanya, Panglima<br />
Umar yang sudah dirasuki dendam langsung menghujamkan pedangnya ke perut Datuk<br />
Laksamana yang langsung tewas seketika. Pada helaan napas yang ketiga, datang Pawang Domo yang menceritakan kejadian<br />
sebenarnya. Bergegas Panglima Umar pun langsung mencari musuhnya, PanglimamHasan.<br />
Dari kejauhan, tampak Panglima Hasan telah bersiap-siap untuk melarikan diri dengan menggunakan Lancang Kuning.<br />
Tetapi sayang, belum tali tambat terlepas, Panglima Umar telah berhasil mendekati dan berkata dengan lantang sambil menghunus<br />
pedangnya; “Malam ini, siapa di antara kita yang akan mati dengan disaksikan oleh seluruh penduduk negeri!”</p>
<p style="text-align: justify;">Saling serang pun terjadi hingga akhirnya bagian perut dan dada Panglima Hasan berhasil tergores dengan dalam oleh pedang<br />
Panglima Umar. Perlahan, tubuh itu mulai lunglai, berlutut dan akhirnya terjatuh ke laut lepas.<br />
“Aku tak mungkin kembali ke Bukit Batu karena telah membunuh Datuk Laksamana akibat fitnah keji Panglima Hasan yang juga<br />
baru saja kubunuh … karena itu, aku akan pergi selama-lamanya dengan menggunakan Lancang Kuning!”, demikian kata Panglima<br />
Umar dari atas Lancang Kuning yang mulai bergerak perlahan ke tengah laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut tutur, ketika sampai di Tanjung Jati, Lancang Kuning disapu oleh angin puting beliung hingga karam. Panglima Umar<br />
dan Lancang Kuniung terkubur di tengah laut, sementara, kerajaan Bukit Batu pun mulai mundur dan akhirnya hilang ditelan<br />
zaman kecuali beberapa keluarga saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 544</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/lancang-kuning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKI TIREM: Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Tertua di Jawa (oleh: M. Yusuf)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/aki-tirem-cikal-bakal-berdirinya-kerajaan-tertua-di-jawa/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/aki-tirem-cikal-bakal-berdirinya-kerajaan-tertua-di-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 10:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah sesungguhnya tokoh nenek moyang bernama Aki Tirem ini? Pertanyaan ini menarik sekali diajukan karena memang masih terdapat kesimpangsiuran prihal eksistensi tokoh legendaris ini. Menurut cerita rakyat Pandeglang, namanya juga... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/aki-tirem-cikal-bakal-berdirinya-kerajaan-tertua-di-jawa/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_412" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-412" href="http://majalah-misteri.net/aki-tirem-cikal-bakal-berdirinya-kerajaan-tertua-di-jawa/situs-peninggalan-kerajaan/"><img class="size-medium wp-image-412" title="Situs-peninggalan-Kerajaan-" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/05/Situs-peninggalan-Kerajaan--300x225.png" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Situs Kerajaan Salakanagara</p></div>
<p>Siapakah sesungguhnya tokoh nenek moyang bernama Aki Tirem ini? Pertanyaan ini menarik sekali diajukan karena memang masih terdapat kesimpangsiuran prihal eksistensi tokoh legendaris ini. Menurut cerita rakyat Pandeglang, namanya juga dikenal sebagai Aki Luhurmulya. Bahkan, dia disebut juga sebagai Angling Dharma menurut Hindu, dan Wali Jangkung menurut Islam.<span id="more-411"></span><br />
Namun demikian ada juga cerira di kalangan masyarakat yang menyebut nama Prabu Angling Dharma atau Wali Jangkung sebagai nama lain dari Dewawarman. Bahkan tokoh bernama Angling Dharma ini juga diakui berada di wilayah lain, bukan di Salakanagara.<br />
Di zamannya Aki Tirem hanya berpredikat setingkat penghulu, bukan berpangkat raja. Tatkala sakit, sebelum meninggal dia menyerahkan kekuasaannya kepada menantunya yang bernama Dewawarman, yang jauh hari sebelumnya telah menikah dengan Nyi Pahoci Larasti, putrid Aki Tirem.<br />
Atas pengangkatan ini semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula dengan para pengikut Dewawarman karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak.<br />
Lalu, siapakah Dewawarman ini? Konon, dia adalah seorang yang menjadi duta keliling negaranya yang terletak di India Selatan, untuk negara-negara lain yang bersahabat seperti: kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, Cina dan Abasid (Mesopotamia), dengan tujuan mempcrerat persahabatan dan berniaga hasil bumi serta barang-barang lainnya.<br />
Dewawarman dan rombongan berlabuh di pantai desa Aki Tirem pada awalnya dengan niat untuk mengisi perbekalan, terutama air. Namun ketika itu desa tersebut tengah dilanda keresahan karena aksi para perompak. Karena itulah pada mulanya Aki Tirem dan pasukannya berniat akan memerangi Dewawarman. Namun karena niat baiknya, Aki Tirem pada akhirnya menerima kehadiran rombongan pengembara dari India Selatan ini, bahkan penghulu desa di pantai barat Banten tersebut menjodohkan puterinya dengan Dewawarman.<br />
Setelah tinggal menetap di desa Aki Tirem, Dewawarman beserta pengikutnya selalu berkeliling melindungi penduduk karena kampung-kampung di sepanjang pesisir itu memang sering didatangi bajak laut dan pcrompak. Sampai suatu ketika, perahu perompak datang di tempat itu dan berlabuh di tepi pantai. Para perompak itu sama sekali tidak melihat bahwa dirinya telah dikepung oleh pasukan Dewawarman yang bersembunyi dan berpencar dengan siaga penuh. Dewawarman beserta pasukannya dan pasukan Aki Tirem segera membuka serangan tanpa memberikan kesempatan kepada para perompak itu untuk mempersiapkan diri. Pcrtempuran pun terjadi.<br />
Diceritakan, gerombolan perompak itu dapat dikalahkan. Dewawarman dan pasukannya unggul dalam pertempuran. Perompak yang mati ada 37 orang dan sisanya yang tertawan ada 22 orang. Anggota pasukan Dewawarman yang tewas ada dua orang, sedangkan anggota pasukan Aki Tirem tewas 5 orang. Semua perompak yang ditawan akhirnya mati digantung. Aki Tirem memperoleh perahu rampasan lengkap dengan barang-barang, senjata dan pcrsediaan makanan para perompak.<br />
Kisahkan pula, setelah Aki Tirem wafat, sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa di situ dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara. Sedang isterinya, Nyi Pohaci Larasati menjadi permaisuri dengan gelar Dewi Dwani Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salakanagara.<br />
Menurut Naskah Wangsakerta Aki Tirem adalah putera Ki Srengga, Ki Srengga putera Nyai Sariti Warawiri, Nyai Sariti Warawiri puteri Aki Bajulpakel, Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul dari Swarnabhumi bagian selatan kemudian berdiam di Banten, Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer, Ki Pawang Sawer Putera Datuk Pawang Marga, Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang berdiam di Swarnabhumi sebelah utara, Ki Bagang putera Datuk Waling yang berdiam di Pulau Hujung Mendini, Datuk Waling putera Datuk Banda ia berdiam di dukuh tepi sungai, Datuk Banda putera Nesan, yang berasal dari Langkasungka. Sedangkan Nenek moyangnya berasal dari negeri Yawana sebelah barat.<br />
Jika dipelajari lebih jauh lagi, naskah Wangsakerta yang ditulis pada tahun 1677 M menceritakan, bahwa pendatang dari Yawana dan Syangka yang termasuk ke dalam kelompok manusia purba tengahan (Janma Purwwamadhya) tiba kira-kira tahun 1.600 sebelum Saka. Kaum pendatang yang tiba di Pulau Jawa kira-kira antara 300 sampai dengan 100 tahun sebelum Saka. Mereka telah memiliki ilmu yang tinggi (Widyanipuna) dan telah melakukan perdagangan serbaneka barang. Para pendatang ini menyebar ke pulau-pulau Nusantara.<br />
Wangaskerta menjelaskan pula: Oleh para mahakawi yang terlibat dalam penyusunan naskah Wangsakerta disebut jaman besi (wesiyuga), karena mereka dianggap telah mampu membuat berbagai macam barang dan senjata dari besi, yang lebih penting, mereka telah mengenal penggunaan emas dan perak.<br />
Sebenarnya bukan hanya berdagang, tetapi merekapun merasuk ke desa-desa, seolah-olah semuanya milik mereka. Pribumi yang tidak mau menurut atau menghadangnya segera dikalahkan. Merekapun harus menjadi orang bawahan yang harus tunduk pada keinginan mereka.<br />
Antara tahun 100 sebelum Saka sampai awal tahun Saka masih banyak kaum pendatang yang tiba di Nusantara dari negeri-negeri sebelah timur dan selatan India,  yang juga telah memiliki pengetahuan yang tinggi.<br />
Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa pengambilan nama Salakanagara, atau Kotaperak, atau Argyre memang wajar dan sangat terkait dengan zaman tersebut, yang dikisahkan oleh para Mahakawi sebagai zaman besi (wesiyuga), zaman manusia di Nusantara telah mengenal penggunaan besi dan perak sebagai perkakas.<br />
Sedangkan kaum pendatang, seperti Dewawarman dari India datang ketempat tersebut dimungkinkan untuk berdagang dan mencari perak. Mungkin ini juga yang menjadi minat mereka singgah di perkampungan pesisir Aki Tirem.<br />
Ada juga yang mengisahkan bahwa Akti Tirem ketika digantikan Dewawarman belum wafat, namun dia sengaja mengundurkan diri dari keramaian dunia dan pergi bertapa. Dewawarman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama Salakanagara.<br />
Penyerahan kekuasaan tersebut terjadi pada tahun 122 M. Dan pada saat itu diberlakukan pula penanggalan Sunda yang dikenal dengan sebutan Saka Sunda.<br />
Klan Dewawarman menjadi raja Salakanagara secara turun menurun. Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun sejak dinobatkan pada tahun 52 Saka atau 130 M. Selama masa pemerintahan dia pun mengutus adiknya yang merangkap Senapati, bernama Bahadur Harigana Jayasakti untuk menjadi raja daerah Mandala, Ujung Kulon. Sedangkan adiknya yang lain, bernama Sweta Liman Sakti dijadikan raja daerah Tanjung Kidul dengan ibukotanya Agrabhintapura. Nama Agrabhinta dimungkinkan terkait dengan nama daerah berada di daerah Cianjur Selatan, sekarang menjadi daerah perkebunan Agrabhinta, hanya karena sulit diakses, daerah tersebut seperti menjadi daerah tertinggal.<br />
Dalam catatan sejarah, raja-raja Salakanagara yang menggunakan nawa Dewawarman sampai pada Dewawarman IX. Hanya saja setelah Dewawarman VIII, atau pada tahun 362 pusat pemerintahan dari Rajatapura dialihkan ke Tarumanagara. Sedangkan Salakanagara pada akhirnya menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara.<br />
Selama kejayaan Salakanagara gangguan yang sangat serius datangnya dari para perompak. Hingga pernah kedatangan perompak Cina. Namun berkat keuletan Dewawarman dengan membuka hubungan diplomatik dengan Cina dan India pada akhirnya Salakanagara dapat hidup damai dan sentausa.<br />
Selain adanya perkiraan jejak peninggalan Salakanagara, seperti batu menhir, dolmen dan batu magnet yang terletak di daerah Banten, berdasarkan penelitian juga ditemukan bahwa penanggalan sunda atau Kala Sunda dinyatakan ada sejak zaman Aki Tirem. Penanggalan tersebut kemudian dinamakan Caka Sunda. Perhitungan Kala Saka mendasarkan pada Matahari 365 hari dan Bulan 354 hari. Masing-masing tahun mengenal taun pendek dan panjang.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 513  20 Mei – 04 Juni 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/aki-tirem-cikal-bakal-berdirinya-kerajaan-tertua-di-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mustika Ular Pemberian Datu Amin Kelaru (Oleh:Goenawan WE)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/mustika-ular-pemberian-datu-amin-kelaru/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/mustika-ular-pemberian-datu-amin-kelaru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 09:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Legenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Suku Dayak Benuag dan Tunjung meyakini betapa mereka berasal dari leluhur yang dikenal dengan sebutan Tamerikukng &#8212; karena keturunannya melakukan suatu kesalahan, akhirnya, mereka pun berubah ujud dan tersebar di... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/mustika-ular-pemberian-datu-amin-kelaru/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_356" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-356" href="http://majalah-misteri.net/mustika-ular-pemberian-datu-amin-kelaru/mustika-ular/"><img class="size-medium wp-image-356" title="mustika-ular" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/mustika-ular-300x210.png" alt="" width="300" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">mustika ular</p></div>
<p>Suku Dayak Benuag dan Tunjung meyakini betapa mereka berasal dari leluhur yang dikenal dengan sebutan Tamerikukng &#8212; karena keturunannya melakukan suatu kesalahan, akhirnya, mereka pun berubah ujud dan tersebar di beberapa tempat di seantero Pulau Borneo. Dan mereka inilah yang sering disebut sebagai “Roh” atau makhluk halus yang memiliki tugas serta fungsi masing-masing dan mukim di seluruh alam, seperti di langit, bumi, air dan sebagainya.<span id="more-355"></span><br />
Walau hidup di alam yang tak kasat mata, namun, mereka memiliki kebutuhan yang sebagian besar sama dengan yang dibutuhkan manusia pada umumnya. Dalam kepercayaan lama inilah, sejatinya, hubungan dua alam yang bersanding dan hanya terpisahkan oleh kabut misteri terjalin dengan erat &#8212; dan keadaan itu hanya terasakan oleh manusia yang masih alami, atau manusia yang masih memanusiakan manusia dan masih menghargai alam semesta. Dan tak dapat dipungkiri, pengejawantahan dari sikap menghargai itulah yang dapat membuka tabir dimensi misteri tersebut yang oleh sebagian besar masyarakat Dayak diyakini sebagai Dunia Ilmu Magis.<br />
Masyarakat Dayak meyakini, wujud ketaatan dan kesetiaan mereka terhadap “roh” akan mendapatkan berkah dan imbalan dalam berbagai bentuk. Sebaliknya, ketidaktaatan akan membawa mereka ke jurang kehancuran. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan “roh-roh” tersebut lewat cara-cara yang seringkali tidak bisa diterima dengan akal sehat.<br />
Menurut pakar kebudayaan Tanah Borneo, Dalmasius Madrah T, pada dasarnya, ilmu magis dibagi menjadi dua bagian; Yakni; Ilmu Magis Panas; ilmu yang dipakai atau dapat mencelakakan orang yang disukai. Contoh dari ilmu ini adalah rasutn dan bongkaaq eqaau yang sangat mematikan. Sedang yang tidak membahayakan namun digolongkan dalam ilmu magis panas adalah ilmu kebal. Sementara, Ilmu Magis Dingin; ilmu yang berfungsi untuk mengantisipasi, menangkal, dan mengobati ilmu magis yang dipasang atau dikirim oleh pihak lawan. Bahkan, bisa juga digunakan untuk pengobatan penyakit madis.<br />
Seperti biasa, bagi seseorang yang berniat mendapatkan ilmu tersebut di atas, maka, ia harus mencari sumber (guru-pen) yang tepat atau yang sesuai dengan keinginannya. Yang paling menarik adalah, walau berbagai kajian ilmiah telah dilakukan dan banyak bukti nyata di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, tetapi, konsep magis yang memang sulit untuk diterima dengan akal sehat itu tetap saja tak bisa terungkap dengan sejelas-jelasnya.<br />
Selain dari mencari sumber (guru-pen), ada pula yang ingin mendapatkan ilmu magis dengan cara “betapa” (bertapa-pen) sebagaimana yang dilakukan oleh leluhur Bung Dani-i-Dani yang mendapatkan warisan berupa batu berbentuk mirip telur yang terlilit oleh seekor ular. Dan sampai sekarang mereka meyakini, inilah yang disebut sebagai mustika ular.<br />
Bermula, ketika itu, daerah Tumbang Samba terserang oleh wabah penyakit yang mematikan. Tak ada yang mereka bisa lakukan di desa yang demikian terpencil itu kecuali hanya berharap dan berdoa &#8212; keadaan inilah yang membuat kakek Bung Dani bertekad untuk betapa (bertapa-pen) di Sungai Kahayan untuk mendapatkan pencerahan guna mengatasi penyakit yang kian hari kian merajalela itu.<br />
Pada saatnya, sang kakek pun berendam di Sungai Kahayan. Waktu terus berlalu hingga suatu hari, ia ia ditemui oleh penguasa Sungai Kahayan yang mengaku bernama Datu Amin Kelaru. Dan dari pertemuan dua makhluk yang berbeda alam itulah, ia pun mendapatkan sebuah batu mirip telur yang dililit oleh seekor ular. Singkat kata, dengan daya magis batu tersebut, akhirnya, sang kakek pun berhasil menyembuhkan masyarakat di desanya yang terkena penyakit aneh tersebut.<br />
Meski mustika ular itu didapat dengan jalan betapa (bertapa-pen), tetapi, benda yang oleh suku dayak diyakini memiliki kekuatan atau kesaktian itu pada waktu-waktu tertentu biasa meminta imbalan berupa makanan dan minuman sebagaimana yang kita kenal dengan sebutan sesaji.<br />
Sudah barang tentu, silang pendapat akan hal tersebut di atas selalu terjadi di tengah-tengah masyarakat. Namun, masyarakat suku Dayak melakukan hal tersebut sebagai (meminjam istilah Khanjeng Joko-pen) “tali asih” antara sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut kadang berkebalikan. Seharusnya manusia yang diciptakan lebih sempurna ketimbang makhluk lain diptaanNya itu memberi “sesaji” sebagai sedekah bagi mahkluk yang lebi rendah &#8212; bukan sebaliknya.<br />
Setelah sang kakek meninggalkan dunia nan fana ini, akhirnya, mustika ular tersebut diwariskan kepada cucunya, Bung Dani-i-Dani. Pemuda inilah yang akhirnya menjadi penerus sang kakek dalam memberikan pelayanan pengobatan baik medis maupun non medis di daerahnya. Tumbang Samba.<br />
Sampai sekarang, tiap malam Jumat, Bung Dani-i-Dani selalu memberikan sesaji berupa bunga 3 atau 7 macam &#8212; dan salah satu di antaranya harus bunga melati, serta kopi manis dan kopi pahit masing-masing segelas, sementara, mustika ular itu diletakan di sebuah piring yang sebelumnya telah ditaburi dengan segenggam beras.<br />
Kini, ditangan Dani-i-Dani, mustika ular yang berdaya gaib tinggi itu berhasil dioptimalkan untuk  berbagai hal. Selain pengobatan, mustika ular ini berhasil juga mendongkrak nilai guna dalam hal ekonomi. Di antaranya, penglarisan dagang, memperlancar usaha dan keperluan pagar gaib yang dikenal dengan sebutan kamaat (penjaga gaib yang setia). Yang terakhir ini memang dapat diperoleh dengan cara nemaai (diperoleh dengan pembayaran dan tata cara tertentu). Singkat kata, untuk membeli kamaat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah &#8212; karena diperlukan kesungguhan, selain harus berhasil meyakinkan si pemilik kamaat agar mau berbagi. Pada dasarnya, kamaat bukan barang dagangan, hanya saja, bagi yang serius ingin mendapatkannya harus mau berbagi.<br />
Demikian sekelumit legenda, tetapi nyata, dan sampai tulisan ini diturunkan masih bisa ditemui di Desa Tumbang Samba.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 511 20 Apr – 04 Mei 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/mustika-ular-pemberian-datu-amin-kelaru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Golok Pusaka Langlangbuana (Oleh: Ayi Ruswanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/golok-pusaka-langlangbuana-oleh-ayi-ruswanto/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/golok-pusaka-langlangbuana-oleh-ayi-ruswanto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 13:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Warga Jawa Barat, masyarakat Pasundan khususnya, selama ini mungkin banyak mendengar cerita tentang adanya harimau gaib yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari Prabu Siliwangi. Harimau gaib ini digambarkan sebagai hewan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/golok-pusaka-langlangbuana-oleh-ayi-ruswanto/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><strong> </strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-97" href="http://majalah-misteri.net/golok-pusaka-langlangbuana-oleh-ayi-ruswanto/golok-pusaka-langlangbuana/"><img class="alignleft size-medium wp-image-97" title="golok-pusaka-langlangbuana" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/01/golok-pusaka-langlangbuana-202x300.png" alt="" width="202" height="300" /></a>Warga Jawa Barat, masyarakat Pasundan khususnya, selama ini mungkin banyak mendengar cerita tentang adanya harimau gaib yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari Prabu Siliwangi. Harimau gaib ini digambarkan sebagai hewan berbulu loreng, atau ada juga yang mengatakan berbulu putih dan disebut sebagai Lodaya.<span id="more-96"></span></p>
<p>Disamping harimau loreng dan Lodaya, yang diyakini sebagai jelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikut setianya, sesungguhnya masih ada jenis harimau gaib lainnya, yakni harimau yang berbulu hitam pekat. Nah, jenis harimau hitam inilah yang mungkin masih kurang diketahui seperti apa asal-usulnya.</p>
<p>Meski terkesan musykil, namun bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di daerah pinggiran, masih meyakini kalau kesemua jenis harimau gaib tersebut hingga kini masih ada dan kerap menampakkan wujudnya di tempat-tempat tertentu. Fenomena itu utamanya kerap terjadi di sekitar Leuweung Sancang, Garut Selatan. Menurut cerita, di Leuweung Sancang inilah Prabu Siliwangi bersama para pengikut setianya memutuskan jalan gaib dengan cara ngahyang atau moksa.</p>
<p>Lantas, bagaimana asal-usul harimau hitam dari Pajajaran itu?</p>
<p>Menurut informasi yang Misteri terima, sosok harimau hitam yang kini dijadikan lambang kesatuan kepolisian daerah di Jawa Barat ini tidak lain mulanya berasal dari salah seorang tokoh pengabdi setia di Pajajaran.</p>
<p>Saat Prabu Siliwangi berkuasa, sang tokoh mendapat kepercayaan jabatan sebagai pejabat tinggi keamanan, atau setara dengan Panglima Polri pada saat sekarang. Dialah petinggi polisi pertama yang sempat diangkat dilingkungan Kerajaan Pajajaran. Tokoh dimaksud tak lain adalah yang namanya populer dengan sebutan Eyang Langlangbuana. Dia pertama kali ditunjuk sebagai pengabdi polisi di lingkungan kerajaan pada  1515, dan bersamanya sempat pula ditunjuk dua orang ajudannya, yaitu yang bernama Eyang Jagariksa dan Eyang Jagapirusa.</p>
<p>Disebutkan, ketiga tokoh inilah yang bertanggungjawab terhadap keamanan di lingkungan dalam kerajaan. Mereka juga memiliki pos pusat di Pakuan, juga sejumlah pos-pos jaga di kawasan Sukadana, Cibitu dan Cianjur.</p>
<p>Eyang Langlangbuana, atau yang dikenal pula sebagai Eyang Jagaraksa atau Jagasatru, menurut sejarah, sebenarnya bukanlah orang Pajajaran asli. Dia adalah pengembara yang berasal dari Kerajaan Bugis, Makasar. Kemudian dia menikah dengan wanita di Pajajaran.</p>
<p>Sebelum singgah di Pajajaran, Eyang Langlangbuana sempat pula mengembara ke belahan bumi lain. Seperti ke Tanah Arab yang lamanya 77 tahun, dan terakhir ke Tanah Jawa, atau dalam hal ini adalah Pajajaran.</p>
<p>Seperti diceritakan, Prabu Siliwangi dan segenap pengikut setianya akhirnya sepakat memilih jalan gaib untuk mati secara moksa. Sementara. saat mendapati tekanan berat dari pihak musuh, Eyang Langlangbuana memilih jalan akhirnya sendiri, yaitu meninggal secara wajar.</p>
<p>Menurut sebuah sumber, makam Eyang Langlangbuana berada di kawasan Cibule, di kaki Gunung Pangrango, Cianjur.</p>
<p>Sudah barang tentu, Eyang Langlangbuana termasuk leluhur yang memiliki jasa besar bagi Pajajaran. Makamnya kini sangat dikeramatkan. &#8220;Namun, untuk dapat mencapainya, boleh dikata tidaklah gampang. Sebab, disamping lokasinya yang berada di kedalaman hutan yang rimbun, juga untuk tiba di sana kita pun harus siap berjalan jongkok dan merayap, dikarenakan makam itu terkurung oleh pohon-pohon yang besar,&#8221; tegas sumber Misteri yang enggan disebutkan namanya.</p>
<p>Sementara, berkaitan dengan cerita keleluhuran Eyang Langlangbuana yang nama besarnya kini diabadikan sebagai simbol kesatuan kepolisian Jawa Barat, terungkap sebuah informasi kalau ternyata senjata pusakanya adalah sebilah golok yang panjangnya sekitar satu meter. Pusaka ini sekarang berada di tangan seorang kolektor di Bandung.</p>
<p>Karena bahannya yang bukan sembarangan, pusaka Eyang Langlangbuana tersebut diyakini menyimpan tuah tertentu. Menurut sang pemilik, banyak kalangan yang berhasrat untuk dapat memilikinya.</p>
<p>&#8220;Golok ini berkhodam seekor harimau gaib berbulu hitam, jelmaan dari Eyang Langlangbuana. Golok ini merupakan perangkat beladiri yang sangat ringan untuk dimainkan. Sehingga, banyaknya pihak yang berminat,” kata sang pemilik yang juga enggan disebut identitasnya.</p>
<p>Menurut pengakuannya, golok yang bergagang berupa ukiran kepala harimau hitam itu adalah benar-benar asli. Benda tersebut merupakan warisan dari para leluhurnya yang sempat mendalami dan menyusuri sejarah Pajajaran.</p>
<p>?</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/golok-pusaka-langlangbuana-oleh-ayi-ruswanto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Mula Kanjeng Kyai Plered (Oleh:  Prabuningrat)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/asal-mula-kanjeng-kyai-plered-oleh-prabuningrat/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/asal-mula-kanjeng-kyai-plered-oleh-prabuningrat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 10:29:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Legenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Kala itu, kejayaan Majapahit pun mulai berangsur redup. Nun … di Katumenggungan Wilwatikta yang tenang dan damai, di pagi nan cerah itu, sang Tumenggung yang dikaruniai sepasang anak yang mulai... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/asal-mula-kanjeng-kyai-plered-oleh-prabuningrat/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><a rel="attachment wp-att-19" href="http://majalah-misteri.net/asal-mula-kanjeng-kyai-plered-oleh-prabuningrat/kyai-plered/"><img class="alignleft size-medium wp-image-19" title="kyai plered" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/01/kyai-plered-215x300.jpg" alt="" width="215" height="300" /></a>Kala itu, kejayaan Majapahit pun mulai berangsur redup. Nun … di Katumenggungan Wilwatikta yang tenang dan damai, di pagi nan cerah itu, sang Tumenggung yang dikaruniai sepasang anak yang mulai beranjak dewasa, yakni Raden Sahid dan Dewi Rasa Wulan memanggil keduanya untuk menghadap.</p>
<p>Setelah keduanya  menghaturkan sembah bakti, sang Tumenggung pun berkata; “Sahid, sekarang engkau sudah dewasa. Mulai sekarang, engkau harus bersiap-siap untuk menggantikan bila aku sudah tak mampu lagi melaksanakannya.”</p>
<p>“Sebelumnya, aku dan ibumu berharap agar engkau segera menikah. Katakanlah, gadis mana yang selama ini telah menjadi tambatan hatimu. Nanti aku yang akan melamarkan untukmu,” imbuhnya.<span id="more-17"></span></p>
<p>Raden Sahid yang duduk bersila dengan takzim dan kepala menunduk sebagai tanda hormat kepada orang tua, hanya diam membisu. Hatinya benar-benar galau. Betapa tidak, sejatinya, di dalam hati ia menolak untuk segera menikah.  Tapi apa daya, jika menolak, ia takut membuat kedua orang tuanya kecewa.</p>
<p>Padahal dalam hati yang sangat dalam, beliau menggerutu, belum siap memikirkan tentang arti sebuah mahligai rumah tangga. Di tengah-tengah suasana yang mencekam itu, mendadak terdengar suara Tumenggung Wilwatikta memecah kesunyian; “Mengapa engkau diam Sahid?”</p>
<p>“Apakah engkau menolak permintaanku?” Sambungnya cepat.</p>
<p>“Ampun … ayahanda,” sahtu Raden Sahid dengan terbata-bata, “tak ada maksud hamba untuk menolaknya.”</p>
<p>“Tetapi mengapa engkau diam dan tidak segera menjawab,” potong sang ayah dengan cepat.</p>
<p>“Ampun … ayahanda,” jawab Raden sahid dengan santun, “sampai saat ini, hamba masih menimbang-nimbang, wanita mana yang tepat untuk menjadi menantu ayahanda.”</p>
<p>Tumenggung Wilwatikta pun menarik napas lega, “Baiklah kalau begitu. Pertimbangkan dengan masak-masak, dan hati-hati dalam menentukan jodohmu.”</p>
<p>Karena dianggap cukup, maka, Raden Sahid pun diperkenankan untuk undur diri. Dan kepada Dewi Rasa Wulan, sang ayah hanya berpesan agar dirinya bersiap-siap untuk menerima pinangan dari pemuda  yang sudah ditetapkan kedua orang tuanya.</p>
<p>Tanpa berani membantah, Rasa Wulan pun hanya diam … lalu, ia pun undur diri dari hadapan ayahandanya.</p>
<p>Tidak seperti biasanya, keceriaan yang biasa diperlihatkan keduanya di kadipaten mendadak hilang. Hingga malam menjelang, Raden Sahid masih disungkupi kegelisahan. Bahkan, matanya pun tak bisa dipejamkan walau malam terus merangkak. Hatinya teramat sedih …</p>
<p>“Untuk menghindar dari paksaan ayah, kiranya aku harus pergi dari sini,” demikian bisik hatinya. Dan benar, seiring dengan malam yang terus merangkak dan seisi katumenggungan sedang terbuai dalam mimpi indahnya masing-masing, diam-diam Raden Sahid pun ke luar dari kamarnya dan pergi ….</p>
<p>Paginya, tatkala Dewi Rasa Wulan mengetahui bahwa kakaknya tak ada di kamarnya, sontak, hatinya pun khawatir. Dengan harap-harap cemas ia pun mencari sang kakak di berbagai penjuru katumenggungan. Tapi apa daya, sang kakak seolah lenyap bak ditelan bumi. Dewi Rasa Wulan pun yakin, sang kakak telah pergi meninggalkan katumenggungan tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya.</p>
<p>“Mengapa Kangmas Sahid tidak mengajakku,” bisik hati Rasa Wulan, “padahal aku juga bermaksud pergi agar terhindar dari paksaan ayah.” Dengan langkah gontai, Dewi Rasa Wulan pun masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian dan langsung menyusul kakaknya.</p>
<p>Waktu terus berlalu. Malamnya, barulah seisi katumenggungan heboh. Mereka baru sadar jika Raden Sahid dan Rasa Wulan telah pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mendengar laporan bahwa kedua anaknya pergi, Tumenggung Wilatikta pun terkejut. Dengan cepat ia memerintahkan seluruh telik sandi katumenggungan untuk menelisik keberadaan kedua anaknya itu.</p>
<p>Tapi apa daya, keduanya seolah lenyap ditelan bumi. Hari bergangti minggu dan minggu berganti bulan bahkan bulan bergantiu tahun, tapi, keberadaan keduanya tetap saja tidak terendus.</p>
<p>Berbilang waktu, dalam pengembaraannya, Raden Sahid mengalami pahit dan getirnya penderitaan serta menghadapi berbagai macam cobaan hingga di kemudian hari ia dikenal sebagai sosok waliyullah yang sangat masyhur, Khanjeng Sunan Kalijaga &#8212; lewat bimbingan seorang Waliyulloh A’dzom Sunan Bonang, yang diteruskan kepada Sunan Gunung Jati, sampai pada akhirnya mendapat derajat kewalian secara sempurna lewat talqin Nabiyulloh Hidir AS, hingga akhirnya beliau diambil mantu dan dijadikan tangan kanan paling setia oleh Sunan Gunung Jati Cirebon.</p>
<p>Tak jauh berbeda dengan sang kakak, di dalam pengembaraannya, setelah berbilang tahun tidak juga berhasil menemukan Raden Sahid, akhirnya, Dewi Rasa Wulan pun bertapa ngidang (bertapa seperti kijang, hidup bersama-sama kawanan kijang dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh kijang, termasuk memakan makanan yang biasa dimakan oleh kijang-Jw) di tengah hutan Glagahwangi (perbatasan Pasundan, Jawa Barat).</p>
<p>Di dalam hutan  nan lebat dan angker itu terdapat sebuah danau bernama Sendhang Beji, yang ditepiannya tumbuh dengan subur sebatang pohon besar yang batangnya menjorok dan menaungi permukaannya. Dan tak ada yang menyangka jika pada salah satu cabangnya yang menjorok ke atas permukaan Sendhang Beji itu terdapat seseorang yang sedang bertapa ngalong (bertapa seperti kalong, bergantungan pada cabang pohon-Jw). Ya … sosok linuwih itu tak lain adalah Syekh Maulana Mahgribi.</p>
<p>Waktu terus berlalu. Dan pada suatu nan terik, Rasa Wulan pun mendatangi Sendhang Beji. Ia berniat ingin mandi, untuk menyegarkan badannya. Ia sama sekali tak tahu jika di atas permukaan air sendhang itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa &#8212; dan tanpa malu-malu Rasa Wulan pun membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, dengan perlahan-lahan ia berjalan menghampiri danau dan mandi di Sendhang Beji. Kesejukan air danau membuat tubuhnya jadi terasa sangat nyaman.</p>
<p>Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas danau memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan dan kesintalan tubuhnya, sontak, birahi Syekh Maulana Mahgribi pun bangkit hingga meneteskan bibit hidup (sperma-Jw) dan jatuh tepat diatas tempat Rasa Wulan mandi.</p>
<p>Karena peristiwa itu, maka, Rasa Wulan pun hamil. Akhirnya, Rasa Wulan pun tahu jika laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itulah yang menyebabkan kehamilannya.</p>
<p>“Mengapa engkau tega berbuat demikian?” Protes Rasa Wulan sambil menunjuk sengit ke arah Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa engkau menghamiliki?”</p>
<p>Syekh Maulana Mahgribi hanya diam. Ia seakan tidak mendengar apa-apa.</p>
<p>“Karena telah berbuat, maka, engkau harus bertanggung jawab!” Sergah Rasa Wulan semakin sengit.</p>
<p>“Mengapa engkau menuduhku?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi dengan sabar.</p>
<p>“Lihat! Aku hamil,” sahut Rasa Wulan.</p>
<p>“Engkau yakin jika aku yang menghamilimu?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi meminta ketegasan.</p>
<p>“Ya. Aku yakin!” Sahut Rasa Wulan tegas.</p>
<p>“Karena di tempat ini tidak ada laki-laki lain, maka, engkaulah yang kutuduh menghamiliku,” imbuhnya dengan berapi-api.</p>
<p>Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, Syekh Maulana Mahgribi pun langsung mencabut kemaluannya &#8212; kemudian menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa ia tidak memiliki kemaluan. Syekh Maulana Mahgribi pun berujar, “Lihat, aku bukan laki-laki. Jadi mana mungkin aku menghamilimu.”</p>
<p>“Bagaimana pun juga aku tetap menuduhmu yang menghamiliku” kata Rasa Wulan, “karena itu, engkau harus bertanggung jawab terhadap kehidupan bayi yang tengah kukandung ini.”</p>
<p>“Aku yang harus bertanggung jawab?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi.</p>
<p>“Ya. Engkau yang harus bertanggung jawab,” sahut Rasa Wulan, “mengasuh dan memeliharanya kelak setelah lahir.”</p>
<p>Syekh Maulana Mahgribi tidak dapat mengelak. Dan pada waktunya, setelah anak yang dikandung oleh Rasa Wulan itu lahir, maka, si jabang bayi pun yang diberi nama Kidang Telangkas pun diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Kelak dikemudian hari, secara turun temurun, keturunan Kidang Telangkas menjadi raja di tanah Jawa.</p>
<p>Kembali ke perdebatan sengit antara Dewi Rasa Wulan dengan Syekh Maulana Maghribi, saat itu, ternyata kemaluannya yang dicabut berubah wujud menjadi sebilah mata tombak &#8212;  yang akhirnya menjadi “sipat kandel” (senjata andalan) dari raja-raja Jawa. Dan tombak itu dinamakan Khanjeng Kyai Plered.</p>
<p>Saat ini Khanjeng Kyai Plered itu merupakan salah satu dari senjata pusaka Keraton Yogyakarta.</p>
<p>Namun dalam perdebatan lain, tombak Khanjeng Plered, yang asli telah raib dan dimiliki oleh seorang Waliyulloh Kamil, yang turun temurun selalu dijaga dan dirawat secara baik, sebab hal semacam ini sudah menjadi ilmu Waris bagi ahli generasi sesama Waliyulloh “<em>Di mana hak yang terlahir dari seorang waliyulloh, maka, akan kembali kepada hak sederajat lainnya</em>” Juga seperti maqolahnya Rosululloh SAW: “<em>Sesungguhnya hak warisku akan terpenuhi oleh keturunanku kelak, dan tiada kuberikan pengganti kecuali yang memahamiku, maka sambutlah pemberianku hingga kamu menggantikanku</em>”</p>
<p>“<em>Setiap yang aku miliki (sisa peninggalan hidup) adalah bagian wujud kasar yang tiada berarti dan hakikat sebenarnya adalah kembali ke yang  punya, maka peliharalah apa yang menjadi izin langsungku hingga kau menikmati dengan apa yang sesungguhnya kau pahami </em>”</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/asal-mula-kanjeng-kyai-plered-oleh-prabuningrat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
