<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Keramat</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/keramat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 May 2013 09:58:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>BERKELANA DI KOTA LELEMBUT (Oleh: Bayu Indrayanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/berkelana-di-kota-lelembut-gunung-kawi/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/berkelana-di-kota-lelembut-gunung-kawi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 11:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Kawi yang terletak di sebelah barat Kota Malang di Jawa Timur selama ini terkenal dengan mitos pesugihannya. Makam keramat Eyang Jugo ini menjadi tempat persinggahan para peziarah yang datang... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/berkelana-di-kota-lelembut-gunung-kawi/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_679" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-679" href="http://www.majalah-misteri.net/berkelana-di-kota-lelembut-gunung-kawi/lelembut/"><img class="size-thumbnail wp-image-679" title="lelembut" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/04/lelembut-150x150.jpg" alt="lelembut" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p><strong>Gunung Kawi</strong> yang terletak di sebelah barat Kota Malang di Jawa Timur selama ini terkenal dengan mitos pesugihannya. Makam keramat Eyang Jugo ini menjadi tempat persinggahan para peziarah yang datang dari berbagai kota di penjuru tanah air. Bahkan dari luar negeri banyak yang berziarah dan ngalap berkah di makam ulama yang konon merupakan pengikut Pangeran Diponegoro tersebut.<span id="more-678"></span></p>
<p>Selama ini orang mengenal Gunung Kawi sebagai tempat keramat yang cocok untuk menjalankan ritual yang berhubungan dengan masalah rezeki maupun usaha dan perdagangan. Sehingga tak heran kalau kebanyakan peziarah yang datang didominasi oleh para warga keturunan. Namun dibalik kekeramatan Gunung Kawi sebagai tempat wisata ziarah, ternyata terdapat hal lain yang merupakan misteri dari keunikan Gunung Kawi seperti pengalaman yang dialami oleh Murjiono dan teman-temannya dari kota Surabaya.</p>
<p>Waktu malam Jumat Legi merupakan malam yang menjadi puncak keramaian para peziarah yang datang di Gunung Kawi. Para peziarah sejak sore memadati kompleks pemakaman Eyang Jugo nampak silih berganti berdatangan dan berpindah tempat dari lokasi makam kemudian ke lokasi air keramat yang ada di belakang lokasi makam. Kemudian para peziarah tersebut juga hilir mudik di bawah pohon dewandaru yang merupakan pohon keramat di lokasi tersebut.</p>
<p>Demikian pula halnya dengan Murjiono dengan teman-temannya yang datang dari Surabaya. Mereka bertiga Yudi, Haryono serta Murjiono merupakan tiga sahabat yang berusaha dalam jual beli computer dan spare partnya. Haryono dan Yudi tiap malam Jumat Legi selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke Gunung Kawi. Lain dengan Murjiono, kedatangannya ke Gunung Kawi ini merupakan pertama kalinya. Lain dengan kedua temannya yang memang datang dengan niatan untuk berziarah, Murjiono datang dengan niat untuk refresing serta mencari hiburan. Selama ini ia selalu mendengar tentang Gunung Kawi selain terkenal mitos gaibnya tapi juga penuh dengan pendatang yang kebanyakan amoi-amoi cantik. Ini merupakan kesempatan untuk menikmati kehangatan Gunung Kawi begitu celotehnya waktu diajak oleh kedua temannya untuk berangkat.</p>
<p>Karena kesal menunggu kedua temannya yang masih harus antri untuk bisa datang di depan makam, Murjiono memutuskan untuk menunggu di luar makam. Ia kemudian berjalan menuju lokasi ciamsi yang terletak di depan bekas tempat peribadatan yang pernah terbakar. Sifat mata keranjangnya mulai timbul manakala melihat seorang gadis keturunan yang sibuk melakukan ciamsi untuk mengetahui peruntungan nasibnya.</p>
<p>Tanpa sadar ia pun ikut-ikutan melakukan ciamsi.</p>
<p>“Nomor 13,” ucap sang pemandu waktu melihat batang bambu Murjiono keluar.</p>
<p>Sang pemandu dari ritual ciamsi tersebut kemudian memberikan kertas bertuliskan ramalan tersebut dengan kening sedikit berkerut.</p>
<p>“Hati-hati, Mas. Dan perbanyak doa agar terhindar dari musibah,” ucapnya seraya memberikan kertas tersebut kepada Murjiono.</p>
<p>Sekilas Murjiono membaca kertas ciamsi tersebut. Waktu melihat kata-kata ramalan tersebut mulutnya tersenyum sinis. “Ada-ada saja.”</p>
<p>Kertas tulisan tersebut kemudian dibuangnya tanpa menghiraukan pandangan prihatin dari sang pemandu.</p>
<p>“Gara-gara ciamsi tadi aku kehilangan gadis yang aku buru,”omelnya pelan. Matanya berkeliaran mencari gadis yang dimaksud. Tak dihiraukannya kertas ciamsi yang bertuliskan “Hati-hati dalam melangkah. Petaka datang membayang. Perbanyak doa agar balak menjauh.”</p>
<p>Karena merasa kesal kehilangan buruannya Murijono kemudian kembali ke kompleks makam. Perjalanan yang jauh dari Surabaya membuatnya merasa mengantuk.</p>
<p>“Aku beristirahat dulu di bawah pohon itu saja,”  ia kemudian melangkah ke arah pendopo di samping makam tempat pohon dewandaru berada.</p>
<p>“Dasar kurang pekerjaan orang-orang ini,” gumannya waktu dilihatnya orang-orang yang duduk di bawah pohon tersebut. “Apa mungkin dengan kejatuhan ranting atau daun pohon ini terus rejeki akan lancar,” ia kembali mengomel melihat para peziarah yang khusuk di bawah pohon tersebut.</p>
<p>Di Gunung Kawi ada semacam kepercayaan mereka yang berziarah lalu bisa membawa buah, ranting ataupun daun yang terjatuh dari pohon peninggalan Eyang Jugo tersebut maka keberuntungannya akan berubah. Seperti halnya yang dialami seorang konglomerat, yang berubah menjadi kaya karena berhasil mendapatkan buah dewandaru.</p>
<p>Dengan sinis, Murjiono menggoyang-goyang pohon tersebut. “Lho jatuh semua daunnya,“ kata dia sambil tangannya menunjuk ke arah daun yang berguguran karena pohon tersebut diguncang-guncang dengan kedua tangannya.</p>
<p>Tiba-tiba ulahnya berhenti manakala melihat pandangan mata marah dari mereka yang berziarah di bawah lokasi pohon tersebut.</p>
<p>“Wah bisa dipukuli orang banyak aku,” kekehnya tanpa menghiraukan pandangan marah dari mereka yang menatapnya. Ia kemudian duduk di serambi pendopo.</p>
<p>Setelah berapa lama ia merasa mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya tersebut, ia merasa dibangunkan oleh seseorang. Pundaknya diguncang-guncang. Spontan Murjiono membuka matanya, mulutnya tersenyum simpul waktu dilihatnya yang memegang pundaknya tersebut adalah amoi cantik yang ingin diajaknya kenalan waktu ciamsi tadi.</p>
<p>“Bangun, Mas,” tegur gadis itu pelan.</p>
<p>Belum sempat Murjiono menjawab gadis tadi menggamit tangannya. “Antarkan aku jalan-jalan,” ucapnya lagi.</p>
<p>Murjiono bergegas bangkit pandangan matanya terus tertuju pada gadis berkulit putih dan bertubuh montok yang ada di hadapannya.</p>
<p>Tanpa sadar ia mengiyakan gadis tersebut dan kemudian mengikutinya. Mereka berjalan menembus keramaian malam. Yang dilihatnya sekarang adalah bangunan-bangunan megah, entah kompleks pertokoan atau perbelanjaan yang penuh dengan para pengunjung yang hilir mudik. Namun yang mengherankan semua penghuni atau mereka yang ada, memakai pakaian Jawa kuno. Sementara di sepanjang jalan raya yang membentang lurus tampak mobil maupun kendaraan dengan berbagai merk berjalan melintas kesana kemari. Baik pengemudi maupun mereka yang berbelanja dan melintas memakai pakaian tradisonal. Yang perempuan berkebaya.  Ada juga yang memakai pakaian cina kuno mirip seperti gadis di sampingnya yang mengaku bernama Ling Ling.</p>
<p>“Berada dimana aku?” bisiknya kepada gadis tersebut .</p>
<p>“Di Gunung Kawi,” jawab sang gadis dengan manjanya.</p>
<p>Murjiono seolah terhipnotis dengan kecantikan gadis tersebut. Ia tidak memikirkan hal-hal yang dirasanya aneh tersebut. Dalam benaknya, kota yang besar dan segala fasilitas layaknya Jakarta tersebut memang sudah ada di Gunung Kawi.</p>
<p>.“Ke kafe yuk,” ajak gadis tersebut ke sebuah tempat penuh dengan lampu warna-warni serta suara musik yang hingar bingar.</p>
<p>Ia kemudian melangkah bersama Ling Ling arah kafe yang dimaksud. Di dalam kafe tersebut ia kemudian mengikuti gerakan Ling-ling yang mulai bergoyang mengikuti irama musik yang ada. Lama mereka bergoyang sambil sesekali berpelukan.</p>
<p>Namun tiba-tiba terdengar suara dengusan marah disampingnya. “Dia adalah manusia, bukan dari golongan kita!”</p>
<p>Seorang berbadan tinggi besar berpakaian prajurit dengan membawa tombak yang terhunus kelihatan menunjuk ke arah Murjiono. Namun Murjiono hanya diam terpaku. Ia baru menjerit dan melepaskan pegangan tangannya waktu dilihatnya tubuh mulus Ling Ling yang dipeluknya berubah menjadi bersisik seperti kulit ikan. Matanya melotot seperti mata ikan koki.</p>
<p>Namun ia kembali terdiam manakala orang bertinggi besar yang meneriakinya tadi menyuruh anak buah yang di belakangnya untuk meringkus Murjiono.</p>
<p>Murjiono tak berkutik, manakala ia diseret oleh ketiga orang tersebut. Jalan raya yang tadinya penuh dengan orang-orang hilir mudik, kini penuh dengan berbagai makhluk yang berpenampilan aneh. Ada yang bermata satu, ada juga yang bertanduk. Bahkan ada perempuan berkepala manusia tapi bertubuh kuda. Makhluk-makhluk yang berkeliaran tersebut semakin aneh, sebab ada yang naik mobil. Bahkan ada berjualan di kakilima dengan fissik mereka yang aneh.</p>
<p>Murjiono ketakutan melihat hal tersebut. Ia kemudian dibawa menghadap ke arah sebuah bangunan besar yang menyerupai  istana. Lalu ia dihadapkan kepada seseorang yang berpakaian mirip raja, namun berbentuk aneh. Kepalanya bertanduk dua, sementara mulutnya penuh dengan taring runcing.</p>
<p>Ia kemudian diseret, setelah orang yang dipanggil raja tersebut memutuskan hukuman. Murjiono di bawa ke penjara. Namun ia kembali menjerit-jerit ketakutan manakala melihat pemandangan aneh dari penjara tersebut. Tampak anggota tubuh manusia yang bergelantungan karena dipotong tangannya, kakinya, bahkan kepalanya. Tubuh yang terpotong-potong itu bergoyang-goyang ketika terkena angin.</p>
<p>Murjiono semakin ketakutan manakala melihat sang algojo yang  berjalan menghampirinya sambil membawa golok. Bersiap-siap memotong-motong anggota tubuhnya. Selanjutnya Murjiono tidak ingat apa-apa lagi.</p>
<p>Tahu-tahu didengarnya suara seseorang. “Beruntunglah ia masih bisa ditolong,” ucap orang tua yang duduk di sampingnya.</p>
<p>“Dimana aku?” teriaknya waktu dilihatnya Yudi dan Haryono tampak duduk di sebelahnya.</p>
<p>Setelah berapa lama, orang tua tersebut menerangkan kepada Murjiono bahwa tingkah laku Murjiono yang iseng dengan menggoyang-goyang pohon dewandaru ternyata telah mengundang para lelembut yang ada di kawasan Gunung Kawi merasa terusik. Ia kemudian terbawa ke alam mereka. Ia dibawa jauh sampai ke puncak Gunung Kawi yang masih berupa hutan lebat dan merupakan pusat lelembut di Gunung Kawi. Beruntung tubuhnya yang tergolek lemah berhasil ditemukan pencari kayu. Dengan bantuan orang pintar nyawa Murjiono berhasil diselamatkan dari ancaman lelembut Gunung Kawi.</p>
<p>Dimuat MISTERI | Edisi 532 2012 |</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/berkelana-di-kota-lelembut-gunung-kawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diculik Penghuni kali akar (Oleh: syamsul lesmana)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/diculik-penghuni-kali-akar/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/diculik-penghuni-kali-akar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 12:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalah-misteri.net/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Hampir 6 hari Udin dibawa kabur makhluk penghuni Kali Akar. Ketika ditemukan, sifat Udin berubah mirip kera dan menyerang siapa saja yang hendak menangkapnya. Kali akar merupakan bagian dari Way... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/diculik-penghuni-kali-akar/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_623" class="wp-caption alignleft" style="width: 153px"><a rel="attachment wp-att-623" href="http://www.majalah-misteri.net/diculik-penghuni-kali-akar/penghuni-kali-akar/"><img class="size-medium wp-image-623" title="penghuni kali akar" src="http://www.majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2012/02/penghuni-kali-akar-143x300.png" alt="nghuni kali akar" width="143" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p>Hampir 6 hari Udin dibawa kabur makhluk penghuni Kali Akar. Ketika ditemukan, sifat Udin berubah mirip kera dan menyerang siapa saja yang hendak menangkapnya.</p>
<p>Kali akar merupakan bagian dari Way Belahu, sungai yang mengalir membelah Kota Teluk betung Bandar lampung. Penduduk menyebutnya Kali akar karena di sekitar aliran sungai itu banyak ditumbuhi pohon perdu yang akarnya muncul di permukaan air. ada juga akar yang menjuntai seperti tali ayunan. akar- akar sebesar paha orang dewasa itu sangat disenangi anak-anak. Mereka biasa berdiri di atas akar itu lalu terjun ke sungai. <span id="more-622"></span></p>
<p>Sebagian orang mengatakan tempat itu angker. Memang jarang sekali tempat itu dikunjungi orang. Mereka datang ke tempat itu hanya pada saat-saat tertentu saja, seperti menjelang bulan puasa. Biasanya mereka datang untuk mandi keramas. Praktis, pada hari- hari biasa sungai itu hanya ramai oleh anak- anak setempat yang berenang.</p>
<p>Sore itu hujan turun lebat sekali. Tetapi sekelompok anak-anak Kampung Pakuon yang sedang bermain bola belum juga mau berhenti. Hujan justru membuat mereka tambah bersemangat bermain sehingga tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Usai bermain bola, mereka lantas berlari menuju Kali akar dan sambil bersorak mereka pun terjun ke sungai itu. Setelah badannya bersih dari lumpur, mereka lantas pulang ke rumah masing-masing. Namaun ada yang aneh di sore itu. Mahyudin yang biasa dipanggil Udin, tidak tampak di antara mereka. Padahal tadi Udin bermain dan mandi di sungai bersama anak-anak itu. Ketika rohayah, ibunya Udin bertanya, anak-anak hanya menjawab Udin masih mandi di sungai. rohayah sedikit lega mendengar jawaban itu karena sudah menjadi kebiasaan Udin selalu pulang terlambat.</p>
<p>Namaun ketika adzan Magrib terdengar dan Udin belum juga pulang, rohayah mulai was- was. Kemana anak itu? Tanya rohayah dalam hati. ia kemudian memanggil Badar, kakak Udin, yang sedang menonton televisi.</p>
<p>“Badar, coba kamu susul adikmu,” perintah rohayah.</p>
<p>“ Susul kemana, Bu?” kata Badar balik bertanya tanpa melepas pandangannya daripesawat TV.</p>
<p>“Kata temannya tadi dia mandi di Kali akar.” Dengan agak malas, Badar beranjak dari tempat duduknya. Kakinya diseret menuju Kali akar yang letaknya tidak terlalu jauh dariu rumahnya. Tiba di Kali akar, Badar tidak melihat adiknya. Situasi di sekitar Kali akar sangat sepi. Badar sempat beberapa kali memanggil nama adiknya. namun tidak ada sahutan. Badar pun mencoba menyusuri aliran sungai itu sambil</p>
<p>terus memanggil-manggil Udin tetapi tetap saja tidak menemukan adiknya. Badar akhirnya pulang dengan tangan hampa.</p>
<p>“Udin tidak ada di Kali akar,” lapor Badar pada ibunya.</p>
<p>Perasaan rohayah semakin tidak menentu. Firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu pada anak itu. “Coba cari ke musola. Siapa tahu dari sungai tadi dia langsung ke musola untuk mengaji.”</p>
<p>“Bu, ini maslam Jumat. Tidak ada anak-anak yang mengaji,” sahut Badar. Ustadz ali memang meliburkan santrinya setiap malam Jumat.</p>
<p>“Kalau begitu coba cari ke rumah Pakde Miran. Mungkin saja Udin ke sana,” perintah rohayah. Kini suaranya mulai bergetar karena rasa was-was. Sementara Kardi, suami rohayah, juga sudah sibuk mencari kemana-mana.</p>
<p>Tanpa banyak Tanya, Badar langsung berlari ke rumah Pakde Miran. Perasaannya mulai ikut cemas memikirkan berbagai kemungkinan buruk menimpa adiknya. Benar saja, Udin tidak ada di rumah Pakde Miran. Badar langsung pulang dan memberitahukan hal itu pada ibunya.</p>
<p>Sontak keluarga Udin dilanda kecemasan yang luar biasa. Terlebih usai adzan isya, Udin juga belum ditemukan. Kabar itu segera menyebar sehingga para tetangga dan teman- teman Udin ikut mencari anak itu. Mereka menyusuri sungi karena mulai muncul dugaan Udin hanyut terbawa arus Kali akar. apalagi sore itu hujan turun sangat deras. Meski Udin bisa berenang, namun belum terlalu mahir sehingga jika kemungkinan saja terseret arus karena hujan turun sejak sore sehingga aliran Kali akar mendadak sangat deras.</p>
<p>Namun karena suasana gelap dan hujan tambah deras, mereka pun menghentikan pencariannya. Dari kasak-kusuk mulailah muncul dugaan jika Udin telah dibawa oleh Kalongwewe, makhluk halus yang gemar mencuri anak-anak untuk dijadikan anaknya. Terlebih Kali akar selama ini sebenarnya juga dikenal angker karena sudah pernah beberapa kali menelan korban jiwa.</p>
<p>Sepanjang malam rohayah menangis memikirkan nasib Udin. Esoknya, seluruh warga di Kampung Pakuon ikut beramai-ramai mencari Udin di sepanjang aliran Kali akar hingga ke muara. ada juga yang berenang dan menyelami bagian-bagian terdalam di sungai itu. Bahkan ada yang mencarinya hingga ke sungai Belahu. Tetapi semua usaha sia-sia saja. Udin tidak juga ditemukan.</p>
<p>“Mungkin Udin sudah tewas dan mayatnya hanyut hingga ke laut,” ujar salah seorang tetangga dengan nada berbisik karena tidak ingin melukai perasaan rohayah.</p>
<p>“Mungkin saja. Kali begitu kita cari sampai ke laut,” timpal rekannya.</p>
<p>Mereka pun lantas mencari Udin ke Teluk lampung dengan dibantu nelayan setempat. Hanya saja hingga sore hari, sosok Udin belum ditemukan. Para nelayan yang pulang melaut juga tidak ada yang melihat ada sosok mayat di</p>
<p>daerah Teluk lampung.</p>
<p>Selain melaporkan kasus hilangnya Udin ke polisi, Kardi juga menemui Mbah rekso, orang pintar yang tinggal tidak jauh dari Pakuon. Menurut Mbah rekso, Udin diculik. Namun Kardi tidak mempercayainya. apa motif penculiknya? Saya tidak punya musuh. Kalau minta tebusan, juga tidak mungkin karena saya tidak memiliki harta. Pasti mereka salah sasaran, kata Kardi dalam hati.</p>
<p>Sampai 5 hari kemudian, Udin belum juga ditemukan. Jika dia sudah meninggal, pasti mayatnya akan mengambang sehingga dapat ditemukan. Begitu juga kalau diculik, pasti penculiknya sudah menghubunginya untuk meminta uang tebusan. ataukah mungkin diculik dan dibawa ke kota lain untuk dijadikan pengemis seperti banyak diberitakan selama ini? pikir Kardi. Namun dugaannya itu tidak berani ia ceritakan pada rohayah karena takut istrinya itu akan semakin sedih. akhirnya, Kardi dan keluarganya hanya bisa pasrah dan memohon petunjuk pada allah.</p>
<p>Pada hari ke-6, penduduk Talang atas, tetangga Kampung Pakuon, geger. Sobri, seorang pencari kayu bakar, menemukan Udin di hutan Sumur Putri. “Tadi saat lewat saya melihat ada anak kecil duduk telanjang di atas batu besar. Tapi sewaktu saya samperin, dia malah lari. Sepertinya dia ketakutan.”</p>
<p>Mendengar cerita Sobri, keluarga Kardi dan warga sekitar langsung menuju hutan Sumur Putri. Mereka berpencar untuk mencari Udin. Kardi terlihat sangat antusias karena kuat dugaan bocah kecil yang dilihat Sobri itu benar anak bungsunya.</p>
<p>“Woooiii&#8230;. Udin ada di sini,” teriak, Mamad, salah seorang penduduk yang ikut mencari. Seketika semua orang merubung ke tempat itu. Tampak Udin duduk seperti tengah melamun di atas sebuah batu besar. Ketika mengetahui banyak orang telah mengepung tempat duduknya, Udin berontak meski wajahnya menampakkan ketakutan yang luiar biasa. Ketika Mamad mencoba meraih tangan Udin, anak itu spontan balik menyerangnya. Dia berusaha mencakar wajah Mamad sehingga Mamad lari ketakutan. Beberapa orang mencoba menangkapnya, namun masih</p>
<p>setelah diruqiah, perlahan kesadaran Udin pulih. Dia mulai mengenali ibunya. namun belum sempat Rohayah memeluk anaknya, Udin sudah keburu muntah. Yang mengejutkan, muntahannya berupa belatung yang sangat banyak.</p>
<p>belum berhasil karena Udin terus melawan dengan cakarnya. Gerakkannya mirip seekor monyet; lincah dan mengandalkan cakarnya sebagai senjata. Namun akhirnya Udin berhasil dilumpuhkan setelah secara serentak sejumlah orang termasuk Kardi, menangkap kedua tangannya. Udin lantas dibawa pulang.</p>
<p>Smapi di rumah, rohayah hampir pingsan melihat kondisi anaknya. Keinginan untuk memeluknya, dipendam karena Udin masih terus berontak sehingga beberapa orang terpaksa memeganginya. Kardi kemudian memanggil Ustadz ali. Oleh ustadz itu, Udin diruqiyah agar dirinya terbebas dari makhluk gaib. lagi-lagi Udin mengerang seperti monyet dan berusaha menyerang Ustadz ali. Namun Udin tidak berhasil menyerang Ustadz ali karena kedua tangan dan kakinya masih dipegangi oleh beberap orang.</p>
<p>Setelah diruqiah, perlahan kesadaran Udin pulih. Dia mulai mengenali ibunya. Namun belum sempat rohayah memeluk anaknya, Udin sudah keburu muntah. Yang mengejutkan, muntahannya berupa belatung yang sangat banyak.</p>
<p>“alhamdulillah, kotorannya sudah keluar. itulah yang membuat Udin tidak bisa bicara dan kehilangan kesadaran,” ujar Ustadz ali.</p>
<p>Usai memuntahkan belatung, kondisi fisik Udin mendadak lemas. Tidak lama kemudian dia tertidur pulas. Esoknya Udin sudah kembali segar-bugar. Kepada keluarga dan tetangganya yang masih penasaran apa yang dialaminya selama 6 hari terakhir, Udin pun bercerita. Menurut Udin, setelah mandi di Kali akar, ia naik ke tebing. “Tiba-tiba saja kaki saya seperti ada yang menarik. Saya mencoba melepaskan diri tetapi tidak kuat. Makhluk yang mencengkeram saya sangat kuat. Ketika saya menoleh ke belakang, saya terkejut sekali karena yang mendekap saya ternyata seekor monyet yang sangat besar,” ujar Udin.</p>
<p>Sebenarnya, kata Udin, sewaktu Badar memanggil-manggil namanya, Udin sempat mendengarnya. Namun dia tidak bisa menyahut karena mulutnya dibekap oleh monyet raksasa itu. Setelah berhasil menguasainya, Udin lantas dibawa ke suatu tempat yang tidak dikenalinya. Di situ sudah banyak sekali monyet, ada yang sangat besar namun juga ada yang kecil.</p>
<p>“Namun monyet-monyet itu baik sekali pada saya. Mereka banyak member saya buah- buahan dan juga ikan segar. Saya juga diberi minuman yang rasanya agak asin dan hangat,” lanjut Udin.</p>
<p>Namun Udin tidak tahu mengapa kemudian dirinya ditemukan di hutan Sumur Putri yang jaraknya lumayan jauh dari Kali akar. Sampai saat ini masyarakat setempat juga masih bingung apakah monyet itu asli atau monyet jadi-jadian yang merupakan penunggu Kali akar. rohayah sendiri enggan bertanya lebih jauh kepada Udin karena dia merasa sudah sangat senang anaknya bisa ditemukan dalam keadaan selamat.</p>
<p>Dimuat MISTERI | Edisi 529 2012 |</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/diculik-penghuni-kali-akar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BAJULGILING: Ajimat Sakti Milik Jaka Tingkir (oleh: Mawan Suganda)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/bajulgiling-ajimat-sakti-milik-jaka-tingkir/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/bajulgiling-ajimat-sakti-milik-jaka-tingkir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 06:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Babad Jawi dan Babad Sengkala, timang atau kepala ikat pinggang Kyai Bajulgiling adalah timang sakti milik Kyai Buyut dari Banyubiru yang kemudian diberikan kepada Jaka Tingkir atau Mas Karebet.... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/bajulgiling-ajimat-sakti-milik-jaka-tingkir/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_474" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-474" href="http://majalah-misteri.net/bajulgiling-ajimat-sakti-milik-jaka-tingkir/komplek-makam-jaka-tingkir/"><img class="size-medium wp-image-474" title="Komplek-Makam-Jaka-Tingkir" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/07/Komplek-Makam-Jaka-Tingkir-300x201.png" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Komplek-Makam-Jaka-Tingkir</p></div>
<p>Menurut Babad Jawi<strong> </strong>dan Babad Sengkala, timang atau kepala ikat pinggang Kyai Bajulgiling adalah timang sakti milik Kyai Buyut dari Banyubiru yang kemudian diberikan kepada Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Timang Kyai Bajulgiling’bersama ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit buaya itu diberikan Kyai Buyut dari Banyubiru kepada Jaka Tingkir sebagai piandel dalam pengabdiannya ke Kerajaan Demak Bintoro yang kemungkinan akan mengalami banyak hambatan, baik selama di perjalanan maupun setelah berada di Demak Bintaro. <span id="more-473"></span></p>
<p>Diceritakan dalam Babad Pengging, konon Timang Kyai Bajulgiling dibuat oleh Kyai Banyubiru dari bijih baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi. Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Kyai Banyubiru dibuat menjadi dua pusaka. Satu berbentuk sebilah keris luk tujuh yang dikenal dengan nama Kyai Jalakpupon dan satunya lagi berbentuk timang (kepala ikat pinggang) yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Bajulgiling, karena bentuk mata timang yang seperti buaya giling dengan kepala sedikit terangkat, mulut terkatup tapi kedua matanya terbuka lebar.</p>
<p>Kekuatan gaib yang dimiliki oleh Timang Kyai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat pinggang Timang Kyai Bajulgiling ini, maka dia akan kebal dari segala macam senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas. Hal ini selain kekuatan alami yang dimiliki oleh inti bijih baja murni itu sendiri, juga karena adanya kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Kyai Banyubiru di seputar timang tersebut. Kemudian kekuatan ikat pinggang ber-Timang Kyai Bajulgiling beberapa kali dialami dan dibuktikan sendiri oleh JakaTingkir.</p>
<p>Mengenai hal ini Babad Tanah Jawi menceritkan sebagai berikut:</p>
<p>Jaka Tingkir konon lahir di Pengging yang penuh rahasia, yang tentunya sebuah negeri kecil yang berdiri sendiri. Di sana terdapat beberapa benda kuno dari zaman Hindu, juga sebuah makam keramat yang dinyatakan sebagai tempat peristirahatan ayah Jaka Tingkir yang bernama Kebo Kenanga alias Andayaningrat. Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukkan wayang Beber (juga dinamakan wayang Karebet), maka ia pun dinamakan Mas Karebet.</p>
<p>Tetapi Jaka Tingkir tidak dibesarkan di Pengging, namun di Tingkir, sebab Sunan Kudus, raja pendeta diplomat jendral Demak, telah membunuh ayahnya karena pembangkangan, dan tidak lama setelah itu ibunya pun meninggal. Keluarganya kemudian membawanya ke Tingkir, dan disana ia diasuh oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. Karena itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir.</p>
<p>Mengikuti saran Ki Ageng Selo, gurunya dan Sunan Kalijaga, Jaka Tingkir pergi ke Demak untuk bekerja mengabdikan diri pada Sultan Demak, dan melamar sebagai pengawal pribadi. Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang tanpa sengaja, karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan diapun dijadikan sebagai kepala.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian satuan itu menuntut perluasan. Seorang calon yang tak berwajah tampan (buruk rupa), bersikap tidak menyenangkan bagi panglima muda ini. Karenanya calon itu tidak diuji seperti bisa, yaitu menghancurkan kepala banteng dengan tangan telanjang, melainkan diuji kekebalannya yang disetujui pula oleh yang bersangkutan. Dan hanya dengan sebuah tusuk konde Jaka Tingkir mampu menembus jantungnya. Alangkah hebat kesaktiannya. Tapi seketika itu juga, hal ini mengakibatkan ia dipecat dan dibuang.</p>
<p>Kepergiannya menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya. Dengan rasa putus asa Jaka Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja.</p>
<p>Dua orang pertapa, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri Bondan Kejawen atau adik Ki Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panempahan Senopati) tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberi semangat kepadanya. Ketika Jaka Tingkir berziarah di malam hari di makam ayahnya di Pengging, terdengarlah suara yang menyuruhnya pergi ke tokoh-tokoh keramat lain, antara lain Kyai Buyut dari Banyubiru  yang selanjutnya menjadi gurunya. Demikianlah Kyai ini memberikan kepadanya azimat agar ia mendapat perkenan kembali dari Sultan. Azimat pemberian Kyai Buyut dari Banyubiru itu berupa sebuah ikat pinggang dengan timang yang matanya berwujud buaya, yang diyakini sebagai Timang Kyai Bajulgiling.</p>
<p>Perjalanan kembali Jaka Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek (rakit yang hanya terdiri dari susunan beberapa batang bambu). Saat akan melewati Kedung Srengenge, Jaka Tingkir menghadapi hambatan karena adanya sekawanan buaya, kurang lebih berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni dan penjaga kedung tersebut. Percaya dengan kekuatan gaib dari Timang ikat pinggang pemberian Kyai Buyut Banyubiru, Jaka Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan Kedung Srengenge.</p>
<p>Bahaya pun mengancam ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari rakitnya. Namun berkat kekuatan gaib dari Timang Kyai Bajulgiling, buaya-buaya yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Jaka Tingkir. Bahkan keempat puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Jaka Tingkir selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan, depan dan belakang rakitnya.</p>
<p>Di wilayah Demak azimat pemberian Kyai Buyut Banyubiru diterapkannya kembali. Seekor lembu liar dibuatnya menjadi gila, sehingga tiga hari tiga malam para tamtama pun tidak dapat menghancurkan kepalanya, dan bahkan dengan malu terpaksa mengaku kalah. Hanya Jaka Tingkir yang berhasil membunuh kerbau itu, yakni hanya dengan mengeluarkan azimat yang telah dimasukkan ke dalam mulut hewan itu sebelumnya. Setelah itu ia mendapatkan kembali kedudukannya yang lama.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian ia menikah dengan putri ke -5 Raja (Sultan Trenggono) dan menjadi Bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bahu. Tiga tahun ia harus menghadap ke Demak, tetapi negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah dibangunnya sebuah istana&#8230;.</p>
<p>Demikianlah sekilah kisah tentang Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, gelar setelah menjadi Raja di Pajang. Setelah dia wafat, lalu dimanakah keberadaan ikat pinggang dan Timang Kyai Bajulgiling azimat pemberian Kyai Buyut Banyubiru itu? Sebab setelah meninggalnya Jaka Tingkir, tak satu pun dari anak, menantu dan kerabat dekat Sultan Hadiwijaya seperti Pangeran Benowo, Pangeran Pangiri dan juga Sutawijaya atau Senopati pernah menyimpan Timang Kyai Bajulgiling? Demikian juga halnya dengan dua sahabat dekatnya dari Pengging, Tumenggung Wirakerti dan Suratanu.</p>
<p>Menurut cerita, ikat pinggang dengan Timang Kyai Bajulgiling itu tertinggal di depan makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat (masuk wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah), lupa terbawa oleh Sultan Hadiwijaya yang mengakibatkan ia terjatuh dari gajah yang dinaikinya dalam perjalanan pulang dari Tembayat ke Pajang.</p>
<p>Seperti diceritakan dalam Serat Kanda. Kedatangan iparnya Tumenggung Mayang memberi kesempatan kepada Senopati untuk mendapat pengikut lebih banyak lagi dari Pajang. Fakta-fakta ini pada suatu hari dalam persidangan agung di Pajang disodorkan oleh para menantu raja (Tumenggung Tuban dan Tumenggung Demak) kepada raja agar diperhatikan karena mereka berpendapat perlu segera menggempur Mataram. Meskipun sadar akan jatuhnya Pajang nanti, Sultan tidak bisa bertahan atas desakan itu, dan memerintahkan untuk mengangkat senjata. Para tumenggung menyatakan bersedia, asalkan Sultan turut serta, meskipun berada di belakang barisan.</p>
<p>Lebih kurang 10.000 orang prajurit dipersiapkan. Pangeran Benowo naik kuda di belakang ayahnya yang duduk di atas gajah. Di Prambanan mereka berhenti dan memperkuat pertahanan dengan meriam.</p>
<p>Kyai Adipati Mandaraka (Juru Mertani), yang melihat akan terjadinya pertempuran besar, mendesak Senopati agar pergi ke Gua Langse (Gua Rara Kidul) sedangkan ia sendiri akan ke Gunung Merapi untuk meminta bantuan. Setelah kembali dari Gua Langse Senopati mengumpulkan 1.000 orang prajurit, dan 300 orang di antaranya ditempatkan di sebelah selatan Prambanan. Mereka mendapat perintah, begitu terdengar suara letusan keluar dari Gunung Merapi, harus segera memukul canang Kyai Bicak dan berteriak-teriak. Sebagai panglima diangkat Tumenggung Mayang.</p>
<p>Pertempuran terjadi di dua tempat. Pasukan Mataram pura-pura melarikan diri. Tetapi orang-orang Pajang yang mengejarnya tiba-tiba diserang oleh pasukan Matram dari dua arah dan dicerai-beraikan. Gelap malam menghentikan pertempuran itu. Kedua belah pihak kembali ke kubu pertahanan masing-masing.</p>
<p>Hari itu pukul tujuh pagi, Gunung Merapi meletus di tengah-tengah kegelapan. Hujan lebat, hujan debu, gempa bumi, banjir dan gejala alam lain yang menyeramkan. Orang-orang Mataram memukul Canang Kyai Bicak. Banjir menggenangi kubu panjang yang memaksa mereka melarikan diri dalam kebingungan. Sultan terseret dalam kekacauan itu.</p>
<p>Selanjutnya diceritakan dalam Serat Babad Tanah Jawi. Sultan, dalam hal ini Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, yang malang dan terpaksa melarikan diri itu ingin berdoa di makam Tembayat, tetapi pintu makam tidak dapat dibuka. Raja tidak mampu membukanya sehingga ia berlutut saja di luar. Juru kunci memberikan penjelasan yang sangat buruk tentang kejadian itu. Rupanya Allah tidak lagi memberinya izin menjadi raja. Hal ini amat mengguncangkan jiwa sang raja. Pada malam hari ia tidur dalam bale kencur yang dikelilingi air, yang sangat menyegarkan.</p>
<p>Esok harinya perjalanan dilanjutkan, tetapi raja terjatuh dari gajahnya dan menjadi sakit karenanya. Setelah itu ia dinaikkan di atas tandu, begitulah perjalanan pulang ke Pajang amat lambat dan raja duduk terguncang-guncang di atas tandu.</p>
<p>Pangeran Benowo, Pangeran Pengiri, Tumenggung Wirakerti dan Suratanu yang menolong raja saat jatuh dari gajah, segera mengetahui, mengapa Sultan tidak bisa lagi mengendalikan gajah yang tiba-tiba menjadi galak, karena tidak lagi adanya ikat pinggang azimat dari Kyai Buyut Banyubiru di pinggangnya. Suratanu ingat, Sultan melepaskan ikat pinggang itu dari tubuhnya dan meletakkan di sampingnya saat berdoa di depan makam Sunan Tembayat. Suratanu meyakini ikat pinggang itu pasti lupa terbawa oleh Sultan dan masih tertinggal di depan pintu makam di Tembayat.</p>
<p>Dengan cepat Suratanu menggebrak kudanya kembali ke makam Sunan Tambayat. Tapi ikat pinggang itu sudah tidak ada di tempatnya. Menurut juru kunci, hilangnya ikat pinggang Sultan memberi pertanda akan berakhirnya masa kejayaannya, karena ikat pinggang itulah yang telah mengantarnya mendapatkan harkat dan martabat yang terhormat.</p>
<p>Banyak kisah tentang hilangnya dan keberadaan ikat pinggang bertimang Kyai Bajulgiling yang bertuah itu. Ada sebagian kisah menceritakan, ikat pinggang yang tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembayat itu diambil dan disimpan oleh juru kunci makam. Tetapi ada pula yang mempercayai ikat pinggang itu hilang secara gaib, yang hilangnya azimat itu juga diketahui dan disadari oleh Sultan.</p>
<p>Namun yang jelas, ikat pinggang dengan Timang Kyai Bajulgiling azimat buatan Kyai Buyut Banyubiru itu secara gaib masih tersimpan di seputar makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat. Karena itu tak heran bila sejak dahulu sampai sekarang banyak orang pintar yang berusaha mengambilnya dari alam gaib, baik untuk dirinya sendiri atau untuk kepentingan orang lain. Hal ini karena adanya kepercayaan, akan kekuatan gaib yang terkandung dalam Timang Kyai Bajulgiling yang dapat mengangkat derajat, harkat dan martabat pemilik atau pemakainya.</p>
<p>Meski sudah banyak sekali orang pintar yang memburu kepala ikat pinggang sakti milik Jaka Tingkir itu, namun hingga kini belum diperoleh informasi apakah sudah ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan benda keramat dari alam gaib itu.</p>
<p>Saat Misteri berkunjung ke lokasi Makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat beberapa waktu silam, yang kebetulan ditemani oleh Mbah Diran, seorang paranormal asal dusun setempat, tidak berhasil mendapatkan gambaran gaib mengenai benda ini.</p>
<p>”Sepertinya ada kekuatan gaib yang sangat hebat menutupi keberadaan Timang Kyai Bajulgiling, sehingga Mbah sulat untuk melacak posisinya. Mungkin, faka ini juga yang membuat banyak orang yang memburunya sulit mendapatkan pusaka sakti ini,” ungkap Mbah Diran, yang setia menemani perjalanan Misteri.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 518 05 Juli – 19 Juli 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/bajulgiling-ajimat-sakti-milik-jaka-tingkir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepasang Buaya Jelmaan Bidadari Menjaga Kawah Gunung Kelud (oleh:Mawan Suganda)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/sepasang-buaya-jelmaan-bidadari-menjaga-kawah-gunung-kelud-olehmawan-suganda/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/sepasang-buaya-jelmaan-bidadari-menjaga-kawah-gunung-kelud-olehmawan-suganda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 07:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>
		<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Desa Sugihwaras merupakan perkampungan penduduk yang paling dekat dengan lereng Gunung Kelud. Warga desa ini memiliki warisan kebudayaan tersendiri yakni  mempersembahkan sesaji di kaki anak gunung. Persembahan sesaji ini sebagai... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/sepasang-buaya-jelmaan-bidadari-menjaga-kawah-gunung-kelud-olehmawan-suganda/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_407" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-407" href="http://majalah-misteri.net/sepasang-buaya-jelmaan-bidadari-menjaga-kawah-gunung-kelud-olehmawan-suganda/kawah-kelud/"><img class="size-medium wp-image-407" title="kawah-kelud" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/05/kawah-kelud-300x195.png" alt="" width="300" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">kawah kelud</p></div>
<p>Desa Sugihwaras merupakan perkampungan penduduk yang paling dekat dengan lereng Gunung Kelud. Warga desa ini memiliki warisan kebudayaan tersendiri yakni  mempersembahkan sesaji di kaki anak gunung. Persembahan sesaji ini sebagai simbol rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.<br />
“Sejak dahulu, setiap tahun, warga di sini selalu mempersembahkan sesaji di tepi kawah. Tapi, setelah dari kawah muncul anak gunung, persembahannya sesaji dipindah ke kaki anak gunung. Tujuan kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, supaya warga desa terhindar dari malapetaka, makmur, dan tetap hidup rukun,” ungkap Sinto, salah seorang sesepuh desa yang ditemui Misteri.<span id="more-405"></span><br />
Sementara itu, menurut keterangan juru kunci Gunung Kelud,  Mbah Ronggo, “Syarat utama, larung sesaji ke kawah itu harus ada cok bakal dan jenang sengkala. Itu wajib!”<br />
Apa yang terjadi jika syarat ini dilanggar? Seperti yang berlaku pada 2007 silam. Kala itu  larung sesaji kurang lengkap. Alhasil, ritual sesaji yang dilakukan itu nyaris saja membawa bencana. Terlebih lagi ritual dilakukan di bulan Ruwah menurut kalender Jawa. Padahal, menurut perhitungan Mbah Ronggo, bulan Ruwah kurang baik untuk larung sesaji. Lebih bagus lagi, kalau dilaksanakan di bulan Suro. Tapi, ketika itu Mbah Ronggo hanya diam saja. Karena ia memang tidak diajak musyawarah oleh pihak panitia. Maka supaya lebih sempurna lagi, Mbah Ronggo terus melaksanakan selamatan lagi di tepi kawah, tujuannya untuk melengkapi supaya lebih sempurna.<br />
Untuk meredam amuk Gunung Kelud ketika itu, tak kurang dari 25 paranormal yang berada di sekitarnya menggelar ritual di sekitar danau kawah untuk meminta agar bencana letusan gunung api tidak terjadi.<br />
Sebagai salah satu gunung berapi yang masih aktif di Jawa, Gunung Kelud memang masih menyimpan misteri. Seperti Merapi yang bertengger di ujung utara Yogyakarta, Kelud di Jawa Timur juga sering kurda. Kalau sedang mengamuk, juga amat ganas.<br />
Gunung Kelud berada sekitar 35 kilometer dari Kediri. Kalau ditempuh dari Blitar, jaraknya lebih kurang 24 kilometer. Di puncak Kelud, terdapat danau kawah, volumenya mencapai jutaan meter kubik. Punggung Kelud, merupakan daerah pertanian yang subur. Berupa perkebunan dan jadi lahan produksi tanaman pangan bagi penduduk di sekitarnya.<br />
Meski sehari-hari tampak tenang dan damai, setiap saat wilayah itu mungkin sekali tiba-tiba bisa menjadi wilayah yang mengerikan. Yakni ketika Kelud mengamuk. Uniknya, Kelud biasa meletus pada malam hari.<br />
Yang tak kalah unik, sebelum meletus, Kelud selalu memberi tanda dengan suara gemuruh lebih dulu. Kemudian melontarkan berbagai material yang panasnya bisa mencapai 300 hingga 500 derajat Celcius. Daya rusaknya juga amat dahsyat seperti mengamuknya ‘wedhus gembel’ Merapi. Meluluhlantakkan daerah sekitarnya dan bisa merenggut banyak korban jiwa.<br />
Sejak tahun 1000 Kelud telah meletus sebanyak 23 kali. Interval letusannya rata-rata berlangsung setiap 15 tahun sekali. Paling pendek 3 tahun, berlangsung pada tahun 1848, kemudian disusul pada 1851. Tapi Kelud pernah bersikap manis selama sekitar 37 tahun. Selama itu, ‘sakit batuk’ pun belum pernah. Apalagi sampai ‘muntah berat’. Hal ini berlangsung pada 1864 hingga 1901.<br />
Entah apa yang membuat Kelud selama 37 tahun tak pernah sakit-sakitan. Barangkali para ‘penunggunya’ merasa enjoy karena warga sekitarnya rutin mengirim ‘makanan kesehatan’ berupa berbagai jenis sesaji, seperti yang kerap dilakukan oleh warga desa Sugihwaras tersebut.<br />
Menurut catatan, sudah sebanyak 3 kali Kelud sempat ngamuk berat. Yakni pada tahun  1919, 1951 dan 1966. Uniknya, kalau direka-reka, angka tahun meletusnya itu amat menarik, yakni selalu mengiringi peristiwa besar yang terjadi di Tanah Jawa (Baca juga: Indonesia-Pen). Misalkan saja, letusan 1951, seolah menandai Pemberontakan Madiun. Kemudian ledakan pada 1966, terjadi setahun setelah terjadinya G30S/ PKI. Pada tiga ledakan itu, material yang dimuntahkan meluncur ke bawah melalui Kali Badak, Kali Ngobo, Kali Putih, Kali Semut dan Kali Ngoto.<br />
Nama Gunung Kelud berasal dari Jarwodhosok, yakni dari kata “ke” (kebak) dan “lud” (ludira). Hal ini berarti bila murka, bisa merenggut banyak kurban jiwa tak berdosa. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kawah gunung ini dijaga sepasang buaya putih, yang konon merupakan jelmaan bidadari.<br />
Legenda menceritakan, zaman dahulu kala ada dua bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terlena, dua bidadari ini melakukan perbuatan seperti yang biasa terjadi pada manusia modern, yakni berbuat intim dengan sesama jenis. Jadi, kedua bidadari itu tergolong penganut lesbian.<br />
Perbuatan tersebut rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal, sang dewa pun mengutuk kedua bidadari tersebut, “Kelakuan kalian mirip buaya.”<br />
Karena dewa memang penguasa jagad, kata-katanya yang ampuh itu membuat dua bidadari tersebut seketika berubah menjadi dua ekor buaya. Konon, hingga kini mereka menjadi penunggu danau Gunung Kelud.<br />
Letusan Kelud pada 1586 menelan korban hingga 10 ribu orang meninggal. Pada letusan 19 Mei 1919 memakan korban 5.110 jiwa. Sedang letusan 26 April 1966 menelan korban jiwa 212 meninggal, 74 hilang dan 89 luka-luka.<br />
Menurut sesepuh desa di sekitar gunung ini, para korban itu sedang dikersakke dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suami dan yang perempuan diangkat sebagai saudara.<br />
Warga menengarai, bila Kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah. Atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.<br />
Ketika Misteri berkunjung ke gunung ini beberapa waktu lalu, Misteri bertemu dengan seorang pria tua yang tengah duduk bersila dengan komat-kamit membaca doa. Tempatnya bersila masih di tepi anak gunung, sepi, karena memang tidak termasuk tempat tujuan wisatawan.<br />
Pria ini mengaku berasal dari Yogyakarta, dan tidak mau menyebutkan namanya. Katanya dia sering ke tepi anak gunung ketika masih berwujud kawah dengan tujuan ngalap berkah. Disamping itu, dia juga mengaku sudah melihat tanda-tanda akan terjadi bencana besar di Jawa Timur. Mungkinkah itu berkait dengan letusan Gunung Kelud? Ditanyakan hal ini, pria berwajah bersih itu hanya tersenyum penuh makna.<br />
Bagi yang percaya, memang banyak cara untuk ngalap berkah di gunung ini. Setiap tahunan sekali, Bupati Blitar juga rutin ke sana. Hal ini termasuk tradisi yang dilakukan sejak dulu, sepertinya rasanya kurang enak kalau setiap tahun tidak ke Gunung Kelud.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 513  20 Mei – 04 Juni 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/sepasang-buaya-jelmaan-bidadari-menjaga-kawah-gunung-kelud-olehmawan-suganda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Supranatural Keramat Pamijahan (Oleh: Mawan Suganda)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/kisah-supranatural-keramat-pamijahan-oleh-mawan-suganda/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/kisah-supranatural-keramat-pamijahan-oleh-mawan-suganda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 08:34:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Syech Abdul Muhyi adalah tokoh ulama legendaris yang lahir di Mataram tahun 1650. Ia tumbuh dan menghabiskan masa mudanya di Gresik dan Ampel, Jawa Timur. Ia pernah menuntut ilmu di... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/kisah-supranatural-keramat-pamijahan-oleh-mawan-suganda/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_393" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-393" href="http://majalah-misteri.net/kisah-supranatural-keramat-pamijahan-oleh-mawan-suganda/goa-safar-wadi/"><img class="size-full wp-image-393" title="Goa Safar Wadi" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/05/Goa-Safar-Wadi.png" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Goa Safar Wadi</p></div>
<p>Syech Abdul Muhyi adalah tokoh ulama legendaris yang lahir di Mataram tahun 1650. Ia tumbuh dan menghabiskan masa mudanya di Gresik dan Ampel, Jawa Timur. Ia pernah menuntut ilmu di Pesantren Kuala Aceh selama delapan tahun. Ia kemudian memperdalam Islam di Baghdad pada usia 27 tahun dan menunaikan ibadah haji.<span id="more-390"></span><br />
Setelah berhaji, ia kembali ke Jawa untuk membantu misi Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Awalnya Abdul Muhyi menyebarkan Islam di Darma, Kuningan, dan menetap di sana selama tujuh tahun. Selanjutnya, ia mengembara hingga ke Pameungpeuk, Garut Selatan, selama setahun.<br />
Abdul Muhyi melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi dan Lebaksiuh. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia bermukim di dalam goa, yang sekarang dikenal sebagai Goa Safarwadi, dengan maksud untuk mendalami ilmu agama dan mendidik para santrinya.<br />
Keberadaan Goa Safarwadi ini erat kaitannya dengan kisah perjalan Syech Abdul Muhyi. Dikisahkan, pada suatu saat ia mendapat perintah dari gurunya yakni Syekh Abdul Rauf Singkel (dari Kuala Aceh), untuk mengembangkan agama Islam di Jawa Barat bagian selatan sekaligus mencari tempat yang disebutkan dalam ilham dengan sebuah gua khusus sebagai tandanya.<br />
Setelah melalui perjalanan yang sangat panjang dan berat, pada suatu hari ketika sedang asyik bertafakkur, memuji kebesaran Allah, Syech Abdul Muhyi tiba-tiba menoleh ke arah tanaman padinya, yang didapati telah menguning dan sudah sampai masanya untuk dipanen.<br />
Konon, setelah dipanen, hasil yang diperoleh ternyata tidak kurang juga tidak lebih atau hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Mengetahui hal ini ia menjadi sangat terkejut sekaligus gembira, karena itu adalah pertanda bahwa perjuangannya mencari gua sudah dekat.<br />
Upaya pertama untuk memastikan adanya gua yang dicari dan ternyata berhasil ini, dilanjutkan dengan cara menanam padi kembali di lahan sekitar tempat tersebut. Sambil terus berdoa kepada Allah SWT upaya ini pada akhirnya juga mendapatkan hasil. Padi yang ditanam, berbuah dan menguning, lalu dipetik hasilnya, ternyata menuai hasil sama sebagaimana yang terjadi pada peristiwa pertama. Hal ini semakin menambah keyakinan Syech Abdul Muhyi bahwa di tempat itulah (di dalam gunung) terdapat gua yang dicarinya.<br />
Suatu hari ketika sedang berjalan ke sebelah timur gunung tersebut, sambil bermunajat kepada Allah SWT, Syech Abdul Muhyi tiba-tiba mendengar suara air terjun dan kicauan burung-burung kecil dari tempat tersebut. Ia kemudian melangkah turun ke tempat di mana suara itu berada, dan di sana ia melihat sebuah lubang besar yang ternyata sesuai dengan sifat-sifat gua yang cirri-cirinya telah ditunjukkan oleh gurunya.<br />
Seketika itu juga terangkatlah kedua tangan Syekh Abdul Muhyi, menengadah ke atas sambil mengucap doa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan pertolongan pada dirinya dalam upaya menemukan gua yang dicari.<br />
Peristiwa penemuan gua ini terjadi pada tanggal 12 Rabi&#8217;ul Awwal, tahun 1111 H/1690 M, setelah perjuangan berat dalam mencarinya selama kurang lebih 12 tahun. Usia Syech Abdul Muhyi sendiri pada waktu itu adalah genap 40 tahun. Dan gua tersebut pada nantinya akan dikenal dengan nama Gua Pamijahan.<br />
Gua Pamijahan terletak di sebuah kaki bukit yang sekarang dikenal dengan sebutan Gunung Mujarod (bukan Mujarob seperti yang pernah ditulis Idris Nawawi dalam Majalah ini – Red). Nama ini diambil dari kata bahasa Arab yang berarti “tempat penenangan” atau dalam bahasa Sunda disebut sebagai; tempat “nyirnakeun manah”, karena Syech Abdul Muhyi sering melakukan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam gua tersebut.<br />
Gua Pamijahan ini pada dasarnya memiliki makna khusus dalam perjalanan dakwah dan spiritual Syech Abdul Muhyi. Penemuan dan keberadaan gua ini seolah menjadi simbol yang menandakan bahwa perjalanan spiritual Syech Abdul Muhyi telah mengalami puncaknya. Selain itu, selalu terdapat makna dan fungsi khusus dalam setiap hal yang terhubung secara istimewa dengan tokoh yang menjalaninya.<br />
Hal ini bisa dipahami karena seperti yang diungkapkan oleh Martin Van Bruinessen, bahwa para tokoh sejarah Islam di nusantara khususnya, biasa melakukan pendekatan supranatural dalam rangka meningkatkan kharisma mereka. Gua besar di Pamijahan (Tasikmalaya Selatan) sebagai tempat Syech Abdul Muhyi melakukan &#8216;riyadhah spiritual&#8217;, dan salah satu pusat penyebaran tarekat Syathariyah di Pulau Jawa adalah contoh dari hal tersebut.<br />
Para juru kunci di tempat ini bahkan menunjukkan sebuah lorong sempit yang konon dilalui oleh Syech Abdul Muhyi untuk pergi ke Makkah setiap Jum&#8217;at. Sementara itu di Cibulakan (Pandeglang-Banten) misalnya, juga terdapat sebuah sumur yang konon berhubungan dengan sumber air zam-zam di Makkah. Menurut riwayat, Maulana Mansyur, yang diyakini sebagai wali, yang dimakamkan di Cikaduwen, pulang dari Makkah melalui sumber mata air zam-zam dan muncul di sumur ini.<br />
Ringkasnya, hingga saat ini masih ada &#8220;kyai&#8221; di Jawa, yang menurut para pengikutnya yang paling fanatik, setiap Jum&#8217;at secara gaib pergi sembahyang di Masjidil Haram. Semua ini juga menandaskan perihal lain, yakni kuatnya peranan haji dan Makkah serta hubungannya dengan tradisi spiritual sebagai legitimasi kekuasaan atau keilmuan seseorang, dalam pandangan orang Jawa.<br />
Di lingkungan kekeramatan Pamijahan sendiri terdapat beberapa kisah yang mengandung pengertian di atas. Satu kisah yang sering beredar menyebutkan bahwa, konon Syech Abdul Muhyi bersama Maulana Mansyur dan Ja’far Shadiq sering shalat di Makkah bersama-sama lewat Gua Pamijahan. Ketiga orang itu memang dikenal mempunyai ikatan persahabatan yang sangat erat.<br />
Kisah supranatural lain di lingkungan kekeramatan Pamijahan adalah kisah yang menjadi muasal diharamkannya merokok di lingkungan tersebut. Menurut kepercayaan masyarakat, pada suatu hari Syech Abdul Muhyi dan Maulana Mansyur berada di Makkah hendak pulang ke tanah Jawa, keduanya kemudian berunding tentang pemberangkatan bahwa siapa yang sampai lebih dulu di Jawa, hendaklah menunggu salah seorang yang lain di tempat yang telah ditentukan.<br />
Lalu berangkatlah kedua sahabat tersebut dengan cara masing-masing, yakni; Syeikh Maulana Mansyur berjalan di atas bumi sedangkan Syech Abdul Muhyi di bawah bumi, keduanya sama-sama menggunakan kesaktiannya.<br />
Namun, ketika Syech Abdul Muhyi sedang berada dalam perjalanan di bawah laut, tiba-tiba ia merasa kedinginan, lalu berhenti sebentar. Sewaktu hendak menyalakan api dengan maksud untuk merokok, tanpa disangka muncul kabut yang membuat sekelilingnya jadi gelap. ia terpaksa berdiam diri menunggu kabut tersebut menipis sambil merokok. Namun kabut itu ternyata semakin menebal. Akhirnya ia teringat bahwa merokok itu perbuatan yang makruh (dibenci Allah). Maka seketika itu juga ia merasa berdosa dan segera bertaubat kepada Allah SWT. Bersamaan dengan itu kabut pun menghilang, dan akhirnya ia bisa berangkat lagi meneruskan perjalanannya.<br />
Mulai saat itulah Syech Abdul Muhyi menjauhkan diri dari merokok, bahkan bisa dikatakan mengharamkan rokok untuk dirinya. Sedang kepada keluarga dan pengikutnya, ia  hanya melarang mereka merokok sewaktu di dekat dirinya.<br />
Oleh karena itu, di daerah Pamijahan ada tempat tertentu yang dilarang secara adat untuk merokok, khususnya tempat yang berada di sekitar makam Syech Abdul Muhyi. Adapun batas-batas wilayah larangan merokok antara lain: sebelah timur daerah Kaca-Kaca, sebelah barat jalan yang menuju ke gua dimulai dari masjid Wakaf, sebelah selatan dimulai dari makam Dalem Yudanagara (+ 300 m) dari makam Syech, sedang sebelah utara (±300 m) dari makam Syech, yaitu jalan umum yang menuju ke Makam Eyang Abdul Qohar di Pandawa.<br />
Singkat kata, wilayah-wilayah dengan batasan yang telah ditentukan tersebut adalah daerah larangan merokok menurut adat yang berlaku.<br />
Kisah-kisah semacam ini tidak akan dibahas lebih jauh. Yang perlu direnungi adalah hikmah yang berada di baliknya. Sebab, setiap cerita yang ada pada dasarnya menunjukkan keluasan ilmu, keluhuran pribadi dan kemuliaan pengabdian Syech Abdul Muhyi kepada masyarakat dalam perjuangannya mengajarkan prinsip-prinsip Islam dan menjauhkan mereka dari bentuk-bentuk kepercayaan yang sesat.<br />
Pamijahan sendiri pada dasarnya adalah nama sebuah kampung yang letaknya di pinggir kali, sehingga ia merupakan tempat yang menguntungkan karena masyarakat sekitar dapat mengolahnya untuk mengembang-biakkan ikan, akan tetapi kondisi ini juga bisa sebaliknya, yakni kadang-kadang membawa bencana, seperti banjir yang melanda daerah tersebut beberapa waktu yang lalu. Peristiwa ini membuat banyak rumah yang hanyut karena tidak kuat menahan banjir. Oleh karena itu pula, bangunan-bangunan yang sekarang masih ada dan terletak di tepi sungai harus dibuat permanen.<br />
Pamijahan termasuk ibu kota Desa di Wilayah Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Sebelum Syech datang ke Pamijahan, sudah ada kampung yakni daerah Bojong, wilayah Sukapura, terletak di sebelah Timur Laut dari kampung Pamijahan sekarang, yang kini dikenal dengan nama Kampung Bengkok. Di sana terdapat makam Dalem Sacaparana, mertuanya Syech Abdul Muhyi.<br />
Adapun kata “Pamijahan” adalah nama baru, di masa hidup Syech Abdul Muhyi sendiri nama tersebut belum dikenal. Wilayah ini disebut oleh Syech Abdul Muhyi dengan istilah Safar Wadi. Nama ini diambil dari kata Bahasa Arab, yakni: safar yang berarti &#8220;jalan&#8221; dan wadi yang berarti &#8220;lembah&#8221;. Jadi, Safar Wadi adalah jalan yang berada di lembah. Hal ini disesuaikan dengan letaknya yang berada di antara dua bukit di pinggir kali.<br />
Namun sekarang Safar Wadi dikenal juga dengan nama Pamijahan, karena banyak orang yang berdatangan dari pelosok Pulau Jawa secara berduyun-duyun, laksana ikan yang akan bertelur (mijah). Karena itu nama Safar Wadi kemudian berganti menjadi Pamijahan, sebab mempunyai arti yang hampir mirip dengan tempat ikan akan bertelur, dan bukan berarti tempat &#8220;pemujaan”.<br />
Goa Safarwadi merupakan salah satu tujuan utama peziarah yang berkunjung ke Pamijahan. Panjang lorong goa sekitar 284 meter dan lebar 24,5 meter. Peziarah bisa menyusuri goa dalam waktu dua jam. Salah satu bagian goa yang paling sering dikunjungi adalah hamparan cadas berukuran sekitar 12 meter x 8 meter yang disebut sebagai Lapangan Baitullah. Tempat itu dulu sering dipakai shalat oleh Syech Abdul Muhyi bersama para santrinya.<br />
Di samping lapangan cadas itu terdapat sumber air Cikahuripan yang keluar dari sela-sela dinding batu cadas. Mata air itu terus mengalir sepanjang tahun. Oleh masyarakat sekitar, air itu dipopulerkan sebagai air “zam-zam Pamijahan.” Air ini dipercaya memiliki berbagai khasiat. Menjelang Ramadhan, para peziarah di Pamijahan tak lupa membawa botol air dalam kemasan, bahkan jerigen, untuk menampung air “zam-zam Pamijahan” itu. Dengan minum air itu, badan diyakini tetap sehat selama menjalankan ibadah puasa.<br />
Syech Muhyi ini disebut juga oleh bangsa wali lainnya dengan gelar A’dzomut Darojat, yang artinya “orang yang mempunyai derajat agung.” Bercerita tentang derajat kewaliyan, tentu kita hanya paham atau mengerti secara sepintas, bahwa yang disebut derajat seperti ini hanya ada di zaman Wali Songo. Sebenarnya pemahaman seperti ini tidak benar, karena derajat Waliyulloh akan terus mengalir hingga sampai pada akhir zaman sebagai sunnaturrosul.<br />
Syech Abdul Muhyi dalam sejarah hidupnya adalah seorang yang zuhud, pintar, sakti dan terkenal paling berani dalam memerangi musuh Islam. Namun semua itu adalah masa lalu dan kini hanya tinggal kenangan belaka. Hanya saja walau ia sudah ratusan tahun telah tiada, namun rohmat serta kekeramatannya masih banyak diburu, terutama oleh para peziarah yang minta berkah lewat wasilahnya.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 512 05 Mei – 19 Mei 2011</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/kisah-supranatural-keramat-pamijahan-oleh-mawan-suganda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegaiban Sungai Citarum (oleh:Ayi Ruswanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/kegaiban-sungai-citarum/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/kegaiban-sungai-citarum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 06:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Sungai Citarum selalu  dituding sebagai penyebab utama terjadinya banjir di kawasan Kabupaten Bandung, juga daerah-daerah lain di sepanjang aliran sungai terbesar sekaligus terpanjang di Provinsi Jawa Barat itu. Induk sungai... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/kegaiban-sungai-citarum/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_320" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-320" href="http://majalah-misteri.net/kegaiban-sungai-citarum/citarum-2/"><img class="size-medium wp-image-320" title="citarum-2" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/citarum-2-300x201.png" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Kramat Eyang Dipati Ukur</p></div>
<p>Sungai Citarum selalu  dituding sebagai penyebab utama terjadinya banjir di kawasan Kabupaten Bandung, juga daerah-daerah lain di sepanjang aliran sungai terbesar sekaligus terpanjang di Provinsi Jawa Barat itu. Induk sungai ini berhulu dari tujuh mata air yang berinduk dari sumber-sumber mata air lainnya yang ada di kawasan gunung-gunung besar yang berada di sekeliling kawasan Bandung. Dari selatan ada anak sungai besar bernama Cisangkuy, dan dari utara ada anak sungai Cikapundung. Kedua anak sungai tersebut bermuara di Citarum, kawasan bekas Ibukota Bandung lama, yakni Baleendah dan Dayeuhkolot. Karena itu sangat wajar kiranya, jika pada puncaknya musim penghujan tiba, kedua titik ini dapat dipastikan akan dilanda luapan air sungai yang melimpah, alias banjir.<span id="more-319"></span></p>
<p>Tahun ini, berdasar pengakuan para penduduk perkampungan korban banjir di kedua daerah tersebut, merupakan banjir terbesar. Di samping luapan banjir yang begitu cepat, juga kawasana yang terkena banjir pun semakin luas. Rumah-rumah atau perkampungan yang biasanya tidak terkena, kini ikut terendam banjir. Bahkan jalan raya yang sengaja dibangun lebih tinggi pun, ikut pula tergenang, sehingga berdampak terputusnya arus transportasi.<br />
Terlepas dari cerita tentang banjir, sebagaimana hasil investigasi Misteri, di balik namanya yang terkenal itu, Citarum ternyata banyak menyimpan cerita misteri yang menarik digali sekaligus diketahui. Konon, nama Citarum sebagai sebuah sungai tua sudah ada sejak zaman sebelum kota Bandung terbentuk. Bahkan, nama Citarum sudah dikenal dan sudah ada jauh tatkala kawasan Bandung masih berupa cekungan, atau sebelum terjadinya pristiwa Bandung menjadi sebuah danau raksasa, yang lebih masyhur dikenal dengan nama telaga. Ini terjadi untuk jangka waktu ratusan tahun lamanya.<br />
Sebagaimana catatan sejarah yang dapat dibaca, bahwa konon kawasan Bandung dulunya masih berupa hutan, dengan cekungan yang ada di bawah kaki Gunung Sunda. Di bagian utara cekungan ini sejak dulunya telah dibelah oleh sebuah aliran sungai bernama Citarum, yang titik hulunya berasal dari sebuah gunung lain di kawasan selatan, dengan arah alirannya menuju ke barat hingga menembus sebuah gunung lainnya yang ada disana, sebelum akhirnya terus mengalir ke kawasan luar Bandung yang ada di sebelah barat.<br />
Karena suatu peristiwa alam yang menghebohkan, yakni meleutusnya Gunung Sunda yang disebutkan berada di bagian utara Bandung saat ini, maka dampaknya  antara lain terjadinya luapan larva, serta bebatuan-bebatuan besar. Kesemuanya itu mengalir memenuhi aliran Sungai Citarum.<br />
Karena aliran Sungai Citarum menuju ke laut yang berada di bagian barat Pulau Jawa yang sebelumnya harus melewati terowongan sungai di bawah Gunung Sunda, oleh sebab banyaknya bebatuan yang terbawa serta limpahan larva akhirnya tersumbat. Aliran sungai yang melewati terowongan secara otomatis tertampung di antara cekungan Bandung. Karena peristiwa ini, konon, untuk sekian ratusan tahun lamanya kawasan Bandung pun terendam dan berubah menjadi sebuah danau atau telaga raksasa. Hingga pada priode ratusan tahun berikutnya sumbatan bebatuan itu kembali terkikis dan Bandung pun kembali berubah menjadi daratan yang dialiri oleh banyak sungai-sungai kecil, yang kesemuanya berinduk pada sebuah sungai besar bernama Citarum.<br />
Kendati demikian, siapa sangka kalau Citarum yang selalu dituding sebagai pangkal penyebab banjir di kawasan Bandung itu asal muasalnya adalah dari sebuah selokan, atau setidaknya hanyalah sebuah sungai kecil  yang berasal dari kawasan hutan Gunung Wayang, Pangalengan. Menurut cerita, sedikitnya ada tujuh atau lima buah sumber mata air yang kemudian mengalir membentuk Sungai Citarum. Sumber-sumber mata air itu mengalir dari sela-sela bebatuan di puncak Gunung Wayang itu kesemuanya mengalir dan tertampung pada sebuah kolam penampungan kecil yang berada di bagian kaki gunung setinggi 2181 meter diatas permukaan laut tersebut. Akhirnya air tersebut mengalir melalui selokan-selokan kecil yang membelah areal pesawahan dan perkampungan.<br />
Namun, siapa sangka pula bahwa sumber air yang tertampung pada kolam kecil di kaki Gunung Wayang itu, sejak lama dikenal sebagai sumber air keramat. Pada setiap hari atau bulan-bulan tertentu, sumber air tersebut kerap didatangi banyak peziarah yang bertujuan mendapatkan berkah.<br />
“Sumber air ini merupakan sumber air keramat yang ada di Gunung Wayang, di samping tempat-tempat lainnya yang berada di atas bagian gunung ini,” jelas Pak Oman (63), sesepuh setempat yang kepada Misteri.<br />
Disampikan pula oleh Pak Oman, bahwa disamping banyak didatangi oleh para peziarah yang tujuannya bermacam-macam, sejak lama sekali kawasan Gunung Wayang telah menjadi semacam tempat wajib yang mesti diziarahi oleh mereka yang berhasrat menjadi dalang.<br />
“Hampir semua dalang besar yang namanya kini terkenal, pasati pernah mendatangi gunung ini,” tandasnya.<br />
Selain sumber air keramat, di kawasan ini pun terdapat sebuah makam petilasan yang dianggap sebagai bagian leluhur pegunungan gaib hulu Citarum. Makam tersebut berada tepat di sebelah kanan sumber air dan dikenali dengan sebutan Makam Eyang Dipati Ukur.<br />
“Bisanya, setelah melakukan ritual mandi di sumber air Citarum, maka selanjutnya para peziarah pun melakukan ziarah ke makam Eyang Dipati Ukur. Mereka umumnya melakukan ritual pengukuran tongkat,” tambah Pak Oman.<br />
Lebih lanjut kakek puluhan cucu ini menjelaskan, bahwa ritual tongkat yang dipotong sepanjang dua rentangan tangan (Sadeupa: B. Sunda) itu merupakan sibol keberuntungan. Biasanya, setelah melakukan ritual khusus peziarah akan melakukan pengukuran makam dengan tongkat tersebut. Kalau ternyata panjang makam sama dengan tongkat, maka segala permaksudan si peziarah akan tercapai. Sebaliknya, bila panjang tongkat tidak sama dengan panjang makam, maka permaksudannya masih belum saatnya terkabulkan. Uniknya, ada saja peziarah yang mengalami kejadian seperti ini. Aneh, memang. Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.<br />
Berdasar informasi yang berhasil dihimpun Misteri, alur Sungai Citarum yang mengalir dari hulu hingga ke titik paling akhir dari kawasan Bandung, konon terbagi dalam dua alur kekuatan dimensi gaib. Dari arah hulu hingga titik tengahnya yang berada di sekitaran kawasan Daeyeuhkolot, memiliki penguasa gaib yang berwujud seekor kerbau siluman yang tanduknya yang seperti patah menggelantung ke bawah, atau dalam istilah masyarakat setempatnya disebut Munding Dongkol.<br />
Menurut pengakuan kebanyakan masyarakat sepuh di sana, konon kemunculan kerbau jejadian ini biasanya terjadi menakala air Sungai Citarum akan meluap atau banjir. Kerbau jejadian tersebut jika kebetulan ada yang melihat penampakannya dan dia sedang berenang di tengah sungai dari arah hulu ke titik batas kekuasaannya, maka dapat dipastikan banjir besar akan berlangsung.<br />
“Seperti pada saat akan terjadinya banjir besar akibat meluapnya Sungai Citarum pada sekitar tahun 1986 silam. Dengan mata kepala sendiri, saya sempat menyaksikan penampakkan kerbau siluman Munding Dongkol itu. Dia sedang berenang-renang di tengah sungai. Namun pada saat menjelang banjir besar sekarang saya tidak melihatnya. Mungkin ada orang lain yang sempat melihatnya,” cerita Pak Oyo (50), penduduk sebuah perkampungan di Dayeuhkolot.<br />
Dijelaskan pula, Munding Dongkol yang biasanya muncul sebagai pertanda akan terjadinya banjir itu, yang akan terlihat cuma bagian kepalanya saja. “Dia akan nampak seperti kerbau yang tenggelam dan mengalir terbawa arus!” tandasnya.<br />
Sementara itu, dari kawasan Dayeuhkolot hingga ke alur paling akhir, yakni di ujung paling barat kawasan Badung, konon Sungai Citarum ini memiliki penunggu gaib lainnya, yang berwujud seekor ular besar berwarna hitam dengan lingkaran putih dibagian lehernya, atau menyerupai kalung. Ular jejadian ini oleh masyarakat setempat dikenali dengan sebutan Raden Kalung. Penamaan ini konon karena asal muasalsi ular merupakan seorang putera bupati yang sempat mengawini perempuan dari bangsa jin.<br />
Raden Kalung menjadi penguasa gaib Sungai Citarum konon tidak lain adalah atas perintah ayahandanya sendiri.<br />
“Raden Kalung itu merupakan penunggu sungai yang baik, karena biasanya dia akan membantu menolong orang-orang yang tenggelam di sungai. Terutamanya adalah mereka yang memiliki hubungan saudara dengannya, ” cerita Mardiyah (65), seorang ibu yang ditemui Misteri dan ditinggal di sebuah perkampungan tepian Citarum.<br />
Lebih lanjut dijelaskan oleh wanita tua yang juga mengaku memiliki hubungan keturunan dengan sosok Raden Kalung ini, bahwa konon wujud sebenarnya dari ular jadi-jadian  itu ialah bagian kepalanya merupakan kepala manusia. Persisnya kepala seorang laki-laki berwajah tampan.<br />
Mengiringi cerita terjadinya banjir besar yang melanda kawasan Bandung tahun ini, warga di beberapa perkampungan yang ada di dua kecamatan berbeda, yakni Baleendah dan Dayeuhkolot, dalam selang waktu yang berbeda pula, sempat dihebohkan oleh sebuah kejadian aneh. Ketika air Sungai Citarum itu meluap hingga menggenangi daratan, warga di kedua perkampungan tersebut dikabarkan sempat mendapat dua ekor ular berukuran yang sangat besar. Ular tersebut berjenis sanca kembang dengan ukuran panujang sekitar enam meteran.<br />
Keanehan ular tersebut hingga kini masih menjadi cerita dan tanda tanya yang belum terjawab. Diceritakan, setelah kedua ular tersebut berhasil di tangkap secara beramai-ramai oleh masing-masing warga di kedua kampung tadi, esok paginya kedua hewan itu sama-sama hilang dari kandangnya. Padahal, kedua ular tersebut disimpan dalam sebuah tempat berupa peti dari kayu yang besar dan siangnya sempat menjadi tontonan di tengah bajir. Yang tak kalah aneh, peti tempat penyimpanannya masih dalam keadaan utuh.<br />
Apakah kedua ekor ular itu merupakan sosok gaib yang menjadi bagian dari penunggu Sungai Citarum? Atau jangan-jangan hewan itu merupakan perwujudan dari penguasa gaib bernama Raden Kalung? Sungguh sebuah pertanyaan menggelitik yang selamanya selalu menarik untuk terus diterlusuri.</p>
<p>BOKS:<br />
CITARUM<br />
DI ZAMAN TARUMANEGARA</p>
<p>Situs Batujaya Karawang diduga merupakan sisa-sisa peninggalan dari Kerajaan Tarumanagara. Demikian juga dengan situs candi yang ditemukan di daerah Bojongmenje Rancaekek, Kabupaten Bandung. Makna kedua temuan ini bagi masyarakat Jawa Barat merupakan suatu hal yang sangat berarti untuk memperjelas keberadaan orang-orang Sunda dalam pentas sejarah di Pulau Jawa pada masa klasik, yaitu masa sebelum pengaruh Islam masuk dan berkembang.<br />
Temuan Candi di Batujaya Karawang erat kaitannya dengan Prasasti Tugu, yaitu prasasti yang terdapat di Desa Tugu, dekat Tanjung Priok. Dalam Prasasti Tugu tersebut dinyatakan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan untuk menggali dua kanal, yaitu Candrabaga dan Gomati, di mana kedua kanal tersebut alirannya terlebih dahulu dibelokkan ke sekitar istananya dan kemudian dialirkan kembali ke muara.<br />
Panjangnya kanal tersebut setelah digali sejauh 6.122 tumbak, oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka diperkirakan panjangnya 11 km. Jika perkiraan Purbatjaraka ini digunakan sebagai patokan dalam menelusuri bekas reruntuhan keraton Tarumanegara, maka situs Batujaya tersebut merupakan lokasi yang paling tepat untuk diasumsikan sebagai lokasi bekas keraton Raja Purnawarman. Ini karena jarak antara lokasi situs dengan Muara Bendera (tempat terpecahnya aliran sungai Citarum menjadi dua, yaitu yang menuju Muara Pakis dan yang menuju Muara Gembong) berjarak sekitar 11 kilometer. Perkampungan yang terletak antara dua pecahan aliran Sungai Citarum sampai bibir Pantai Pakis dan Muara Gembong merupakan sebuah delta yang terus mengalami pendangkalan akibat kegiatan sedimentasi yang dibawa oleh aliran Sungai Citarum.<br />
Dugaan bahwa pantai purba tempat bermuaranya kanal Candrabaga dan Gomati yang digali oleh Raja Purnawarman terletak di Muara Bendera, berdasarkan pada kegiatan sedimentasi sungai yang terjadi pada aliran Sungai Citarum. Dari arah hulu, aliran sungai membawa sumber-sumber endapan seperti sampah dan lumpur yang kemudian membentuk delta pada Muara Bendera tersebut. Akibat sedimentasi yang terus menerus tersebut, telah memperbesar areal delta dan memecah aliran Sungai Citarum menjadi dua, yaitu yang menuju Muara Pakis dan yang menuju Muara Gembong.<br />
Jarak antara Muara Bendera ke Muara Pakis sekarang sekitar 12 km dan yang menuju Muara Gembong kira-kira berjarak 15 km. Penelitian geologi di daerah sekitar Muara Bendera mungkin akan memberikan jawaban yang lebih akurat tentang dugaan letak muara purba seperti yang tertulis dalam Prasasti Tugu.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 489 20 Mei – 04Jun 2010</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/kegaiban-sungai-citarum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jembatan Keramat Peninggalan Jaman Majapahit (oleh:Suryadi Bejo)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/jembatan-keramat-peninggalan-jaman-majapahit/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/jembatan-keramat-peninggalan-jaman-majapahit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 11:24:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah desa yang jauh dari jantung kota Klaten, Jawa Tengah, terdapat sebuah tempat yang menurut cerita warga setempat dihuni oleh sesosok makhluk gaib. Tepatnya adalah sebuah jembatan yang akrab... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/jembatan-keramat-peninggalan-jaman-majapahit/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_242" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-242" href="http://majalah-misteri.net/jembatan-keramat-peninggalan-jaman-majapahit/jembatan-demangan/"><img class="size-medium wp-image-242" title="jembatan-demangan" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/03/jembatan-demangan-300x216.gif" alt="" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">Jembatan Demangan</p></div>
<p>Di sebuah desa yang jauh dari jantung kota Klaten, Jawa Tengah, terdapat sebuah tempat yang menurut cerita warga setempat dihuni oleh sesosok makhluk gaib. Tepatnya adalah sebuah jembatan yang akrab disebut sebagai Jembatan Demangan, atau banyak juga yang menyebutnya sebagai Jembatan Keramat. <span id="more-241"></span></p>
<p>Tertarik oleh cerita gaib yang berkembang, beberapa pekan lalu Misteri coba mendatangi lokasi yang dimaksud. Jembatan Keramat ini posisinya berada di Dukuh Demangan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Jembatan ini merupakan jalur penghubung dengan desa di sebelah timurnya, dan terletak di atas sungai yang lebar dan panjang. Sungai ini merupakan anak sungai Bengawan Solo, yang lebih popoler disebut Kali Dengkeng.</p>
<p>Bila ditarik garis lurus sungai ini akan menuju ke arah wilayah Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Tembayat. Di atas kali Dengkeng inilah Jembatan Keramat itu berdiri.</p>
<p>Dikisahkan, sekitar beberapa puluh tahun yang lampau, bentuk jembatan tersebut hanya sederhana saja. Bahan yang digunakan adalah kayu yang berasal dari pohon Donoloyo.</p>
<p>Kabarnya, jembatan ini sudah ada sekitar masa-masa kejayaan Majapahit. Pada waktu itu Prabu Brawijaya yang disertai para pengikutnya dari kerajaan hendak berkunjung ke Mataram. Tetapi perjalanan mereka terhenti di tengah-tengah sungai yang membentang. Kemudian Prabu Brawijaya V pada suatu malam mengumpulkan pengikutnya untuk diajak bermusyawarah. Setelah musyawarah tersebut sang Prabu akhirnya memerintahkan para pengikutnya agar besok pagi membuat jembatan.</p>
<p>Suatu malam, Prabu Brawijaya berjalan-jalan di sepanjang sungau. Namun di tengah perjalanannya di sepanjang sungai tersebut ia dikejutkan oleh sesosok orang yang menurutnya aneh. Mengapa disebut aneh? Karena di tengah malam ada seorang pemancing ikan dalam posisi duduk. Tetapi anehnya pemancing ikan tersebut tubuhnya tidak menyentuh tanah. Sang raja pun segera mendekati pemancing itu. Lalu terjadilah perbincangan di antara mereka.</p>
<p>“Maaf, selamat malam, Kisanak!” sapa Prabu Brawijaya setelah sampai di dekat pemancing.</p>
<p>“Selamat malam!” pemancing itu menjawab sambil menoleh ke arah Brawijaya.</p>
<p>“Maaf mengganggu panjenengan,” timpal Brawijaya.</p>
<p>“Oh, tidak apa-apa. Maaf jika boleh tahu siapakah tuan ini?”</p>
<p>“Saya hanyalah orang biasa yang hendak menyeberang sungai ini,” Brawijaya merendah.</p>
<p>“Sepertinya tuan ini orang kaya, setidaknya bangsawan?”</p>
<p>“Ah, tidak! Saya hanya kaum biasa, Kisanak.”</p>
<p>“Lantas apa maksud sampeyan menemui saya?”.</p>
<p>“Bila Kisanak berkenan kami mau minta tolong.”</p>
<p>“Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?”</p>
<p>“Tolong buatkan kami sebuah jembatan, agar kami bisa meneruskan perjalanan!”</p>
<p>“Apakah mungkin saya bisa, Tuan?”</p>
<p>“Saya yakin panjenengan bisa. Berapapun biayanya akan kami bayar!”</p>
<p>“Soal bayaran gampang, nanti bisa dilakukan setelah pekerjaan selesai.”</p>
<p>“Maaf sebelumnya, bila boleh tahu, siapa nama Kisanak ini?”</p>
<p>“Nama saya Demang Entru”.</p>
<p>“Baik Ki Demang. Kapan siap mengerjakannya?”</p>
<p>“Karena hari ini telah larut malam, maka besok pagi akan saya kerjakan.”</p>
<p>“Kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih Ki Demang!”</p>
<p>Mereka berjabat tangan, lalu Brawijaya meninggalkan lelaki setengah baya itu.</p>
<p>Ketika pagi telah menyingsing, baik Prabu Brawijaya maupun para pengikutnya terkejut. Bagaimana tidak, di tengah-tengah sungai tersebut sudah ada jembatan yang terbuat dari kayu Donoloyo. Merekapun mencari-cari sosok lelaki setengah baya yang semalam dijumpai Prabu Brawijaya. Setelah dicari kesana kemari, lelaki misterius itu tidak ditemukan, lalu Brawijaya mengumpulkan para pengikutnya. Ia menyarankan agar mereka tidak perlu mencari sosok lelaki misterius tersebut. Karena Brawijaya tahu bila yang mereka cari itu bukan manusia biasa. Merekapun melanjutkan perjalanan melewati jembatan yang baru tersebut.</p>
<p>Seiring dengan kemajuan zaman serta pergantian generasi ke generasi, jembatan tersebut oleh warga setempat mulai direnovasi, dengan maksud untuk lebih memperkokoh dan memperkuat infastruktur.</p>
<p>Diceritakan, sekitar tahun 2004 hingga 2005 warga setempat mencoba melakukan renovasi dengan dukungan pemerintah setempat. Namun ada keganjilan terjadi ketika pembangunan sedang berlangsung. Fenomena yang terjadi adalah jembatan tersebut selalu ambrol atau roboh.</p>
<p>Menurut sumber Misteri, lebih dari tujuh kali jembatan tersebut hendak di renovasi, namun selama itu pula selalu gagal. Ketika mendekati finishing atau ketika pembangunan tinggal hanya beberapa persen akan selesai, ternyata selalu ambrol atau roboh lagi. Fenomena itu menyiratkan pesan sepertinya jembatan itu memang tidak mau dibangun.</p>
<p>Warga setempat seperti makan buah simalakama, dikerjakan salah tidak dikerjakan juga salah. Bila tidak dikerjakan, jembatan lama terlanjur dipugar, jika diteruskan pembangunannya selalu ambrol. Sementara jembatan tersebut merupakan penghubung utama antara Desa Demangan dengan Desa Majasto yang terletak di timur sungai.</p>
<p>Menyikapi hal itu, sebagian warga mengusulkan untuk mencari seorang yang ahli dalam hal metafisika dunia gaib. Mereka mendatangkan seorang paranormal. Setelah sampai di lokasi, paranormal yang dipanggil warga, melakukan deteksi metafisika. Manurut salah seorang penduduk Desa Demangan yang ketika itu mengikuti dan menyaksikan ritual menyebutkan bahwa jembatan tersebut sebenarnya bisa direnovasi dan bisa dibangun. Syaratnya penunggu jembatan tersebut harus dipindahkan dulu. Letak atau tempat penunggu jembatan tersebut persis di bawah jembatan yang hendak dibangun. Tempat tersebut berbentuk bekas pohon Donoloyo yang di zaman silam adalah bekas digunakan untuk membuat jembatan penyeberangan bagi Prabu Brawijaya V dan pengikutnya.</p>
<p>Beberapa waktu lalu sebelum jembatan dibangun, bekas pohon Donoloyo tersebut sering didatangi para pencari pesugihan. Pada malam hari mereka melakukan tirakat kungkum atau berendam diri di tengah sungai dekat pohon Donoloyo tersebut.</p>
<p>Sumber Misteri juga menyebutkan, bila kayu Donoloyo itu dipotong, maka akan bisa mengeluarkan darah. Benar tidaknya tergantung dari sisi mana kita menyikapinya. Yang pasti, karena cerita inilah maka banyak para pencari pesugihan mendatangi lokasi itu.</p>
<p>Setelah paranormal yang enggan disebutkan namanya itu berhasil memindahkan Mbah Entru, maka pembangunan jembatan bisa diteruskan. Namun pembangunan jembatan tersebut sedikit bergeser ke arah selatan dari letak tempat kediaman Mbah Entru.</p>
<p>Sebelum jembatan itu dibangun, telah banyak warga mengalami keganjilan di lokasi yang dimaksud. Berikut ini pengakuan beberapa orang yang pernah mengalami hal-hal gaib di atas jembatan:</p>
<p>Suyanto (57), warga Dukuh Pugeran Karangdowo mengaku sempat merinding. Ketika itu dia baru pulang dari menghadiri hajatan tetangga desa sebelah yakni di Dukuh Majasto. Ketika sampai di atas jembatan itu tiba-tiba motornya mogok. Pada saat itulah ia melihat ke arah bawah jembatan di sebelah utara ada sesosok lelaki yang sedang duduk sambil menghisap rokok. Seketika itu pula bau kemenyan menusuk hidung lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini.</p>
<p>Lain halnya dengan Parwo (47), warga Gebungan Pedan. Ia juga mengalami hal aneh ketika hendak berkunjung ke Gunung Majasto, tempat Mbah Merbot, salah seorang kenalannya. Di tengah-tengah jembatan tersebut Yamaha miliknya mendadak mogok. Tidak lama kemudian Parwo seperti mendengar ada suara seorang lelaki tua yang memanggilnya, minta tolong agar Parwo turun ke bawah. Suara itu berasal dari bawah jembatan. Sepertinya suara itu menggambarkan empunya suara tercebur sungai. Karena merasa bulu kuduknya merinding, maka lelaki beranak empat tersebut sekencang-kencangnya menuntun motornya berlari dari atas jembatan.</p>
<p>Sesampai di tempat Mbah Merbot Majasto kenalannya, Parwo menceritakan kejadian yang baru dialami itu. Mbah Merbot memberi keterangan pada Parwo, bila suara itu merupakan suara dari Mbah Entru, sang penunggu Jembatan Demangan yang terbentang di atas sungai yang mempunyai lebar 70 meter tersebut. Merbot menambahkan pula bahwa tidak semua orang bisa ditemui oleh Mbah Entru.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 509 20 Mar – 04 Apr 2007</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/jembatan-keramat-peninggalan-jaman-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keramat Bukit Ngonang di Desa Sukomoro (Oleh : Sukandar)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/keramat-bukit-ngonang-di-desa-sukomoro-oleh-sukandar/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/keramat-bukit-ngonang-di-desa-sukomoro-oleh-sukandar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 14:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keramat]]></category>
		<category><![CDATA[Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, dahulu kala ada sebuah kerjaan yang berdiri megah di wilayah Palembang sekarang ini. Kerajaan yang tidak disebutkan namanya ini suatu ketika diserang oleh karajaan dari pulau Jawa. Akibat penyerangan... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/keramat-bukit-ngonang-di-desa-sukomoro-oleh-sukandar/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_102" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-102" href="http://majalah-misteri.net/keramat-bukit-ngonang-di-desa-sukomoro-oleh-sukandar/bukit-ngonang/"><img class="size-medium wp-image-102" title="BUKIT-NGONANG" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/01/BUKIT-NGONANG-300x228.png" alt="BUKIT-NGONANG" width="300" height="228" /></a><p class="wp-caption-text">BUKIT-NGONANG</p></div>
<p>Syahdan, dahulu kala ada sebuah kerjaan yang berdiri megah di wilayah Palembang sekarang ini. Kerajaan yang tidak disebutkan namanya ini suatu ketika diserang oleh karajaan dari pulau Jawa. Akibat penyerangan yang hebat dan sangat mendadak tersebut, maka kerjaan yang megah itu pun hancur, rata dengan tanah.<span id="more-101"></span></p>
<p>Dikisahkan pula, bahwa di saat-saat akhir sebelum kerejaaan ini jatuh ke tangan para penyerang, sang Raja yang berkuasa dengan arig meminta kepada ke tiga anaknya agar segera pergi meninggalkan istana. Ketiga anak sang Raja itu masing-masing adalah: Pangeran Ngondang, Pangeran Ngonang, dan yang bungsu seorang dara yang cantik jelita bernama Ngunti Komala Sari.</p>
<p>Kepada ketiga darah dagingnya, raja meminta agar sebelum kerjaannya jatuh ke tangan prajurit musuh, mereka harus bergegas pergi dengan membawa harta secukupnya untuk bekal di perjalanan nanti.</p>
<p>“Ingatlah anak-anakku! Janganlah kalian berhenti sebelum kapal yang kalian kemudikan berhenti dengan sendirinya. Bila kapal itu telah berhenti sendiri, maka di situlah tempat kalian memulai kehidupan baru!” Kita-kita, begitulah pesan terakhir sang Raja kepada ketiga anaknya.</p>
<p>Setelah menerima pesan terakhir, dan dengan membawa bekal harta secukupnya, berangkatlah ketiga anak Raja itu meninggalkan istana yang telah rata dengan tanah. Meraka pun harus menempuh perjalanan yang sangat panjang, hingga akhirnya berhentilah kapal yang meraka layarkan di sebuah daerah di Sungai Rawas, karena kapal mereka tersangkut di sebuah batu cadas.</p>
<p>Daerah tempat berhentinya kapal tersebut kini dikenal sebagai Desa Sukomoro. Sedangkan batu cadas tempat kapal mereka tersangkut kini masih tetap ada.</p>
<p>Setelah kapal mereka kandas di deareh tersebut, maka mereka bertiga pun memulai kehidupan baru dengan memiliki bidang pekerjaan masing-masing. Ngondang, saudara tua selalu betapa atau bersemedi diatas batu pinggir sungai. Sedangkan Ngonang suka berburu rusa, sementara adik mereka, Ngunti, suka menenun kain songket.</p>
<p>Berdasarkan cerita dari nenek moyang Desa Sukomoro yang dituturkan secara turun temurun, Ngunti Komala Sari tidak hanya cantik jelita. Sang putri ini juga memiliki rambut yang sangat indah, yang panjangnya sampai ke tumit kakinya, dan hitam mengkilap warnanya.</p>
<p>Hari demi hari ketiga bersaudara itu sibuk menjalankan aktifitasnya masing-masing. Sementara, sebuah peristiwa terjadi pada diri Pangeran Ngoang. Pada suatu ketika, di saat sedang asyik berburu di tengah hutan di pinggir sungai Batang Hari, Jambi, Pengeran Ngonang melihat ada putrid raja yang sedang mandi.</p>
<p>Alangkah cantik putrid raja itu. Karenanya, timbulah hasrat Pangeran Ngonang untuk meminang putri tersebut sebagai istrinya. Namun apa hendak di kata. Pangeran Ngonang harus menyadari status dirinya. Dia tidak ada ubahnya seperti rakyat biasa yang tak punya apa-apa, karena dia kini adalah pangeran yang tengah hidup terbuang di tempat persembunyian.</p>
<p>Namun, hasrat Pangeran Ngonang tak dapat diredam lagi. Dengan tekad yang bulat dia berjanji akan tetap berusaha meminang putrid Raja tersebut, dan kelak akan dia jadikan sebagai istrinya.</p>
<p>Untuk mewujudkan hasratnya ini, satu-satunya jalan adalah dengan meminta keajaiban dari Yang Maha Kuasa. Maka karena itu, mulai Pangeran Ngonang bertapa, seraya memohon pada Sang Maha Pencipta agar bisa memberinya jalan yang terbaik untuk meminang putri dambaan hatinya.</p>
<p>Setelah genap 40 hari bertapa tanpa makan dan minum, di hari terakhir datanglah seorang kakek. Sang kakek kemudian memberinya selembar kain songket yang berwarna hitam. Si kakek menyuruh Pangeran Ngonang untuk menyerahkan songket itu kepada putrid dambaan hatinya, sebagai mahar perkawinan mereka.</p>
<p>“Disaat tangan sang putri menyentuh kain songket ini, maka dia akan jatuh cinta setengah mati kepadamu, Pengeran. Karena itu kau harus berusaha untuk bisa menemuinya!” Begitulah pesan yang disampaikan si kakek kepada Pangeran Ngonang.</p>
<p>Namun, sebelum melaksanakan pesan itu ada syarat yang harus dilakukan oleh Pangeran Ngonang. Ya, sebelum dia menyerahkan kain keramat tersebut kepada putri dambaan hatinya, sang pangeran harus menjemurnya terlebih dahulu selama satu minggu. Kain keramat tersebut tidak boleh diangkat dari jemuran sebelum sampai 7 hari, walau apapun yang terjadi.</p>
<p>Pangeran Ngonang sangat senang karena tapanya membawa hasil. Dengan senang hati dijemurlah kain songket tersebut di depan pondoknya. Setelah menjemur kain keramat tersebut, dia pun kembali menjalankan pekerjaannya, yakni pergi berburu ke hutan.</p>
<p>Sayangnya, sebelum pergi berburu Pangeran Ngonang lupa meninggalkan pesan kepada kakak dan adiknya. Maka, celakalah dia. Di saat  hari keenam hujan turun dengan lebatnya, dan secara spontan Ngunti Komala Sari mengangkat kain yang masih di atas jemuran tersebut.</p>
<p>Aneh, karena tindakannya ini, secara gaib Ngunti Komala Sari jatuh cinta kepada kakaknya, Pangeran Ngonang. Begitu pula sebaliknya yang terjadi pada Pangeran Ngonang. Dia melihat Ngunti adiknya laksana putri yang diidam-idamkannya selama ini.</p>
<p>Lambat laun Pangeran Ngondang, kakak tertua mereka, sadar akan ketidakberesan yang terjadi pada kedua adiknya. Betapa geramnya hati Pangeran Ngondang melihat kedua adiknya  itu jatuh cinta. Baginya, tidak ada cara lain untuk memisahkan mereka berdua, kecuali harus dibunuh salah satu di antara mereka.</p>
<p>Maka, rencana pembunuhan itu disusunlah. Di suatu siang, Pangeran Ngondang mengajak adiknya, Pangeran Ngonang, untuk menjala ikan di Sungai Rawas. Ketika tengah asyik menjala, secara diam-diam Pangeran Ngondang menusuk bahu adiknya, Pangeran Ngonang, dengan sebilah keris. Namun ajaib, keris tersebut malah patah menjadi dua bagian.</p>
<p>Melihat kakeknya berniat membunuhnya, dengan heran Pangeran Ngonang pun bertanya, “Mengapa kakak ingin membunuhku? Apa salahku?”</p>
<p>Dengan suara gemetar Pangeran Ngondang menceritakan kejadian yang dilihatnya selama ini, “Kamu telah jatuh cinta kepada adik kamu sendiri. Kamu tidak boleh melakukannya. Karena itulah aku ingin membunuhmu!”</p>
<p>Mendengar itu, Pangeran Ngonang sadar bahwa kejadian selama ini adalah akibat kesalahananya, sehingga membuat adiknya lupa pada dirinya sendiri. Ini semua karena pengaruh dari gaib yang ada pada kain songket hitam pemberian si kakek misterius. Dia pun berkata kepada kakaknya, “Jika Kakak ingin membunuhku maka tusuklah di siku tangan kiriku dengan kerisku sendiri. Aku pasti mati, Kak!”</p>
<p>Untuk menghidari aib yang lebih besar dan memalukan, Pangeran Ngondang memang terpaksa membunuh adiknya, dengan cara seperti yang diberitahukan Pangeran Ngonang.</p>
<p>Rupanya, di saat pembunuhan itu berlangsung, Ngunti Komala Sari, adik mereka, ingin mencuci beras ke sungai. Di saat melihat kekasihnya mati, Ngunti lalu melompat ingin menolong kekasihnya. Tetapi kepalanya membentur batu dan akhirnya mati.  Ya, kedua kakek beradik itu bersama dalam tragedi cinta terlarang….</p>
<p>Untuk mengenang kejadian tersebut, oleh penduduk Desa Sukomoro, bukit tempat berlangsung peristiwa ini dinamai Bukit Ngonang, dan sampai sekarang kuburan kedua kakak beradik itu masih ada diatas bukit tersebut. Bahkan,  keris yang digunakan untuk membunuh Pangeran Ngonang masih ada dan disimpan oleh salah seorang warga yang mendapatkan keris tersebut melalui mimpi.</p>
<p>Sampai sekarang, masih banyak pecahan keramik, guci, serta alat-alat dapur yang tebuat dari tanah liat berserakan di sekitar makam Pangeran Ngonang dan Ngunti Komalasari. Berdasarkan cerita dari nenek moyang Desa Sukomoro, pecahan keramik tersebut adalah harta mereka disaat pelarian mereka dari istana kerajaan.</p>
<p>Mengenai kekramatan Bukit Ngonang disebutkan, pernah ada seorang warga yang memcoba menyepi di atas kuburan kakak beradik tersebut dan minta nomor buntut. Celakanya, orang ini malah lari terbirit-birit karena merasa dikejar oleh ular yang besar sekali.</p>
<p>Ada juga cerita tentang salah seorang warga yang ingin memancing di sungai Rawas. Dia tertidur dan didalam tidurnya dia bermimpi dikasih ilmu pengobatan alternatif oleh seorang kakek. Sampai sekarang warga ini selalu dipanggil untuk mengobati orang-orang yang memerlukan pertolongannya.</p>
<p>Seiring perjalanan sang waktu, Bukit Ngonang tak lagi seindah dulu. Kawasan hutannya yang dulu masih asri, karena penduduk tak mau menanam padi di atas bukit sebab mereka masih menghargai tempat ini, sekarang telah berubah menjadi ladang tempat menanam padi bagi warga Desa Sukomoro. Dan yang lebih menyedihkan lagi, tempat ini sekarang menjadai ajang muda mudi berpacaran. Kenyataan ini membuat pudarnya kramat Bukit Ngonang.</p>
<p>Lewat tulisan ini, Misteri mengajak, mari kita sama-sama menjaga tempat bersejarah peningalan masa lalu, namun bukan untuk memuja apalagi sampai meminta kepada selain Allah SWT. Bukankah bangsa yang baik itu adalah bangsa yang menghargai peningalan masa lalu atau sejarahnya?</p>
<p>Semoga kita selalu mendapat Rahmat dari Allah SWT. Amiiin…!</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/keramat-bukit-ngonang-di-desa-sukomoro-oleh-sukandar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
