<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah MISTERI Online &#187; Jelajah</title>
	<atom:link href="http://www.majalah-misteri.net/category/jelajah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalah-misteri.net</link>
	<description>Majalah Investigasi Supranatural</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 May 2013 09:58:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Meraih Karir dan Jabatan dengan Air Sumur Mas di Banyumas (oleh: Agus Siswanto)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/meraih-karir-dan-jabatan-dengan-air-sumur-mas-di-banyumas-2/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/meraih-karir-dan-jabatan-dengan-air-sumur-mas-di-banyumas-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 10:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Jelajah Misteri kali ini berawal dari cerita seorang teman seputar sumur yang airnya diyakini memiliki kekeramatan. Cerita semacam ini tentu saja bukan hal baru bagi Misteri. Tetapi cerita tentang air... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/meraih-karir-dan-jabatan-dengan-air-sumur-mas-di-banyumas-2/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_259" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-259" href="http://majalah-misteri.net/meraih-karir-dan-jabatan-dengan-air-sumur-mas-di-banyumas-2/sumur-mas/"><img class="size-medium wp-image-259" title="sumur-mas" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/04/sumur-mas-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">sumur mas</p></div>
<p>Jelajah Misteri kali ini berawal dari cerita seorang teman seputar sumur yang airnya diyakini memiliki kekeramatan. Cerita semacam ini tentu saja bukan hal baru bagi Misteri. Tetapi cerita tentang air sumur ini menjadi menarik lantaran orang-orang yang mengambil airnya bertujuan untuk urusan karir, kedudukan dan jabatan. Mereka yang ingin menjadi lurah, camat, bupati, gubernur, wakil rakyat atau presiden, berbondong-bondong datang ke sumur ini untuk mengambil karomahnya.<span id="more-258"></span></p>
<p>OLEH AGUS SISWANTO</p>
<p>Banyumas merupakan surga wisata alam dan budaya di Jawa Tengah bagian Barat. Beragam pesona tersebar di sejumlah wilayah, terutama di tiga kecamatan yakni Baturaden, Wangon, dan Banyumas.<br />
Di antara tiga kecamatan tersebut, Baturaden dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Kabupaten Banyumas yang memang kaya keindahan panorama hutan di kaki Gunung Slamet.<br />
Di Baturaden terdapat 2 obyek wisata, yakni lokawisata dan wanawisata. Sedangkan di Kecamatan Banyumas terdapat berbagai wisata religi dan budaya berupa Pesarean Dawuhan, Sumur atau Sendang Mas, Museum Wayang, Masjid Nur Sulaiman, dan Klenteng Boen Tek Bio.<br />
Pesarean Dawuhan merupakan kompleks pemakaman para mantan bupati Banyumas, salah satunya bupati pertama yakni Raden Joko Kahiman.</p>
<p>Dalem Kadipaten</p>
<p>Dalem Kadipaten Banyumas (Pendopo Si Panji) diperkirakan mulai dibangun paska Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu pada saat Bupati Banyumas, Raden Tumenggung Yudanegara III diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I.<br />
Dalem Kadipaten Banyumas memiliki ciri perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan budaya Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan.Ajaran sinkretis yang mempengaruhi falsafah Jawa berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, 4 pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di Dalem Kadipaten, seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan lantai, ornamen dan ragam desain interiornya.<br />
Dalem Kadipaten ini berada di sebelah Selatan alun-alun Banyumas. Di sebelah Barat alun-alun terdapat Masjid Nur Sulaiman yang dibangun tahun 1755 dengan Kyai Nur Daiman sebagai arsitek sekaligus Penghulu pertama. Masjid tertua di Banyumas ini dibangun setelah pembangunan Pendopo Si Panji. Masjid  ini juga merupakan salah satu cagar budaya.<br />
Di dalam kompleks Kadipaten terdapat Museum Wayang. Musium ini mengoleksi berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia, khususnya Jawa. Musium ini merupakan salah satu tujuan wisata budaya.<br />
Sekitar 300 meter di belakang Pendopo terdapat Kelenteng Boen Tek Bio yang merupakan kelenteng tertua di Kabupaten Banyumas. Keberadaan kelenteng ini turut melengkapi pesona wisata religi di wilayah ini<br />
Adapun Sumur Mas yang menjadi objek jelajah Misteri kali ini terletak di bagian belakang Dalem Kadipaten, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas atau sekira 20 kilometer dari Purwokerto, pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas. Dari nama Sumur Mas inilah asal-usul nama daerah Banyumas (air emas, bhs.Jawa).</p>
<p>Sumur Mas</p>
<p>Sejauh ini tidak diketahui secara pasti kapan dan bagaimana Sumur Mas itu dibuat. Tidak ada bukti otentik yang menyebutkannya. Berdasarkan tutur masyarakat, sumur itu dipercaya sudah ada sebelum berdirinya Kabupaten Banyumas. Uniknya, sumur ini hanya berdiameter beberapa sentimeter saja. Diameternya tak sebanding dengan diameter sumur pada umumnya.<br />
“Sumur itu dibuat oleh orang-orang yang pertama kali menempati Banyumas. Mereka membabat hutan untuk dijadikan hunian. Mereka juga membuat sumur untuk keperluan sehari-hari,” kata Darsun (78 tahun), juru kunci Sumur Mas.<br />
“Sejak itulah tempat ini ramai dihuni orang. Mungkin pada masa itu air Sumur Mas hanya untuk keperluan biasa. Tidak ada yang mengeramatkan,” lanjutnya.<br />
“Mengapa disebut sumur mas?Apakah ada emas di dalamnya” Tanya Misteri.<br />
“Dulu memang ada cerita warna air sumur itu terlihat memancar seperti cahaya emas. Warnanya bersinar kekuningan, “ Jawab  Darsun.<br />
Menurut Darsun, istilah mas atau emas itu tidak diketahui pasti asal mulanya. Apakah karena airnya bersinar keemasan atau ada emas di dalam sumur itu. Bisa juga dulunya sumur itu merupakan sumur satu-satunya yang dimanfaatkan penduduk yang paling awal menempati Banyumas. Atau mungkin mereka yang memanfaatkan air sumur itu memperoleh kegemilangan hidup, karir dan jabatan tinggi dan lain-lain, yang kemudian disimbolkan dengan istilah emas (keemasan).<br />
Lebih jauh dikatakan, diameter sumur yang hanya beberapa sentimeter ini menimbulkan pertanyaan bagaimana orang-orang di zaman dulu memanfaatkan air sumur ini.<br />
“Saya sering ditanya para peziarah seputar kecilnya diameter sumur ini. Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Ada yang mengatakan sumur ini tadinya berukuran biasa. Lalu mengecil seperti ukuran yang sekarang ini,” kilahnya.<br />
“Untuk mengambil airnya saja sulit. Tetapi justru  banyak orang yang menginginkan airnya,” katanya lagi.</p>
<p>Raih Jabatan dan Karir</p>
<p>Air Sumur Mas diyakini dapat memberikan berkah bagi para peziarah. Mereka datang dari penjuru tanah air, khususnya Jawa. Biasanya mereka datang pada hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.<br />
Peziarah datang dengan berbagai hajatnya masing-masing. Ada yang berharap dapat jodoh, kesehatan, usahanya maju, cepat naik pangkat dan jabatan, dan lain-lain.<br />
Menurut Darsun, hajat yang paling menonjol dari peziarah yang mengambil air Sumur Mas adalah berharap mendapatkan berkah berupa kenaikan karir,  kedudukan atau jabatan. Umumnya mereka bekerja di pemerintahan, perusahaan dalam negeri atau swasta.<br />
Dia memberi contoh, pegawai negeri yang ingin pangkat golongannya naik, karyawan perusahaan yang ingin jabatannya naik dan orang-orang yang ingin menjadi wakil rakyat (DPR dan DPRD) datang mengambil air Sumur Mas. Ada pula artis yang ingin terkenal datang meminum airnya.<br />
“Umumnya mereka memang hanya mengambil airnya saja, lalu pulang. Tetapi ada juga yang digunakan untuk mandi di sini,” katanya.<br />
“Tidak sedikit diantara mereka yang tirakat di dekat Sumur Mas sambil membawa ubo rampe,” lanjutnya.<br />
Selanjutnya dikatakan, mereka yang berhasil memeroleh keinginan biasanya datang lagi dan menceritakan keberhasilannya itu.<br />
“Apakah diantara mereka ada figur terkenal atau tokoh publik?” Tanya Misteri.<br />
“Ya, ada. Tetapi mohon namanya jangan ditulis,“Jawab Darsun seraya tersenyum.<br />
Menurutnya, mereka yang datang ada yang ingin menjadi lurah, camat, kepala desa, anggota legislatif atau ikut pilkada menjadi bupati atau gubernur. Ada juga yang mengaku utusan dari tokoh yang ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini.<br />
Orang-orang yang datang mengambil air tidak selalu tokoh yang bersangkutan. Tetapi mengaku utusan dari tokoh A atau B. Mereka minta diambilkan airnya. Sedangkan tokoh yang bersangkutan tidak datang.<br />
Ketika Misteri mendesak Darsun untuk memberitahu siapa-siapa saja sosok populer negeri ini yang pernah mengambil air Sumur Mas, dia mengelak halus sambil mengajak Misteri membuka-buka catatan buku tamu yang tersimpan rapi.<br />
“Buku tamu ini dibuat atas usulan mahasiswa yang sedang melakukan studi di tempat ini,” ujarnya sambil menyerahkan beberapa buku tulis berukuran besar (buku kas pembukuan).<br />
Misteri pun membuka lembar demi lembar catatan buku tamu itu. Catatan dalam beberapa kolom itu meliputi nomor urut, nama, alamat, tanggal kedatangan, jam kedatangan dan keperluannya/tujuannya.<br />
Beberapa nama yang tercatat diberi tanda atau sekadar diberi kode tertentu. Rupanya,  pria yang memiliki 7 anak dan 20 cucu ini cukup cerdik juga. Nama-nama yang diberi tanda itu biasanya punya hajat atau keinginan khusus.<br />
“Orang ini ingin menjadi wakil rakyat dan dia sudah terpilih 2 kali,” katanya sambil menunjuk salah satu nama diantara ribuan nama yang ada.<br />
Lebih jauh dikatakan, orang-orang terkenal (publik figur) yang datang, baik itu politisi, artis, dan lain-lain, biasanya tidak mau menulis buku tamu. Tetapi Darsun cukup mengenali beberapa sosok tokoh publik tersebut karena sering melihatnya di televisi.<br />
Darsun menyebutkan beberapa nama. Diantaranya Mayangsari, artis cantik yang namanya sempat menjadi headline berbagai media.</p>
<p>Kanjeng Eyang Panji Cokrobuwono<br />
Darsun mengisahkan, sejak muda dirinya sudah mengetahui mengenai karomah air Sumur Mas. Meski begitu, dia tidak mengetahui secara persis apa yang menyebabkan sumur itu menjadi pilihan bagi orang-orang yang mengingkan karir dan jabatan.<br />
“Saya baru percaya setelah mengalami peristiwa aneh,” kenangnya.<br />
Suatu malam Darsun tidur di teras belakang Dalem Kadipaten di dekat Sumur Mas. Antara sadar dan tidak, dirinya merasa ada yang mengguncang tubuhnya. Darsun pun bangun dan duduk sambil bersandar di tembok. Masih dalam keadaan mengantuk, dia melihat seberkas asap putih keluar dari dalam sumur. Sesaat kemudian, asap itu berubah wujudnya menjadi manusia.<br />
Darsun menatap ke arah sosok pria berjubah putih dengan sorban dikepalanya yang berdiri persis dihadapannya. Pria bersorban itu memberikan bunga Wijayakusuma. sambil mengeluarkan kata-kata bernada nasehat kepada Darsun. Beberapa saat kemudian pria itu pun menghilang.<br />
“Saya sempat heran dengan peristiwa yang saya alami. Saya seperti terkesima melihat penampilan sosok yang gagah itu. Apalagi kata-kata yang diucapkan sangat bijak persis seorang ulama atau kyai. Dia memerkenalkan dirinya bernama Kanjeng Eyang Panji Cokrobuwono,” kenang Darsun.<br />
Setelah kesadarannya pulih, dia tersentak kaget. Secara refleksi matanya melihat telapak tangannya. Tetapi bunga Wijayakusuma yang diberikan tidak ada. Padahal posisi tangannya masih tegak seperti sedang memegang sesuatu.<br />
Ketika Misteri menanyakan apa saja yang dikatakan sosok gaib Eyang Panji, Darsun menggelengkan kepala sambil mengatakan tidak ingat lagi perkataannya.<br />
Sebagaimana diketahui, dalam bahasa Jawa, Wijayakusuma bermakna kemenangan atau  lambang kemenangan dan kejayaan. Bunga ini memiliki mitos yang panjang. Bagi raja-raja Mataram yang baru dinobatkan, tidak akan sah diakui sebagai raja, baik dunia nyata ataupun gaib, sebelum berhasil memetik dan mendapatkan bunga Wijayakusuma untuk dijadikan Pusaka Keraton.  Diyakini pula, siapapun yang bisa memiliki bunga wijayakusuma, kelak akan menurunkan raja-raja yang besar dan lama berkuasa di Tanah Jawa. Karena itu Wijayakusuma menjadi kembang raja-raja Jawa.<br />
Panglima Besar Jenderal Soedirman (sebelum masuk militer) memberi nama koperasi yang didirikannya Persatuan Koperasi Indonesia Wijayakusuma. Bunga Wijayakusuma juga menjadi salah satu lambang dari wilayah Banyumasan dan sekitarnya.</p>
<p>BOX</p>
<p>WANGSIT GAIB SANG BUPATI</p>
<p>Benarkah air Sumur Mas dapat mendongkrak karir dan jabatan?<br />
Jawaban terhadap pertanyaan ini memang tidak mudah. Hal itu lebih disebabkan tipikal orang-orang yang pernah datang mengambil air Sumur Mas dikategorikan intelektual, bersikap modern dan cenderung tidak percaya hal-hal mistik.<br />
Dalam kenyataannya, orang-orang tersebut datang meski secara diam-diam. Terkadang  malah ada yang datang malam hari agar tidak dikenali orang.<br />
Sebenarnya wajar saja jika mereka tidak ingin kedatangannya dikenali orang. Mereka itu orang-orang yang dalam kehidupan sosialnya bersikap rasional. Tentu harga dirinya akan runtuh jika dikemudian hari diketahui karir dan jabatannya naik hanya karena mengambil air Sumur Mas.<br />
Darsun mengungkapkan dirinya sering mendapat telpon dari pejabat yang pernah datang. Selain uluk salam, mereka juga berterima kasih. Meski  ucapan itu sekadar basa basi belaka. Ada pula yang datang dan bersilaturahmi sambil mengatakan hajatnya berhasil.<br />
“Apakah Bapak menerima sesuatu (hadiah) dari orang-orang yang berhasil hajatnya itu?” Tanya Misteri.<br />
“Sekadarnya saja. Saya itu tidak mengharapkan apapun dari mereka. Tugas saya hanya merawat dan melestarikan warisan leluhur,” Jawabnya dengan ringan.<br />
Ketika Misteri menanyakan apa saja hadiah yang diterimanya jika ada peziarah yang berhasil, dia sedikit bercerita bahwa ada politisi yang berhasil terpilih menjadi wakil rakyat, setelah mengambil air Sumur Mas. Setelah berhasil dalam pemilu lalu, politisi itu datang lagi dan mengucapkan terima kasih. Sebelum politisi itu pamit pulang, sempat merogoh dompetnya lalu mengeluarkan selembar uang 50.000 rupiah.Tentu saja Misteri tertegun mendengar ceritanya.<br />
Darsun memang hidup dalam kesederhanaan. Padahal mereka yang datang adalah orang-orang yang memiliki ambisi-ambisi besar dalam hidupnya.</p>
<p>Tetapi sebuah keunikan yang belum lama terjadi adalah pro kontra seputar pembuatan sumur baru. Sebagaimana Misteri saksikan sendiri, di dalam ruang Dalem Kadipaten terdapat sebuah sumur baru yang dibangun atas perintah Bupati Banyumas saat ini, Mardjoko. Konon beliau mendapat wangsit gaib dalam bentuk mimpi agar membangun sebuah sumur di dalam salah satu ruang Pendopo Kecamatan tersebut.<br />
Wangsit gaib tersebut oleh Bupati Mardjoko direalisasikan pembangunannya. Tentu saja sikap ini mendapat reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat, mengingat didekatnya ada sumur peninggalan leluhur yang dikeramatkan dan dijaga kelestariannya. Tidak diketahui secara pasti alasan persisnya Sang Bupati membuat sumur baru itu.<br />
Sebagaimana tampak dalam gambar, letak sumur itu terasa janggal berada di dalam ruangan yang biasanya untuk rapat tersebut. Apalagi berjarak hanya sekira 10 meter dari Sumur Mas. Tentu saja air dalam sumur baru tersebut berada dalam reservoir yang sama dengan sumur mas.<br />
Meski tidak diketahui pasti manfaat sumur baru itu, namun keinginan Sang Bupati membuat sumur yang didasarkan atas sebuah wangsit gaib malah menimbulkan spekulasi Sang Bupati ini pernah memanfaatkan kekeramatan air Sumur Mas sebelum beliau menjabat bupati.<br />
Boleh jadi, setelah keinginannya menjadi bupati tercapai, lalu beliau mendapat wangsit gaib agar membangun sumur baru.<br />
Sikap Sang Bupati ini semakin mengukuhkan mitos air Sumur Mas yang selama ini diyakini dapat memenuhi keinginan peziarah memeroleh jabatan prestisius.<br />
Dengan kata lain, jika karir dan jabatan Anda ingin meningkat. Silahkan datang membuktikannya sendiri.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/meraih-karir-dan-jabatan-dengan-air-sumur-mas-di-banyumas-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Mistis di Gunung Watu (oleh: Akbar Wahana)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/pengalaman-mistis-di-gunung-watu/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/pengalaman-mistis-di-gunung-watu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 14:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Sepintas lalu, perbukitan yang terletak di Desa Seseh, Kec. Gemawang, Kab. Temanggung, tak jauh beda dengan perbukitan daerah lainnya. Namun di balik semua itu, ternyata di lokasi perbukitan yang dikenal... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/pengalaman-mistis-di-gunung-watu/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_210" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-210" href="http://majalah-misteri.net/pengalaman-mistis-di-gunung-watu/gunung-watu/"><img class="size-medium wp-image-210" title="gunung-watu" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/03/gunung-watu-300x210.png" alt="" width="300" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Penulis dan Kawan-Kawan di Gunung Watu</p></div>
<p>Sepintas lalu, perbukitan yang terletak di Desa Seseh, Kec. Gemawang, Kab. Temanggung, tak jauh beda dengan perbukitan daerah lainnya. Namun di balik semua itu, ternyata di lokasi perbukitan yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Gunung Watu ini, terdapat komunitas makhluk halus yang luar biasa dan sangat peduli dengan kelestarian lingkungan.</p>
<p>Pengalaman ini berawal pada bulan Februari 2004, ketika Misteri bersama rekan sebanyak sepuluh orang mengadakan t<em>ouring</em> ke Desa Seseh. Selain kami sudah jenuh dengan keramaian Yogyakarta, juga dikarenakan pada bulan itu bertepatan dengan musim panen di Desa Seseh. Jadi sekalian membantu hasil kebun di perkebunan orang tua salah seorang teman.<span id="more-209"></span></p>
<p>Setelah hari pertama dan kedua kami sibuk memanen kopi, pada hari ketiga Misteri dan rombongan merencanakn kembali ke Yogyakarta. Sebelum pulang, pada pagi harinya kami berkeinginan melakukan pendakian ke puncak Gunung Watu. Selain dikarenakan keindahan pemandangannya, juga karena banyaknya cerita mistis yang beredar di seputar Gunung Watu. Hal inilah yang membuat Misteri penasaran untuk membuktikan kebenarannya.</p>
<p>Dengan persiapan seadanya, kami berangkat menuju puncak Gunung Watu. Menjelang puncak bukit, kami singgah di pondok milik Hijib Wahyudi, 23 tahun, yang memiliki sedikit kelebihan supranatural, sekaligus memintanya menjadi pemandu. Kebetulan Hijib sedang tidak berkebun.</p>
<p>Sepuluh menit perjalanan, kami sudah di Gunung Watu. Sebelum melihat-lihat keadaan sekitar, Hijib Wahyudi mengajak rombongan untuk berziarah ke makam Mbah Setro Pati, penghuni pertama Desa Seseh. Menurut sejarah, tokoh ini dulunya adalah seorang Senopati Perang beragam Islam yang berasal dari Keraton Surakarta. Dikarenakan keadaan kerajaan yang kacau balau, Mbah Setro Pati memilih mengasingkan diri menyingkir dari kerajaan dan mengembara ke arah barat utara. Hingga akhirnya sampailah dia di hutan belantara yang sekarang dikenal dengan nama Desa Seseh.</p>
<p>Di tempat ini Mbah Setro Pati melakukan babad alas, yang dalam prosesnya banyak mengalami gangguan dari makhluk halus. Makhluk halus itu dipimpin oleh rajanya yang berwujud siluman ular naga bernama Naga Pratala.</p>
<p>Dengan kesaktian yang dimilikinya, Mbah Setro Pati berhasil memenangkan pertarungan dengan raja siluman penguasa hutan tersebut. Akhirnya, Naga Pratala dan rakyatnya takluk dan mengabdi kepada Mbah Setro Pati.</p>
<p>Semakin lama, semakin banyak pendatang yang ikut tinggal di Desa Seseh, sehingga menjadikan desa tersebut ramai. Kepada penduduk sekitar, Mbah Setro Pati mengajarkan agama Islam dan seni bercocok tanam. Setelah usia lanjut, dia wafat dan dimakamkan di atas Gunung Watu. Konon, Mbah Setro Pati tetap mengawasi penduduk Desa Seseh dari alam gaib Gunung Watu.</p>
<p>Sumber lain menyebutkan, Mbah Setro Pati wafat setelah bertarung hebat dengan Mbah Demang penguasa Desa Srumbung, desa tetangga. Hingga sejak saat itu dipercaya bila antara kedua desa tersebut ada warganya yang melangsungkan pernikahan antara desa, maka akan mengalami perceraian.</p>
<p>Menurut warga sekitar, pada malam-malam tertentu, sering terlihat cahaya kuning kemerahan muncul dari aera makam Mbah Setra Pati. Sugiyanto Tukul, 22 tahun penduduk setempat, memberi kesaksian, ketika dirinya sendang mencari rumput di sawah dari arah makam Mbah Setro Pati muncul cahaya kuning menuju langit, disusul datangnya cahaya merah dari Desa Srumbung. Kedua cahaya tersebut terlihat bertabrakan di angkasa. Melihat peristiwa tersebut, dirinya bergegas pulang ke rumah.</p>
<p>Informasi yang Misteri peroleh dari Hijib Wahyudi, walaupun kedua tokoh sakti tersebut telah wafat, tetapi ilmu mereka masih bertempur di alam gaib hingga saat ini. Konon, hal itulah yang sering terlihat  oleh warga sekitar berupa penampakan cahaya merah dan kuning yang bertabrakan di angkasa.</p>
<p>Hari itum, ketika perjalanan kami sampai di makam Mbah Setro Pati yang kondisinya kurang begitu terawat, aura mistis mulai menyengat. Misteri beserta rombongan dipimpin oleh Hijib langsung mengadakan kontemplasi. Sesaat aura mistis terasa mengental. Namun sayang, rupanya Mbah Setro Pati belum <em>kepareng</em> untuk hadir di hadapan kami, yang tampak hanyalah kabut putih pekat.</p>
<p>Penerawangan lalu kami alihkan pada gundukan tanah di samping makam. Dalam alam batin terlihat, suatu ruangan besar bergaya Jawa Kuno, dengan peti berukir di tengah ruangan yang berisi beberapa benda pusaka yang dahulu menjadi piandel Mbah Setro Pati. Ada juga puluhan batu akik yang ikut <em>manggon</em> di tempat tersebut. Juga terlihat Qur&#8217;an Stambul dengan khodam lelaki bersorban putih yang menurut penerawangan berkaromah untuk kekebalan, keselamatan, dan penyembuhan.</p>
<p>Pusaka berikutnya yang terlihat adalah Pecut Kencono, dengan khodam lelaki gagah berpakaian Warok Ponorogo. Sedangkan benda lainnya berwujud keris luk tujuh berkhodam lelaki berpakaian Jawa dengan penampakan agak samar.</p>
<p>Setelah bersopan santun dengan para <em>wulucumbu</em> Mbah Setro Pati, uluk salam pamit kami ucapkan. Wujud fisik Mbah Setro Pati sendiri, kami ketahui dari kemampuan gaib Hijib yiatu berupa seorang lelaki tua berpakaian pendekar silat dengan baju dan celana hitam serta mengenakan ikat wulung di kepalanya. Sayang kami gagal berdialog dengannya.</p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan ke suatu tempat yang bernam Watu Gunung yaitu sebuah batu hitam besar seukuran mobil truk, terletak kurang lebih 30 meter dari lokasi makam Mbah Setro Pati. Dari atas Watu Gunung, kami menikmati keindahan alam pagi Desa Seseh dengan sempurna.</p>
<p>Entah kenapa, tiba-tiba Misteri merasakan undangan yang kuat dari gaib tempat tersebut. Akhirnya, berdua ditemani Hijib, Misteri melakukan kontemplasi. Hadiah bacaan surat Al-Fatihah kami haturkan kepada gaib tempat tersebut.</p>
<p>Sesaat gelap, cahaya putih menerpa kening penulis. Lalu terlihat sebuah bangunan kuno yang seni arsitekturnya bergaya Jawa Kuno dan agak lebih kecil dibandingkan bangunan gaib yang terdapat di makam Mbah Setro Pati.</p>
<p>Uluk salam pun dihaturkan. Di hadapan Penulis kini berdiri sesosok macan putih, yang penampakannya sedikit demi sedikit berubah menjadi lelaki tua gagah, berpakaian ala pendekar silat, dengan baju hitam tanpa kancing dan celana komprang hitam setinggi betis.</p>
<p>&#8220;Ada keperluan apa cucu berdua datang ke sini?&#8221; sapa sosok itu, ramah.</p>
<p>Kami pun memperkenalkan diri serta mengemukakan maksud tujuan kami.</p>
<p>&#8220;Isun, Ki Macan Putih. Isun terkesan melihat cucu berdua datang ke tempat ini, dengan penuh kesopanan.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Matur nuwun</em>, Ki. Sudah merupakan seharusnya kami yang lebih muda untuk menghormati para sesepuh di sini!&#8221; jawab Hijib, takzim.</p>
<p>&#8220;Mohon maaf, Ki. bila Aki berkanan, siapakah sejatinya Aki?&#8221; sambung Misteri minta penjelasan.</p>
<p>&#8220;Isun adalah salah satu makhluk Allah, yang bertugas menjaga kelestarian alam sekitar Gunung Watu, di bawah pengawasan Kanjeng Gusti Setro Pati. Anak buah isun, meliputi wadya bala makhluk halus daerah wilayah ini. Isun sedih, melihat bayak penebang liar yang semena-mena merusak hutan, hingga menjadi terganggu keseimbangannya.&#8221;</p>
<p>Sejenak Ki Macan Putih tampak menarik nafas, dan raut mukanya terlihat sedih.</p>
<p>&#8220;Tolong cucu berdua sampaikan pada mereka, bila tidak berhenti merusak alam, jangan salahkan kalau kami memberikan hukuman dengan cara kami. Tunggulah saatnya, bencana besar sebentar lagi akan melanda negeri. Segeralah bertobat, <em>eling lan waspada!&#8221;</em></p>
<p>Selesai memberi wejangan, sosok Ki Macan Putih kembali menjadi seekor macan. Disertai auman dahsyat, dia kemudian menghilang. Misteri pun tersentak dan kembali menyatu dengan alam dimensi nyata. Setelah itu, kami mengucap salam perpisahan dan mengakhiri kontemplasi.</p>
<p>Setelah menikmati pemandangan alam, perjalanan kami sudahi. Karena matahari semakin tinggi.</p>
<p>Di tengah perjalanan pulang dari Temanggung menuju Yogyakarta, Misteri banyak merenung, teringat petuah Ki Macan Putih. Alam telah jenuh dengan tingkah manusia, dan saatnya alam menunjukkan kekuatannya.</p>
<p>Kapan saat itu tiba? Mungkin semuanya telah terwujud dengan bencana yang melanda di berbagai belahan bumi Nusantara? Misteri bergidik ngeri mengingat hal tersebut. Sungguh, perjalanan yang begitu terkesan.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Misteri edisi 373 05 Mei 2005- 19 Mei 2005</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/pengalaman-mistis-di-gunung-watu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RONGOWARSITO:  Dari Santri Bengal Jadi Pujangga Agung (Oleh:Mulyadi SA)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/rongowarsito-dari-santri-bengal-jadi-pujangga-agung-olehmulyadi-sa/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/rongowarsito-dari-santri-bengal-jadi-pujangga-agung-olehmulyadi-sa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 07:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Nama Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang pejangga keraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Tepatnya lahir hari Senin Legi 15 Maret 1802, dan wafat 15... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/rongowarsito-dari-santri-bengal-jadi-pujangga-agung-olehmulyadi-sa/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><p><strong> </strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-107" href="http://majalah-misteri.net/rongowarsito-dari-santri-bengal-jadi-pujangga-agung-olehmulyadi-sa/makam/"><img class="alignleft size-medium wp-image-107" title="makam" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/02/makam-205x300.png" alt="" width="205" height="300" /></a>Nama Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang pejangga keraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Tepatnya lahir hari Senin Legi 15 Maret 1802, dan wafat 15 Desember 1873, pada hari Rabu Pon. Pujangga yang dibesarkan di lingkungan kraton Surakarta ini namanya terkenal karena dialah yang menggubah Jangka Jayabaya yang tersohor hingga ke mancanegara itu. Hingga sekarang kitab ramalan ini masih menimbulkan kontroversi.<span id="more-106"></span></p>
<p>R. Ng. Ronggowarsito adalah bangsawan keturunan Pajang, dengan silsilah sebagai berikut :</p>
<p>-                     P. Hadiwijoyo (Joko Tingkir)</p>
<p>-                     P. Benowo, putera Emas (Panembahan Radin)</p>
<p>-                     P. Haryo Wiromenggolo (Kajoran)</p>
<p>-                     P. Adipati Wiromenggolo (Cengkalsewu)</p>
<p>-                     P.A. Danuupoyo, KRT Padmonegoro (Bupati Pekalongan)</p>
<p>-                     R.Ng. Yosodipuro (Pujangga keraton Solo)</p>
<p>R. Ng.Yosodipuro alias Bagus Burham adalah R.Ng.Ronggowarsito yang kita kenal. Semasa kecil hingga remaja dia memang lebih dikenal dengan nama Bagus Burhan, dan pernah menuntut ilmu di Pesantren Tegalsari atau Gebang Tinatar, seperti yang sekilas telah dipaparkan dalam Jelajah Misteri No.0450 lalu.</p>
<p>Dari jalur ibundanya, R.Ng.Ronggowarsito  merupakan seorang bangsawan  berdarah Demak, dengan silsilah sebagai berikut:</p>
<p>- R. Trenggono (Sultan Demak ke III)</p>
<p>- R.A. Mangkurat</p>
<p>- R.T. Sujonoputero (Pujangga keraton Pajang)</p>
<p>- K.A. Wongsotruno</p>
<p>- K.A. Noyomenggolo (Demang Palar)</p>
<p>- R. Ng. Surodirjo I</p>
<p>- R.Ng. Ronggowarsito/Bagus Burham.</p>
<p>Karena ayahandanya wafat sewaktu sang pujangga belum cukup dewasa, Bagus Burhan kemudian ikut dengan kakeknya, yaitu R. Tumenggung Sastronegoro, yang juga seorang bangsawan keraton Solo.</p>
<p>Dikisahkan, pada saat dirawat oleh kakeknya inilah Bagus Burhan hidup dengan penuh kemanjaan, sehingga bakatnya sebagai seorang pujangga sama sekali belum terlihat. Bahkan, kesukaannya di masa muda adalah sering menyabung jago, dan bertaruh uang. Bermacam-macam kesukaan yang menghambur-hamburkan uang seakan menjadi cirri khasnya kala itu.</p>
<p>Namun demikian sang kakek, R. Tumenggung Sastronegoro, telah meramalkan kalau nanti cucu kinasihnya ini akan menjadi seorang pembesar setaraf dengan kakek buyutnya. Untuk mewujudkan ramalannya ini, sang kakek kemudian menitipkan Bagus Burhan ke Kyai Imam Bestari pemilik pondok pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari, Ponorogo.</p>
<p>Pada saat di pesantren, kebengalan Bagus Burhan semakin menjadi. Hal ini membuat Kyai Imam Bestari kewalahan. Kesukaannya bertaruh dan berjudi sabung ayam tidak kunjung luntur. Karena kebiasaan buruknya ini, maka sering kali bekal yang dibawanya dari Solo habis tak karuan di arena judi sabung ayam.</p>
<p>Karena kenakalannya, setelah setahun berguru, tak ada kemajuan sama sekali. Oleh karena itulah Kyai Imam Bestari memintanya agar pulang ke Solo. Sang Kyai  merasa tak sanggup untuk mengajarnya ilmu-ilmu keagamaan.</p>
<p>Wibawa Kyai Imam Bestari membuat Bagus Burhan tak kuasa untuk menolak titahnya. Namun, dia menghadapi dilema. Kalau dirinya pulang ke Solo, kakeknya pasti akan marah besar.</p>
<p>Karena takut pada murka kakeknya inilah, maka bersama dengan Ki Tanujoyo pamomongnya, Bagus Burhan memutuskan untuk tidak pulang ke Solo. Dia memilih berguru ke Kediri.</p>
<p>Dikisahkan, dalam perjalanan menuju Kediri, Bagus Burhan dan Ki Tanujoyo tersesat di sebuah hutan. Karena  hingga tiga hari tiga malam tak menjumpai rumah penduduk, maka selama itu pula mereka tak makan dan tak minum. Karena kelaparan, Bagus Buhan yang biasa hidup enak dan serba kecukupan akhirnya pingsan.</p>
<p>Sementa itu, di tempat lain, yakni di padepokan Kyai Imam Bestari, sang Kyai memperoleh wangsit yang memberikan pertanda bahwa Ponorogo akan dilanda kelaparan. Dalam wangsit itu dikatakan bahwa bencana kelaparan ini akan tertolong bila Bagus Burhan yang telah pergi jauh itu mau diajak kembali ke Ponorogo.</p>
<p>Demi mendapatkan isyaroh ini, sebagai seorang linuwih, Kyai Imam Bestari langsung mengirim utusan untuk menjemput kembali bocah Bengal itu ke Solo.  Celakanya, menurut laporan yang diperoleh, para utusan itu tidak mendapatkan Bagus Burhan di Solo. Bahkan, anak itu belum juga sampai ke rumah kakeknya.</p>
<p>Setelah mendapatkan laporan itu, Kyai Imam Bestari bermunajat kepada Allah untuk meminta petunjukNya. Singkat cerita, Bagus Burhan memang berhasil diketemukan. Bocah ini pun tidak menolak ketika diajak kembali ke padepokan, karena ini memang harapannya agar tidak mendapatkan murka dari sang kakek.</p>
<p>Saat menetap kembali di pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo. Perilaku Bagus Burhan ternyata tak kunjung berubah. Tetap suka berboros-boros dengan bertaruh dan berjudi sabung ayam. Hal ini sangat mengecewakan Kyai Imam Bestari. Karena tak tak tahan melihat kelakukan santrinya, maka suatu hari sang Kyai memarahi Bagus Burhan dengan kata-kata yang sangat menusuk perasaan si anak muda.</p>
<p>Mendapatkan kemarahan hebat dari Kyai Imam Bestari, Bagus Burhan berniat segera hengkang dari pesantren. Untunglah, dalam kondisi seperti iini Ki Tanujoyo segera mengambil peranan. Dia berusaha tampil menolong keadaan, dengan cara membesarkan hati Raden Bagus Burhan.</p>
<p>“Raden ini bukan keturunan orang kebanyakan. Leluhur Raden adalah bangsawan keraton yang hebat. Untuk diketahui, itu semua bukan dicapai dengan hidup enak-enak. Akan tetapi, dicapai dengan cara laku prihatin, tirakat, mesu budi dan patiraga. Apakah Raden tidak ingin seperti mereka?””</p>
<p>Mendengar perkataan Ki Tanujoyo seperti itu, akhirnya bangkitlah semangat Raden Bagus. Dia pun mencoba tetap bertahan di pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari, Ponorogo. Sampai suatu ketika, dirinya minta diantar ke kali Kedhung Batu untuk menjalani tirakat, sebagaimana yang pernah ditempuh oleh para leluhurnya.</p>
<p>Berkat kekerasan hati dan ketekunannya, maka setelah menjalani tirakat selama 40 hari 40 malam di kedung Watu, tanpa makan dan minum, kecuali sesisir pisang setiap harinya, akhirnya ada hasil yang dia peroleh. Dari tirakatnya ini Raden Bgus memperoleh wisik, yakni ditemui eyang buyutnya, R.Ng.Yosodipuro I. Dia diminta menengadahkan telinganya, dan gaib sang kakek buyutnya kemudian masuk kedalamnya.</p>
<p>Ada kisah lain yang tak kalah aneh. Konon, Ki Tanujoyo yang menemaninya dipinggir kali, sewaktu menyiapkan nasi untuk buka saat tirakat menginjak hari kw 40, orang tua ini melihat ada sinar masuk ke dalam kendilnya, yang ternyata berupa ikan untuk lauk sang Bagus berbuka puasa.</p>
<p>Semenjak usai menjalani tirakat ini, pribadi Raden Bagus Burhan pun berubah 180 derajat. Kebengalannya berubah menjadi sikap yang sangat patuh. Tak hanya itu, kalau pada awalnya dia santri yang bebal, akhirnya berubah menjadi santri yang cepat menerima pelajaran yang diberikan oleh Kyai Imam Bestari. Dia juga memiliki kelebihan dalam hal mengaji dan berdakwah, sehingga jauh lebih menonjol dibandingkan santri-santri lainnya. Karena kecerdasannya ini, Bagus Burhan memperoleh sebutan baru dari Kyai Imam Bestari, yakni Mas Ilham.</p>
<p><strong>Misteri Kematian Sang Pujangga</strong></p>
<p>Pada akhir sekitar rentang 1979, kematian R.Ng. Ronggowarsito alias Bagus Burham memang sempat menjadi bahan polemik. Pokok pangkal polemik tersebut adalah sekitar kematian Ronggowarsito yang telah diketahui sebelumnya oleh dirinya sendiri. Ya, delapan hari sebelum ajal menjemputnya sang pujangga telah menulis berita kematian tersebit dalam Serat Sabda Jati. Demikian cuplikannya dalam susunan kalimat asli:</p>
<p>“Amung kurang wolu ari kadulu, tamating pati patitis. Wus katon neng lobil makpul, antarane luhur, selaning tahun Jumakir, toluhu madyaning janggur. Sengara winduning pati, netepi ngumpul sakenggon.”</p>
<p>Artinya kurang lebih bahwa dirinya akan meninggal pada tanggal 5 Dulkaidah 1802 atau tanggal 24 Desember 1873 pada hari Rabu Pon.</p>
<p>Tulisan tersebut memang sempat melahirkan kontroversi berkepanjangan. Ada yang menilai bahwa Ronggowarsito  meninggal bukan secara alami, akan tetapi dibunuh atas perintah persekongkolan Raja Paku Buwono IX yang mendapat desakan Belanda. Ketika itu Belanda merasa resah karena melihat kelebihan dan kemampuannya. Karena itulah Belanda berkepentingan menghabisinya. Apalagi, ayahanda Ronggowarsito ternyata juga telah diculik Belanda hingga akhirnya tutup usia di Jakarta.</p>
<p>Keinginan Belanda itub rupanya sejalan dengan Paku Buwono IX. Sang raja juha merasakan adanya sesuatu yang kurang berkenan dengan sepak terjang Ronggowarsito yang ketika itu namanya sangat terkenal mengingat karya-karyanya. Maka kuat dugaan, konspirasi menyikirkan Ronggowarsito akhirnya berjalan sempurna.</p>
<p>Apakah keraguan ini benar? Memang, sampai sekarang hal tersebut tetap menjadi misteri. Di satu pihak menganggap bahwa dengan kelinuwihannya Ronggowarsito memang mampu mengetahui saat-saat kematiannya, meski kematian adalah rahasia Tuhan. Namun di pihak lain menduga bahwa tidak menutup kemungkinan ada tangan-tangan lain yang merekayasa kematian tersebut, sekaliggus merekayasa kalimat ramalan pada  Serat Sabda Jati sebagaimana dinukuli di atas.</p>
<p>Memang, banyak kalangan ahli yang beranggapan, bahwa bait-bait sebagaimana kami nukilkan itu merupakan tambahan dari orang lain. Hal ini jika mengingat dari sekitar 50 buku tulisan karya Ronggowarsito tidak terlalu nyata, mana tulisan murni karyanya, dan mana yang ditulis bersama-sama dengan orang lain, maupun yang merupakan terjemahan.  Hal ini mudah dimaklumi, mengingat pada waktu itu belum ada perlindungan hak cipta. Apalagi sewaktu Ronggowarsito bertugas di keraton Solo kerajaan dalam kondisi tidak menentu, terpengaruh dengan perseteruan keluarga raja dan campur tangan kaum penjajah Belanda yang ingin mengail d iair keruh. Bagaimana yang sebenarnya, hanya Tuhan yang Maha Tahu.</p>
<p><strong>Sumur Tua Bernuansa Mistis</strong></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu Misteri berziarah ke makam pujangga agung Tanah Jawa ini. Yang menarik, di bagian utara komplek makam, terdapat sebuah sumur tua, yang konon sudah ada sejak pertama kali makam tersebut dibangun.</p>
<p>Mungkin karena ketuaannya, Misteri memang merasakan kalau sumur ini telah dipengaruhui oleh khodam sang pujangga yang memiliki daya linuwih tersebut. Kekuatan khodam ini terasa sangat dominant.</p>
<p>Memang, menurut kepercayaan sumur ini menyimpan karomah untuk memperoleh atau meramalkan gambaran jati diri seseorang. Caranya adalah dengan prosesi ritual tertentu, yakni dengan memasukkan uang gobang kuno ke dalam sumur yang saat penghujan hanya berkedalaman sekitar satu setengah meter dari permukaan tanah tersebut.</p>
<p>Menurut tutur, orang yang melakukan ritual akan memperoleh gambaran yang dapat terlihat, yang melambangkan nasib atau peruntungannya. Contohnya, jika terlihat gambaran payung, maka diyakini akan memperoleh jabatan tinggi. Contoh lainnya, bila si pelaku ritual melihat gambaran buku, maka diyakini dia akan menjadi penulis atau pengarang terkenal yang buku-bukunya laris.</p>
<p>Masih banyak gambaran lain yang bisa diperoleh peziarah, yang tentu saja untuk membacanya kita perlu minta petunjuk juru kunci.</p>
<p>“Sumur ini ada yang menyebutnya Sumur Tiban. Menurut penerawangan, sumur itu ditunggu oleh sejenis jin yang berwujud seorang puteri.Namanya Sekar Lara Gadung Melati,” demikian tutur Bu Bambang, 55 tahun, isteri juru kunci yang sering diminta tolong mengantarkan tamu, apabila suaminya tidak sedangg ada di tempuh karena keperluan yang tak dapat ditinggalkan.</p>
<p>Ketika Misteri berkunjung ke tempat ini, maih terlihat batang-batang hio bekas para peziarah. Juga terlihat di sana sini tersebar kembang dari para peziarah yang belum sempat dibersihkan.</p>
<p>“Hampir setiap hari ada tamu yang ritual di sini. Tetapi yang paling banyak di hari Kamis malam Jum’at Kliwon,” tambahnya pula.</p>
<p>Kompleks makam Ronggowarsito ini dibangun hingga mencapai bentuknya yang sekarang  sekitar 1955 oleh Dinas P &amp; K kala ini. Yang terasa unik, di luar cungkup pujangga terlihat makam Carel Prederick Winters (1799-1859), berikut isterinya, Jacoma Hendrika Logeman (1828). Maka ini memang dipindahkan dari makam Kerkop di Jebres Solo sekitar 1985.</p>
<p>Tak jauh dari maka sang pujangga juga ada makam Bagus Tlogo dan Bagus Gumyur. Mereka disebut sebagai cikal bakal makam, yang merupakan pemuda kembar yang hingga kini masih masih paling diangap wingit.</p>
<p>Sementara itu, terlepas dari mana yang benar tentang peristiwa wafatnya sang pujangga, tulisan-tulisan karyanya telah memberikan andil dalam kesusteraan kita. Khususnya sastrawan bahasa Jawa. Tanpa Ronggowarsito, mungkin terlampau sedikit kajian sastra-sastra Jawa yang dapat dimanfaatkan.</p>
<p>Ramalan Jangka Jayabaya, misalnya, sangat besar andilnya bagi masyarakat Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Terlebih, apabila kondisi bangsa sedang terpuruk, biasanya ada secercah harapan, bahwa di suatu saat nanti cobaan akan berakhir setelah munculnya seorang pemimpin sejati, yang disenangi rakyat, yaitu Satrio Piningit atau Ratu Adil, yang akan mengentaskan kita dari keterpurukan keadaan.</p>
<p>Sebagai contoh, pada zaman pemberontakan Dipenogoro (1825-1830), pengikut sang pangeran mengira bahwa beliaulah Ratu adil yang ditunggu-tunggu, yang akan mampu melepaskan mereka dari derita akibat ulah penjajah Belanda. Demikian pula ketika Jepang mencengkramkan kuku-kuku penjajahannya di Indonesia.</p>
<p>Demikian juga ketika negara kita dilanda oleh krisis multi dimensi, harga-harga mahal, kesulitan hidup mencekik leher seperti sekarang ini. Dengan adanya wacana akan datangnya sang Ratu Adil, maka rakyat tetap memiliki rasa optimis. Setidaknya, mereka masih punya harapan bahwa di suatu waktu nanti keadaan ini akan berakhir, dan kejayaan bangsa akan pulih, bahkan melebihi kejayaan masa lampau.</p>
<p>Kapan itu? Kita sama-sama menunggu. “Bayang-bayang hanya setinggi badan.” Demikian kata pepatah., yang artinya cobaan dari Tuhan sebatas kita mampu menanggungnya. Mungkin, kita memang masih harus bersabar!</p>
<p><em>Dimuat di majalah Misteri #451 edisi 20 Sep-04 Nov 2008</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/rongowarsito-dari-santri-bengal-jadi-pujangga-agung-olehmulyadi-sa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan ke Puncak Para Dewa (Oleh:Itong R. Hariadi)</title>
		<link>http://www.majalah-misteri.net/petualangan-ke-puncak-para-dewa-olehitong-r-hariadi/</link>
		<comments>http://www.majalah-misteri.net/petualangan-ke-puncak-para-dewa-olehitong-r-hariadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 12:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah-misteri.net/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Redaksi: Semilir angin malam itu terasa begitu dingin membelai wajah. Kami melangkahkan kaki di tanah berpasir Desa Ranupani. Cuaca sangat cerah, gemintang tampak berkilauan menghiasi langit yang bersih. Sementara... <a class="meta-more" href="http://www.majalah-misteri.net/petualangan-ke-puncak-para-dewa-olehitong-r-hariadi/">Read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_right_1" style="float:right;margin: 5px;padding: 0px;"></div><div id="attachment_82" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-82" href="http://majalah-misteri.net/petualangan-ke-puncak-para-dewa-olehitong-r-hariadi/kumbolo/"><img class="size-medium wp-image-82" title="kumbolo" src="http://majalah-misteri.net/wp-content/uploads/2011/01/kumbolo-300x261.png" alt="kumbolo" width="300" height="261" /></a><p class="wp-caption-text">Ranu Kumbolo</p></div>
<p>Pengantar Redaksi: Semilir angin malam itu terasa begitu dingin membelai wajah. Kami melangkahkan kaki di tanah berpasir Desa Ranupani. Cuaca sangat cerah, gemintang tampak berkilauan menghiasi langit yang bersih. Sementara sinar lembut terpancar dari rembulan yang membulat sempurna. Ya, sungguh cuaca yang bagus untuk memulai pendakian. Benang-benang keberanian dan asa mulai dirajut. Berani melawan rasa lelah dan dingin yang mendera. Serta asa untuk menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Ikuti perjalanan Tim Jelajah Misteri berikut ini&#8230;.<span id="more-81"></span></p>
<p>Bait demi bait lagi ”Mahameru” Dewa 19 lamat-lamat mengiang di telinga saat packing perbekalan di Desa Ranupani. Desa yang berketinggian 2.200 mdpl ini memiliki suhu yang sangat dingin. Menurut penduduk setempat, suhu di tempat ini bisa mencapai minus 2 derajat celcius pada pagi hari.  Ranupani merupakan pintu rimba menuju Gunung Semeru, selain jalur Perkebunan Teh Kertowono, Lumajang, yang jarang dilalui. Para pendaki yang ingin merasakan segarnya alam Gunung Semeru biasanya memulai pendakian dari Ranupani menuju Ranu Kumbolo melalui Watu Rejeng. Rombongan dari komunitas Pangrango yang berjumlah 27 orang, termasuk Misteri di dalamnya, saat itu terpisah menjadi dua. Rombongan pertama yang berangkat pukul 4 sore memilih untuk melalui jalur Gunung Ayek-Ayek. Jalur ’potong kompas’ ini jauh lebih curam dan menanjak dibanding jalur Watu Rejeng yang memang jauh dan melipir banyak bukit. Waktu yang ditempuh untuk sampai Ranu Kumbolo lewat Gunung Ayek-Ayek hanya berkisar 2,5 jam. Bandingkan dengan jalur Watu Rejeng yang bisa memakan waktu hingga 4 jam. Rombongan kedua yang berangakat pukul 8 malam memilih jalur normal, yaitu Watu Rejeng.  Tak salah jika ada yang mengatakan bahwa satu jam pertama merupakan salah satu yang terberat dalam pendakian. Kemampuan fisik masih dalam tahap adaptasi. Nafas memburu tak teratur, langkah kaki pun belum stabil.  Memasuki satu jam berikutnya, barulah kondisi mulai membaik. Jalur menuju Ranu Kumbolo via Watu Rejeng cukup jelas dan landai. Menyusuri lereng perbukitan, dengan kondisi kanan bukit dan kiri jurang. Sekalipun cukup mudah, banyaknya pohon tumbang dan ranting-ranting yang menghalang jalur membuat pendaki harus hati-hati dalam melangkah. Syukurlah malam itu bulan bercayaha begitu terang sehingga sangat membantu menerangi jalan setapak. Sekitar 5 kilometer perjalanan, sampailah kami di Pos Watu Rejeng. Di tempat ini terlihat tebing batu yang sangat kokoh dan menawan. Sementara di sisi kiri terhampar begitu indah bukit-bukit dan lembah yang ditumbuhi cemara. Sinar purnama membuat panorama malam itu benar-benar mengagumkan. Memasuki tengah malam, sebuah lembah yang tertutup kabut tebal terlihat di bawah sana. Itulah Ranu Kumbolo, danau cantik di antara lembah yang selalu berselimut kabut. Kendati telah terlihat, untuk menuju danau itu ternyata masih cukup jauh. Suhu yang kian dingin membuat tubuh tak kuat berlama-lama dalam diam. Kaki pun mengayuh lebih cepat menuruni bukit, memapas kabut menuju Ranu Kumbolo. Di ketinggian 2.390 mdpl dengan luas sekitar 8 ha. Ranu Kumbolo memang nampak sangat indah. Airnya yang bersih membuat danau ini menjadi sumber minum para pendaki. Ikannya pun cukup banyak, tampaknya menyenangkan sekali memancing di tempat ini. Pada pagi hari jika cuaca cerah pemandangan danau ini sungguh tak henti-hentinya menuai decak kagum. Terkadang muncul barisan burung belibis di permukaan airnya yang kian menambah damai suasana. Namun hampir sepanjang hari Ranu Kumbolo selalu berselimut kabut. Hal ini membuat suhu di wilayah ini begitu dingin menusuk tulang. Di pagi hari suhunya  bisa mencapai minus enam dejarat celcius membuat embun membeku menjadi es.  Malam itu kobaran api unggun di tepi Ranu Kumbolo benar-benar membuat tubuh hangat. Terasa nyaman sekali duduk santai sambil bercengkerama di tempat ini. Apalagi ditambah dengan segelas susu hangat dan makanan ringan. Canda tawa pun terlontar di tengah dinginnya selimut kabut Ranu Kumbolo. Kaki-kaki yang sudah berjalan kurang lebih 4 jam kami luruskan, tubuh pun beristirahat. Beberapa tenda telah terpasang, sebagian dari rombongan memutuskan untuk stay dan bermalam di tepi danau.   Tak terasa waktu telah menunjuk pukul dua dinihari. Saatnya pendakian dilanjutkan. Tujuan berikutnya adalah Pos Kalimati. Dan untuk menuju ke tempat ini, perkiraan waktu tempuh adalah 2,5 jam. Cahaya senter mulai menyala, berusaha menembus kegelapan. Kabut yang menyungkupi danau dan sekitarnya menyebabkan jarak pandang terbatas. Jalur pendakian pun menjadi cukup sukar ditemukan, termasuk jalur menuju tanjakan yang terkenal itu. Ya, Tanjakan Cinta! Tanjakan cinta merupakan jalur menanjak yang terlampau tinggi menuju sebuah puncak bukit. Konon, siapa saja yang berhasil mendaki tanjakan ini tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, maka segala permohonannya mengenai percintaan akan terpenuhi. Sekalipun terlihat tak terlampau jauh dan tinggi, namun mendaki Tanjakan Cinta tanpa berhenti rasanya teramat sukar. Langkah kaki pastinya akan memberat karena kelelahan, nafaspun pasti memburu. Lagi pula leher rasanya juga selalu ingin menoleh ke belakang, menyaksikan Ranu Kumbolo yang begitu indah.   Tiba di Tanjakan Cinta, terlihat di hadapan sebuah pemandangan yang lagi-lagi membuat hati semakin berdesir. Ya, sebuah padang savana luas yang dikelilingi perbukitan, dinamakan Oro-Oro Ombo. Padang rumput mirip sebuah mangkok berisikan hamparan rumput berwarna kekuning-kuningan. Namun pada musim-musim tertentu, rumput-rumput ini seringkali terbakar.  Menyusuri jalan setapak di lereng bukit sambil menikmati panorama Oro-oro Ombo di bawah sinar purnama adalah salah satu peristiwa yang paling menarik dalam pendakian ini.  Setengah jam berselang, langkah kaki mulai memasuki Cemoro Kandang, sebuah hutan cemara setelah Oro-Oro Ombo. Wilayah Cemoro Kandang juga memiliki jalur lumayan landai, sesekali sedikit menanjak dan menurun. Tak berapa lama kemudian terlihat area yang terbuka lagi inilah Pos Jambangan. Pos ini merupakan padang rumput yang banyak ditumbuhi Edelweiss, tumbuhan mentigi dan cemara. Jika cuaca  cerah di pagi hari, tempat ini merupakan salah satu spot terbaik untuk melihat Mahameru yang menjulang gagah.  Setelah melalui sebuah hutan, maka jalur mulai menurun menuju satu lagi padang rumput yang sangat indah, Pos Kalimati. Kalimati biasanya digunakan sebagai camp terakhir sebelum mendaki puncak Mahameru. Sekitar 500 meter dari tempat ini terdapat mata air bernama Sumber Mani. Terdapat juga pondok yang bisa melindungi pandaki dari sapuan angin.  Cahaya purnama yang bersinar terang membuat wilayah Kalimati menjelang pagi buta begitu memesona.  Tak lama kemudian pagi menjelang. Jarum jam sudah merapat di angka 4.30. Pantas saja udara terasa sangat dingin membeku. Sebagian rombongan pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya di Kalimati. Tepat di hadapan kami berdiri gagah sang Mahameru dengan lereng berpasirnya yang menggetarkan. Di atas sana, di bawah vegetasi antara pepohonan dan pasir, terlihat kerlap-kerlip cahaya senter. Pertanda sudah ada tim yang berangkat menuju puncak. Di jam-jam seperti ini, posisi pendaki idealnya memang telah berada di pasir terjal itu. Agar mendapatkan cuaca cerah sekaligus mengejar sunrise ke puncak Mahameru. Hanya 10 menit kami istirahat di Kalimati. Perjalanan dilanjutkan dengan membawa perbekalan seadanya. Makanan ringan, sebotol air mineral, jaket tebal, raincoat, dan kamera tentunya. Track dari Kalimati menuju puncak Mahameru tentu saja terjal dan menanjak. Segenap kekuatan fisik dan semangat pun dikerahkan demi menaiki setiap tanjakan yang ada.  Satu jam mendaki, cuaca mulai berubah. Garis kekuningan dari arah timur mulai tampak. Pertanda sang surya mulai terbit menerangi bumi. Tiba-tiba dari arah puncak terlihat kepulan asap membumbung tinggi. Tak seperti biasanya, letusan yang kini lebih besar, gumpalan asapnya jauh lebih banyak. Sekilas muncul rasa takut kalau-kalau awan panasnya akan turun ke arah jalur pendakian. Niat pun kembali dikuatkan.  ”Puncak bukanlah segalanya, yang terpenting adalah prosesnya,” sebuah kalimat singkat bersuara dalam batin Misteri, meneguhkan hati untuk terus melangkah dan menikmati perjalanan. Sekitar pukul enam pagi, kaki-kaki yang tersisa menjejak Arcopodo. Selain Kalimati, tempat ini juga sering digunakan pendaki sebagai camp terakhir menuju puncak. Tentu saja jarak menuju puncak lebih pendek bila dibandingkan harus mendaki dari Kalimati. Arcopodo terletak pada ketinggian 2.900 mdpl. Dinamakan Arcopodo karena dulu ada dua buah arca, Ganesha dan Dewa Wisnu. Namun arca-arca itu kini telah hilang.  Terdapat beberapa tanah landai di Arcopodo yang cukup ideal untuk mendirikan tenda. Namun kondisi tanah Arcopodo tak begitu stabil dan sering longsor. Juga banyak pasir dan debu berterbangan yang mengganggu pernafasan.        Sekitar 10 menit selepas Arcopodo terlihat banyak batu nisan dan batu peringatan bagi yang meninggal di Gunung Semeru. Sesaat mengingatkan agar lebih berhati-hati dalam melangkah dan bersikap. Jalur yang ditempuh kali ini jauh lebih curam dari sebelumnya, jurang menganga di kiri dan kanan. Tanah yang dipijak pun mudah sekali longsor.  Begitu sampai di batas vegetasi, jalur pun kian terjal dengan sudut kemiringan hingga 60 derajat. Langkah kaki terseok, dua langkah naik, satu langkah merosot. Bahkan hanya sekali melangkah, bisa merosot jauh ke bawah. Lereng pasir Mahameru benar-benar menguras fisik dan mental. Ada sebuah pohon Cemara yang berdiri sendiri di antara pasir dan batu kerikil, namanya Cemoro Tunggal. Dari tempat ini, pemandangan sudah begitu indah menakjubkan. Jalur pendakian yang dilewati semalam terlihat jauh di bawah. Padang rumput Oro-Oro Ombo, Jambangan, dan Kalimati nampak begitu memesona. Hanya semangat dan asa yang membuat kaki masih bisa melangkah saat itu. Runtuhnya bebatuan yang diinjak dan dipegang sungguh membuat fisik drop. Embusan angin kencang menerpa tubuh, menerbangkan pasir ke udara. Dinginnya merasuk lewat telinga, membekukan pipi  dan bibir. Sesaat menggoyangkan  semangat untuk terus menggapai puncak. ”500 meter – Puncak Mahameru”. Hmm, papan petunjuk itu sudah terlewati satu jam silam. Namun puncak rasanya tak kunjung mendekat.  Karena kelelahan kami putuskan untuk istirahat. Di timur terlihat pegunungan Argopuro dan Gunung Raung. Di barat berdiri megah Gunung Arjuno dan Welirang. Di barat tampak lautan pasir dan pegunungan Bromo. Perlahan tapi pasti pemandangan menakjubkan itu tertutup awan. Kabut pun tiba-tiba naik menyapu lereng pasir Semeru. Tak tampak apa-apa lagi kini. Hanya kabut, pasir, dan kerikil. Saatnya bergegas menuju puncak. Hari menjelang siang saat menginjakkan kaki di puncak Mahameru. Segenap rasa syukur adalah yang pertama kali teringat ketika mampu berpijak di ketinggian 3.676 mdpl, puncak tertinggi Pulau Jawa ini. Puncak yang diyakini masyarakat Hindu sebagai singgasana para dewa. Kawah Jonggring Saloko yang biasanya meletupkan asap sekitar 20 menit sekali tampak tenang. Akhir-akhir ini dia memang seperti tertidur. Penduduk Ranupani menuturkan jika Mahameru meletup rata-rata hanya sekali sehari dalam satu bulan terakhir. Dua bendera merah putih yang telah robek berkibar gagah. Menggugah rasa patriotisme dan kebanggaan sebagai anak negeri. Berdekatan dengan itu, terdapat batu peringatan Sok Hok Gie dan Idhan Lubis yang meninggal di tempat ini akibat menghirup gas beracun 38 tahun silam. Ya, kami pun harus cepat-cepat turun. Karena laju angin yang membawa wedus gembel (awan panas) dan gas beracun dari kawah Jonggring Saloko selepas siang hari akan mengarah ke puncak dan jalur pendakian.  Perjalanan turun dari puncak menuju Cemoro Tunggal hingga batas vegetasi menempuh jarak yang sangat cepat. Kami berlari-lari menuruni lereng pasir yang terjal seperti bermain ski. Jalur pasir yang tadinya begitu berat ini menjelma menjadi sangat menyenangkan saat turun. Tentunya harus hati-hati dalam memilih jalur jika tak ingin tersesat atau terlempar ke jurang.  Tidak lebih 60 menit, kami telah melewati batas vegetasi. Kondisi fisik yang menurun membuat kaki menjadi lemah saat berpijak turun. Kurang dari dua jam kemudian, sampailah di Pos Kalimati. Usai istirahat dan bersantap siang di dalam pondok, perjalanan dilanjutkan. Trekking dari Kalimati menuju Ranu Kombolo menjadi sangat membahagiakan hati karena terus menerus disuguhkan pemandangan alam yang sukar ditandingi keindahannya. Bunga-bunga Edelweiss tampak baru mekar menguning, cantik sekali.  Tiba di Ranu Kumbolo, hari telah beranjak sore. Mudah ditebak, danau ini tetap dalam selimut kabutnya. Matahari lamban laun lenyap, bulan pun tak kunjung datang. Cuaca malam itu jauh lebih gelap dari malam sebelumnya. Perjalanan terus menyusuri perbukitan dari Ranu Kumbolo menuju Ranupani. Akhirnya mendekati pukul delapan malam, kami pun tiba kembali di desa Ranupani.  Petualangan ini memang harus berakhir, namun kenangannya akan tetap terlukis dalam jiwa yang tak berkesudahan. Seabadi puncak para dewa. Foto-foto: Itong R. Hariadi &amp; Herman Tanjung    BOKS I: MAHAMERU BAPAKNYA  GUNUNG AGUNG  Gunung Semeru sering disebut Mahameru. Dia adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa, 3.676 meter dpl (diatas permukan laut). Terletak di antara wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan lokasi geografi antara 8 derajat celcius 06 LS den 120 derakat celcius 55’ BT. Semeru termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam kaldera Tengger, antara lain Gunung Bromo (2.392m), Gunung Batok (2.470m), Gunung Kursi (2.581m), Gunung Watangan (2.662m), dan Gunung Widodaren (2.650m).  Terdapat empat buah danau (ranu), yaitu Ranupani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan.  Secara umum iklim di wilayah Gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan musim hujan jatuh pada bulan November – April. Suhu rata-rata berkisar antara 3 derajat celcius hingga 8 derajat celcius dibawah nol pada malam dan dini hari. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan es dan salju kecil. Semeru memiliki ragam jenis flora, didominasi pohon cemara, akasia, pinus, anggrek endernik, jenis jamuju, kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong, dan Edelweiss putih. Sedangkan fauinayang menghuni adalah Macam Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, Belibis dan lainnya. Puncak Mahameru dipercayai masyarakat Hindu sebagai singgasana para dewa, serta sarana penghubung antara bumi (manusia) dan Kayangan. Menurut orang Bali, Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada dewa-dewa Mahameru dilakukan oleh orang Bali setiap 8-12 tahun sekali. Hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari Gunung Mahameru.   BOKS II: KEANGKERAN ORO-ORO OMBO   Konon, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dipercaya sebagai sentral kekuatan gaib di tanah Jawa. Hampir seluruh kerajaan gaib yang berada di kawasan ini pusatnya terletak di Gunung Semeru. Tak heran, jika mulai kaki hingga puncaknya, gunung ini dikenal angker. Gunung ini juga kerap meminta tumbal. Tak sedikit para pendaki yang hilang misterius saat hendak menaklukkan puncaknya. Beberapa pesawat terbang juga ikut raib saat melintas di atasnya. Dan, hingga kini tidak pernah ada kabar beritanya. Salah satu kawasan yang dikenal angker di Gunung Semeru adalah Oro-Oro Ombo. Padang rumput mirip sebuah mangkok berisikan hamparan rumput ini dikenal penduduk Desa Ranupani memiliki aura mistik sangat tinggi, bahkan angker. Tak salah jika penduduk setempat sangat mengkeramatkan padang rumput ini.  Sebagai kawasan yang terbilang angker, padang rumput ini menyimpan beragam kisah mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Salah satunya adalah pagelaran gending gaib mirip gamelan pagelaran wayang kulit. Menurut sumber Misteri, suara gamelan mirip pagelaran wayang kulit itu selalu terdengar terutama pada waktu-waktu tertentu. Diantaranya pada bulan sura, atau saat menjelang diadakannya pemilihan kepala daerah di dua kabupaten. Bunyi gending pagelaran wayang kulit itu dapat didengar oleh telinga biasa, sehingga bagi penduduk Desa Ranupani, sebagai wilayah paling dekat dengan kawasan Gunung Semeru, bunyi-bunyian yang tidak ada bentuknya itu sudah merupakan kejadian biasa. ”Masyarakat sini memang sudah tidak aneh lagi. Kalau tiba-tiba dari kawasan Gunung Semeru terdengar suara gamelan mirip pagelaran wayang, itu memang sedang ada pegelaran, tapi yang main bukan manusia melainkan mahkluk gaib,” ujar lelaki yang medok dengan dialek Jawanya ini pada Misteri.   Selain bunyi-bunyian gamelan, suara orang yang seperti sedang mendalang juga ikut mewarnai pagelaran gaib tersebut. ”Pokoknya suaranya persis dalang, makanya warga sini sering menganggap kalau pagelaran itu merupakan pagelaran wayang kulit dari alam gaib,” terang lelaki berkumis, menyudahi penuturannya pada Misteri.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>(Dimuat di Majalah Misteri #456 Edisi 20 Sept- 4 Okt 2008)</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalah-misteri.net/petualangan-ke-puncak-para-dewa-olehitong-r-hariadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
