misteri

ki

misteri

Baju Bertuah Para Pengemis (Oleh : Budiono Dayak)

Walau pengemis, tetapi, hidup dan kehidupan mereka tergolong berkecukupan. Bahkan, tiap usai lebaran, mereka selalu tidur di atas tumpukan uang ….

Udara terasa sejuk, ketika kaki mulai menapaki Kampung Sumberglagah, Kecamatan Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Selintas tak ada yang berbeda dengan perkampungan-perkampungan yang lainnya, tetapi jika ditelisik lebih dalam lagi, kampung yang dimukimi oleh para mantan penderita kusta yang semula tidak diterima oleh keluarga dan lingkungannya ini terasa berbeda.

Betapa tidak, karena kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan akibat penyakit yang pernah diidapnya, maka, mereka pun mensiasati kehidupan ini dengan menjadi pengemis. Olerh sebab itu jangan heran jika Kampung Sumberglagah lebih dikenal sebagai perkampungan pengemis ….

Yang paling menarik dari penelusuran Misteri adalah, karena belakangan ini di

mana-mana terjadi penertiban, maka, para pengemis pun harus benar-benar waspada. Tak jarang, mereka terpaksa menyewa jasa “tukang ojek” agar dapat terhindar dari penangkapan yang dilakukan oleh SATPOL PP — atau untuk beroperasi di perkampungan atau perumahan-perumahan tertentu. Biasanya, tak lama kemudian, si pengemis pun membeli motor sendiri dengan cara angsuran. Sudah barang tentu, yang mengendarai motor tersebut adalah anak atau menantu yang bersangkutan.

Dan waktu yang mereka tunggu-tunggu adalah ketika Ramadhan tiba — sudah menjadi rahasia umum, beberapa saat sebelum bulan itu datang, para pengemis pun mempersiapkan segala sesuatunya dengan saksama. Ada yang melakukan ritual dengan “menyanggarkan” atau

meletakkan baju yang bakal dipakai untuk mengemis di beberapa makam keramat, Tak jarang, ada pula yang mengirimkan baju tersebut kepada “orang-orang pintar” kepercayaannya.

Menurut beberapa pengemis yang berhasil ditemui oleh Misteri, tanpa malu- malu, mereka pun mengungkapkan; “Selain harus membalut beberapa bagian tubuh kemudian disiram dengan air rendaman udang agar dikerumuni lalat, kita juga harus punya “pengasihan.”

“Maksudnya,” potong Misteri. “Biar yang diminta merasa kasihan dan langsung memberi” sahutnya mantap.

“Berapa penghasilan tiap harinya?” Tanya Misteri penasaran.

“Kalau hari biasa dan tanpa pengasihan, biasanya sekitar lima puluh ribu bersih,” jawabnya santai, “kalau pakai pengasihan, biasanya paling kecil bisa mencapai seratus bahkan dua ratus ribu rupiah per harinya” tambahnya lagi.

Dengan kata lain, jika tanpa pengasihan, mereka bisa meraup uang sebanyak Rp. 1.500.000,00 — sementara, jika memakai pengasihan, mereka bisa mengantongi sekitar Rp. 3.000.000,00

Misteri hanya bisa termangu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama kemudian, si pengemis pun kembali menceritakan pengalamannya dengan rasa bangga; “Kalau bulan puasa, yang biasa- biasa saja bisa mengantongi sekitar dua sampai tiga ratus ribu, bayangkan kalau dia pakai pengasihan. Pokoknya, tiap bulan puasa, penghasilan kami rata-rata meningkat sampai lima kali lipat,” tambahnya dengan penuh semangat.

“Bahkan, ada beberapa tetangga, karena bajunya tidak pernah dicuci selama

setahun penuh, ketika puasa kemarin, bisa mengumpulkan uang sampai sepuluh juta rupiah. Kalau pengasihannya mau semakin manjur dan ampuh, maka, jangan mencuci baju yang tiap hari dipakai untuk mengemis seumur hidupPokoknya, tiap bulan puasa, penghasilan kami rata- rata meningkat sampai lima kali lipat,” tambahnya dengan penuh semangat. Ia pun langsung menceritakan keberhasilan salah seorang tetangganya yang sbulan sebelum Ramadhan selalu berangkat naik pesawat ke Pulau Batam hanya untuk mengemis — biasanya, yang bersanmgkutan baru kembali sebulan setelah Hari Raya Ied dengan membawa uang tunai sampai sekitar Rp. 10.000.000,00.

Misteri yangt penasaran langsung melakukan penelusuran lebih dalam lagi, terutama yang berkaitan dengan makam atau tempat-tempat keramat yang biasa dipakai para pengemis Kampung Sumberglagah mengalap berkah. Tak lama kemudian, jawaban pun langsung di dapat, ternyata, tiap pengemis mempunyai makam atau tempat keramat yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang “menyanggarkan pakaian kebesarannya” di bekas tempat atau bangunan peninggalan zaman lalu, tetapi tak jarang, ada pula yang melakukan hal yang sama di makam- makam yang dikeramatkan oleh penduduk sekitarnya.

Tak ada yang bisa menepis atau menolak, semakin tua dan angker atau wingit tempat tersebut, maka, harapan terkabulnya harapan atau keinginan mereka pun jadi semakin besar. Pernyataan di atas selaras dengan pengakuan salah seorang pengemis kepada Misteri tentang keberhasilan tetangganya yang beroperasi di Jakarta

dan

Pulau Dewata, Bali.

Karena bekas penyakit kusta parah yang diidapnya sehingga membuat beberapa bagian tubuhnya terlepas, kedua orang itu ditolak mentah- mentah oleh keluarga dan lingkungannya. Dengan perasaan terluka yang teramat dalam, akhirnya, keduanya menjadi sahabat karib dan bertekat untuk memberikan pelajaran kepada mereka yang telah menistakan dirinya.

Pada suatu hari, keduanya nekat pergi ke hutan yang tergolong angker yang ada di pinggiran suatu kampung. Tujuannya satu, mukti (sukses), atau pati (mati). Di tengah hutan, mereka pun berpisah. Yang satu memilih pohon beringin tua yang mulai tumbang, sedang satunya memilih gua yang ada di seberang sungai kecil. Tanpa bimbingan siapa pun, keduanya dengan tekun memohon dengan cara masing- masing agar diberikan kekayaan ….

Mulai malam ke dua puluh satu, godaan pun mulai berdatangan. Tapi, keduanya tetap mampu bertahan. Dan benar, pada hari ke empat puluh, hujan disertai petir yang sambung menyambung terus saja mengguyur bumi. Menjelang tengah

malam, dengan disertai angin ribut, tiba- tiba, di depan kedua sahabat yang sedang melakukan “tapa brata” itu muncul sesosok tubuh berwajah keras dan berbalut jubah hitam yang langsung bertanya dengan suara yang menggelegar; “Apa yang kalian inginkan akan kukabulkan.”

“Sepanjang hidup, janganlah engkaau cuci. Dan jika sudah merasa cukjup, kembalikan baju ini kesini,” sambungnya sambil melemparkan sesuatu yang berwarna hitam.

“Pesanku, jangan sekali-kali lupa menolong orang yang benar-benar membutuhkan,” katanya dan tak lama kemudian sosok tersebut pun hilang darti pandangan mata.

Paginya, keduanya pun langsung bertemu dan menceritakan pengalamannya masing- masing. Dan sejak itu, keduanya pun mengemis dan berhasil membangun rumah permanen bahkan menikah dan memiliki keturunan yang sehat.

Menurut salah seorang tokoh masyarakaat yang mengamati gerak hidup dan kehidupan Kampung Sumberglagah kepada Misteri; “Sayangnya, generasi muda kampung itu belum tergugah untuk melakukan perubahan. Mereka lebih terlena dengan kenikmatan yang didapat dengan cara mengemis. Bukan dari hasil kerja yang lebih terhormat.”

“Padahal, apa yang sekarang mereka tidak punya?” Imbuhnya balas bertanya. “Hanya dengan pendidikan akhlak dan pendidikan formal-lah mereka baru dapat keluar dari kungkungan kegiatan yang selama ini telah dilakukan oleh para pendahulunya. Dengan begitu, barulah Sumberglagah menjadi kampung yang sejahtera dan “terhormat” sebagaimana kampung-kampung yang lainnya,” ujarnya menutup pembicaraan.

Senja pun jatuh ke bumi mengiringi langkah Misteri pulang ….

Comments are closed.